LOGINTing!
Alex meraih ponselnya lalu membuka pesan dari Fras, detik kemudian ia mengerutkan keningnya melihat Fras dan Alia sudah menikah, lengkap dengan buku nikahnya. Alex terkekeh lalu ia kembali meletakkan ponselnya. "Pak ini cemilannya," ucap Mbok "Sejak kapan mereka menjalin hubungan?" tanya Alex membuat mbok menggeleng. "Kalo buat hubungan saya gak tau pak, cuma yang jelas pak Fras pernah nyuruh saya buat jagain Alia saat dia ngajar," jawab mbok "Hum ..." Dehem Alex. Disisi lain, setelah semuanya selesai, Fras kembali membawa Alia pulang ke rumahnya. "Besok saya akan kembali ngajar ke kampus," ucapnya pada Alia yang dibalas anggukan oleh Alia. "Iya Pak," jawabnya, lalu ia kembali ke kamarnya dengan keadaan murung. Alia benar-benar merasa dirinya seperti boneka, tidak punya keberanian apapun lagi. "Huh ..." Alia menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu ia menarik nafas dalam-dalam. "Apapun yang terjadi kehidupan ini akan terus berlanjut, kamu mau begini terus? Semuanya sudah terjadi, kedua orang tuamu udah nggak ada. Kamu nggak bakalan dapat keadilan, kamu nggak punya bukti apa-apa dan kamu lemah. Satu-satunya yang bisa kami selamatkan sekarang ini adalah mentalmu," gumamnya sambil meyakinkan dirinya agar tidak terus terpuruk. "Tapi aku harus apa? Aku gak punya apa-apa, bahkan ponsel pun gak ada," gumamnya lalu kembali menangis. Keesokan harinya, Fras berangkat buru-buru karena akan ada rapat penting. Saat keluar dari kamarnya, Fras tidak melihat keberadaan Alia, tanpa membuang waktu ia langsung berangkat. Sesampainya di kampus, Fras buru-buru keluar ruangan dosen, karena ia masih ada jadwal ngajar setelahnya. Hari menunjukkan pukul 10.30, Fras baru saja keluar dari ruangan rapat terlalu ia menuju ke kelas. "Eh eh dosen kematian udah mau deket, buruan kalian lagi ngerjain tugas cepetan ..." "Buset ... Kelabakan banget ini gue ini, si Alia juga kemana sih bikin gue stress haduh ..." usap Rendi yang kepusingan sendiri setiap ada tugas kuliah. "Ampun ampun ... bagi dong bagi," ucap Rendi sambil menyontek teman-temannya. "Selamat pagi ..." ucap Fras yang baru saja masuk ke dalam kelas, membuat mereka semua berhamburan ke kursi masing-masing. "Pagi pak ..." "Tugas kumpul di meja saya sekarang," "Sabar ngapa pak ... Ya ampun," gumam Rendi membuat Fras melihat ke arahnya dengan tatapan tajam. "Saya hitung mundur dari lima, 35 kertas tugas sudah harus disini," ucapnya membuat mereka panik, dan buru-buru mengumpulkan semuanya. "Oke habis ..." ucap Fras bertepatan dengan Rendi yang mengumpulkan terakhir. "Tugas berikutnya saya lihat kamu masih ngumpulin di akhir, saya anggap punyamu tidak ada," ujar Fras membuat Rendi cengengesan, lalu ia kembali kembali ke kursinya sambil ngos-ngosan. "Gara-gara si Lia nih, bisa-bisanya dia buat gua diambang kematian mulu. Apa jangan-jangan dia sengaja menghilang, biar aku panik sendiri ya, teganya ..." gumamnya lalu duduk. Prang! Tiba-tiba Fras menggebrak meja, membuat semuanya kaget, sedangkan Fras menatap mereka semua dengan mata yang tajam. "Saya bilang kan tadi harus terkumpul 35 kertas di meja saya, kenapa ini hanya 34?" tanya Fras dengan sorot mata yang tajam, membuat mereka semua saling melemparkan tangan lalu senggol-senggolan. "I--iya pak benar, tapi kan ada satu teman kami yang udah hampir dua minggu nggak pernah masuk kuliah, Pak. Kami nggak dapat kabar apapun tentang dia, itu loh Pak si Alia yang sering melamun kalau bapak ngajar," ujar Rendi berusaha untuk menenangkan Fras Deg! Fras langsung terdiam mendengar itu, antara malu dan kaget, setelah ingat Alia tidak ada di kampus. "Kenapa dia nggak masuk kuliah?" tanya Fras "Nah itu dia Pak, kami semua juga nggak tahu. Kami sebagai teman-temannya bukan nggak berusaha mencari tahu, tapi gak ada kabar. Alia ini dari dulu nggak pernah ngasih tahu di mana rumahnya, jadi kami bingung mau ngelacak dia di mana juga. Paling nanti kami mau ke jurusan sih Pak, mau minta data-data Alia, soalnya dia nggak bisa dihubungi juga. Jalan satu-satunya, ya data-datanya biar kami tahu di mana rumahnya," ujar Rendi membuat Fras mengangguk. "Ya sudah, tapi kalau dia memang sudah berhenti, nggak usah dicari sih biarin aja," jawabnya membuat Rendi bingung 'Dosen macam apa ini, bisanya dosen nyuruh dicari ini malah dibiarin aja. Gak beres ini dosen, bisa-bisanya lu begitu ke sahabat gua,' ucapnya dalam hati. "Ya sudah, untuk perkuliahan hari ini cukup sampai di sini dulu saja," ucapnya membuat mereka semua bingung. "Hah? Dia nggak salah, kan dia baru masuk, masa iya ngajar cuma ngumpulin tugas doang terus pergi," "Nggak tahu deh gue, tapi dosen ini memang rada-rada sih ..." gumam Rendi. Tanpa ada omongan apa-apa, Fras langsung keluar dari ruangan, membuat semua mahasiswanya bingung. "Dosen aneh," "Udah sih positif thinking dulu aja mungkin dia ada keperluan mendadak yang gak bisa ditinggalkan," "Iya sih bener, tapi kita juga nggak boleh lupa lah sama prinsip dia yang selalu bilang, kalau belum mati tetap harus kuliah, ini juga kayak gitu katanya nggak mau ada alasan apapun," gumam mereka membuat Rendi tertawa. "Itu kejadiannya pas gue sakit ya, gara-gara beberapa hari nggak masuk keluar deh omongan itu. Kalau belum mati itu harusnya kuliah sakit banget hati gua waktu itu, tapi mau gimana lagi," ujar Rendi. "Eh guys ... apa jangan-jangan si Alia berhenti kuliah gara-gara dosen ini, Alia trauma kali," ucap yang lain "Eh iya juga ya, gua yakin sih soalnya terakhir juga di di tegur kan sama bapak itu," "Iya lagi, dia melamun terus di hari terakhir dia datang, duh ... kok gua baru kepikiran ya," gumam Rendi "Nah Lo Ren, kalo sampe itu si dosen kematian yang bikin Alia berhenti kuliah pasti dia bakal kena tuntut sih, gak bisa dibiarin itu," lanjut mereka Disisi lain, Alia sedang membersihkan rumah sambil berusaha berdamai dengan situasinya yang sekarang, walaupun ia masih sering keingat orang tuanya. "Alia ..." Panggil seseorang membuat Alia kaget lalu ia menoleh. "P--pak-- ..." "Kamu ngapain aja di sini? Kamu nggak hubungi saya seharian?" tanya Fras membuat Alia bingung. "Saya ... saya bersihin rumah Pak, memangnya kenapa? Kan, saya nggak punya ponsel, gimana cara hubungi bapak?" Tanya Alia balik, ia melihat Fras seperti panik. "Ada yang datang ke sini?" "Oh nggak ada Pak, dari tadi saya sendirian doang," jawab Alia dengan santai membuat Fras mengalihkan pandangannya sekilas. "Mulai besok, kamu kembali kuliah ke kampus seperti biasa," ucap Fras lalu ia meninggalkan Alia begitu saja membuat Alia kaget. "Hah? Ini beneran aku dibolehin lagi?" tanya Alia namun Fras sudah masuk ke dalam kamarnya.Hari demi hari berlalu Lidya benar-benar tidak tenang menjalani kehidupannya sehari-hari, hingga hari yang ditunggu-tunggu sudah tiba membuatnya benar-benar tidak bisa menahan air matanya.Hari ini ia akan dinikahkan oleh laki-laki yang dipilih orang tuanya, lebih tepatnya laki-laki ini jauh lebih dewasa darinya."Lidya ayo keluar ... Mempelai laki-laki sudah dibawah, sebentar lagi akad dan kamu makan bebas bersama suamimu," ajak Mama yang dibalas anggukan oleh Lidya.Dia sudah tidak bisa lagi melawan karena badannya sudah lelah kena pukul gara-gara melawan. "Iya Ma,""Gitu dong anak mama, kalau kamu nurut kan kami juga nggak bakal kasar sama kamu Nak, kami melakukan ini semua demi kebaikanmu," ujar Mama lalu merangkul putrinya itu."Mama tahu apa yang kamu rasakan, karena ini perjodohan pasti kamu merasa tidak nyaman atau bahkan susah untuk menerimanya. Tapi seiring berjalannya waktu semuanya kan baik-baik saja, lagian umur kamu juga udah dewasa, mau nunggu apa lagi," ucap mama yan
Setelah mereka selesai makan, Alia mendekati Amira yang terlihat masih kedinginan."Mama mau istirahat?" tanya Alia yang dibalas gelengan oleh Amira.Untuk beberapa saat ia memperhatikan Alia dan Fras secara bergantian lalu ia tersenyum."Kalian harus janji sama tante ya, apapun yang terjadi jangan pernah berpisah. Kamu fras ..." ucapnya sambil melihat Fras membuat Fras mengangguk."Alia ini sudah saya anggap seperti anak sendiri, jadi tolong jangan sakiti dia.Nggak gampang untuk bisa mempertemukan kalian kembali, banyak yang udah jadi korban." lanjut Amira.Amira menceritakan semua kronologi yang terjadi di kota hingga ia bisa datang ke tempat sekarang.Nenek yang mendengar itu hanya manggut-manggut sambil menikmati tehnya."Tinggallah di sini ..." ucap nenek membuat Amira diam sejenak."Tapi saya nggak enak Bu, saya jadi ngerepotin,""Nyawa kamu lebih berharga dibandingkan harta, jadi tinggallah di sini. Rumah saya nggak bagus memang, tapi mudah-mudahan bisa melindungi kita semua,"
Selama proses interogasi di kantor polisi Alex benar-benar tidak bisa berkutik apa-apa, namun ia juga tidak sepolos yang dikira. "Saya pamit duluan ya pak ... Nanti kalau ada apa-apa langsung telepon sekretaris saya aja," ucap Amira lali pergi begitu saja membuat Alex menghela nafas panjang.Alex bangkit dari duduknya kemudian ia menuju ke arah jeruji besi di mana beberapa anak buah dan pembantunya ada di sana. "Apa kalian juga termasuk orang-orang yang membocorkan semuanya?" tanya Alex yang dibalas gelengan oleh mereka."Nggak pak, Mbok cuman pengen pulang ke rumah aja nggak mau Mbok ikutan masalah apapun sebenarnya," ucap mbok membuat Alex terkekeh."Gak segampang itu, rokok saya," ucap Alex yang tiba-tiba dibawakan oleh anak buahnya membuat mbok kaget.Setelah melihat Alex pergi Mbok dan orang di sebelahnya saling melempar pandangan. "Ya ampun ... Jangan bilang Pak Alex juga bagian dari mereka, kasihan banget Ibu yang tadi," gumam mbok "Huh ... Tah lah mbok, jangankan ibu itu k
Seminggu telah berlalu, Alex semakin frustasi karena ia ingin kembali ke rumahnya, namun dia tidak mau berurusan dengan wartawan apalagi polisi. "Huh sampai sekarang belum ada nih kabar dari Fras?" tanya Alex pada anak buahnya itu yang dibalas anggukan oleh mereka."Belum ada Pak, kami mencoba melacak juga nggak ke deteksi sama sekali, kayaknya mereka nggak menggunakan ponsel sekarang," jawab anak buahnya itu membuat Alex kesal."Huh ... Mana rekan-rekan ku nanyain mulu lagi di mana," "Pak ... Kalau rekan Bapak banyak, mereka nggak ada gitu niatan mau bantuin bapak? Kan Bapak juga sering ngasih mereka apa yang mereka mau," ucap anak buahnya itu membuat Alex terdiam. "Sejauh ini mereka nggak ada ngasih bantuan atau apa-apa ya, justru kalau nelpon mereka selalu mendesak di mana Alia, mereka bahkan menuduhku telah mengambil Alia untukku," kesal Alex."Bapak nggak curiga gitu, siapa tahu dalang dari kejadian ini salah satunya mereka?" Deg!Untuk beberapa saat Alex terdiam setelah mend
Lidya tidak tahu harus berbuat apa lagi sekarang karena langkahnya sudah dibatasi oleh keluarganya, sedangkan ia harus mencari keberadaan Alia."Huh ... Kenapa jadi berantakan semua sial! Pak Alex, bisa-bisanya dia nyebarin foto itu padahal aku juga lagi berusaha nyari," kesal Lidya lalu ia mengotak-atik ponselnya.[Halo sayang ... Kamu masih mengingatku?][Om!][Ada apa?] tanya Alex dengan santai.[Kenapa Om melakukan itu semua? Padahal baru aja tadi aku dapetin alamatnya Alia, cih ... Dasar!] [Dimana?][Bagaimana dengan foto itu? Saya udah kena marah sama orang tua saya Om,] ujar Lidya [Hahaha ... Biarlah kalau memang kena marah, kamu mau jadi istri saya?][NAJIS!] tiba-tiba nada Lidya naik membuat Alex terkekeh.[Kalau begitu berikan saya alamat Alia] Hening!Untuk beberapa saat Lidya terdiam, iya kembali mengingat kejadian dari waktu ke waktu. [Kalau dipikir-pikir Om ini sangat menyedihkan ya, jahat pula.][Maksud kamu?][Huh ... Satu si om yang pengen saya tanyain, siapa yang
Heri demi hari, jadi dia tidak bisa mendapatkan kabar Alia sedikitpun membuatnya semakin frustasi."Dek ... Liat ini hp mama kenapa?" ucap Mama Lidya buru-buru mendekatinya sambil menunjukkan ponselnya membuat Lidya menghela nafas panjang."Itu nggak ada apa-apa mah, mama mau nggak ngikutin saran adek?""Apa?""Ganti nomor, ganti kartunya pokoknya," ucap Lidya membuat mama langsung menggerutu."Masa ganti sih, kan nomor-nomor teman Mama semua di sini," ujar Mama"Kayaknya HP mama kena hack jadinya kayak gitu, bakal kayak gitu terus," ujar Lidya membuat orang tuanya terlihat kecewa namun mau tidak mau yang mengangguk. "Ya udah deh nggak apa-apa, daripada hp Mama kayak gini terus," ucapnya membuat Lidya memejamkan matanya sejenak."Ma ... Adek keluar sebentar ya,""Ya sekalian beliin Mama kartu baru ya, terus ini Mama biarin aja kayak gini?" tanya Mama "Iya, biarin aja jangan ada yang dibales satupun ya," lanjut Lidya yang dibalas anggukan oleh Mama.Tanpa membuang waktu Lidya langsun







