Home / Romansa / Istri di Bawah Kuasanya / H1. Aku Akan Dijual

Share

Istri di Bawah Kuasanya
Istri di Bawah Kuasanya
Author: Cheezyweeze

H1. Aku Akan Dijual

Author: Cheezyweeze
last update Last Updated: 2025-12-16 21:43:17

Jam di dinding tepat menunjukkan pukul sepuluh malam saat Jennaira Kirei Atmaja membuka pintu rumahnya. Belum sempat ia menyalakan lampu, suara keras menggelegar lebih dulu-menghantam seperti petir di tengah gelap.

"DARI MANA SAJA KAU, HAH?!"

Tubuh Jennaira menegang seketika. Jantungnya serasa jatuh ke dasar perut. Di ruang tamu yang remang, ayah dan ibunya berdiri menunggunya. Tatapan mereka tajam, penuh amarah-seolah sejak awal malam ini mereka memang menunggu waktu untuk menghukumnya.

"Ayah... maaf," suara Jennaira lirih, hampir tak terdengar. "Kedai hari ini ramai. Aku harus membereskan dulu sebelum pul-"

PLAK!

Tamparan itu mendarat tanpa peringatan. Kepala Jennaira terpelanting ke samping. Pandangannya berkunang-kunang, telinganya berdenging, dan rasa panas langsung menjalar di pipinya. Ia belum sempat berdiri tegak ketika tangan ibunya sudah lebih dulu menarik tas selempangnya dengan kasar.

"Ibu-jangan!" teriak Jennaira panik.

Kemala tidak menjawab. Ia membongkar isi tas itu dengan gerakan kasar, lalu berhenti saat menemukan sebuah amplop cokelat. Senyum tipis mengembang di bibirnya. Senyum yang membuat Jennaira menggigil.

"Upah kerjamu," gumam Kemala dingin, seolah sedang menilai barang belanjaan.

Jennaira refleks meraih amplop itu.

"Bu, itu punyaku. Kita juga butuh makan, bayar listrik-"

"KAU BERANI MELAWAN?"

Dorongan keras dari Aditya membuat tubuh Jennaira terhuyung dan menghantam dinding.

"Aaagh!" Bahunya terasa nyeri, napasnya tercekat.

"Kau bekerja untuk membayar utang-utangku," ujar Aditya dengan senyum menjijikkan. "Jadi uang ini hak kami!"

Air mata Jennaira jatuh satu per satu. Dadanya terasa perih, seolah diremas dari dalam. "Tapi... tidak harus semuanya. Aku juga butuh pegangan, Yah."

"Kau ini benar-benar menyusahkan!" bentak Kemala. "Sejak kecil hanya jadi beban!"

Aditya bangkit dari duduknya. Tatapannya menyapu tubuh Jennaira dari ujung rambut hingga ujung kaki. Cara matanya menilai membuat Jennaira mual.

"Kalau saja kau berguna," ucapnya sambil tersenyum miring, "Hidup kita sudah enak. Lebih baik kau melacur saja. Tubuhmu itu bisa menghasilkan uang lebih cepat."

Kalimat itu menghancurkan sesuatu di dalam diri Jennaira. "A-apa?" bibirnya bergetar. Dunia seolah runtuh di bawah kakinya.

"Atau," sambung Kemala santai, seakan membicarakan cuaca, "Kau menikah dengan Pak Handoyo."

Nama itu membuat darah Jennaira membeku.

"Aku tidak mau!" serunya spontan. "Bu, dia kasar! Aku takut ... aku mohon-"

PLAK!

Tamparan kedua jauh lebih keras.

Kepala Jennaira terhantam ke samping, bibirnya terasa perih. Kemala menjambak rambutnya tanpa ragu.

"Masuk kamar!" bentaknya tajam. "Pilih salah satu! Melacur, atau menikah dengan Pak Handoyo!"

Tubuh Jennaira didorong masuk ke kamar.

BRAKK! KLIK!

Pintu ditutup kasar dan dikunci dari luar.

Jennaira terjatuh di lantai. Napasnya tersengal, dadanya sesak seperti ditindih beban berton-ton. Air matanya mengalir tanpa bisa dihentikan.

Aku ini anak mereka ... atau hanya barang dagangan?

Dari balik pintu, suara kedua orang tuanya terdengar jelas-tanpa sedikit pun usaha untuk dirahasiakan.

"Besok pagi kita bawa Jenna ke rumah Pak Handoyo," kata Kemala tenang.

"Dia tidak bisa kabur," sahut Aditya puas. "Uangnya sudah kita ambil semua."

Besok pagi.

Tubuh Jennaira gemetar hebat. Ia memeluk lututnya di atas ranjang, menggigit bibir agar tidak menjerit.

Jika aku kabur, aku durhaka.

Jika aku tinggal, aku hancur.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Jennaira berharap pagi tidak pernah datang.

***

Jennaira memeluk lututnya lebih erat. Kamar sempit itu terasa semakin menyempit, seolah dinding-dindingnya perlahan mendekat. Udara di dalamnya pengap, membuat napasnya terasa berat.

Ia bangkit dari ranjang dengan langkah gontai, mendekati jendela kecil yang hanya tertutup teralis besi. Di luar, malam tampak sunyi. Jalanan lengang. Tidak ada satu pun orang yang bisa ia mintai tolong.

Tangannya menggenggam teralis dingin itu.

Kalau aku melompat ...

Melompat ke mana, Jenna?

Otak Jenna sudah tidak bisa berpikir jernih. Terlalu tinggi untuk kabur tanpa cedera. Terlalu rendah untuk mengakhiri semuanya.

Jenna menghela napas panjang, lalu tertawa kecil-tawa yang rapuh, nyaris seperti tangisan.

"Lucu," gumamnya pelan. "Aku bahkan tidak punya keberanian untuk kabur."

Langkah kaki terdengar dari luar kamar. Jennaira membeku.

Bayangan sepatu berhenti tepat di depan pintunya.

"Ayah?" panggilnya pelan, meski tubuhnya gemetar.

Tidak ada jawaban.

Yang terdengar justru suara bisik-bisik di ruang tamu. Suara ayah dan ibunya. Sengaja dipelankan, tapi cukup jelas untuk didengar.

"Pak Handoyo sudah setuju," ujar Kemala. "Besok pagi dia datang."

Jennaira menutup mulutnya dengan kedua tangan. Air mata mengalir deras, membasahi punggung tangannya.

"Pastikan anak itu tidak keluar kamar," sahut Aditya. "Kalau perlu, kunci saja dari luar."

"Tenang. Dia anak penurut," jawab Kemala enteng. "Lagi pula, mau kabur ke mana tanpa uang?"

Kata-kata itu menusuk lebih kejam daripada tamparan. Jennaira mundur selangkah, punggungnya menempel ke dinding. Tubuhnya melorot perlahan hingga terduduk di lantai. Tangisnya pecah tanpa suara. Ia menutup telinganya, tapi suara itu tetap menggema di kepalanya. Mereka benar-benar akan menjualku. Pandangannya jatuh pada ponsel tua di atas meja. Layarnya retak. Baterainya hampir habis. Ia meraihnya dengan tangan gemetar.

Satu nama muncul di pikirannya-pemilik kedai tempat ia bekerja. Tapi ingatan tentang ucapan ibunya membuat jarinya terhenti.

"Uangnya sudah kita ambil semua. Ia tidak punya apa-apa."

Jennaira mematikan layar ponselnya dan memeluknya ke dada. Untuk pertama kalinya, rasa takut berubah menjadi keputusasaan yang dingin. Jika tidak ada yang menolongnya malam ini ... maka esok pagi, ia bukan lagi milik dirinya sendiri.

Dari balik pintu, suara kunci kembali terdengar-diputar pelan, memastikan pintu benar-benar terkunci.

Klik.

Suara itu seperti vonis. Jennaira mengangkat wajahnya ke langit-langit kamar. Air matanya jatuh membasahi pipi.

"Tolong ...," bisiknya lirih, entah kepada siapa.

Di luar kamar, jam berdetak pelan menuju pagi. Dan di suatu tempat, tanpa Jennaira ketahui, sebuah keputusan besar sedang bergerak menuju hidupnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri di Bawah Kuasanya   H79. Penjara yang Dingin

    Radiva sampai di lapas. Ia segera melangkah menemui polisi yang berjaga. Bima melangkah di belakang Radiva. Polisi itu membawa Radiva beserta Bima menuju ruang tunggu."Pak Diva, tunggu sebentar. Silakan duduk." Polisi yang bertugas mempersilakan Radiva duduk. Radiva hanya mengangguk kepala.Polisi penjaga itu melangkah keluar dari ruang tunggu menuju sel tempat Handoyo.0Ruang kunjungan itu dingin. Dinding abu-abu, meja besi, dan kaca pembatas yang memisahkan dua dunia—bebas dan terkurung. Radiva duduk tegak, tangannya terlipat di atas meja. Wajahnya tenang, tapi matanya tajam.Di seberang kaca, Handoyo tersenyum. Seragam tahanan tak menghapus wibawanya. Ia tetap terlihat seperti pria yang terbiasa mengendalikan keadaan.“Selamat,” ucapnya santai begitu telepon diangkat. “Kau menang.”Radiva tidak tersenyum. “Ini bukan permainan.”Handoyo terkekeh pelan. “Oh, ini selalu permainan, Radiva. Kau hanya baru sadar sekarang.”Radiva menatapnya lurus. “Kau kalah. Bukti-bukti sudah lengkap.

  • Istri di Bawah Kuasanya   H78. Nama Itu ....

    Handoyo duduk di balik jeruji, wajahnya memar, tapi senyumnya masih ada. Polisi menutup berkas dengan keras. "Kau sudah selesai, Handoyo." Handoyo mengangkat kepala, matanya berkedip. "Sudah selesai?" Ia terkekeh pelan, seperti mendengar lelucon. Radiva berdiri di depan sel, tatapannya tajam. "Siapa yang membantumu?" Handoyo menatapnya lama. Lalu ia mendekat ke jeruji, suaranya turun. "Kau pikir aku punya cukup kekuatan untuk melakukan semua ini sendirian?" Radiva tidak bergerak. Handoyo tersenyum. "Permainan ini… milik Arkana." Udara mendadak dingin. Radiva membeku. "Apa? Nama itu ...." Handoyo hanya menatapnya, puas. "Iya, benar. Nama itu yang kelak akan menghancurkanmu …" Senyumnya melebar. " ... Ia akan datang menghampirimu." *** Flashback beberapa tahun silam .... Hujan turun deras malam itu. Lampu jalanan berpendar samar di atas aspal basah. Kota seperti kuburan hidup—sunyi, dingin, dan penuh rahasia. Arkana duduk di dalam mobil, kedua tangannya mencengkeram

  • Istri di Bawah Kuasanya   H77. Akhir Dari Dendam

    "Pak Radiva, saya sudah mendapatkan lokasi di mana Bu Jennaira disekap." Bima melapor setelah Radiva mempersilakan masuk ke ruang kantornya.Radiva memutar kursinya. Menatap Bima untuk memastikan sesuatu. Bima menelan ludah dengan kesusahan karena tatapan maut Radiva."Saya bersumpah, Pak. Untuk kali ini, info yang saya dapat benar-benar akurat," aku Bima membela diri."Hm ...." Hanya begitu jawaban Radiva.Bima masih berdiri di sana. Hal itu membuat Radiva kembali menatapnya. "Kenapa masih berdiri di situ? Cepat keluar!"Bima menekuk kedua bibirnya ke dalam, lalu buru-buru keluar dari ruangan Radiva.Beberapa detik setelah itu Bima menyembulkan kepalanya tanpa mengetuk pintu. "Pak Diva, jangan pergi sendirian.""Bimaaa!" teriak Radiva. Pintu langsung tertutup dengan suara yang lumayan memekakkan telinga. Kembali pintu terbuka sedikit dan kepala Bima masuk."Pak, saya serius. Pak Radiva jangan datang sendirian. Itu berbahaya.""Bim, jangan ganggu aku dulu. Pergilah bekerja. Aku ingin

  • Istri di Bawah Kuasanya   H76. Dendam yang Membakar Hati

    Suara telepon itu masih menggema di kepala Radiva.“Kalian pikir aku tidak tahu kamu bersembunyi di mana?”Radiva berdiri kaku, napasnya berat. Aurelia menurunkan gagang telepon perlahan, wajahnya tidak pucat—tapi dingin, seperti seseorang yang baru saja menyadari permainan ini jauh lebih besar dari dugaan mereka.“Dia sengaja,” bisik Radiva.Aurelia mengangguk pelan.“Dia ingin kamu kehilangan kendali.”Radiva menatapnya tajam.“Jenna masih hidup?”“Kita tidak punya pilihan selain menganggap iya,” jawab Aurelia cepat. “Kalau dia ingin Jenna mati, dia tidak akan menelepon. Handoyo butuh kamu hidup dalam ketakutan.”Radiva mengepalkan tangan.“Aku akan membunuhnya.”“Tidak,” potong Aurelia. “Kamu akan menyelamatkan istrimu dulu.”Radiva terdiam, matanya merah oleh amarah yang ditahan paksa. Aurelia membuka laptop dan beberapa dokumen di meja.“Dia sudah tahu lokasi ini. Itu artinya… dia punya orang yang memantau pergerakanmu. Kita harus bergerak sekarang, sebelum dia memindahkan Jenna

  • Istri di Bawah Kuasanya   H75. Langkah Diam-Diam

    Radiva tidak langsung pergi. Untuk beberapa detik, ia hanya berdiri di tempat yang sama, ponsel masih dalam genggamannya dan pesan itu seperti bara api.[Kau akan bermain sesuai aturanku.]Handoyo mengira Radiva akan datang sendiri. Mengira ia akan panik, kehilangan logika, dan masuk ke dalam perangkap seperti binatang yang mengejar umpan.Radiva memang panik. Tapi ia bukan bodoh.Ia menutup mata, menarik napas panjang, memaksa dirinya kembali waras. Lalu ia berbalik, masuk ke mobil, dan melaju tanpa arah yang jelas—bukan untuk kabur, tapi untuk berpikir.Tangannya gemetar saat menekan nomor Aurelia sekali lagi. Kali ini tersambung.“Aurelia,” suara Radiva serak, berat.“Aku dengar,” jawab Aurelia cepat. Tidak ada basa-basi.“Kamu dapat video itu, ya?”Radiva menelan ludah.“Jenna ada di tangan Handoyo.”Hening sesaat di seberang. Lalu Aurelia berkata pelan, tapi tegas,“Kalau

  • Istri di Bawah Kuasanya   H74. Tempat Kosong

    Alamat itu membawanya ke pinggir kota. Jalanan semakin sepi, lampu-lampu semakin jarang, dan setiap detik terasa seperti jarum yang menusuk dada Radiva. Tangannya mencengkeram setir sampai buku-buku jarinya memutih. Ia tidak peduli aturan. Tidak peduli strategi. Yang ia pedulikan hanya satu: Jennaira.Mobil berhenti mendadak di depan bangunan tua yang bahkan nyaris tidak terlihat sebagai tempat layak. Halaman kosong. Tidak ada suara. Tidak ada gerakan.Radiva turun dengan langkah cepat, matanya menyapu setiap sudut. Kosong.Ia berjalan masuk, pintu besi berderit pelan saat didorong. Debu. Udara pengap. Dan… tidak ada siapa-siapa.Radiva berdiri di tengah ruangan, napasnya berat, dadanya naik turun seperti menahan amarah yang sudah mendidih sejak tadi.“Bajingan…” gumamnya.Ia melangkah lebih jauh, memeriksa ruangan satu per satu, tapi jawabannya tetap sama. Tidak ada Jenna. Tidak ada Handoyo. Tidak ada apa pun selain kesunyian yang mengejek.Radiva mengangkat ponselnya, menatap alamat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status