LOGIN—//—
“Kau tidak bertanya.” Kalimat yang Caldwell berikan membuat kepala Lorine menengadah cepat. Wajahnya berkerut samar, “Tidak bertanya katamu?” tanya Lorine dengan bibir bergetar. Pelupuk matanya memanas, tetapi ia hanya mengedip pelan, menahan bening yang mulai mengaburkan pandangannya. “Lalu yang kemarin apa?” lanjut Lorine, “kamu lupa, sama reaksi yang kamu kasih waktu aku nanya?” “Selama sepuluh tahun ini, pertanyaanku cuman satu. Apa hubunganmu dengan perempuan itu!” jemari Lorine menunjuk Clara yang berdiri tak jauh dari suaminya. “Bukannya menjelaskan, kamu malah ngusir aku, kan?!” Kata-kata itu menggema di udara. Untuk sesaat, Lorine hanya terpaku. Pelupuk matanya kembali berkedip pelan, seolah tak percaya kalimat itu benar-benar keluar dari bibirnya. Napas yang tertahan memenuhi dadanya dengan sesak, sementara jemarinya bergetar tipis sebelum akhirnya jatuh ke sisi tubuh. Tanpa berkata lebih jauh, kedua kakinya pergi dari ruangan itu. Langkahnya terdengar mantap, tetapi jemarinya masih bergetar halus di sisi tubuh. Ia tak sanggup menoleh. Bayangan wajah Clara yang menyaksikan ledakan emosinya barusan terasa lebih menyakitkan daripada pertengkaran itu sendiri. Selama bertahun-tahun, Lorine selalu menjaga dirinya. Menjaga tutur kata, sikap, dan martabatnya sebagai seorang Vale. Namun, hanya dalam hitungan detik, semua itu runtuh di depan perempuan yang akhir-akhir ini menjadi alasan dari begitu banyak pertanyaan yang tak pernah memperoleh jawaban. “Lorine,” panggil Caldwell dari arah belakang. Lorine terus berjalan tanpa menoleh sekalipun. Ia menggigit pelan bagian dalam pipinya, berusaha menahan bening yang mulai mengaburkan pandangan. Yang ia inginkan saat itu hanyalah menjauh sejauh mungkin, sebelum sisa harga diri yang masih dimilikinya ikut hancur bersama air mata yang nyaris tak lagi mampu ia bendung. Sapaan para staf perusahaan sepenuhnya Lorine abaikan. Hingga begitu keluar dari lift, tanpa sadar ia menabrak punggung seseorang. “Ah, maaf.” Sosok itu berbalik, wajah yang begitu familier seketika tertangkap oleh kedua netra yang tengah menahan air mata. “Oh! Lorine, kau tidak apa?” Tanpa ada keraguan, Roccius menangkup kedua pipi Lorine. Kerutan di dahinya semakin dalam begitu melihat mata Lorine yang memerah dengan napas yang belum teratur. Mendapat sentuhan tiba-tiba Lorine tersentak pelan. Ia segera meraih pergelangan tangan Roccius, lalu melepaskannya dari wajah dengan gerakan perlahan. "Aku ... tidak apa-apa," ucapnya lirih, memaksakan seulas senyum yang bahkan tak mampu mencapai matanya. "Permisi." Baru beberapa langkah dari tempatnya terhenti, sebuah tarikan lembut menghentikan langkahnya. Suara Roccius terdengar begitu pelan, "Lorine." "Jangan pergi dengan keadaan sekacau ini," lanjutnya saat Lorine menoleh ke arahnya. Sambil menghela napas, Lorine menggeleng pelan. "Tinggalkan aku sendiri." Untuk beberapa saat, Roccius tak menjawab, mata hazelnya hanya menatap Lorine lebih lama dari biasanya. "Kalau begitu, temani aku sebentar." Tanpa menunggu jawaban, Roccius menariknya pelan menyusuri koridor kantor. Lorine sempat ingin melepaskan diri, tetapi tenaga untuk berdebat seolah telah habis bersama ledakan emosinya beberapa menit lalu. Pintu kantin kantor terbuka, disusul aroma kopi yang memenuhi udara dan beberapa percakapan samar dari para staf kantor. Pria itu baru melepas genggamannya setelah keduanya tiba di sudut ruangan yang relatif sepi. "Duduk," katanya, "kau boleh menenangkan diri sejenak.” Untuk sesaat, Lorine hanya berdiri mematung. Sesak di dadanya belum juga reda, sementara wajahnya masih terasa panas akibat luapan emosi yang tak pernah ia bayangkan akan terjadi. Pada akhirnya, ia mengalah pada rasa lelah. Tumbuh perlahan turun ke kursi, membiarkan keheningan mengambil alih sebelum keberaniannya untuk tetap terlihat tegar benar-benar habis. —//— Di sisi lain, Caldwell terlihat duduk di kursinya sembari memijat pangkal hidung yang berdenyut kencang. Clara memerhatikan gerak-geriknya dari sudut ruangan. “Anda serius tidak ingin menyusul Nyonya?” tanya Clara membuat mata Caldwell terbuka. Decakan pelan terdengar di ruangan sunyi itu, “What should i do? Kalau aku menyusulnya, kami hanya akan bertengkar lebih jauh.” Clara tertawa kecil, "Justru karena itulah Anda harus menyusulnya." Caldwell menatap perempuan itu tak paham, seolah tahu maksud dari tatapan sang atasan, Clara melanjutkan. "Tidak ada istri yg datang jauh-jauh ke kantor suaminya hanya untuk mencari keributan." Clara menghembuskan napas pelan. "Yang saya lihat sejak tadi hanyalah pecahnya seorang perempuan yang sudah terlalu lama memendam semuanya." Menyadari hal lain, Clara menjentikkan jarinya sekali. "Oh, dan saya cukup kagum Anda tidak pernah mengatakan soal alergi ataupun apa yang Anda sukai dalam sepuluh tahun pernikahan." Keheningan kembali menggantung. Clara merapikan berkas yang ia bawa sebelumnya dan pergi dari sana. Meninggalkan Caldwell seorang diri dengan segala kata-kata yang sudah ia lontarkan. Namun, saat berada di depan pintu, Clara menghentikan langkahnya. "Dia tidak marah karena saya, Tuan. Dia marah karena selama ini Anda tidak pernah memberi apapun, termasuk jawaban untuk segala pertanyaannya." Kalimat itu menghantam Caldwell tanpa ampun. Untuk pertama kalinya sejak pertengkaran itu terjadi, ia mengingat kembali wajah Lorine. Bukan sorot marahnya, melainkan kedua matanya yang berkaca-kaca saat suaranya meninggi. Lorine bahkan tidak menangis, ia hanya pergi meninggalkannya di ruangan itu. Caldwell mendesah pelan sebelum akhirnya meraih jas yang sempat ia lepaskan beberapa saat lalu dan bangkit dari kursinya. "... Sial." Sesampainya di lobi, Caldwell menghentikan salah seorang staf resepsionis yang kebetulan baru saja kembali ke meja kerjanya. "Apa kau melihat istriku?" Usai meredakan keterkejutannya akan kehadiran sang direktur utama, staf itu tampak berpikir sejenak. "Kalau tidak salah lihat ... Nyonya sedang bersama Tuan Roccius." Napas Caldwell sontak terhenti sejenak, tubuhnya membeku sepersekian detik. "Di mana?" tanya Caldwell dengan suara tertahan. "Di kantin kantor," jawab staf itu. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Caldwell berbalik. Langkahnya yang semula cepat berubah menjadi nyaris berlari menyusuri koridor menuju kantin. Begitu pintu terbuka, pandangannya langsung tertuju pada dua sosok di sudut ruangan. Lorine dan Roccius. Pria itu duduk di seberang Lorine dengan tubuh sedikit condong ke depan. Tatapannya begitu lembut, lagi penuh perhatian. Seolah tidak ingin melewatkan satu kata pun yang keluar dari bibir Lorine. Istrinya itu sedang berbicara. Caldwell tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan. Namun, entah mengapa ia merasa tidak perlu mendengarnya. Cara Roccius menatap istrinya saja sudah cukup membuat sesuatu di dalam dadanya mendidih. Rahang Caldwell mengeras. Ada sesuatu pada tatapan itu yang terlalu hangat, terlalu lembut, dan ia sama sekali tidak menyukainya. Jemarinya mengepal hingga buku-buku jarinya memutih. Entah sejak kapan, langkahnya kembali bergerak. Satu demi satu, jarak di antara mereka menyusut hingga bayangannya jatuh tepat di atas meja tempat Lorine dan Roccius duduk. Pria itu mendongak lebih dulu. Senyuman tipis di wajahnya perlahan memudar. Caldwell menatap sepupunya tanpa berkedip. "Lepaskan tanganmu dari istriku." —//——//—Kecaman yang Caldwell lontarkan membuat Lorine tertawa sumbang. Ia berbalik, menatap sepasang mata yang sudah lebih dulu tertuju kepadanya. “Oh ya? Kamu malah bikin aku makin penasaran,” tukas Lorine menantang.Mendapat balasan tak terduga, rahang Caldwell mengeras. Tatapannya berubah tajam, membuat Lorine tahu bahwa jawabannya kali ini benar-benar berhasil mengusik pria itu. “Lorine, masuk ke dalam.” Caldwell menekankan setiap kata yang ia ucapkan.Tidak menghiraukan perintah suaminya, Lorine justru berbalik dan melangkahkan kaki menuju pintu utama. Ia meninggalkan Caldwell yang masih berdiri di tempatnya, tetapi bisa merasakan tatapan pria itu mengikuti setiap langkahnya. Meski tidak melihat raut wajah Caldwell, Lorine tersenyum simpul. Untuk pertama kalinya, menolak suaminya tidak membuatnya merasa bersalah, justru ada kepuasan kecil ketika ia berhasil meninggalkan pria itu tanpa menuruti perintahnya.—//—“Kak!” panggil Lorine ketika melihat sosok yang begitu akrab dalam inga
—//— Sepanjang perjalanan menuju kediamannya, pikiran Lorine terus memutar ulang kenangan yang selama ini ia anggap indah. Semakin ia mengingatnya, semakin banyak bagian yang terasa janggal, terutama ketika pikirannya kembali pada pertemuan pertama mereka. Caldwell saat itu sudah berusia dua puluh empat tahun, tetapi entah mengapa ia berada di sekitar sekolah Lorine. Dulu, Lorine tidak pernah mempertanyakan hal tersebut. Ia menganggap pertemuan mereka sebagai kebetulan kecil yang akhirnya membawa mereka pada kisah cinta panjang. Namun, setelah mengetahui bahwa Caldwell memilihnya karena nama Beaumont, kebetulan itu mendadak terasa terlalu rapi untuk disebut kebetulan. "Apa yang dilakukan Caldi di sana?” gumam Lorine sambil mengerutkan kening. Ia masih mengingat jelas bagaimana pria itu memanggil namanya pada pertemuan pertama mereka. Dulu, Lorine mengira Caldwell sekadar mencari tahu tentang dirinya sebelum mendekat, tetapi kini alasan itu terlalu sederhana untuk menjelaskan semuan
—//— Lorine memandangi lembar dokumen di tangannya tanpa berkedip. Tak peduli seberapa lama ia membaca, sulit sekali mempercayai apa yang terpampang di hadapannya. Dadanya terasa sesak, seolah udara di dalam ruangan mendadak menghilang."...Mustahil," bisiknya lirih.Ia menatap nanar ke arah gores tinta yang memampangkan namanya secara jelas pada sebuah persetujuan Akuisisi Aset. Lorine menggeleng pelan. Matanya kembali menyusuri halaman itu dari awal, berharap dirinya hanya salah membaca. Namun, nama yang tertera di sana tetap sama.Tanpa membuang waktu, Lorine segera mengeluarkan ponsel dari dalam tas. Jemarinya bergerak cepat memotret setiap halaman yang masih tersisa sebelum mengembalikan semuanya ke posisi semula. Ia berusaha menyusun kembali map dan berkas-berkas yang tadi sempat berantakan, meski hasilnya jelas tidak akan serapi sebelumnya."Kalau ini memang berkas penting..." Lorine bergumam pelan sembari memandangi layar hitam ponselnya. "Kenapa diletakkan di kantor lamanya
—//—Lorine membuka pintu mobil dengan gerakan tergesa. Begitu tubuhnya masuk ke kursi belakang, ia langsung menyandarkan kepala ke sandaran, berusaha mengatur napas yang sejak tadi terasa memburu. Kelopak matanya masih basah, sementara jemarinya tak henti-henti mengepal di atas pangkuan."Nyonya, kita akan ke mana?" tanya sang sopir sambil menoleh sekilas melalui kaca spion. Ekspresinya dipenuhi kebingungan karena ini pertama kalinya ia melihat Lorine meninggalkan kantor dalam keadaan seperti itu.Lorine memalingkan wajah ke jendela. Pemandangan gedung-gedung yang berlalu cepat sama sekali tidak mampu mengalihkan pikirannya dari ucapan Caldwell dan Roccius yang terus berputar di kepalanya. Setelah menarik napas panjang, ia akhirnya membuka suara. "Ke kediaman Vale."Sopir itu mengangguk pelan, sementara Lorine kembali memejamkan mata. Di balik kelopak matanya, satu kalimat terus menggema tanpa henti.'Dia memilihmu karena Beaumont.'Jemarinya perlahan mengepal hingga buku-buku jariny
—//— Secercah rasa kemenangan memenuhi ego Caldwell saat Lorine menghentikan langkah terakhirnya tepat sebelum melintasi pintu kantin. Ketika wanita itu berbalik dan berjalan kembali ke arahnya, ia mengira usahanya berhasil. Untuk sesaat, ia percaya Lorine akan mengalah dan meminta maaf karena meninggalkannya di depan semua orang. Tanpa sedikit pun menyangka, yang menyambutnya justru sebuah tamparan keras di pipi. Plak! Tamparan itu memaksa wajah Caldwell berpaling. Beberapa helai rambutnya jatuh menutupi dahi, tetapi ia tidak segera bereaksi. Perlahan, ia mengembalikan wajahnya menghadap Lorine. Kerutan tipis muncul di antara kedua alisnya, lebih menyerupai kebingungan daripada kemarahan. "Setelah sepuluh tahun kita nikah ...," suara Lorine bergetar hebat. Dadanya naik turun menahan sesak yang tak lagi sanggup ia bendung. "Di mata kamu aku tetap Beaumont, bukannya Vale?!" Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya luruh tanpa ampun. Tatapan yang biasanya selalu dipenuhi kelembu
—//— Sesampainya Caldwell dihadapan Roccius, para karyawan menyadari ada sesuatu yang tidak beres di antara ketiga petinggi itu pun perlahan meninggalkan kantin. Dalam hitungan menit, ruangan yang semula dipenuhi percakapan berubah lengang. Hanya tersisa mereka bertiga bersama aroma kopi yang mulai kehilangan hangatnya. Roccius melepaskan genggamannya tanpa diminta. Senyum tipis tetap bertahan di sudut bibir, seolah pandangan dingin Caldwell sama sekali tidak membuatnya terusik. Ia menyandarkan tubuh ke sandaran kursi sebelum berkata santai, "Wah, cepat juga datangmu." Caldwell tidak membalas senyum itu. Rahangnya mengeras, sementara sorot matanya tetap terpaku pada Roccius. "Aku sudah bilang," ucapnya datar, "jangan berani mengganggu istriku." Roccius mengangkat kedua tangan, pura-pura tak bersalah. Jemarinya bahkan sempat merapikan letak cangkir di atas meja, seolah mereka hanya sedang berbincang biasa. "Aku hanya menahan seseorang yang hendak kabur dari sebuah fakta," balasnya







