Share

Nyawa Sahabatku

Author: Cuwita
last update Huling Na-update: 2025-07-06 23:47:24

"Ceritakan padaku, Key. Apa yang terjadi denganmu?"

Keola menangis tergugu dalam pelukan sahabatnya. Tubuhnya gemetar, tangan dan kakinya sedingin es. Dia baru saja lepas dari maut mematikan. Ya... Akhirnya dia bisa jauh dari cengekeraman Jaeden. Keola tidak bisa membayangkan bagaimana jika dia terus berada dalam mansion itu, pasti dia akan gila. 

Galena memeluk erat tubuh Keola. Dia hanya bisa menjadi penenang, dan dia tidak ingin memaksa Keola untuk cerita apa yang telah terjadi dengannya. Jika Keola siap dia pasti akan membuka suara dan mencurahkan semuanya. 

"Tenanglah, kamu aman bersamaku." 

Galena yakin telah terjadi sesuatu sampai-sampai membuat Keola ketakutan seperti ini. Mungkinkah keluarganya atau teman kerjanya? Untuk sementara Galena hanya bisa menepuk punggung Keola agar tenang. 

"Bisakah kau menolongku? Aku ingin menelepon keluargaku," cicit Keola dengan isak tangisnya. Galena melepaskan pelukannya, dia menatap lekat kedua manik mata Keola. 

"Tentu saja." 

Galena bangkit lalu mengambil ponsel yang ada di atas nakas samping tempat tidurnya. Dia menyerahkan ponselnya. 

"Oh sial, apa kamu tidak menyimpan nomor keluargaku?" Galena memasang wajah kebingungan, jika diingat-ingat dia tidak pernah menyimpan nomor keluarga Keola. 

"Tidak ada, Gal. Kamu tidak menyimpan nomor keluargaku," seru Keola lagi sangat kecewa. 

"Lalu bagaimana?" Keola hanya diam, Galena pun ikut panik saat ini. "Sebenarnya apa yang telah terjadi? Mengapa kamu ketakutan?"

Keola menekan beberapa angka, di dalam hatinya berharap nomor yang ia ketik adalah salah satu nomor keluarganya.

Tersambung... 

["Hallo?"]

"Kiel?" ucap Keola nyaring. 

["Key? Untuk apa kamu meneleponku? Mengapa nomormu baru?"] Kiel, saudara laki-laki  Keola mengoceh di seberang sana. Hubungan Keola dengan Kiel tidak bisa dibilang baik, keduanya sering adu mulut jika sudah bersatu. 

"Ini nomor temanku. Kiel tolong aku! Sampaikan pada Daddy, aku...."

["Ah merepotkan, bilang saja sendiri. Jangan ganggu aku,"] ucap Kiel kesal. Detik itu juga Kiel memutus panggilan telepon. Setelah itu Keola tidak bisa menghubungi Kiel. 

Keola semakin panik, dia tidak bisa tenang jika belum menghubungi ayahnya. Karena hanya ayahnya yang bisa menolong Keola. Hubungannya yang tidak pernah baik dengan Kiel berimbas buruk disaat Keola sangat membutuhkan bantuan. 

Kiel selalu jahat padanya, menelantarkannya, bahkan bisa menyakiti Keola. Itulah salah satu alasan Keola memilih pergi dan tinggal jauh dari rumah. Keola tidak ingin terus bertengkar dengan Kiel. Namun, disaat genting seperti sekarang, tidak ada yang bisa membantunya. 

"Sudah tenanglah, kamu aman di sini." Galena memeluk tubuh Keola lagi. 

Setelah suasana sedikit tenang, akhirnya Keola bisa memejamkan kedua matanya dan berangsur tidur dengan nyaman di kamar Galena. Keola sangat kelelehan setelah dia berlari sangat jauh dari mansion Jaeden ke rumah sahabatnya. Bahkan dia baru menyadari bahwa kedua telapak kakinya terluka, dia tidak tahu apa saja yang sudah ia injak hingga telapak kakinya berdarah-darah. 

Untung saja dia punya teman baik di tanah rantau ini, Galena selalu membantunya dan baru saja gadis itu memberi salep ke telapak kaki Keola. Keola bisa tidur dengan tenang dan nyaman, Galena menggenggam kedua tangannya seolah memberi rasa aman padanya. 

***

Brak... Brak... Brak...

Keola dan Galena terbangun sesaat mendengar suara dentuman keras dari luar rumah. Sinar matahari yang menerobos masuk dari sela-sela gorden menyilaukan pandangan mereka. 

Brak...

Suara itu semakin nyaring, keduanya beradu pandang. Seketika tubuh Keola menegang dan ketakutan. Melihat Keola yang resah, Galena memberanikan diri untuk melihat keluar. Dia bangkit, tetapi sebelah tangannya ditahan oleh Keola. 

"Jangan, tetap di sini dan kunci pintunya. Ki-kita harus kabur sekarang." Keola meracau, tubuhnya gemetar dan tiba-tiba berkeringat dingin. 

"Hei hei, kita akan aman. Aku akan menelepon polisi," ujar Galena kembali menenangkan Keola.

"Tidak. Kamu tidak tahu siapa dia, dia orang yang sangat kejam." Keola mencengkeram kedua tangan Galena yang tetap kekeuh ingin keluar dari kamar. 

Keola berharap orang di luar sana bukan Jaeden ataupun anak buahnya yang menakutkan. Keola berpikir jernih, tidak mungkin Jaeden bisa menemukannya di sini. Keola kabur saat tengah malam dan tidak ada orang yang tahu keberadaannya di rumah ini. 

Namun, sayang sekali Keola tidak tahu siapa Jaeden yang sebenarnya. Pria itu bisa saja menggunakan kekuasaannya dan koneksinya untuk mencari Keola. Bahkan dilubang semut pun Jaeden bisa menemukan Keola dengan mudah.

Keola melupakan bahwa Jaeden bukan pria biasa, usahanya akan sia-sia jika dia tidak hati-hati dan terburu-buru memutuskan sesuatu. Semuanya akan gagal karena Jaeden bisa melakukan apa saja untuk mendapatkan Keola kembali. 

Dubrak...

"KEYYY... LARIIII...." 

Keola terperanjat saat mendengar teriakan Galena. Secepat kilat dia bangkit dari duduknya, lalu menuju jendela untuk melarikan diri dari sana, akan tetapi saat membuka jendela dia bisa melihat jejeran anak buah Jaeden telah mengepuh rumah ini. 

Keola mundur dua langkah, wajah orang-orang itu sangat menakutkan seolah akan melahap Keola detik itu juga. 

Disisi lain, Jaeden dengan wajahnya yang memerah segera berlari menuju kamar yang pintunya terbuka setengah. Pasti Keola ada di dalam sana, tanpa menunggu lagi Jaeden harus menangkap Keola. Jaeden pun memerintahkan Dhruv untuk menahan Galena yang juga hendak melarikan diri. 

"I got you."

Jaeden tersenyum miring, sedangkan Keola memelotot tajam ke arah pria itu. "Lepaskan!"

Sayangnya Jaeden menebalkan telinganya, dia menyeret Keola keluar dari kamar itu. Jaeden gelap mata, dia marah karena berani-beraninya Keola pergi dari mansion. Jaeden cukup terpukau dengan gadis yang saat ini dalam genggamannya berhasil keluar dari tembok mansion yang cukup tinggi itu. 

"Key...." Galena berusaha menangkap Keola, usahanya nihil karena kini pria yang tak ia kenal mencekik lehernya. 

"Hei, jauhkan tangan kotormu itu dari sahabatku." Keola murka saat melihat wajah Galena sudah memerah dan kehabisa napas. 

Jaeden menarik tubuh Keola, kini keduanya sangat dekat dan lebih tepatnya Jaeden memeluk pinggang Keola yang ramping. Keola menatap lekat kedua manik mata Jaeden dengan penuh kebencian. Kedua tangannya memukul dada Jaeden, tetapi pria itu tidak bereaksi sedikit pun. Kini Keola kehabisan napas, tubuhnya yang saling berdekatan membuat Keola sangat tegang.

"Berani-beraninya kamu kabur dariku?" seru Jaeden sangat sinis. "Kamu pikir bisa melarikan diri dariku? Aku bisa dengan mudah menemukanmu lagi."

"Apa maumu, huh?" 

"Sudah aku bilang, jangan pernah menginjakkan kakimu keluar dari mansion."

"Kamu bukan siapa-siapa bagiku. Kita orang asing...."

"Kita bukan orang asing. Kita akan menikah hari ini juga." Tubuh Keola menegang, Jaeden mencengkeram pinggangnya hingga rasanya sangat panas di kulit Keola. 

Keola ketakutan, tetapi rasa bencinya sangat besar terhadap Jaeden. Baru pertama kali ini Keola bertemu dengan pria gila dan kejam. Sesaat lalu Jaeden hendak membunuhnya, namun tiba-tiba pria itu ingin menikahinya. Benar-benar pria gila!

"Aku tidak sudi menikah denganmu," balas Keola dengan berani. Jaeden tetaplah Jaeden yang harus mendapatkan apa yang ia inginkan. 

Tiba-tiba Jaeden mendorong tubuh Keola hingga terjatuh. Jaeden menghampiri Galena dan beralih menyeret sahabat Keola itu. 

"Apa yang akan kau lakukan, pria gila?" teriak Keola saat Jaeden menyodorkan sebuah pisau tajam ke leher Galena. 

"Ini adalah hukumanmu karena kabur dari mansion."

Srek....

Darah segar berwarna merah itu mencuat dari leher Galena. Keola berteriak histeris, sedangkan Galena yang tegang dan sedikit demi sedikit mulai merasakan perih di lehernya yang menjalar ke seluruh tubuh. 

"GALENA...."

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Istri Tawanan Pembunuh Bayaran   Perasaan Yang Tak Adil

    "Kau bebal sekali! Berapa kali aku katakan untuk diam saja di mansion?" Dokter Clara memasukkan perlengkapan dokternya ke dalam koper kecil berwarna abu-abu. Jaeden seola tidak mendengarkan ucapan dokter sekaligus temannya itu. Pandangannya terus berpusat pada wajah Keola yang terlihat pucat. "Hei, apa kau paham?" Clara mencubit lengan Jaeden dan barulah pria itu memperhatikannya. "Emm....""Clara, apa dia baik-baik saja? Maksudku, emm dia memang tidak baik tapi apakah keadaannya mengkhawatirkan? Dia seperti ini mungkin karena aku, pagi-pagi kemarin dia tampak sehat. Namun, setelah tadi malam...." Keola tergugu, dia sungguh khawatir karena takut seseorang terluka karenanya. "Keola." Clara menggenggam kedua tangan Keola. "Dia baik-baik saja, hanya jahitannya robek dan tidak infeksi," terang Clara menenangkan Keola. "Entah apa yang dilakukan pria ini sampai-sampai jahitannya robek begitu." Clara mencebit sembari menatap wajah Jaeden yang datar-datar saja. Keola tertegun, dia mati

  • Istri Tawanan Pembunuh Bayaran   Dihujam Kenikmatan

    "Mma-maafkan aku!" Keola melepas erangannya dan mampu membuat Jaeden tertawa puas. Sekali lagi tangan Jaeden bermain-main dibagian itu hingga nafas Keola tak beraturan dan kian cepat. Jaeden menambah ritmenya. Dan.... Keola berteriak saat melepaskannya. Napasnya naik turun, keringatnya mulai mengalir dari kedua pelipis. Sial, melihat wajahnya yang pucat membuat Jaeden semakin menginginkannya. Jaeden menarik tengkuk Keola hingga duduk berhadap dengan Jaeden, pria itu semakin gila mengi-sap bibir ranum istrinya itu. Keola hanya pasrah dengan kedua tangannya berpangku di atas dada Jaeden. Nikmat dunia yang sama-sama baru mereka rasakan. Jaeden tak membiarkan pangutannya terlepas, mendorong tubuh Keola lagi untuk berbaring dengan nyaman. Bagian bawahnya lebih sesak, lihai sekali sebelah tangan Jaeden saat melepas keseluruhan pakaiannya. "Mmpphhh, euughhh...." "Ya, lepaskan jangan ditahan," bisik Jaeden lembut. "Jae... Aku...." Keola menahan pa-ha Jaeden yang hendak masuk. "Jangan, a

  • Istri Tawanan Pembunuh Bayaran   Untuk Malam Pertama

    "Kau tidak apa-apa?" Keola membantu pria yang baru saja disiksa oleh Jaeden untuk duduk tegap. "Ny-nyo-nya... Sssstttt." Pria itu memegangi dadanya yang nyeri. Keola semakin geram, Jaeden benar-benar sangat jahat. Dia menyakiti anak buahnya yang selalu patuh dan menjalankan perintah. Namun, Jaeden balas dengan penyiksaan. Sebagai sesama manusia hati Keola sangat tersentil akibat ulah Jaeden tersebut. Keola kembali berdiri di depan Jaeden. Tatapan saling mematikan, Keola bisa melihat kedua tangan Jaeden mengepal kuat. "Mengapa kau menyiksanya? Tidak hanya aku yang kau sakiti, tapi mereka juga?" "Kamu tidak perlu ikut campur. Ini masalah laki-laki." Jaeden mengeram dan menahan amarahnya."Tidak perlu memakai kekerasan.""Diam!""Aku tidak akan diam, karena kamu sungguh kelewatan. Kamu adalah pria jahat yang pernah aku temui," terang Keola kian memuncakkan kekesalan Jaeden."Bagaimana bisa dia ada di sini, huh?" Jaeden mengedarkan pandangannya ke arah anak buahnya. Mereka semua han

  • Istri Tawanan Pembunuh Bayaran   Peperangan Kecil

    "Tim Alpha bergerak mengikutiku dan Tuan. Tuan akan memimpin langsung pertarungan ini, kita harus melindunginya.""Baik." Serempak bergema dan terdengar pada earphone yang dikenakan Jaeden. Dia tidak perlu memberi aba-aba, hanya dengan satu perintah yang diteruskan oleh Dhruv. "Jika keadaan menghimpit, Tim Beta lakukan penyerangan disetiap sayap.""Baik."Jaeden melangkah dengan gagah, wilayah barat yang sangat familiar dipenglihatannya karena dulu Gibson sering membawa Jaeden dan Noah berlatih bela diri di tempat ini. Hingga setelah dewasa Gibson memberikan wilayah timur untuk Jaeden dan barat kepada Noah. Sejak hari itu Jaeden tidak pernah lagi menginjakkan kaki di tanah ini. Waktu kian menggelap, tetapi tak ada rasa takut dibenak Jaeden saat menyusuri jalanan setapak yang di sekelilingnya diselimuti oleh hutan. Suasana tampak sunyi dan dingin, Jaeden bisa mencium pergerakan dari anak buah Noah."Rupanya mereka telah menunggu kedatanganku." Jaeden tersenyum miris. Anak buah Jaede

  • Istri Tawanan Pembunuh Bayaran   Rasa Peduli Itu Nyata

    "Kau sudah gila." Keola tersulut emosinya. Sungguh dia tidak menyukai Jaeden yang acap kali membentaknya. Pria itu selalu seenaknya berbuat dan berbicara dengan keras terhadap Keola. Gadis itu kian benci, jika bukan karena kondisi Jaeden yang hampir meninggal, Keola tidak akan menggunakan sisi kemanusiaannya untuk menjaga pria itu semalaman. "Dasar tidak tahu berterimakasih." Ucapan Keola seketika mengendurkan genggaman tangan Jaeden pada lengan wanita di depannya ini. Dia merasa bahwa emosinya tak pernah stabil jika berhadapan dengan Keola, selalu tindakan yang dilakukan gadis itu membuatnya marah. "Aku menjagamu semalaman sampai merelakan waktu tidurku, tetapi kau malah membentakku? Dasar pria sombong!" "A-aku....""Apa? Mau menuduhku lagi? Kamu tidak tahu betapa paniknya aku saat melihat darah di tubuhmu. Percuma aku khawatir dan baik hati, nyatanya kau tidak membutuhkan itu. Kau justru berkeliaran dan bermain pistol, jika kamu sakit lagi aku tidak akan mengurusmu." Jaeden di

  • Istri Tawanan Pembunuh Bayaran   Kesalahpahaman

    "Itu bukan luka tusuk biasa, tetapi ada racun di tubuh Jaeden. Sepertinya pisau yang menusuk perutnya dibaluri racun," terang Clara menjelaskan penyebab ambruknya Jaeden. "Untung saja tidak mematikan, tetapi namanya racun harus ditangani dengan baik. Aku sudah mengeluarkan racunnya, tolong awasi dengan baik. Jika terjadi sesuatu segera hubungi aku, untuk sekarang dia sudah stabil. Aku harap dia akan baik-baik saja seterusnya.""Terimakasih Dokter Clara," ucap Keola sembari membalas genggaman tangan Clara. "Keola panggil saja aku Clara, kita berteman kan." Keola tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Keola benar-benar tidak bisa tidur, kedua matanya terus mengawasi Jaeden. Rasanya dia bertanggung jawab atas keselamatan suaminya saat ini. Seperti kata Clara harus ada yang mengawasi Jaeden jika tiba-tiba terjadi hal buruk pada pria itu. Keola bersedia mengambil peran untuk menjaga Jaeden. "Nyonya." Nancy muncul dari balik pintu kamar. "Ini teh jasmine untukmu." Nancy menaruh secangki

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status