MasukAira baru saja selesai menata makanan di meja makan. Ia menatapnya sejenak, lalu menghela napas panjang. Pandangannya beralih ke pintu kamar Gavin. Peringatan suaminya itu masih terngiang:
“Jangan pernah masuk kamarku tanpa izin.” Namun, tiap kali pintu itu terbuka, aroma pengap menusuk hidungnya. Malam ini, keinginannya untuk membersihkan kamar itu jauh lebih kuat daripada rasa takutnya. Perlahan ia memutar gagang pintu. Pintu berderit, dan matanya langsung melebar. “Kamar atau kapal pecah?” gumamnya pelan. Botol minuman keras berserakan di lantai, gelas-gelas kotor menumpuk di meja, pakaian acak-acakan. Bau alkohol membuat Aira ingin muntah. Ia menutup hidung, lalu cepat-cepat mengambil sapu dan pel. “Ya Tuhan, apa karena ditinggal Lyra dia begini?” bisiknya sembari mengangkat pakaian dan memasukkannya ke keranjang. Ada rasa bersalah menusuk hatinya. Jelas tergambar bahwa Gavin sedang hancur karena kepergian Lyra. Setelah cukup lama, kamarnya perlahan rapi. Aira bahkan mengganti seprai. Saat hendak meletakkan sesuatu di meja, pandangannya tertumbuk pada sebuah foto. Ia terdiam. Foto Lyra. Kembarannya. Dengan gaun elegan, senyum memikat. Jauh berbeda darinya. Aira tersenyum getir. “Kamu memang selalu lebih bersinar dariku, Lyra… maafkan aku harusnya kamu yang di sini” * Di sisi lain, Gavin baru pulang. Tubuhnya terasa remuk setelah seharian rapat dan menembus macet dengan motor butut. Raut wajahnya penuh frustasi. Sambil menghela napas berat, ia membuka pintu rumah. Sepatunya ia tendang sembarangan. Ia melirik sofa kosong. Sungguh kakeknya tidk main-main dengan hukumannya. Bahkan ketika Gavin meminta uang pada neneknya, kakeknya langsung mengusirnya. “Kemana lagi perempuan itu?” gumamnya lirih mencari keberadaan Aira. Bunyi air dari kamar mandi membuatnya tahu bahwa Aira di dalam sana. Ia melangkah ke dapur, mengambil sebotol minuman dari kulkas dan meneguk sampai tandas. Ceklek. Pintu kamar mandi terbuka. Mata Gavin membola, Aira keluar hanya dengan handuk melilit tubuhnya. Sedangkan Aira sendiri membeku saat melihat Gavin berdiri di dapur, masih memegang botol kosong. Mata mereka saling bertemu. Hening. “Se-jak kapan kamu pulang?” suara Aira terbata, tangan merapatkan handuknya. “Aku pikir… kamu nginap lagi," ujar Aira karena sudah lama Gavin gak pulang. Alis Gavin berkerut. “Maksudmu kau ingin aku pergi?” suaranya dingin, menusuk. “Bukan begitu!” Aira buru-buru menunduk. “Aku hanya… tidak tahu kamu pulang lebih cepat. Kalau tahu, aku pasti bersiap.” Gavin melangkah maju. Aira refleks mundur. “Bersiap?” tanyanya datar. “Untuk apa?” Wajah Aira memerah. “M-maksudku, aku akan hati-hati. Tidak keluar begini.” Aira mengeratkan handuknya. Sekejap kemudian, tanpa peringatan, Gavin menariknya ke pelukan. Tubuh Aira kaku. “Ga… Gavin…” suaranya bergetar. “Diam.” Gavin menunduk, kepalanya bersandar di lekuk leher Aira. “Jangan menjauh.” Jantung Aira berpacu liar. Ia bisa merasakan nafas panas suaminya di kulit lembapnya. “Kenapa… kenapa kau lakukan ini?” tanyanya lirih. “Karena aku butuh ini.” Suara Gavin parau, sarat kerinduan. Melihat Aira ia jadi semakin merindukan Lyra. Aira terdiam. Ia tahu persis, pelukan ini bukan untuknya. Ia hanyalah bayangan Lyra. Beberapa detik terlewati dalam keheningan. Lalu, dengan suara hampir berbisik, Aira berkata, “Aku Aira… bukan Lyra.” Tubuh Gavin menegang. Ia segera melepas pelukannya. Tatapannya kembali dingin. “Tentu saja. Kalau bukan karena dia, untuk apa aku memelukmu.” Kata-kata itu menusuk hati Aira. Namun ia hanya menunduk, menahan diri. Perlahan ia melangkah menjauh. “Kalau begitu… aku permisi.” Baru beberapa langkah, Gavin kembali meraih tangannya. “Sebentar.” Aira menoleh, bingung. “Apa lagi?” Gavin menatapnya dalam. Tanpa kata, ia menunduk. Cupp! Bibir mereka bersentuhan. Aira membeku, matanya membola. Tangannya otomatis menekan dada Gavin, tapi tubuhnya lemas, tak bertenaga. Gavin justru semakin menekan. Bibirnya melumat penuh, dalam, seolah ingin menenggelamkan semua kerinduan yang ia pendam. Aira terhanyut, tak tahu harus melawan atau menyerah. Ia berusaha menutup rapat mulutnya, namun Gavin menggigit lembut, memaksanya terbuka. Detik itu, Aira merasakan seluruh pertahanannya runtuh. Aira terdiam. Tubuhnya gemetar, campuran bingung dan rasa yang baru pertama ia rasakan. Aira terbuai, tanpa sadar memejamkan matanya. “Aira sadar,” batinnya berontak. Ini salah, Gavin mencium bukan karena cinta. Hanya karena wajahnya menyerupai seseorang yang sudah tiada.Aira duduk diam di ruang makan bersama Mbok Inah, namun pikirannya sama sekali tak berada di sana. Semangkuk sereal dan beberapa potong kue tersaji rapi di hadapannya, nyaris tak tersentuh.Wanita itu menggigit ujung jarinya tanpa sadar, kebiasaan lama yang muncul setiap kali gelisah. Sambil menunduk, ia menelusuri satu per satu media sosial milik Lyra. Jemarinya bergerak cepat, matanya tajam menyisir setiap foto, setiap caption, setiap komentar.Tak ada yang janggal Tentang Lyra.Tentang lelaki misterius bertopeng itu.Semua lini masa Lyra dipenuhi potret kebersamaannya dengan Gavin. Tawa mereka tampak tulus. Sentuhan mereka terlihat hangat. Dalam beberapa foto, Lyra bahkan menatap Gavin dengan sorot mata penuh cinta cinta yang tak dibuat-buat.Lalu kenapa Lyra berselingkuh?Dari segi apa pun, Gavin tak pernah kurang. Kekayaannya mapan, masa depannya terjamin. Bahkan jika mereka menikah hingga tujuh turunan, keluarga itu tetap akan hidup bergelimang harta. Garis keturunan mereka kuat
Cuaca pagi tampak cerah hari ini. Jam dinding menunjukkan pukul delapan, namun Gavin masih terlelap dalam tidurnya. Berbeda dengan Aira yang berada dalam pelukan lelaki itu. Rasa mual perlahan menguar, membuat tubuhnya terasa tidak nyaman. Posisi miring yang terlalu lama, ditambah dekapan Gavin yang erat seolah ia adalah guling, membuat penat di tubuh Aira semakin terasa.Dengan gerakan sangat hati-hati, Aira menyingkirkan tangan Gavin saat rasa mual itu kian menjadi. Ia turun dari ranjang dan melangkah cepat menuju kamar mandi tanpa sempat mengenakan apa pun di tubuhnya.Perutnya terasa seperti diremas dan diaduk bersamaan. Begitu tiba di kamar mandi, Aira langsung memuntahkan isi perutnya.Rasa mual itu begitu menyiksa hingga membuat tenaga Aira nyaris terkuras habis.Morning sickness masih sering ia alami setiap pagi. Meski setelah memuntahkannya ada sedikit rasa lega, tubuh Aira tetap terasa lemas dan tak berdaya.Aira terduduk di atas lantai keramik kamar mandi yang dingin. Napa
Lidah Gavin kembali berkelana di leher Aira, turun perlahan dengan sentuhan yang semakin dalam dan liar dalam cara yang membuat napas Aira tersendat. Erangan demi erangan yang lolos dari bibir Aira justru semakin membakar hasrat gila Gavin. Dengan gerakan mantap, Gavin mengambil posisi di atasnya, tubuhnya menunduk untuk merengkuh Aira sepenuhnya. Jantung Gavin berdebar kacau, tarikan napasnya berat saat ia menatap mata Aira mata yang terlihat mendamba, seakan memanggil dirinya tanpa suara. Detik berikutnya, Gavin menyatukan tubuhnya dengan tubuh Aira dalam satu gerakan penuh, membuat dunia seolah berhenti berputar bagi keduanya. Tubuh Aira menggeliat hebat, napasnya tersendat disertai desahan yang terdengar seperti campuran antara kaget dan kesakitan. Rasa perih yang menghentak membuatnya menggigit bibir kuat-kuat, mencoba menahan diri agar tak kehilangan kendali. Tangannya meremas seprai, jemarinya bergetar saat sensasi itu menyebar dari pusat tubuhnya. Meski ini sudah ketiga
"Gavin…" panggil Gavin lagi, lelaki itu menurunkan lengan baju dress hingga kini menyibak tubuh Aira setengah badan.Jantung Aira menggila, perasaan aneh menyengat saat desiran hangat itu merayap di perutnya. Aira ikut terpancing dengan sentuhan Gavin, apalagi bayang-bayang cara lelaki itu memperlakukannya selalu muncul dan membuat dirinya sulit bernapas normal."A… apa?" jawab Aira sedikit bergetar, berusaha menahan detak jantungnya agar tak terdengar oleh Gavin."Jangan tinggalin aku," ucap Gavin lirih, begitu tulus hingga membuat napas Aira tercekat.Senyum kecil muncul di bibir Aira saat mendengar kata-kata Gavin yang seolah mengungkapkan betapa lelaki itu membutuhkannya."Aku tidak ke mana-mana, Tuan," balas Aira lembut."Jangan pergi…" kata Gavin lagi, kali ini menunduk dan menempelkan kecupan hangat di punggung Aira, naik perlahan hingga mendekati lehernya. Ada senyum tipis di wajah Gavin saat melihat kulit Aira yang memerah tersentuh belaian itu tanda yang hanya dimiliki istri
"Sayang …," racau Gavin yang masih sulit mengendalikan diri karena pengaruh alkohol.Gavin bangkit, melepas jas dan kemeja hitamnya lalu melemparkannya ke sembarang tempat seakan tubuhnya merasa terbakar. Kini ia bertelanjang dada.Ia kembali merebah, meringis kecil. Pusing yang menghantam kepalanya masih sangat kuat.Mendengar ringisan itu, Aira mendekat. Namun begitu ia berada di sisi tempat tidur, Gavin justru meraih tangannya, menariknya untuk ikut rebahan dan masuk ke pelukannya. Lelaki itu memeluk Aira seperti memeluk guling, menenggelamkan wajahnya di dada sang istri tepat di sela dua gundukan yang selalu membuatnya kehilangan kendali bahkan sesekali menciuminya secara acak."Aira Winara, aku mencintaimu," gumam Gavin, suaranya terdengar melantur. Lalu ia kembali terlelap tanpa peduli jantung Aira yang nyaris melompat keluar."Aku juga mencintaimu," bisik Aira lirih membalas pengakuan itu."Tapi apakah kamu masih akan mencintaiku kalau tahu perselingkuhan Lyraku?" tanyanya dala
"Duh. Gusti ... Tuan Gavin kenapa?" tanya Mbok Inah saat Elvand dan Aira masuk ke apartemen mereka. Wanita ini membantu Elvand memapah sang Tuan Muda."Tidak kenapa-napa, Mbok, Tuan hanya terlalu banyak minum," jawab Aira takut Mbok Inah cemas.Mbok Inah yang memang sangat tahu bagaimana Gavin hanya mengangguk paham. Dulu, Gavin memang sering pulang dalam keadaan mabuk, tapi setelah bersama Aira lelaki ini sudah mengurangi kebiasaannya. Bahkan hampir tidak pernah kecuali hari ini makanya Mbok Inah kaget.Elvand terlihat kesusahan memapah Gavin yang tak sadarkan diri. Peluhnya mengucur karena jarak penthouse Gavin berada di lantai dua puluh jadi cukup lama berada di lift dan Elvand harus menahan berat Gavin yang sedikit lebih besar darinya.Lelaki yang umurnya lebih muda lima tahun dari Gavin ini menghempaskan Gavin ke kasurnya.Elvand berdecis, melihat wajah tampan cucu dari Eyang Mandala yang sekarang tengah mabuk parah."Sampai kapan mabuk dia hilang?" tanya Aira berdiri di samping







