MasukSeminggu setelah kejadian itu Lidya mulai frustasi sendiri, ia bahkan suka teriak sendirian di rumahnya membuat para tetangganya khawatir. "Eh itu mbak yang di sebelah kenapa ya tadi malam jam 12.00 malam teriak-teriak, saya sampai bangun nangis-nangis kirain hantu,""Sama, awalnya suami saya mau keluar mau ngecekin gitu kan, tapi saya larang takutnya nanti modus penipuan atau apalah," "Ih serem tau, katanya kan dia tinggal sama pacarnya tuh. Terus saya dapat info pacarnya pergi, entah itu bawa barang dia atau apapun itu nggak tahu deh,""Ih serem ya anak sekarang, kok bisa sampai segitunya ya emang orang tuanya nggak ngelihatin?" "Ekhem ... Selamat pagi Bapak Ibu," ucap Abi dan Umi Lidya."Eh Bu, Selamat pagi,""Kalau boleh tahu lagi ngomongin siapa ya?""Oh ini Bu, tangga baru yang di sebelah ini udah dua hari ini teriak-teriak mulu di rumahnya.Kita warga ini kan resah ya tapi mau nanya juga bingung, soalnya dari pagi sampai nanti sore pintu rumahnya tuh ditutup," ujar mereka me
4 bulan telah berlalu, pagi ini Lidya marah-marah tidak seperti biasanya, ia bahkan melemparkan piring ke lantai hingga pecah. "Kamu ya ...!" kesalnya sambil menunjuk Rifki. "Apa sih? Kamu ya tiap hari itu marah terus, kayak nggak ada ruang nyaman di rumah ini," ucapnya membuat Lidya memejamkan matanya sejenak lalu ia menatap Rifki dengan tatapan tajamnya."Kenapa kamu gak ada ikan surat tanahku, hah?" teriak Lidya yang sudah habis kesabaran menghadapi Rifki."Yaelah sayang perkara digadein doang kamu sampai marah-marah kayak gini, baiklah banget kayaknya nolongin pacarnya,""Baiklah kamu bilang? 100 juta lebih uangku kamu ambil ya," Ucap Lidya dengan mata melotot."Oh jadi kamu hitung-hitungan nih, ya udah kalau gitu kita udahan aja,""Heh segampang itu kamu bilang udahan, balikin sini surat tanah yang udah kamu gadein," ucapnya membuat Rifki panik."Uhm ... Sebenarnya yang gadein itu tuh bukan aku tahu, tapi teman-temanmu sendiri. Mereka yang menyuruhku untuk menjual tanah--"Men
Seminggu telah berlalu ternyata Alex malah semakin parah, dia mengalami stroke yang sekarang hanya bisa berbaring di ranjang membuat Alia dan Fras sangat panik, namun tidak dengan Alex."Pa ... Kita ke rumah sakit aja ya soalnya kalau di sini penanganannya kurang, peralatannya juga nggak sebagus di rumah sakit," bujuk Fras untuk yang kesekian kalinya karena papanya itu tidak mau dibawa ke rumah sakit. "Nggak usah nak, Papa di sini nyaman jadi nggak usah ke rumah sakit. Papa dapat sakit begini juga udah nggak apa-apa, karena keinginan papa untuk tinggal sama kalian udah terwujud," ujarnya membuat Fras menghela nafas panjang."Iya tapi kan kita butuh berobat pa, di rumah sakit lebih lengkap peralatannya--"Sudah nak, bagaimanapun kamu berusaha untuk membantu apakah sembuh, itu cuman sekedar usaha aja bukan berarti sembuh.Kalau soal sakit ini, dari beberapa bulan yang lalu Papa udah feeling kalau papa bakal sakit parah.Makanya Papa punya keinginan untuk tinggal di sini, Papa juga min
Baru tiga hari tinggal di rumah Fras dan Alia, tiba-tiba saja Alex jatuh sakit membuat semuanya panik. "Pa kita ke rumah sakit aja, papa dirawat di rumah sakit aja ya," bujuk Fras namun Alex tidak mau dan tetap kekeh ingin di rumah saja."Huh ...""Papa nggak minta aneh-aneh kok, Papa cuma pengen dirawat di sini aja soalnya kalau di rumah sakit Papa udah bosen," kekeh Alex.Fras meminta dokternya langsung yang datang ke rumahnya, walaupun perjalanan yang sangat jauh ya rela membayar berapapun itu. Berbeda dengan Lidya yang semakin hari malah semakin hedon karena uangnya banyak ditambah teman-temannya yang selalu mendekat. "Sayang ... Hari ini kamu nggak mau bikin acara makan-makan gitu buat kita?" "Hum boleh, tapi kamu kok nggak pernah partisipasi bantu uang sih? Ini aku terus yang bayarin," ujar Lidya membuat Rifki tersenyum."Kan gaji aku belum turun, nanti juga kalau udah turun aku yang bayarin. Lagian kan teman-teman kamu yang lebih banyak daripada temen-temenku," ujar Rifki
Hari menunjukkan pukul 03.00 sore, Alex baru saja sampai di depan rumah Alia."Ada mobil? Siapa itu?" gumam Fras lalu ia buru-buru membuka pintu."Siapa Mas?" tanya Alia yang ikut menyusul ke depan. "Mas mas ... Bantuin saya buat mapah bapak ke dalam tuh soalnya bapak udah kecapean," ucap Pak sopir membuat frash langsung kaget lalu ia mendekati mobil."Papa ..." gumamnya saat melihat Alex sudah seperti orang mabuk di dalam mobil. "Hehe ..."Tanpa membuang waktu mereka berdua langsung membantu Alex masuk ke dalam rumah lalu merebahkannya di ranjang tamu."Papa kenapa nggak bilang kalau datang ke sini?" tanya Fras "Jangan ditanyain dulu deh Mas kita bikinin minum dulu, kayaknya papa butuh istirahat sebentar," ucapnya yang dibalas anggukan oleh Fras.Mereka berdua kembali ke depan dan meminta agar Pak sopir masuk ke dalam."Saya nggak bisa lama-lama Mas, soalnya perjalanan ke kota masih jauh saya masih harus pulang," ucapnya "Ya nggak papa, tapi kita makan dulu ya baru pulang," ajak
Keesokan harinya Pak sopir datang ke rumah Alex tidak seperti biasanya, kali ini iya sempat menangis sambil menyetir mobil dan berusaha menarik nafas berkali-kali. "Sudah ... Bapak sudah cukup baik, Tuhan maha membolak-balikkan hati sehingga dia seperti sekarang," gumamnya Baru saja ia sampai di depan rumah Alex. Iya melihat semuanya sudah di depan teras lengkap dengan barang masing-masing membuatnya lagi-lagi harus menguatkan dirinya sendiri."Pagi pak ...""Pagi, udah macet ya?" tanya Alex."Lumayan Pak hehe," jawabnya lalu memasukkan barang-barang Alex ke dalam mobil. Setelah semuanya selesai, Alex tidak ingin berlama-lama menatap para art-nya itu karena ia juga sangat sedih. "Lanjutkan kehidupan kalian masing-masing ya, mudah-mudahan kita masih ada waktu dan kesempatan untuk bertemu lagi. Sekalipun nggak ada, Saya cuman minta satu hal dari kalian itupun kalau bisa ya kalau nggak juga nggak papa. Jika suatu hari nanti kalian mendengar kabar tentang saya, Saya mungkin sudah me
Melihat semua makanan berserakan di lantai, Alia mematung sejenak lalu detik kemudian ia mengusap dadanya."Gak apa-apa, tunggulah dulu semuanya tenang, setelah itu tanya Pak Fras kamu ini di sini sampai kapan," ucap Alia pelan lalu ia mengatur nafasnya pelan-pelan.Setelah ia merasa tenang, Alia m
"What?" Alia kaget namun Fras sudah meninggalkannya membuat Alia menghela nafas panjang.Tidak lama kemudian masakannya sudah selesai, Alia langsung menghidangkannya di depan Fras "Ini Pak,"[Ya sudah kalo begitu saya kesana sekarang] ucap Fras yang sedang telponan lalu ia bangkit dari duduknya.
Sesampainya di rumah, alangkah kagetnya Fras melihat ada mobil Alex di pekarangan rumahnya.'Ngapain lagi ke sini?' ucap Fras dalam hati, lalu ia mengurungkan niatnya untuk memarkirkan mobilnya ke dalam garasi."Kamu tunggu di sini ya, jangan keluar," ucap Fras membuat Alia terlihat tidak suka."Pa
Sesampainya di ruangan dosen, Alia mengetuk pintu ruangan Fras."Masuk," terdengar suara dosen itu dari dalam ruangan membuat Alia menarik nafas dalam-dalam."Alia ..." Panggil seseorang membuat Alia menoleh. "Eh pak,"."Kamu dari mana saja? Bapak dapat laporan katanya kamu hilang, hampir aja hari







