เข้าสู่ระบบAlya tersentak, hampir menjatuhkan ponsel tipis itu ke lantai marmer. Araska berdiri di ambang pintu dengan tangan bersedekap, matanya yang tajam seolah mampu menembus layar ponsel Alya dan membaca nama yang tertera di sana.
"Angkat, Alya! Aktifkan speaker-nya," perintah Araska lagi. Dingin, dengan nada otoritas yang tak terbantahkan. Dengan jari gemetar, Alya menggeser ikon hijau. "Halo, Perempuan tak tahu diri! Akhirnya lo angkat juga!" suara Aldi menggelegar, penuh nada kemenangan yang memuakkan. "Gimana rasanya jadi simpanan orang kaya? Enak ya, dandan cantik, makan enak, pakai uang haram. Denger ya, kalau lo nggak turun sekarang, gue pastiin bakal ambil anak-anak!" Wajah Alya memucat, tetapi sebelum isaknya pecah, sebuah tangan besar merebut ponsel itu dari genggamannya. Araska mendekatkan ponsel itu ke bibirnya. "Tunggu di lobi! Aku sendiri yang akan menemuimu di sana." KLIK. Sambungan diputus sepihak. Araska menarik tangan Alya, membawanya masuk ke dalam rengkuhan lengannya yang kokoh. "Ikut aku. Kita selesaikan tikus ini sekarang," bisik Araska. Alya merasa tubuhnya seperti melayang, rasa aman yang belum pernah ia rasakan seumur hidup merayap di dadanya saat berada dalam dekapan pria itu. Di lobi utama, Aldi berdiri dengan angkuh, mengenakan jaket kusam yang kontras dengan kemewahan Araska Group. Namun, keangkuhan itu luruh seketika saat pintu lift terbuka. Araska keluar dengan aura dominasi yang menyesakkan, satu tangannya merangkul pinggang Alya dengan posesif, seolah mengumumkan pada dunia bahwa wanita itu adalah miliknya. Aldi menciut. Tubuhnya yang biasanya kasar dan berani saat di rumah, kini tampak kecil dan menyedihkan di hadapan sang CEO. "Tadi kau bilang apa? Ingin menghancurkan hidup asisten pribadiku?" Aldi menelan ludah, keringat dingin membasahi pelipisnya. "Saya… saya masih punya hak penuh atas Alya, karena saya adalah suami sahnya!" jawab Aldi menutupi rasa takutnya. "Suami?" Araska terkekeh sinis, sebuah suara yang lebih mirip geraman serigala. …“ Ya, gue suami SAH nya.” Senyum miring seolah ia telah unggul satu babak disbanding Araska. “Dasar Perempuan tak tahu diri! Tukang ngutang! Pake kabur segala.” “Tapi, Mas … memang kamu yang nggak mau nafkahin aku dan anak-anak. Malah uang tabunganku pun kamu ambil untuk berjudi!” Tangis Alya pecah. Kilasan masa lalunya Kembali berputar di ingatannya. Masih teringat jelas bagaimana ia harus mati-matian berjuang membesarkan anak-anaknya, mencukupi semua kebutuhan yang seharusnya menjadi tanggung jawab Aldi. “Halah! Dasar Perempuan murahan. Pintar kamu memutar balikkan fakta! Wanita pembohong!” cibir Aldi. Saat itu Alya sudah tidak bisa lagi membela dirinya, dadanya terasa sesak. Tangisnya pecah. “Kenapa diam? Sudah tidak bisa membela diri lagi sekarang? Kamu pilih ikut aku pulang, atau aku akan mengambil anak-anak!” Wajah Alya mendongak, menatap keangkuhan suaminya. Dia masih lelaki yang sama, tak akan pernah berubah. Melihat Alya yang sudah semakin ketakutan, Araska akhirnya membuka suara. "Seret dia keluar. Pastikan dia tidak pernah bisa mendekat dalam radius satu kilometer dari gedung ini atau rumahku. Jika dia berani muncul lagi, patahkan saja kakinya, biar aku yang urus urusan hukumnya nanti!" Aldi diseret dengan kasar, kakinya menendang-nendang lantai lobi yang licin. "Alya! Sialan lo! Gue nggak bakal biarin lo hidup tenang! Gue bakal hancurin lo, denger nggak?!" teriak Aldi parau sebelum pintu kaca besar itu tertutup di depan wajahnya. Alya memejamkan mata, harga dirinya serasa tercabik-cabik. Ia malu, terlebih pada … Araska. Araska yang mendengar perdebatan mereka pun merasa shock. Karena tidak menyangka, Alya masih memiliki suami. “Kenapa kamu tidak pernah cerita tentang hal ini, Alya?!” suara bariton Araska semakin membuat dunianya terasa runtuh. “Jawab, Alya!” Tapi taka da sedikitpun jawaban dari mulut Alya. Hanya isak tangis yang keluar dari wanita itu. “Kenapa kamu tidak pernah bilang padauk jika memiliki suami gila seperti dia?!” Lagi-lagi Alya tak mampu menjawab pertanyaan Araska. Dibalik semua bentakan demi bentakan yang keluar dari mulut Araska, Alya merasa bahwa bosnya sama saja dengan Aldi. Merasa Araska marah pada dirinya, Alya memilih berlari keluar dari Gedung Araska Group. Harga dirinya terasa hancur. Ia merasa taka da lagi yang akan memandang dirinya. Araska berusaha mengejarnya, tak peduli semua karyawan melihat adegan tersebut. Akhirnya, ia bisa menangkap Alya. Dipeluknya erat-erat tubuh ringkih wanita tersebut. Meski berkali-kali Alya berusaha memberontak, akan tetapi tenaganya tak sebanding dengan Araska. “Maaf … maafkan aku jika membuatmu takut. Menangislah, biarkan semua sesak yang kamu rasakan keluar. Sekali lagi maafkan aku, Alya.” Setelah isaknya reda, tangan Araska menuntun Alya untuk Kembali ke kantor. “Kita masuk, ya ….” Kali ini tatapan Araska terasa teduh di hati Alya. Membuatnya menuruti apa yang dikatakannya. Sesampainya di dalam ruangan, Araska membimbing Alya untuk duduk di sebuah kursi. Mengusap airmatanya dengan tisu, mengambilkan minum. Alya merasa sosok yang dingin, galak, kini lenyap sudah. Perhatian dari Araska membuat hati Alya merasa tenang. “Sudah, ya. Jangan nangis. Jangan pernah takut lagi. Tak akan kubiarkan siapapun melukaimu. Harusnya, kamu bilang dari awal. Jika hanya menyingkirkan tikus kecil itu, bukan perkara besar buatku.” Kata-kata dari Araska membuat Alya tersenyum, karena menyebut Aldi dengan sebutan tikus. “Tersenyumlah, Alya. Kamu pantas Bahagia. Dan aku lebih suka melihatmu tersenyum seperti ini.” Tak terasa wajah Alya memerah, debar-debar yang lama tak pernah ia rasakan kini muncul lagi. “Sekarang pulanglah, ayo bersiap ikut denganku. Kita akan pergi ke gala dinner.” Seketika itu wajah Alya mendongak. “Aku tak mau mendengar penolakan. Kamu milikku Alya. Itu kesepakatan kita.” “Baik, Tuan.” Alya melangkah pergi. “Baru juga terasa manis, udah kumat lagi.” Gerutu Alya. “Bicara apa, Alya?” “E … ee … tidak Tuan. Ada tikus lewat.” … Malam itu, langit Jakarta bertabur bintang, namun cahayanya kalah terang dibanding lampu-lampu di hotel bintang lima tempat berlangsungnya Gala Dinner pengusaha elit. Sebuah limousine hitam mewah berhenti tepat di depan karpet merah. Wartawan dan fotografer sudah berjejer, menunggu sang primadona bisnis, Araska, muncul. Pintu terbuka. Araska turun lebih dulu dengan tuksedo hitam yang dipesan khusus dari Italia. Namun, perhatian semua orang teralih saat ia mengulurkan tangan ke dalam mobil. Alya muncul dengan gaun malam berbahan sutra berwarna midnight blue yang menakjubkan. Potongan off-shoulder-nya memamerkan bahu mulus yang selama ini tertutup baju lusuh, sementara roknya yang menjuntai memberikan kesan dewi yang turun dari langit. Riasannya tegas, namun elegan, menghapus seluruh jejak penderitaan di wajahnya. "Tersenyumlah, Alya. Aku paling benci melihat wajah murungmu!" bisik Araska sambil menggandeng tangannya. Kilatan lampu kamera (blitz) menyambar-nyambar, menyilaukan mata. Para pejabat dan pengusaha kelas atas membungkuk hormat saat mereka melintas. Alya merasa seperti berada di dalam mimpi yang tidak ingin ia akhiri. Namun, di dalam ruangan ballroom yang megah, pemandangan kontras terjadi. Di sudut barisan katering, seorang pria dengan seragam waiter yang sedikit kebesaran tampak sedang mengangkut baki berisi gelas-gelas sampanye. Itu Aldi. Setelah kalah judi dan dikejar rentenir, ia terpaksa bekerja sebagai tenaga tambahan katering demi sesuap nasi. Matanya membelalak saat melihat sosok yang sangat ia kenali melangkah anggun di atas karpet merah, digandeng oleh pria paling berpengaruh di ruangan itu. "A-Alya?" gumam Aldi tak percaya. Gelas di atas bakinya bergetar. Istri yang dulu ia sebut babu, yang ia injak-injak harga dirinya, kini berdiri di sana, dikerubungi wartawan dan disapa hormat oleh orang-orang yang biasanya hanya bisa Aldi lihat di televisi. Alya tampak begitu mahal, begitu berkelas, hingga Aldi merasa dirinya hanyalah debu di bawah tumit sepatu hak tinggi Alya. Araska sengaja berhenti di tengah ruangan, tepat saat beberapa wartawan ekonomi mendekat untuk meminta konfirmasi tentang proyek terbaru Araska Group. Namun, jawaban Araska justru membuat seluruh ruangan hening seketika. "Malam ini, saya tidak ingin bicara soal bisnis," ujar Araska dengan suara baritonnya yang menggema lewat mikrofon yang disodorkan padanya. Ia menarik Alya lebih dekat, melingkarkan tangan di pinggang rampingnya dengan mantap. "Saya ingin memperkenalkan seseorang yang sangat spesial. Ini Alya, wanita yang telah mencuri perhatian saya sepenuhnya." Wartawan saling pandang, kamera terus mengabadikan momen langka itu. "Apakah beliau calon mitra bisnis baru Anda, Pak Araska?" tanya salah satu wartawan. Araska menatap Alya dengan tatapan yang begitu lembut, sebuah ekspresi yang belum pernah ia tunjukkan pada siapa pun sebelumnya. "Lebih dari itu. Alya adalah kekasih saya, calon istri saya. Dan kami berencana untuk meresmikan hubungan kami dalam waktu dekat."Alya tersentak, hampir menjatuhkan ponsel tipis itu ke lantai marmer. Araska berdiri di ambang pintu dengan tangan bersedekap, matanya yang tajam seolah mampu menembus layar ponsel Alya dan membaca nama yang tertera di sana. "Angkat, Alya! Aktifkan speaker-nya," perintah Araska lagi. Dingin, dengan nada otoritas yang tak terbantahkan. Dengan jari gemetar, Alya menggeser ikon hijau."Halo, Perempuan tak tahu diri! Akhirnya lo angkat juga!" suara Aldi menggelegar, penuh nada kemenangan yang memuakkan. "Gimana rasanya jadi simpanan orang kaya? Enak ya, dandan cantik, makan enak, pakai uang haram. Denger ya, kalau lo nggak turun sekarang, gue pastiin bakal ambil anak-anak!"Wajah Alya memucat, tetapi sebelum isaknya pecah, sebuah tangan besar merebut ponsel itu dari genggamannya. Araska mendekatkan ponsel itu ke bibirnya. "Tunggu di lobi! Aku sendiri yang akan menemuimu di sana."KLIK. Sambungan diputus sepihak. Araska menarik tangan Alya, membawanya masuk ke dalam rengkuhan lengannya
Alya tidak boleh membiarkan Araska tahu.Jika Araska tahu dia membawa masalah rumah tangga ke kantor, dia bisa dipecat. Dan jikad dia dipecat, perlindungan untuk Tsaqif, Aisya, dan Zayyan akan hilang.Dengan langkah gemetar, Alya berbalik arah.Dia setengah berlari menuju toilet private yang terletak di ujung lorong lantai 58, fasilitas khusus yang hanya boleh digunakan oleh tamu VVIP dan staf ring satu, menguncinya rapat-rapat, lalu merosot di depan wastafel marmer.Air keran dinyalakan sekencang mungkin untuk meredam isak tangis yang akhirnya pecah.Alya membasuh wajahnya yang sudah dipoles makeup mahal itu dengan kasar, berusaha menghapus jejak air mata, namun rasa takut itu tak kunjung hilang.Bayangan Aldi yang mengambil paksa anak-anaknya terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.Sementara itu, di dalam ruangan direktur, Araska melirik jam tangannya untuk ketiga kalinya dalam satu menit.Sudah lima belas menit sejak dia melihat Alya naik dari lobi lewat CCTV.Seharusnya w
Pintu lift di lobi utama terbuka.Alya melangkah keluar lift dan dia melihat pemandangan kacau balau. Seketika, suara keributan yang memekakkan telinga menyerbu masuk."Minggir kalian semua, dasar babu tidak berguna! Mana Araska? Suruh cucuku turun atau aku bakar gedung ini!"Di tengah lobi marmer yang luas, seorang wanita tua dengan rambut putih disanggul rapi dan mengenakan kebaya sutra mahal sedang mengacungkan tongkat kayu eboni.Tiga orang petugas keamanan bertubuh kekar tampak kewalahan, mereka mencoba menghalangi, namun takut melukai nenek Araska.Di kaki wanita tua itu, sebuah keranjang kucing berlapis emas tergeletak miring.Seekor kucing persia putih mengeong-ngeong dari dalam, jelas stress berat akibat guncangan dan teriakan pemiliknya."Maaf, Nyonya Besar, tapi peraturan gedung melarang hewan pe..." seorang resepsionis mencoba menjelaskan dengan suara gemetar.TAK!Tongkat eboni itu menghantam meja resepsionis, hanya meleset beberapa sentimeter dari jari si resepsionis."P
"Pastikan bahwa kau tidak berusaha kabur malam ini atau kubatalkan semua pembayaran pengobatan anakmu!"KLIK.Pintu tertutup.Alya merosot kembali ke kursi dan kakinya terasa lemas.Dia baru saja menandatangani kontrak dengan iblis berwajah malaikat. Tapi saat ia membelai pipi Tsaqif yang mulai hangat normal, Alya tahu, ia akan melakukan perjanjian itu seribu kali lagi demi anak-anaknya.Tiga hari berlalu sejak malam di rumah sakit itu.Tsaqif sudah pulih total, berkat obat-obatan paten yang harganya mungkin setara dengan biaya makan Alya setahun.Alya kemudian mengajak ketiga anaknya pindah dan menjelaskan kalau Tuan kemaren yang sudah menolong mereka.Awalnya, anak-anak Alya ragu untuk masuk ke sana, tapi setelah diyakinkan, mereka akhirnya turun.Itu adalah sebuah rumah mungil dengan dua kamar tidur yang bersih, jauh lebih layak daripada kontrakan lembab mereka sebelumnya.Namun, Alya tidak punya waktu untuk bernapas lega atau mengagumi nasib baiknya. Baru saja dia selesai merapika
Alya duduk di kursi belakang, mendekap erat Tsaqif yang masih mengejang pelan.Di sebelahnya, Aisya dan Zayyan duduk kaku, menggigil kedinginan, takut mengotori jok kulit berwarna krem yang pastinya seharga rumah kontrakan mereka.Araska tidak bicara sepatah kata pun. Satu tangannya memegang kemudi dengan santai, sementara tangan lainnya menempelkan ponsel ke telinga."Siapkan satu kamar VVIP dan tim dokter spesialis anak, sekarang! Aku sampai dalam lima menit, jangan sampai lelet melayani pasien yang aku bawa!"Tanpa menunggu jawaban dari seberang, sambungan langsung diputus.Alya menatap punggung tegap pria itu dengan perasaan campur aduk.Takut, tapi juga berharap.Belum sempat mobil berhenti sempurna, tiga orang perawat dan satu dokter sudah bersiap dengan brankar dorong.Araska keluar lebih dulu. Aura dominasinya seketika membuat petugas keamanan yang hendak menegur soal parkir, langsung mundur teratur. "Bawa anak itu!"Alya tergopoh-gopoh keluar, meletakkan Tsaqif ke atas branka
"Ibu... sakit..." rintihan itu menyayat hati Alya.Tsaqif, putra bungsunya, merintih dalam tidurnya. Tubuh bocah itu panas tinggi, menggigil hebat di balik selimut tipis yang sudah apek.Alya ingat betul, ia menyimpan uang lima ratus ribu rupiah di bawah tumpukan baju dalam lemari. Uang hasil memeras keringat mencuci baju tetangga dan berjualan kue keliling.Itu satu-satunya harapan untuk membawa Tsaqif ke klinik malam ini.Dengan langkah tergesa, Alya menuju lemari.Namun, saat tangannya meraba bagian bawah tumpukan baju, jantungnya hampir copot ketika tahu kalau amplop itu sudah lenyap..Alya menyibak tirai kamar, melangkah lebar menuju ruang tengah.Aldi, suaminya, sedang duduk bersila di depan laptop dengan mata merah menatap layar judi slot yang berputar. Di sebelahnya, seorang wanita dengan pakaian kurang bahan sedang menggelayut manja sambil memegang gelas kopi."Ayo Mas, pasang lagi, kali ini pasti jackpot!""Tenang, Sayang. Uang dari si Babu itu lumayan juga buat modal," sahu







