Home / Rumah Tangga / Istri Tawanan Abdi Negara / Bab 71 - Fakta Mengejutkan

Share

Bab 71 - Fakta Mengejutkan

Author: ekaphrp
last update Huling Na-update: 2025-09-20 22:27:49
Yudha masih memandang dokumen itu seraya menimang. Haruskah ia membukanya disana? Bagaimana kalau tiba-tiba ada yang datang memergokinya?

Setelah menimang cukup lama, ia melangkah ke depan pintu, mengunci dan menutup jendela. Rasa penasaran yang membuncah tak bisa ia lawan. Alhasil, Yudha memilih membuka dokumen tersebut.

Perlahan jemarinya mulai membuka perekat, menarik dengan sangat hati-hati seakan barang itu terlalu berharga untuk di rusak.

Ya, memang benar. Karena dokumen itu satu-satunya yang bisa memberi petunjuk tentang operasi langit merah.

Amplop itu kini terbuka sepenuhnya. Yudha menarik pelan berkas yang terlampir di dalam sana. Jemari lihai dengan mata yang terus memindai. Kertas-kertas itu menghentak jantungnya. Lembaran putih bertinta hitam tersebut bukan sekadar laporan biasa. Ada cap rahasia berwarna merah, tanda tangan pejabat tinggi, serta catatan pinggir yang seakan ditulis buru-buru. Yudha menekuri setiap baris, matanya menyapu dengan fokus yang tak pernah ia
ekaphrp

Hahaha dua persepsi nih. Hayo, kira-kira dalang sebenarnya siapa? Serukan ikuti ceritaku? Selalu penuh teka-teki hihi. Ayooo, support terus supaya aku betah nulis. Jangan lupa GEMnya. Maaciw

| 10
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (14)
goodnovel comment avatar
yesi rahmawati
Saling adu domba, tapi kenapa malah targetnya tavisha dan yudha yang harus saling membenci
goodnovel comment avatar
Wulan Ruslan
Hmmmm yang mana yang asli, LD belum tentu juga itu inisial nama ayah Yudha. Aihh pemasaran
goodnovel comment avatar
Ovy Azza
lhaaa ko malah bentrok gini sih, mungkin keduanya terlibat?
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Istri Tawanan Abdi Negara   Bab 83 - Catatan Tak Bersuara

    Jemari Tavisha yang menahan ujung seragam Yudha kini bergetar. Gerakan kecil itu terasa seperti jeritan di tengah kesunyian. Yudha menoleh, menunduk sedikit agar sejajar dengannya. Sorot mata Tavisha begitu rapuh hingga Yudha hampir saja membatalkan semuanya.“Mas … jangan pergi ….” Suaranya serak, terdengar begitu memilukan. Yudha tak menjawab. Ia hanya menggenggam jemari itu dan melepaskannya perlahan, satu per satu, seolah melepaskan bagian dirinya sendiri.“Tavisha …,” lirih Yudha dengan napas tertahan. “Kalau saya tidak pergi, akan banyak orang yang terluka nanti.”Tavisha memejamkan mata, hingga tetesan air mulai berjatuhan. Diantara keheningan yang menggantung di udara, ada rasa sakit yang tak kasat mata. “Saya akan pulang. Kamu tunggu saya,” bisik Yudha, akhirnya. Hanya sekadar untuk menenangkan istrinya. Meskipun ia tak boleh menjanjikan apapun sebagai abdi negara. Tapi, ia berharap semesta berpihak pada kisah cinta mereka. Tavisha menahan isak, mengangguk pelan. Namun, ke

  • Istri Tawanan Abdi Negara   Bab 82 - Perpisahan Yang Menyakitkan

    Yudha menjauh dari kerumunan setelah briefing keberangkatan esok malam. Di sudut lapangan yang jauh dari hiruk pikuk prajurit, Yudha menyalakan rokok untuk sedikit mengurangi kegelisahannya. Tidak hanya soal keberangkatannya saja yang memberatkan. Tapi, ada hal yang jauh mengganggu pikiran. Ketika Tavisha begitu dekat dengan sahabat lawan jenisnya. Ditambah lagi tak ada kabar dari sang perempuan bahwa ia keluar dari rumah. Meski hubungan mereka masih dingin, namun Yudha berharap Tavisha tetap menjadikan dirinya sebagai orang pertama untuk tahu segala hal tentangnya, termasuk apa yang ingin ia lakukan.Rokok mulai terselip di bibir. Ia hendak menyalakan saat tiba-tiba seseorang menarik lintingan tersebut.“Nggak biasanya Mas ngerokok disini.”Yudha menoleh dan mendapati Bening berdiri disisinya dengan jarak dua langkah. Wanita itu memandangnya heran. Dan Yudha langsung memalingkan wajah ke arah lapangan yang membentang luas.“Untuk apa kamu kesini?”“Aku lihat Mas gelisah daritadi.”Yud

  • Istri Tawanan Abdi Negara   Bab 81 - Tidak Ada Jalan Lain

    “Tidak ada jalan lain,” ucap seorang pria berseragam pangkat tinggi yang kini tengah berbicara empat mata dengan orang berpengaruh di bidang pertahanan tersebut. Pagi menjelang siang itu tampak mencekam di ruang tertutup yang hanya ada mereka berdua. Selain atasan dan bawahan, mereka juga seorang sahabat yang sudah lama berkecimpung di dunia militer. Kali ini, dilema datang dari pria yang sangat berpengaruh seantero nusantarq. Pasalnya, baru tadi pagi hati yang sekeras batu itu hancur berkeping-keping. Walau ia tidak menunjukkan bahwa dirinya hancur di hadapan sang putri, tapi—sebagai seorang ayah ia memahami itu. Ia teringat bagaimana mendiang Harlyn kesepian ketika mengandung putri mereka. Bagaimana dirinya hampir mati di medan perang tanpa bisa memberitahu apa yang terjadi. Dan kini, bayangan itu menghancurkan pertahanan dirinya sendiri. Tavisha terlalu muda. Ia sadar ada banyak langkah yang diambil tanpa mempertimbangkan perasaan putrinya. Termasuk bagaimana ia memaksa sang putri m

  • Istri Tawanan Abdi Negara   Bab 80 - Mencari Ketenangan

    Tavisha terdiam dibalik kemudi tanpa benar-benar melihat apa yang ada di hadapannya. Yang ia rasakan hanya gema dari satu kalimat yang terucap beberapa jam lalu. Kalimat yang belum mendapatkan balasan apapun. “Tavisha hamil.”Reaksi pertama sang ayah memang terkejut. Namun setelahnya … Manggala membeku. Yang Tavisha yakini bukan karena bahagia atau marah. Entahlah, ekspresinya terlalu samar untuk bisa ia baca. Sang ayah hanya diam seperti batu, tidak pernah berubah bentuk sekalipun dihantam berkali-kali. Tavisha menahan napas, seolah dadanya menolak mengendur sejak meninggalkan kediaman Tandjung. Ucapannya sendiri terus mengiang di telinga, sementara sosok sang ayah berdiri di depan jendela tanpa ekspresi, masih saja terbayang. Tavisha sendiri tak tahu apa yang ia harapkan dari pria paruh baya itu. Apakah penolakan, amarah, atau keputusan yang menyenangkan. Tapi … ketiganya tidak ia dapatkan. Atau minimal, ia membutuhkan reaksi dari pria itu. Akan tetapi, semuanya tak ia dapatkan ju

  • Istri Tawanan Abdi Negara   Bab 79 - Bersimpuh Memohon

    Tak ada jawaban yang berarti. Tavisha hanya bergeming, memandang manik yang berusaha menghindari tatapannya. Ia tahu Yudha pun berat mengatakannya. Tapi, apa yang bisa diperbuat? Meraung pun rasanya percuma. Perlahan, Tavisha beranjak dari duduknya. Masih hening. Tak ada ucapan yang keluar dari bibir kecil itu. Sampai Yudha menahan pergelangan tangan yang terasa begitu kurus entah sejak kapan. “Tavisha …,” panggil pria itu, lirih. “Aku mau istirahat, Mas.” Sebuah kalimat terlontar dengan sangat rendah, seolah jika sedikit lebih keras terdengar getarannya. Apa yang Tavisha rasakan, jauh lebih menyesakkan. Dalam keadaan hamil, ia harus ditinggal. Bahkan, saat persalinan nanti pun seolah mustahil untuk suaminya ada di dekatnya. Yudha menelan ludah, cenderung gelisah. Tak ada yang bisa ia lakukan selain melepas pergelangan tangan itu dan membiarkan sang istri mengambil jeda untuk menenangkan diri. Pasalnya, bukan hanya Tavisha saja. Yudha pun belum siap jika harus meninggalkan san

  • Istri Tawanan Abdi Negara   Bab 78 - Berat Hati

    Yudha menatap wajah sang istri cukup lama sebelum beranjak dari tepi ranjang. Ia menyampirkan selimut hingga sebatas dada sang perempuan, memastikan agar tetap hangat. Dan ketika ia hendak berdiri, ponsel di saku celananya bergetar. Ia pun merogoh lalu memandang layar menampilkan kontak dari markas besar. Getarannya terasa seperti alarm yang membangunkan sisi lain dalam dirinya—sisi yang tak pernah bisa menolak panggilan tugas.Sekilas, ia memandang Tavisha sekali lagi. Perempuan itu masih terlelap, wajahnya teduh dengan rambut terurai menutupi sebagian pipinya. Yudha menahan napas sejenak, baru melangkah keluar kamar sepelan mungkin. Begitu tiba di ruang tamu, ia segera mengangkat panggilan itu.“Siap perintah!”Suara di seberang terdengar tegas. “Kapten, mohon segera ke markas. Ini mendesak. Panglima memerintahkan seluruh tim utama hadir pagi ini.”“Pagi ini?” Yudha melirik jam di dinding. Waktu menunjukkan pukul tujuh tiga puluh. “Iya, Kapten. Tidak bisa ditunda.”“Baik. Saya sege

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status