Tante, Tahan! Nanti Keterusan

Tante, Tahan! Nanti Keterusan

last updateÚltima atualização : 2026-09-02
Por:  Little TangerineAtualizado agora
Idioma: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Classificações insuficientes
6Capítulos
4visualizações
Ler
Adicionar à biblioteca

Compartilhar:  

Denunciar
Visão geral
Catálogo
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP

Joni, pemuda dari desa, awalnya hanya menumpang sementara di rumah Tante Aya. Tapi lama-lama, mereka jadi semakin sulit menjaga jarak. Tante Aya masih punya suami, tetapi bertahun-tahun diabaikan membuatnya justru lebih dulu mendekati Joni. Kalau Tante Aya sendiri yang membuka pintu, kenapa Joni harus terus menahan diri?

Ver mais

Capítulo 1

Bab 1

"Masa jam segini Tante Aya udah tidur?"

Joni menyapu pandangannya ke sekeliling rumah berlantai dua itu.

Satpam yang tadi mengizinkannya masuk sudah tidak kelihatan di posnya.

Pemuda itu baru saja menempuh perjalanan 12 jam dengan bus hingga akhirnya tiba di Jakarta. Tepatnya di depan rumah Tante Aya, sahabat mendiang ibunya.

Jemarinya yang kasar mengetuk pintu kayu jati itu sekali lagi.

Tok! Tok! Tok!

Hening. Hanya suara jangkrik dari taman samping dan deru halus angin malam yang menyapa kulit lengannya.

Joni menghela napas panjang. Ia merogoh saku celana jinsnya yang sudah memudar, mengeluarkan ponsel dengan layar retak di pojok kanan atas.

Jarinya mengusap layar yang meredup, membuka catatan berisi alamat, yang diberikan oleh sang ibu.

Alamatnya sudah benar. Tidak ada yang salah.

Joni baru saja membalikkan badan, berniat berjalan keluar dari halaman menuju jalan utama untuk mencari warung atau masjid terdekat guna menumpang tidur malam ini, ketika sebuah suara daun pintu yang terbuka terdengar pelan di belakangnya.

Sebelum Joni sempat menoleh sepenuhnya, dua lengan halus dan hangat mendadak melingkar dari belakang, mengunci pinggangnya dengan erat.

Deg!

Sensasi lembut yang tak asing bagi insting seorang laki-laki menyentuh punggungnya secara penuh. Kenyal dan padat.

Aroma wangi yang menggoda, campuran antara bunga melati malam dan vanila yang mahal, langsung menusuk indra penciumannya, begitu memabukkan dan pekat.

"Kok baru pulang, sih, Mas? Kamu tahu nggak aku nungguin dari tadi sampai ketiduran?" suara itu berbisik sangat dekat di tengkuknya. Desahan napasnya hangat, menerpa leher Joni dan mengirimkan sengatan ke seluruh saraf di tubuhnya.

Joni membeku seketika. Tubuhnya menegak kaku seperti patung.

Lengan halus itu makin mengerat, lalu jemari dengan kuku bercat merah menyala bergerak perlahan naik ke dada Joni, meraba kain kaus tipisnya yang lembap oleh keringat.

"Mas jahat banget... Bilangnya cuma sebentar, tapi jam segini baru nyampe. Niat banget bikin aku kangen, ya?" bisikan itu berlanjut, diikuti kekehan manja yang terdengar amat sensual.

Bagian depan tubuh wanita itu menempel makin lekat ke punggung Joni, memberikan kehangatan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.

Joni menelan ludah dengan susah payah. Jakunnya naik turun. Jantungnya mendadak berdegup kencang, menghantam dadanya seperti genderang perang.

Sebagai pemuda 20 tahun yang besar di desa dan hanya pernah melihat wanita dengan pakaian daster longgar atau pakaian kerja di ladang, situasi ini benar-benar menghantam akal sehatnya.

Ia mencoba bersuara, tetapi tenggorokannya mendadak terasa sekering padang pasir.

"Anu... Ma-maaf..."

Saat kata itu terucap, gerakan jemari wanita di dadanya terhenti seketika.

"Lho??"

Suara Joni yang berat, sedikit serak, dan jelas bukan suara suaminya membuat wanita itu sadar. Dengan cepat, ia melepas pelukannya dan mundur dua langkah.

Joni buru-buru memutar tubuhnya. Dan saat pandangannya jatuh pada sosok wanita di depannya, napasnya seolah tertahan di dada.

Bayangan Joni tentang Tante Aya, sahabat lama ibunya, adalah sosok wanita paruh baya berwajah teduh, mungkin dengan rambut yang mulai beruban dan pakaian ibu-ibu rumah tangga pada umumnya.

Namun, wanita yang berdiri di depannya sekarang benar-benar meruntuhkan semua ekspektasinya.

Aya berdiri di bawah pendar remang lampu teras. Ia mengenakan gaun malam bahan sutra berwarna merah marun yang amat tipis dan jatuh pas memeluk lekuk tubuhnya.

Pakaian itu memiliki potongan leher V-neck yang cukup rendah, mengekspos tulang selangka yang tegas serta belahan dada yang begitu mengundang. Tali gaunnya yang tipis menopang bahu mulusnya yang terbuka bebas tanpa halangan.

Rambut hitamnya yang bergelombang dibiarkan terurai berantakan secara alami, jatuh melewati bahu dan membingkai wajah cantiknya yang tampak matang. Kulitnya putih bersih, tampak begitu kontras dengan warna gaunnya.

Di usianya yang hampir berkepala empat, tidak ada tanda-tanda penuaan yang berarti. Yang ada justru aura keanggunan wanita dewasa yang matang dan penuh pesona sensual yang berbahaya.

Aya membeku. Matanya yang lebar menatap Joni dari atas ke bawah. Wajahnya yang tadinya menyiratkan manja mendadak berubah merah padam begitu menyadari siapa yang baru saja ia peluk erat-erat.

"K-kamu..." suara Aya tertahan.

Tangan kanannya dengan refleks menutup bagian dada atasnya, meski itu tidak banyak membantu menyembunyikan lekuk tubuhnya yang tampak jelas.

Joni buru-buru menundukkan kepalanya, mencoba mengalihkan pandangannya dari dada dan juga paha mulus Aya yang tersingkap di balik belahan gaun bawahnya.

Pikiran pemuda itu kacau balau. Antara rasa bersalah, canggung, dan dorongan biologis alami laki-laki muda yang mendadak bangkit akibat sentuhan fisik tadi.

"Maaf, Tante... Saya... Saya Joni," kata Joni cepat-cepat, suaranya agak bergetar. "Joni, anak Bu Jena."

Mendengar nama itu, ekspresi terkejut di wajah Aya perlahan melunak. Matanya mengerjap beberapa kali, mengamati wajah pemuda bertubuh tegap dan berparas polos yang ada di hadapannya.

"Joni? Anak... Jena?" gumam Aya.

"Iya, Tante. Ini... saya bawa surat dari Ibu sebelum Ibu meninggal." Joni merogoh saku jinsnya, mengeluarkan sebuah amplop cokelat yang sedikit kumal dan menyodorkannya dengan tangan yang agak gemetaran.

Aya menatap amplop itu, lalu menatap Joni lagi.

Perlahan, senyum canggung terbit di bibirnya yang teroles lipstik tipis. Kejadian konyol dan memalukan barusan tampaknya mulai menguap, berganti dengan rasa geli dan haru.

Aya tidak langsung mengambil surat itu. Sebaliknya, ia melipat kedua tangannya di dada. Gerakannya justru semakin mempertegas lekuk tubuh bagian atasnya, lalu ia melangkah mendekat satu langkah.

"Astaga... Joni?" Aya terkekeh pelan. Suaranya kembali terdengar santai, seperti berniat menutupi rasa malunya sendiri. "Terakhir Tante lihat kamu itu waktu kamu masih SD, pendek, dan sering ingusan. Sekarang... kok bisa jadi setinggi ini?"

Aya mendongak sedikit untuk menatap mata Joni. Jarak mereka kini hanya terpaut setengah meter.

Aroma wangi dari tubuh Aya kembali berembus menguasai indra Joni, membuat pemuda desa itu makin serba salah.

Joni hanya bisa menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal. "I-iya, Tante... Udah lama nggak ketemu ya."

Aya menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu tertawa kecil yang terdengar sangat merdu di telinga Joni.

"Dan Tante malah main peluk aja dari belakang... Ya ampun, Tante pikir kamu Om Rama. Lagian kamu diam aja lagi pas Tante megang-megang tadi. Suka, ya?"

Aya mengedipkan sebelah matanya secara spontan, sebuah godaan kecil yang murni keluar karena sifat dasarnya yang jahil ketika mencoba mencairkan suasana canggung.

Kata-kata itu sukses membuat wajah Joni terasa panas terbakar. "N-nggak gitu, Tante! Saya cuma kaget..."

Aya tertawa lagi. Kepolosan dan kepanikan pemuda desa di depannya ini menurutnya sangat menggemaskan.

Ia lalu mengulurkan tangan dan mengambil amplop cokelat dari tangan Joni. Sentuhan singkat jemari lembut Aya pada kulit tangannya membuat Joni lagi-lagi menahan napas.

"Ya udah, masuk dulu. Kamu pasti capek abis perjalanan jauh," ucap Aya lembut. Ia berbalik badan, membelakangi Joni untuk berjalan masuk ke dalam rumah.

Saat berjalan, gaun sutra tipis itu bergerak mengikuti lekuk pinggulnya yang indah, memperlihatkan bayangan punggung mulusnya yang hampir terbuka sepenuhnya.

Joni yang berjalan di belakangnya terpaksa terus menundukkan kepala, memfokuskan pandangannya hanya pada lantai marmer rumah tersebut agar pikirannya tidak melayang ke mana-mana.

"Kamar kamu di lantai satu, sebelah kiri," ujar Aya sambil menunjuk sebuah pintu kayu di dekat area tangga. "Tante mau ganti baju dulu sebentar. Nanti kita bicara lagi, ya."

"Baik, Tante. Terima kasih."

Aya berjalan naik ke lantai dua dengan langkah anggun. Sementara Joni berjalan masuk ke dalam kamar yang ditunjukkan.

Begitu pintu kamar tertutup rapat, Joni menyandarkan punggungnya di pintu. Ia memejamkan mata rapat-rapat, mengusap wajahnya yang masih terasa panas.

Dadanya masih berdebar kencang. Bayangan sentuhan lembut, aroma wangi, dan lekuk tubuh wanita 37 tahun itu seolah melekat di ingatannya, menolak untuk hilang.

‘Dia sahabat Ibu, Joni... Inget, dia udah punya suami,’ batin Joni keras-keras pada dirinya sendiri.

Expandir
Próximo capítulo
Baixar

Último capítulo

Mais capítulos

Para os leitores

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Sem comentários
6 Capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status