Bab 6. Drama di kantor
Mirna melangkah cepat keluar dari mobilnya, sepatu hak tingginya mengetuk lantai lobi kantor dengan ritme yang tegas. Tatapan matanya tajam, seolah menembus siapa pun yang berani menghalangi jalannya. Di tangannya, sebuah tas kulit mewah terayun ringan, kontras dengan atmosfer panas yang mulai terasa dari amarah yang ia pendam.
Farah berdiri di sudut lobi, pura-pura terkejut melihat kedatangan Mirna yang mendadak. Ia segera melangkah mendekat dengan ekspresi cemas yang sudah dipoles sempurna. "Bu Mirna! Astaga, saya tidak menyangka Ibu akan datang langsung."
Mirna menatap Farah dingin. "Bawa saya ke tempat suami saya sekarang."
Farah menunduk, menunjukkan kesopanan palsu. "Tentu, Bu. Mari ikut saya." Ia memimpin jalan menuju ruang kerja Hermawan, sesekali melirik ke belakang untuk memastikan Mirna masih mengikutinya. Senyum kecil muncul di bibirnya—sangat tipis, tetapi penuh kemenangan.
Di ruang kesehatan, Pak Hermawan berdiri dengan tangan di pinggang, berhadapan dengan seorang suster yang membawa map, seperti sedang menjelaskan sesuatu.
Pintu terbuka lebar, dan Mirna melangkah masuk dengan aura mengintimidasi. Suara hak sepatunya bergema, membuat semua orang di ruangan itu menoleh. Hermawan menegang seketika, wajahnya berubah pucat melihat istrinya berdiri di ambang pintu.
"Mirna? Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya dengan nada yang tenang, meski sedikit terkejut.
Mirna tidak menjawab. Tatapannya tajam, seperti pisau yang siap menembus. "Siapa yang sedang kau tunggu dan temani di ruang kesehatan ini, Hermawan?" tanyanya dingin, suaranya penuh tekanan.
Hermawan membuka mulut, tetapi sebelum ia sempat menjawab, Farah menyela dengan nada penuh keprihatinan. "Bu Mirna, maafkan saya. Saya tidak bermaksud mencampuri urusan pribadi Anda. Tapi saya rasa Ibu perlu tahu... wanita ini membuat keributan di kantor dan... kelihatannya ada sesuatu yang tidak pantas terjadi."
"Farah!" seru Hermawan dengan nada marah. "Jaga ucapanmu!"
Namun, Farah tidak mundur. Ia malah menundukkan kepala, seolah-olah merasa bersalah. "Maaf, Pak. Tapi saya hanya ingin melindungi nama baik Anda."
Mirna memandang suaminya dengan mata yang penuh curiga. "Jadi, apa yang sebenarnya terjadi, Hermawan? Apa benar seperti yang dikatakannya itu?"
Hermawan menggelengkan kepala dengan frustrasi. "Ini salah paham, Mirna. Wanita ini membutuhkan bantuan, dan aku hanya mencoba menolongnya. Tidak ada yang lebih dari itu."
Hendra, yang sejak tadi diam, akhirnya angkat bicara. "Maaf, Pak Hermawan, tapi situasinya terlihat buruk. Anda tahu bagaimana gosip bisa menyebar. Kami hanya khawatir ini akan merusak reputasi perusahaan."
Mirna menghela napas panjang, mencoba mengendalikan emosinya. Namun, pikirannya sudah dipenuhi oleh kata-kata Farah dan Hendra. Wanita ini, siapa pun dia, jelas telah membawa kekacauan ke dalam hidupnya.
"Aku akan menjelaskan semuanya, Mirna. Tapi percayalah, tidak ada yang terjadi di sini." Jawabnya tenang.
"Percaya?" tanya Mirna dengan nada mencemooh. "Percaya, setelah aku mendengar ini semua? Bagaimana aku bisa percaya, Hermawan?"
Hendra melirik Arman dan Farah, memberikan sinyal halus. Farah segera merespons, mendekati Mirna dengan langkah hati-hati. "Bu, mungkin kita bisa membicarakan ini secara pribadi. Saya yakin Bapak tidak bermaksud buruk, tetapi situasinya memang terlihat... kurang pantas."
Hermawan melangkah maju, berdiri di antara Mirna dan Farah. "Aku tidak akan membiarkan kalian memanipulasi ini lebih jauh. Wanita ini butuh bantuan, itu saja."
"Siapa dia, Hermawan?" Mirna bertanya lagi, kali ini suaranya meninggi. "Jika kau tidak menyembunyikan apa pun, kenapa kau begitu defensif?"
Ketika keributan semakin memuncak, pintu ruang kesehatan terbuka. Aisyah, yang sedang duduk di ruang sebelah, terkejut mendengar suara gaduh di luar. Dia melangkah mendekat, penasaran, dan segera terdiam di ambang pintu begitu melihat siapa yang ada di depan.
Mirna menatapnya dengan mata terbelalak. Dengan pandangan penuh kebencian, dia berbalik langsung melangkah maju, menatap Farah dan Hendra yang berdiri dekat Arman.
"Jadi, dia yang kalian maksud? Wanita yang membuat keributan itu?" suara Mirna seperti gemuruh petir.
Mirna berdiri tegak, napasnya terengah-engah, amarahnya hampir meluap. Wajahnya memerah, otot-otot rahangnya tegang menahan kata-kata pedas yang siap keluar dari bibirnya. "Jangan kau kira aku bodoh, Farah!" serunya dengan suara yang semakin meninggi. "Kau benar-benar berani menuduh suamiku selingkuh! Apa kau pikir aku tidak bisa melihat niat busuk di balik setiap kata-katamu?"
Farah terlihat terdiam, tubuhnya sedikit gemetar, namun tetap berusaha menunjukkan ketenangan. "Bu Mirna, saya—" Farah mencoba berbicara, namun Mirna menoleh tajam, memotong kalimatnya.
"Diam!" kata Mirna dengan suara yang lebih dingin dari es, lalu menoleh ke arah Hendra.
"Dan kau, Hendra," lanjut Mirna. "Sebagai seorang pria yang seharusnya tahu sopan santun, kau malah ikut-ikutan dalam permainan murahan ini? Apa yang kau harapkan dari semua ini? Kenaikan jabatan? Uang? Penghormatan?"
"Kalian semua benar-benar punya nyali besar, Dan lebih parahnya, kalian menggunakan anakku sebagai alat permainan kotor ini?"
Farah, Hendra dan Arman terkejut dengan pernyataan Bu Mirna yang mengatakan jika Aisyah adalah Anaknya
"Anak? Aisyah anak Ib__" Ucapan Arman belum selesai.
"Iya, Aisyah anak saya, Arman!" Bu Mirna menatap Arman penuh kebencian.
Suasana makin mencekam. Farah dan Hendra saling melirik, mencari cara untuk meredakan situasi, tapi keduanya tahu tidak ada yang bisa menghentikan Mirna saat ia sudah semarah ini.
Namun, tiba-tiba, suara Hermawan memecah keheningan. "Cukup!" katanya dengan nada tegas. Semua orang langsung diam, termasuk Mirna.
Hermawan maju ke tengah ruangan, berdiri di samping istrinya. "Kalian semua perlu tahu satu hal," katanya, menatap tajam ke arah Farah, Hendra, dan Arman. "Aisyah bukan sekadar anakku. Dia adalah masa depan perusahaan ini. Dan aku telah memutuskan, mulai hari ini, Aisyah akan menjadi Direktur Utama perusahaan cabang ini."
Farah tampak terkejut, wajahnya seketika memucat. Hendra mengerutkan alis, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Sementara itu, Arman terlihat seperti dihantam pukulan telak.
"Apa?" Farah akhirnya bersuara, suaranya bergetar. "Aisyah... direktur? Tapi, Pak Hermawan, saya pikir—"
"Kau tidak perlu berpikir, Farah," potong Hermawan dengan nada tajam. "Keputusan ini bukan untuk diperdebatkan."
Mirna menatap putrinya, matanya melembut sejenak sebelum kembali menatap Farah dan Hendra. "Kalian dengar itu? Aisyah adalah masa depan perusahaan ini. Jadi jika ada yang mencoba menjatuhkannya atau mencemarkan nama baik keluargaku lagi, aku tidak akan tinggal diam."
Farah hanya bisa menunduk. Hendra tidak berkata apa-apa, sementara Arman tetap berdiri di tempatnya, wajahnya menunduk penuh penyesalan.
Farah, Hendra, dan Arman perlahan keluar dari ruangan kesehatan, masing-masing dengan ekspresi berbeda. Farah tampak panik, Hendra terlihat marah, dan Arman...
Bab 100. Kebahagiaan Sejati“Rendra, kamu yakin dekorasinya nggak terlalu berlebihan?” Aisyah memandang ruang pesta di ballroom hotel mewah di Jakarta, matanya menyipit meneliti setiap detail. Karangan bunga mawar putih dan emas menghiasi meja-meja bundar, lampu kristal berkilau di langit-langit, dan panggung kecil di ujung ruangan dihiasi tulisan emas: “Ulang Tahun Pernikahan Aisyah & Rendra – 5 Tahun Cinta Abadi.”Rendra, berdiri di sampingnya dengan setelan jas abu-abu yang rapi, tersenyum lebar. Wajahnya yang tampan dengan fitur kebarat-baratan memancarkan kebahagiaan. “Aisyah, ini hari spesial kita. Lima tahun pernikahan bukan waktu sebentar. Biar semua orang tahu betapa aku mencintaimu.”Aisyah tersipu, hijab biru lautnya yang elegan serasi dengan gaun panjangnya. “Kamu selalu tahu cara bikin aku merasa istimewa,” katanya lembut, lalu meraih tangan Rendra. “Tapi aku cuma mau kita rayakan ini bersama keluarga dan teman terdekat.”Ruangan mulai dipenuhi tamu. Ibu Mirna dan Pak Her
Bab 99. Warisan Aisyah“Aisyah, kamu yakin mau buka cabang yayasan di London? Itu langkah besar,” kata Rendra, duduk di sudut ruang kerja Aisyah yang luas, dengan pemandangan kota Jakarta dari jendela kaca besar di belakangnya. Meja kayu mahoni di depannya dipenuhi dokumen dan laptop, tanda kesibukan Aisyah mengelola Yayasan Aisyah yang kini jadi sorotan dunia.Aisyah menoleh dari layar laptopnya, hijab kremnya tersampir rapi di pundak. Matanya yang tegas memandang Rendra dengan penuh keyakinan. “Rendra, aku nggak cuma yakin, aku harus. Banyak wanita di luar sana butuh bantuan kita. London adalah langkah awal untuk go global.”Rendra tersenyum tipis, wajahnya yang tampan dengan rahang tegas sedikit memerah. “Kamu selalu punya visi besar. Aku cuma mau pastikan kamu nggak kelelahan. Yayasan ini sudah besar, Aisyah. Kamu sudah ubah hidup ribuan orang.”“Rendra, aku nggak sendiri. Ada kamu, timku, dan donatur yang percaya sama visiku,” jawab Aisyah, suaranya lembut tapi penuh tekad. “Lagi
Bab 98. Refleksi Masa Lalu“Dulu aku pikir hidupku berakhir saat Arman pergi dengan Farah,” kata Aisyah, suaranya lembut namun penuh makna. Ia duduk di sofa empuk di ruang keluarga apartemennya di Jakarta, memandang foto pernikahannya dengan Rendra yang terpajang di dinding. Hijab kremnya yang elegan membingkai wajah manis dengan kulit kuning langsat, matanya yang tegas kini dipenuhi kedamaian.Rendra, yang duduk di sampingnya dengan kemeja biru tua yang digulung hingga siku, tersenyum kecil. Wajahnya yang kebarat-baratan tampak lembut di bawah cahaya lampu ruangan. “Tapi lihat kamu sekarang, Sayang. Dari wanita yang disia-siakan jadi inspirasi jutaan orang. Aku bangga sekali.”Aisyah menoleh, memegang tangan Rendra. “Aku nggak akan sampai di sini tanpa kamu, Ren. Kamu yang selalu ada, bahkan saat aku hampir menyerah.”Rendra mencium punggung tangan Aisyah. “Dan kamu yang membuatku ingin jadi pria yang lebih baik setiap hari. Kita saling menguatkan.”Ponsel Aisyah bergetar di meja kac
Bab 97. Kemenangan Cinta Aisyah“Kamu tahu nggak, Ren, kalau tiga tahun lalu aku nggak pernah bayangin kita akan berdiri di sini, merayakan ini?” Aisyah berkata, suaranya lembut namun penuh emosi. Ia berdiri di samping Rendra di tepi kolam renang vila mewah di Anyer, mengenakan gaun panjang berwarna emerald dan hijab senada yang membingkai wajah manisnya dengan kulit kuning langsat. Ia menggenggam tangan Aisyah, matanya penuh cinta. “Tiga tahun, Sayang. Dan setiap hari bersamamu rasanya seperti anugerah.”Aisyah tertawa kecil, matanya yang tegas melembut. “Kamu selalu tahu cara bikin aku meleleh. Tapi serius, Ren, setelah semua yang kita lalui—drama dengan Farah, Bella, Hendra—kita masih di sini, lebih kuat.”Rendra mencium kening Aisyah. “Karena kita nggak cuma pasangan, Aisyah. Kita tim. Dan tim kita nggak terkalahkan.”Di belakang mereka, meja makan dihias dengan lilin dan bunga mawar putih. Ibu Mirna dan Pak Hermawan duduk di sana, tersenyum melihat anak dan menantu mereka. Ibu
Bab 96. Aisyah dan Rendra di Uji“Kamu tahu sudah berapa lama kita nggak makan malam berdua, Sayang?” tanya Rendra, suaranya lembut namun ada nada lelah di dalamnya. Ia duduk di sofa ruang tamu apartemen mereka di Jakarta, dasinya sedikit longgar setelah seharian bekerja. Cahaya lampu kota menyelinap melalui jendela besar, menerangi wajah tampannya yang kebarat-baratan.Aisyah, yang baru saja masuk dengan blazer hitam dan hijab abu-abu elegan, menoleh dari meja tempat ia meletakkan tasnya. Matanya yang tegas melembut melihat suaminya. “Maaf, Ren. Pekan ini benar-benar padat. Rapat dengan investor, persiapan cabang baru… aku janji, besok kita luangkan waktu.”Rendra tersenyum tipis, tapi ada keraguan di matanya. “Besok kamu ada undangan dari Kementerian Perdagangan, Aisyah. Kapan kita punya waktu untuk kita?”Aisyah terdiam, merasakan tusukan kecil di dadanya. Ia berjalan mendekati Rendra, duduk di sampingnya, dan meraih tangannya. “Kamu benar. Aku terlalu terbawa pekerjaan. Apa kalau
Bab 95. Ancaman dari Masa Lalu“Kamu pikir bisa lolos begitu saja, Aisyah? Aku tahu rahasia Amarta Grub yang bisa menghancurkanmu!” Suara serak di ujung telepon membuat Aisyah menegang. Ia berdiri di balkon apartemennya di Jakarta, memandang lampu-lampu kota yang berkelap-kelip di malam hari. Hijab cokelat mudanya sedikit tertiup angin, namun matanya yang tegas tetap fokus.“Siapa ini?” tanya Aisyah, suaranya dingin namun terkendali. “Jangan main-main dengan ancaman kosong.”Penelepon tertawa sinis. “Aku Budi, mantan anak buah Hendra. Aku punya dokumen yang membuktikan Amarta Grub menyembunyikan pajak di Singapura. Bayar aku 5 miliar, atau dokumen ini sampai ke media.”Aisyah menarik napas dalam, mencoba menahan amarah. “Kamu pikir aku takut? Kirim bukti itu sekarang, atau aku yang akan melacakmu.”Telepon terputus. Aisyah menatap ponselnya, jantungan berdetak kencang. Rendra, yang baru saja masuk dari ruang tamu, melihat ekspresi istrinya dan segera mendekat. “Ada apa, Sayang? Wajahm