FAZER LOGIN"Hahah ... Sepertinya anakku ini sedang bercanda, jangan dimasukin hati Pak Edi," ucap Alex, membuat Fras mengerutkan keningnya, lalu ia bangkit dari duduknya, kemudian menarik tangan Alia yang sudah di pegang oleh Edi.
"Aku tidak bercanda, Pa," tegas Fras "Fras ... Menikah itu sekali seumur hidup, Papa tahu kamu mungkin mau nyelamatin dia tapi--- "Fras hanya akan menikahi dia," jawab Fras tanpa ragu. Alia mendongak melihat Fras, ia bingung dengan tindakan nekat dosennya itu. 'Ini beneran ngomong kayak gini?' ucap Alia dalam hati "Fras ... Kamu mau mengecewakan papa? Setelah apa yang udah papa lakukan-- "Cukup Pa, jangan mengungkit masa lalu apapun itu. Silakan Papa melakukan perdagangan manusia manapun, tapi untuk yang kali ini Fras tidak akan mengizinkan Alia dibawa oleh siapapun, kecuali sama Fras," tegasnya Plak! "Hah?" Satu tamparan keras melayang di pipi Fras membuat Alia dan Edi kaget. Alex yang selama ini terkenal sangat menyayangi anak-anaknya, tiba-tiba tersadar setelah ia menampar Fras bahkan untuk beberapa saat ia juga mematung. "Hahah ..." Fras tertawa lalu ia menarik Alia ke kamar. Fras menyusun barang-barangnya, sedangkan Alia bingung harus bagaimana dan memilih berdiri di samping Fras membuat Fras menoleh. "Apa yang kamu lakukan?" "Hah? Sa--saya harus apa, Pak?" tanya Alia bingung. "Bantu saya mengamasi semua ini ke dalam koper ini," ucap Fras "Letaknya, pak?" tanya Alia takut salah, membuat Fras langsung memejamkan matanya. "Bisa nggak kamu jangan bikin saya marah? Belum puas melihat saya ditampar, hah?" tanya Fras, membuat Alia menggeleng lalu membantu Fras. Tidak lama kemudian, mereka selesai mengemasi semua barang Fras. "Ayo kita keluar," ajaknya yang dibalas anggukan oleh Alia. Saat mereka berdua keluar dari kamar, terlihat mbok dan semua orang sedang melihat ke arah mereka berdua. "Fras ... Om tanya sekali lagi? Om tahu kamu lagi kesel sama anak ini, tapi jangan membuat keputusan yang membuatmu menyesal," ucap Edi berusaha menenangkan Fras, namun Fras langsung menatap tegas mata Edi. "Ini adalah keputusan yang terbaik Om," jawab Fras "Tapi apa untungnya Fras? Dia cuma gadis gak jelas, apa harga diri kamu dan keluargamu nggak jatuh?" tanya Edi yang tidak dihiraukan oleh Fras. "Ayo pergi ..." lanjut Fras, lalu ia menarik tangan Alia keluar rumah. Saat Fras sedang memasukkan koper-kopernya ke dalam mobil, tiba-tiba ada yang datang dari belakangnya membantu mengangkat kopernya membuat Fras menoleh. "Ngapain, pak?" "Hehe maaf Den, saya bantu yang angkat kopernya," ucap tukang kebun tersebut membuat Fras mengangguk. "Kenapa Bapak di sini? Di dalam semua lagi ngumpul menghadap papa," "Nggak apa-apa, semua karyawan udah di dalam, Saya di sini aja bantuin Den, habis ini saya lari lagi nanti ke dalam," jawabnya membuat Fras menoleh. "Kenapa Bapak masih bertahan kerja di sini? Sudah melihat kan sistem rumah ini seperti apa, kan?" tanya Fras "Demi keluarga Den, Bapak kalau keluar dari sini nggak punya pekerjaan lagi, anak-anak sekolah ... Jadi bapak kayak gini aja, pura-pura bodoh sama apa yang terjadi di dalam," jawabnya membuat Fras mengangguk. Setelah semuanya selesai, Fras menyuruh Alia untuk masuk ke dalam mobil terlebih dahulu. "Hati-hati ya Den, mudah-mudahan selalu dalam lindungan Tuhan," ucapnya membuat Fras langsung mengambil beberapa uang merah dari dalam dompetnya, kemudian memberikan uang itu ke tangan tukang kebun tersebut. "Eh Den ..." "Saya nggak ada waktu Pak, kami pamit dulu," ucapnya lalu pergi begitu saja, membuat tukang kebun itu mematung sejenak. Setelah sadar, ia buru-buru memasukkan uang itu ke dalam sakunya, lalu kembali berlari ke dalam. Selama perjalanan, hampir 30 menit terjadi di keheningan di antara mereka berdua. Alia bingung harus memulai obrolan dari mana, karena Ia benar-benar tidak menyangka peristiwa ini terjadi. "Pak, terima kasih banyak ya, tapi kenapa Bapak melakukan ini?" tanya Alia "Orang tuamu masih ada?" tanya Fras mengalihkan pertanyaan Alia. "Ada, pak," "Bisa hubungi mereka?" "Tidak pak, saya datang ke sini kemarin nggak bawa apa-apa kecuali tas kuliah," jawabnya membuat Fras menghela nafas panjang. "Kita akan melakukan pernikahan kontrak," Deg! "Pernikahan kontrak? Untuk apa, pak?" "Kamu masih bertanya untuk apa? Kamu tidak melihat bagaimana dia tadi ingin membelimu?" ujar Fras membuat Alia terdiam. "Tapi kan--- "Nggak usah mikir ke mana-mana, saya juga nggak menyukai kamu ... Saya melakukan ini karena kami semata-mata mahasiswa saya, jadi nggak usah berharap lebih," tegas Fras Jleb! Belum sampai 1 menit Alia bangga dan senang dengan kebaikan fras, tiba-tiba ia malah dibuat mematung lagi dengan ucapan barusan. "Saya mempunyai pacar, jadi semuanya akan berakhir ketika dia tidak mengincarmu lagi," ujar Fras membuat Alia langsung buru-buru mengangguk. "Terima kasih banyak pak, Saya tidak tahu harus bagaimana ya berterima kasih tapi terima kasih banyak ..." ucap Alia membuat Fras kembali fokus menyetir. Sesampainya mereka di rumah, Fras membuka pintu sedangkan Alia di belakangnya mengekor. "Ini kamar saya, kamu terserah memilih kamar yang mana, kalau bisa jangan terlalu dekat dengan kamar saya," ucapnya membuat Alia mengangguk. "I--iyaa pak, kalau ada kamar dekat dapur saya di sana aja," "Terserah," jawab Fras membuat Alia menghela nafas panjang. Tanpa membuang waktu, Alia langsung buru-buru ke belakang. Ia juga sudah sangat capek seharian menghadapi drama di rumah itu. "Ya ampun kamarnya bagus banget, duh ..." gumam Alia sangat terharu, lalu ia duduk di pinggir ranjang. Lain halnya dengan Fras, begitu Ia membuka ponselnya di kamar ia sudah diteror oleh Alex. [Papa tahu kamu hanya lagi kemakan ego, nggak bakal kamu berani menikahi Alia ... Papa tahu tipe kamu seperti apa,] tulis Alex. [Kata siapa pa?] [Fras Fras ... Kamu itu anakku, aku lebih tahu kamu. Bilang aja kamu kasihan sama si Alia, kalau buat suka Papa yakin itu bukan tipemu] lanjut Alex. [Sekarang apa yang papa inginkan?] tanya Fras [Hahaha buku nikah dan bukti kalian menikah, Papa pengen lihat sejauh mana sih anak ini bertindak] tulis Alex membuat Fras tersenyum miring, lalu ia mengirim emot jempol. Fras menghela nafas panjang, lalu ia kembali keluar dari kamar dan menuju ke kamar Alia. Ceklek! Melihat pintu kamarnya terbuka, Alia yang sedang rebahan langsung buru-buru duduk. "Pak ..." "Besok kita nikah," "Hah?" "Kamu nggak tuli kan?" tanya Alex. "Iya pak tapi-- "Nggak ada tapi-tapian, kalau nyawa kamu ingin selamat," ujar Fras membuat Alia mengangguk. "Baik Pak," jawabnya "Kamu ingat nomor orang tuamu atau yang bisa dihubungi?" tanya Fras membuat Alia diam sejenak. "Oh, saya ingat nomor ponsel saya Pak ... Saya bisa mengirimkan pesan ke sana, ponselnya lagi dipegang Ayah saya kok," jawabnya yang dibalas anggukan oleh Fras. "Bagus," Fras memberikan ponselnya pada Alia, lalu menyuruh Alia untuk memberitahu orang tuanya kalau ia akan segera menikah. "Pak, ini beneran saya harus ngasih tahu orang tua saya?" tanya Alia ragu. "Kasih tau aja, setidaknya dia tahu kalau kamu baik-baik saja," "Um ... Kalau gitu saya bilang kalau saya baik-baik aja Pak, nggak perlu sampai bilang kalau nikah. Kan ini juga sistemnya hanya nikah kontrak, nanti kalau sudah selesai kan udah gak ada apa-apa lagi pak," ucap Alia "Terserah kamu, tapi kasih tahu mereka kalau kamu baik-baik saja," ucapnya membuat Alia mengangguk. "Eh sebentar ... Apa Papa tahu di mana tempat tinggal orang tuamu?" tanya Fras tiba-tiba kepikiran yang dibalas anggukan oleh Alia. "Tau Pak, kan saya dijemput paksa dari sana," Deg!Sebulan kemudian, semuanya kembali berjalan normal. Satu perubahan yang besar terjadi pada Lidya, ia meninggalkan semua kebiasaan buruknya dan mulai menyadari bahwa sebenarnya yang ia lakukan sebelum-sebelumnya adalah pengalihan rasa sakit, bukan murni kemauan dari hati nuraninya. Sekarang iya fokus bekerja walaupun harus kembali memulai dari nol, kedua orang tuanya mensupport dan tidak pernah lagi menghakiminya seperti sebelumnya. Seminggu sekali Lidya berangkat ke kampung untuk menjenguk Alex yang semakin parah. Ia tidak segan-segan menginap di sana saat melihat kondisi mantan suaminya itu memburuk."Mbak ..." panggil Alia membuat Lidya menoleh."Iya,""Um ... Hehe boleh nanya nggak sih?" tanya Alia yang berada di ambang pintu membuat Lidya tersenyum lalu mengisyaratkan agar Alia yang masuk."Sini ...""Mbak udah berubah banyak banget aku lihat, um ... Kira-kira apa yang membuat Mbak seperti ini?" tanya Alia membuat Lidya tersenyum lalu ia mengambil alih anak kecil yang di gendon
Selama persidangan Alex, benar-benar membantu Lidya agar tidak begitu berat menjalani hukuman di penjara.Dia membawa bukti yang sangat banyak dari anak buahnya yang selama ini mengikuti Lidya. Lidya yang melihat perjuangan Alex tidak henti-hentinya selama beberapa hari sidang, seketika terdiam membisu.Ia bahkan tidak bisa mengatakan apa-apa di depan para hakim dan memilih menyetujui apa yang dikatakan oleh Alex."Begitu pak ..." ujar Alex membuat para hakim mengangguk lalu berunding sesama mereka di depan. Dari awal persidangan hingga sekarang hampir di penghujung persidangan mata Lia tidak pernah lepas dari Alex, ia benar-benar tidak menyangka hal ini terjadi bahkan orang tuanya saja tidak membelanya. "Bi ... Menurut kamu Alex melakukan itu serius nggak sih? Atau dia cuman nyusun strategi buat balas dendam sama anak kita, Aku sebenarnya takut banget tahu sama dia," ucap umi."Hustt ... Jangan mikir aneh-aneh, Lidya dipenjara 2 sampai 3 tahun aja udah syukur tapi kalau misalnya b
Dua hari dirawat di rumah sakit, hari ini Alex meminta agar fras mengurus administrasi supaya ia keluar dari rumah sakit itu."Papa mau ke mana sih buru-buru? Ini kata dokter kalau Papa sabar masih ada pengobatan loh dua hari lagi,""Udah ... Papa udah sembuh, kamu mau bantuin Papa nggak?" tanya Alex membuat Fras menghela nafas panjang."Papa tuh ya, entah apa yang Papa pikirin, bukannya kesehatan papa malah ada aja projectnya," kesal Fras."Sedikit aja, temenin Papa ke kantor polisi,""Hah? Buat apa? Papa bururusan apa lagi sama polisi?" tanya Fras "Udah, nanti juga di sana kamu tahu sendiri apa yang bakal Papa lakuin. Sekarang temenin Papa ke sana, kita pakai kursi roda aja soalnya kalau jalan papa nggak bisa," ucapnya membuat Fras diam sejenak lalu ia melihat ke arah istrinya itu."Kamu mau ikut?" tanya Fras "Boleh mas," jawab Alia.Tanpa membuang waktu mereka bertiga langsung menuju ke kantor polisi sesuai dengan kemauan Alex."Papa yakin kan nggak ada keributan ini?" tanya Fras
Bukannya kasihan melihat Rifki Lidya malah membabi buta membuat siapapun tidak ada yang berani mendekat karena dia ancam."Kalian coba mendekat, awas ..." ucapnya sambil menodongkan pisau ke arah orang-orang. "Ya ampun kasihan banget itu harus ditolongin,""Telepon ambulans telepon ambulans ...""Jahat banget ya ampun padahal perempuan lo itu,""Justru karena perempuan, otaknya nggak dipakai,""DIAM! KALIAN NGGAK PERNAH TAHU YA RASANYA JADI SAYA, ASAL KALIAN TAHU ... ORANG YANG JAHAT ITU BERASAL DARI ORANG YANG BAIK. KAMU TANYA SAMA LAKI-LAKI YANG BERLUMURAN DARAH INI, KURANG BAIK APA SAYA SAMA DIA, TANYA! DARI SAYA YANG KAYA RAYA, SAMPAI GEMBEL SAYA MASIH TETAP BAIK SAMA DIA.JADI KE DEPANNYA SAYA TIDAK INGIN MENDENGAR ADA MULUT YANG MENGATAKAN DIA JAHAT BANGET, SEBELUM KALIA NGEJUDGE SESEORANG ITU JAHAT COBA CARI TAHU DULU, RASA SAKIT APA YANG PERNAH IA DAPAT SEBELUMNYA," ucap Lidya dengan mata yang penuh amarah membuat semuanya langsung terdiam. "Lidya ... Maaf," ucap Rifki mem
Hari demi hari berlalu, Lidya benar-benar tidak merasa tenang di rumahnya ia terus dihantui dengan harta pemberian Alex yang habis tiba-tiba. Ia juga merasa dendam pada teman-temannya.Malam ini ia keluar diam-diam dari rumah.Disisi lain, Rifki dan teman-teman tongkrongannya sedang asyik ngobrol di tempat tongkrongan mereka yang baru. "Gimana kabar Lidya Bos? Ngeri juga lu ninggalin dia gitu aja,""Lu bisa diam aja nggak sih, lu nikmatin aja tuh uang yang udah gua kasih, nggak usah banyak ngomong," ucap Rifki."Kita kan cuma nanya kabar, apa salahnya sih," "Gua kan nggak ada hubungan apa-apa ya sama dia, lu berdua kalau mau sama dia ya tinggal pergi aja sana, teman-temannya aja nggak ada yang setia sama dia," jawab Rifki selalu menghisap rokoknya. "Elu udah tahu teman-teman yang nggak setia, terus kenapa lu ikut-ikutan nggak setia bro?""Cah hahah ... Lu pakai logika deh sekarang, menurutku emangnya gua wajar sama dia? Dia itu mantan istri orang bro, lebih bagus memilih gadis da
Sekarang Lidya sedang berdua dengan dokter Zira di kamar, ia sudah berniat untuk menutup diri dari dokter itu karena ia tahu orang tuanya pasti merencanakan hal yang tidak dia suka. "Dokter udah dibayar belum?" tanya Lidya."Belum,""Tapi dokter pasti nunggu bayaran kan setelah ini?" Tanya Lidya yang dibalas anggukan oleh dokter itu."Iya dong Mbak, saya datang ke sini buat bekerja,""Sama, saya datang ke sini juga bukan buat membebani Mbak. Saya nggak perlu cerita apa-apa, saya nggak gila ... Saya baik-baik aja Mbak, Mbak keluar aja setelah waktunya selesai. Mbak minta bayarannya tapi bagi sama saya setengah," ucapnya membuat dokter itu diam sejenak."Kok gitu mbak?""Nggak ada yang perlu saya ceritakan Mbak, cerita hidup saya nggak ada yang adil ... Semuanya jahat, bahkan orang tua saya juga. Jadi percuma saja kalau saya ceritakan juga, Mbak pasti bingung dan ngerasa heran kenapa ada alur seperti ini, ?" Ujarnya panjang lebar membuat dokter itu mengangguk paham."Oke, sekarang Mba







