ANMELDEN—//—Kecaman yang Caldwell lontarkan membuat Lorine tertawa sumbang. Ia berbalik, menatap sepasang mata yang sudah lebih dulu tertuju kepadanya. “Oh ya? Kamu malah bikin aku makin penasaran,” tukas Lorine menantang.Mendapat balasan tak terduga, rahang Caldwell mengeras. Tatapannya berubah tajam, membuat Lorine tahu bahwa jawabannya kali ini benar-benar berhasil mengusik pria itu. “Lorine, masuk ke dalam.” Caldwell menekankan setiap kata yang ia ucapkan.Tidak menghiraukan perintah suaminya, Lorine justru berbalik dan melangkahkan kaki menuju pintu utama. Ia meninggalkan Caldwell yang masih berdiri di tempatnya, tetapi bisa merasakan tatapan pria itu mengikuti setiap langkahnya. Meski tidak melihat raut wajah Caldwell, Lorine tersenyum simpul. Untuk pertama kalinya, menolak suaminya tidak membuatnya merasa bersalah, justru ada kepuasan kecil ketika ia berhasil meninggalkan pria itu tanpa menuruti perintahnya.—//—“Kak!” panggil Lorine ketika melihat sosok yang begitu akrab dalam inga
—//— Sepanjang perjalanan menuju kediamannya, pikiran Lorine terus memutar ulang kenangan yang selama ini ia anggap indah. Semakin ia mengingatnya, semakin banyak bagian yang terasa janggal, terutama ketika pikirannya kembali pada pertemuan pertama mereka. Caldwell saat itu sudah berusia dua puluh empat tahun, tetapi entah mengapa ia berada di sekitar sekolah Lorine. Dulu, Lorine tidak pernah mempertanyakan hal tersebut. Ia menganggap pertemuan mereka sebagai kebetulan kecil yang akhirnya membawa mereka pada kisah cinta panjang. Namun, setelah mengetahui bahwa Caldwell memilihnya karena nama Beaumont, kebetulan itu mendadak terasa terlalu rapi untuk disebut kebetulan. "Apa yang dilakukan Caldi di sana?” gumam Lorine sambil mengerutkan kening. Ia masih mengingat jelas bagaimana pria itu memanggil namanya pada pertemuan pertama mereka. Dulu, Lorine mengira Caldwell sekadar mencari tahu tentang dirinya sebelum mendekat, tetapi kini alasan itu terlalu sederhana untuk menjelaskan semuan
—//— Lorine memandangi lembar dokumen di tangannya tanpa berkedip. Tak peduli seberapa lama ia membaca, sulit sekali mempercayai apa yang terpampang di hadapannya. Dadanya terasa sesak, seolah udara di dalam ruangan mendadak menghilang."...Mustahil," bisiknya lirih.Ia menatap nanar ke arah gores tinta yang memampangkan namanya secara jelas pada sebuah persetujuan Akuisisi Aset. Lorine menggeleng pelan. Matanya kembali menyusuri halaman itu dari awal, berharap dirinya hanya salah membaca. Namun, nama yang tertera di sana tetap sama.Tanpa membuang waktu, Lorine segera mengeluarkan ponsel dari dalam tas. Jemarinya bergerak cepat memotret setiap halaman yang masih tersisa sebelum mengembalikan semuanya ke posisi semula. Ia berusaha menyusun kembali map dan berkas-berkas yang tadi sempat berantakan, meski hasilnya jelas tidak akan serapi sebelumnya."Kalau ini memang berkas penting..." Lorine bergumam pelan sembari memandangi layar hitam ponselnya. "Kenapa diletakkan di kantor lamanya
—//—Lorine membuka pintu mobil dengan gerakan tergesa. Begitu tubuhnya masuk ke kursi belakang, ia langsung menyandarkan kepala ke sandaran, berusaha mengatur napas yang sejak tadi terasa memburu. Kelopak matanya masih basah, sementara jemarinya tak henti-henti mengepal di atas pangkuan."Nyonya, kita akan ke mana?" tanya sang sopir sambil menoleh sekilas melalui kaca spion. Ekspresinya dipenuhi kebingungan karena ini pertama kalinya ia melihat Lorine meninggalkan kantor dalam keadaan seperti itu.Lorine memalingkan wajah ke jendela. Pemandangan gedung-gedung yang berlalu cepat sama sekali tidak mampu mengalihkan pikirannya dari ucapan Caldwell dan Roccius yang terus berputar di kepalanya. Setelah menarik napas panjang, ia akhirnya membuka suara. "Ke kediaman Vale."Sopir itu mengangguk pelan, sementara Lorine kembali memejamkan mata. Di balik kelopak matanya, satu kalimat terus menggema tanpa henti.'Dia memilihmu karena Beaumont.'Jemarinya perlahan mengepal hingga buku-buku jariny
—//— Secercah rasa kemenangan memenuhi ego Caldwell saat Lorine menghentikan langkah terakhirnya tepat sebelum melintasi pintu kantin. Ketika wanita itu berbalik dan berjalan kembali ke arahnya, ia mengira usahanya berhasil. Untuk sesaat, ia percaya Lorine akan mengalah dan meminta maaf karena meninggalkannya di depan semua orang. Tanpa sedikit pun menyangka, yang menyambutnya justru sebuah tamparan keras di pipi. Plak! Tamparan itu memaksa wajah Caldwell berpaling. Beberapa helai rambutnya jatuh menutupi dahi, tetapi ia tidak segera bereaksi. Perlahan, ia mengembalikan wajahnya menghadap Lorine. Kerutan tipis muncul di antara kedua alisnya, lebih menyerupai kebingungan daripada kemarahan. "Setelah sepuluh tahun kita nikah ...," suara Lorine bergetar hebat. Dadanya naik turun menahan sesak yang tak lagi sanggup ia bendung. "Di mata kamu aku tetap Beaumont, bukannya Vale?!" Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya luruh tanpa ampun. Tatapan yang biasanya selalu dipenuhi kelembu
—//— Sesampainya Caldwell dihadapan Roccius, para karyawan menyadari ada sesuatu yang tidak beres di antara ketiga petinggi itu pun perlahan meninggalkan kantin. Dalam hitungan menit, ruangan yang semula dipenuhi percakapan berubah lengang. Hanya tersisa mereka bertiga bersama aroma kopi yang mulai kehilangan hangatnya. Roccius melepaskan genggamannya tanpa diminta. Senyum tipis tetap bertahan di sudut bibir, seolah pandangan dingin Caldwell sama sekali tidak membuatnya terusik. Ia menyandarkan tubuh ke sandaran kursi sebelum berkata santai, "Wah, cepat juga datangmu." Caldwell tidak membalas senyum itu. Rahangnya mengeras, sementara sorot matanya tetap terpaku pada Roccius. "Aku sudah bilang," ucapnya datar, "jangan berani mengganggu istriku." Roccius mengangkat kedua tangan, pura-pura tak bersalah. Jemarinya bahkan sempat merapikan letak cangkir di atas meja, seolah mereka hanya sedang berbincang biasa. "Aku hanya menahan seseorang yang hendak kabur dari sebuah fakta," balasnya







