Masuk"Apa kamu mau nunggu sampai Ibu gak ada, baru kamu mau pulang, Ra?! Ibu terus menanyaimu, dan kondisi Ibu benar-benar lagi gak sehat. Tega kamu gak mau datang buat jenguk Ibu!"
Terdengar suara keras penuh kekesalan dari seberang telepon, dari seorang pria yang geram ketika mendengar ucapan adiknya yang tidak bisa datang untuk menjenguk ibu mereka, terlebih Ibu hanya tinggal satu-satunya orang tua yang mereka miliki. Dia tidak akan semarah ini jika ibunya sedang tidak kritis. Dia takut jika adik perempuannya tidak sempat melihat ibunya untuk terakhir kali, begitu juga sebaliknya. Ibunya sangat ingin bertemu dengan Ara dan terus memanggil anak perempuan satu-satunya di keluarganya. Betapa kesalnya dia ketika berharap adik perempuannya itu bisa datang ke desa menjenguk sang ibu, namun adiknya mengatakan tidak bisa datang. Dia merasa untuk kali ini, Ara sudah keterlaluan setelah berkali-kali membatalkan janji temu untuk menjenguk ibu mereka. Ara menangis tersedu di tempatnya. "Mas, aku bukan enggak mau datang..." ucapannya terhenti, tenggorokannya seakan tercekat ketika ingin melanjutkan ucapannya kembali. "Mas, aku juga mau jenguk Ibu. Ta-tapi Mas Dimas..." "Suamimu itu tidak mengizinkan lagi?!" ucap Reno kesal, seolah bisa menebak apa yang akan dikatakan adiknya selanjutnya. Wajah Ara tertunduk sedih, juga malu ketika mendengar ucapan kakak sulungnya. "Ara u-udah jadi seorang istri, Mas. Ara harus nurut sama suami" lirihnya. Terdengar suara helaan napas kasar dari seberang telepon. "Ini yang Mas gak suka sama yang namanya jodoh-perjodohan!" "Mas sudah bilang sama almarhum Abah untuk membatalkan perjodohan kamu sama Dimas! Toh, gak semua wasiat harus dijalankan jika bukan sebuah syariat yang mutlak!" "Sekarang lihat, kan?! Suami kamu itu semena-mena memperlakukan kamu! Apa sih bagusnya si Dimas itu?! Kaya? Keluarga kita juga sudah bisa dikatakan lebih dari mampu, meski cuma orang desa. Ganteng?" "Toh, bukan dia satu-satunya laki-laki ganteng di dunia ini! Pemuda di desa di sini juga banyak yang ganteng, tinggal dipermak dikit aja!" "Astagfirullah. Gara-gara suami kamu, Mas hampir aja kedengeran kaya orang sombong. Suami kamu itu benar-benar, ya!" "Apa dia gak punya rasa simpati sama ibu mertuanya sendiri?! Kamu mau jenguk ibu kandung kamu yang sakit aja gak diizinin! Apa suami kamu itu..., ya Allah, Ara!" "Kalau aja Mas gak ingat nasihat Abah tentang rumah tangga. Kalau aja Mas gak ingat soal agama, demi Allah Mas mau nyeret kamu pulang dan suruh kamu bercerai dari suami kayak Dimas!" "Mas gak rela adik Mas menderita gara-gara nikah sama laki-laki modelan suami kamu itu! Astagfirullah, maafkan hamba, ya Allah!" geram Reno mengusap wajah kasar mengingat nasib adiknya. Wajah Ara semakin tertunduk dalam, dengan bibir yang semakin bergetar. "Ma-maafin Ara, Mas," lirihnya terisak pelan. "A-Ara, hiks. Ara gak bisa pulang jenguk Ibu. Maafin Ara" ujarnya semakin menangis. Reno menggertakkan gigi kesal ketika mendengar adiknya menangis. Kemarahan di hatinya hilang dalam sekejap, ketika mendengar kesedihan adiknya. Namun, kemarahannya kembali membuncah ketika mengingat tingkah adik iparnya yang tidak pernah menghargai adiknya maupun keluarganya. Meskipun Ara tidak pernah mengatakan apa pun kepadanya, namun sebagai kakak yang memiliki ikatan batin, juga dapat melihat tingkah Dimas setiap kali mereka bertemu di acara keluarga, dia tahu ada yang salah dari sikap adik iparnya meskipun Dimas selalu menutupinya dengan berpura-pura bersikap baik selama ini. Jika Dimas seorang pria, maka dia pun seorang pria. Dirinya lebih peka dan jeli ketika melihat seorang pria yang bertabiat buruk, mencoba menutupi keburukannya. Tidak seperti wanita yang selalu memakai perasaan, namun perasaan itu terkadang memberikan kesan bias hingga pria jelek sekalipun akan terlihat baik di mata wanita, apalagi jika sang pria pandai memanipulasi. Reno menghela napas kasar. "Ara, apa kamu bahagia menikah dengan Dimas?" tanyanya, lalu tidak lama merutuki dirinya sendiri, ketika menyadari sebuah pertanyaan konyol keluar dari mulutnya, yang sebenarnya sudah dengan jelas dia mengetahui jawabannya. Terdengar hening selama beberapa saat di seberang telepon, kecuali hanya isak tangis yang memecah keheningan di antara kedua kakak adik yang sedang berada di tempat berjauhan itu. "Mas, kalau Ara jadi janda, apa Mas dan yang lainnya masih mau menerima dan mau menampung Ara kembali, jika Ara pulang ke rumah?" lirih Ara bertanya kembali kepada kakak sulungnya dengan bibir bergetar menahan rasa pahit yang membanjiri hatinya. Reno menghirup napas dalam ketika mendengar pertanyaan adiknya. Dia tahu pasti pernikahan adiknya tidak bahagia. Mungkin tidak akan pernah bahagia jika sikap Dimas tidak berubah. "Sampai kapan pun kamu akan selalu menjadi adik, kakak, dan anak dari Abah serta Ibu. Kamu akan tetap menjadi bagian dari keluarga kami, baik sudah menikah maupun bercerai. Sebelum menikah, perempuan adalah milik ayahnya. "Setelah menikah, perempuan menjadi milik suaminya. Bahkan bakti seorang perempuan harus lebih mendahulukan suaminya daripada keluarganya" "Setelah bercerai, perempuan akan kembali menjadi tanggung jawab ayahnya dan saudara laki-lakinya" "Ara, Kakak tahu kalau seorang perempuan harus berbakti dan memprioritaskan suaminya" "Tapi, kalau suami kamu zalim dengan memanfaatkan kedudukannya sebagai seorang suami, kalau kamu gak kuat, kamu bisa kembali ke rumah" "Kakak masih sanggup menanggung biaya hidup kamu sampai kamu menemukan kebahagiaan yang baru. Adik, Kakak yang perempuan cuma kamu satu-satunya" "Kalau bukan Kakak yang melindungi kamu, mau siapa lagi? Abah udah gak ada. Walaupun Bima udah gede, dia masih remaja dan belum bisa bertanggung jawab untuk masalah seperti ini" "Ara, kalau kamu gak kuat, kamu boleh pulang" jawab Reno mendongakkan wajahnya ke atas, agar air matanya tidak tumpah ketika mendengar suara tangis pilu dari adik perempuannya. "Ara mau pulang, Kak. Ara mau pulang! Hiks," jerit Ara menangis pilu ketika mendengar jawaban dari mulut kakaknya yang seakan membawa angin segar akan kehampaan dan kekecewaan hatinya ketika terus memilih bertahan hidup dengan suaminya yang begitu menyiksa batinnya. Selama ini, kesusahan dan kegundahan hatinya dia pendam sendiri, karena takut jika dia memutuskan untuk meminta berpisah dari suaminya, keluarganya akan menentang. Bagaimanapun, orang-orang di desanya masih memiliki stigma negatif jika ada seorang wanita yang pulang dengan membawa status janda. Dia tidak ingin dirinya maupun keluarganya mendapatkan stigma negatif ketika dia membawa status itu ketika kembali ke desa. Namun, perlakuan suaminya dan keluarga mertuanya yang semakin menjadi-jadi setiap harinya, membuat dia terus memilih bertahan meskipun batinnya begitu tersiksa. Dan sekarang, dia tidak kuat lagi menahan siksaan batin itu semua. Terlebih ketika mendengar ibunya sedang kritis, namun Dimas suaminya memilih tidak percaya, dan berpikir apa yang dikatakannya hanya sebuah alasan untuk mangkir dari tanggung jawab sebagai seorang istri dan menantu. "Ara mau pulang, Kak! Ara gak kuat! Hiks" ujar Ara terisak kencang. "Pulanglah, Ara. Kamu bisa pulang. Rumah kita selalu terbuka untuk kamu. Jangan pikirin apa kata orang. Jangan pikirin apa kata keluarga yang lain. Kamu adik Kakak! Anak Abah dan Ibu! Kamu, kakak perempuan dari Bima!" "Selain itu, kamu gak perlu dengerin apa kata orang! Kakak dan Bima masih bisa ngelindungi dan bahagiain kamu, kalau Dimas gak bisa lakuin itu sebagai seorang suami," jawab Reno. "Tunggu Kakak, Ara. Kakak yang akan membawa kamu pulang ke rumah kita. Kamu dibawa dengan hormat oleh keluarga suamimu saat memasuki rumah mereka, maka Kakak juga akan membawa kamu pulang dengan hormat yang sama seperti saat kami menyerahkanmu kepada mereka!" tegas Reno.Hari keputusan sidang cerai tiba. Ara datang didampingi bersama dengan Reno dan Bima. Sedangkan Dimas juga datang bersama dengan anggota keluarganya secara lengkap. Pak Doni, Bu Salamah dan Shinta datang bukan hanya untuk memberi dukungan kepada Dimas, tapi juga untuk menyelesaikan ganjalan hati yang ada. Dimas dan Ara akhirnya secara sah bercerai. Masalah harta gono-gini pun diselesaikan tanpa banyak perdebatan. Dimas dan keluarganya mencoba mengikhlaskan apa yang menjadi milik Ara. Mereka pun sadar tidak memiliki hak atas itu. “Ara!” panggil Dimas kepada Ara setelah selesai keluar dari ruang sidang. Ara menoleh. Ia menatap Dimas yang mendekat dengan ragu, apa dia harus membalas sapaan itu atau tidak. Reno dan Bima berdiri di sisi kiri dan kanan Ara untuk melindungi saudara perempuan mereka itu dari Dimas. Dimas menatap Ara. Setelah berpisah dengannya, Ara justru makin terlihat cantik. Seketika ia menyesal. Bukankah Ara harusnya bisa secantik ini jika ia bisa mengurus dan me
“Jadi anak yang ada di dalam kandungan Cika itu bukan anak kamu! Bukan cucu Ibu!” teriak Bu Salamah marah. Jika tubuhnya tidak ditahan suaminya, ia sudah menerjang Cika. Dimas mengangguk lesu dan menunduk. “Iya, Bu! Lont* ini sudah nipu aku habis-habisan!” Dimas lalu menceritakan semua pengakuan Cika sebelumnya. Wajah Pak Doni menggelap. Tatapannya tajam mengarah ke Cika. Cika makin menciut dalam pelukan Alex. “A-aku enggak maksud nipu. Dimas sendiri yang kepincut sama aku. Dia juga yang sukarela nikahin aku. Aku cuma bilang anak ini anaknya, dia yang percaya” bela Cika. Wajah orang-orang berubah. Terutama Dimas dan keluarganya yang menatap Cika dengan amarah terbuka. Simpati yang semula mengarah pada Cika perlahan bergeser ke Dimas. Meski begitu, tindakan Dimas yang sempat hampir mencelakai Cika tetap tidak bisa diabaikan. Bu Salamah tak lagi mampu menahan diri. Ia menerjang Cika. Keributan kembali pecah. “Dasar lont*! Beraninya kamu bohongin anak saya! Gara-gara kamu rumah t
Dimas sungguh tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Ia sudah mempertaruhkan segalanya demi menikahi Cika. Nama baiknya di mata keluarga hancur karena ia menikahi perempuan yang reputasinya tidak baik. Ia terpaksa membohongi Ara dan bermain di belakang istrinya demi bersama istri keduanya. Yang paling menyakitkan, anak yang selama ini ia tunggu kelahirannya dari rahim Cika, yang ia kira darah dagingnya sendiri, ternyata milik pria lain. Walaupun Cika dikenal tidak baik, demi anak dalam kandungannya yang ia yakini sebagai anaknya, Dimas tetap menyambut kehadiran itu dengan bahagia. Bukan hanya dirinya yang menunggu kelahiran anak itu, tapi juga ibu dan keluarganya. Namun semua harapan itu ternyata hanya tipuan. Karena Cika pula, ia kehilangan Ara. Mata Cika melotot saat lehernya terce*k oleh tangan Dimas. Ia memukul tangan pria itu berusaha melepaskan cekikan. “M-Mas lepas! K-Kamu gila! Kamu mau bun*h aku!” ucap Cika tersendat, nyaris kehabisan napas. Alih-alih melepaskan, cen
"Kata pengacara, mereka yakin sebentar lagi perceraian kamu sama Dimas bukan cuma mimpi, tapi juga akan dikabulin secepatnya. Saksi dan bukti kita kuat. Kita cuma perlu nunggu putusan sidang selanjutnya" "Bukan cuma itu. Selain bercerai, mas akan pastiin kamu dapat hak kamu yaitu pembagian harta gono-gini. Mas masih ingat kamu dapat mahar cukup besar dari pihak keluarga Dimas, terutama mahar jaminan dari pihak kakek Dimas yang dijanjikan akan menjadi milikmu setelah kau menikah dengan anggota keluarga mereka" ujar Reno kepada Ara. Ara awalnya hanya ingin bercerai dan tidak memikirkan apapun selain itu, termasuk harta gono gini. Mengingat tabiat suaminya yang sebentar lagi akan jadi mantan serta tabiat ibu mertuanya, ia tidak yakin mereka akan memberikan hak itu. Ia bahkan takut perceraiannya dipersulit jika ingin meminta lebih walau itu adalah haknya sendiri. Namun dengan dukungan dan pengertian kakak sulungnya, ia setuju untuk memperjuangkan itu. Toh yang diperjuangkan itu adala
“Pah, Papa maafin Dimas, kan? Dimas nyesel sudah bikin Papa marah” ujar Dimas kepada ayahnya. Pak Doni menghela napas panjang. Ia menatap anaknya dengan perasaan campur aduk. Kesal, tapi juga kasihan. Meski Dimas bukan anak kandungnya, dialah yang membesarkan Dimas sejak kecil. “Papa masih marah sama kamu, apalagi urusan rumah tanggamu dan Ara belum jelas. Tapi mau gimana lagi. Walaupun kamu bukan anak kandung Papa, Papa yang besarin kamu seperti anak sendiri. Dimas, kamu sudah mengecewakan Papa” “Tapi Papa juga enggak tega terus marah dan mukul kamu. Kamu sudah dewasa. Lagipula kemarin kamu sudah dapat pelajaran sampai masuk penjara” “Sekarang Papa cuma minta satu. Ubah sikap kamu, terutama mulutmu yang pedas itu. Jangan asal bicara. Dan jangan pernah nyakitin Shinta!” peringat Pak Doni. Dimas mendengus dalam hati. Lagi-lagi Shinta. Selalu Shinta. Bahkan di tengah masalahnya sendiri, ayahnya tetap memikirkan Shinta. Ia tahu Shinta adalah anak kandung Papa, sementara dirinya anak
Dimas pun terdiam. Ia jadi serba salah. Ia tidak menyangka jika masalah rumah tangganya berdampak ke masalah rumah tangga kedua orang tuanya. Dimas memeluk ibunya."Ma, maafin Dimas. Waktu itu Dimas emosi, ngira Papa pilih kasih sama Dimas dan Shinta sampai nyangka kalau Dimas bukan anak kandung Papa. Tapi tebakan Dimas taunya bener. Dimas juga sebenarnya masih terkejut dengan masalah ini""Kalau dipikir lagi, emang wajar aja papa lebih sayang ke Shinta dibandingkan Dimas kalau memang kenyataannya begitu. Dimas bukan anak kandung Papa. Kalau Dimas di posisi Papa mungkin Dimas gak akan begitu legowo besarin anak dari orang lain" "Dimas nyesel udah bikin Papa kesel selama ini. Kalau tau sejak awal, Dimas pasti bakal hati-hati. Dimas juga gak bisa nyangkal kalau Dimas tumbuh besar begini karena jasa Papa juga. Nanti Dimas coba cari cara untuk minta maaf sama papa. Mungkin aja kalau Dimas minta maaf sama papa, papa gak bakal bersikap dingin lagi sama mama""Cuma soal Dimas dan Ara, kayan







