Mag-log inAlya duduk di kursi belakang, mendekap erat Tsaqif yang masih mengejang pelan.
Di sebelahnya, Aisya dan Zayyan duduk kaku, menggigil kedinginan, takut mengotori jok kulit berwarna krem yang pastinya seharga rumah kontrakan mereka.
Araska tidak bicara sepatah kata pun. Satu tangannya memegang kemudi dengan santai, sementara tangan lainnya menempelkan ponsel ke telinga.
"Siapkan satu kamar VVIP dan tim dokter spesialis anak, sekarang! Aku sampai dalam lima menit, jangan sampai lelet melayani pasien yang aku bawa!"
Tanpa menunggu jawaban dari seberang, sambungan langsung diputus.
Alya menatap punggung tegap pria itu dengan perasaan campur aduk.
Takut, tapi juga berharap.
Belum sempat mobil berhenti sempurna, tiga orang perawat dan satu dokter sudah bersiap dengan brankar dorong.
Araska keluar lebih dulu. Aura dominasinya seketika membuat petugas keamanan yang hendak menegur soal parkir, langsung mundur teratur. "Bawa anak itu!"
Alya tergopoh-gopoh keluar, meletakkan Tsaqif ke atas brankar. "Dokter, tolong anak saya… dia kejang, Dok!"
Perawat sempat ragu melihat penampilan Alya. Baju lusuh, basah kuyup, tanpa alas kaki, dan wajah lebam. Tatapan perawat itu beralih ke bagian administrasi, seolah bertanya 'siapa yang akan bayar?'.
Araska menyadari keraguan itu. Ia melangkah maju, berdiri menjulang di hadapan dokter jaga.
"Lakukan tindakan terbaik. Jangan tanya soal administrasi atau prosedur sampah lainnya karena itu urusanku. Nyawa anak itu prioritas utama kalian!"\
Araska lalu mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam pekat dari saku jasnya.
Dia tidak menyerahkannya, melainkan melemparnya ke meja administrasi yang ada di dekat pintu masuk lobi.
TAK!
Resepsionis yang berjaga langsung pucat pasi begitu melihat logo Black Card eksklusif yang hanya dimiliki segelintir konglomerat.
"Ba-baik, Tuan! Segera kami tangani!"
Brankar Tsaqif langsung didorong masuk ke ruang tindakan khusus.
Alya hendak menyusul, tapi langkahnya terhenti saat menyadari Aisya dan Zayyan masih berdiri di lobi, basah dan gemetar.
"Ibu... dingin..." keluh Zayyan.
Alya bingung karena dia harus menemani Tsaqif, tapi dia juga tidak bisa meninggalkan dua anaknya yang lain.
"Masuklah. Temani anakmu yang sakit," suara bariton Araska terdengar di belakangnya.
"Tapi, bagaimana dengan mereka…?"
Araska menoleh pada kepala perawat yang berdiri ketakutan di sampingnya. "Carikan baju ganti untuk dua anak ini. Beri mereka makan dan tempat istirahat yang layak. Pengobatan, baju, dan perawatan ketiganya, masukkan tagihannya ke kartuku! Jika ada satu orang saja yang menatap mereka dengan pandangan merendahkan, lapor padaku, aku pastikan mereka tidak akan bekerja lagi di sini waktu matahari terbit!."
Perawat itu mengangguk cepat, "Siap, Tuan! Mari, Dek, ikut Suster ganti baju dulu, ya…"
Alya menatap Araska dengan mata berkaca-kaca. "Terima kasih, Tuan, terima kasih..."
Araska tidak menjawab dan hanya memberi isyarat mata agar Alya segera masuk ke ruang rawat.
Satu jam kemudian.
Tsaqif sudah tertidur pulas dengan infus menancap di tangan mungilnya. Napasnya sudah teratur, panasnya turun drastis setelah mendapat penanganan cepat.
Di sofa sudut, Aisya dan Zayyan tertidur pulas setelah memakan nasi goreng seafood mahal yang dipesan pihak rumah sakit.
Mereka mengenakan piyama rumah sakit yang bersih dan hangat.
Alya duduk di kursi samping ranjang Tsaqif.
Dia sendiri sudah membersihkan diri ala kadarnya di kamar mandi mewah itu, meski masih memakai baju lamanya yang sudah dikeringkan paksa dengan hair dryer yang tersedia di sana.
Lebam di wajahnya kini terlihat makin jelas, kontras dengan kulit pucatnya.
Tak lama, pintu terbuka pelan, dan Araska masuk. Di tangannya, ada selembar kertas tagihan. Jantung Alya pun berdetak kencang karena dia tahu saat ini akan tiba.
Araska duduk di sofa tunggal di seberang ranjang, menyilangkan kakinya dengan angkuh. "Anakmu menderita infeksi bakteri akut, ditambah gizi buruk. Tenang, dia bisa diselamatkan. Dokter bilang dia butuh rawat inap minimal tiga hari."
Alya menunduk seraya meremas jemarinya. "Terima kasih, Tuan. Saya... saya tidak tahu harus membalas dengan apa. Berapa biayanya? Saya akan cari kerja, saya akan cicil seumur hidup saya."
Araska mendengus, senyum sinis terbit di bibirnya. "Cicil? Kau bahkan tidak punya sandal dan pakaian ganti. Biaya malam ini saja sudah lima belas juta. Itu belum termasuk obat dan rawat inap tiga hari ke depan. Kau butuh tiga kali reinkarnasi untuk melunasinya dengan pekerjaan serabutanmu itu!"
Alya shock dan merasa, kata-kata itu sangat kejam, tapi memang faktanya begitu. Dia tidak punya harga diri lagi untuk membantah.
"Saya akan lakukan apapun, Tuan. Sesuai janji saya di jalan tadi. Tuan bisa pekerjakan saya jadi pembantu, tukang cuci, apapun... asal jangan usir kami dari sini sampai anak saya sembuh," suara Alya bergetar, memohon demi kesembuhan anaknya.
Araska menatap wanita di depannya. Matanya menelusuri wajah lebam Alya, lalu beralih ke anak-anaknya.
Sebenarnya, Araska bisa saja pergi setelah membayar. Namun, tadi, saat ia menunggu di luar, ponselnya berdering.
Ada panggilan dari Neneknya.
"Araska! Kapan kamu bawa calon istrimu ke rumah? Nenek sudah atur pertemuan dengan cucu teman Nenek minggu depan. Kalau kamu datang sendiri lagi, Nenek mogok minum obat!"
Ancaman klasik itu membuatnya muak.
Dan di depannya sekarang, ada wanita yang sudah tidak punya apa-apa, yang berhutang nyawa padanya. Wanita yang punya nyali menghadang mobil demi anak, pasti punya nyali menghadapi neneknya yang cerewet.
"Aku tidak butuh pembantu. Rumahku sudah penuh dengan pelayan kompeten," kata Araska.
"Lalu... Tuan mau saya melakukan apa?"
"Aku butuh sekretaris pribadi, sekaligus pengasuh khusus untuk Nenekku."
Alis Alya bertaut. "Sekretaris? Tapi ijazah saya cuma SMA, Tuan. Saya tidak paham pekerjaan kantor."
"Aku tidak butuh ijazahmu, pilihannya iya atau tidak!" potong Araska cepat.
"I-i-iya, Tuan, saya mau melakukan apapun demi anak saya. Tapi, saya mohon, Tuan, tolong jelaskan dulu apa tugas saya nanti."
"Tugasmu sederhana. Di kantor, kau urus jadwal pribadiku, pastikan tidak ada wanita-wanita gatal yang mendekatiku. Di rumah, kau urus Nenekku yang sakit-sakitan, cerewet, dan selalu membenci semua perawat yang aku sewa. Tapi kau... kau punya aura keibuan yang mungkin bisa melunakkannya."
Araska menjeda kalimatnya, membiarkan Alya mencerna tawaran itu.
"Tapi ada syaratnya," lanjut Araska, suaranya merendah, penuh penekanan.
"Syarat apa, Tuan?"
"Kau dan ketiga anakmu harus tinggal di mansion pegawai di belakang rumah utamaku. Kau harus siap sedia 24 jam. Jika Nenekku memanggil jam tiga pagi, kau harus ada. Jika aku butuh kau di kantor jam enam pagi, kau harus siap. Tidak ada hari libur sampai hutangmu lunas."
Araska menghela nafas, lalu mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. "Dan satu lagi yang harus kau tahu, Nenekku ingin aku menikah. Tugasmu adalah membuat Nenekku sibuk atau membuat wanita-wanita pilihan Nenekku mundur karena tidak nyaman dengan adanya dirimu. Dan jika Nenekku kembali memaksaku menikah, maka kau yang jadi istri kontrakku. Kau paham?"
Alya tertegun.
Tinggal di rumah majikan?
Siap 24 jam?
Dan menjadi istri kontrak apabila dibutuhkan?
Itu berarti, dirinya tidak punya kebebasan.
Tapi melihat Tsaqif yang tertidur nyaman di kasur empuk, dan mengingat neraka yang ia tinggalkan bersama Aldi, tawaran Araska terdengar seperti surga, meskipun surga itu bersyarat.
Alya juga sadar, dia tidak punya rumah untuk pulang.
Dia tidak punya uang sepeser pun.
Pria di depannya ini menawarkan atap, makanan, keamanan, dan gaji untuk pekerjaannya.
Mengingat bagaimana anaknya hidup nanti, wanita itu merasa bahwa harga dirinya tidak penting lagi dibanding keberlangsungan hidup ketiga anaknya.
Alya pun berdiri, menatap lurus ke manik mata Araska. "Saya terima, Tuan."
"Bagus. Namaku Araska. Jangan panggil Tuan. Panggil Pak Araska di kantor, dan Tuan Muda di rumah."
"Baik, Pak Araska."
"Besok pagi, setelah anakmu sadar, asistenku akan mengurus kepindahan kalian. Kau tidak membawa sehelai pakaian, kan? Baguslah! Aku tidak mau ada sampah masa lalu yang masuk ke propertiku."
Araska berbalik badan, melangkah menuju pintu. Namun sebelum keluar, ia berhenti sejenak tanpa menoleh. "Dan Alya..."
Alya tersentak, hampir menjatuhkan ponsel tipis itu ke lantai marmer. Araska berdiri di ambang pintu dengan tangan bersedekap, matanya yang tajam seolah mampu menembus layar ponsel Alya dan membaca nama yang tertera di sana. "Angkat, Alya! Aktifkan speaker-nya," perintah Araska lagi. Dingin, dengan nada otoritas yang tak terbantahkan. Dengan jari gemetar, Alya menggeser ikon hijau."Halo, Perempuan tak tahu diri! Akhirnya lo angkat juga!" suara Aldi menggelegar, penuh nada kemenangan yang memuakkan. "Gimana rasanya jadi simpanan orang kaya? Enak ya, dandan cantik, makan enak, pakai uang haram. Denger ya, kalau lo nggak turun sekarang, gue pastiin bakal ambil anak-anak!"Wajah Alya memucat, tetapi sebelum isaknya pecah, sebuah tangan besar merebut ponsel itu dari genggamannya. Araska mendekatkan ponsel itu ke bibirnya. "Tunggu di lobi! Aku sendiri yang akan menemuimu di sana."KLIK. Sambungan diputus sepihak. Araska menarik tangan Alya, membawanya masuk ke dalam rengkuhan lengannya
Alya tidak boleh membiarkan Araska tahu.Jika Araska tahu dia membawa masalah rumah tangga ke kantor, dia bisa dipecat. Dan jikad dia dipecat, perlindungan untuk Tsaqif, Aisya, dan Zayyan akan hilang.Dengan langkah gemetar, Alya berbalik arah.Dia setengah berlari menuju toilet private yang terletak di ujung lorong lantai 58, fasilitas khusus yang hanya boleh digunakan oleh tamu VVIP dan staf ring satu, menguncinya rapat-rapat, lalu merosot di depan wastafel marmer.Air keran dinyalakan sekencang mungkin untuk meredam isak tangis yang akhirnya pecah.Alya membasuh wajahnya yang sudah dipoles makeup mahal itu dengan kasar, berusaha menghapus jejak air mata, namun rasa takut itu tak kunjung hilang.Bayangan Aldi yang mengambil paksa anak-anaknya terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.Sementara itu, di dalam ruangan direktur, Araska melirik jam tangannya untuk ketiga kalinya dalam satu menit.Sudah lima belas menit sejak dia melihat Alya naik dari lobi lewat CCTV.Seharusnya w
Pintu lift di lobi utama terbuka.Alya melangkah keluar lift dan dia melihat pemandangan kacau balau. Seketika, suara keributan yang memekakkan telinga menyerbu masuk."Minggir kalian semua, dasar babu tidak berguna! Mana Araska? Suruh cucuku turun atau aku bakar gedung ini!"Di tengah lobi marmer yang luas, seorang wanita tua dengan rambut putih disanggul rapi dan mengenakan kebaya sutra mahal sedang mengacungkan tongkat kayu eboni.Tiga orang petugas keamanan bertubuh kekar tampak kewalahan, mereka mencoba menghalangi, namun takut melukai nenek Araska.Di kaki wanita tua itu, sebuah keranjang kucing berlapis emas tergeletak miring.Seekor kucing persia putih mengeong-ngeong dari dalam, jelas stress berat akibat guncangan dan teriakan pemiliknya."Maaf, Nyonya Besar, tapi peraturan gedung melarang hewan pe..." seorang resepsionis mencoba menjelaskan dengan suara gemetar.TAK!Tongkat eboni itu menghantam meja resepsionis, hanya meleset beberapa sentimeter dari jari si resepsionis."P
"Pastikan bahwa kau tidak berusaha kabur malam ini atau kubatalkan semua pembayaran pengobatan anakmu!"KLIK.Pintu tertutup.Alya merosot kembali ke kursi dan kakinya terasa lemas.Dia baru saja menandatangani kontrak dengan iblis berwajah malaikat. Tapi saat ia membelai pipi Tsaqif yang mulai hangat normal, Alya tahu, ia akan melakukan perjanjian itu seribu kali lagi demi anak-anaknya.Tiga hari berlalu sejak malam di rumah sakit itu.Tsaqif sudah pulih total, berkat obat-obatan paten yang harganya mungkin setara dengan biaya makan Alya setahun.Alya kemudian mengajak ketiga anaknya pindah dan menjelaskan kalau Tuan kemaren yang sudah menolong mereka.Awalnya, anak-anak Alya ragu untuk masuk ke sana, tapi setelah diyakinkan, mereka akhirnya turun.Itu adalah sebuah rumah mungil dengan dua kamar tidur yang bersih, jauh lebih layak daripada kontrakan lembab mereka sebelumnya.Namun, Alya tidak punya waktu untuk bernapas lega atau mengagumi nasib baiknya. Baru saja dia selesai merapika
Alya duduk di kursi belakang, mendekap erat Tsaqif yang masih mengejang pelan.Di sebelahnya, Aisya dan Zayyan duduk kaku, menggigil kedinginan, takut mengotori jok kulit berwarna krem yang pastinya seharga rumah kontrakan mereka.Araska tidak bicara sepatah kata pun. Satu tangannya memegang kemudi dengan santai, sementara tangan lainnya menempelkan ponsel ke telinga."Siapkan satu kamar VVIP dan tim dokter spesialis anak, sekarang! Aku sampai dalam lima menit, jangan sampai lelet melayani pasien yang aku bawa!"Tanpa menunggu jawaban dari seberang, sambungan langsung diputus.Alya menatap punggung tegap pria itu dengan perasaan campur aduk.Takut, tapi juga berharap.Belum sempat mobil berhenti sempurna, tiga orang perawat dan satu dokter sudah bersiap dengan brankar dorong.Araska keluar lebih dulu. Aura dominasinya seketika membuat petugas keamanan yang hendak menegur soal parkir, langsung mundur teratur. "Bawa anak itu!"Alya tergopoh-gopoh keluar, meletakkan Tsaqif ke atas branka
"Ibu... sakit..." rintihan itu menyayat hati Alya.Tsaqif, putra bungsunya, merintih dalam tidurnya. Tubuh bocah itu panas tinggi, menggigil hebat di balik selimut tipis yang sudah apek.Alya ingat betul, ia menyimpan uang lima ratus ribu rupiah di bawah tumpukan baju dalam lemari. Uang hasil memeras keringat mencuci baju tetangga dan berjualan kue keliling.Itu satu-satunya harapan untuk membawa Tsaqif ke klinik malam ini.Dengan langkah tergesa, Alya menuju lemari.Namun, saat tangannya meraba bagian bawah tumpukan baju, jantungnya hampir copot ketika tahu kalau amplop itu sudah lenyap..Alya menyibak tirai kamar, melangkah lebar menuju ruang tengah.Aldi, suaminya, sedang duduk bersila di depan laptop dengan mata merah menatap layar judi slot yang berputar. Di sebelahnya, seorang wanita dengan pakaian kurang bahan sedang menggelayut manja sambil memegang gelas kopi."Ayo Mas, pasang lagi, kali ini pasti jackpot!""Tenang, Sayang. Uang dari si Babu itu lumayan juga buat modal," sahu







