Masuk"Pastikan bahwa kau tidak berusaha kabur malam ini atau kubatalkan semua pembayaran pengobatan anakmu!"
KLIK.
Pintu tertutup.
Alya merosot kembali ke kursi dan kakinya terasa lemas.
Dia baru saja menandatangani kontrak dengan iblis berwajah malaikat. Tapi saat ia membelai pipi Tsaqif yang mulai hangat normal, Alya tahu, ia akan melakukan perjanjian itu seribu kali lagi demi anak-anaknya.
Tiga hari berlalu sejak malam di rumah sakit itu.
Tsaqif sudah pulih total, berkat obat-obatan paten yang harganya mungkin setara dengan biaya makan Alya setahun.
Alya kemudian mengajak ketiga anaknya pindah dan menjelaskan kalau Tuan kemaren yang sudah menolong mereka.
Awalnya, anak-anak Alya ragu untuk masuk ke sana, tapi setelah diyakinkan, mereka akhirnya turun.
Itu adalah sebuah rumah mungil dengan dua kamar tidur yang bersih, jauh lebih layak daripada kontrakan lembab mereka sebelumnya.
Namun, Alya tidak punya waktu untuk bernapas lega atau mengagumi nasib baiknya. Baru saja dia selesai merapikan barang-barang anaknya yang sudah disiapkan Araska, tiba-tiba pintu paviliun diketuk keras.
Alya membuka pintu, dan ada seorang wanita berjas berdiri di sana. Dia mengenalkan diri sebagai Berlian, asisten kepercayaan Araska yang terkenal kejam dan tanpa basa-basi.
"Anak-anakmu akan dijaga oleh pengasuh khusus yang sudah disewa Tuan Muda selama kau bekerja. Sekarang, waktunya pergi ke kantor!"
"Ba-baik, Bu Berlian. Saya siap. Saya harus masak dulu sebentar untuk..."
"Tidak ada masak-memasak! Kau tahu, ini sudah jam 7, Tuan Muda menunggumu tepat pukul 8 pagi. Ingat, aku diberi tugas mencarikanmu pakaian. Masalah makan, koki di rumah utama akan mengirim makanan untuk anak-anakmu!"
Alya kemudian berpamitan pada tiga anaknya, mengecup kening mereka satu per satu, lalu pergi tepat ketika Bi Inem datang.
Alya yang tidak tahu akan dibawa ke mana, hanya diam saja, sampai akhirnya mobil SUV itu belok ke sebuah salon yang cukup mewah.
"Tuan Muda minta dia jadi representasi Araska Group yang mahal, elegan, tapi tidak mencolok!" Berlian kemudian meminta Alya duduk.
Alya digosok, dipijat, dan dilulur hingga kulit kusamnya yang terbakar matahari kembali memancarkan rona aslinya.
Rambutnya yang kering dan bercabang dipotong sebahu, diberi vitamin mahal, dan di-blow hingga jatuh lembut membingkai wajah tirusnya.
Wajahnya dipoles makeup natural namun tegas, menyamarkan sisa lebam samar di sudut bibir, menonjolkan mata bulatnya yang jernih.
Setelah wajah selesai, tahap selanjutnya adalah pakaian.
Alya dipaksa mencoba lima setelan kerja.
Pilihan jatuh pada sebuah blazer cream berbahan sutra tebal dengan potongan slim-fit yang memeluk pinggang rampingnya dengan sempurna, dipadu dengan celana bahan senada dan heels 7 cm yang membuatnya berdiri tegak.
Saat Alya berdiri di depan cermin besar butik itu, dia hanya bisa ternganga.
"Tidak ada waktu untuk mengagumi diri sendiri, ayo cepat, Tuan Muda sudah menunggu!" suara Berlian membuyarkan lamunannya.
***
"Siapa itu? Klien baru? Model iklan anak perusahaan kita kali?"
Bisik-bisik terdengar, namun Alya mengangkat dagunya, mengingat pesan Araska di rumah sakit agar bersikap biasa saja.
Berlian menempelkan kartu aksesnya di lift khusus direksi yang membawa mereka melesat naik ke lantai keramat.
Lantai 58.
"Ingat, jangan bicara sebelum ditanya, jangan menyentuh barang-barang pribadinya tanpa izin, dan jangan melakukan kesalahan sekecil apapun!"
Ting.
Pintu lift terbuka.
Di lantai itu, hanya ada ruangan utama, kemudian di dalam sana, ada tiga ruangan berbeda.
"Masuklah, dia menunggumu!" perintah Berlian, lalu wanita itu berbelok ke ruangannya sendiri.
Alya menarik napas panjang, menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. Setelah dirasa tenang, dia memberanikan diri mengetuk pintu dua kali.
"Masuk!" Suara bariton itu terdengar berat dan datar dari dalam.
Alya membuka pintu, melangkah masuk.
Di ujung ruangan, di balik meja kerja kayu hitam yang besar, Araska duduk. Dia tidak menoleh saat Alya masuk. "Kau terlambat sepuluh menit dari jadwal!"
"Maaf, Pak Araska. Tadi proses persiapannya agak lama," jawab Alya, suaranya berusaha terdengar stabil.
Araska menutup berkas terakhirnya dengan kasar. "Alasan. Aku membayar mahal bukan untuk malas-malasan, tapi untuk..."
Kalimat Araska terhenti di udara.
Pria itu mengangkat wajahnya, berniat memberikan tatapan intimidasi rutinnya pada karyawan baru. Namun, saat matanya mendarat pada sosok yang berdiri di tengah ruangan, lidahnya kelu.
Waktu seolah berhenti di ruangan ber-AC dingin itu.
Araska terpaku sampai pena di tangannya berhenti berputar. Matanya, yang biasanya tajam, kini memindai Alya dari ujung kaki ke ujung kepala, lalu kembali lagi ke wajahnya.
Wanita lusuh, basah, dan menyedihkan yang ia pungut di jalanan tiga hari lalu, telah lenyap.
Digantikan oleh sosok yang berdiri di hadapannya kini.
Blazer itu membalut tubuhnya dengan sempurna, menampilkan leher jenjang dan aura keanggunan yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Ada desiran aneh di dada Araska, seolah dia berkata bahwa dirinya-lah yang membuat Alya tampak secantik ini..
Alya menjadi salah tingkah ditatap seintens itu, lalu dengan sengaja meremas ujung blazernya. "P-Pak Araska, ma-ma-maaf, ada yang salah dengan penampilan saya, Pak? Kalau Bapak tidak suka, saya bisa ganti..."
Araska menutupi kecanggungannya dengan kembali memasang topeng dingin. Dia melepaskan kacamata baca, di atas meja, kemudian berkomentar singkat. "Lumayan, aku tidak menyangka kau bisa berubah sedrastis ini."
Sejujurnya, Araska berkata dalam hati bahwa dia ingin memecat siapa saja yang berani menatap Alya seperti tatapannya barusan. "Bagus, bagus, setidaknya, kau tidak lagi terlihat seperti gelandangan yang akan mengotori sofa kantorku."
Araska membuka laci meja, mengeluarkan sebuah kartu identitas dengan lanyard kulit hitam dan sebuah ponsel keluaran terbaru.
"Ambil! Itu akses VIP ke seluruh lantai gedung ini dan lift pribadiku. Ponsel itu terhubung langsung ke nomorku dan nomor Nenekku. Ini aktif 24 jam, jadi jangan pernah dimatikan atau kau kena denda potong gaji!"
Alya maju selangkah, mengambil benda-benda itu dengan tangan gemetar. "Terima kasih, Pak."
"Jangan senang dulu," Araska bersandar di kursi kebesarannya, menautkan jari-jarinya, dan tatapannya kembali serius. "Pakaian bagus itu bukan untuk gaya-gayaan, itu adalah seragam wajibmu saat masuk ke kantor!"
Tepat saat itu, interkom di meja Araska berbunyi nyaring. Lampu indikator merah berkedip cepat, tanda panggilan darurat dari lobi bawah.
Araska cepat-cepat menekan tombol speaker.
"Pak Araska! Gawat, Pak!" suara kepala keamanan terdengar panik dan terengah-engah.
"Nenek Anda, Nyo-Nyonya Besar sudah datang di lobi utama! Beliau mengamuk di lobi karena resepsionis melarang beliau membawa masuk kucing persianya. Beliau sekarang sedang memukuli staf kami dengan tongkatnya!"
Araska memijat pelipisnya, lalu menghela nafas berat, sebelum akhirnya matanya menatap Alya penuh harap. "Nah, itu tugas pertamamu. Sekarang, turunlah ke lobi, lalu jinakkan singa betina itu! Oh iya, ada satu tugas khusus. Kau pastikan dia tidak memecat satupun karyawanku hari ini."
"Saya? Tapi Pak, saya belum pernah bertemu Nenek…"
"Kau bilang kau akan melakukan apapun demi anakmu, kan?" Araska mengaih janji Alya kemarin. "Buktikan ucapanmu, Alya! Kalau kau gagal menangani satu nenek tua, jangan harap kau bisa bertahan di sini!"
Alya menelan ludah.
Wanita itu baru saja naik tahta, dan sekarang dia langsung diancam turun kembali jadi seorang gelandangan? Tentu tidak. Alya selalu mengingat bayangan wajah Tsaqif yang sudah sehat, lalu Zayyan dan Aisya yang memberinya keberanian untuk mengatasi masalah ini.
"Baik, Pak Araska, saya turun sekarang!" Alya berbalik badan, lalu berjalan tegap.
Araska menatap punggung wanita itu hingga pintu tertutup. Senyum miring di bibirnya menghilang, berganti dengan tatapan penuh minat. Dia meraih ponselnya, membuka CCTV lobi untuk mengamati Alya. "Mari kita lihat, seberapa kuat mentalmu, Alya!"
Mentari musim panas di Jakarta terasa lebih bersahabat sore itu. Di dalam ruang kerja CEO Araska Group yang megah, Araska sedang fokus menatap layar monitornya, bukan untuk memeriksa laporan keuangan, melainkan memandangi rekaman CCTV ruang tengah rumah mereka. Di sana, Alya tampak sedang membacakan buku cerita untuk Tsaqif. Araska tersenyum tipis, rahangnya yang tegas tampak jauh lebih rileks dibandingkan malam penuh drama di rumah Om Wijaya kemarin.Tiba-tiba, ponsel di atas meja jati itu bergetar. Sebuah pesan masuk dari istrinya."Mas ... sibuk tidak? Pulang cepat ya? Aku ingin ngabuburit. Anak-anak juga sudah rindu jalan-jalan."Belum sempat Araska membalas, pesan kedua menyusul dengan emoji wajah memohon yang menggemaskan."Buka puasa di luar ya, Mas? Sekali-sekali saja. Aku ingin makan takjil di pinggir jalan yang ramai itu. Boleh ya? Please ...."Araska tertawa kecil. Jarang sekali Alya merengek seperti ini. Biasanya, istrinya itu adalah sosok yang paling pengertian dan selalu
Mobil Araska membelah kesunyian malam Jakarta yang mulai mendingin setelah hiruk-pikuk buka puasa bersama yang menyesakkan dada itu. Di dalam kabin mobil yang kedap suara, Araska masih mencengkeram kemudi dengan urat-urat tangan yang menonjol, sisa amarah terhadap Om Wijaya dan Tante Ratna masih membekas di rahangnya yang terkatup rapat.Alya menyentuh lengan suaminya lembut. "Mas, sudah. Jangan dipikirkan lagi. Aku benar-benar tidak apa-apa."Araska menoleh sekilas, matanya melunak saat menatap wajah tenang istrinya. "Aku hanya tidak habis pikir, Al. Di bulan suci seperti ini, mereka masih sempat-sempatnya menyebarkan racun. Mereka tidak tahu betapa berharganya kamu dan anak-anak bagiku. Darah daging atau bukan, Zayyan dan adik-adiknya adalah buah hatiku."Alya tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Araska. "Justru karena itu aku bicara begitu tadi. Aku ingin mereka tahu bahwa kebahagiaan kita tidak diukur dari standar mereka. Kita punya standar sendiri, Mas. Standar kasih s
Malam itu berlalu dengan kehangatan yang meluruhkan sisa-sisa lelah. Namun, bagi Araska, kebahagiaan itu membawa konsekuensi baru yang cukup menyiksanya di siang hari.Esoknya, saat mentari belum sepenuhnya tegak, Araska sudah berdiri di ambang pintu kamar dengan setelan kerja yang rapi, menatap Alya yang masih bergelung di balik selimut sutra."Al, aku berangkat sekarang. Dan sepertinya ... aku tidak akan pulang makan siang atau sekadar mampir istirahat seperti biasanya," ujar Araska sambil merapikan jam tangannya.Alya mengerjap, mengucek matanya pelan. "Kenapa, Mas? Ada rapat mendadak?"Araska mendekat, namun ia menjaga jarak sekitar satu meter, seolah ada garis yang tak boleh ia langgar. Ia menatap Alya dengan senyum kecut. "Bukan rapat. Aku hanya takut pertahananku runtuh lagi kalau melihatmu siang-siang di rumah. Kamu itu ... gangguan terindah yang pernah ada, Al. Tapi di bulan puasa ini, kamu benar-benar ujian yang sangat berat untuk iman dan mentalku."Alya tertawa renyah, men
Siang itu, matahari Jakarta seolah tak memiliki belas kasihan. Panasnya menyengat, tetapi bagi Araska, panas yang paling sulit ia kendalikan justru berasal dari dalam dadanya sendiri.Ini adalah hari kesepuluh Ramadhan, dan entah mengapa, godaan terberatnya tahun ini bukanlah rasa haus atau lapar karena kesibukan di kantor Araska Group, melainkan sosok wanita yang kini sedang sibuk menata vas bunga di ruang kerja pribadinya di rumah.Alya mengenakan kaus rumah yang sedikit longgar dengan celana kulot, rambutnya digelung asal-asalan meninggalkan beberapa helai jatuh di tengkuknya yang putih bersih. Ia tampak segar, kontras dengan Araska yang mulai merasa "gerah" sejak tadi."Mas, berkas yang ini ditaruh di rak atas atau tetap di meja?" tanya Alya tanpa menoleh.Araska yang sedang duduk di balik meja kerja, mencoba fokus pada laporan audit, mendadak kehilangan fokus. Matanya justru terpaku pada gerakan tangan Alya. Harum parfum vanilla dan musk
"Mas, jangan ...." Alya mencoba menenangkan, bukan karena kasihan pada Aldi, tapi karena ia tidak ingin Araska berbuat yang tidak baik."Tidak, Al. Yayasan tidak bekerja sama dengan sampah," jawab Araska tegas.“Aku tidak mau, Mas. Jangan sampai Yayasan ini berdiri dengan penindasan pada orang lain. Aku tidak ingin kamu berbuat yang tidak baik. Terhadap siapapun.” Alya memegang erat jemari Araska, berusaha meyakinkan.“Pergi! Sebelum aku berubah pikiran!” usir Araska, Aldi pun pergi dengan wajah merah padam. Ada rasa marah, tetapi ia juga takut bisnis barunya hancur.Alya menghela napas panjang, menatap suaminya yang masih tampak tegang karena emosi. Ia meraih tangan Araska, mengelusnya lembut."Terima kasih, Mas. Kamu sedikit menakutkan," goda Alya sambil tersenyum tipis.Araska menatap Alya, matanya perlahan melembut. Ia menghela napas, rasa amarahnya luntur seketika melihat senyum istrinya."Aku tidak tahan
Malam itu, setelah anak-anak terlelap dalam mimpi mereka, suasana utama kediaman Adiguna terasa begitu tenang. Araska sedang menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, jemarinya menari di atas layar gawai, sementara Alya baru saja selesai membersihkan wajahnya.Alya melirik Araska dari pantulan cermin rias. Kata-kata Om Wijaya tentang "darah murni" memang tidak berhasil meruntuhkan mentalnya, tetapi hal itu memicu sebuah pemikiran yang selama ini terkunci rapat di sudut hatinya.Bukan karena ia merasa terancam oleh posisi anak-anaknya, ia sangat tahu Araska mencintai Zayyan dan adik-adiknya setulus hati, tapi karena ia mencintai pria itu. Dan saat kita mencintai seseorang, wajar jika ada keinginan untuk melihat perpaduan antara dirinya dan orang yang dicintainya dalam wujud seorang manusia kecil.Alya berjalan perlahan, lalu duduk di tepi ranjang. Ia meraih tangan Araska, membuat suaminya menaruh gawai dan memberikan perhatian penuh."Mas," panggil Alya







