เข้าสู่ระบบMobil Gavin memasuki halaman rumah megah kediaman Eyang Mandala. Ia memarkirkan mobilnya di garasi, lalu melirik ke arah Aira yang tertidur di sampingnya.Baru sekarang Gavin benar-benar menyadari kebiasaan Aira, perempuan itu selalu tertidur di dalam mobil. Entah perjalanan jauh ataupun dekat, Aira pasti terlelap dengan cepat.Gavin menghembuskan napas kasar, menatap bangunan besar yang menjulang angkuh di hadapannya. Rumah itu tetap membuat dadanya terasa sesak. Namun, mau tak mau, ia harus datang ke sini.Setelah menerima telepon dari sang Nenek, Gavin terpaksa menuruti permintaan itu. Tangisan dan rengekan perempuan tua itu meluluhkan pertahanannya.Bahkan Neneknya sampai mengancam, jika Gavin tidak datang, maka saat pemakamannya nanti, Gavin tidak boleh hadir. Ia resmi dipecat dari status cucu!Mau tak mau, Gavin mengalah. Dengan satu syarat: tidak boleh ada keluarga dari pihak Ayahnya di rumah kediaman Eyang Mandala selama ia berada di sana.Neneknya langsung menyetujuinya tanpa
“Awalnya memang seperti itu. Kamu tahu betapa aku membencimu. Tapi aku tidak bisa menyingkirkanmu, karena aku tahu aku membutuhkanmu agar terus mengingat Lyra. Namun, lama-kelamaan aku sadar bahwa kalian sangat berbeda. Sifat kalian benar-benar bertolak belakang. Dan sejak saat itulah aku mungkin mulai menyukaimu sebagai dirimu sendiri, bukan Lyra,” kata Gavin dengan suara lembut, menjelaskan awal mula perasaannya pada Aira.Segala tentang Aira membuat Gavin jatuh cinta. Tentang bagaimana wanita itu sejak kecil tak diinginkan, dibuang, lalu dirawat oleh neneknya yang sudah renta. Ironisnya, justru Aira yang harus menghidupi sang nenek. Gavin masih tak mampu membayangkan betapa berat penderitaan Aira, sementara keluarganya hidup lebih nyaman di kota yang berbeda.Gavin seperti melihat dirinya sendiri. Ia tahu bagaimana rasanya dibuang dan tak diinginkan.Ia kagum melihat Aira menghidupi dirinya dan neneknya dengan berjuang sejak kecil, tanpa pernah merasakan masa bermain yang telah dir
“Tapi aku merasa tidak enak. Aku merusak iPad-nya dan belum bisa menggantinya. Masa aku harus pura-pura tidak mengenal dia? Apa yang dia pikirkan tentangku? Aku tidak mau dianggap tidak bertanggung jawab, lagian dia sangat baik padaku.”Aira sudah menganggap Obi seperti temannya. Tidak lebih! Lelaki itu cukup menyenangkan dan yang pastinya sangat baik.Gavin yang mendengar Aira memuji Obi kembali merasa kesal. Lelaki itu melepaskan pelukannya lalu menarik dagu Aira agar menatapnya. Tatapan Gavin yang menyipit seakan memberi peringatan agar Aira patuh padanya.“Aku bilang jauhi dia! Aku yang akan mengganti iPad miliknya. Jadi kamu tidak perlu khawatir dan memikirkannya lagi,” kata Gavin tegas, tanpa celah untuk dibantah.Aira langsung menekuk wajahnya, namun tetap menatap mata Gavin.“Tapi kenapa? Apa dia musuh kamu? Tolong beri aku alasan yang jelas. Lagian… aku tidak pernah melarang Tuan dekat dengan siapa pun. Jadi tolong biarkan aku punya teman,” ucap Aira lirih namun jujur.Aira y
"Dia hanya tidak mau melihatku terluka. Lagian … kenapa kalian makan di restoran tempatku bekerja? Teman-temanku melihat langsung. yang mereka tahu, kamu suamiku. Wajar kalau mereka berpikiran buruk. Jadi bukan salah Andin kalau dia salah paham," lanjut Aira terburu-buru. Ia meringis saat sadar ucapannya barusan terdengar seperti menyalahkan Gavin.Gavin menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya bersuara."Tenang saja. Sahabatmu itu tidak dipecat. Aku tidak melakukannya," katanya pelan. Nada bicaranya kini lebih lunak, meski sorot matanya masih menyimpan emosi yang belum sepenuhnya reda. "Aku tahu kamu pasti akan mengamuk kalau itu terjadi. Dan karena kamu jujur mengaku cemburu… aku mengurungkan niatku."Ia tersenyum tipis. Ada perasaan membuncah dihatinya saat tahu Aira cemburu."Lagian aku hanya makan siang dengannya. Tidak lebih. Tidak ada yang perlu ditakuti. Yang menyebalkan justru sahabatmu itu."Aira terdiam. Bahunya perlahan turun, tetapi ia menunduk, menatap jemarinya sendi
“Iya. Bukannya aku sudah mengatakannya pada Tuan bahwa lelaki bernama Obi itu sangat baik karena tidak meminta ganti rugi saat aku menjatuhkan iPad miliknya,” jelas Aira pelan, menceritakan kembali awal mula perkenalannya dengan Obi.Gavin akhirnya teringat kejadian di kantor saat Mithq menyerahkan kotak dasi. Benar, Aira memang sempat mengatakan bahwa ia mengenal Obi.Namun tetap saja, Gavin tidak bisa menerima penjelasan itu begitu saja. Obi bukanlah orang seperti yang Aira gambarkan. Gavin tahu betul, ketika seseorang mencari masalah dengan Obi, lelaki itu tidak pernah segan membalas dengan cara yang kejam. Setidaknya, itulah yang Indah ceritakan padanya.Penjelasan Aira justru menimbulkan keganjilan di hati Gavin. Wanita itu seolah menutup-nutupi sesuatu. Dari caranya menyebut nama Obi saja, Gavin merasa Aira tidak sekadar mengenalnya sekali dua kali.“Apa itu benar-benar pertemuan pertama kalian? Jangan menilai orang hanya dari tampangnya,” ucap Gavin, nadanya terasa panas saat A
Gavin masih tidak menyangka apa yang baru saja dia lihat. Wajahnya yang tadinya terpesona oleh kehadiran sang janin seketika berubah ketika sebuah video singkat masuk dari nomor asing.Dia kembali memicingkan mata, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa wanita yang ada di dalam video itu bukanlah Aira.Namun berapa kali pun dia mengulangnya, tetap saja Aira-lah yang terlihat turun dari mobil bersama seorang lelaki yang sangat dia kenal, lengkap dengan pakaian kerjanya.Obi?Jadi Aira benar-benar mengenalnya. Apa yang Aira katakan tentang iPad yang terjatuh waktu itu ternyata memang benar adanya.Tapi kenapa Obi mendekati Aira? Apa mereka sudah saling mengenal bahkan sebelum Gavin menikahi Aira, sampai dengan mudahnya lelaki itu merekalan iPad mahal itu tanpa meminta ganti rugi sedikit pun?Jangan-jangan Obi adalah kekasih Aira yang sedang Lyra selidiki?Gavin memijat kepalanya. Pikiran-pikiran buruk justru membuat dadanya terasa semakin sesak dan cemas.“Ada lagi yang ingin ditanyak







