Share

Nikah Kontrak?

Author: Pulungan
last update Last Updated: 2026-01-13 23:21:43

"Hahah ... Sepertinya anakku ini sedang bercanda, jangan dimasukin hati Pak Edi," ucap Alex, membuat Fras mengerutkan keningnya, lalu ia bangkit dari duduknya, kemudian menarik tangan Alia yang sudah di pegang oleh Edi.

"Aku tidak bercanda, Pa," tegas Fras

"Fras ... Menikah itu sekali seumur hidup, Papa tahu kamu mungkin mau nyelamatin dia tapi---

"Fras hanya akan menikahi dia," jawab Fras tanpa ragu.

Alia mendongak melihat Fras, ia bingung dengan tindakan nekat dosennya itu.

'Ini beneran ngomong kayak gini?' ucap Alia dalam hati

"Fras ... Kamu mau mengecewakan papa? Setelah apa yang udah papa lakukan--

"Cukup Pa, jangan mengungkit masa lalu apapun itu. Silakan Papa melakukan perdagangan manusia manapun, tapi untuk yang kali ini Fras tidak akan mengizinkan Alia dibawa oleh siapapun, kecuali sama Fras," tegasnya

Plak!

"Hah?"

Satu tamparan keras melayang di pipi Fras membuat Alia dan Edi kaget.

Alex yang selama ini terkenal sangat menyayangi anak-anaknya, tiba-tiba tersadar setelah ia menampar Fras bahkan untuk beberapa saat ia juga mematung.

"Hahah ..." Fras tertawa lalu ia menarik Alia ke kamar.

Fras menyusun barang-barangnya, sedangkan Alia bingung harus bagaimana dan memilih berdiri di samping Fras membuat Fras menoleh.

"Apa yang kamu lakukan?"

"Hah? Sa--saya harus apa, Pak?" tanya Alia bingung.

"Bantu saya mengamasi semua ini ke dalam koper ini," ucap Fras

"Letaknya, pak?" tanya Alia takut salah, membuat Fras langsung memejamkan matanya.

"Bisa nggak kamu jangan bikin saya marah? Belum puas melihat saya ditampar, hah?" tanya Fras, membuat Alia menggeleng lalu membantu Fras.

Tidak lama kemudian, mereka selesai mengemasi semua barang Fras.

"Ayo kita keluar," ajaknya yang dibalas anggukan oleh Alia.

Saat mereka berdua keluar dari kamar, terlihat mbok dan semua orang sedang melihat ke arah mereka berdua.

"Fras ... Om tanya sekali lagi? Om tahu kamu lagi kesel sama anak ini, tapi jangan membuat keputusan yang membuatmu menyesal," ucap Edi berusaha menenangkan Fras, namun Fras langsung menatap tegas mata Edi.

"Ini adalah keputusan yang terbaik Om," jawab Fras

"Tapi apa untungnya Fras? Dia cuma gadis gak jelas, apa harga diri kamu dan keluargamu nggak jatuh?" tanya Edi yang tidak dihiraukan oleh Fras.

"Ayo pergi ..." lanjut Fras, lalu ia menarik tangan Alia keluar rumah.

Saat Fras sedang memasukkan koper-kopernya ke dalam mobil, tiba-tiba ada yang datang dari belakangnya membantu mengangkat kopernya membuat Fras menoleh.

"Ngapain, pak?"

"Hehe maaf Den, saya bantu yang angkat kopernya," ucap tukang kebun tersebut membuat Fras mengangguk.

"Kenapa Bapak di sini? Di dalam semua lagi ngumpul menghadap papa,"

"Nggak apa-apa, semua karyawan udah di dalam, Saya di sini aja bantuin Den, habis ini saya lari lagi nanti ke dalam," jawabnya membuat Fras menoleh.

"Kenapa Bapak masih bertahan kerja di sini? Sudah melihat kan sistem rumah ini seperti apa, kan?" tanya Fras

"Demi keluarga Den, Bapak kalau keluar dari sini nggak punya pekerjaan lagi, anak-anak sekolah ... Jadi bapak kayak gini aja, pura-pura bodoh sama apa yang terjadi di dalam," jawabnya membuat Fras mengangguk.

Setelah semuanya selesai, Fras menyuruh Alia untuk masuk ke dalam mobil terlebih dahulu.

"Hati-hati ya Den, mudah-mudahan selalu dalam lindungan Tuhan," ucapnya membuat Fras langsung mengambil beberapa uang merah dari dalam dompetnya, kemudian memberikan uang itu ke tangan tukang kebun tersebut.

"Eh Den ..."

"Saya nggak ada waktu Pak, kami pamit dulu," ucapnya lalu pergi begitu saja, membuat tukang kebun itu mematung sejenak.

Setelah sadar, ia buru-buru memasukkan uang itu ke dalam sakunya, lalu kembali berlari ke dalam.

Selama perjalanan, hampir 30 menit terjadi di keheningan di antara mereka berdua.

Alia bingung harus memulai obrolan dari mana, karena Ia benar-benar tidak menyangka peristiwa ini terjadi.

"Pak, terima kasih banyak ya, tapi kenapa Bapak melakukan ini?" tanya Alia

"Orang tuamu masih ada?" tanya Fras mengalihkan pertanyaan Alia.

"Ada, pak,"

"Bisa hubungi mereka?"

"Tidak pak, saya datang ke sini kemarin nggak bawa apa-apa kecuali tas kuliah," jawabnya membuat Fras menghela nafas panjang.

"Kita akan melakukan pernikahan kontrak,"

Deg!

"Pernikahan kontrak? Untuk apa, pak?"

"Kamu masih bertanya untuk apa? Kamu tidak melihat bagaimana dia tadi ingin membelimu?" ujar Fras membuat Alia terdiam.

"Tapi kan---

"Nggak usah mikir ke mana-mana, saya juga nggak menyukai kamu ... Saya melakukan ini karena kami semata-mata mahasiswa saya, jadi nggak usah berharap lebih," tegas Fras

Jleb!

Belum sampai 1 menit Alia bangga dan senang dengan kebaikan fras, tiba-tiba ia malah dibuat mematung lagi dengan ucapan barusan.

"Saya mempunyai pacar, jadi semuanya akan berakhir ketika dia tidak mengincarmu lagi," ujar Fras membuat Alia langsung buru-buru mengangguk.

"Terima kasih banyak pak, Saya tidak tahu harus bagaimana ya berterima kasih tapi terima kasih banyak ..." ucap Alia membuat Fras kembali fokus menyetir.

Sesampainya mereka di rumah, Fras membuka pintu sedangkan Alia di belakangnya mengekor.

"Ini kamar saya, kamu terserah memilih kamar yang mana, kalau bisa jangan terlalu dekat dengan kamar saya," ucapnya membuat Alia mengangguk.

"I--iyaa pak, kalau ada kamar dekat dapur saya di sana aja,"

"Terserah," jawab Fras membuat Alia menghela nafas panjang.

Tanpa membuang waktu, Alia langsung buru-buru ke belakang. Ia juga sudah sangat capek seharian menghadapi drama di rumah itu.

"Ya ampun kamarnya bagus banget, duh ..." gumam Alia sangat terharu, lalu ia duduk di pinggir ranjang.

Lain halnya dengan Fras, begitu Ia membuka ponselnya di kamar ia sudah diteror oleh Alex.

[Papa tahu kamu hanya lagi kemakan ego, nggak bakal kamu berani menikahi Alia ... Papa tahu tipe kamu seperti apa,] tulis Alex.

[Kata siapa pa?]

[Fras Fras ... Kamu itu anakku, aku lebih tahu kamu. Bilang aja kamu kasihan sama si Alia, kalau buat suka Papa yakin itu bukan tipemu] lanjut Alex.

[Sekarang apa yang papa inginkan?] tanya Fras

[Hahaha buku nikah dan bukti kalian menikah, Papa pengen lihat sejauh mana sih anak ini bertindak] tulis Alex membuat Fras tersenyum miring, lalu ia mengirim emot jempol.

Fras menghela nafas panjang, lalu ia kembali keluar dari kamar dan menuju ke kamar Alia.

Ceklek!

Melihat pintu kamarnya terbuka, Alia yang sedang rebahan langsung buru-buru duduk.

"Pak ..."

"Besok kita nikah,"

"Hah?"

"Kamu nggak tuli kan?" tanya Alex.

"Iya pak tapi--

"Nggak ada tapi-tapian, kalau nyawa kamu ingin selamat," ujar Fras membuat Alia mengangguk.

"Baik Pak," jawabnya

"Kamu ingat nomor orang tuamu atau yang bisa dihubungi?" tanya Fras membuat Alia diam sejenak.

"Oh, saya ingat nomor ponsel saya Pak ... Saya bisa mengirimkan pesan ke sana, ponselnya lagi dipegang Ayah saya kok," jawabnya yang dibalas anggukan oleh Fras.

"Bagus,"

Fras memberikan ponselnya pada Alia, lalu menyuruh Alia untuk memberitahu orang tuanya kalau ia akan segera menikah.

"Pak, ini beneran saya harus ngasih tahu orang tua saya?" tanya Alia ragu.

"Kasih tau aja, setidaknya dia tahu kalau kamu baik-baik saja,"

"Um ... Kalau gitu saya bilang kalau saya baik-baik aja Pak, nggak perlu sampai bilang kalau nikah. Kan ini juga sistemnya hanya nikah kontrak, nanti kalau sudah selesai kan udah gak ada apa-apa lagi pak," ucap Alia

"Terserah kamu, tapi kasih tahu mereka kalau kamu baik-baik saja," ucapnya membuat Alia mengangguk.

"Eh sebentar ... Apa Papa tahu di mana tempat tinggal orang tuamu?" tanya Fras tiba-tiba kepikiran yang dibalas anggukan oleh Alia.

"Tau Pak, kan saya dijemput paksa dari sana,"

Deg!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Taruhan Sang Dosen   Sah

    Hari demi hari berlalu Lidya benar-benar tidak tenang menjalani kehidupannya sehari-hari, hingga hari yang ditunggu-tunggu sudah tiba membuatnya benar-benar tidak bisa menahan air matanya.Hari ini ia akan dinikahkan oleh laki-laki yang dipilih orang tuanya, lebih tepatnya laki-laki ini jauh lebih dewasa darinya."Lidya ayo keluar ... Mempelai laki-laki sudah dibawah, sebentar lagi akad dan kamu makan bebas bersama suamimu," ajak Mama yang dibalas anggukan oleh Lidya.Dia sudah tidak bisa lagi melawan karena badannya sudah lelah kena pukul gara-gara melawan. "Iya Ma,""Gitu dong anak mama, kalau kamu nurut kan kami juga nggak bakal kasar sama kamu Nak, kami melakukan ini semua demi kebaikanmu," ujar Mama lalu merangkul putrinya itu."Mama tahu apa yang kamu rasakan, karena ini perjodohan pasti kamu merasa tidak nyaman atau bahkan susah untuk menerimanya. Tapi seiring berjalannya waktu semuanya kan baik-baik saja, lagian umur kamu juga udah dewasa, mau nunggu apa lagi," ucap mama yan

  • Istri Taruhan Sang Dosen   Tawaran itu lagi

    Setelah mereka selesai makan, Alia mendekati Amira yang terlihat masih kedinginan."Mama mau istirahat?" tanya Alia yang dibalas gelengan oleh Amira.Untuk beberapa saat ia memperhatikan Alia dan Fras secara bergantian lalu ia tersenyum."Kalian harus janji sama tante ya, apapun yang terjadi jangan pernah berpisah. Kamu fras ..." ucapnya sambil melihat Fras membuat Fras mengangguk."Alia ini sudah saya anggap seperti anak sendiri, jadi tolong jangan sakiti dia.Nggak gampang untuk bisa mempertemukan kalian kembali, banyak yang udah jadi korban." lanjut Amira.Amira menceritakan semua kronologi yang terjadi di kota hingga ia bisa datang ke tempat sekarang.Nenek yang mendengar itu hanya manggut-manggut sambil menikmati tehnya."Tinggallah di sini ..." ucap nenek membuat Amira diam sejenak."Tapi saya nggak enak Bu, saya jadi ngerepotin,""Nyawa kamu lebih berharga dibandingkan harta, jadi tinggallah di sini. Rumah saya nggak bagus memang, tapi mudah-mudahan bisa melindungi kita semua,"

  • Istri Taruhan Sang Dosen   Mama

    Selama proses interogasi di kantor polisi Alex benar-benar tidak bisa berkutik apa-apa, namun ia juga tidak sepolos yang dikira. "Saya pamit duluan ya pak ... Nanti kalau ada apa-apa langsung telepon sekretaris saya aja," ucap Amira lali pergi begitu saja membuat Alex menghela nafas panjang.Alex bangkit dari duduknya kemudian ia menuju ke arah jeruji besi di mana beberapa anak buah dan pembantunya ada di sana. "Apa kalian juga termasuk orang-orang yang membocorkan semuanya?" tanya Alex yang dibalas gelengan oleh mereka."Nggak pak, Mbok cuman pengen pulang ke rumah aja nggak mau Mbok ikutan masalah apapun sebenarnya," ucap mbok membuat Alex terkekeh."Gak segampang itu, rokok saya," ucap Alex yang tiba-tiba dibawakan oleh anak buahnya membuat mbok kaget.Setelah melihat Alex pergi Mbok dan orang di sebelahnya saling melempar pandangan. "Ya ampun ... Jangan bilang Pak Alex juga bagian dari mereka, kasihan banget Ibu yang tadi," gumam mbok "Huh ... Tah lah mbok, jangankan ibu itu k

  • Istri Taruhan Sang Dosen   Tertangkap

    Seminggu telah berlalu, Alex semakin frustasi karena ia ingin kembali ke rumahnya, namun dia tidak mau berurusan dengan wartawan apalagi polisi. "Huh sampai sekarang belum ada nih kabar dari Fras?" tanya Alex pada anak buahnya itu yang dibalas anggukan oleh mereka."Belum ada Pak, kami mencoba melacak juga nggak ke deteksi sama sekali, kayaknya mereka nggak menggunakan ponsel sekarang," jawab anak buahnya itu membuat Alex kesal."Huh ... Mana rekan-rekan ku nanyain mulu lagi di mana," "Pak ... Kalau rekan Bapak banyak, mereka nggak ada gitu niatan mau bantuin bapak? Kan Bapak juga sering ngasih mereka apa yang mereka mau," ucap anak buahnya itu membuat Alex terdiam. "Sejauh ini mereka nggak ada ngasih bantuan atau apa-apa ya, justru kalau nelpon mereka selalu mendesak di mana Alia, mereka bahkan menuduhku telah mengambil Alia untukku," kesal Alex."Bapak nggak curiga gitu, siapa tahu dalang dari kejadian ini salah satunya mereka?" Deg!Untuk beberapa saat Alex terdiam setelah mend

  • Istri Taruhan Sang Dosen   berkebun

    Lidya tidak tahu harus berbuat apa lagi sekarang karena langkahnya sudah dibatasi oleh keluarganya, sedangkan ia harus mencari keberadaan Alia."Huh ... Kenapa jadi berantakan semua sial! Pak Alex, bisa-bisanya dia nyebarin foto itu padahal aku juga lagi berusaha nyari," kesal Lidya lalu ia mengotak-atik ponselnya.[Halo sayang ... Kamu masih mengingatku?][Om!][Ada apa?] tanya Alex dengan santai.[Kenapa Om melakukan itu semua? Padahal baru aja tadi aku dapetin alamatnya Alia, cih ... Dasar!] [Dimana?][Bagaimana dengan foto itu? Saya udah kena marah sama orang tua saya Om,] ujar Lidya [Hahaha ... Biarlah kalau memang kena marah, kamu mau jadi istri saya?][NAJIS!] tiba-tiba nada Lidya naik membuat Alex terkekeh.[Kalau begitu berikan saya alamat Alia] Hening!Untuk beberapa saat Lidya terdiam, iya kembali mengingat kejadian dari waktu ke waktu. [Kalau dipikir-pikir Om ini sangat menyedihkan ya, jahat pula.][Maksud kamu?][Huh ... Satu si om yang pengen saya tanyain, siapa yang

  • Istri Taruhan Sang Dosen   Foto Bugil

    Heri demi hari, jadi dia tidak bisa mendapatkan kabar Alia sedikitpun membuatnya semakin frustasi."Dek ... Liat ini hp mama kenapa?" ucap Mama Lidya buru-buru mendekatinya sambil menunjukkan ponselnya membuat Lidya menghela nafas panjang."Itu nggak ada apa-apa mah, mama mau nggak ngikutin saran adek?""Apa?""Ganti nomor, ganti kartunya pokoknya," ucap Lidya membuat mama langsung menggerutu."Masa ganti sih, kan nomor-nomor teman Mama semua di sini," ujar Mama"Kayaknya HP mama kena hack jadinya kayak gitu, bakal kayak gitu terus," ujar Lidya membuat orang tuanya terlihat kecewa namun mau tidak mau yang mengangguk. "Ya udah deh nggak apa-apa, daripada hp Mama kayak gini terus," ucapnya membuat Lidya memejamkan matanya sejenak."Ma ... Adek keluar sebentar ya,""Ya sekalian beliin Mama kartu baru ya, terus ini Mama biarin aja kayak gini?" tanya Mama "Iya, biarin aja jangan ada yang dibales satupun ya," lanjut Lidya yang dibalas anggukan oleh Mama.Tanpa membuang waktu Lidya langsun

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status