Share

3. Malam Liar

Penulis: DF Handayani
last update Terakhir Diperbarui: 2025-07-17 19:07:33

Angin malam menyusup dari balkon, membawa aroma malam yang bercampur kabut tipis. Namun suhu tak seberapa dingin dibanding gejolak yang kini membakar di dalam ruang luas itu.

Kyora berdiri terpaku di balik gaun basahnya, rambut acaknya meneteskan air hujan terakhir yang belum mengering, seperti sisa-sisa penolakan yang masih tersisa di hatinya.

Akan tetapi, bukan penyesalan yang ada dalam matanya, atas keputusannya untuk memilih menetap bersama pria asing di depannya. Melainkan pelampiasan amarah yang masih bergemuruh di hatinya.

Ludovic menatapnya tajam, sorot mata pria itu tak lagi sekadar mengancam. Ada sesuatu yang lain. Lebih dalam. Lebih mengikat. Ketika Kyora melangkah mendekat, tak ada suara kecuali derap halus kakinya menyentuh marmer hitam. Gaunnya menyeret di lantai, meninggalkan jejak seolah menandai keputusannya.

"Aku tak tahu apa yang akan terjadi esok hari," lirih Kyora, berhenti satu langkah dari Ludovic. "Tapi malam ini, aku memilih untuk tetap di sini."

Ludovic menatapnya lama. Sangat lama. Seolah sedang menimbang bukan hanya kata-kata, tetapi keberanian dalam suaranya. Lalu pria itu bergerak cepat, menarik tubuh kecil Kyora ke dalam pelukannya, bukan dengan paksa, tapi dengan kegetiran seseorang yang terlalu lama menunggu miliknya untuk kembali.

Pelukan itu menghimpit semua dinding pertahanan Kyora. Dadanya sesak, bukan karena takut, tetapi karena rasa yang asing, liar, dan menyakitkan dalam waktu bersamaan. Tangannya menggantung di sisi tubuh, namun perlahan naik, menyentuh punggung keras pria itu, mencengkeram erat.

Ludovic menunduk, membenamkan wajahnya di lekuk leher Kyora. Mengecupnya, menyesapnya lembut.

“Kau tidak tahu betapa aku membenci diriku sendiri karena sangat menginginkanmu, Kyora." bisiknya rendah, napasnya membakar kulit leher Kyora yang dingin.

“Aku juga membenci diriku karena tidak menolakmu, Tuan.” jawab Kyora nyaris tak terdengar.

Dalam sekejap, udara berubah. Ludovic mencengkeram lembut rahangnya dan menatap dalam ke matanya, seolah mencari secercah keraguan terakhir. Namun yang ia lihat hanyalah seorang wanita yang hancur, namun memilih berdiri kembali di atas reruntuhannya.

Malam itu, Ludovic membawa Kyora melewati ruang besar kastil menuju ruang pribadinya, lebih megah, lebih gelap, dan lebih sepi dari seluruh ruang lain. Lilin-lilin menyala di setiap sudut, memberikan cahaya keemasan yang menari-nari di permukaan dinding hitam dan marun berornamen emas.

Langit-langit dihiasi lukisan bergaya renaissance yang menggambarkan perang para dewa, seperti mencerminkan perang batin yang membakar keduanya.

Kyora berdiri di ambang ranjang merah megah dengan kelambu hitam. Tangan Ludovic bergerak pelan, membuka ikatan gaun yang menempel di tubuh gadis itu. Gerakannya lambat, namun penuh keyakinan.

Dan saat kain basah itu meluncur jatuh ke lantai, yang tersisa hanyalah tubuh mungil yang gemetar bukan karena dingin, tapi karena ia akhirnya melepaskan semua benteng terakhirnya. Harta paling berharga yang tak pernah disentuh oleh siapapun, bahkan suaminya sendiri.

“Jangan takut,” bisik Ludovic, mengecup pelipisnya. “Aku tidak akan memaksa. Tapi aku akan menuntunmu. Sampai kau tahu bagaimana seharusnya seorang wanita dihargai.”

Kyora mengangguk kecil. Air matanya jatuh bukan karena luka, tapi karena perasaan asing yang membanjirinya, campuran antara takut, haru, dan pasrah yang membuat jantungnya berdentum tak karuan.

Bibir Ludovic menjelajah bebas tanpa penghalang. Menelusuri setiap jengkal tanpa celah. Tak ingin melewatkan meskipun hanya seinci. Ia ingin memiliki seutuhnya, tanpa terkecuali.

Tubuh mungil seputih susu yang tak lagi memiliki penghalang itu hanya diam membeku. Menerima apapun yang dilakukan oleh sang pria asing.

Air matanya jatuh perlahan kesamping. Seharusnya malam ini miliknya bersama suaminya. Tapi, ia justru berserah pada pria yang tak memiliki status apapun di hidupnya.

Pikirannya melayang jauh di mansion milik ayahnya. Ya, malam ini bukan hanya dirinya. Tapi, suaminya pasti juga sedang menggila bersama wanita barunya. Rasa remuk di hatinya semakin membuatnya yakin untuk menyerahkan dirinya.

"Kau boleh berteriak, mencabikku atau apapun. Tapi, kau tak boleh memohon padaku untuk berhenti." bisik Ludovic lalu mengecup kedua mata Kyora yang sudah basah karena air mata.

"Kau milikku, dan setelah ini tak boleh ada air mata kesedihan. Siapapun yang menyakitimu mereka akan membayar dengan darahnya."

Ludovic mulai menyatukan miliknya. Tanpa pengampunan, ia tak menerima permohonan apapun. Kyora merintih, menggigit bawah bibirnya kuat menahan sakit luar biasa, ia mencengkram kuat seprei ketika Ludovic menerobos masuk.

Ludovic belum menyadari apa yang sedang terjadi pada Kyora. Ia tak tahu jika Kyora masih suci. Ia terlalu tenggelam dalam nikmat surgawi.

Kyora berteriak kecil ketika dinding terakhirnya tercabik. Tangannya berpindah mencengkram punggung keras Ludovic yang panas. Hingga kuku panjangnya menekan masuk ke kulitnya yang sudah basah dengan keringat.

Mereka bersatu malam itu, tidak dalam kesempurnaan, tidak juga dalam cinta. Tapi dalam rasa kehilangan yang begitu besar, sehingga keduanya menutup luka masing-masing dengan tubuh dan napas yang saling mencari.

Ludovic mencium setiap inci dari Kyora dengan sabar. Ia tidak tergesa, tidak menggila. Bahkan ketika ia menindihnya, ia seperti sedang menyusun ulang tubuh retak yang hampir tak bisa percaya bahwa ia pantas dicintai. Dan saat Kyora memeluknya erat di tengah malam yang panjang, Ludovic menyadari sesuatu.

Gadis ini... bukan sekadar miliknya. Ia adalah takdirnya.

Napas mereka berpadu, saling berburu dalam senyap yang penuh emosi. Ludovic mencengkeram seprai, menahan desah yang hampir lepas. Kyora, dengan tubuh kecilnya, menerima setiap sentuhan dengan berani, meski matanya berkaca-kaca. Setiap ciuman, setiap tarikan napas, membawa mereka lebih dalam ke pusaran yang tak ada jalan kembali.

Jam demi jam berlalu.

Sampai akhirnya malam itu menjadi saksi akan perubahan keduanya. Sebuah awal dari sesuatu yang lebih dari sekadar hubungan fisik. Ada pengakuan diam, ada pengikatan tanpa sumpah, dan ada luka yang dipertemukan bukan untuk sembuh tetapi untuk hidup berdampingan.

Ketika fajar menyusup dari balik tirai berat kamar itu, tubuh Kyora berbalut selimut tebal dalam pelukan Ludovic. Napasnya tenang, matanya masih setengah tertutup. Tapi ada senyum tipis di wajahnya, dan tangan yang mengait erat pada dada pria yang kini tertidur bersamanya.

Ludovic membuka mata, menatap gadis dalam pelukannya. Ia menariknya lebih dekat, mengecup pelan keningnya.

“Mulai hari ini, aku akan jadi pria yang kau benci sekaligus kau butuhkan,” bisiknya pelan. "Kau boleh memerintahku, meminta apapun dariku, bahkan menyiksaku."

Kyora tak menjawab. Tapi jari-jarinya mencengkeram dada pria itu sedikit lebih erat. Tak dipungkiri semalam, pria ini telah memberikan sesuatu yang tak pernah diberikan suaminya.

Kelembutan, kehangatan, ketenangan, kasih sayang, dan... kepuasan.

Dan pagi itu, dunia belum berubah. Tapi dua hati yang terluka telah memilih tak lagi melarikan diri. Meskipun Kyora belum juga tahu nama lelaki yang tidur di sampingnya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Istri Terbuang Jadi Nyonya Miliarder   21. Kyo Itu Kau, Kyoraku!

    Mobil melaju perlahan meninggalkan area pemakaman. Pohon-pohon tua di kiri kanan jalan berbaris rapi, dedaunan mereka bergoyang pelan tertiup angin pagi. Kyora menatap keluar jendela, pikirannya masih tertinggal di antara nisan marmer dan doa-doa yang tak sempat ia ucapkan selama bertahun-tahun.Ludovic tidak mengganggunya. Ia membiarkan keheningan mengalir. Sesekali ia melirik Kyora, memastikan wajahnya sudah kembali ceria, bahwa kesedihan itu tidak lagi menenggelamkannya terlalu dalam.“Kita tidak harus kembali ke mansion sekarang,” ucap Ludovic akhirnya, suaranya rendah dan hangat. “Ada sebuah tempat yang ingin kutunjukkan padamu. Jika kau tidak keberatan.”Kyora menoleh. Tatapannya bertemu dengan mata Ludovic yang tidak mengintimidasi seperti biasanya. Ada sesuatu yang berbeda di sana kelembutan yang hangat.“Ke mana?” tanyanya.“Sebuah taman lama,” jawab Ludovic singkat. “Tidak jauh dari sini.”Kyora ragu sejenak, lalu mengangguk. “Baik.”Mobil berbelok ke jalan kecil yang dipen

  • Istri Terbuang Jadi Nyonya Miliarder   20. Masa Lalu yang Hilang

    Malam semakin larut ketika Kyora akhirnya terlelap. Namun tidurnya tak begitu tenang. Bayangan taman, air mancur, dan patung marmer dengan bunga liliy terus berkelebat di alam mimpinya.Seorang gadis kecil berusia lima tahun berlari di taman, gaun merah mudanya berkibar tertiup angin. Tawa riang memenuhi udara. Di belakangnya, seorang bocah lelaki tujuh tahun lebih tua di atasnya, dengan rambut hitam pekat mengejar sambil tertawa kecil, membawa bunga lily of the valley yang hampir terlepas dari genggamannya.“Kyo! Tunggu aku!” teriak bocah itu.Gadis kecil itu menoleh, wajahnya berseri. “Kau lambat sekali, Kak Luvi!”Nama itu menggema aneh di telinga Kyora dewasa yang menyaksikan mimpi itu dari kejauhan. Luvi. Dadanya terasa nyeri tanpa sebab.Mimpi itu berubah.Langit kelabu. Gadis kecil itu berdiri di depan sebuah makam yang masih basah. Menatap bocah bernama Luvi yang terisak di samping pusara dengan bertabur Lily of the valley.Gadis kecil itu mengeluarkan sesuatu dari saku jaketn

  • Istri Terbuang Jadi Nyonya Miliarder   19. Kau Bebas Menentukan Pilihan

    Makan malam itu berlangsung dalam hening yang nyaris menyiksa. Dentingan garpu dan pisau terdengar begitu jelas di tengah ruangan besar yang seharusnya hangat, namun justru dingin membeku.Kyora berusaha menahan pandangannya tetap tenang, menunduk setiap kali tatapan Ludovic menusuknya tanpa suara. Membuatnya susah untuk menelan dengan benar.Laki-laki itu makan dengan tenang, gerakannya penuh kendali. Namun Kyora tahu, di balik ketenangan itu ada sesuatu yang menggelegak, entah amarah terpendam karena ucapannya tadi, atau hanya permainan sunyi yang sengaja diciptakan.Kyora menggenggam serbet di pangkuannya, seakan mencari pegangan agar tidak gemetar. Napasnya berusaha ia atur, tapi tetap saja terasa berat. Pria di depannya benar-benar tak bisa ditebak.Begitu santap malam usai, Ludovic meletakkan sendoknya perlahan, lalu mengusap bibir dengan serbet putih bersulam benang emas. Tatapannya singkat, tapi cukup membuat jantung Kyora berdebar.“Terima kasih untuk makan malamnya,” ucap Ky

  • Istri Terbuang Jadi Nyonya Miliarder   18. Obrolan Makan Malam

    Langkah Calista terdengar bergema di lantai marmer butik perhiasan mewah tempat ia berada. Matanya masih menatap pantulan wajahnya di kaca display berlian, namun pikirannya melayang jauh.Kata-kata ayahnya tadi di telepon cukup mengganggu ketenangannya. Kalimat itu bagai duri yang mengusik."Ck!" Ia berdecak kesal sendiri. "Ayah, kau mengganggu kesenanganku." omelnya sendiri. Ia menggenggam ponsel erat, seolah ingin meremukkannyaSeorang staf butik mendekat dengan senyum ramah, menawarkan koleksi terbaru. Namun Calista hanya melirik sekilas lalu melambaikan tangan acuh.“Tidak, aku tidak butuh apa-apa. Aku sudah tidak selera!" bentaknya, kemudian berlalu pergi begitu saja.Langkahnya meninggalkan butik itu cepat, hampir tergesa, seakan ia ingin lari dari bayangan ayahnya yang terus mengganggunya.Di sisi lain, Moretti kembali ke ruang rapat. Para komisaris masih berkumpul, sebagian dengan wajah pucat, sebagian lagi saling berbisik. Suasana ruangan kini lebih berat daripada sebelumnya

  • Istri Terbuang Jadi Nyonya Miliarder   17. Seperti Domino

    Gedung pusat Moretti Corporation, siang itu, seakan menjadi ruang tekanan tinggi. Lift-lift bergerak naik-turun dengan tergesa, sekretaris-sekretaris membawa berkas setumpuk, dan para eksekutif senior saling berbisik dengan wajah pucat.Rapat dewan komisaris mendadak diadakan. Tidak ada agenda resmi, hanya satu kalimat pendek di undangan elektronik yang dikirimkan pagi tadi. “Perubahan struktural mendesak. Segera hadir di gedung pusat.”Di ruang rapat, meja panjang dari marmer mengkilap dipenuhi wajah-wajah serius. Di kursi utama, Moretti duduk dengan rahang mengeras, wajahnya gelap, jarinya mengetuk-ngetuk meja dengan ritme gelisah.“Baik,” suaranya pecah di tengah hening. “Siapa yang bisa menjelaskan pada saya, kenapa tiba-tiba perusahaan pusat menyetujui akuisisi terhadap tiga anak perusahaan utama kita?”Seorang komisaris senior mencoba bicara, “Tuan Moretti, keputusan itu berasal langsung dari kantor pusat Armany Corporation atas persetujuan penuh Tuan Ludovic Armany.”Ucapan itu

  • Istri Terbuang Jadi Nyonya Miliarder   16. Permainan Kecil

    Kabut pagi mulai tersibak, memperlihatkan perbukitan hijau di kejauhan. Namun kedamaian itu hanya milik balkon Ludovic. Di tempat lain, badai yang tak terlihat sudah mulai berhembus.Kantor pusat keluarga Benedict berdiri megah di pusat kota, dikelilingi gedung-gedung tinggi. Dari luar, semua tampak normal. Namun di dalam ruang rapat tertutup, suasana mendidih. Javier duduk di kursi utama, jasnya rapi, tapi kedua tangannya terkepal di atas meja dengan kilat mata menyala.“Bagaimana bisa ini terjadi?” suaranya rendah, namun cukup untuk membuat seluruh staf yang duduk di sekeliling meja menunduk.Seorang direktur keuangan mencoba menjelaskan, “Tuan, ada tiga transaksi lintas negara yang tiba-tiba dibekukan oleh bank mitra. Mereka mengklaim ada pemeriksaan rutin tapi waktunya terlalu kebetulan.”Javier mengerutkan dahi. “Rutin? Tiga akun sekaligus? Di tiga negara berbeda? Itu bukan kebetulan.” Rahangnya mengeras.Tak ada yang berani bicara.Awalnya pagi ini, dengan percaya diri Javier be

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status