Share

2

Author: Vivohilolove
last update Huling Na-update: 2024-12-11 21:12:33

"Apa kamu mau nunggu sampai Ibu gak ada, baru kamu mau pulang, Ra?! Ibu terus menanyaimu, dan kondisi Ibu benar-benar lagi gak sehat. Tega kamu gak mau datang buat jenguk Ibu!"

Terdengar suara keras penuh kekesalan dari seberang telepon, dari seorang pria yang geram ketika mendengar ucapan adiknya yang tidak bisa datang untuk menjenguk ibu mereka, terlebih Ibu hanya tinggal satu-satunya orang tua yang mereka miliki.

Dia tidak akan semarah ini jika ibunya sedang tidak kritis. Dia takut jika adik perempuannya tidak sempat melihat ibunya untuk terakhir kali, begitu juga sebaliknya.

Ibunya sangat ingin bertemu dengan Ara dan terus memanggil anak perempuan satu-satunya di keluarganya.

Betapa kesalnya dia ketika berharap adik perempuannya itu bisa datang ke desa menjenguk sang ibu, namun adiknya mengatakan tidak bisa datang.

Dia merasa untuk kali ini, Ara sudah keterlaluan setelah berkali-kali membatalkan janji temu untuk menjenguk ibu mereka.

Ara menangis tersedu di tempatnya. "Mas, aku bukan enggak mau datang..." ucapannya terhenti, tenggorokannya seakan tercekat ketika ingin melanjutkan ucapannya kembali. "Mas, aku juga mau jenguk Ibu. Ta-tapi Mas Dimas..."

"Suamimu itu tidak mengizinkan lagi?!" ucap Reno kesal, seolah bisa menebak apa yang akan dikatakan adiknya selanjutnya.

Wajah Ara tertunduk sedih, juga malu ketika mendengar ucapan kakak sulungnya. "Ara u-udah jadi seorang istri, Mas. Ara harus nurut sama suami" lirihnya.

Terdengar suara helaan napas kasar dari seberang telepon. "Ini yang Mas gak suka sama yang namanya jodoh-perjodohan!"

"Mas sudah bilang sama almarhum Abah untuk membatalkan perjodohan kamu sama Dimas! Toh, gak semua wasiat harus dijalankan jika bukan sebuah syariat yang mutlak!"

"Sekarang lihat, kan?! Suami kamu itu semena-mena memperlakukan kamu! Apa sih bagusnya si Dimas itu?! Kaya? Keluarga kita juga sudah bisa dikatakan lebih dari mampu, meski cuma orang desa. Ganteng?"

"Toh, bukan dia satu-satunya laki-laki ganteng di dunia ini! Pemuda di desa di sini juga banyak yang ganteng, tinggal dipermak dikit aja!"

"Astagfirullah. Gara-gara suami kamu, Mas hampir aja kedengeran kaya orang sombong. Suami kamu itu benar-benar, ya!"

"Apa dia gak punya rasa simpati sama ibu mertuanya sendiri?! Kamu mau jenguk ibu kandung kamu yang sakit aja gak diizinin! Apa suami kamu itu..., ya Allah, Ara!"

"Kalau aja Mas gak ingat nasihat Abah tentang rumah tangga. Kalau aja Mas gak ingat soal agama, demi Allah Mas mau nyeret kamu pulang dan suruh kamu bercerai dari suami kayak Dimas!"

"Mas gak rela adik Mas menderita gara-gara nikah sama laki-laki modelan suami kamu itu! Astagfirullah, maafkan hamba, ya Allah!" geram Reno mengusap wajah kasar mengingat nasib adiknya.

Wajah Ara semakin tertunduk dalam, dengan bibir yang semakin bergetar. "Ma-maafin Ara, Mas," lirihnya terisak pelan. "A-Ara, hiks. Ara gak bisa pulang jenguk Ibu. Maafin Ara" ujarnya semakin menangis.

Reno menggertakkan gigi kesal ketika mendengar adiknya menangis. Kemarahan di hatinya hilang dalam sekejap, ketika mendengar kesedihan adiknya.

Namun, kemarahannya kembali membuncah ketika mengingat tingkah adik iparnya yang tidak pernah menghargai adiknya maupun keluarganya.

Meskipun Ara tidak pernah mengatakan apa pun kepadanya, namun sebagai kakak yang memiliki ikatan batin, juga dapat melihat tingkah Dimas setiap kali mereka bertemu di acara keluarga, dia tahu ada yang salah dari sikap adik iparnya meskipun Dimas selalu menutupinya dengan berpura-pura bersikap baik selama ini.

Jika Dimas seorang pria, maka dia pun seorang pria. Dirinya lebih peka dan jeli ketika melihat seorang pria yang bertabiat buruk, mencoba menutupi keburukannya.

Tidak seperti wanita yang selalu memakai perasaan, namun perasaan itu terkadang memberikan kesan bias hingga pria jelek sekalipun akan terlihat baik di mata wanita, apalagi jika sang pria pandai memanipulasi.

Reno menghela napas kasar. "Ara, apa kamu bahagia menikah dengan Dimas?" tanyanya, lalu tidak lama merutuki dirinya sendiri, ketika menyadari sebuah pertanyaan konyol keluar dari mulutnya, yang sebenarnya sudah dengan jelas dia mengetahui jawabannya.

Terdengar hening selama beberapa saat di seberang telepon, kecuali hanya isak tangis yang memecah keheningan di antara kedua kakak adik yang sedang berada di tempat berjauhan itu.

"Mas, kalau Ara jadi janda, apa Mas dan yang lainnya masih mau menerima dan mau menampung Ara kembali, jika Ara pulang ke rumah?" lirih Ara bertanya kembali kepada kakak sulungnya dengan bibir bergetar menahan rasa pahit yang membanjiri hatinya.

Reno menghirup napas dalam ketika mendengar pertanyaan adiknya. Dia tahu pasti pernikahan adiknya tidak bahagia. Mungkin tidak akan pernah bahagia jika sikap Dimas tidak berubah.

"Sampai kapan pun kamu akan selalu menjadi adik, kakak, dan anak dari Abah serta Ibu. Kamu akan tetap menjadi bagian dari keluarga kami, baik sudah menikah maupun bercerai. Sebelum menikah, perempuan adalah milik ayahnya.

"Setelah menikah, perempuan menjadi milik suaminya. Bahkan bakti seorang perempuan harus lebih mendahulukan suaminya daripada keluarganya"

"Setelah bercerai, perempuan akan kembali menjadi tanggung jawab ayahnya dan saudara laki-lakinya"

"Ara, Kakak tahu kalau seorang perempuan harus berbakti dan memprioritaskan suaminya"

"Tapi, kalau suami kamu zalim dengan memanfaatkan kedudukannya sebagai seorang suami, kalau kamu gak kuat, kamu bisa kembali ke rumah"

"Kakak masih sanggup menanggung biaya hidup kamu sampai kamu menemukan kebahagiaan yang baru. Adik, Kakak yang perempuan cuma kamu satu-satunya"

"Kalau bukan Kakak yang melindungi kamu, mau siapa lagi? Abah udah gak ada. Walaupun Bima udah gede, dia masih remaja dan belum bisa bertanggung jawab untuk masalah seperti ini"

"Ara, kalau kamu gak kuat, kamu boleh pulang" jawab Reno mendongakkan wajahnya ke atas, agar air matanya tidak tumpah ketika mendengar suara tangis pilu dari adik perempuannya.

"Ara mau pulang, Kak. Ara mau pulang! Hiks," jerit Ara menangis pilu ketika mendengar jawaban dari mulut kakaknya yang seakan membawa angin segar akan kehampaan dan kekecewaan hatinya ketika terus memilih bertahan hidup dengan suaminya yang begitu menyiksa batinnya.

Selama ini, kesusahan dan kegundahan hatinya dia pendam sendiri, karena takut jika dia memutuskan untuk meminta berpisah dari suaminya, keluarganya akan menentang.

Bagaimanapun, orang-orang di desanya masih memiliki stigma negatif jika ada seorang wanita yang pulang dengan membawa status janda.

Dia tidak ingin dirinya maupun keluarganya mendapatkan stigma negatif ketika dia membawa status itu ketika kembali ke desa.

Namun, perlakuan suaminya dan keluarga mertuanya yang semakin menjadi-jadi setiap harinya, membuat dia terus memilih bertahan meskipun batinnya begitu tersiksa.

Dan sekarang, dia tidak kuat lagi menahan siksaan batin itu semua. Terlebih ketika mendengar ibunya sedang kritis, namun Dimas suaminya memilih tidak percaya, dan berpikir apa yang dikatakannya hanya sebuah alasan untuk mangkir dari tanggung jawab sebagai seorang istri dan menantu.

"Ara mau pulang, Kak! Ara gak kuat! Hiks" ujar Ara terisak kencang.

"Pulanglah, Ara. Kamu bisa pulang. Rumah kita selalu terbuka untuk kamu. Jangan pikirin apa kata orang. Jangan pikirin apa kata keluarga yang lain. Kamu adik Kakak! Anak Abah dan Ibu! Kamu, kakak perempuan dari Bima!"

"Selain itu, kamu gak perlu dengerin apa kata orang! Kakak dan Bima masih bisa ngelindungi dan bahagiain kamu, kalau Dimas gak bisa lakuin itu sebagai seorang suami," jawab Reno.

"Tunggu Kakak, Ara. Kakak yang akan membawa kamu pulang ke rumah kita. Kamu dibawa dengan hormat oleh keluarga suamimu saat memasuki rumah mereka, maka Kakak juga akan membawa kamu pulang dengan hormat yang sama seperti saat kami menyerahkanmu kepada mereka!" tegas Reno.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Istri Yang Tidak Di Inginkan    TAMAT

    Hari keputusan sidang cerai tiba. Ara datang didampingi bersama dengan Reno dan Bima. Sedangkan Dimas juga datang bersama dengan anggota keluarganya secara lengkap. Pak Bayu, Bu Salamah dan Shinta datang bukan hanya untuk memberi dukungan kepada Dimas, tapi juga untuk menyelesaikan ganjalan hati yang ada.Dimas dan Ara akhirnya secara sah bercerai. Masalah harta gono-gini pun diselesaikan tanpa banyak perdebatan. Dimas dan keluarganya mencoba mengikhlaskan apa yang menjadi milik Ara. Mereka pun sadar tidak memiliki hak atas itu. "Ara!" Panggil Dimas kepada Ara setelah selesai keluar dari ruang sidang.Ara menoleh. Ia menatap Dimas yang mendekat dengan ragu, apa dia harus membalas sapaan itu atau tidak.Reno dan Bima berdiri di sisi kiri dan kanan Ara untuk melindungi saudara perempuan mereka itu dari Dimas. Dimas menatap Ara. Setelah berpisah dengannya, Ara justru makin terlihat cantik. Seketika ia menyesal. Bukankah Ara harusnya bisa secantik ini jika ia bisa mengurus dan mengharg

  • Istri Yang Tidak Di Inginkan    66

    "Jadi anak yang ada di dalam kandungan Cika itu bukan anak kamu?! Bukan cucu ibu?!" Bu Salamah berteriak marah. Jika saja tubuhnya tidak ditahan oleh suaminya, ia sudah melompat untuk menerjang Cika dan memberi pelajaran. Dimas mengangguk lesu dan malu."Iya Bu! Lont* ini udah nipu aku habis-habisan! Dimas menceritakan apa yang sebelumnya Cika beritahu padanya. Wajah pak Bayu kelam. Ia menatap Cika tajam. Sedangkan Cika sendiri semakin menciut di pelukan Alex. "A-aku gak maksud nipu. Dimas sendiri yang kepincut sama aku. Dia juga yang sukarela nikahin aku. Salah siapa aku bilang anak dalam perut ini adalah anaknya, ia malah percaya" ujar Cika membela diri. Wajah semua orang berubah, terutama Dimas dan keluarganya yang seakan ingin melahap tubuh Cika hidup-hidup. Mereka yang awalnya simpati kepada Cika, kini berubah simpati kepada Dimas. Meskipun masalah Dimas yang membuat keributan sampai ingin mencelakai Cika tidak bisa diabaikan begitu saja. Bu Salamah tidak bisa mena

  • Istri Yang Tidak Di Inginkan    65

    Dimas sungguh tidak percaya apa yang didengarnya. Ia sudah mempertaruhkan segalanya demi menikahi Cika. Nama baik di mata keluarganya karena menikahi seorang wanita tidak benar. Lalu ia terpaksa membohongi Ara dan bermain dibelakang istrinya ketika harus bersama dengan istri keduanya ini. Dan yang terpenting adalah anak yang telah ia tunggu kelahirannya dari rahim Cika yang ia kira adalah anak kandungnya ternyata itu adalah anak milik pria lain. Walaupun Cika selama ini memiliki reputasi yang tidak baik, tapi demi anak yang ada di dalam kandungan Cika yang ia pikir anaknya, ia tetap bersuka cita atas kehadiran buah hati itu. Bukan hanya dia yang menunggu kelahiran anak ini, tapi juga ibu dan keluarganya. Tapi apa? Semua hal yang ia tunggu ternyata hanya sebuah tipuan. Karena Cika pula ia kehilangan istrinya Ara. Mata Cika melotot ketika merasakan lehernya tercek*k oleh tangan Dimas. Ia terus memukul tangan Dimas agar melepaskan jeratan dari lehernya. "M-Mas lepas! K-Kamu gil

  • Istri Yang Tidak Di Inginkan    64

    "Kata pengacara, mereka yakin sebentar lagi perceraian kamu sama Dimas bukan cuma mimpi, tapi juga akan dikabulin secepatnya. Saksi dan bukti kita kuat. Kita cuma perlu nunggu putusan sidang selanjutnya" "Bukan cuma itu. Selain bercerai, mas akan pastiin kamu dapat hak kamu yaitu pembagian harta gono-gini. Mas masih ingat kamu dapat mahar cukup besar dari pihak keluarga Dimas, terutama mahar jaminan dari pihak kakek Dimas yang dijanjikan akan menjadi milikmu setelah kau menikah dengan anggota keluarga mereka" ujar Reno kepada Ara. Ara awalnya hanya ingin bercerai dan tidak memikirkan apapun selain itu, termasuk harta gono gini. Mengingat tabiat suaminya yang sebentar lagi akan jadi mantan serta tabiat ibu mertuanya, ia tidak yakin mereka akan memberikan hak itu. Ia bahkan takut perceraiannya dipersulit jika ingin meminta lebih walau itu adalah haknya sendiri. Namun dengan dukungan dan pengertian kakak sulungnya, ia setuju untuk memperjuangkan itu. Toh yang diperjuangkan itu adala

  • Istri Yang Tidak Di Inginkan    63

    "Pah, papa maafin Dimas kan? Dimas nyesel udah buat papa marah" ujar Dimas kepada ayahnya. Pak Bayu menghela nafas panjang. Ia menatap anaknya kesal, sekaligus kasihan. Meski Dimas bukan anak kandungnya, tapi ini adalah anak yang ia besarkan sendiri. "Papa masih marah sama kamu, apalagi nasib rumah tanggamu dan Ara belum jelas. Tapi ya mau gimana lagi. Biar kamu bukan anak kandung Papa, papa yang udah besarin kamu kaya anak sendiri. Dimas, kamu udah mengecewakan Papa" "Tapi papa juga gak tega buat marah dan mukul kamu lagi. Lagian kamu juga udah gede. Bisa dibilang kemarin-kemarin kamu udah dapet pelajaran sampai masuk penjara" "Sekarang papa cuma minta sama kamu untuk ubah sikap kamu itu. Terutama mulutmu yang pedas itu. Lain kali jangan asal bicara dan jangan pernah nyakitin Shinta!" Peringat papa Dimas. Dimas mendengus di dalam hati. Lagi-lagi Shinta! Lagi-lagi Shinta! Bahkan ditengah masalahnya tetap saja yang dipikirkan oleh ayahnya adalah Shinta! Ia tahu kalau Shinta ad

  • Istri Yang Tidak Di Inginkan    BAB 62

    Dimas pun terdiam. Ia jadi serba salah. Ia tidak menyangka jika masalah rumah tangganya berdampak ke masalah rumah tangga kedua orang tuanya. Dimas memeluk ibunya."Ma, maafin Dimas. Waktu itu Dimas emosi, ngira Papa pilih kasih sama Dimas dan Shinta sampai nyangka kalau Dimas bukan anak kandung Papa. Tapi tebakan Dimas taunya bener. Dimas juga sebenarnya masih terkejut dengan masalah ini""Kalau dipikir lagi, emang wajar aja papa lebih sayang ke Shinta dibandingkan Dimas kalau memang kenyataannya begitu. Dimas bukan anak kandung Papa. Kalau Dimas di posisi Papa mungkin Dimas gak akan begitu legowo besarin anak dari orang lain" "Dimas nyesel udah bikin Papa kesel selama ini. Kalau tau sejak awal, Dimas pasti bakal hati-hati. Dimas juga gak bisa nyangkal kalau Dimas tumbuh besar begini karena jasa Papa juga. Nanti Dimas coba cari cara untuk minta maaf sama papa. Mungkin aja kalau Dimas minta maaf sama papa, papa gak bakal bersikap dingin lagi sama mama""Cuma soal Dimas dan Ara, kayan

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status