Share

BAB V

Penulis: Dyara
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-06 10:16:36

Alya tidak boleh membiarkan Araska tahu.

Jika Araska tahu dia membawa masalah rumah tangga ke kantor, dia bisa dipecat. Dan jikad dia dipecat, perlindungan untuk Tsaqif, Aisya, dan Zayyan akan hilang.

Dengan langkah gemetar, Alya berbalik arah.

Dia setengah berlari menuju toilet private yang terletak di ujung lorong lantai 58, fasilitas khusus yang hanya boleh digunakan oleh tamu VVIP dan staf ring satu, menguncinya rapat-rapat, lalu merosot di depan wastafel marmer.

Air keran dinyalakan sekencang mungkin untuk meredam isak tangis yang akhirnya pecah.

Alya membasuh wajahnya yang sudah dipoles makeup mahal itu dengan kasar, berusaha menghapus jejak air mata, namun rasa takut itu tak kunjung hilang.

Bayangan Aldi yang mengambil paksa anak-anaknya terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.

Sementara itu, di dalam ruangan direktur, Araska melirik jam tangannya untuk ketiga kalinya dalam satu menit.

Sudah lima belas menit sejak dia melihat Alya naik dari lobi lewat CCTV.

Seharusnya wanita itu sudah berdiri di hadapannya sekarang, memberikan laporan kemenangan tentang bagaimana dia menaklukkan Nyonya Ratih.

Araska sudah menyiapkan kalimat pujian, sesuatu yang sangat jarang dia berikan. Dia ingin melihat binar bangga di mata bulat Alya, binar yang sama seperti saat wanita itu menghadang mobilnya di tengah hujan.

Namun, pintu ruangannya tak kunjung diketuk.

"Ke mana dia?" gumam Araska.

Araska bangkit dari kursi kebesarannya. dia berjalan menuju pintu ruangan Alya, dan membukanya dengan kasar. Meja sekretaris di depan ruangannya rapi, tapi tas kerja Alya masih ada di sana. Ponsel kantor juga tergeletak di meja.

Lantai 58 adalah area terbatas.

Tidak ada yang bisa masuk atau keluar tanpa sepengetahuannya.

Jika Alya tidak ada di mejanya, maka hanya ada satu tempat.

Tanpa ragu, Araska melangkah lebar menuju toilet private di ujung koridor, lalu memutar gagang pintu.

Terkunci.

"Alya, aku tahu kau di dalam, cepat keluar!"

Di dalam toilet, Alya buru-buru mematikan keran air, menyeka wajahnya dengan tisu dan menatap cermin.

Matanya merah, bedaknya luntur. dia terlihat kacau.

"Buka pintunya, Alya!"

"Saya butuh waktu lima menit lagi, Pak. Tolong..."

"Hitungan ketiga, Alya. Satu… dua…" Araska tidak main-main dengan niatnya untuk mendobrak pintu.

Dengan tangan gemetar, Alya memutar kunci.

Araska berdiri menjulang di ambang pintu dan matanya menyipit saat melihat sisa air mata yang belum kering di pipi wanita itu.

Araska masuk, lalu menutup pintu toilet di belakangnya.

Klik.

Suara kunci diputar kembali membuat ruangan sempit itu terasa semakin menghimpit.

"Kenapa? Kenapa air matamu keluar?"

Alya mundur selangkah hingga pinggangnya menabrak pinggiran wastafel. "Tidak, Pak. Saya Cuma kelilipan. Ta-tadi ada debu di lobi..."

"Bohong!"

Araska maju selangkah.

"Kenapa kau bersembunyi di sini padahal seharusnya kau melapor padaku? Apa Nenekku memukulmu? Apa dia mengatakan sesuatu yang menyakitimu?" cecar Araska.

"Tidak, Pak! Nyonya Ratih sangat baik. Beliau tidak melakukan apa-apa!"

"Lalu kenapa?!" Araska maju lagi, kali ini dia benar-benar mengikis jarak. "Jawab aku, Alya. Aku paling benci ada rahasia seperti ini!"

Alya menunduk, menghindari tatapan mengintimidasi itu. "Bukan urusan Bapak. Ini masalah pribadi saya."

Mendengar itu, rahang Araska mengeras. Tangannya bergerak cepat menahan kedua telapak tangan Alya tepat di atas kepalanya. Satu tangan menekan dinding, tangan lainnya mencengkeram pinggiran wastafel di sisi tubuh Alya.

Araska menunduk, wajahnya mendekat hingga hidung mereka hampir bersentuhan.

Jarak mereka tak lebih dari satu sentimeter.

Alya bisa merasakan hembusan napas hangat Araska yang menerpa bibirnya, berbau mint dan kopi.

Alya menahan napas, matanya membelalak menatap manik mata Araska yang kelam. Dia sadar betul kalau posisi ini terlalu intim.

Paha Araska bahkan menekan pelan paha Alya, membuatnya tidak bisa bergerak seinci pun.

"Kau pikir kau punya hak atas masalah pribadi saat kau sudah menjual waktumu 24 jam padaku?" bisik Araska, tepat di depan bibir Alya, bahkan bibir mereka hampir bersentuhan.

"Kau milikku, Alya. Otakmu, tenagamu, waktumu, dan masalahmu, semuanya milikku!"

"Pak, saya mohon, tolong jangan terlalu dekat..." Alya kini tidak lagi berontak, tapi air mata kembali menggenang di pelupuk matanya karena tekanan yang luar biasa.

"Katakan, Alya, siapa yang membuatmu menangis?" Araska mendesak, kepalanya miring sedikit, seolah siap melumat bibir Alya jika wanita itu berbohong lagi.

Pertahanan Alya runtuh.

Rasa takut pada teror Aldi di luar sana, ditambah tekanan dominasi Araska di dalam sini, membuat mentalnya hancur.

"Saya takut," isak Alya akhirnya pecah. Air mata meluncur deras membasahi pipinya. "Saya takut, Pak, tolong jangan paksa saya melakukan perbuatan ini!"

Tubuh Alya bergetar hebat dalam kungkungan Araska. dia terlihat begitu rapuh, seolah satu ucapan tegas Arsaka lagi, akan membuatnya hancur berkeping-keping.

Araska terpaku.

Kemarahan dan egonya seolah disiram air es.

Dia merasakan getaran ketakutan dari tubuh wanita di hadapannya.

Untuk pertama kalinya, Araska sadar bahwa dia telah bertindak terlalu jauh.

"Sial!" umpat Araska pelan.

Pria itu menarik tangan dari dinding, mundur setengah langkah, memberi ruang bagi Alya untuk bernapas, tapi sepertinya terlambat.

Alya sudah terlanjur terguncang.

Wanita itu menutup wajah dengan kedua telapak tangannya, menangis tersedu-sedu di depan bosnya.

Araska tidak pernah menenangkan wanita menangis. Biasanya dia hanya akan menyuruh asistennya memberi cek atau mengusir mereka.

Tapi melihat Alya begini, hatinya terasa nyeri.

Dengan kaku, Araska mengangkat tangannya, menyentuh pundak Alya yang berguncang. "Alya, berhenti menangis ya, a-a-aku minta maaf. Aku tidak bermaksud..."

Alya menggeleng, masih terisak dalam kesedihannya Sentuhan di pundak itu tidak cukup untuk meredakan badai di dadanya.

Araska menghela napas panjang, membuang gengsinya ke tempat sampah.

Tanpa peringatan, Araska menarik tubuh Alya, merengkuhnya ke dalam pelukan erat.

Tubuh Alya menabrak dada bidang Araska. Pria itu memeluknya dengan satu tangan melingkar di punggung, dan tangan lainnya menekan kepala Alya agar bersandar di dadanya.

"Maaf," bisik Araska sembari mengelus ubun-ubun Alya. "Maaf aku membentakmu. Maaf aku membuatmu takut. Sekarang tenangkan dirimu, ya, aku di sini. Aku tidak akan memarahimu karena masalah priubadimu.."

Alya sempat memberontak lemah karena kaget Arsaka tiba-tiba memeluknya, tapi entah kenapa, pelukan Araska terasa begitu nyaman.

Araska terus mengusap punggung Alya dengan gerakan lembut, naik turun, mencoba menenangkan. "Sudah. Jangan menangis lagi. Kau aman di sini. Tidak ada yang bisa menyentuhmu di lantai ini, termasuk masa lalumu."

Mereka berdiri di sana selama beberapa menit, berpelukan di tengah toilet mewah yang sunyi.

Saat itu, Araska bukan lagi CEO yang dingin, dan Alya bukan lagi janda yang lemah. Mereka hanya pria dan wanita yang saling mengisi kekosongan.

Perlahan, isak tangis Alya mereda.

Wanita itu sadar kalau air matanya membasahi kemeja mahal Araska, tangannya merangkul punggung Araska erat-erat, dan dia merasa beban pikiran tentang Aldi perlahan memudar..

Alya kemudian mendorong pelan dada Araska, lalu dia berujar sambil menunduk. "Pak... sa-saya sudah tenang. Maaf mengotori baju Bapak."

Araska melepaskan pelukannya, meski ada rasa enggan yang aneh di tangannya. Dia melihat noda basah di kemeja putihnya, tapi dia tidak peduli.

"Cuci mukamu, ya, terus pakai bedak lagi. Mata pandamu kurang enak dilihat," perintah Araska, dengan suara yang jauh lebih lembut. "Setelah itu kembali ke meja, kita bicarakan lagi perihal masalahm.."

"Baik, Pak. Terima kasih... dan maaf."

Alya bergegas keluar dari toilet, meninggalkan Araska yang masih berdiri diam menatap pantulan dirinya sendiri di cermin. Pria itu menyentuh dadanya yang masih terasa hangat bekas pelukan tadi.

Dari ekspresinya, jelas sekali dia terlihat bingung dengan perasaannya sendiri.

Alya kembali ke mejanya dengan kaki yang masih sedikit lemas. dia duduk, menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan kembali sisa-sisa kewarasannya untuk bekerja.

Namun, belum sempat pantatnya menyentuh kursi dengan nyaman, ponsel di saku blazernya bergetar panjang.

Kali ini panggilan telepon.

Layar ponsel menyala terang, menampilkan satu nama yang membuat darah Alya kembali membeku.

MAS ALDI calling...

Tangan Alya gemetar melayang di atas layar, ragu antara mengangkat atau mematikan, sampai ada suara bariton terdengar dari pintu. “Angkat teleponnya, Alya!”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Istri Yang Kau Buang, Kini Jadi Nyonya Besar   Bab 53

    Mentari musim panas di Jakarta terasa lebih bersahabat sore itu. Di dalam ruang kerja CEO Araska Group yang megah, Araska sedang fokus menatap layar monitornya, bukan untuk memeriksa laporan keuangan, melainkan memandangi rekaman CCTV ruang tengah rumah mereka. Di sana, Alya tampak sedang membacakan buku cerita untuk Tsaqif. Araska tersenyum tipis, rahangnya yang tegas tampak jauh lebih rileks dibandingkan malam penuh drama di rumah Om Wijaya kemarin.Tiba-tiba, ponsel di atas meja jati itu bergetar. Sebuah pesan masuk dari istrinya."Mas ... sibuk tidak? Pulang cepat ya? Aku ingin ngabuburit. Anak-anak juga sudah rindu jalan-jalan."Belum sempat Araska membalas, pesan kedua menyusul dengan emoji wajah memohon yang menggemaskan."Buka puasa di luar ya, Mas? Sekali-sekali saja. Aku ingin makan takjil di pinggir jalan yang ramai itu. Boleh ya? Please ...."Araska tertawa kecil. Jarang sekali Alya merengek seperti ini. Biasanya, istrinya itu adalah sosok yang paling pengertian dan selalu

  • Istri Yang Kau Buang, Kini Jadi Nyonya Besar   Bab 52

    Mobil Araska membelah kesunyian malam Jakarta yang mulai mendingin setelah hiruk-pikuk buka puasa bersama yang menyesakkan dada itu. Di dalam kabin mobil yang kedap suara, Araska masih mencengkeram kemudi dengan urat-urat tangan yang menonjol, sisa amarah terhadap Om Wijaya dan Tante Ratna masih membekas di rahangnya yang terkatup rapat.Alya menyentuh lengan suaminya lembut. "Mas, sudah. Jangan dipikirkan lagi. Aku benar-benar tidak apa-apa."Araska menoleh sekilas, matanya melunak saat menatap wajah tenang istrinya. "Aku hanya tidak habis pikir, Al. Di bulan suci seperti ini, mereka masih sempat-sempatnya menyebarkan racun. Mereka tidak tahu betapa berharganya kamu dan anak-anak bagiku. Darah daging atau bukan, Zayyan dan adik-adiknya adalah buah hatiku."Alya tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Araska. "Justru karena itu aku bicara begitu tadi. Aku ingin mereka tahu bahwa kebahagiaan kita tidak diukur dari standar mereka. Kita punya standar sendiri, Mas. Standar kasih s

  • Istri Yang Kau Buang, Kini Jadi Nyonya Besar   Bab 51

    Malam itu berlalu dengan kehangatan yang meluruhkan sisa-sisa lelah. Namun, bagi Araska, kebahagiaan itu membawa konsekuensi baru yang cukup menyiksanya di siang hari.Esoknya, saat mentari belum sepenuhnya tegak, Araska sudah berdiri di ambang pintu kamar dengan setelan kerja yang rapi, menatap Alya yang masih bergelung di balik selimut sutra."Al, aku berangkat sekarang. Dan sepertinya ... aku tidak akan pulang makan siang atau sekadar mampir istirahat seperti biasanya," ujar Araska sambil merapikan jam tangannya.Alya mengerjap, mengucek matanya pelan. "Kenapa, Mas? Ada rapat mendadak?"Araska mendekat, namun ia menjaga jarak sekitar satu meter, seolah ada garis yang tak boleh ia langgar. Ia menatap Alya dengan senyum kecut. "Bukan rapat. Aku hanya takut pertahananku runtuh lagi kalau melihatmu siang-siang di rumah. Kamu itu ... gangguan terindah yang pernah ada, Al. Tapi di bulan puasa ini, kamu benar-benar ujian yang sangat berat untuk iman dan mentalku."Alya tertawa renyah, men

  • Istri Yang Kau Buang, Kini Jadi Nyonya Besar   Bab 50

    Siang itu, matahari Jakarta seolah tak memiliki belas kasihan. Panasnya menyengat, tetapi bagi Araska, panas yang paling sulit ia kendalikan justru berasal dari dalam dadanya sendiri.Ini adalah hari kesepuluh Ramadhan, dan entah mengapa, godaan terberatnya tahun ini bukanlah rasa haus atau lapar karena kesibukan di kantor Araska Group, melainkan sosok wanita yang kini sedang sibuk menata vas bunga di ruang kerja pribadinya di rumah.Alya mengenakan kaus rumah yang sedikit longgar dengan celana kulot, rambutnya digelung asal-asalan meninggalkan beberapa helai jatuh di tengkuknya yang putih bersih. Ia tampak segar, kontras dengan Araska yang mulai merasa "gerah" sejak tadi."Mas, berkas yang ini ditaruh di rak atas atau tetap di meja?" tanya Alya tanpa menoleh.Araska yang sedang duduk di balik meja kerja, mencoba fokus pada laporan audit, mendadak kehilangan fokus. Matanya justru terpaku pada gerakan tangan Alya. Harum parfum vanilla dan musk

  • Istri Yang Kau Buang, Kini Jadi Nyonya Besar   Bab 49

    "Mas, jangan ...." Alya mencoba menenangkan, bukan karena kasihan pada Aldi, tapi karena ia tidak ingin Araska berbuat yang tidak baik."Tidak, Al. Yayasan tidak bekerja sama dengan sampah," jawab Araska tegas.“Aku tidak mau, Mas. Jangan sampai Yayasan ini berdiri dengan penindasan pada orang lain. Aku tidak ingin kamu berbuat yang tidak baik. Terhadap siapapun.” Alya memegang erat jemari Araska, berusaha meyakinkan.“Pergi! Sebelum aku berubah pikiran!” usir Araska, Aldi pun pergi dengan wajah merah padam. Ada rasa marah, tetapi ia juga takut bisnis barunya hancur.Alya menghela napas panjang, menatap suaminya yang masih tampak tegang karena emosi. Ia meraih tangan Araska, mengelusnya lembut."Terima kasih, Mas. Kamu sedikit menakutkan," goda Alya sambil tersenyum tipis.Araska menatap Alya, matanya perlahan melembut. Ia menghela napas, rasa amarahnya luntur seketika melihat senyum istrinya."Aku tidak tahan

  • Istri Yang Kau Buang, Kini Jadi Nyonya Besar   Bab 48

    Malam itu, setelah anak-anak terlelap dalam mimpi mereka, suasana utama kediaman Adiguna terasa begitu tenang. Araska sedang menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, jemarinya menari di atas layar gawai, sementara Alya baru saja selesai membersihkan wajahnya.Alya melirik Araska dari pantulan cermin rias. Kata-kata Om Wijaya tentang "darah murni" memang tidak berhasil meruntuhkan mentalnya, tetapi hal itu memicu sebuah pemikiran yang selama ini terkunci rapat di sudut hatinya.Bukan karena ia merasa terancam oleh posisi anak-anaknya, ia sangat tahu Araska mencintai Zayyan dan adik-adiknya setulus hati, tapi karena ia mencintai pria itu. Dan saat kita mencintai seseorang, wajar jika ada keinginan untuk melihat perpaduan antara dirinya dan orang yang dicintainya dalam wujud seorang manusia kecil.Alya berjalan perlahan, lalu duduk di tepi ranjang. Ia meraih tangan Araska, membuat suaminya menaruh gawai dan memberikan perhatian penuh."Mas," panggil Alya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status