MasukDisela-sela Alia menangis sambil berusaha melepaskan ikatan di tangannya tiba-tiba ada yang memegangnya membuat Alia langsung bergetar hebat."To--tolong jangan sakiti saya dan anak saya hiks ..." tangis Alia pecah membuat orang tersebut langsung memeluk Alia namun Alia malah kaget."Please ...""Sayang ..."Deg!Ya ... Itu suara suaminya membuat Alia mematung, detik kemudian senter ponsel menyala membuat Alia bisa melihat orang tersebut. "Mas ... Bawa bayiku keluar biarin aku aja disini," ucapnya membuat Fras langsung menempelkan jari telunjuknya di bibir istrinya itu."Diamlah ... Aku akan membawa kalian keluar," ucapnya pelan yang dibalas anggukan oleh Alia.Tidak butuh waktu lama Fras berhasil membawa bayinya dan Aliya keluar dari tempat itu.Sekarang mereka berada di belakang gedung tersebut, namun Alia belum sepenuhnya tenang ia terus memegang tangan Fras membuat Fras malah tersenyum melihat itu."Ayo masuk," ucap Fras membuat Alia menoleh ke depan, ia melihat ada mobil mini di
Baru saja Alia keluar dari rumah orang tuanya tiba-tiba iya kaget melihat Fras ada di sana."Kamu ngapain di sini? Mana perempuan itu?" tanya Alia membuat Fras menunduk lalu ia perlahan mendekati Alia."Jangan mendekat!""Aku mau lihat anakku boleh," ucapnya membuat Alia diam sejenak."Sebentar aja," ucapnya membuat Alia langsung melonggarkan kain gendong ya menampakkan bayi mungil itu membuat Fras tidak kuasa menahan tangisnya."Boleh aku gendong?""Nggak mau kamu culik kan?" tanya Alia dengan sorot mata yang sangat curiga. "Nggak,""Hum semoga saja, biasanya kamu menghalalkan cara demi kesenanganmu sendiri," ujar Alia membuat Fras diam, belum waktunya ia bercerita banyak pada istrinya itu."Um anak ayah ... Sehat-sehat ya nak, maaf Ayah belum bisa jadi ayah yang baik buat kamu ya, kamu harus jadi sosok jagoan gue jagain Mama oke," ujar Fras membuat Alia langsung memalingkan wajahnya."Maaf ya Papa nggak bisa lama-lama, masih ada yang harus Papa selesaikan dulu. Nanti Papa janji kal
2 bulan 10 hari telah berlalu Alia benar-benar sendiri mengurus bayinya, satu hal yang berbeda dari Alia adalah menjadi lebih pendiam dari biasanya, seperti apapun nenek menghiburnya alia hanya formalitas saja, selebihnya dia diam dan mengerjakan tugasnya membuat nenek juga pasrah."Nek ...""Iya sayang,""Kami izin ke kota dulu ya, udah boleh kan ya aku bawa bayiku ini?" tanya Alia membuat nenek tersenyum."Kalau orang lain harusnya nggak boleh ya, tapi karena kamu cucu nenek pergilah berarti kamu pengen belanja kan," ucap nenek yang dibalas anggukan oleh Alia."Iya dong, kami mau beli baju dulu, nenek mau apa?""Nenek nggak pengen apa-apa, kalian pulang dengan kondisi selama ini udah bersyukur," jawab nenek membuat Alia mengangguk."Izin ya nek, kami sekalian mampir ke rumahnya Tante Amira dulu udah kangen banget,""Iya, nginaplah di sana sehari jadi besok berangkatnya bisa lebih pagi biar nggak kemaleman ya,""Oke nek," jawab Alia.Sekitar 4 jam menempuh perjalanan akhirnya ia samp
9 bulan telah berlalu, hari ini Alia sedang mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan anak mereka. Fras selalu mendampingi istrinya itu, ia bahkan tidak kuat melihat proses persalinan itu dan beberapa kali terduduk lemas.3 jam proses persalinan akhirnya semuanya selesai, anak laki-laki itu terlahir dengan sehat dan sempurna. Dokter itu memberikan bayi itu kepada Fras membuat Fras hanya bisa terdiam mematung melihat bayi yang tidak berdosa itu."Mas ..." panggil Alia membuat Fras menoleh lalu ia mendekatkan bayi itu pada Alia."Aku minta maaf ya udah buat kamu banyak kesulitan selama bareng sama aku, rasanya aku nggak tahu harus gimana ngebalas semua ini kamu bahkan rela memberitahu bahwa kan nyawamu untuk anak kita," ucap Fras membuat Alia tersenyum lalu mengangguk."Nggak kok Mas, Kamu tuh yang udah banyak bantuin aku udah banyak nurutin keinginan aku dan banyak sabar juga hehe," jawabnya membuat Fras diam dan menatap istrinya itu dalam-dalam."Kamu kenapa Mas?""Nggak hehe makasih
Sesampainya di rumah, Alia melihat suaminya itu tidak seperti biasanya. Awalnya ia merasa mual namun karena Fras tidak menyapanya Ali langsung mengejarnya dari belakang."Nah begitulah dia kalau udah ketemu sama orang tuanya, pasti emosian entah apa yang terjadi," ucap nenek membuat Amira tersenyum."Biarin aja Bu, ayahnya itu emang tipe orang tua yang sangat egois," "Itulah," gumam nenek.Sesampainya di dalam kamar Alia melihat suaminya itu sedang duduk di pinggir ranjang tanpa menghiraukannya."Mas ..." Hening!Beberapa menit kemudian Fras menoleh alangkah kagetnya ia melihat sedang berdiri di dekat pintu sambil menangis. "Eh sayang ... Kamu kenapa?" tanya Fras sambil mendekati istrinya itu "Aku minta maaf loh tadi tiba-tiba mual lihat kamu, tapi itu kan bukan maunya aku,""Hah?""Iya, Aku tahu kamu kecewa gara-gara aku mual tadi kan, aku minta maaf," ucapnya membuat Fras menghela nafas."Oh bukan sayang bukan, nggak gitu loh ... Bukan perkara kamu, ini nggak ada hubungannya sam
Sesampainya di rumah sakit, Fras melihat ayahnya sudah terbaring di sana sendirian.Ia menghampiri Alex sambil berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri karena yang tidak mau ada kesalahpahaman apapun."Papa minta Fras ke sini?" tanya Fras membuat alex membuka matanya lalu ia mengangguk kemudian menyuruh ia untuk duduk."Papa sendiri?""Tidak, bersama lidya namun dia ntah pergi ke mana," jawab Alex "Kamu sendirian?""Iya," jawab Fras membuat Alex diam sejenak."Nak ... papa rasa tubuh papa ini sudah tidak kuat salah menopang beban kehidupan ini. Papa punya permintaan kira-kira kamu mau nyanggupin nggak?" tanya Alex "Apa dulu?"" Papa tidak ingin warisan atau tradisi kakek kamu dimusnahkan, semua harta kekayaan papa akan papa turunkan padamu tapi dengan satu syarat kamu harus mau mengikuti permintaan papa itu," lanjutnya lagi membuat Fras menghela nafas panjang."Iya Pa, coba papa kasih tahu dulu apa permintaannya?" "Lepaskan Alia,"Deg!"Gak!""Kalau kamu nggak melepaskan perempua
Seminggu telah berlalu, Alex semakin frustasi karena ia ingin kembali ke rumahnya, namun dia tidak mau berurusan dengan wartawan apalagi polisi. "Huh sampai sekarang belum ada nih kabar dari Fras?" tanya Alex pada anak buahnya itu yang dibalas anggukan oleh mereka."Belum ada Pak, kami mencoba mel
Heri demi hari, jadi dia tidak bisa mendapatkan kabar Alia sedikitpun membuatnya semakin frustasi."Dek ... Liat ini hp mama kenapa?" ucap Mama Lidya buru-buru mendekatinya sambil menunjukkan ponselnya membuat Lidya menghela nafas panjang."Itu nggak ada apa-apa mah, mama mau nggak ngikutin saran a
Lidya tidak tahu harus berbuat apa lagi sekarang karena langkahnya sudah dibatasi oleh keluarganya, sedangkan ia harus mencari keberadaan Alia."Huh ... Kenapa jadi berantakan semua sial! Pak Alex, bisa-bisanya dia nyebarin foto itu padahal aku juga lagi berusaha nyari," kesal Lidya lalu ia mengota
Sesampainya di bandara, Alia melihat Rendi sedang berjalan sendirian di sana membuatnya langsung berhenti."Mbok sebentar sepertinya itu Rendy," ucapnya membuat mbok menoleh."Ah perasaanmu aja itu mah Neng, kita lanjut aja ya soalnya mas Fras suruh mbok buat nganterin kamu ke tempatnya langsung,"







