Share

Bab II

Author: Dyara
last update Last Updated: 2026-01-06 10:14:31

Alya duduk di kursi belakang, mendekap erat Tsaqif yang masih mengejang pelan.

Di sebelahnya, Aisya dan Zayyan duduk kaku, menggigil kedinginan, takut mengotori jok kulit berwarna krem yang pastinya seharga rumah kontrakan mereka.

Araska tidak bicara sepatah kata pun. Satu tangannya memegang kemudi dengan santai, sementara tangan lainnya menempelkan ponsel ke telinga.

"Siapkan satu kamar VVIP dan tim dokter spesialis anak, sekarang! Aku sampai dalam lima menit, jangan sampai lelet melayani pasien yang aku bawa!"

Tanpa menunggu jawaban dari seberang, sambungan langsung diputus.

Alya menatap punggung tegap pria itu dengan perasaan campur aduk.

Takut, tapi juga berharap.

Belum sempat mobil berhenti sempurna, tiga orang perawat dan satu dokter sudah bersiap dengan brankar dorong.

Araska keluar lebih dulu. Aura dominasinya seketika membuat petugas keamanan yang hendak menegur soal parkir, langsung mundur teratur. "Bawa anak itu!"

Alya tergopoh-gopoh keluar, meletakkan Tsaqif ke atas brankar. "Dokter, tolong anak saya… dia kejang, Dok!"

Perawat sempat ragu melihat penampilan Alya. Baju lusuh, basah kuyup, tanpa alas kaki, dan wajah lebam. Tatapan perawat itu beralih ke bagian administrasi, seolah bertanya 'siapa yang akan bayar?'.

Araska menyadari keraguan itu. Ia melangkah maju, berdiri menjulang di hadapan dokter jaga.

"Lakukan tindakan terbaik. Jangan tanya soal administrasi atau prosedur sampah lainnya karena itu urusanku. Nyawa anak itu prioritas utama kalian!"\

Araska lalu mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam pekat dari saku jasnya.

Dia tidak menyerahkannya, melainkan melemparnya ke meja administrasi yang ada di dekat pintu masuk lobi.

TAK!

Resepsionis yang berjaga langsung pucat pasi begitu melihat logo Black Card eksklusif yang hanya dimiliki segelintir konglomerat.

"Ba-baik, Tuan! Segera kami tangani!"

Brankar Tsaqif langsung didorong masuk ke ruang tindakan khusus.

Alya hendak menyusul, tapi langkahnya terhenti saat menyadari Aisya dan Zayyan masih berdiri di lobi, basah dan gemetar.

"Ibu... dingin..." keluh Zayyan.

Alya bingung karena dia harus menemani Tsaqif, tapi dia juga tidak bisa meninggalkan dua anaknya yang lain.

"Masuklah. Temani anakmu yang sakit," suara bariton Araska terdengar di belakangnya.

"Tapi, bagaimana dengan mereka…?"

Araska menoleh pada kepala perawat yang berdiri ketakutan di sampingnya. "Carikan baju ganti untuk dua anak ini. Beri mereka makan dan tempat istirahat yang layak. Pengobatan, baju, dan perawatan ketiganya, masukkan tagihannya ke kartuku! Jika ada satu orang saja yang menatap mereka dengan pandangan merendahkan, lapor padaku, aku pastikan mereka tidak akan bekerja lagi di sini waktu matahari terbit!."

Perawat itu mengangguk cepat, "Siap, Tuan! Mari, Dek, ikut Suster ganti baju dulu, ya…"

Alya menatap Araska dengan mata berkaca-kaca. "Terima kasih, Tuan, terima kasih..."

Araska tidak menjawab dan hanya memberi isyarat mata agar Alya segera masuk ke ruang rawat.

Satu jam kemudian.

Tsaqif sudah tertidur pulas dengan infus menancap di tangan mungilnya. Napasnya sudah teratur, panasnya turun drastis setelah mendapat penanganan cepat.

Di sofa sudut, Aisya dan Zayyan tertidur pulas setelah memakan nasi goreng seafood mahal yang dipesan pihak rumah sakit.

Mereka mengenakan piyama rumah sakit yang bersih dan hangat.

Alya duduk di kursi samping ranjang Tsaqif.

Dia sendiri sudah membersihkan diri ala kadarnya di kamar mandi mewah itu, meski masih memakai baju lamanya yang sudah dikeringkan paksa dengan hair dryer yang tersedia di sana.

Lebam di wajahnya kini terlihat makin jelas, kontras dengan kulit pucatnya.

Tak lama, pintu terbuka pelan, dan Araska masuk. Di tangannya, ada selembar kertas tagihan. Jantung Alya pun berdetak kencang karena dia tahu saat ini akan tiba.

Araska duduk di sofa tunggal di seberang ranjang, menyilangkan kakinya dengan angkuh. "Anakmu menderita infeksi bakteri akut, ditambah gizi buruk. Tenang, dia bisa diselamatkan. Dokter bilang dia butuh rawat inap minimal tiga hari."

Alya menunduk seraya meremas jemarinya. "Terima kasih, Tuan. Saya... saya tidak tahu harus membalas dengan apa. Berapa biayanya? Saya akan cari kerja, saya akan cicil seumur hidup saya."

Araska mendengus, senyum sinis terbit di bibirnya. "Cicil? Kau bahkan tidak punya sandal dan pakaian ganti. Biaya malam ini saja sudah lima belas juta. Itu belum termasuk obat dan rawat inap tiga hari ke depan. Kau butuh tiga kali reinkarnasi untuk melunasinya dengan pekerjaan serabutanmu itu!"

Alya shock dan merasa, kata-kata itu sangat kejam, tapi memang faktanya begitu. Dia tidak punya harga diri lagi untuk membantah.

"Saya akan lakukan apapun, Tuan. Sesuai janji saya di jalan tadi. Tuan bisa pekerjakan saya jadi pembantu, tukang cuci, apapun... asal jangan usir kami dari sini sampai anak saya sembuh," suara Alya bergetar, memohon demi kesembuhan anaknya.

Araska menatap wanita di depannya. Matanya menelusuri wajah lebam Alya, lalu beralih ke anak-anaknya.

Sebenarnya, Araska bisa saja pergi setelah membayar. Namun, tadi, saat ia menunggu di luar, ponselnya berdering.

Ada panggilan dari Neneknya.

"Araska! Kapan kamu bawa calon istrimu ke rumah? Nenek sudah atur pertemuan dengan cucu teman Nenek minggu depan. Kalau kamu datang sendiri lagi, Nenek mogok minum obat!"

Ancaman klasik itu membuatnya muak.

Dan di depannya sekarang, ada wanita yang sudah tidak punya apa-apa, yang berhutang nyawa padanya. Wanita yang punya nyali menghadang mobil demi anak, pasti punya nyali menghadapi neneknya yang cerewet.

"Aku tidak butuh pembantu. Rumahku sudah penuh dengan pelayan kompeten," kata Araska.

"Lalu... Tuan mau saya melakukan apa?"

"Aku butuh sekretaris pribadi, sekaligus pengasuh khusus untuk Nenekku."

Alis Alya bertaut. "Sekretaris? Tapi ijazah saya cuma SMA, Tuan. Saya tidak paham pekerjaan kantor."

"Aku tidak butuh ijazahmu, pilihannya iya atau tidak!" potong Araska cepat.

"I-i-iya, Tuan, saya mau melakukan apapun demi anak saya. Tapi, saya mohon, Tuan, tolong jelaskan dulu apa tugas saya nanti."

"Tugasmu sederhana. Di kantor, kau urus jadwal pribadiku, pastikan tidak ada wanita-wanita gatal yang mendekatiku. Di rumah, kau urus Nenekku yang sakit-sakitan, cerewet, dan selalu membenci semua perawat yang aku sewa. Tapi kau... kau punya aura keibuan yang mungkin bisa melunakkannya."

Araska menjeda kalimatnya, membiarkan Alya mencerna tawaran itu.

"Tapi ada syaratnya," lanjut Araska, suaranya merendah, penuh penekanan.

"Syarat apa, Tuan?"

"Kau dan ketiga anakmu harus tinggal di mansion pegawai di belakang rumah utamaku. Kau harus siap sedia 24 jam. Jika Nenekku memanggil jam tiga pagi, kau harus ada. Jika aku butuh kau di kantor jam enam pagi, kau harus siap. Tidak ada hari libur sampai hutangmu lunas."

Araska menghela nafas, lalu mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. "Dan satu lagi yang harus kau tahu, Nenekku ingin aku menikah. Tugasmu adalah membuat Nenekku sibuk atau membuat wanita-wanita pilihan Nenekku mundur karena tidak nyaman dengan adanya dirimu. Dan jika Nenekku kembali memaksaku menikah, maka kau yang jadi istri kontrakku. Kau paham?"

Alya tertegun.

Tinggal di rumah majikan?

Siap 24 jam?

Dan menjadi istri kontrak apabila dibutuhkan?

Itu berarti, dirinya tidak punya kebebasan.

Tapi melihat Tsaqif yang tertidur nyaman di kasur empuk, dan mengingat neraka yang ia tinggalkan bersama Aldi, tawaran Araska terdengar seperti surga, meskipun surga itu bersyarat.

Alya juga sadar, dia tidak punya rumah untuk pulang.

Dia tidak punya uang sepeser pun.

Pria di depannya ini menawarkan atap, makanan, keamanan, dan gaji untuk pekerjaannya.

Mengingat bagaimana anaknya hidup nanti, wanita itu merasa bahwa harga dirinya tidak penting lagi dibanding keberlangsungan hidup ketiga anaknya.

Alya pun berdiri, menatap lurus ke manik mata Araska. "Saya terima, Tuan."

"Bagus. Namaku Araska. Jangan panggil Tuan. Panggil Pak Araska di kantor, dan Tuan Muda di rumah."

"Baik, Pak Araska."

"Besok pagi, setelah anakmu sadar, asistenku akan mengurus kepindahan kalian. Kau tidak membawa sehelai pakaian, kan? Baguslah! Aku tidak mau ada sampah masa lalu yang masuk ke propertiku."

Araska berbalik badan, melangkah menuju pintu. Namun sebelum keluar, ia berhenti sejenak tanpa menoleh. "Dan Alya..."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Yang Kau Buang, Kini Jadi Nyonya Besar   Bab 53

    Mentari musim panas di Jakarta terasa lebih bersahabat sore itu. Di dalam ruang kerja CEO Araska Group yang megah, Araska sedang fokus menatap layar monitornya, bukan untuk memeriksa laporan keuangan, melainkan memandangi rekaman CCTV ruang tengah rumah mereka. Di sana, Alya tampak sedang membacakan buku cerita untuk Tsaqif. Araska tersenyum tipis, rahangnya yang tegas tampak jauh lebih rileks dibandingkan malam penuh drama di rumah Om Wijaya kemarin.Tiba-tiba, ponsel di atas meja jati itu bergetar. Sebuah pesan masuk dari istrinya."Mas ... sibuk tidak? Pulang cepat ya? Aku ingin ngabuburit. Anak-anak juga sudah rindu jalan-jalan."Belum sempat Araska membalas, pesan kedua menyusul dengan emoji wajah memohon yang menggemaskan."Buka puasa di luar ya, Mas? Sekali-sekali saja. Aku ingin makan takjil di pinggir jalan yang ramai itu. Boleh ya? Please ...."Araska tertawa kecil. Jarang sekali Alya merengek seperti ini. Biasanya, istrinya itu adalah sosok yang paling pengertian dan selalu

  • Istri Yang Kau Buang, Kini Jadi Nyonya Besar   Bab 52

    Mobil Araska membelah kesunyian malam Jakarta yang mulai mendingin setelah hiruk-pikuk buka puasa bersama yang menyesakkan dada itu. Di dalam kabin mobil yang kedap suara, Araska masih mencengkeram kemudi dengan urat-urat tangan yang menonjol, sisa amarah terhadap Om Wijaya dan Tante Ratna masih membekas di rahangnya yang terkatup rapat.Alya menyentuh lengan suaminya lembut. "Mas, sudah. Jangan dipikirkan lagi. Aku benar-benar tidak apa-apa."Araska menoleh sekilas, matanya melunak saat menatap wajah tenang istrinya. "Aku hanya tidak habis pikir, Al. Di bulan suci seperti ini, mereka masih sempat-sempatnya menyebarkan racun. Mereka tidak tahu betapa berharganya kamu dan anak-anak bagiku. Darah daging atau bukan, Zayyan dan adik-adiknya adalah buah hatiku."Alya tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Araska. "Justru karena itu aku bicara begitu tadi. Aku ingin mereka tahu bahwa kebahagiaan kita tidak diukur dari standar mereka. Kita punya standar sendiri, Mas. Standar kasih s

  • Istri Yang Kau Buang, Kini Jadi Nyonya Besar   Bab 51

    Malam itu berlalu dengan kehangatan yang meluruhkan sisa-sisa lelah. Namun, bagi Araska, kebahagiaan itu membawa konsekuensi baru yang cukup menyiksanya di siang hari.Esoknya, saat mentari belum sepenuhnya tegak, Araska sudah berdiri di ambang pintu kamar dengan setelan kerja yang rapi, menatap Alya yang masih bergelung di balik selimut sutra."Al, aku berangkat sekarang. Dan sepertinya ... aku tidak akan pulang makan siang atau sekadar mampir istirahat seperti biasanya," ujar Araska sambil merapikan jam tangannya.Alya mengerjap, mengucek matanya pelan. "Kenapa, Mas? Ada rapat mendadak?"Araska mendekat, namun ia menjaga jarak sekitar satu meter, seolah ada garis yang tak boleh ia langgar. Ia menatap Alya dengan senyum kecut. "Bukan rapat. Aku hanya takut pertahananku runtuh lagi kalau melihatmu siang-siang di rumah. Kamu itu ... gangguan terindah yang pernah ada, Al. Tapi di bulan puasa ini, kamu benar-benar ujian yang sangat berat untuk iman dan mentalku."Alya tertawa renyah, men

  • Istri Yang Kau Buang, Kini Jadi Nyonya Besar   Bab 50

    Siang itu, matahari Jakarta seolah tak memiliki belas kasihan. Panasnya menyengat, tetapi bagi Araska, panas yang paling sulit ia kendalikan justru berasal dari dalam dadanya sendiri.Ini adalah hari kesepuluh Ramadhan, dan entah mengapa, godaan terberatnya tahun ini bukanlah rasa haus atau lapar karena kesibukan di kantor Araska Group, melainkan sosok wanita yang kini sedang sibuk menata vas bunga di ruang kerja pribadinya di rumah.Alya mengenakan kaus rumah yang sedikit longgar dengan celana kulot, rambutnya digelung asal-asalan meninggalkan beberapa helai jatuh di tengkuknya yang putih bersih. Ia tampak segar, kontras dengan Araska yang mulai merasa "gerah" sejak tadi."Mas, berkas yang ini ditaruh di rak atas atau tetap di meja?" tanya Alya tanpa menoleh.Araska yang sedang duduk di balik meja kerja, mencoba fokus pada laporan audit, mendadak kehilangan fokus. Matanya justru terpaku pada gerakan tangan Alya. Harum parfum vanilla dan musk

  • Istri Yang Kau Buang, Kini Jadi Nyonya Besar   Bab 49

    "Mas, jangan ...." Alya mencoba menenangkan, bukan karena kasihan pada Aldi, tapi karena ia tidak ingin Araska berbuat yang tidak baik."Tidak, Al. Yayasan tidak bekerja sama dengan sampah," jawab Araska tegas.“Aku tidak mau, Mas. Jangan sampai Yayasan ini berdiri dengan penindasan pada orang lain. Aku tidak ingin kamu berbuat yang tidak baik. Terhadap siapapun.” Alya memegang erat jemari Araska, berusaha meyakinkan.“Pergi! Sebelum aku berubah pikiran!” usir Araska, Aldi pun pergi dengan wajah merah padam. Ada rasa marah, tetapi ia juga takut bisnis barunya hancur.Alya menghela napas panjang, menatap suaminya yang masih tampak tegang karena emosi. Ia meraih tangan Araska, mengelusnya lembut."Terima kasih, Mas. Kamu sedikit menakutkan," goda Alya sambil tersenyum tipis.Araska menatap Alya, matanya perlahan melembut. Ia menghela napas, rasa amarahnya luntur seketika melihat senyum istrinya."Aku tidak tahan

  • Istri Yang Kau Buang, Kini Jadi Nyonya Besar   Bab 48

    Malam itu, setelah anak-anak terlelap dalam mimpi mereka, suasana utama kediaman Adiguna terasa begitu tenang. Araska sedang menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, jemarinya menari di atas layar gawai, sementara Alya baru saja selesai membersihkan wajahnya.Alya melirik Araska dari pantulan cermin rias. Kata-kata Om Wijaya tentang "darah murni" memang tidak berhasil meruntuhkan mentalnya, tetapi hal itu memicu sebuah pemikiran yang selama ini terkunci rapat di sudut hatinya.Bukan karena ia merasa terancam oleh posisi anak-anaknya, ia sangat tahu Araska mencintai Zayyan dan adik-adiknya setulus hati, tapi karena ia mencintai pria itu. Dan saat kita mencintai seseorang, wajar jika ada keinginan untuk melihat perpaduan antara dirinya dan orang yang dicintainya dalam wujud seorang manusia kecil.Alya berjalan perlahan, lalu duduk di tepi ranjang. Ia meraih tangan Araska, membuat suaminya menaruh gawai dan memberikan perhatian penuh."Mas," panggil Alya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status