ホーム / Romansa / Istri sang Iblis / 4. Wajah di Balik Kanvas

共有

4. Wajah di Balik Kanvas

作者: Giamelia
last update 公開日: 2026-08-02 01:35:43

Gelas anggur pecah di lantai marmer, dan seluruh ruangan menoleh ke arah Seraphina seolah dialah yang menjatuhkannya.

"Maaf," desis seorang wanita tua berkalung berlian, mundur seolah baru saja menyentuh sesuatu yang menjijikkan, meski jelas dialah yang menyenggol gelas dari tangan Seraphina. "Aku hanya... terkejut. Kupikir kau akan tampak lebih—" ia menjeda, matanya menyapu gaun Seraphina dari atas ke bawah, "—layak untuk berdiri di aula ini."

Tawa kecil tersebar di sekelilingnya, tertahan di balik kipas-kipas sutra. Seraphina merasakan panas menjalar ke wajahnya, tapi ia sudah berlatih seumur hidup untuk tidak membiarkan itu terlihat. Ia menegakkan dagunya, tersenyum tipis, dan membungkuk sopan seolah baru saja menerima pujian, bukan hinaan.

"Terima kasih atas perhatiannya, Nyonya Renfield. Aku akan mengingatnya." Ia melangkah pergi sebelum wanita itu sempat membalas, jantungnya berdebar keras di balik topeng tenangnya. Aula istana malam itu dipenuhi ratusan bangsawan yang datang bukan untuk merayakan pernikahannya, melainkan untuk menyaksikan—dan diam-diam berharap—kegagalannya.

Ia mencari Vellorn di kerumunan, tapi pria itu sedang dikelilingi sekelompok pejabat tinggi, tersenyum dengan pesona yang membuat siapa pun lupa bertanya dari mana sebenarnya ia berasal. Seraphina berdiri sendirian di tepi ruangan, memegang gelas anggur baru yang tak benar-benar ingin ia minum, saat seorang wanita tua lain—jauh lebih tua dari Nyonya Renfield, dengan rambut putih sepenuhnya dan mata yang keruh oleh usia—mendekat dan mencengkeram pergelangan tangannya.

"Kau memakai nama itu," bisik wanita itu, suaranya gemetar bukan karena usia, tapi karena sesuatu yang lebih dalam. "Vellorn. Nenekku dulu bercerita tentang nama itu sebelum ia meninggal. Ia bilang keluarga yang menikahinya akan membayar dengan darah mereka sendiri, generasi demi generasi."

"Nyonya, aku rasa Anda keliru—"

"Tanyakan pada suamimu," wanita itu memotong, cengkeramannya semakin erat, "apa yang sebenarnya terjadi tiga ratus tahun lalu di kastil itu. Tanyakan kenapa keluargamu adalah satu-satunya yang boleh membuka buku itu."

Sebelum Seraphina sempat bertanya lebih jauh, seorang pelayan menarik wanita tua itu pergi, meminta maaf berulang kali sambil berbisik sesuatu tentang "Nyonya sudah terlalu banyak minum anggur malam ini." Tapi mata wanita itu, saat menoleh terakhir kali ke arah Seraphina, sama sekali tidak tampak seperti mata orang mabuk. Mata itu tampak seperti mata orang yang ketakutan.

Seraphina tidak bisa tidur malam itu. Kata-kata wanita tua itu berputar terus di kepalanya—keluargamu adalah satu-satunya yang boleh membuka buku itu—bergaung bersama ingatan tentang pintu berantai di sayap terlarang kastil, tentang lukisan sekilas yang ia lihat di malam pertama, tentang simbol yang menghubungkan semuanya tanpa penjelasan.

Vellorn pergi tak lama setelah pesta usai, meninggalkan catatan singkat bahwa ia harus "menyelesaikan urusan" hingga larut. Untuk pertama kalinya sejak menikah, kastil ini benar-benar kosong dari kehadirannya.

Seraphina tahu ini kesempatan yang mungkin tak akan datang dua kali.

Ia menyusuri koridor sayap barat dengan lilin di tangan, langkahnya nyaris tanpa suara di atas karpet tebal yang meredam setiap derap kaki.

Lukisan-lukisan tua menggantung di sepanjang dinding, wajah-wajah asing yang menatapnya dengan mata yang seolah mengikuti gerakannya. Di ujung koridor, satu pintu tak terkunci—satu-satunya di sayap ini yang tak dijaga rantai atau mantra.

Ruangan di baliknya adalah galeri pribadi, dipenuhi lukisan yang lebih tua dari yang lain, bingkainya berdebu dan berkarat di beberapa sudut. Dan di tengah ruangan, tergantung sendirian dengan pencahayaan yang seolah sengaja diarahkan padanya, ada lukisan seorang wanita.

Seraphina berhenti bernapas. Wanita dalam lukisan itu memiliki rambut cokelat kemerahan yang sama, mata hijau zamrud yang sama, bahkan tahi lalat kecil di bawah mata kiri yang sama persis dengan miliknya. Satu-satunya perbedaan adalah gaun yang dikenakannya—gaya kuno, tiga abad lebih tua dari mode saat ini—dan ekspresi di wajahnya, campuran antara kesedihan dan sesuatu yang menyerupai pengkhianatan.

Di sudut bawah lukisan, terukir nama dalam huruf yang sudah memudar: Isolde Aldric.

"Aku memintamu untuk tidak datang ke sini."

Seraphina berputar cepat, lilin di tangannya hampir jatuh. Vellorn berdiri di ambang pintu, dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, wajahnya sama sekali tak menyembunyikan apa pun. Rahangnya mengeras, matanya menyala terang seperti bara yang baru ditiup angin, dan di sekelilingnya, udara terasa bergetar—seolah suhu ruangan turun beberapa derajat dalam sedetik.

"Siapa dia?" Seraphina bertanya, suaranya lebih pelan dari yang ia inginkan. "Vellorn, siapa Isolde Aldric?"

"Keluar." Suara Vellorn bergetar menahan sesuatu yang jauh lebih besar dari kemarahan biasa. Bayangan di sekeliling ruangan seolah memanjang, merayap ke arah mereka meski tak ada sumber cahaya yang bergerak. "Sekarang, Seraphina."

Ini pertama kalinya ia memanggil nama depannya tanpa embel-embel formal. Dan entah kenapa, itu lebih menakutkan daripada nada suaranya.

"Tidak sampai kau menjawabku." Seraphina berdiri tegak meski kakinya gemetar. "Wanita tua di pesta bilang keluargaku membayar dengan darah, generasi demi generasi. Aku melihat lukisan wanita yang wajahnya sama persis denganku, dengan nama keluargaku sendiri, dari tiga ratus tahun lalu. Aku berhak tahu apa yang sebenarnya kutandatangani, Vellorn!"

Untuk sesaat, Vellorn tampak seperti akan meledak—bayangan di sekelilingnya menggeliat semakin liar, lilin-lilin di sepanjang dinding padam serentak, meninggalkan hanya cahaya lilin kecil di tangan Seraphina sebagai satu-satunya sumber terang. Tapi kemudian, seolah menahan diri dengan kekuatan yang nyaris terlihat fisik, ia menutup matanya, dan kegelapan di sekelilingnya perlahan surut.

Ketika ia membuka mata lagi, sesuatu di sana telah berubah—bukan kemarahan lagi, melainkan sesuatu yang jauh lebih rapuh, lebih lama tersembunyi. "Isolde," katanya pelan, nyaris berbisik, "adalah wanita yang kucintai tiga ratus tahun lalu. Dan dialah yang membantu keluarganya sendiri mengkhianatiku."

Ia melangkah maju, berhenti tepat di depan lukisan itu, menatap wajah yang identik dengan wajah istrinya sekarang. "Kau ingin tahu kenapa aku memilih keluargamu, Seraphina?" Ia menoleh, matanya bertemu mata Seraphina dalam jarak yang terlalu dekat untuk terasa aman. "Karena kau bukan hanya keturunannya." Napas Seraphina tercekat di tenggorokan.

"Menurut ramalan yang mengurungku selama tiga abad," Vellorn melanjutkan, suaranya nyaris pecah oleh sesuatu yang terdengar seperti campuran harapan dan ketakutan yang sama besarnya, "wajah Isolde akan terlahir kembali tepat pada generasi yang mampu mematahkan kutukanku—atau menyempurnakannya selamanya." Ia mengangkat tangan, hampir menyentuh pipi Seraphina, tapi berhenti di udara, jari-jarinya gemetar. "Aku masih belum tahu, Seraphina Aldric, kau akan menjadi yang mana."

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Istri sang Iblis    13. MALAM TANPA KATA

    Vellorn menemukannya di taman kastil dua malam kemudian, duduk sendirian di bangku batu dekat kolam yang airnya begitu tenang hingga memantulkan bintang-bintang seperti cermin kedua di bawah langit."Aku pikir kau sudah tidur," katanya, berhenti beberapa langkah dari bangku itu, seolah ragu apakah kehadirannya diinginkan atau tidak."Aku tidak bisa." Seraphina menggeser sedikit di bangku itu, memberi ruang tanpa benar-benar mengucapkan undangan. "Terlalu banyak yang harus dipikirkan sejak rumah teh itu."Vellorn duduk di sampingnya, jaraknya masih terjaga dengan hati-hati, seolah mereka berdua sudah lama sepakat pada batas tak tertulis yang tak pernah benar-benar dibicarakan. Angin malam membawa aroma bunga malam yang mekar di sepanjang tepi kolam, dan untuk beberapa saat, tak ada yang bicara sama sekali—hanya suara jangkrik yang bersahutan dan gemericik kecil air yang bergerak pelan tertiup angin."Waktu aku masih kecil," Seraphina akhirnya berkata, memecah kesunyian tanpa benar-bena

  • Istri sang Iblis    KECEMBURUAN YANG TAK TERUCAP

    Hari-hari setelah kejadian di rumah teh berlalu dengan kewaspadaan yang tak pernah sepenuhnya mereda.Seraphina mendapati dirinya memeriksa setiap sudut ruangan sebelum benar-benar masuk, mendengarkan setiap derit lantai dengan telinga yang lebih tajam dari biasanya, dan yang paling sering, memikirkan kembali visi singkat yang ia lihat lewat liontin itu—Vellorn yang lebih muda, penuh amarah, berdiri di hadapan wanita berjubah hitam yang suaranya sama dengan wanita di rumah teh. *Cinta yang tumbuh tanpa paksaan,* Vellorn dalam visi itu telah berkata. *Itu satu-satunya jalan yang akan kupilih.*Ia tidak bisa berhenti memikirkan bagaimana kalimat itu terdengar—bukan seperti seseorang yang belum pernah mencintai siapa pun, melainkan seseorang yang sudah tahu persis rasanya, dan bersumpah tidak akan pernah memaksakannya lagi pada orang lain.Malam itu, tak bisa tidur, Seraphina turun menyusuri koridor kastil yang sunyi, hanya diterangi bola-bola cahaya kecil yang melayang malas di bawah la

  • Istri sang Iblis    11. BENDA YANG BERCERITA

    Vellorn tidak berbicara sepanjang perjalanan pulang.Ia duduk di seberang Seraphina dengan liontin itu tergenggam erat di tangannya—terlalu erat, hingga buku-buku jarinya memutih, seolah logam tua itu bisa saja lolos dan menghilang jika ia melonggarkan cengkeramannya barang sedetik. Matanya menatap ke luar jendela, tapi Seraphina tahu ia tidak benar-benar melihat kota yang berlalu di sana. Ia sedang melihat sesuatu yang jauh lebih tua dari pemandangan pagi itu."Vellorn." Seraphina akhirnya memecah kesunyian saat kereta memasuki gerbang kastil. "Kau belum menjawabku. Siapa Ottilie?"Ia tidak menjawab sampai mereka berdua kembali duduk di ruang kerja pribadinya—ruangan sederhana yang semalam ia perlihatkan untuk pertama kali dalam tiga abad, tempat cangkir teh pecah yang direkatkan kembali masih berdiri di raknya, saksi bisu atas apa pun yang pernah terjadi di sana jauh sebelum Seraphina lahir."Ottilie Vane," katanya akhirnya, meletakkan liontin itu di atas meja dengan hati-hati, seol

  • Istri sang Iblis    10. PENERJEMAH YANG TIDAK DITEMUKAN

    Alamat di kertas itu membawa mereka ke sebuah rumah teh kecil di sudut kota, jauh dari keramaian jalan utama, dengan jendela-jendela berkaca buram yang tak memperlihatkan apa pun dari luar—hanya bayangan kabur cahaya lilin yang menyala di dalamnya, seolah sengaja disembunyikan dari mata siapa pun yang lewat.Vellorn berhenti tepat sebelum pintu, tangannya menahan lengan Seraphina sejenak. "Aku akan menunggu di seberang jalan," katanya, meski jelas dari nada suaranya betapa berat keputusan itu baginya, betapa setiap kata itu keluar seperti dipaksakan melewati tenggorokan yang menolak mengucapkannya. "Cukup dekat untuk merasakan brosmu jika terjadi sesuatu. Tapi—""Tapi kita sepakat aku masuk sendiri." Seraphina menyelesaikan kalimatnya, menatap mata emas Vellorn yang menyala redup di bawah cahaya pagi yang masih suram, belum sepenuhnya lepas dari kabut semalam. "Aku akan baik-baik saja.""Kau tidak tahu itu.""Kau juga tidak." Ia mencoba tersenyum, meski jantungnya berdegup terlalu ker

  • Istri sang Iblis    9. PERJALANAN YANG DIAWASI

    Kereta kuda hitam bergerak melewati jalanan kota yang masih basah oleh embun pagi, roda-rodanya berderak pelan di atas batu jalan yang belum sepenuhnya terjaga dari kabut semalam. Seraphina duduk di seberang Vellorn, jari-jarinya sesekali menyentuh bros bulan sabit yang kini terpasang di dada gaunnya, tersembunyi di balik lipatan kain agar tak terlihat mencolok."Kau gugup," kata Vellorn, memecah keheningan yang sudah berlangsung sejak sepuluh menit terakhir."Aku sedang menuju pertemuan dengan seseorang yang mengaku keturunan penyihir yang mengurungmu selama tiga ratus tahun, di tempat yang bahkan kita berdua tidak pernah dengar namanya sebelum kemarin." Seraphina menatapnya datar. "Tentu saja aku gugup."Sudut bibir Vellorn tertarik sedikit, hampir seperti senyum yang tak sepenuhnya ia izinkan muncul. "Kupikir kau akan bilang sesuatu yang lebih berani, Nona Aldric.""Aku bisa gugup dan berani di waktu yang sama." Ia melirik ke luar jendela kereta, memperhatikan bangunan-bangunan kot

  • Istri sang Iblis    8. BERGEGAS TANPA BERTANYA

    "Mereka tahu aku akan punya waktu untuk bersiap jika jadwalnya tetap tiga hari lagi," kata Vellorn, masih menatap kertas itu seolah bisa memaksa tinta hitamnya mengaku siapa penulisnya. "Memajukannya jadi besok pagi bukan kebetulan, Seraphina. Itu perhitungan.""Perhitungan untuk apa?""Untuk memastikan aku tidak sempat menyiapkan pertahanan apa pun." Ia akhirnya mendongak, dan cahaya lilin di ruangan itu memantul di matanya dengan cara yang membuatnya tampak lebih tua dari wajahnya yang nyaris tak berubah selama tiga abad. "Siapa pun yang mengatur ini, mereka tidak ingin *aku* yang siap. Kertas itu ditujukan padamu, bukan padaku. *Datanglah sendiri.* Mereka ingin bicara denganmu, bukan denganku."Kata-kata itu menggantung di udara lebih lama dari yang seharusnya."Kalau begitu aku akan pergi," katanya akhirnya."Tidak sendirian.""Kertas itu bilang—""Aku tidak peduli apa kata kertas itu." Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, suara Vellorn naik, cukup keras hingga lilin-lilin

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status