เข้าสู่ระบบ"Huh ... Tidur lah, besok lagi kita bahas," ucap Fras lalu ia meninggalkan Alia, kemudian kembali ke kamarnya.
Keesokan harinya, Alia bangun terlebih dahulu, ia bangun terlebih dahulu dan mulai membersihkan rumah tersebut. Pukul 09.00 pagi, Fras baru saja keluar dari kamarnya lengkap dengan pakaiannya seperti biasa berangkat ke kampus. "Ayo kita pergi," ajak Fras cuek membuat Alia bingung. "Kemana pak?" "Sudah, nggak usah banyak tanya," jawab Fras membuat Alia mengangguk lalu mengekorinya dari belakang. Sekitar 30 menit mereka melakukan perjalanan. "Kasih tahu di mana gang rumahmu nanti ya," ucap Fras. "Oh iya pak," jawab Alia 'Ya ampun jadi hari ini aku ketemu Ayah sama Ibu, oh ... Ternyata di balik covernya yang dingin dan cuek, dia adalah laki-laki yang baik,' ucap Alia sambil senyum-senyum sendiri. "Kesana ya pak," setiap Alia sambil menunjuk ke arah tersebut membuat Fras bingung. "Kanan?" "Iya kesana pokoknya," jawab Alia seolah penunjuk jalan yang hebat, tapi nyatanya ia malah menunjuk-nunjuk saja tidak tahu kiri kanan. Saat mereka sampai, Alia langsung berlari menuju rumahnya membuat Fras yang melihat itu langsung geleng-geleng. "Assalamualaikum Ayah Ibu ...!" teriak Alia begitu membuka pintu yang tidak di kunci. "Ayah ..." Panggilnya lagi karena tidak ada sambutan sama sekali. "Kemana orang tuamu? Kerja apa mereka?" "Um ... Ibu harusnya di sini ya, soalnya Ibu udah lama di kursi roda, kalo Ay-- Alia tiba-tiba mematung begitu ia membuka pintu kamar, ia melihat kedua orang tuanya sudah berlumuran darah. "Hua ... Ayah ... Ibu ..." teriak Alia membuat Fras yang melihat itu juga ikut mematung. "A ... Hiks hiks ... Ayah ..." teriak Alia sambil berusaha membangunkan kedua orang tuanya. Deg! Fras langsung kaget saat tidak sengaja ia melihat Alex di balik kaca sambil tersenyum ke arahnya, lalu kemudian pergi begitu saja. 'Papa?' ucapnya dalam hati. Ting! [Kamu mencoba main-main sama papa] tulis Alex membuat Fras menarik nafas dalam-dalam. "Pak pak ... Hiks ... Tolong orang tua saya," ucap Alia yang menangis sejadi-jadinya sambil memegang kaki Fras. Fras langsung mengalihkan pandangannya karena tidak kuat melihat Alia, lalu menghubungi ambulans. Tidak lama kemudian ambulans datang ke rumah tersebut. Kedua orang tua Alia dibawa, sedangkan Alia masih belum terima. "Ayah ... Ibu hiks ... Jangan tinggalin Alia, Alia nggak punya siapa-siapa lagi, Alia mau kemana? Hiks ..." tangis pilu itu membuat hati Fras tiba-tiba pedih. 'Apa ini Fras?' ucap Fras dalam hati. Bruk! Tiba-tiba Alia jatuh pingsan, membuat Fras langsung menahan tubuh Alia lalu membopongnya ke mobil. Dua hari telah berlalu, Alia terlihat semakin murung, bahkan ia hanya berbicara sekedarnya membuat Fras bingung. "Kamu mau makan apa?" "Tidak Pak, Saya tidak ingin makan apa-apa ... Bapak makanlah," ucapnya membuat Fras kesal. "Kalau kamu makan nanti kamu kenapa-napa, saya juga yang disalahin," kesalnya "Saya hanya ingin menyusul ayah sama ibu saya Pak," jawabnya. "Jangan bodoh kamu Alia!" bentak Fras membuat Alia kaget, sedangkan Fras pergi meninggalkannya sendirian di ruang tamu membuat Alia semakin sedih. "Hiks ... Hiks ... Ayah Ibu," gumamnya lalu ia kembali ke kamarnya. Sesampainya di kamar, Fras langsung menutup pintu lalu ia menarik rambutnya. "Kenapa lu malah marahin dia, dia lagi berduka huh ..." Fras meruntuki dirinya sendiri. Drt ... Drt ... Drt ... Telepon masuk dari ayahnya, membuat Fras lagi-lagi menarik nafas dalam-dalam lalu ia mengangkat telepon tersebut. [Bagaimana Fras? Kamu yakin masih mau sama anak itu?] [Papa hebat ya ...] [O iya, Papa sudah peringatkan kamu, tapi kenapa kamu malah kekeh. Kan yang punya urusan sama papa mereka berdua, jadi wajar saja] jawab Alex dengan santai membuat Fras kesal. [Pa ...] [Kembalikan Alia] [Gak akan, sore ini Fras menikah dengan dia] [Nggak usah gila, kamu nggak akan bisa melakukan itu] jawab Alex. Tut! Fras memutuskan sambungan, lalu ia frustrasi sendirian di kamar. Tok tok! Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk membuat fras menoleh, lalu ia buru-buru membuka pintu. Ceklek! Fras melihat Aliya berdiri sambil menunduk menahan air matanya. "Aku minta maaf pak, sudah buat bapak marah," ucapnya membuat Fras diam sejenak lalu detik, kemudian ia menarik Alia ke dalam pelukannya membuat Alia kaget bukan main. Untuk beberapa saat tubuhnya mematung seperti disengat listrik, lalu detik kemudian Fras melepaskan pelukannya "Kita nikah sekarang ya," ucapnya membuat Alia langsung menatap mata Fras. "Pak ..." "Tolong nurut, banyak hal yang harus kita lewati," ucapnya membuat Alia mengangguk. Tanpa membuang waktu Fras langsung menghubungi teman-temannya, untuk membantunya dalam proses pernikahan sederhana dan tertutup. "Lo gila Fras? Sebisanya lu nikah tanpa orang tua lu? Yakin lo semua ini bakal aman?" tanya Devan membuat Fras mengangguk. "Gua nggak tahu harus kayak gimana lagi, tapi gua harus menyelamatnya," jawab Fras membuat Devan mengangguk. "Saya terima nikah dan kawinnya Alia Andira binti Suryo dengan mas kawin 50 juta dibayar tunai," "Gimana para saksi, sah?" "Sah," Tes ! Air mata Alia kembali menetes, entah apa yang terjadi padanya Alia benar-benar merasa kosong semenjak orang tuanya meninggal tiba-tiba. Alia bahkan tidak punya keberanian bertanya pada Fras, siapa yang membuat orang tuanya seperti itu. Walaupun sebenarnya hati dan pikirannya selalu bertanya-tanya. "Alia," panggil Fras membuat Alia tersadar "Hah?" "Salim," ucap Fras sambil mengulurkan tangan, karena tidak mau disangka aneh-aneh oleh penghulu. Alia langsung menyalam tangan Fras, kemudian mereka melakukan foto seadanya. "Buku nikahnya lagi otw ya, bentar lagi juga jadi lagi diurusin sama si Kev," ucap Devan yang dibalas anggukan Fras. "Banyak lo kalian mau ngurusin ini secepat ini, soalnya gua butuh banget itu buku nikah," ujar Fras. "Iya aman, tapi gua ada satu pertanyaan deh sama lu," tanya Devan sambil ia melihat ke arah Alia. "Kenapa?" "Lu nggak ngapa-ngapain cewek ini kan?" tanya Devan. "What? Otak lu jelek banget ya, sejak kapan gua ngelakuin kayak gitu," omel Fras. "Iya gue tahu lu nggak pernah kayak gitu, tapi kok gua lihat-lihat pandangannya kosong coy ... Kok gua kayak kasihan gitu ngelihatnya," ucap Devan membuat Fras menghela nafas panjang. "Panjang ceritanya bro, nggak bisa kalau gue jelasin sekarang," ujar Fras yang dibalas anggukan oleh Devan. "Oke," Disisi lain, Alex sedang duduk di kursi kesayangannya sambil menghisap rokok. "Ini minumnya pak," ucap Mbok, lalu ia kembali berjalan menuju ke belakang, namun belum beberapa langkah berjalan tiba-tiba namanya dipanggil. "Mbok," "Eh iya pak," "Kamu tidak melakukan suatu rencana bersama dengan fras dan Alia kan?" Deg! "Hah? Rencana apa maksudnya Pak, saya tidak paham?" tanya mbok bingung. "Kamu jangan main-main sama saya, saya dapat kabar kalau kamu dekat dengan Alia kemarin. Banyak obrolan di antara kalian berdua, Saya dengar juga kamu yang menguatkan Alia di sini. Jadi saya ingin memastikan kamu ada sekongkol sesuatu kah bersama mereka?" tanya Alex membuat mbok buru-buru menggeleng. "Demi Tuhan pak gak ada, mas Fras cuma nyuruh saya buat mantau Alia aja kemaren," jawabnya keceplosan "Apa?" 'Eh ya ampun ... Ini mulut kok malah refleks sih,' ucap Mbok dalam hati. "Iya mastiin Alia biar nggak nangis terus pak maksudnya, soalnya kata Pak Fras itu--- "Itu apa?" tanya Alex "Eh sebentar Pak, masakan saya kayaknya gosong di belakang," ucap mbok buru-buru lari ke belakang, karena ia tidak mau lebih banyak lagi keceplosan. "Main-main kamu ..." gumam Alex lalu kembali menghisap rokoknya.Sebulan kemudian, semuanya kembali berjalan normal. Satu perubahan yang besar terjadi pada Lidya, ia meninggalkan semua kebiasaan buruknya dan mulai menyadari bahwa sebenarnya yang ia lakukan sebelum-sebelumnya adalah pengalihan rasa sakit, bukan murni kemauan dari hati nuraninya. Sekarang iya fokus bekerja walaupun harus kembali memulai dari nol, kedua orang tuanya mensupport dan tidak pernah lagi menghakiminya seperti sebelumnya. Seminggu sekali Lidya berangkat ke kampung untuk menjenguk Alex yang semakin parah. Ia tidak segan-segan menginap di sana saat melihat kondisi mantan suaminya itu memburuk."Mbak ..." panggil Alia membuat Lidya menoleh."Iya,""Um ... Hehe boleh nanya nggak sih?" tanya Alia yang berada di ambang pintu membuat Lidya tersenyum lalu mengisyaratkan agar Alia yang masuk."Sini ...""Mbak udah berubah banyak banget aku lihat, um ... Kira-kira apa yang membuat Mbak seperti ini?" tanya Alia membuat Lidya tersenyum lalu ia mengambil alih anak kecil yang di gendon
Selama persidangan Alex, benar-benar membantu Lidya agar tidak begitu berat menjalani hukuman di penjara.Dia membawa bukti yang sangat banyak dari anak buahnya yang selama ini mengikuti Lidya. Lidya yang melihat perjuangan Alex tidak henti-hentinya selama beberapa hari sidang, seketika terdiam membisu.Ia bahkan tidak bisa mengatakan apa-apa di depan para hakim dan memilih menyetujui apa yang dikatakan oleh Alex."Begitu pak ..." ujar Alex membuat para hakim mengangguk lalu berunding sesama mereka di depan. Dari awal persidangan hingga sekarang hampir di penghujung persidangan mata Lia tidak pernah lepas dari Alex, ia benar-benar tidak menyangka hal ini terjadi bahkan orang tuanya saja tidak membelanya. "Bi ... Menurut kamu Alex melakukan itu serius nggak sih? Atau dia cuman nyusun strategi buat balas dendam sama anak kita, Aku sebenarnya takut banget tahu sama dia," ucap umi."Hustt ... Jangan mikir aneh-aneh, Lidya dipenjara 2 sampai 3 tahun aja udah syukur tapi kalau misalnya b
Dua hari dirawat di rumah sakit, hari ini Alex meminta agar fras mengurus administrasi supaya ia keluar dari rumah sakit itu."Papa mau ke mana sih buru-buru? Ini kata dokter kalau Papa sabar masih ada pengobatan loh dua hari lagi,""Udah ... Papa udah sembuh, kamu mau bantuin Papa nggak?" tanya Alex membuat Fras menghela nafas panjang."Papa tuh ya, entah apa yang Papa pikirin, bukannya kesehatan papa malah ada aja projectnya," kesal Fras."Sedikit aja, temenin Papa ke kantor polisi,""Hah? Buat apa? Papa bururusan apa lagi sama polisi?" tanya Fras "Udah, nanti juga di sana kamu tahu sendiri apa yang bakal Papa lakuin. Sekarang temenin Papa ke sana, kita pakai kursi roda aja soalnya kalau jalan papa nggak bisa," ucapnya membuat Fras diam sejenak lalu ia melihat ke arah istrinya itu."Kamu mau ikut?" tanya Fras "Boleh mas," jawab Alia.Tanpa membuang waktu mereka bertiga langsung menuju ke kantor polisi sesuai dengan kemauan Alex."Papa yakin kan nggak ada keributan ini?" tanya Fras
Bukannya kasihan melihat Rifki Lidya malah membabi buta membuat siapapun tidak ada yang berani mendekat karena dia ancam."Kalian coba mendekat, awas ..." ucapnya sambil menodongkan pisau ke arah orang-orang. "Ya ampun kasihan banget itu harus ditolongin,""Telepon ambulans telepon ambulans ...""Jahat banget ya ampun padahal perempuan lo itu,""Justru karena perempuan, otaknya nggak dipakai,""DIAM! KALIAN NGGAK PERNAH TAHU YA RASANYA JADI SAYA, ASAL KALIAN TAHU ... ORANG YANG JAHAT ITU BERASAL DARI ORANG YANG BAIK. KAMU TANYA SAMA LAKI-LAKI YANG BERLUMURAN DARAH INI, KURANG BAIK APA SAYA SAMA DIA, TANYA! DARI SAYA YANG KAYA RAYA, SAMPAI GEMBEL SAYA MASIH TETAP BAIK SAMA DIA.JADI KE DEPANNYA SAYA TIDAK INGIN MENDENGAR ADA MULUT YANG MENGATAKAN DIA JAHAT BANGET, SEBELUM KALIA NGEJUDGE SESEORANG ITU JAHAT COBA CARI TAHU DULU, RASA SAKIT APA YANG PERNAH IA DAPAT SEBELUMNYA," ucap Lidya dengan mata yang penuh amarah membuat semuanya langsung terdiam. "Lidya ... Maaf," ucap Rifki mem
Hari demi hari berlalu, Lidya benar-benar tidak merasa tenang di rumahnya ia terus dihantui dengan harta pemberian Alex yang habis tiba-tiba. Ia juga merasa dendam pada teman-temannya.Malam ini ia keluar diam-diam dari rumah.Disisi lain, Rifki dan teman-teman tongkrongannya sedang asyik ngobrol di tempat tongkrongan mereka yang baru. "Gimana kabar Lidya Bos? Ngeri juga lu ninggalin dia gitu aja,""Lu bisa diam aja nggak sih, lu nikmatin aja tuh uang yang udah gua kasih, nggak usah banyak ngomong," ucap Rifki."Kita kan cuma nanya kabar, apa salahnya sih," "Gua kan nggak ada hubungan apa-apa ya sama dia, lu berdua kalau mau sama dia ya tinggal pergi aja sana, teman-temannya aja nggak ada yang setia sama dia," jawab Rifki selalu menghisap rokoknya. "Elu udah tahu teman-teman yang nggak setia, terus kenapa lu ikut-ikutan nggak setia bro?""Cah hahah ... Lu pakai logika deh sekarang, menurutku emangnya gua wajar sama dia? Dia itu mantan istri orang bro, lebih bagus memilih gadis da
Sekarang Lidya sedang berdua dengan dokter Zira di kamar, ia sudah berniat untuk menutup diri dari dokter itu karena ia tahu orang tuanya pasti merencanakan hal yang tidak dia suka. "Dokter udah dibayar belum?" tanya Lidya."Belum,""Tapi dokter pasti nunggu bayaran kan setelah ini?" Tanya Lidya yang dibalas anggukan oleh dokter itu."Iya dong Mbak, saya datang ke sini buat bekerja,""Sama, saya datang ke sini juga bukan buat membebani Mbak. Saya nggak perlu cerita apa-apa, saya nggak gila ... Saya baik-baik aja Mbak, Mbak keluar aja setelah waktunya selesai. Mbak minta bayarannya tapi bagi sama saya setengah," ucapnya membuat dokter itu diam sejenak."Kok gitu mbak?""Nggak ada yang perlu saya ceritakan Mbak, cerita hidup saya nggak ada yang adil ... Semuanya jahat, bahkan orang tua saya juga. Jadi percuma saja kalau saya ceritakan juga, Mbak pasti bingung dan ngerasa heran kenapa ada alur seperti ini, ?" Ujarnya panjang lebar membuat dokter itu mengangguk paham."Oke, sekarang Mba







