Home / Urban / Istri Taruhan Sang Dosen / Marah berujung malu

Share

Marah berujung malu

Author: Pulungan
last update Petsa ng paglalathala: 2026-01-16 07:57:30

Ting!

Alex meraih ponselnya lalu membuka pesan dari Fras, detik kemudian ia mengerutkan keningnya melihat Fras dan Alia sudah menikah, lengkap dengan buku nikahnya.

Alex terkekeh lalu ia kembali meletakkan ponselnya.

"Pak ini cemilannya," ucap Mbok

"Sejak kapan mereka menjalin hubungan?" tanya Alex membuat mbok menggeleng.

"Kalo buat hubungan saya gak tau pak, cuma yang jelas pak Fras pernah nyuruh saya buat jagain Alia saat dia ngajar," jawab mbok

"Hum ..." Dehem Alex.

Disisi lain, setelah semuanya selesai, Fras kembali membawa Alia pulang ke rumahnya.

"Besok saya akan kembali ngajar ke kampus," ucapnya pada Alia yang dibalas anggukan oleh Alia.

"Iya Pak," jawabnya, lalu ia kembali ke kamarnya dengan keadaan murung.

Alia benar-benar merasa dirinya seperti boneka, tidak punya keberanian apapun lagi.

"Huh ..."

Alia menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu ia menarik nafas dalam-dalam.

"Apapun yang terjadi kehidupan ini akan terus berlanjut, kamu mau begini terus? Semuanya sudah terjadi, kedua orang tuamu udah nggak ada.

Kamu nggak bakalan dapat keadilan, kamu nggak punya bukti apa-apa dan kamu lemah.

Satu-satunya yang bisa kami selamatkan sekarang ini adalah mentalmu," gumamnya sambil meyakinkan dirinya agar tidak terus terpuruk.

"Tapi aku harus apa? Aku gak punya apa-apa, bahkan ponsel pun gak ada," gumamnya lalu kembali menangis.

Keesokan harinya, Fras berangkat buru-buru karena akan ada rapat penting.

Saat keluar dari kamarnya, Fras tidak melihat keberadaan Alia, tanpa membuang waktu ia langsung berangkat.

Sesampainya di kampus, Fras buru-buru keluar ruangan dosen, karena ia masih ada jadwal ngajar setelahnya.

Hari menunjukkan pukul 10.30, Fras baru saja keluar dari ruangan rapat terlalu ia menuju ke kelas.

"Eh eh dosen kematian udah mau deket, buruan kalian lagi ngerjain tugas cepetan ..."

"Buset ... Kelabakan banget ini gue ini, si Alia juga kemana sih bikin gue stress haduh ..." usap Rendi yang kepusingan sendiri setiap ada tugas kuliah.

"Ampun ampun ... bagi dong bagi," ucap Rendi sambil menyontek teman-temannya.

"Selamat pagi ..." ucap Fras yang baru saja masuk ke dalam kelas, membuat mereka semua berhamburan ke kursi masing-masing.

"Pagi pak ..."

"Tugas kumpul di meja saya sekarang,"

"Sabar ngapa pak ... Ya ampun," gumam Rendi membuat Fras melihat ke arahnya dengan tatapan tajam.

"Saya hitung mundur dari lima, 35 kertas tugas sudah harus disini," ucapnya membuat mereka panik, dan buru-buru mengumpulkan semuanya.

"Oke habis ..." ucap Fras bertepatan dengan Rendi yang mengumpulkan terakhir.

"Tugas berikutnya saya lihat kamu masih ngumpulin di akhir, saya anggap punyamu tidak ada," ujar Fras membuat Rendi cengengesan, lalu ia kembali kembali ke kursinya sambil ngos-ngosan.

"Gara-gara si Lia nih, bisa-bisanya dia buat gua diambang kematian mulu. Apa jangan-jangan dia sengaja menghilang, biar aku panik sendiri ya, teganya ..." gumamnya lalu duduk.

Prang!

Tiba-tiba Fras menggebrak meja, membuat semuanya kaget, sedangkan Fras menatap mereka semua dengan mata yang tajam.

"Saya bilang kan tadi harus terkumpul 35 kertas di meja saya, kenapa ini hanya 34?" tanya Fras dengan sorot mata yang tajam, membuat mereka semua saling melemparkan tangan lalu senggol-senggolan.

"I--iya pak benar, tapi kan ada satu teman kami yang udah hampir dua minggu nggak pernah masuk kuliah, Pak. Kami nggak dapat kabar apapun tentang dia, itu loh Pak si Alia yang sering melamun kalau bapak ngajar," ujar Rendi berusaha untuk menenangkan Fras

Deg!

Fras langsung terdiam mendengar itu, antara malu dan kaget, setelah ingat Alia tidak ada di kampus.

"Kenapa dia nggak masuk kuliah?" tanya Fras

"Nah itu dia Pak, kami semua juga nggak tahu. Kami sebagai teman-temannya bukan nggak berusaha mencari tahu, tapi gak ada kabar. Alia ini dari dulu nggak pernah ngasih tahu di mana rumahnya, jadi kami bingung mau ngelacak dia di mana juga.

Paling nanti kami mau ke jurusan sih Pak, mau minta data-data Alia, soalnya dia nggak bisa dihubungi juga. Jalan satu-satunya, ya data-datanya biar kami tahu di mana rumahnya," ujar Rendi membuat Fras mengangguk.

"Ya sudah, tapi kalau dia memang sudah berhenti, nggak usah dicari sih biarin aja," jawabnya membuat Rendi bingung

'Dosen macam apa ini, bisanya dosen nyuruh dicari ini malah dibiarin aja. Gak beres ini dosen, bisa-bisanya lu begitu ke sahabat gua,' ucapnya dalam hati.

"Ya sudah, untuk perkuliahan hari ini cukup sampai di sini dulu saja," ucapnya membuat mereka semua bingung.

"Hah? Dia nggak salah, kan dia baru masuk, masa iya ngajar cuma ngumpulin tugas doang terus pergi,"

"Nggak tahu deh gue, tapi dosen ini memang rada-rada sih ..." gumam Rendi.

Tanpa ada omongan apa-apa, Fras langsung keluar dari ruangan, membuat semua mahasiswanya bingung.

"Dosen aneh,"

"Udah sih positif thinking dulu aja mungkin dia ada keperluan mendadak yang gak bisa ditinggalkan,"

"Iya sih bener, tapi kita juga nggak boleh lupa lah sama prinsip dia yang selalu bilang, kalau belum mati tetap harus kuliah, ini juga kayak gitu katanya nggak mau ada alasan apapun," gumam mereka membuat Rendi tertawa.

"Itu kejadiannya pas gue sakit ya, gara-gara beberapa hari nggak masuk keluar deh omongan itu. Kalau belum mati itu harusnya kuliah sakit banget hati gua waktu itu, tapi mau gimana lagi," ujar Rendi.

"Eh guys ... apa jangan-jangan si Alia berhenti kuliah gara-gara dosen ini, Alia trauma kali," ucap yang lain

"Eh iya juga ya, gua yakin sih soalnya terakhir juga di di tegur kan sama bapak itu,"

"Iya lagi, dia melamun terus di hari terakhir dia datang, duh ... kok gua baru kepikiran ya," gumam Rendi

"Nah Lo Ren, kalo sampe itu si dosen kematian yang bikin Alia berhenti kuliah pasti dia bakal kena tuntut sih, gak bisa dibiarin itu," lanjut mereka

Disisi lain, Alia sedang membersihkan rumah sambil berusaha berdamai dengan situasinya yang sekarang, walaupun ia masih sering keingat orang tuanya.

"Alia ..." Panggil seseorang membuat Alia kaget lalu ia menoleh.

"P--pak-- ..."

"Kamu ngapain aja di sini? Kamu nggak hubungi saya seharian?" tanya Fras membuat Alia bingung.

"Saya ... saya bersihin rumah Pak, memangnya kenapa? Kan, saya nggak punya ponsel, gimana cara hubungi bapak?" Tanya Alia balik, ia melihat Fras seperti panik.

"Ada yang datang ke sini?"

"Oh nggak ada Pak, dari tadi saya sendirian doang," jawab Alia dengan santai membuat Fras mengalihkan pandangannya sekilas.

"Mulai besok, kamu kembali kuliah ke kampus seperti biasa," ucap Fras lalu ia meninggalkan Alia begitu saja membuat Alia kaget.

"Hah? Ini beneran aku dibolehin lagi?" tanya Alia namun Fras sudah masuk ke dalam kamarnya.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Istri Taruhan Sang Dosen   TAMAT

    Sebulan kemudian, semuanya kembali berjalan normal. Satu perubahan yang besar terjadi pada Lidya, ia meninggalkan semua kebiasaan buruknya dan mulai menyadari bahwa sebenarnya yang ia lakukan sebelum-sebelumnya adalah pengalihan rasa sakit, bukan murni kemauan dari hati nuraninya. Sekarang iya fokus bekerja walaupun harus kembali memulai dari nol, kedua orang tuanya mensupport dan tidak pernah lagi menghakiminya seperti sebelumnya. Seminggu sekali Lidya berangkat ke kampung untuk menjenguk Alex yang semakin parah. Ia tidak segan-segan menginap di sana saat melihat kondisi mantan suaminya itu memburuk."Mbak ..." panggil Alia membuat Lidya menoleh."Iya,""Um ... Hehe boleh nanya nggak sih?" tanya Alia yang berada di ambang pintu membuat Lidya tersenyum lalu mengisyaratkan agar Alia yang masuk."Sini ...""Mbak udah berubah banyak banget aku lihat, um ... Kira-kira apa yang membuat Mbak seperti ini?" tanya Alia membuat Lidya tersenyum lalu ia mengambil alih anak kecil yang di gendon

  • Istri Taruhan Sang Dosen   Persidangan

    Selama persidangan Alex, benar-benar membantu Lidya agar tidak begitu berat menjalani hukuman di penjara.Dia membawa bukti yang sangat banyak dari anak buahnya yang selama ini mengikuti Lidya. Lidya yang melihat perjuangan Alex tidak henti-hentinya selama beberapa hari sidang, seketika terdiam membisu.Ia bahkan tidak bisa mengatakan apa-apa di depan para hakim dan memilih menyetujui apa yang dikatakan oleh Alex."Begitu pak ..." ujar Alex membuat para hakim mengangguk lalu berunding sesama mereka di depan. Dari awal persidangan hingga sekarang hampir di penghujung persidangan mata Lia tidak pernah lepas dari Alex, ia benar-benar tidak menyangka hal ini terjadi bahkan orang tuanya saja tidak membelanya. "Bi ... Menurut kamu Alex melakukan itu serius nggak sih? Atau dia cuman nyusun strategi buat balas dendam sama anak kita, Aku sebenarnya takut banget tahu sama dia," ucap umi."Hustt ... Jangan mikir aneh-aneh, Lidya dipenjara 2 sampai 3 tahun aja udah syukur tapi kalau misalnya b

  • Istri Taruhan Sang Dosen   Ke kantor polisi

    Dua hari dirawat di rumah sakit, hari ini Alex meminta agar fras mengurus administrasi supaya ia keluar dari rumah sakit itu."Papa mau ke mana sih buru-buru? Ini kata dokter kalau Papa sabar masih ada pengobatan loh dua hari lagi,""Udah ... Papa udah sembuh, kamu mau bantuin Papa nggak?" tanya Alex membuat Fras menghela nafas panjang."Papa tuh ya, entah apa yang Papa pikirin, bukannya kesehatan papa malah ada aja projectnya," kesal Fras."Sedikit aja, temenin Papa ke kantor polisi,""Hah? Buat apa? Papa bururusan apa lagi sama polisi?" tanya Fras "Udah, nanti juga di sana kamu tahu sendiri apa yang bakal Papa lakuin. Sekarang temenin Papa ke sana, kita pakai kursi roda aja soalnya kalau jalan papa nggak bisa," ucapnya membuat Fras diam sejenak lalu ia melihat ke arah istrinya itu."Kamu mau ikut?" tanya Fras "Boleh mas," jawab Alia.Tanpa membuang waktu mereka bertiga langsung menuju ke kantor polisi sesuai dengan kemauan Alex."Papa yakin kan nggak ada keributan ini?" tanya Fras

  • Istri Taruhan Sang Dosen   Kecelakaan

    Bukannya kasihan melihat Rifki Lidya malah membabi buta membuat siapapun tidak ada yang berani mendekat karena dia ancam."Kalian coba mendekat, awas ..." ucapnya sambil menodongkan pisau ke arah orang-orang. "Ya ampun kasihan banget itu harus ditolongin,""Telepon ambulans telepon ambulans ...""Jahat banget ya ampun padahal perempuan lo itu,""Justru karena perempuan, otaknya nggak dipakai,""DIAM! KALIAN NGGAK PERNAH TAHU YA RASANYA JADI SAYA, ASAL KALIAN TAHU ... ORANG YANG JAHAT ITU BERASAL DARI ORANG YANG BAIK. KAMU TANYA SAMA LAKI-LAKI YANG BERLUMURAN DARAH INI, KURANG BAIK APA SAYA SAMA DIA, TANYA! DARI SAYA YANG KAYA RAYA, SAMPAI GEMBEL SAYA MASIH TETAP BAIK SAMA DIA.JADI KE DEPANNYA SAYA TIDAK INGIN MENDENGAR ADA MULUT YANG MENGATAKAN DIA JAHAT BANGET, SEBELUM KALIA NGEJUDGE SESEORANG ITU JAHAT COBA CARI TAHU DULU, RASA SAKIT APA YANG PERNAH IA DAPAT SEBELUMNYA," ucap Lidya dengan mata yang penuh amarah membuat semuanya langsung terdiam. "Lidya ... Maaf," ucap Rifki mem

  • Istri Taruhan Sang Dosen   Balas dendam

    Hari demi hari berlalu, Lidya benar-benar tidak merasa tenang di rumahnya ia terus dihantui dengan harta pemberian Alex yang habis tiba-tiba. Ia juga merasa dendam pada teman-temannya.Malam ini ia keluar diam-diam dari rumah.Disisi lain, Rifki dan teman-teman tongkrongannya sedang asyik ngobrol di tempat tongkrongan mereka yang baru. "Gimana kabar Lidya Bos? Ngeri juga lu ninggalin dia gitu aja,""Lu bisa diam aja nggak sih, lu nikmatin aja tuh uang yang udah gua kasih, nggak usah banyak ngomong," ucap Rifki."Kita kan cuma nanya kabar, apa salahnya sih," "Gua kan nggak ada hubungan apa-apa ya sama dia, lu berdua kalau mau sama dia ya tinggal pergi aja sana, teman-temannya aja nggak ada yang setia sama dia," jawab Rifki selalu menghisap rokoknya. "Elu udah tahu teman-teman yang nggak setia, terus kenapa lu ikut-ikutan nggak setia bro?""Cah hahah ... Lu pakai logika deh sekarang, menurutku emangnya gua wajar sama dia? Dia itu mantan istri orang bro, lebih bagus memilih gadis da

  • Istri Taruhan Sang Dosen   Psikiater

    Sekarang Lidya sedang berdua dengan dokter Zira di kamar, ia sudah berniat untuk menutup diri dari dokter itu karena ia tahu orang tuanya pasti merencanakan hal yang tidak dia suka. "Dokter udah dibayar belum?" tanya Lidya."Belum,""Tapi dokter pasti nunggu bayaran kan setelah ini?" Tanya Lidya yang dibalas anggukan oleh dokter itu."Iya dong Mbak, saya datang ke sini buat bekerja,""Sama, saya datang ke sini juga bukan buat membebani Mbak. Saya nggak perlu cerita apa-apa, saya nggak gila ... Saya baik-baik aja Mbak, Mbak keluar aja setelah waktunya selesai. Mbak minta bayarannya tapi bagi sama saya setengah," ucapnya membuat dokter itu diam sejenak."Kok gitu mbak?""Nggak ada yang perlu saya ceritakan Mbak, cerita hidup saya nggak ada yang adil ... Semuanya jahat, bahkan orang tua saya juga. Jadi percuma saja kalau saya ceritakan juga, Mbak pasti bingung dan ngerasa heran kenapa ada alur seperti ini, ?" Ujarnya panjang lebar membuat dokter itu mengangguk paham."Oke, sekarang Mba

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status