ホーム / Romansa / Istri sang Iblis / 2. Tinta yang Tak Bisa Dihapus

共有

2. Tinta yang Tak Bisa Dihapus

作者: Giamelia
last update 公開日: 2026-08-02 01:02:10

"Kau tidak bertanya jenis ikatan apa," kata Vellorn, dan di situlah Seraphina sadar—terlambat—bahwa ia baru saja menjual lebih dari sekadar nama keluarganya.

Tanda tangan itu belum kering ketika Seraphina menyadari ia baru saja menjual sesuatu yang tak pernah ia hitung nilainya. Perkamen di atas meja bergetar pelan, seolah hidup, seolah baru saja menelan sesuatu. Garis-garis merah yang tadinya membentuk namanya kini merembes ke dalam serat kertas, menghilang seperti darah diserap tanah kering.

Seraphina menatap jarinya sendiri—luka kecil di ujung jari manis yang ia buat dengan pemotong kertas perak, kini sudah menutup sempurna. Tak ada bekas. Seolah tak pernah terjadi. Namun, sesuatu di dadanya terasa berbeda. Lebih berat. Lebih... terikat.

"Selamat," kata Vellorn, menggulung perkamen itu dengan gerakan yang terlalu anggun untuk seseorang yang baru saja membeli hidup orang lain. "Kau baru saja menjadi wanita paling kaya sekaligus paling dibenci di kota ini, dalam satu malam yang sama."

"Kau tidak bilang soal—" Seraphina menunjuk perkamen itu, suaranya tercekat, "—ikatan apa pun selain uang."

"Aku bilang kontrak." Vellorn memiringkan kepala, senyumnya tak berubah, tapi matanya sedikit lebih tajam. "Kontrak selalu punya ikatan, Nona Aldric. Kau hanya tak bertanya jenis apa."

Seraphina ingin marah. Ia ingin melempar sesuatu ke wajah tampan yang penuh rahasia itu. Tapi di luar jendela, lonceng menara kota masih berdentang, mengingatkannya bahwa dalam tiga hari rumah ini akan disita, dan ayahnya—ayahnya yang sudah tampak sepuluh tahun lebih tua—sedang tidur di kamar atas tanpa tahu apa yang baru saja putrinya lakukan untuknya.

Ia menelan kemarahannya. "Berapa lama pernikahan palsu ini akan berlangsung?"

"Satu tahun." Vellorn mengulurkan tangan, seolah mengajak berdansa alih-alih bersalaman. "Setelah itu, kontrak berakhir, dan kau bebas melakukan apa pun yang kau mau dengan hidupmu yang telah kuselamatkan."

Seraphina tidak menjabat tangan itu. Tapi ia tidak menolaknya juga.

Berita itu menyebar lebih cepat dari yang pernah Seraphina bayangkan.

Keesokan paginya, sebelum matahari sepenuhnya terbit, sudah ada tiga surat kabar yang memuat berita pernikahan mendadaknya di halaman depan.

Tuan Vellorn, bangsawan asing misterius yang tiba-tiba muncul di ibu kota, menikahi putri keluarga Aldric yang bangkrut—hanya semalam setelah lelang harta keluarga mereka. Tak ada foto Vellorn di mana pun, seolah ia sengaja menghindar dari setiap lukisan dan sketsa wartawan.

Di ruang tamu keluarga yang kini sudah kosong dari sebagian besar perabotannya, ayah Seraphina duduk gemetar memegang salah satu surat kabar itu. "Sera," suaranya parau, "apa yang telah kau lakukan?"

"Menyelamatkan kita," jawabnya datar. "Utangmu lunas. Rumah ini aman. Bukankah itu yang penting?"

"Dengan menikahi orang yang bahkan tak pernah kau temui sebelum kemarin malam?" Ayahnya berdiri, tangannya gemetar hebat. "Siapa dia sebenarnya, Sera? Tak ada yang tahu keluarganya, asalnya, bahkan wajahnya di mana pun!"

Seraphina menatap ayahnya lama. Ada sesuatu di mata pria tua itu—bukan hanya kekhawatiran seorang ayah, tapi sesuatu yang lebih gelap, lebih familiar, seperti seseorang yang mengenali nama yang seharusnya sudah lama dilupakan. Namun, sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, ayahnya sudah berbalik dan berjalan cepat ke kamarnya, menutup pintu lebih keras dari biasanya.

Seraphina berdiri sendirian di ruang tamu kosong, menatap bekas persegi di dinding tempat lukisan-lukisan keluarganya dulu tergantung.

Malam itu, ia dijemput menuju rumah barunya—sebuah kastil di pinggir kota yang tak pernah ia dengar namanya sebelumnya, seolah bangunan itu baru muncul dalam semalam. Kereta kuda hitam membawa mereka melewati kabut tebal yang tak biasa untuk musim ini, dan gerbang besi kastil terbuka sendiri tanpa disentuh siapa pun.

"Kau akan tinggal di sayap timur," kata Vellorn, memimpinnya menyusuri koridor panjang yang diterangi lilin-lilin yang menyala tanpa sumbu terbakar. "Kamarmu sudah disiapkan sesuai... seleramu."

"Kau tahu seleraku?"

"Aku tahu banyak hal tentang keluargamu, Nona Aldric." Ia berhenti di depan sebuah pintu berukir rumit. "Lebih dari yang kau kira."

Seraphina menatap pintu itu, lalu menatap Vellorn. Cahaya lilin membuat mata emasnya tampak seperti dua koin berkilau di wajah yang nyaris sempurna—terlalu sempurna untuk terasa nyata.

"Kenapa keluargaku?" tanyanya pelan, akhirnya mengucapkan pertanyaan yang sudah mengganggu pikirannya sejak semalam. "Dari semua keluarga bangkrut di kota ini, kenapa harus Aldric?"

Untuk sepersekian detik—begitu singkat hingga Seraphina hampir yakin ia membayangkannya—sesuatu berubah di wajah Vellorn. Senyum sopannya mengeras, rahangnya mengencang, dan mata emasnya berkedip dengan cahaya yang lebih intens, hampir seperti api yang tersulut angin.

"Karena," katanya, suaranya turun satu oktaf, lebih dalam dari sebelumnya, "nama keluargamu adalah satu-satunya alasan aku masih ada di dunia ini, Nona Aldric. Baik itu berkah atau kutukan, tergantung siapa yang kau tanya." Ia membuka pintu kamar itu tanpa menyentuhnya, hanya dengan gerakan tangan yang malas. "Selamat malam. Istirahatlah. Besok kau akan mulai belajar bagaimana caranya menjadi istri seorang iblis di depan seluruh ibu kota."

Ia berbalik pergi, jubah hitamnya menyapu lantai batu tanpa suara. Tapi saat langkahnya semakin menjauh, Seraphina menangkap sesuatu yang tersimpan di ujung koridor gelap—sebuah lorong lain yang tak disebutkan sebagai bagian dari tur singkat kastil itu, ditutup pintu ganda besi yang dirantai dan dikunci berlapis-lapis, seolah apa pun yang ada di baliknya harus dipastikan tak akan pernah bisa keluar.

Dan di atas rantai itu, terukir simbol yang sama persis dengan yang ia lihat di lukisan wanita tak dikenal di sayap barat malam sebelumnya—simbol yang, ia baru sadar sekarang, sangat mirip dengan lambang keluarga Aldric yang telah dihapus dari semua catatan resmi kerajaan.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Istri sang Iblis    KERTAS YANG DITINGGALKAN

    Cahaya hijau itu berhenti tiga langkah dari rak tempatnya bersembunyi.Seraphina menahan napas sampai dadanya terasa seperti akan pecah. Ia bisa mendengar kain jubah berkibas pelan di balik deretan buku, langkah yang ragu-ragu—bukan langkah seseorang yang yakin mangsanya sudah terpojok, melainkan langkah seseorang yang justru sedang menimbang, apakah harus mendekat atau mundur."Aku tahu kau ada di sana," bisikan itu terdengar, lembut, hampir seperti permintaan maaf, dalam bahasa yang sama sekali berbeda dari gumaman asing tadi. "Aku tidak datang untuk menyakitimu, Nona Aldric."Seraphina tidak menjawab. Tangannya mencengkeram tepi rak begitu erat hingga buku-buku bergetar, dan sapu tangan yang masih membalut jarinya yang terluka basah oleh keringat dingin."Kau akan menemukan ini berguna," sosok itu melanjutkan, dan cahaya hijau bergeser—bukan mendekat, melainkan menjauh, merambat ke arah meja baca tua di tengah ruangan. Sesuatu diletakkan di sana, ringan, nyaris tanpa suara. "Sebelu

  • Istri sang Iblis    6. Debu yang Menyimpan Kebenaran

    Buku itu menggigit jarinya sebelum ia sempat membuka sampulnya. Seraphina menarik tangan cepat, mengisap luka kecil di ujung jari telunjuknya—setipis sayatan kertas, tapi cukup untuk membuatnya melompat mundur dari rak arsip yang tersembunyi di ruang bawah tanah kastil. Setetes darahnya jatuh ke lantai batu, dan buku berjilid kulit gelap di hadapannya bergetar sekali, seolah baru saja mengenali sesuatu dalam darah itu. Ia sudah menyelinap ke ruang bawah tanah sejak Vellorn berangkat pagi ini, mengurus "persiapan" untuk pertemuan tiga hari lagi—pertemuan dengan nama misterius yang tulisan tangannya masih terus terngiang di kepala Seraphina, sama persis dengan halaman robek di arsip keluarganya sendiri. Ia tidak akan lagi menunggu Vellorn memutuskan sendiri apa yang boleh dan tidak boleh ia ketahui. Ruangan ini penuh rak-rak berdebu yang menjulang hingga langit-langit, diterangi bola-bola cahaya kecil yang melayang sendiri tanpa sumbu, seolah kastil ini punya caranya sendiri untuk m

  • Istri sang Iblis    5. Separuh Kebenaran

    Tangan Vellorn masih melayang di udara, sejengkal dari pipinya, ketika Seraphina memutuskan bahwa ia tidak akan membiarkan malam ini berakhir dengan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. "Jangan," katanya, menahan tangan itu di udara dengan telapaknya sendiri—bukan menepis, hanya menghentikan. Kulit Vellorn terasa lebih dingin dari yang ia duga, seperti menyentuh marmer yang baru saja disentuh embun malam. "Jangan sentuh aku sampai kau menjawab semua pertanyaanku. Semuanya, Vellorn. Bukan potongan-potongan yang kau anggap cukup untukku."Rahang Vellorn mengeras. Untuk sesaat, Seraphina pikir ia akan menarik tangannya dan pergi seperti biasa—menghindar di balik topeng dingin yang selalu menjadi perisainya. Tapi kali ini, entah karena lukisan Isolde yang masih menatap mereka berdua dari dinding, atau karena sesuatu di matanya sendiri yang menolak untuk berbohong lagi malam ini, ia justru menghela napas panjang dan duduk di bangku kayu tua dekat jendela galeri."Duduklah," katanya. "

  • Istri sang Iblis    4. Wajah di Balik Kanvas

    Gelas anggur pecah di lantai marmer, dan seluruh ruangan menoleh ke arah Seraphina seolah dialah yang menjatuhkannya. "Maaf," desis seorang wanita tua berkalung berlian, mundur seolah baru saja menyentuh sesuatu yang menjijikkan, meski jelas dialah yang menyenggol gelas dari tangan Seraphina. "Aku hanya... terkejut. Kupikir kau akan tampak lebih—" ia menjeda, matanya menyapu gaun Seraphina dari atas ke bawah, "—layak untuk berdiri di aula ini." Tawa kecil tersebar di sekelilingnya, tertahan di balik kipas-kipas sutra. Seraphina merasakan panas menjalar ke wajahnya, tapi ia sudah berlatih seumur hidup untuk tidak membiarkan itu terlihat. Ia menegakkan dagunya, tersenyum tipis, dan membungkuk sopan seolah baru saja menerima pujian, bukan hinaan. "Terima kasih atas perhatiannya, Nyonya Renfield. Aku akan mengingatnya." Ia melangkah pergi sebelum wanita itu sempat membalas, jantungnya berdebar keras di balik topeng tenangnya. Aula istana malam itu dipenuhi ratusan bangsawan yang datan

  • Istri sang Iblis    3. Pintu yang Tak Boleh Dibuka

    Rantai itu tahu namanya. Seraphina berdiri tiga langkah dari pintu besi yang terkunci berlapis, dan ia bersumpah—logam itu baru saja membisikkan "Aldric."Ia sudah berdiri di sana sejak subuh, saat kastil masih sunyi dan para pelayan bayangan—makhluk-makhluk yang bergerak tanpa suara membersihkan kastil tanpa pernah terlihat jelas wujudnya—belum memulai rutinitas mereka. Lilin di dinding koridor ini menyala lebih redup dibanding bagian kastil lainnya, seolah cahaya sendiri enggan mendekat.Simbol di atas rantai itu sama persis dengan lukisan wanita di sayap barat yang ia lihat sekilas malam pertama. Sama persis dengan bekas lambang yang pernah ia lihat di halaman terakhir arsip keluarganya—halaman yang selalu robek setiap kali ia mencoba membacanya sejak kecil. Tangannya terulur, hendak menyentuh salah satu rantai—"Aku akan menyarankan agar kau tidak melakukan itu."Seraphina tersentak, menarik tangannya cepat. Vellorn berdiri di ujung koridor, masih mengenakan pakaian tidurnya—kemej

  • Istri sang Iblis    2. Tinta yang Tak Bisa Dihapus

    "Kau tidak bertanya jenis ikatan apa," kata Vellorn, dan di situlah Seraphina sadar—terlambat—bahwa ia baru saja menjual lebih dari sekadar nama keluarganya.Tanda tangan itu belum kering ketika Seraphina menyadari ia baru saja menjual sesuatu yang tak pernah ia hitung nilainya. Perkamen di atas meja bergetar pelan, seolah hidup, seolah baru saja menelan sesuatu. Garis-garis merah yang tadinya membentuk namanya kini merembes ke dalam serat kertas, menghilang seperti darah diserap tanah kering. Seraphina menatap jarinya sendiri—luka kecil di ujung jari manis yang ia buat dengan pemotong kertas perak, kini sudah menutup sempurna. Tak ada bekas. Seolah tak pernah terjadi. Namun, sesuatu di dadanya terasa berbeda. Lebih berat. Lebih... terikat."Selamat," kata Vellorn, menggulung perkamen itu dengan gerakan yang terlalu anggun untuk seseorang yang baru saja membeli hidup orang lain. "Kau baru saja menjadi wanita paling kaya sekaligus paling dibenci di kota ini, dalam satu malam yang sama

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status