แชร์

Bab VI

ผู้เขียน: Dyara
last update วันที่เผยแพร่: 2026-01-12 16:13:55

Alya tersentak, hampir menjatuhkan ponsel tipis itu ke lantai marmer. Araska berdiri di ambang pintu dengan tangan bersedekap, matanya yang tajam seolah mampu menembus layar ponsel Alya dan membaca nama yang tertera di sana.

"Angkat, Alya! Aktifkan speaker-nya," perintah Araska lagi. Dingin, dengan nada otoritas yang tak terbantahkan. Dengan jari gemetar, Alya menggeser ikon hijau.

"Halo, Perempuan tak tahu diri! Akhirnya lo angkat juga!" suara Aldi menggelegar, penuh nada kemenangan yang memuakkan.

"Gimana rasanya jadi simpanan orang kaya? Enak ya, dandan cantik, makan enak, pakai uang haram. Denger ya, kalau lo nggak turun sekarang, gue pastiin bakal ambil anak-anak!"

Wajah Alya memucat, tetapi sebelum isaknya pecah, sebuah tangan besar merebut ponsel itu dari genggamannya. Araska mendekatkan ponsel itu ke bibirnya.

"Tunggu di lobi! Aku sendiri yang akan menemuimu di sana."

KLIK. Sambungan diputus sepihak. Araska menarik tangan Alya, membawanya masuk ke dalam rengkuhan lengannya yang kokoh. "Ikut aku. Kita selesaikan tikus ini sekarang," bisik Araska.

Alya merasa tubuhnya seperti melayang, rasa aman yang belum pernah ia rasakan seumur hidup merayap di dadanya saat berada dalam dekapan pria itu.

Di lobi utama, Aldi berdiri dengan angkuh, mengenakan jaket kusam yang kontras dengan kemewahan Araska Group.

Namun, keangkuhan itu luruh seketika saat pintu lift terbuka. Araska keluar dengan aura dominasi yang menyesakkan, satu tangannya merangkul pinggang Alya dengan posesif, seolah mengumumkan pada dunia bahwa wanita itu adalah miliknya.

Aldi menciut. Tubuhnya yang biasanya kasar dan berani saat di rumah, kini tampak kecil dan menyedihkan di hadapan sang CEO.

"Tadi kau bilang apa? Ingin menghancurkan hidup asisten pribadiku?" Aldi menelan ludah, keringat dingin membasahi pelipisnya.

"Saya… saya masih punya hak penuh atas Alya, karena saya adalah suami sahnya!" jawab Aldi menutupi rasa takutnya.

"Suami?" Araska terkekeh sinis, sebuah suara yang lebih mirip geraman serigala.

…“ Ya, gue suami SAH nya.” Senyum miring seolah ia telah unggul satu babak disbanding Araska.

“Dasar Perempuan tak tahu diri! Tukang ngutang! Pake kabur segala.”

“Tapi, Mas … memang kamu yang nggak mau nafkahin aku dan anak-anak. Malah uang tabunganku pun kamu ambil untuk berjudi!” Tangis Alya pecah. Kilasan masa lalunya Kembali berputar di ingatannya.

Masih teringat jelas bagaimana ia harus mati-matian berjuang membesarkan anak-anaknya, mencukupi semua kebutuhan yang seharusnya menjadi tanggung jawab Aldi.

“Halah! Dasar Perempuan murahan. Pintar kamu memutar balikkan fakta! Wanita pembohong!” cibir Aldi.

Saat itu Alya sudah tidak bisa lagi membela dirinya, dadanya terasa sesak. Tangisnya pecah.

“Kenapa diam? Sudah tidak bisa membela diri lagi sekarang? Kamu pilih ikut aku pulang, atau aku akan mengambil anak-anak!” Wajah Alya mendongak, menatap keangkuhan suaminya. Dia masih lelaki yang sama, tak akan pernah berubah.

Melihat Alya yang sudah semakin ketakutan, Araska akhirnya membuka suara.

"Seret dia keluar. Pastikan dia tidak pernah bisa mendekat dalam radius satu kilometer dari gedung ini atau rumahku. Jika dia berani muncul lagi, patahkan saja kakinya, biar aku yang urus urusan hukumnya nanti!"

Aldi diseret dengan kasar, kakinya menendang-nendang lantai lobi yang licin.

"Alya! Sialan lo! Gue nggak bakal biarin lo hidup tenang! Gue bakal hancurin lo, denger nggak?!" teriak Aldi parau sebelum pintu kaca besar itu tertutup di depan wajahnya.

Alya memejamkan mata, harga dirinya serasa tercabik-cabik. Ia malu, terlebih pada … Araska.

Araska yang mendengar perdebatan mereka pun merasa shock. Karena tidak menyangka, Alya masih memiliki suami.

“Kenapa kamu tidak pernah cerita tentang hal ini, Alya?!” suara bariton Araska semakin membuat dunianya terasa runtuh.

“Jawab, Alya!” Tapi taka da sedikitpun jawaban dari mulut Alya. Hanya isak tangis yang keluar dari wanita itu.

“Kenapa kamu tidak pernah bilang padauk jika memiliki suami gila seperti dia?!” Lagi-lagi Alya tak mampu menjawab pertanyaan Araska.

Dibalik semua bentakan demi bentakan yang keluar dari mulut Araska, Alya merasa bahwa bosnya sama saja dengan Aldi.

Merasa Araska marah pada dirinya, Alya memilih berlari keluar dari Gedung Araska Group. Harga dirinya terasa hancur. Ia merasa taka da lagi yang akan memandang dirinya.

Araska berusaha mengejarnya, tak peduli semua karyawan melihat adegan tersebut. Akhirnya, ia bisa menangkap Alya. Dipeluknya erat-erat tubuh ringkih wanita tersebut. Meski berkali-kali Alya berusaha memberontak, akan tetapi tenaganya tak sebanding dengan Araska.

“Maaf … maafkan aku jika membuatmu takut. Menangislah, biarkan semua sesak yang kamu rasakan keluar. Sekali lagi maafkan aku, Alya.”

Setelah isaknya reda, tangan Araska menuntun Alya untuk Kembali ke kantor.

“Kita masuk, ya ….” Kali ini tatapan Araska terasa teduh di hati Alya. Membuatnya menuruti apa yang dikatakannya.

Sesampainya di dalam ruangan, Araska membimbing Alya untuk duduk di sebuah kursi. Mengusap airmatanya dengan tisu, mengambilkan minum.

Alya merasa sosok yang dingin, galak, kini lenyap sudah. Perhatian dari Araska membuat hati Alya merasa tenang.

“Sudah, ya. Jangan nangis. Jangan pernah takut lagi. Tak akan kubiarkan siapapun melukaimu. Harusnya, kamu bilang dari awal. Jika hanya menyingkirkan tikus kecil itu, bukan perkara besar buatku.” Kata-kata dari Araska membuat Alya tersenyum, karena menyebut Aldi dengan sebutan tikus.

“Tersenyumlah, Alya. Kamu pantas Bahagia. Dan aku lebih suka melihatmu tersenyum seperti ini.” Tak terasa wajah Alya memerah, debar-debar yang lama tak pernah ia rasakan kini muncul lagi.

“Sekarang pulanglah, ayo bersiap ikut denganku. Kita akan pergi ke gala dinner.” Seketika itu wajah Alya mendongak.

“Aku tak mau mendengar penolakan. Kamu milikku Alya. Itu kesepakatan kita.”

“Baik, Tuan.” Alya melangkah pergi.

“Baru juga terasa manis, udah kumat lagi.” Gerutu Alya.

“Bicara apa, Alya?”

“E … ee … tidak Tuan. Ada tikus lewat.”

…

Malam itu, langit Jakarta bertabur bintang, namun cahayanya kalah terang dibanding lampu-lampu di hotel bintang lima tempat berlangsungnya Gala Dinner pengusaha elit. Sebuah limousine hitam mewah berhenti tepat di depan karpet merah. Wartawan dan fotografer sudah berjejer, menunggu sang primadona bisnis, Araska, muncul.

Pintu terbuka. Araska turun lebih dulu dengan tuksedo hitam yang dipesan khusus dari Italia. Namun, perhatian semua orang teralih saat ia mengulurkan tangan ke dalam mobil. Alya muncul dengan gaun malam berbahan sutra berwarna midnight blue yang menakjubkan. Potongan off-shoulder-nya memamerkan bahu mulus yang selama ini tertutup baju lusuh, sementara roknya yang menjuntai memberikan kesan dewi yang turun dari langit. Riasannya tegas, namun elegan, menghapus seluruh jejak penderitaan di wajahnya.

"Tersenyumlah, Alya. Aku paling benci melihat wajah murungmu!" bisik Araska sambil menggandeng tangannya. Kilatan lampu kamera (blitz) menyambar-nyambar, menyilaukan mata.

Para pejabat dan pengusaha kelas atas membungkuk hormat saat mereka melintas. Alya merasa seperti berada di dalam mimpi yang tidak ingin ia akhiri.

Namun, di dalam ruangan ballroom yang megah, pemandangan kontras terjadi. Di sudut barisan katering, seorang pria dengan seragam waiter yang sedikit kebesaran tampak sedang mengangkut baki berisi gelas-gelas sampanye.

Itu Aldi. Setelah kalah judi dan dikejar rentenir, ia terpaksa bekerja sebagai tenaga tambahan katering demi sesuap nasi. Matanya membelalak saat melihat sosok yang sangat ia kenali melangkah anggun di atas karpet merah, digandeng oleh pria paling berpengaruh di ruangan itu.

"A-Alya?" gumam Aldi tak percaya. Gelas di atas bakinya bergetar. Istri yang dulu ia sebut babu, yang ia injak-injak harga dirinya, kini berdiri di sana, dikerubungi wartawan dan disapa hormat oleh orang-orang yang biasanya hanya bisa Aldi lihat di televisi. Alya tampak begitu mahal, begitu berkelas, hingga Aldi merasa dirinya hanyalah debu di bawah tumit sepatu hak tinggi Alya.

Araska sengaja berhenti di tengah ruangan, tepat saat beberapa wartawan ekonomi mendekat untuk meminta konfirmasi tentang proyek terbaru Araska Group. Namun, jawaban Araska justru membuat seluruh ruangan hening seketika.

"Malam ini, saya tidak ingin bicara soal bisnis," ujar Araska dengan suara baritonnya yang menggema lewat mikrofon yang disodorkan padanya. Ia menarik Alya lebih dekat, melingkarkan tangan di pinggang rampingnya dengan mantap.

"Saya ingin memperkenalkan seseorang yang sangat spesial. Ini Alya, wanita yang telah mencuri perhatian saya sepenuhnya."

Wartawan saling pandang, kamera terus mengabadikan momen langka itu. "Apakah beliau calon mitra bisnis baru Anda, Pak Araska?" tanya salah satu wartawan.

Araska menatap Alya dengan tatapan yang begitu lembut, sebuah ekspresi yang belum pernah ia tunjukkan pada siapa pun sebelumnya.

"Lebih dari itu. Alya adalah kekasih saya, calon istri saya. Dan kami berencana untuk meresmikan hubungan kami dalam waktu dekat."

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Istri Yang Kau Buang, Kini Jadi Nyonya Besar   Bab 199

    Hari terakhir di Magelang seolah berjalan lebih lambat dari biasanya. Sang surya yang biasanya garang di Jakarta, hari ini terasa malu-malu bersembunyi di balik gumpalan awan, menyisakan bias warna jingga keunguan yang melukis cakrawala di atas punggung Gunung Merbabu. Udara sore itu terasa lebih manis, membawa aroma kayu bakar yang sedang dipersiapkan Bibi Sumi untuk perapian malam nanti.Di halaman belakang, suasana terasa jauh lebih syahdu. Alya duduk di kursi kayu panjang yang menghadap langsung ke arah hamparan sawah yang mulai menguning. Di sampingnya, Zayyan, Aisyah, dan Tsaqif sedang asyik bermain congklak bersama Kania di atas tikar pandan. Tawa renyah si kembar sesekali memecah keheningan sore, sementara Zayyan, dengan sikap kakaknya yang dewasa, tampak mengalah agar salah satu adiknya bisa menang.Tidak jauh dari sana, si kecil Kayla sedang berada dalam dekapan Papa Araska. Pria itu tampak sangat menikmati perannya sebagai seorang ayah. Ia membiarkan jemari kecil Kayla berm

  • Istri Yang Kau Buang, Kini Jadi Nyonya Besar   Bab 198

    Ciuman hangat itu terlepas perlahan, menyisakan senyum simpul di bibir Alya dan Araska. Di kejauhan, suara tawa riang Tsaqif dan Aisyah yang sedang berlarian mengejar kupu-kupu kembali membuyarkan keheningan kecil mereka.Belum sempat Araska menggoda istrinya lagi, Zayyan sudah berlari kecil menghampiri mereka sambil memegang botol air mineral."Ibu, Papa! Kakek ngajak kita semua naik ke lereng Gunung Merbabu naik mobil bak terbuka! Katanya pemandangan di atas sana bagus banget buat lihat perkebunan sayur," seru Zayyan dengan mata berbinar-binar penuh antusiasme.Alya menoleh ke arah suaminya dengan sebelah alis terangkat, sementara Araska justru tertawa renyah."Wah, ide bagus dari kakekmu," kata Araska sambil merangkul pundak Zayyan."Siapa yang mau ikut?""Aku! Aku mau ikut!" seru si kecil Kayla yang tiba-tiba muncul sambil menggandeng tangan Kania, disusul oleh Aisyah dan Tsaqif yang ikut melompat kegirangan.Tak butuh waktu lama bagi rombongan keluarga besar itu untuk bersiap. Di

  • Istri Yang Kau Buang, Kini Jadi Nyonya Besar   Bab 197

    Mentari pagi di Magelang merayap pelan dari balik punggung Gunung Merbabu, membiaskan cahaya keemasan yang menembus dedaunan hijau di kebun belakang rumah orang tua Alya. Udara pegunungan yang tipis dan dingin langsung menyapa kulit siapa saja yang melangkah keluar rumah. Di halaman samping, aroma uap air dari embun pagi berpadu dengan wangi khas tanah basah dan dedaunan pinus yang terbawa angin.Alya terbangun dalam balutan selimut tebal di kamar masa kecilnya. Ruangan itu sederhana, dengan kehangatan yang mengalir di dadanya jauh lebih besar daripada kemewahan kamar utamanya di Menteng. Di sebelah kirinya, si kecil Kayla masih tertidur pulas dengan napas teratur. Tak jauh dari tempat tidur, Aisyah dan Tsaqif tidur berdampingan sambil berpelukan, sementara sang kakak sulung, Zayyan, sudah lebih dulu bangun dan keluar kamar untuk mencari kakeknya.Alya bangkit, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, lalu mengenakan cardigan rajut berwarna krem. Saat ia melangkah keluar kamar men

  • Istri Yang Kau Buang, Kini Jadi Nyonya Besar   Bab 196

    Kediaman utama Adiguna sibuk dengan persiapan perjalanan luar kota. Magelang, kota berhawa sejuk yang dipeluk megahnya Gunung Merapi dan Merbabu, dipilih sebagai destinasi tujuan. Bukan sekadar memenuhi undangan acara selamatan keluarga, Araska benar-benar mewujudkan niatnya untuk mengubah momen ini menjadi liburan singkat bagi seluruh anggota keluarga dan lingkaran terdekat mereka."Sayang, untuk persiapan acara di rumah ibumu nanti, pastikan kamu mengirimkan dana yang lebih dari cukup kepada mereka," ucap Araska sambil melipat kedua tangannya di atas meja. "Jangan biarkan keluargamu kerepotan menyiapkan semuanya sendirian. Katakan pada ibu, anggap saja ini bentuk bakti kecil dari menantunya."Alya menghentikan kegiatannya, lalu tersenyum lembut menghampiri suaminya. "Sebenarnya aku sudah rutin mengirimkan uang bulanan untuk Ibu dan Bapak, Mas."Araska menggeleng pelan, sorot matanya menyiratkan ketulusan yang dalam. "Uang bulanan itu urusan rutin, Al. Ini adalah acara selamatan khus

  • Istri Yang Kau Buang, Kini Jadi Nyonya Besar   Bab 195

    Sinar matahari pagi menyapa kota Jakarta dengan hangat, seolah menghapus seluruh jejak amukan badai yang mencekam semalam. Udara terasa begitu segar, menyisakan bau tanah basah yang menenangkan di halaman kediaman utama Adiguna. Aliran listrik rumah telah pulih sepenuhnya sejak subuh berkat gerak cepat tim teknisi darurat yang dikomandoi langsung oleh Beni.Di dalam kamar tidur utama yang luas, Alya membuka matanya perlahan. Suasana begitu tenang. Ia merasakan kehangatan yang melingkupi tubuhnya; sebuah lengan kokoh milik Araska masih melingkar erat di pinggangnya, menjaga dan melindunginya bahkan dalam tidur. Semalam, setelah badai mereda dan isak tangisnya berhenti, Alya tertidur pulas di pelukan suaminya, merasa begitu aman dan utuh.Araska yang menyadari istrinya terbangun perlahan membuka mata. Sorot tajam yang biasanya melekat pada sang triliuner kini melunak, digantikan oleh kelembutan yang luar biasa."Selamat pagi, Nyonya Adiguna," bisik Araska seraya mengecup lembut kening A

  • Istri Yang Kau Buang, Kini Jadi Nyonya Besar   Bab 194

    Langit Jakarta malam itu benar-benar mengamuk. Hujan lebat disertai angin kencang menghantam kaca-kaca jendela kediaman utama Adiguna tanpa ampun, menyisakan kegelapan pekat yang mencekam di dalam rumah setelah sambaran petir melumpuhkan aliran listrik utama.Di lantai dua, waktu seolah berjalan begitu lambat. Alya masih meringkuk di sudut ruangan, terjebak di antara sisa-sisa kesadaran masa lalunya yang kelam. Napasnya masih memburu, meski pelukan hangat Mutia perlahan mulai mengembalikan dirinya ke kenyataan. Namun, tubuhnya masih lemas, dan isak tangisnya belum juga reda.Di tangan Mutia, layar ponsel masih menampilkan sambungan video call yang aktif. Araska tidak bergeming dari posisinya di dalam kabin jet pribadi. Pria itu terus menatap layar, mendengarkan setiap rintihan kecil istrinya dengan dada yang bergemuruh hebat oleh rasa cemas dan amarah terhadap jarak yang memisahkan mereka."Al ... hei, dengar suaraku," suara Araska terdengar serak dari speaker ponsel, penuh dengan kel

  • Istri Yang Kau Buang, Kini Jadi Nyonya Besar   BAB IV

    Pintu lift di lobi utama terbuka.Alya melangkah keluar lift dan dia melihat pemandangan kacau balau. Seketika, suara keributan yang memekakkan telinga menyerbu masuk."Minggir kalian semua, dasar babu tidak berguna! Mana Araska? Suruh cucuku turun atau aku bakar gedung ini!"Di tengah lobi marmer

  • Istri Yang Kau Buang, Kini Jadi Nyonya Besar   Bab III

    "Pastikan bahwa kau tidak berusaha kabur malam ini atau kubatalkan semua pembayaran pengobatan anakmu!"KLIK.Pintu tertutup.Alya merosot kembali ke kursi dan kakinya terasa lemas.Dia baru saja menandatangani kontrak dengan iblis berwajah malaikat. Tapi saat ia membelai pipi Tsaqif yang mulai han

  • Istri Yang Kau Buang, Kini Jadi Nyonya Besar   Bab II

    Alya duduk di kursi belakang, mendekap erat Tsaqif yang masih mengejang pelan.Di sebelahnya, Aisya dan Zayyan duduk kaku, menggigil kedinginan, takut mengotori jok kulit berwarna krem yang pastinya seharga rumah kontrakan mereka.Araska tidak bicara sepatah kata pun. Satu tangannya memegang kemudi

  • Istri Yang Kau Buang, Kini Jadi Nyonya Besar   BAB V

    Alya tidak boleh membiarkan Araska tahu.Jika Araska tahu dia membawa masalah rumah tangga ke kantor, dia bisa dipecat. Dan jikad dia dipecat, perlindungan untuk Tsaqif, Aisya, dan Zayyan akan hilang.Dengan langkah gemetar, Alya berbalik arah.Dia setengah berlari menuju toilet private yang terlet

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status