Home / Romansa / Istri sang Iblis / 3. Pintu yang Tak Boleh Dibuka

Share

3. Pintu yang Tak Boleh Dibuka

Author: Giamelia
last update publish date: 2026-08-02 01:04:53

Rantai itu tahu namanya. Seraphina berdiri tiga langkah dari pintu besi yang terkunci berlapis, dan ia bersumpah—logam itu baru saja membisikkan "Aldric."

Ia sudah berdiri di sana sejak subuh, saat kastil masih sunyi dan para pelayan bayangan—makhluk-makhluk yang bergerak tanpa suara membersihkan kastil tanpa pernah terlihat jelas wujudnya—belum memulai rutinitas mereka. Lilin di dinding koridor ini menyala lebih redup dibanding bagian kastil lainnya, seolah cahaya sendiri enggan mendekat.

Simbol di atas rantai itu sama persis dengan lukisan wanita di sayap barat yang ia lihat sekilas malam pertama. Sama persis dengan bekas lambang yang pernah ia lihat di halaman terakhir arsip keluarganya—halaman yang selalu robek setiap kali ia mencoba membacanya sejak kecil. Tangannya terulur, hendak menyentuh salah satu rantai—

"Aku akan menyarankan agar kau tidak melakukan itu."

Seraphina tersentak, menarik tangannya cepat. Vellorn berdiri di ujung koridor, masih mengenakan pakaian tidurnya—kemeja putih longgar yang membuatnya terlihat mengejutkan lebih manusiawi dibanding jas rapi yang selalu ia kenakan di depan publik. Tapi matanya, di bawah cahaya lilin yang minim, tetap dua koin emas yang tak pernah benar-benar tenang.

"Apa yang ada di baliknya?" Seraphina tak repot berbasa-basi.

"Sesuatu yang tak perlu kau ketahui." Vellorn melangkah mendekat, jarak di antara mereka menyempit hingga Seraphina bisa mencium aroma asap kayu manis dan sesuatu yang lebih gelap, lebih kuno, menguar dari kulitnya. "Sayap ini dilarang. Bukan permintaan, Nona Aldric. Peraturan."

"Kontrak kita tidak menyebutkan apa pun soal aku dilarang berjalan-jalan di rumahku sendiri."

"Kontrak kita," Vellorn membalas, suaranya tenang tapi ada sesuatu yang mengeras di baliknya, "juga tidak menyebutkan apa pun soal aku wajib menjelaskan setiap rahasia yang kumiliki hanya karena kau bertanya dengan nada seperti itu."

Mereka saling menatap dalam diam yang tegang. Seraphina bisa merasakan detak jantungnya sendiri, cepat dan keras, tapi ia menolak mundur selangkah pun. Ada sesuatu dalam dirinya—sesuatu yang baru, atau mungkin sesuatu yang sudah lama terkubur di bawah kepatuhan seorang putri bangsawan—yang menolak untuk sekadar diam dan menerima.

"Baiklah," katanya akhirnya, memilih mundur secara taktis, bukan menyerah. "Tapi izinkan aku mengingatkanmu satu hal, Tuan Vellorn: aku menandatangani kontrak untuk menjadi istrimu di depan umum. Bukan untuk menjadi tahanan di rumahku sendiri."

Sesuatu berkelebat di wajah Vellorn—begitu cepat hingga nyaris tak tertangkap—sebelum topeng dinginnya kembali terpasang sempurna.

"Sarapan sudah siap di ruang timur," katanya, berbalik pergi tanpa menjawab. "Jangan biarkan dingin."

***

Surat itu tiba tiga hari kemudian, dibawa oleh burung hitam yang tak biasa—terlalu besar untuk burung gagak biasa, dengan mata yang tampak terlalu cerdas untuk seekor hewan.

Seraphina membuka amplop itu dengan tangan gemetar, mengenali tulisan tangan ayahnya di sampulnya. Tapi isinya jauh dari yang ia duga.

Sera, aku menulis ini dengan tangan yang tidak lagi gemetar. Kau mungkin tak akan percaya, tapi penyakit yang sudah menggerogotiku sejak lima tahun lalu—penyakit yang bahkan tabib istana bilang tak ada obatnya—menghilang dalam semalam. Aku bangun kemarin pagi dan merasa seperti dua puluh tahun lebih muda. Dokter bilang ini keajaiban. Aku tak tahu harus bersyukur pada siapa, tapi aku merasa perlu memberitahumu. Bagaimana keadaanmu di sana? Aku khawatir, meski kau tak pernah mau mengakui saat kau butuh bantuan.

—Ayah

Seraphina membaca surat itu tiga kali, jantungnya berdegup semakin cepat setiap kali. Penyakit ayahnya sudah bertahun-tahun tak tersembuhkan—penyakit yang perlahan menggerogoti paru-parunya, membuatnya semakin lemah setiap musim dingin. Tabib terbaik di ibu kota sudah menyerah sejak dua tahun lalu.

Dan sekarang, tepat setelah ia menandatangani kontrak dengan seorang iblis—penyakit itu menghilang begitu saja. Ia teringat kata-kata Vellorn malam pertama: aku tahu banyak hal tentang keluargamu, lebih dari yang kau kira.

Ini bukan kebetulan.

Seraphina berjalan cepat menyusuri koridor kastil, mencari sosok berjas hitam yang biasanya selalu muncul entah dari mana. Ia menemukannya di perpustakaan, duduk di kursi besar dekat perapian, membaca buku tebal berbahasa yang tak ia kenali.

"Kau menyembuhkan ayahku," ujar Seraphina.

Vellorn menutup bukunya perlahan, tak terkejut sama sekali—seolah sudah menunggu momen ini. "Aku menepati kontrak. Kekayaan dan keselamatan bagi keluargamu, itu yang kujanjikan."

"Kau tidak pernah bilang bahwa 'keselamatan' termasuk menyembuhkan penyakit yang bahkan tabib istana bilang mustahil disembuhkan."

"Apakah itu masalah bagimu?" Vellorn bangkit dari kursinya, mendekat dengan langkah yang terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja mengakui memiliki kekuatan sebesar itu. "Ayahmu sehat. Bukankah itu yang selalu kau inginkan?"

"Aku ingin tahu berapa harganya," Seraphina membalas, suaranya tercekat sedikit. "Kau bukan tipe yang memberi sesuatu secara cuma-cuma, Tuan Vellorn. Bahkan aku, yang baru mengenalmu tiga hari, tahu itu."

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, sesuatu yang menyerupai penghargaan muncul di mata emas Vellorn—seolah ia baru saja melihat Seraphina dengan cara yang berbeda.

"Kau benar," katanya pelan. "Tidak ada yang cuma-cuma. Tapi harga untuk kesembuhan ayahmu sudah kubayar sendiri, bukan kau. Jadi jangan khawatirkan itu."

"Kau membayar sendiri? Dengan apa?"

Vellorn tidak menjawab. Ia hanya menatapnya lama, dan untuk sepersekian detik, Seraphina melihatnya—bayangan tipis seperti luka bakar berbentuk rantai, muncul sekilas di pergelangan tangan Vellorn sebelum lengan kemejanya bergerak menutupinya kembali, seolah pola itu baru saja bertambah satu lagi ukiran pada kulitnya yang sudah lama terhitung tak terbatas.

"Beristirahatlah, Nona Aldric," katanya, suaranya tiba-tiba terdengar lelah dengan cara yang tak pernah Seraphina dengar sebelumnya. "Besok malam ada pesta di istana. Kau akan diperkenalkan secara resmi sebagai istriku di depan seluruh bangsawan ibu kota—termasuk mereka yang paling ingin melihatmu gagal."

Ia berbalik pergi sebelum Seraphina sempat bertanya lebih jauh soal rantai aneh di pergelangan tangannya—atau soal mengapa, tepat saat menyebut kata "harga," suara Vellorn terdengar seperti seseorang yang baru saja kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada yang pernah ia akui.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri sang Iblis    13. MALAM TANPA KATA

    Vellorn menemukannya di taman kastil dua malam kemudian, duduk sendirian di bangku batu dekat kolam yang airnya begitu tenang hingga memantulkan bintang-bintang seperti cermin kedua di bawah langit."Aku pikir kau sudah tidur," katanya, berhenti beberapa langkah dari bangku itu, seolah ragu apakah kehadirannya diinginkan atau tidak."Aku tidak bisa." Seraphina menggeser sedikit di bangku itu, memberi ruang tanpa benar-benar mengucapkan undangan. "Terlalu banyak yang harus dipikirkan sejak rumah teh itu."Vellorn duduk di sampingnya, jaraknya masih terjaga dengan hati-hati, seolah mereka berdua sudah lama sepakat pada batas tak tertulis yang tak pernah benar-benar dibicarakan. Angin malam membawa aroma bunga malam yang mekar di sepanjang tepi kolam, dan untuk beberapa saat, tak ada yang bicara sama sekali—hanya suara jangkrik yang bersahutan dan gemericik kecil air yang bergerak pelan tertiup angin."Waktu aku masih kecil," Seraphina akhirnya berkata, memecah kesunyian tanpa benar-bena

  • Istri sang Iblis    KECEMBURUAN YANG TAK TERUCAP

    Hari-hari setelah kejadian di rumah teh berlalu dengan kewaspadaan yang tak pernah sepenuhnya mereda.Seraphina mendapati dirinya memeriksa setiap sudut ruangan sebelum benar-benar masuk, mendengarkan setiap derit lantai dengan telinga yang lebih tajam dari biasanya, dan yang paling sering, memikirkan kembali visi singkat yang ia lihat lewat liontin itu—Vellorn yang lebih muda, penuh amarah, berdiri di hadapan wanita berjubah hitam yang suaranya sama dengan wanita di rumah teh. *Cinta yang tumbuh tanpa paksaan,* Vellorn dalam visi itu telah berkata. *Itu satu-satunya jalan yang akan kupilih.*Ia tidak bisa berhenti memikirkan bagaimana kalimat itu terdengar—bukan seperti seseorang yang belum pernah mencintai siapa pun, melainkan seseorang yang sudah tahu persis rasanya, dan bersumpah tidak akan pernah memaksakannya lagi pada orang lain.Malam itu, tak bisa tidur, Seraphina turun menyusuri koridor kastil yang sunyi, hanya diterangi bola-bola cahaya kecil yang melayang malas di bawah la

  • Istri sang Iblis    11. BENDA YANG BERCERITA

    Vellorn tidak berbicara sepanjang perjalanan pulang.Ia duduk di seberang Seraphina dengan liontin itu tergenggam erat di tangannya—terlalu erat, hingga buku-buku jarinya memutih, seolah logam tua itu bisa saja lolos dan menghilang jika ia melonggarkan cengkeramannya barang sedetik. Matanya menatap ke luar jendela, tapi Seraphina tahu ia tidak benar-benar melihat kota yang berlalu di sana. Ia sedang melihat sesuatu yang jauh lebih tua dari pemandangan pagi itu."Vellorn." Seraphina akhirnya memecah kesunyian saat kereta memasuki gerbang kastil. "Kau belum menjawabku. Siapa Ottilie?"Ia tidak menjawab sampai mereka berdua kembali duduk di ruang kerja pribadinya—ruangan sederhana yang semalam ia perlihatkan untuk pertama kali dalam tiga abad, tempat cangkir teh pecah yang direkatkan kembali masih berdiri di raknya, saksi bisu atas apa pun yang pernah terjadi di sana jauh sebelum Seraphina lahir."Ottilie Vane," katanya akhirnya, meletakkan liontin itu di atas meja dengan hati-hati, seol

  • Istri sang Iblis    10. PENERJEMAH YANG TIDAK DITEMUKAN

    Alamat di kertas itu membawa mereka ke sebuah rumah teh kecil di sudut kota, jauh dari keramaian jalan utama, dengan jendela-jendela berkaca buram yang tak memperlihatkan apa pun dari luar—hanya bayangan kabur cahaya lilin yang menyala di dalamnya, seolah sengaja disembunyikan dari mata siapa pun yang lewat.Vellorn berhenti tepat sebelum pintu, tangannya menahan lengan Seraphina sejenak. "Aku akan menunggu di seberang jalan," katanya, meski jelas dari nada suaranya betapa berat keputusan itu baginya, betapa setiap kata itu keluar seperti dipaksakan melewati tenggorokan yang menolak mengucapkannya. "Cukup dekat untuk merasakan brosmu jika terjadi sesuatu. Tapi—""Tapi kita sepakat aku masuk sendiri." Seraphina menyelesaikan kalimatnya, menatap mata emas Vellorn yang menyala redup di bawah cahaya pagi yang masih suram, belum sepenuhnya lepas dari kabut semalam. "Aku akan baik-baik saja.""Kau tidak tahu itu.""Kau juga tidak." Ia mencoba tersenyum, meski jantungnya berdegup terlalu ker

  • Istri sang Iblis    9. PERJALANAN YANG DIAWASI

    Kereta kuda hitam bergerak melewati jalanan kota yang masih basah oleh embun pagi, roda-rodanya berderak pelan di atas batu jalan yang belum sepenuhnya terjaga dari kabut semalam. Seraphina duduk di seberang Vellorn, jari-jarinya sesekali menyentuh bros bulan sabit yang kini terpasang di dada gaunnya, tersembunyi di balik lipatan kain agar tak terlihat mencolok."Kau gugup," kata Vellorn, memecah keheningan yang sudah berlangsung sejak sepuluh menit terakhir."Aku sedang menuju pertemuan dengan seseorang yang mengaku keturunan penyihir yang mengurungmu selama tiga ratus tahun, di tempat yang bahkan kita berdua tidak pernah dengar namanya sebelum kemarin." Seraphina menatapnya datar. "Tentu saja aku gugup."Sudut bibir Vellorn tertarik sedikit, hampir seperti senyum yang tak sepenuhnya ia izinkan muncul. "Kupikir kau akan bilang sesuatu yang lebih berani, Nona Aldric.""Aku bisa gugup dan berani di waktu yang sama." Ia melirik ke luar jendela kereta, memperhatikan bangunan-bangunan kot

  • Istri sang Iblis    8. BERGEGAS TANPA BERTANYA

    "Mereka tahu aku akan punya waktu untuk bersiap jika jadwalnya tetap tiga hari lagi," kata Vellorn, masih menatap kertas itu seolah bisa memaksa tinta hitamnya mengaku siapa penulisnya. "Memajukannya jadi besok pagi bukan kebetulan, Seraphina. Itu perhitungan.""Perhitungan untuk apa?""Untuk memastikan aku tidak sempat menyiapkan pertahanan apa pun." Ia akhirnya mendongak, dan cahaya lilin di ruangan itu memantul di matanya dengan cara yang membuatnya tampak lebih tua dari wajahnya yang nyaris tak berubah selama tiga abad. "Siapa pun yang mengatur ini, mereka tidak ingin *aku* yang siap. Kertas itu ditujukan padamu, bukan padaku. *Datanglah sendiri.* Mereka ingin bicara denganmu, bukan denganku."Kata-kata itu menggantung di udara lebih lama dari yang seharusnya."Kalau begitu aku akan pergi," katanya akhirnya."Tidak sendirian.""Kertas itu bilang—""Aku tidak peduli apa kata kertas itu." Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, suara Vellorn naik, cukup keras hingga lilin-lilin

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status