Se connecterTok Tok Tok
"Assalamualaikum!" Tok Tok Tok "Assalamualaikum, Ara!" Tok Tok Tok "Assalamualaikum, Ara! Kamu di mana sih?!" Tok Tok Tok Teriakan dan ketukan keras di daun pintu tertutup berasal dari Bu Salamah, mertua Ara, terus bergema di depan teras, mencoba mencari dan memanggil keberadaan sang menantu yang tidak kunjung membuka pintu rumah. "Ara! Di mana sih kamu?! Ya Allah, punya menantu kok budek begini! Apa dia gak dengar saya terus teriak sedari tadi!" kesal Bu Salamah. Dia berkacak pinggang dengan bibir merengut kesal, mencoba sekali lagi mengetuk daun pintu tertutup yang ada di depannya. Tok Tok Tok "Assalamualaikum, Ara!" teriak Bu Salamah sekali lagi. "Wa'alaikum salam, Ma," jawab Ara menyahut salam ibu mertuanya, namun bukan dari dalam rumah, melainkan dari luar rumah di mana dia baru saja pulang dari warung. Bu Salamah berbalik badan, menatap menantunya yang terlihat sedang menenteng dua kantong plastik yang dia tebak berisi sayur dan ikan. "Mama kira kamu ada di dalam rumah, terus budek gak dengar panggilan Mama sedari tadi. Oh, tahunya kamu baru dari luar. Pantesan!" ujar Bu Salamah kepada menantunya. Ara menghela napas panjang, beristighfar di dalam hati ketika mendengar ucapan mertuanya yang begitu enteng namun menyakitkan. Entah apa salahnya dan kurangnya sebagai menantu dari wanita paruh baya di depannya ini. Setelah menikah, seluruh hidupnya bukan hanya dibaktikan kepada suaminya, namun kepada keluarga mertuanya juga. Tapi sepertinya, semua apa yang dilakukannya tidak pernah terlihat oleh keluarga mertuanya, terutama sang ibu mertua. "Astagfirullah hal adzim, tolong kuatkan hamba ya Allah. Kak Reno, tolong jemput Ara secepatnya. Ara udah gak kuat di sini" batin Ara menghela napas lelah. Ara menghampiri ibu mertuanya, lalu bersalaman, mencium punggung tangan sang ibu mertua. "Ara habis ke warung, Ma. Ara belanja sayur sama ikan untuk makan siang Mas Dimas. Katanya Mas Dimas mau makan siang di rumah," jawab Ara. Bu Salamah mengangguk, namun dahinya sedikit mengernyit heran ketika melihat wajah menantunya dari dekat. Dia dapat melihat jika wajah menantunya terlihat begitu sembap, terutama mata Ara yang memerah seperti sehabis menangis. "Kelahi lagi kamu sama Dimas? Ck, apa kamu sama Dimas gak bisa akur sedikit aja? Gimana Dimas mau betah di rumah kalau istrinya hobi ngajak berantem. Mungkin karena Dimas gak betah sama kamu, kamu belum hamil juga sampai sekarang!" ujar Ibu Salamah mencibir menantunya, tidak menyadari perubahan raut wajah Ara yang terkejut sekaligus pucat. Ara menghirup napas dalam untuk menenangkan hatinya yang dilanda sakit hati akibat ucapan ibu mertuanya yang tidak berperasaan. Namun, sepertinya kesabarannya lagi-lagi diuji ketika ibu mertuanya kembali membuka mulut, seakan belum puas menyakiti hatinya yang sudah tersiram air garam. "Kalau kamu lagi kondisi kayak gitu, mending gak usah keluar rumah! Malu-maluin aja! Gimana kalau tetangga lain lihat? Gimana kalau ibu warung lihat terus bergosip? Nanti dikira anak saya hobi nyiksa kamu!" "Araaaaa, Araaaa! Kamu ini kenapa sih, hobi banget bikin nama anak saya jelek di mata orang?! Senang kamu ya, kalau anak saya jadi bahan gosip?!" kesal Ibu Salamah kembali mencibir sikap menantunya. Meskipun dia melihat wajah menantunya begitu sembap, tidak ada rasa iba sama sekali di hatinya, kecuali hanya memikirkan reputasi anak laki-lakinya. Ara memegang kantong kresek di kedua tangannya dengan erat, menghirup napas dalam-dalam agar tidak terpengaruh oleh ucapan kejam mertuanya. Cukup tadi pagi saja dia bertengkar dengan suaminya. Dia sudah tidak punya tenaga lagi untuk bertengkar dengan mertuanya. "Astagfirullah, Ma. Kok Mama ngomongnya kayak gitu? Ara gak pernah punya pikiran sedikit pun untuk menjelek-jelekkan suami Ara sendiri" "Ara memang nangis, tapi Ara nangis karena sedih dengar kondisi Ibu di kampung yang makin parah" "Ara mau pulang, tapi Mas Dimas gak ngizinin. Ara bingung. Ara mau lihat kondisi Ibu, tapi kalau Mas Dimas gak ngasih izin ke Ara untuk pulang, Ara gak bisa pergi" "Kalau bisa, Ara mau minta tolong sama Mama untuk ngomong ke Mas Dimas untuk ngizinin Ara pulang ke kampung sebentar aja untuk nengok Ibu" ujar Ara berharap ibu mertuanya bisa mengerti kondisinya, jika sang suami tidak bisa mengerti kekhawatiran yang sedang dirasakannya saat ini. Bu Salamah mendengus. "Ibu kamu itu penyakitan banget sih! Lihat nih Mama yang udah tua, tapi masih sehat bugar! Udahlah, kamu ngapain sedih?!" "Ingat apa kata Dimas! Kalau suami kamu gak ngizinin pulang, ya kamu gak usah pulang! Jangan bangkang!" "Surga istri ada di suami. Mama yakin ibu kamu cuma sakit biasa. Dimas nyuruh kamu kirim uang untuk ibu kamu berobat kan? Kalau udah dikasih uang, Mama pikir gak perlu lagi kamu datang ke kampung!" jawabnya. "Mas Dimas cuma nyuruh kirim dua ratus ribu buat Ibu...." "Cuma, kamu bilang? Cuma?! Dua ratus ribu itu uang, Ara! Jangan nyepelein pemberian suami! Durhaka kamu! Jangan jadi istri durhaka yang kufur nikmat, Araaaaaa" "Walau cuma dua ratus ribu, itu tetap uang! Mama rasa, uang segitu udah cukup untuk nunjukin kasih sayang Dimas sama mertuanya" ujar Bu Salamah menyela ucapan menantunya. Ara menggertakkan gigi, mencoba menahan amarah. "Mama jangan keterlaluan..." ujarnya berusaha sebisa mungkin untuk tidak menaikkan nada suaranya di depan ibu mertuanya. Ibu mertuanya memang menyebalkan! Sangat menyebalkan! Tapi bukan berarti itu bisa menjadi alasan untuknya melampaui batas. Setidaknya tidak untuk saat ini. Bu Salamah mendelik tajam menatap menantunya tidak suka. "Siapa yang keterlaluan? Jangan drama, Ara! Ibu ngomong benar kok! Kamu dan keluargamu aja yang gak bisa bersyukur dengan pemberian Dimas!" jawab Bu Salamah. Ara menutup matanya, menghela napas kesal, lalu membuka matanya, menatap ibu mertuanya tajam. "Mama, Ara mohon jaga ucapan Mama. Mama tahu selama Ara menikah dengan Mas Dimas, Mas Dimas gak pernah ngasih apa pun sama Ara, apalagi sama keluarga Ara!" "Kecuali, uang mahar di saat pernikahan, uang duka di saat kematian Abah, itu pun cuma tiga ratus ribu!" "Terakhir kali Mas Dimas ngasih uang untuk keluarga Ara, hanya seratus ribu pas Ibu sakit sekitar tiga tahun lalu, dan dua ratus ribu waktu Mas Dimas nyuruh aku transfer tadi pagi" "Apa Mama pikir itu pantas diberikan seorang menantu dengan jabatan seorang manajer? Saudara yang lain saja, yang hanya seorang karyawan biasa, bisa memberikan uang duka lima juta karena menghargai almarhum Abah selama masih hidup" "Bukan aku ingin membandingkan suamiku, apalagi sampai aku ingin kufur nikmat dengan pemberian suamiku" "Tapi selama ini, aku selalu menahannya dan tidak pernah melakukan protes apa pun kepada Mas Dimas" "Sekarang, aku ingin mengatakan kepada Mama, jika aku menahan malu kepada keluargaku sendiri atas tingkah polah Mas Dimas!" "Mama, Mama tahu walau aku gadis kampung, keluargaku bukan orang miskin! Apa Mama kira uang yang Mas Dimas kasih itu ada nilainya untuk kami? Ya Allah, Maaaa...." "Kalau saja keluargaku gak ngelihat Mas Dimas sebagai suamiku, dan mereka masih menghargai aku, sejujurnya aku malu sama keluargaku sendiri melihat tingkah Mas Dimas!" "Ara, jangan keterlaluan! Apa maksud kamu ngomong kayak gitu tentang Dimas, hah?! Kamu mau ngomong kalau Dimas itu suami yang pelit?!" "Berhak apa kamu ngomong kayak gitu ke anak Mama!" teriak Bu Salamah tidak terima ketika mendengar menantunya yang biasanya begitu diam dan penurut, sekarang terlihat membangkang ucapannya terlebih menjelekkan Dimas putranya. Ara melengos ke arah lain, enggan melihat ibu mertuanya. Dia kembali menatap ibu mertuanya dengan acuh tak acuh. Sisa kemarahan masih terlihat begitu jelas di matanya, begitu juga di mata ibu mertuanya. "Ada apa Mama ke sini? Ara sedang sibuk. Ara mau masuk ke dalam untuk beres-beres rumah. Kalau Mama ke sini cuma buat ngajak Ara berantem, lebih baik Mama pulang" ujar Ara. Bu Salamah melotot menatap Ara tajam. "Kamu! Mama aduin kamu sama Dimas!" tunjuknya dengan jari mengacung ke wajah Ara. Ara menghela napas lelah. "Silakan, Ma. Ara capek. Ara mau pisah dari Mas Dimas," jawabnya, lalu berjalan gontai memasuki rumahnya, meninggalkan Bu Salamah yang masih mematung di depan teras setelah mendengar ucapan menantunya.Hari keputusan sidang cerai tiba. Ara datang didampingi bersama dengan Reno dan Bima. Sedangkan Dimas juga datang bersama dengan anggota keluarganya secara lengkap. Pak Doni, Bu Salamah dan Shinta datang bukan hanya untuk memberi dukungan kepada Dimas, tapi juga untuk menyelesaikan ganjalan hati yang ada. Dimas dan Ara akhirnya secara sah bercerai. Masalah harta gono-gini pun diselesaikan tanpa banyak perdebatan. Dimas dan keluarganya mencoba mengikhlaskan apa yang menjadi milik Ara. Mereka pun sadar tidak memiliki hak atas itu. “Ara!” panggil Dimas kepada Ara setelah selesai keluar dari ruang sidang. Ara menoleh. Ia menatap Dimas yang mendekat dengan ragu, apa dia harus membalas sapaan itu atau tidak. Reno dan Bima berdiri di sisi kiri dan kanan Ara untuk melindungi saudara perempuan mereka itu dari Dimas. Dimas menatap Ara. Setelah berpisah dengannya, Ara justru makin terlihat cantik. Seketika ia menyesal. Bukankah Ara harusnya bisa secantik ini jika ia bisa mengurus dan me
“Jadi anak yang ada di dalam kandungan Cika itu bukan anak kamu! Bukan cucu Ibu!” teriak Bu Salamah marah. Jika tubuhnya tidak ditahan suaminya, ia sudah menerjang Cika. Dimas mengangguk lesu dan menunduk. “Iya, Bu! Lont* ini sudah nipu aku habis-habisan!” Dimas lalu menceritakan semua pengakuan Cika sebelumnya. Wajah Pak Doni menggelap. Tatapannya tajam mengarah ke Cika. Cika makin menciut dalam pelukan Alex. “A-aku enggak maksud nipu. Dimas sendiri yang kepincut sama aku. Dia juga yang sukarela nikahin aku. Aku cuma bilang anak ini anaknya, dia yang percaya” bela Cika. Wajah orang-orang berubah. Terutama Dimas dan keluarganya yang menatap Cika dengan amarah terbuka. Simpati yang semula mengarah pada Cika perlahan bergeser ke Dimas. Meski begitu, tindakan Dimas yang sempat hampir mencelakai Cika tetap tidak bisa diabaikan. Bu Salamah tak lagi mampu menahan diri. Ia menerjang Cika. Keributan kembali pecah. “Dasar lont*! Beraninya kamu bohongin anak saya! Gara-gara kamu rumah t
Dimas sungguh tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Ia sudah mempertaruhkan segalanya demi menikahi Cika. Nama baiknya di mata keluarga hancur karena ia menikahi perempuan yang reputasinya tidak baik. Ia terpaksa membohongi Ara dan bermain di belakang istrinya demi bersama istri keduanya. Yang paling menyakitkan, anak yang selama ini ia tunggu kelahirannya dari rahim Cika, yang ia kira darah dagingnya sendiri, ternyata milik pria lain. Walaupun Cika dikenal tidak baik, demi anak dalam kandungannya yang ia yakini sebagai anaknya, Dimas tetap menyambut kehadiran itu dengan bahagia. Bukan hanya dirinya yang menunggu kelahiran anak itu, tapi juga ibu dan keluarganya. Namun semua harapan itu ternyata hanya tipuan. Karena Cika pula, ia kehilangan Ara. Mata Cika melotot saat lehernya terce*k oleh tangan Dimas. Ia memukul tangan pria itu berusaha melepaskan cekikan. “M-Mas lepas! K-Kamu gila! Kamu mau bun*h aku!” ucap Cika tersendat, nyaris kehabisan napas. Alih-alih melepaskan, cen
"Kata pengacara, mereka yakin sebentar lagi perceraian kamu sama Dimas bukan cuma mimpi, tapi juga akan dikabulin secepatnya. Saksi dan bukti kita kuat. Kita cuma perlu nunggu putusan sidang selanjutnya" "Bukan cuma itu. Selain bercerai, mas akan pastiin kamu dapat hak kamu yaitu pembagian harta gono-gini. Mas masih ingat kamu dapat mahar cukup besar dari pihak keluarga Dimas, terutama mahar jaminan dari pihak kakek Dimas yang dijanjikan akan menjadi milikmu setelah kau menikah dengan anggota keluarga mereka" ujar Reno kepada Ara. Ara awalnya hanya ingin bercerai dan tidak memikirkan apapun selain itu, termasuk harta gono gini. Mengingat tabiat suaminya yang sebentar lagi akan jadi mantan serta tabiat ibu mertuanya, ia tidak yakin mereka akan memberikan hak itu. Ia bahkan takut perceraiannya dipersulit jika ingin meminta lebih walau itu adalah haknya sendiri. Namun dengan dukungan dan pengertian kakak sulungnya, ia setuju untuk memperjuangkan itu. Toh yang diperjuangkan itu adala
“Pah, Papa maafin Dimas, kan? Dimas nyesel sudah bikin Papa marah” ujar Dimas kepada ayahnya. Pak Doni menghela napas panjang. Ia menatap anaknya dengan perasaan campur aduk. Kesal, tapi juga kasihan. Meski Dimas bukan anak kandungnya, dialah yang membesarkan Dimas sejak kecil. “Papa masih marah sama kamu, apalagi urusan rumah tanggamu dan Ara belum jelas. Tapi mau gimana lagi. Walaupun kamu bukan anak kandung Papa, Papa yang besarin kamu seperti anak sendiri. Dimas, kamu sudah mengecewakan Papa” “Tapi Papa juga enggak tega terus marah dan mukul kamu. Kamu sudah dewasa. Lagipula kemarin kamu sudah dapat pelajaran sampai masuk penjara” “Sekarang Papa cuma minta satu. Ubah sikap kamu, terutama mulutmu yang pedas itu. Jangan asal bicara. Dan jangan pernah nyakitin Shinta!” peringat Pak Doni. Dimas mendengus dalam hati. Lagi-lagi Shinta. Selalu Shinta. Bahkan di tengah masalahnya sendiri, ayahnya tetap memikirkan Shinta. Ia tahu Shinta adalah anak kandung Papa, sementara dirinya anak
Dimas pun terdiam. Ia jadi serba salah. Ia tidak menyangka jika masalah rumah tangganya berdampak ke masalah rumah tangga kedua orang tuanya. Dimas memeluk ibunya."Ma, maafin Dimas. Waktu itu Dimas emosi, ngira Papa pilih kasih sama Dimas dan Shinta sampai nyangka kalau Dimas bukan anak kandung Papa. Tapi tebakan Dimas taunya bener. Dimas juga sebenarnya masih terkejut dengan masalah ini""Kalau dipikir lagi, emang wajar aja papa lebih sayang ke Shinta dibandingkan Dimas kalau memang kenyataannya begitu. Dimas bukan anak kandung Papa. Kalau Dimas di posisi Papa mungkin Dimas gak akan begitu legowo besarin anak dari orang lain" "Dimas nyesel udah bikin Papa kesel selama ini. Kalau tau sejak awal, Dimas pasti bakal hati-hati. Dimas juga gak bisa nyangkal kalau Dimas tumbuh besar begini karena jasa Papa juga. Nanti Dimas coba cari cara untuk minta maaf sama papa. Mungkin aja kalau Dimas minta maaf sama papa, papa gak bakal bersikap dingin lagi sama mama""Cuma soal Dimas dan Ara, kayan
"Loh, kamu kok ada di sini, Dimas? Kamu sudah pulang? Sudah kasih pelajaran sama si Ara?" tanya Bu Salamah kepada anak laki-lakinya yang baru saja datang ke rumahnya, kini duduk bersandar di kursi ruang tamu. "Dimas! Mama ngomong sama kamu, kok gak disahut!" kesal Bu Salamah, ikut duduk di sebelah
"Ara!" "Ara!" "Ara! Buka pintunya!" Tok Tok Tok "Ar...." Ceklek Ucapan Dimas terhenti saat dia melihat wajah istrinya yang baru saja membuka pintu. Dimas langsung merangsek masuk ke dalam rumah, menutup pintu di belakangnya dengan kasar hingga terdengar bantingan yang begitu keras. "Kamu sud
"Apa kamu mau nunggu sampai Ibu gak ada, baru kamu mau pulang, Ra?! Ibu terus menanyaimu, dan kondisi Ibu benar-benar lagi gak sehat. Tega kamu gak mau datang buat jenguk Ibu!" Terdengar suara keras penuh kekesalan dari seberang telepon, dari seorang pria yang geram ketika mendengar ucapan adiknya
Tak! Suara hentakan keras dari gelas kaca yang beradu dengan meja terdengar nyaring di sebuah ruang makan. Dimas, sang pelaku yang baru saja meletakkan gelasnya dengan keras, mendongak menatap istrinya tajam. "Apa kamu mulai membangkang, Ra?" ujar Dimas dengan nada geraman tertahan, menatap tajam







