Share

Bab 6

"Saya pengacara, ingin bertemu dengan Bu Nonik, apa ada orangnya?" tanyanya sekali lagi sambil mengedarkan pandangannya ke arah sekeliling rumah.

"Untuk apa? Kenapa Nonik memanggil Anda ke sini?" tanyaku menyelidik. Ya, jika benar ia pengacara, sangat kebetulan, aku akan menggugat cerai Nonik saja jika memang ia keberatan atas nafkah yang kuberikan, tentu tabungan yang Nonik kuras pasti dikembalikan. Sebab, aku tidak terima diperlakukan seperti ini olehnya.

Namun, belum sempat aku bicara dengan pengacara, Nonik sudah muncul dari kamarnya.

"Ada apa ini, Mas?" tanya Nonik ketika memunculkan batang hidungnya. Rupanya wanita yang sudah mengetahui semua yang kumiliki pun tidak mengenal lelaki berdasi yang berkunjung.

Lelaki itu bangkit, aku belum sempat berkenalan, ia berdiri ketika Nonik datang selayaknya menghormati tuan rumah.

"Bu Nonik ya?" tanyanya sambil menyodorkan tangannya.

Kemudian Nonik bersalaman dengannya dengan mata terlihat menyipit.

"Maaf, Anda siapa?" tanya Nonik sama seperti apa yang aku tanyakan di awal tadi.

"Perkenalkan saya Tommy Indrawan, pengacara Pak Irsyad Damian, Papa Anda," jawabnya disertai senyuman.

Aku mencerna ucapannya. Sedikit aku telaah, jangan-jangan sang mertua ingin memberikan sesuatu pada Nonik hingga mendatangkan pengacara ke sini.

"Ya, ada apa Pak?" tanya Nonik.

Aku diam tak berkata apapun, keinginan untuk menggugat cerai, kuurungkan niat terlebih dahulu, sebaiknya dengarkan baik-baik lelaki ini bicara. Sedikit ragu dengan tujuannya yang memberikan harta, sebab yang kuketahui tentang Pak Irsyad, mertuaku, dia bukan pemilik kontrakan atau apapun yang memiliki harta banyak.

"Jadi gini, Bu. Pak Irsyad ini sebenarnya punya sebidang tanah di lokasi kerawang, beliau akan berikan pada Bu Nonik, nilainya tidak banyak si Bu hanya seribu meter saja, tapi bila dijual laku kisaran 2 milyar rupiah Bu," tutur lelaki yang bernama Tommy membuat ludahku seketika sulit turun ke tenggorokan. Nonik punya uang dua milyar? Astaga, aku jadi suami orang kaya raya dong? Jangan sampai kata-kata talak keluar dari mulut ini ke telinga Nonik. Aku harus sedikit bersabar dalam menghadapinya.

"Masa, Pak? Wah 2 milyar ya, Pak?" ucap Nonik menyunggingkan senyuman, ia tersenyum semringah ketika mendengar kabar bahagia yang datang. Alisnya ditautkan, tangannya pun sama seraya sedang kegirangan.

Aku merangkul istriku di hadapan pengacara Papa Irsyad. Ini supaya ia percaya bahwa hubungan kami sedang baik-baik saja.

"Selamat ya, Sayang. Aku turut senang dan bahagia mendengarnya," ujarku sengaja di hadapan keduanya.

"Makasih, Mas. Nggak nyangka aku juga," celetuk Nonik. "Maaf Pak, itu kok bisa begitu? Setahu saya Papa tidak pernah merahasiakan apa-apa dari saya, kecuali suami saya tuh Pak, dia sering bohong," tutur Nonik membuatku malu.

Seketika Pak Tommy pun tertawa lepas mendengarkan ucapan Nonik tentangku.

"Pak Irsyad juga baru tahu, almarhum Teguh Damian ternyata meninggalkan warisan," jawab Pak Tommy.

Jadi kakeknya Nonik yang memberikan warisan, lalu Pak Irsyad memberikan untuk Nonik. Kalau begitu ceritanya, aku harus mendekati Pak Irsyad dan Nonik, rasa kepercayaannya terhadapku harus kembali seperti dulu.

Kemudian, pengacara itu pamit setelah menjelaskan semuanya. Namun, belum memberikan berkasnya pada Nonik, katanya sebulan lagi jika sudah dibalik nama barulah diberikan pada Nonik.

Sebulan adalah waktu dimana Nonik juga memberikan aku kesempatan. Itu artinya aku harus sungguh-sungguh menjalankan apa yang ditugaskan oleh Nonik.

***

Liburan kali ini aku yang masak. Sudah membelanjakan sayuran termasuk bumbu dapur cabai, bawang, dan tomat. Sayuran yang kubeli untuk seharian sembilan belas ribu, dengan menu tahu dan toge. Mungkin karena beli bumbunya jadi mahal. Besok pasti aku bisa lebih irit dari ini.

"Weekend nggak masak ikan-ikanan, Mas?" tanya Nonik ketika ada di meja makan.

"Nggak, ngirit lah, soalnya giliran beli cabai bawang tadi stok kosong," jawabku dengan jujur.

"Oh gitu, kenapa giliran aku ngirit, kamu dulu koar-koar padahal yang kamu kasih juga nggak banyak," sindir Nonik sambil melahap makanan yang kubuat.

Aku hanya terdiam, tidak menyahuti apa yang ia katakan. Sebab, sebulan masih lama, pasti aku bisa mencukupi uang segitu.

Seharian aku liburan bersama Nonik di dapur, ia mengerjakan pekerjaan rumah nyuci piring setelah makan, sedangkan aku memasak.

Pekerjaan tetap ia kerjakan kecuali masak, Nonik tidak menuntut pekerjaan lain padaku.

Kemudian, kami berdua masuk kamar. Kebetulan mamaku juga tidak datang liburan kali ini, telepon pun juga tidak, padahal motor adikku yang kupakai kemarin masih ada di rumah.

Di ranjang, kami merebahkan bobot tubuh yang sudah amat lelah dalam keseharian tadi. Namun, aku iseng-iseng tanyakan di mana letak kerawang yang dimaksud tadi.

"Nik, kerawangnya bagian mana ya?" tanyaku penasaran.

"Nggak tahu, Mas. Pak Tommy juga nggak bilang kan?" tanya Nonik balik. Ia bicara denganku sambil mengusap layar ponselnya.

"Ya bukan apa-apa, kalau daerah Kerawang Mas Yuda tahu, soalnya Topik gadai rumahnya di Kerawang sama Mas 30 juta, sekarang dikontrakin, untungnya lumayan, Dek," ucapku membuat Nonik menoleh.

"Gadai rumah? Kamu punya rumah gadaian? Kok aku nggak tahu ya? Dan hasilnya juga nggak pernah ngerasain," celetuknya membuat mataku mendelik.

Astaga, aku keceplosan lagi. Itu sengaja ditutupi biar kalau dia tebus kan aku masih punya simpanan. Aku menghela napas panjang, dan coba mengalihkan dengan tarik selimut. Namun, Nonik menarik selimut yang aku gunakan.

"Kebohonganmu sudah aku cium, Mas. Kamu kira keceplosan itu kebetulan? Hah!" sentak Nonik.

Aku sedikit terkejut dengan ucapannya yang bilang keceplosan ini bukan kebetulan, apa maksud dari ucapan Nonik?

Bersambung

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status