LOGIN
Jam di dinding tepat menunjukkan pukul sepuluh malam saat Jennaira Kirei Atmaja membuka pintu rumahnya. Belum sempat ia menyalakan lampu, suara keras menggelegar lebih dulu-menghantam seperti petir di tengah gelap.
"DARI MANA SAJA KAU, HAH?!" Tubuh Jennaira menegang seketika. Jantungnya serasa jatuh ke dasar perut. Di ruang tamu yang remang, ayah dan ibunya berdiri menunggunya. Tatapan mereka tajam, penuh amarah-seolah sejak awal malam ini mereka memang menunggu waktu untuk menghukumnya. "Ayah... maaf," suara Jennaira lirih, hampir tak terdengar. "Kedai hari ini ramai. Aku harus membereskan dulu sebelum pul-" PLAK! Tamparan itu mendarat tanpa peringatan. Kepala Jennaira terpelanting ke samping. Pandangannya berkunang-kunang, telinganya berdenging, dan rasa panas langsung menjalar di pipinya. Ia belum sempat berdiri tegak ketika tangan ibunya sudah lebih dulu menarik tas selempangnya dengan kasar. "Ibu-jangan!" teriak Jennaira panik. Kemala tidak menjawab. Ia membongkar isi tas itu dengan gerakan kasar, lalu berhenti saat menemukan sebuah amplop cokelat. Senyum tipis mengembang di bibirnya. Senyum yang membuat Jennaira menggigil. "Upah kerjamu," gumam Kemala dingin, seolah sedang menilai barang belanjaan. Jennaira refleks meraih amplop itu. "Bu, itu punyaku. Kita juga butuh makan, bayar listrik-" "KAU BERANI MELAWAN?" Dorongan keras dari Aditya membuat tubuh Jennaira terhuyung dan menghantam dinding. "Aaagh!" Bahunya terasa nyeri, napasnya tercekat. "Kau bekerja untuk membayar utang-utangku," ujar Aditya dengan senyum menjijikkan. "Jadi uang ini hak kami!" Air mata Jennaira jatuh satu per satu. Dadanya terasa perih, seolah diremas dari dalam. "Tapi... tidak harus semuanya. Aku juga butuh pegangan, Yah." "Kau ini benar-benar menyusahkan!" bentak Kemala. "Sejak kecil hanya jadi beban!" Aditya bangkit dari duduknya. Tatapannya menyapu tubuh Jennaira dari ujung rambut hingga ujung kaki. Cara matanya menilai membuat Jennaira mual. "Kalau saja kau berguna," ucapnya sambil tersenyum miring, "Hidup kita sudah enak. Lebih baik kau melacur saja. Tubuhmu itu bisa menghasilkan uang lebih cepat." Kalimat itu menghancurkan sesuatu di dalam diri Jennaira. "A-apa?" bibirnya bergetar. Dunia seolah runtuh di bawah kakinya. "Atau," sambung Kemala santai, seakan membicarakan cuaca, "Kau menikah dengan Pak Handoyo." Nama itu membuat darah Jennaira membeku. "Aku tidak mau!" serunya spontan. "Bu, dia kasar! Aku takut ... aku mohon-" PLAK! Tamparan kedua jauh lebih keras. Kepala Jennaira terhantam ke samping, bibirnya terasa perih. Kemala menjambak rambutnya tanpa ragu. "Masuk kamar!" bentaknya tajam. "Pilih salah satu! Melacur, atau menikah dengan Pak Handoyo!" Tubuh Jennaira didorong masuk ke kamar. BRAKK! KLIK! Pintu ditutup kasar dan dikunci dari luar. Jennaira terjatuh di lantai. Napasnya tersengal, dadanya sesak seperti ditindih beban berton-ton. Air matanya mengalir tanpa bisa dihentikan. Aku ini anak mereka ... atau hanya barang dagangan? Dari balik pintu, suara kedua orang tuanya terdengar jelas-tanpa sedikit pun usaha untuk dirahasiakan. "Besok pagi kita bawa Jenna ke rumah Pak Handoyo," kata Kemala tenang. "Dia tidak bisa kabur," sahut Aditya puas. "Uangnya sudah kita ambil semua." Besok pagi. Tubuh Jennaira gemetar hebat. Ia memeluk lututnya di atas ranjang, menggigit bibir agar tidak menjerit. Jika aku kabur, aku durhaka. Jika aku tinggal, aku hancur. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Jennaira berharap pagi tidak pernah datang. *** Jennaira memeluk lututnya lebih erat. Kamar sempit itu terasa semakin menyempit, seolah dinding-dindingnya perlahan mendekat. Udara di dalamnya pengap, membuat napasnya terasa berat. Ia bangkit dari ranjang dengan langkah gontai, mendekati jendela kecil yang hanya tertutup teralis besi. Di luar, malam tampak sunyi. Jalanan lengang. Tidak ada satu pun orang yang bisa ia mintai tolong. Tangannya menggenggam teralis dingin itu. Kalau aku melompat ... Melompat ke mana, Jenna? Otak Jenna sudah tidak bisa berpikir jernih. Terlalu tinggi untuk kabur tanpa cedera. Terlalu rendah untuk mengakhiri semuanya. Jenna menghela napas panjang, lalu tertawa kecil-tawa yang rapuh, nyaris seperti tangisan. "Lucu," gumamnya pelan. "Aku bahkan tidak punya keberanian untuk kabur." Langkah kaki terdengar dari luar kamar. Jennaira membeku. Bayangan sepatu berhenti tepat di depan pintunya. "Ayah?" panggilnya pelan, meski tubuhnya gemetar. Tidak ada jawaban. Yang terdengar justru suara bisik-bisik di ruang tamu. Suara ayah dan ibunya. Sengaja dipelankan, tapi cukup jelas untuk didengar. "Pak Handoyo sudah setuju," ujar Kemala. "Besok pagi dia datang." Jennaira menutup mulutnya dengan kedua tangan. Air mata mengalir deras, membasahi punggung tangannya. "Pastikan anak itu tidak keluar kamar," sahut Aditya. "Kalau perlu, kunci saja dari luar." "Tenang. Dia anak penurut," jawab Kemala enteng. "Lagi pula, mau kabur ke mana tanpa uang?" Kata-kata itu menusuk lebih kejam daripada tamparan. Jennaira mundur selangkah, punggungnya menempel ke dinding. Tubuhnya melorot perlahan hingga terduduk di lantai. Tangisnya pecah tanpa suara. Ia menutup telinganya, tapi suara itu tetap menggema di kepalanya. Mereka benar-benar akan menjualku. Pandangannya jatuh pada ponsel tua di atas meja. Layarnya retak. Baterainya hampir habis. Ia meraihnya dengan tangan gemetar. Satu nama muncul di pikirannya-pemilik kedai tempat ia bekerja. Tapi ingatan tentang ucapan ibunya membuat jarinya terhenti. "Uangnya sudah kita ambil semua. Ia tidak punya apa-apa." Jennaira mematikan layar ponselnya dan memeluknya ke dada. Untuk pertama kalinya, rasa takut berubah menjadi keputusasaan yang dingin. Jika tidak ada yang menolongnya malam ini ... maka esok pagi, ia bukan lagi milik dirinya sendiri. Dari balik pintu, suara kunci kembali terdengar-diputar pelan, memastikan pintu benar-benar terkunci. Klik. Suara itu seperti vonis. Jennaira mengangkat wajahnya ke langit-langit kamar. Air matanya jatuh membasahi pipi. "Tolong ...," bisiknya lirih, entah kepada siapa. Di luar kamar, jam berdetak pelan menuju pagi. Dan di suatu tempat, tanpa Jennaira ketahui, sebuah keputusan besar sedang bergerak menuju hidupnya."Perlindungan versi siapa?" Radiva menegang. "Aku tidak bisa mengontrol opini semua orang." "Tapi kau mengontrol aku," balas Jennaira cepat. Kalimat itu menghantam lebih keras dari tamparan. Radiva menatapnya lama. "Aku melakukan ini agar kau tetap hidup." "Aku hidup," bisik Jennaira. "Tapi aku tidak bernapas." Radiva melangkah maju setengah langkah. "Jenna—" "Jangan,” potong Jennaira. "Jangan sentuh aku dengan nada seperti itu. Aku bukan bagian dari rencanamu." "Kau istriku." "Di atas kertas," sahut Jennaira pahit. "Dan di mata publik, aku milikmu, tapi di dalam diriku … aku kosong." Radiva terdiam. Untuk pertama kalinya, ada keraguan melintas di wajahnya. Bukan ragu pada keputusannya, melainkan pada dampaknya. "Aku tidak pernah berniat menyakitimu," katanya lebih rendah. "Tapi kau melakukannya," jawab Jennaira lirih. "Tanpa sadar dan tanpa bertanya." Radiva menarik napas dalam. "Handoyo tidak akan berhenti. Jika kau goyah sekarang—" "Aku bukan lemah." Jennaira menyela
Pintu kamar tertutup tanpa suara. Namun bagi Jennaira, bunyinya seperti ledakan. Ia berdiri di tengah ruangan luas yang seharusnya terasa mewah, ranjang besar berseprai putih, jendela kaca setinggi dinding, lampu kristal yang berkilau lembut. Tapi semua itu tidak memberi rasa aman. Justru sebaliknya, membuatnya merasa kecil, terkurung, dan … dipajang.Aku bukan pajangan, tapi ... ini yang terjadi padaku.Ponselnya bergetar lagi. Satu notifikasi. Ah ... ralat, bukan hanya satu, tapi puluhan. Jennaira tidak perlu membukanya untuk mengetahui isinya. Ia sudah membaca terlalu banyak sejak konferensi pers berakhir.Istri kontrak ... Boneka CEO ... Perempuan yang dibeli untuk citra.Jarinya gemetar saat akhirnya layar menyala."Cantik sih, tapi kelihatan kosong.""Pasti dibayar mahal.""Kasihan? Ah, tidak. Dia memilih hidup nyaman."Napas Jennaira tersangkut di tenggorokan. Ia menekan ponsel ke dada, seolah itu bisa menghentikan suara-suara di kepalanya,tapi komentar itu sudah terlanjur mera
Ruangan itu terlalu terang. Lampu-lampu sorot menyilaukan mata Jennaira begitu ia melangkah masuk. Kilatan kamera menyambutnya seperti hujan peluru. Suara klik, bisik-bisik, dan gumaman para jurnalis berlapis-lapis, menciptakan dengung yang menusuk telinganya.Tangannya dingin, tapi bukan karena pendingin ruangan—melainkan karena ratusan pasang mata menatapnya dalam satu waktu.Di sampingnya, Radiva Emha Sanjaya berjalan dengan langkah mantap. Setelan jas hitamnya rapi, wajahnya tenang, nyaris tanpa cela. Seolah konferensi pers ini hanyalah satu rapat biasa yang bisa ia kuasai dengan satu kalimat.Jenna menelan ludah dengan susah payah. Seolah tercekat di tenggorokan.Ia adalah istrinya sekarang. Namun, di hadapan dunia—ia hanya seorang perempuan asing yang tiba-tiba berdiri di sisi seorang CEO berpengaruh."Tarik napas." Suara Radiva rendah, hampir tidak terdengar. Tangannya menyentuh punggung Jenna sekilas. Bukan pelukan, juga bukan genggaman. Hanya sentuhan singkat. Cukup untuk men
Malam itu terlalu sunyi. Bukan sunyi yang menenangkan, melainkan sunyi yang menekan—seperti ruang tertutup tanpa jendela. Jennaira duduk di tepi ranjang besar yang bahkan belum sempat ia sentuh dengan tubuhnya sepenuhnya. Gaun tidur sederhana membalut tubuhnya, namun rasa dingin merambat sampai ke tulang.Ini kamar mereka atau lebih tepatnya kamar yang disediakan untuknya.Tangannya gemetar saat memeluk lutut. Pernikahan kilat itu masih terasa tidak nyata. Semua berlangsung terlalu cepat. Tanda tangan, saksi, cincin, dan nama yang kini terikat secara hukum.Istri Radiva Emha Sanjaya.Status itu seharusnya memberi rasa aman., tapi yang Jenna rasakan justru sebaliknya.Dadanya sesak.Ia menoleh ke pintu. Sejak mereka kembali ke penthouse, Radiva hanya mengantarnya ke kamar ini dan berkata singkat agar ia beristirahat, lalu pergi ke ruang kerja. Tanpa sentuhan, tanpa penjelasan., tanpa satu pun kalimat yang memberi kehangatan pada dirinya."Ini hanya kontrak," ucap Jennaira pada dirinya
Waktu tidak memberi Jennaira kesempatan untuk bernapas. Jam di dinding bergerak terlalu cepat, seolah mengejarnya. Setiap detik berdetak seperti palu yang menghantam dadanya. Tangannya masih gemetar saat map kontrak itu diambil kembali oleh Bima dan dimasukkan ke dalam tas kerja."Dua jam," ucap Radiva datar. "Itu waktu yang kita punya."Jennaira menatapnya kosong. "Untuk apa?""Untuk mengakhiri semua celah," jawab Radiva. "Dan membuatmu tidak bisa disentuh siapa pun."Kata terakhiri terdengar seperti vonis.Ponsel Radiva bergetar. Ia mengangkatnya tanpa ekspresi, mendengarkan sebentar, lalu menutup panggilan."Mereka sudah tahu bahwa kau tidak pulang ke rumah," katanya. "Ibumu yang pertama kali bicara."Jennaira tersentak. "Ibu ...?""Ia menangis di telepon," lanjut Radiva dingin. "Tapi bukan karena kehilanganmu, tapi arena takut kehilangan uang."Tubuh Jennaira melemas. Ia sudah menduganya, tapi mendengar kebenaran tetap terasa seperti pisau yang diputar perlahan."Ayahmu mengancam
Jennaira tidak tidur malam itu. Ia berbaring kaku di atas ranjang besar yang terlalu empuk untuk tubuh yang terbiasa tidur dengan waspada. Lampu kamar redup. Udara dingin. Namun, yang membuatnya menggigil bukan suhu, melainkan pikirannya sendiri. Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan itu datang. Tangan ayahnya yang terangkat. Suara ibunya yang dingin— 'Ini demi keluarga.' Tatapan Pak Handoyo yang menyapu tubuhnya seolah ia adalah barang. Napas Jennaira tersendat. Dadanya terasa sempit. Ia duduk, memeluk lututnya sendiri. Kuku jarinya menekan kulit, berusaha memastikan bahwa semua ini nyata—bahwa ia benar-benar sudah pergi dari rumah itu. Namun, rasa aman tidak ikut bersamanya. Pintu kamar terbuka pelan. Jennaira refleks menoleh, tubuhnya menegang. Radiva berdiri di ambang pintu. Masih dengan kemeja gelap yang rapi, seolah waktu tidak berpengaruh apa pun padanya. "Kau belum tidur?" katanya datar. Jennaira menggeleng. "Aku tidak bisa memejamkan kedua mataku." Radiva masuk, ta







