Home / Romansa / Istri dari Sebuah Ambisi / Chapter 04- Orang Asing

Share

Chapter 04- Orang Asing

last update publish date: 2026-06-26 18:04:55

—//—

Sepulangnya dari kediaman para tetua Vale beberapa hari lalu, Lorine akhirnya kembali mengisi hari-harinya dengan berbagai kesibukan.

Ia kembali menghadiri rapat yayasan amal yang beberapa waktu terakhir terabaikan. Undangan makan siang, acara penggalangan dana, hingga kunjungan ke berbagai program sosial yang berada di bawah naungan keluarga Vale perlahan memenuhi jadwalnya. Apa pun terasa lebih baik daripada duduk diam dan membiarkan pikirannya berputar pada hal-hal yang tidak ingin ia pikirkan. Bahkan saat tidak memiliki agenda khusus seperti hari ini, Lorine memilih menghabiskan waktunya di yayasan.

"Nyonya, boleh bacain dongeng ini buat Naya?" Suara kecil itu membuat Lorine menoleh. Seorang gadis cilik berusia sekitar enam tahun berdiri di samping kursinya sambil memeluk buku cerita bergambar. Rambutnya dikepang dua dengan pita kuning yang mulai longgar, sementara sepasang mata bulatnya menatap penuh harap.

Lorine tersenyum tipis, "Tentu saja."

Mendapat persetujuan dari Lorine, wajahnya langsung berseri-seri. Gadis kecil itu memanjat sofa di sebelahnya dengan cekatan dan menyodorkan buku yang dibawanya. Beberapa anak lain yang melihat mereka segera berlarian mendekat. Mengerumuni Lorine hingga terasa penuh.

"Aku juga mau dengar!" pekik anak laki-laki

"Yang jadi naga, Naya, ya!" sahut anak bertubuh gempal.

"Bukan! Naya putrinya lah!" tolak Naya menjulurkan lidah kecilnya.

Ruangan yang semula tenang seketika dipenuhi suara anak-anak. Lorine membuka halaman pertama buku itu sambil menggeleng geli. "Baiklah, semuanya siap?" tanya Lorine menatap anak-anak di sekelilingnya.

"Siaaap!" jawab mereka serempak.

Lorine tertawa pelan dibuatnya, "Kalau begitu, kita mulai!"

Ia membuka halaman pertama dan mulai membacakan kisah tentang seorang putri yang tersesat di hutan terlarang. Anak-anak yang semula ribut perlahan menjadi tenang. Beberapa duduk bersila di lantai, sebagian lain bersandar di sofa sambil memeluk bantal kecil. Sesekali mereka menyela dengan pertanyaan polos yang membuat Lorine harus menghentikan ceritanya.

"Kalau ketemu naga, putrinya nggak takut?" tanya Naya dengan mata bulatnya.

Sambil menjawil hidung Naya, Lorine menjawab singkat. "Takut dong."

"Kalau dia takut, kenapa nggak pulang aja?" lanjut Naya ikut menyentuh hidung yang sebelumnya Lorine sentuh.

"Karena terkadang seseorang harus tetap berjalan meski sedang ketakutan,", jawab Lorine tersenyum tanpa henti. Anak-anak itu tampak memikirkan jawaban yang dirinya berikan sebelum akhirnya mengangguk, seolah penjelasan tersebut sudah cukup masuk akal bagi mereka.

Tanpa Lorine sadari, waktu berlalu begitu cepat. Satu cerita berganti menjadi cerita lain. Ketika buku terakhir ditutup, matahari sudah bergeser cukup jauh di langit.

"Nyonya besok datang lagi, kan?" tanya Naya sambil memeluk buku dongengnya.

"Tentu." Lorine menjawab mantap.

Mendengar jawaban itu, Naya menyodorkan jari kelingking mungilnya. "Janji?!"

Kedua sudut bibir yang tak pernah rata itu kembali tertarik, Lorine menautkan jari kelingkingnya pada milik Naya. "Janji."

Wajah Naya langsung tampak puas melihat jari kelingking keduanya bertaut. Pemandangan sederhana itu membuat hati Lorine menghangat. Sayangnya, telepon genggamnya bergetar tidak lama kemudian. Sebuah pengingat jadwal yang ia buat sendiri semalam. Pertemuan sore di kantor pusat Vale Group. Lorine memandang layar beberapa saat sebelum menghela napas pelan.

"Baiklah, semuanya. Nyonya harus pergi sekarang." Lorine berpamitan setelah memasukkan ponselnya ke dalam tas.

"Yahhh …." Keluhan serempak langsung terdengar dari berbagai sudut ruangan.

Lorine tersenyum geli, tangannya bergerak mencubit pipi tembem beberapa anak, "Aku akan kembali lain waktu."

Setelah berpamitan kepada para pengurus yayasan dan anak-anak, ia berjalan menuju mobil yang telah menunggu di halaman depan. Namun, sebelum sopir sempat menyalakan mesin, Lorine mendadak teringat sesuatu.

Ia menatap pria paruh baya di depannya dari pantulan spion tengah. "Pak Arman."

"Ya, Nyonya?" jawab pak Arman tanpa tubuhnya ke asal suara.

"Jangan langsung ke kantor." Lorine mengencangkan sabuk pengaman. "Mampir ke rumah dulu."

Usai mendapat jawaban dari sang supir, Lorine memandang ke luar jendela. Sudah lama sekali ia tidak membawa makan siang untuk Caldwell. Dulu, sebelum kesibukan mereka semakin bertambah, hal semacam itu merupakan kebiasaan kecil yang sering ia lakukan. Caldwell mungkin tidak pernah mengatakannya secara langsung, tetapi pria itu selalu menghabiskan bekal yang ia bawa.

Senyuman tipis muncul di bibir Lorine. Mungkin, dengan inisiatif kecil ini, hubungan renggang mereka akan membaik. Meski hanya sedikit.

—//—

Lorine tiba di lantai eksekutif beberapa saat kemudian.

Kotak makan siang yang tadi dibawanya kini berada di tangan salah satu sekertaris usai pekerja itu bersikeras membantu Lorine. Beberapa staf yang berpapasan menyapanya dengan hormat. Ia hanya membalas dengan senyuman tipis sebelum melanjutkan langkah menuju ruang kerja Caldwell.

Ketika tinggal beberapa langkah lagi dari tujuannya, langkah Lorine perlahan melambat. Pintu ruang kerja Caldwell tidak tertutup sepenuhnya. Menyisakan celah sempit yang memperlihatkan sebagian ruangan di dalam. Dari celah itu, ia melihat Caldwell sedang berdiri di depan meja kerjanya dengan beberapa dokumen terbuka. Di hadapannya berdiri Clara.

Wanita itu memegang sebuah tablet sambil menjelaskan sesuatu. Suaranya tidak terdengar jelas dari luar, tetapi gerak-geriknya menunjukkan bahwa mereka sedang membahas pekerjaan. Lorine menghembuskan napas pelan. "Kau boleh pergi," ucap Lorine sembari mengambil kotak makan siang dari sekertaris Caldwell.

Wajahnya terlihat pucat. Entah apa yang dipikirkan sekertaris itu, Lorine tak peduli. Ia melenggang dan membuka pintu kantor tanpa aba-aba. "Siang, Caldi."

Anehnya, Lorine tidak mendapati keterkejutan dari wajah keduanya. Mereka hanya menatap Lorine tanpa ekspresi. Tatapan yang membuatnya malu tanpa sadar.

"Aku membawakan makan siang," lanjut Lorine berusaha mengabaikan keempat pasang mata itu dengan cara mengeluarkan satu demi satu wadah makanan yang telah ia siapkan.

Begitu satu tutup berhasil Lorine buka, Clara mengeluarkan suara. "Tuan alergi seafood."

Tangan Lorine sontak mematung. Kepalanya terangkat ke arah Clara dan Caldwell bergantian. Alergi? Sejak kapan suaminya memiliki alergi tersebut? Ia meletakkan tutup wadah di meja cukup kencang, “Jangan bercanda, kemarin-kemarin Caldi makan seafood, kok.”

"Benar, Nyonya. Tapi, tidak berselang lama napas Tuan jadi memendek." Clara membalas sambil memberikan satu obat dari laci di meja pinggir.

Lorine memperhatikan obat itu seksama. Epinefrin. Tidak ingin berdebat lebih jauh, Lorine menjauhkan lauk seafood yang sudah dirinya siapkan. Setelah membuka satu tutup, Clara kembali berkomentar. "Tuan tidak menyukai aroma dari rumput laut Wakame."

Ia menarik napas panjang melalui hidung. Olahan seafood buatannya mengakibatkan alergi parah. Dan sekarang, suaminya tidak menyukai wakame di dalam miso soupnya? Lorine menatap Clara kesal. "Kenapa kau selalu menginterupsi pekerjaanku?"

"Saya hanya memberikan info yang tidak Anda ketahui." Clara membalas dengan singkat.

Lorine menoleh cepat pada suaminya. "Kamu beneran gak suka wakame?"

Anggukan kecil dari Caldwell membuat Lorine terdiam. "Sudah beberapa tahun," jawabnya semakin membuat Lorine membeku.

Beberapa tahun. Dirinya baru mengetahui fakta itu hari ini. Sementara Clara mengetahuinya tanpa perlu bertanya. Setelah merajut pernikahan selama sepuluh tahun, Lorine merasa dirinya hanyalah orang asing yang kebetulan berdiri di sisi seorang Caldwell Vale. Apakah semua yang dia ketahui selama ini adalah kesalahan?

“Lalu kenapa selama ini kamu diam saja?” tanya Lorine menatap suaminya tak percaya.

—//—

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri dari Sebuah Ambisi   Chapter 05-Batas Kesabaran

    —//— “Kau tidak bertanya.” Kalimat yang Caldwell berikan membuat kepala Lorine menengadah cepat. Wajahnya berkerut samar, “Tidak bertanya katamu?” tanya Lorine dengan bibir bergetar. Pelupuk matanya memanas, tetapi ia hanya mengedip pelan, menahan bening yang mulai mengaburkan pandangannya. “Lalu yang kemarin apa?” lanjut Lorine, “kamu lupa, sama reaksi yang kamu kasih waktu aku nanya?” “Selama sepuluh tahun ini, pertanyaanku cuman satu. Apa hubunganmu dengan perempuan itu!” jemari Lorine menunjuk Clara yang berdiri tak jauh dari suaminya. “Bukannya menjelaskan, kamu malah ngusir aku, kan?!” Kata-kata itu menggema di udara. Untuk sesaat, Lorine hanya terpaku. Pelupuk matanya kembali berkedip pelan, seolah tak percaya kalimat itu benar-benar keluar dari bibirnya. Napas yang tertahan memenuhi dadanya dengan sesak, sementara jemarinya bergetar tipis sebelum akhirnya jatuh ke sisi tubuh. Tanpa berkata lebih jauh, kedua kakinya pergi dari ruangan itu. Langkahnya terdengar mantap, tet

  • Istri dari Sebuah Ambisi   Chapter 04- Orang Asing

    —//— Sepulangnya dari kediaman para tetua Vale beberapa hari lalu, Lorine akhirnya kembali mengisi hari-harinya dengan berbagai kesibukan. Ia kembali menghadiri rapat yayasan amal yang beberapa waktu terakhir terabaikan. Undangan makan siang, acara penggalangan dana, hingga kunjungan ke berbagai program sosial yang berada di bawah naungan keluarga Vale perlahan memenuhi jadwalnya. Apa pun terasa lebih baik daripada duduk diam dan membiarkan pikirannya berputar pada hal-hal yang tidak ingin ia pikirkan. Bahkan saat tidak memiliki agenda khusus seperti hari ini, Lorine memilih menghabiskan waktunya di yayasan. "Nyonya, boleh bacain dongeng ini buat Naya?" Suara kecil itu membuat Lorine menoleh. Seorang gadis cilik berusia sekitar enam tahun berdiri di samping kursinya sambil memeluk buku cerita bergambar. Rambutnya dikepang dua dengan pita kuning yang mulai longgar, sementara sepasang mata bulatnya menatap penuh harap. Lorine tersenyum tipis, "Tentu saja." Mendapat persetujuan

  • Istri dari Sebuah Ambisi   Chapter 03- Asing

    —//— Rumah kaca selalu menjadi tempat favorit Lorine. Bangunan yang berada di sisi timur kediaman Vale itu dipenuhi bunga dan tanaman herbal yang ia rawat sendiri selama bertahun. Biasanya, beberapa jam di sana cukup untuk menenangkan pikirannya. Akan tetapi, pagi ini berbeda. Aroma tanah basah dan lavender memenuhi udara di sekitar Lorine yang tengah berdiri di antara deretan mawar putih. Sejak makan malam itu, ketenangan seolah meninggalkannya. Ketika kedua tangannya bergerak memangkas daun-daun yang menguning, pikirannya terus kembali pada satu kalimat. "Clara tidak berniat menjadi Nyonya di rumah ini." Lorine menggigit bagian dalam pipi. Bukan ucapan Caldwell yang menyakitkan, melainkan fakta bahwa pria itu tidak pernah menyangkal keberadaan Clara. Ia tidak menjelaskan apa pun atau menyebut semua itu sebagai kesalahpahaman. Selama ini Caldwell selalu menjadi suami yang baik dan bertanggung jawab. Lalu bagian mana yang terlewat hingga suaminya memiliki ruang untuk perempuan lai

  • Istri dari Sebuah Ambisi   Chapter 02-Tempat

    —//— Di tengah kekacauan yang Caldwell ciptakan, mata mereka saling bertaut selama beberapa saat. Kesunyian malam terasa begitu tajam hingga menusuk setiap jengkal kulit Lorine. Bahunya bergetar tanpa mampu ia kendalikan, sementara jantungnya terus berdetak semakin cepat ketika menunggu jawaban yang mungkin tidak ingin ia dengar. “Caldi ….” Bibirnya bergerak pelan. “Apa aku tidak masuk ke dalam porsi ‘pribadi’ milikmu?” Lorine tidak pernah merasa serapuh ini di hadapan suaminya sendiri. Selama sepuluh tahun pernikahan mereka, selalu ada jarak yang berhasil ia jaga antara dirinya dan segala bentuk kelemahan. Bahkan ketika mereka bertengkar, Lorine selalu mampu mempertahankan martabatnya sebagai nyonya Vale. Akan tetapi, malam ini jelas berbeda. Karena dalam sepuluh tahun terakhir, ia mempertanyakan tempatnya sendiri dalam hidup pria yang selama ini ia yakini sebagai rumah. Sayangnya, Caldwell tidak segera menjawab. Pria itu hanya menatapnya dengan ekspresi yang sulit diterjemahkan,

  • Istri dari Sebuah Ambisi   Chapter 01-Posisi

    —//— "Saya hampir tidak mengenali Nyonya Vale malam ini." Sapaan hangat penuh sindiran itu membuat Lorine menghentikan tangannya yang hendak meraih gelas wine. Ia menoleh dan mendapati nyonya Gourdo menghampiri dengan senyum terpatri. "Terima kasih, Nyonya Gourdo. Anting yang Anda kenakan juga sangat indah," balas Lorine sambil menyambut cipika-cipiki wanita itu. "Ah, Anda bisa saja." Nyonya Gourdo terkekeh kecil. "Ngomong-ngomong, apakah malam ini Anda tidak bersama Tuan Vale?" Meski sempat terperanjat oleh pertanyaan tak terduga itu, Lorine mempertahankan senyumnya. "Ada keperluan mendesak yang harus Caldi urus." "Begitukah?" Sorot mata nyonya Gourdo tampak terlalu penasaran untuk dianggap basa-basi. "Saya kira beliau datang bersama orang lain." Sebelum Lorine sempat bertanya, tiga wanita lain menghampiri mereka. "Nyonya Gourdo, jangan mulai bergosip di acara amal," tegur salah satu dari mereka. "Gosip?" Wanita itu mengangkat alis. "Saya hanya menyampaikan fakta yang banyak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status