Se connecterAlya tidak boleh membiarkan Araska tahu.
Jika Araska tahu dia membawa masalah rumah tangga ke kantor, dia bisa dipecat. Dan jikad dia dipecat, perlindungan untuk Tsaqif, Aisya, dan Zayyan akan hilang.
Dengan langkah gemetar, Alya berbalik arah.
Dia setengah berlari menuju toilet private yang terletak di ujung lorong lantai 58, fasilitas khusus yang hanya boleh digunakan oleh tamu VVIP dan staf ring satu, menguncinya rapat-rapat, lalu merosot di depan wastafel marmer.
Air keran dinyalakan sekencang mungkin untuk meredam isak tangis yang akhirnya pecah.
Alya membasuh wajahnya yang sudah dipoles makeup mahal itu dengan kasar, berusaha menghapus jejak air mata, namun rasa takut itu tak kunjung hilang.
Bayangan Aldi yang mengambil paksa anak-anaknya terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.
Sementara itu, di dalam ruangan direktur, Araska melirik jam tangannya untuk ketiga kalinya dalam satu menit.
Sudah lima belas menit sejak dia melihat Alya naik dari lobi lewat CCTV.
Seharusnya wanita itu sudah berdiri di hadapannya sekarang, memberikan laporan kemenangan tentang bagaimana dia menaklukkan Nyonya Ratih.
Araska sudah menyiapkan kalimat pujian, sesuatu yang sangat jarang dia berikan. Dia ingin melihat binar bangga di mata bulat Alya, binar yang sama seperti saat wanita itu menghadang mobilnya di tengah hujan.
Namun, pintu ruangannya tak kunjung diketuk.
"Ke mana dia?" gumam Araska.
Araska bangkit dari kursi kebesarannya. dia berjalan menuju pintu ruangan Alya, dan membukanya dengan kasar. Meja sekretaris di depan ruangannya rapi, tapi tas kerja Alya masih ada di sana. Ponsel kantor juga tergeletak di meja.
Lantai 58 adalah area terbatas.
Tidak ada yang bisa masuk atau keluar tanpa sepengetahuannya.
Jika Alya tidak ada di mejanya, maka hanya ada satu tempat.
Tanpa ragu, Araska melangkah lebar menuju toilet private di ujung koridor, lalu memutar gagang pintu.
Terkunci.
"Alya, aku tahu kau di dalam, cepat keluar!"
Di dalam toilet, Alya buru-buru mematikan keran air, menyeka wajahnya dengan tisu dan menatap cermin.
Matanya merah, bedaknya luntur. dia terlihat kacau.
"Buka pintunya, Alya!"
"Saya butuh waktu lima menit lagi, Pak. Tolong..."
"Hitungan ketiga, Alya. Satu… dua…" Araska tidak main-main dengan niatnya untuk mendobrak pintu.
Dengan tangan gemetar, Alya memutar kunci.
Araska berdiri menjulang di ambang pintu dan matanya menyipit saat melihat sisa air mata yang belum kering di pipi wanita itu.
Araska masuk, lalu menutup pintu toilet di belakangnya.
Klik.
Suara kunci diputar kembali membuat ruangan sempit itu terasa semakin menghimpit.
"Kenapa? Kenapa air matamu keluar?"
Alya mundur selangkah hingga pinggangnya menabrak pinggiran wastafel. "Tidak, Pak. Saya Cuma kelilipan. Ta-tadi ada debu di lobi..."
"Bohong!"
Araska maju selangkah.
"Kenapa kau bersembunyi di sini padahal seharusnya kau melapor padaku? Apa Nenekku memukulmu? Apa dia mengatakan sesuatu yang menyakitimu?" cecar Araska.
"Tidak, Pak! Nyonya Ratih sangat baik. Beliau tidak melakukan apa-apa!"
"Lalu kenapa?!" Araska maju lagi, kali ini dia benar-benar mengikis jarak. "Jawab aku, Alya. Aku paling benci ada rahasia seperti ini!"
Alya menunduk, menghindari tatapan mengintimidasi itu. "Bukan urusan Bapak. Ini masalah pribadi saya."
Mendengar itu, rahang Araska mengeras. Tangannya bergerak cepat menahan kedua telapak tangan Alya tepat di atas kepalanya. Satu tangan menekan dinding, tangan lainnya mencengkeram pinggiran wastafel di sisi tubuh Alya.
Araska menunduk, wajahnya mendekat hingga hidung mereka hampir bersentuhan.
Jarak mereka tak lebih dari satu sentimeter.
Alya bisa merasakan hembusan napas hangat Araska yang menerpa bibirnya, berbau mint dan kopi.
Alya menahan napas, matanya membelalak menatap manik mata Araska yang kelam. Dia sadar betul kalau posisi ini terlalu intim.
Paha Araska bahkan menekan pelan paha Alya, membuatnya tidak bisa bergerak seinci pun.
"Kau pikir kau punya hak atas masalah pribadi saat kau sudah menjual waktumu 24 jam padaku?" bisik Araska, tepat di depan bibir Alya, bahkan bibir mereka hampir bersentuhan.
"Kau milikku, Alya. Otakmu, tenagamu, waktumu, dan masalahmu, semuanya milikku!"
"Pak, saya mohon, tolong jangan terlalu dekat..." Alya kini tidak lagi berontak, tapi air mata kembali menggenang di pelupuk matanya karena tekanan yang luar biasa.
"Katakan, Alya, siapa yang membuatmu menangis?" Araska mendesak, kepalanya miring sedikit, seolah siap melumat bibir Alya jika wanita itu berbohong lagi.
Pertahanan Alya runtuh.
Rasa takut pada teror Aldi di luar sana, ditambah tekanan dominasi Araska di dalam sini, membuat mentalnya hancur.
"Saya takut," isak Alya akhirnya pecah. Air mata meluncur deras membasahi pipinya. "Saya takut, Pak, tolong jangan paksa saya melakukan perbuatan ini!"
Tubuh Alya bergetar hebat dalam kungkungan Araska. dia terlihat begitu rapuh, seolah satu ucapan tegas Arsaka lagi, akan membuatnya hancur berkeping-keping.
Araska terpaku.
Kemarahan dan egonya seolah disiram air es.
Dia merasakan getaran ketakutan dari tubuh wanita di hadapannya.
Untuk pertama kalinya, Araska sadar bahwa dia telah bertindak terlalu jauh.
"Sial!" umpat Araska pelan.
Pria itu menarik tangan dari dinding, mundur setengah langkah, memberi ruang bagi Alya untuk bernapas, tapi sepertinya terlambat.
Alya sudah terlanjur terguncang.
Wanita itu menutup wajah dengan kedua telapak tangannya, menangis tersedu-sedu di depan bosnya.
Araska tidak pernah menenangkan wanita menangis. Biasanya dia hanya akan menyuruh asistennya memberi cek atau mengusir mereka.
Tapi melihat Alya begini, hatinya terasa nyeri.
Dengan kaku, Araska mengangkat tangannya, menyentuh pundak Alya yang berguncang. "Alya, berhenti menangis ya, a-a-aku minta maaf. Aku tidak bermaksud..."
Alya menggeleng, masih terisak dalam kesedihannya Sentuhan di pundak itu tidak cukup untuk meredakan badai di dadanya.
Araska menghela napas panjang, membuang gengsinya ke tempat sampah.
Tanpa peringatan, Araska menarik tubuh Alya, merengkuhnya ke dalam pelukan erat.
Tubuh Alya menabrak dada bidang Araska. Pria itu memeluknya dengan satu tangan melingkar di punggung, dan tangan lainnya menekan kepala Alya agar bersandar di dadanya.
"Maaf," bisik Araska sembari mengelus ubun-ubun Alya. "Maaf aku membentakmu. Maaf aku membuatmu takut. Sekarang tenangkan dirimu, ya, aku di sini. Aku tidak akan memarahimu karena masalah priubadimu.."
Alya sempat memberontak lemah karena kaget Arsaka tiba-tiba memeluknya, tapi entah kenapa, pelukan Araska terasa begitu nyaman.
Araska terus mengusap punggung Alya dengan gerakan lembut, naik turun, mencoba menenangkan. "Sudah. Jangan menangis lagi. Kau aman di sini. Tidak ada yang bisa menyentuhmu di lantai ini, termasuk masa lalumu."
Mereka berdiri di sana selama beberapa menit, berpelukan di tengah toilet mewah yang sunyi.
Saat itu, Araska bukan lagi CEO yang dingin, dan Alya bukan lagi janda yang lemah. Mereka hanya pria dan wanita yang saling mengisi kekosongan.
Perlahan, isak tangis Alya mereda.
Wanita itu sadar kalau air matanya membasahi kemeja mahal Araska, tangannya merangkul punggung Araska erat-erat, dan dia merasa beban pikiran tentang Aldi perlahan memudar..
Alya kemudian mendorong pelan dada Araska, lalu dia berujar sambil menunduk. "Pak... sa-saya sudah tenang. Maaf mengotori baju Bapak."
Araska melepaskan pelukannya, meski ada rasa enggan yang aneh di tangannya. Dia melihat noda basah di kemeja putihnya, tapi dia tidak peduli.
"Cuci mukamu, ya, terus pakai bedak lagi. Mata pandamu kurang enak dilihat," perintah Araska, dengan suara yang jauh lebih lembut. "Setelah itu kembali ke meja, kita bicarakan lagi perihal masalahm.."
"Baik, Pak. Terima kasih... dan maaf."
Alya bergegas keluar dari toilet, meninggalkan Araska yang masih berdiri diam menatap pantulan dirinya sendiri di cermin. Pria itu menyentuh dadanya yang masih terasa hangat bekas pelukan tadi.
Dari ekspresinya, jelas sekali dia terlihat bingung dengan perasaannya sendiri.
Alya kembali ke mejanya dengan kaki yang masih sedikit lemas. dia duduk, menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan kembali sisa-sisa kewarasannya untuk bekerja.
Namun, belum sempat pantatnya menyentuh kursi dengan nyaman, ponsel di saku blazernya bergetar panjang.
Kali ini panggilan telepon.
Layar ponsel menyala terang, menampilkan satu nama yang membuat darah Alya kembali membeku.
MAS ALDI calling...
Tangan Alya gemetar melayang di atas layar, ragu antara mengangkat atau mematikan, sampai ada suara bariton terdengar dari pintu. “Angkat teleponnya, Alya!”
Hari terakhir di Magelang seolah berjalan lebih lambat dari biasanya. Sang surya yang biasanya garang di Jakarta, hari ini terasa malu-malu bersembunyi di balik gumpalan awan, menyisakan bias warna jingga keunguan yang melukis cakrawala di atas punggung Gunung Merbabu. Udara sore itu terasa lebih manis, membawa aroma kayu bakar yang sedang dipersiapkan Bibi Sumi untuk perapian malam nanti.Di halaman belakang, suasana terasa jauh lebih syahdu. Alya duduk di kursi kayu panjang yang menghadap langsung ke arah hamparan sawah yang mulai menguning. Di sampingnya, Zayyan, Aisyah, dan Tsaqif sedang asyik bermain congklak bersama Kania di atas tikar pandan. Tawa renyah si kembar sesekali memecah keheningan sore, sementara Zayyan, dengan sikap kakaknya yang dewasa, tampak mengalah agar salah satu adiknya bisa menang.Tidak jauh dari sana, si kecil Kayla sedang berada dalam dekapan Papa Araska. Pria itu tampak sangat menikmati perannya sebagai seorang ayah. Ia membiarkan jemari kecil Kayla berm
Ciuman hangat itu terlepas perlahan, menyisakan senyum simpul di bibir Alya dan Araska. Di kejauhan, suara tawa riang Tsaqif dan Aisyah yang sedang berlarian mengejar kupu-kupu kembali membuyarkan keheningan kecil mereka.Belum sempat Araska menggoda istrinya lagi, Zayyan sudah berlari kecil menghampiri mereka sambil memegang botol air mineral."Ibu, Papa! Kakek ngajak kita semua naik ke lereng Gunung Merbabu naik mobil bak terbuka! Katanya pemandangan di atas sana bagus banget buat lihat perkebunan sayur," seru Zayyan dengan mata berbinar-binar penuh antusiasme.Alya menoleh ke arah suaminya dengan sebelah alis terangkat, sementara Araska justru tertawa renyah."Wah, ide bagus dari kakekmu," kata Araska sambil merangkul pundak Zayyan."Siapa yang mau ikut?""Aku! Aku mau ikut!" seru si kecil Kayla yang tiba-tiba muncul sambil menggandeng tangan Kania, disusul oleh Aisyah dan Tsaqif yang ikut melompat kegirangan.Tak butuh waktu lama bagi rombongan keluarga besar itu untuk bersiap. Di
Mentari pagi di Magelang merayap pelan dari balik punggung Gunung Merbabu, membiaskan cahaya keemasan yang menembus dedaunan hijau di kebun belakang rumah orang tua Alya. Udara pegunungan yang tipis dan dingin langsung menyapa kulit siapa saja yang melangkah keluar rumah. Di halaman samping, aroma uap air dari embun pagi berpadu dengan wangi khas tanah basah dan dedaunan pinus yang terbawa angin.Alya terbangun dalam balutan selimut tebal di kamar masa kecilnya. Ruangan itu sederhana, dengan kehangatan yang mengalir di dadanya jauh lebih besar daripada kemewahan kamar utamanya di Menteng. Di sebelah kirinya, si kecil Kayla masih tertidur pulas dengan napas teratur. Tak jauh dari tempat tidur, Aisyah dan Tsaqif tidur berdampingan sambil berpelukan, sementara sang kakak sulung, Zayyan, sudah lebih dulu bangun dan keluar kamar untuk mencari kakeknya.Alya bangkit, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, lalu mengenakan cardigan rajut berwarna krem. Saat ia melangkah keluar kamar men
Kediaman utama Adiguna sibuk dengan persiapan perjalanan luar kota. Magelang, kota berhawa sejuk yang dipeluk megahnya Gunung Merapi dan Merbabu, dipilih sebagai destinasi tujuan. Bukan sekadar memenuhi undangan acara selamatan keluarga, Araska benar-benar mewujudkan niatnya untuk mengubah momen ini menjadi liburan singkat bagi seluruh anggota keluarga dan lingkaran terdekat mereka."Sayang, untuk persiapan acara di rumah ibumu nanti, pastikan kamu mengirimkan dana yang lebih dari cukup kepada mereka," ucap Araska sambil melipat kedua tangannya di atas meja. "Jangan biarkan keluargamu kerepotan menyiapkan semuanya sendirian. Katakan pada ibu, anggap saja ini bentuk bakti kecil dari menantunya."Alya menghentikan kegiatannya, lalu tersenyum lembut menghampiri suaminya. "Sebenarnya aku sudah rutin mengirimkan uang bulanan untuk Ibu dan Bapak, Mas."Araska menggeleng pelan, sorot matanya menyiratkan ketulusan yang dalam. "Uang bulanan itu urusan rutin, Al. Ini adalah acara selamatan khus
Sinar matahari pagi menyapa kota Jakarta dengan hangat, seolah menghapus seluruh jejak amukan badai yang mencekam semalam. Udara terasa begitu segar, menyisakan bau tanah basah yang menenangkan di halaman kediaman utama Adiguna. Aliran listrik rumah telah pulih sepenuhnya sejak subuh berkat gerak cepat tim teknisi darurat yang dikomandoi langsung oleh Beni.Di dalam kamar tidur utama yang luas, Alya membuka matanya perlahan. Suasana begitu tenang. Ia merasakan kehangatan yang melingkupi tubuhnya; sebuah lengan kokoh milik Araska masih melingkar erat di pinggangnya, menjaga dan melindunginya bahkan dalam tidur. Semalam, setelah badai mereda dan isak tangisnya berhenti, Alya tertidur pulas di pelukan suaminya, merasa begitu aman dan utuh.Araska yang menyadari istrinya terbangun perlahan membuka mata. Sorot tajam yang biasanya melekat pada sang triliuner kini melunak, digantikan oleh kelembutan yang luar biasa."Selamat pagi, Nyonya Adiguna," bisik Araska seraya mengecup lembut kening A
Langit Jakarta malam itu benar-benar mengamuk. Hujan lebat disertai angin kencang menghantam kaca-kaca jendela kediaman utama Adiguna tanpa ampun, menyisakan kegelapan pekat yang mencekam di dalam rumah setelah sambaran petir melumpuhkan aliran listrik utama.Di lantai dua, waktu seolah berjalan begitu lambat. Alya masih meringkuk di sudut ruangan, terjebak di antara sisa-sisa kesadaran masa lalunya yang kelam. Napasnya masih memburu, meski pelukan hangat Mutia perlahan mulai mengembalikan dirinya ke kenyataan. Namun, tubuhnya masih lemas, dan isak tangisnya belum juga reda.Di tangan Mutia, layar ponsel masih menampilkan sambungan video call yang aktif. Araska tidak bergeming dari posisinya di dalam kabin jet pribadi. Pria itu terus menatap layar, mendengarkan setiap rintihan kecil istrinya dengan dada yang bergemuruh hebat oleh rasa cemas dan amarah terhadap jarak yang memisahkan mereka."Al ... hei, dengar suaraku," suara Araska terdengar serak dari speaker ponsel, penuh dengan kel
Alya tersentak, hampir menjatuhkan ponsel tipis itu ke lantai marmer. Araska berdiri di ambang pintu dengan tangan bersedekap, matanya yang tajam seolah mampu menembus layar ponsel Alya dan membaca nama yang tertera di sana. "Angkat, Alya! Aktifkan speaker-nya," perintah Araska lagi. Dingin, denga
Pintu lift di lobi utama terbuka.Alya melangkah keluar lift dan dia melihat pemandangan kacau balau. Seketika, suara keributan yang memekakkan telinga menyerbu masuk."Minggir kalian semua, dasar babu tidak berguna! Mana Araska? Suruh cucuku turun atau aku bakar gedung ini!"Di tengah lobi marmer
"Pastikan bahwa kau tidak berusaha kabur malam ini atau kubatalkan semua pembayaran pengobatan anakmu!"KLIK.Pintu tertutup.Alya merosot kembali ke kursi dan kakinya terasa lemas.Dia baru saja menandatangani kontrak dengan iblis berwajah malaikat. Tapi saat ia membelai pipi Tsaqif yang mulai han
Alya duduk di kursi belakang, mendekap erat Tsaqif yang masih mengejang pelan.Di sebelahnya, Aisya dan Zayyan duduk kaku, menggigil kedinginan, takut mengotori jok kulit berwarna krem yang pastinya seharga rumah kontrakan mereka.Araska tidak bicara sepatah kata pun. Satu tangannya memegang kemudi







