登入Raka terdiam sesaat, matanya terpaku pada layar ponsel yang terus bergetar hebat menampilkan nama Amara. Jantungnya pun berdegup kencang.Ia tahu, jika ia tidak mengangkat telepon ini sekarang, Amara pasti akan curiga setengah mati atau bahkan langsung mengerahkan anak buahnya untuk mencari keberadaannya.Bianca yang menyadari perubahan ekspresi Raka langsung merengut kesal. Ia ikut berdiri, mengenakan kembali lingerie yang dirinya buang sembarangan tadi.Gadis itu menatap jengah ke arah Raka sambil melipat tangan di dada. Lingerie tipis yang dikenakannya bergoyang halus mengikuti gerakannya."Siapa sih, Kak? Ganggu banget! Ini kan udah sore, udah lewat jam kerja, masa masih diurusin juga?" protes Bianca ketus, matanya menatap tajam ponsel di tangan Raka.Raka menghela napas pendek, mencoba menenangkan suaranya sebelum menjawab. "Ini dari bos Kakak, Bi. Penting banget. Kakak harus angkat ini dulu di luar sebentar. Kamu jangan ke mana-mana.""Oh, si perempuan kaya itu lagi," gumam Bian
"Aku yang akan melakukannya," ucap Raka dengan nada suara yang dalam, menatap langsung ke arah Bianca.Senyum lebar langsung tercetak jelas di wajah gadis itu. Bianca kembali menarik kepala Raka, mempertemukan kembali kedua bibir mereka, memagutnya pelan tanpa terburu-buru seperti sebelumnya.Bianca benar-benar ingin merasakan kenikmatan intim berdua dengan pria tegap ini tanpa terburu-buru.“Nggh…” Gigitan kecil yang dilakukan oleh Raka membuat lenguhan kecil lolos dari bibir mungil Bianca. Badan gadis itu juga meliuk pelan tatkala tangan besar Raka bermain di tubuhnya.Bianca seakan tidak mau kalah, gadis itu memutar tubuhnya, membalikkan keadaan hingga akhirnya kini dirinya yang berada di atas, duduk tepat di bawah perut Raka.Gadis itu menatap nakal ke arah Raka, sedangkan pria itu hanya diam, menanti apa yang akan dilakukan oleh gadis itu.Dengan gerakan pelan yang mampu membangkitkan gairah, Bianca melepaskan kain tipis yang menjadi penutup tubuh indahnya.Melihat keindahan di d
“Ka, aku kayaknya sampai malam ini rapatnya. Harus tuntas hari ini juga soalnya biar bisa langsung dilanjutkan ke klien besok pagi.”Raka mengembuskan napas panjang membaca pesan singkat dari Amara yang baru saja masuk ke ponselnya. Sore itu, ia sedang duduk di sofa ruang kerja mewah Amara, fokus mempelajari file kiriman Tama mengenai pergerakan organisasi yang sedang mengincar Amara.Pesan dari Amara seketika membuatnya teringat dengan pesan yang dikirimkan oleh Bianca siang tadi mengenai kepindahannya ke kos.Di dalam hatinya, Raka tidak bisa menutupi rasa khawatir. Ini adalah pertama kalinya Bianca memutuskan keluar dari kenyamanan rumah untuk memilih hidup mandiri di kamar kos.“Lagian, udah disuruh tetap tinggal di rumah malah keras kepala nggak mau,' gerutu Raka dalam hati, cemas bercampur gusar memikirkan nekatnya anak itu. “Vanessa sama Mamanya nggak akan berani lagi padahal buat ganggu dia.”Raka mulai menimbang-nimbang situasinya. Haruskah dirinya meminta izin dan bicara juj
Makanan yang sudah terlalu dingin itu tetap habis disantap keduanya setelah menghabiskan banyak waktu untuk pertempuran gairah. Usai menghabiskan makan siang, Amara harus kembali berkutat dengan tumpukan dokumen di meja kerjanya.Raka memilih untuk duduk santai di sofa sudut ruangan, berniat untuk memeriksa ulang sistem keamanan ponsel Amara agar tak ada peretasan ataupun penyadapan. Suasana cukup tenang untuk sesaat sampai akhirnya ponsel Raka yang masih dalam saku celananya bergetar. Saat ponsel itu telah berhasil diraih, nama Vanessa terpampang pada layar.Raka menyipitkan mata, melirik ke arah Amara sejenak untuk memastikan wanita itu sedang fokus menatap layar iPad-nya. Dengan langkah tenang tanpa menimbulkan suara, Raka berjalan ke luar, lalu menggeser tombol hijau saat dirinya sudah berada di ujung lorong."Mau apa lagi kamu?" tanya Raka langsung dengan nada suara yang dingin dan rendah."Raka! Kamu bener-bener keterlaluan ya!" Suara Vanessa langsung melengking histeris dari
"Siapa yang ngomel?"Raka tersentak. Ia langsung menurunkan ponselnya dan mengangkat wajah, menatap langsung ke arah pintu ruang rapat utama yang baru saja terbuka.Sosok Amara melangkah keluar dengan anggun, meski di wajah cantiknya tampak sisa-sisa kelelahan setelah memimpin perdebatan panjang di dalam sana.Raka menelan ludah terengah-engah, mencoba menguasai ekspresi wajahnya secepat kilat. “Sial, kenapa sampai nggak dengar suara langkah kakinya sama sekali? Ini gimana jawabnya kalau dia curiga gini,” gumam pria itu gelisah dalam hati, berusaha bersikap setenang mungkin di hadapan sang bos.Raka memaksakan sebuah senyuman tipis dan melangkah mendekat. "Eh, nggak ada apa-apa, Bu. Ini tadi… saya cuma lagi baca pesan dari grup driver di bawah. Biasa, anak-anak lagi pada ngomel karena jadwal sif siang ini agak berantakan."Amara menyipitkan mata indahnya, menatap Raka dengan pandangan menyelidik yang manja sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang. Wanita itu menyandarkan tubuhnya y
Raka melangkah keluar dari lift di lantai dua, berjalan ke arah belakang, di mana juga merupakan lantai khusus ruang kendali server cadangan yang biasanya sepi. Langkah kakinya seringan kapas, tanpa suara, menyusuri dinding marmer yang dingin.Sambil berjalan, ia mengetuk earpiece bluetooth-nya. "Tam, posisi dua cecunguk itu di mana sekarang?""Mereka baru aja melewati tangga darurat zona barat, Tuan Muda," sahut suara Tama di seberang sana dengan nada tegang. "Mereka memakai seragam teknisi jaringan kelistrikan gedung. Kamera CCTV lantai dua sengaja mereka matikan dari jarak jauh, tapi pelacak GPS kloningan saya masih mengunci posisi mereka.""Bagus. Tetap matikan kamera di area ini. Aku nggak mau aksi aku ini terekam dan bikin Amara curiga," perintah Raka dingin."Baik, Tuan. Area itu sudah sepenuhnya di bawah kendali blackout siber saya."Raka memutus sambungan. Tepat saat ia berbelok di dekat lorong sempit menuju ruang panel listrik utama, dua pria bertubuh tegap dengan seragam te







