Mag-log inDemi Ricardo dan putri kami, aku rela mengorbankan segalanya dan menjadi ibu rumah tangga penuh waktu. Namun, sejak kekasih lamanya resmi bercerai, semuanya pun berubah. Suamiku mulai muak padaku. Putriku memperlakukanku bagaikan seorang pembantu. Hatiku hancur tak bersisa. Aku menandatangani surat cerai, melepaskan semua hak dan meninggalkan segalanya untuk pergi sejauh mungkin. Namun, kenapa sekarang mereka malah menyesal?
view more세 해 동안 오지 않던 전화가, 하필 죽을 것 같은 새벽에 왔다.
윤서하는 침대 머리맡에서 진동하는 휴대폰을 한참 바라봤다. 화면에 뜬 이름은 지워 둔 적도, 다시 저장한 적도 없는데 그대로 남아 있었다.
강이준.
가슴이 먼저 반응했다. 약해진 심장이 몇 번 엇박자로 뛰더니 숨이 얕아졌고, 서하는 손바닥으로 흉골 아래를 눌렀다.
전화는 끊겼다가 다시 왔다.
세 번.
마지막 진동이 멎을 때까지 서하는 손을 뻗지 않았다.
“이제 와서 뭘.”
목소리가 입술 안쪽에서 부서졌다.
삼 년 전에도 그는 설명하지 않았다. 호텔 로비에서 정하린의 어깨를 감싼 사진을 테이블 위에 밀어 놓았고, 곧 약혼할 거라 말했다.
“거짓말이지?”
그때의 서하는 웃으면서 물었다. 웃지 않으면 그 자리에서 무너질 것 같아서였다.
이준은 사진을 거두지도 않았다.
“네가 믿고 싶은 대로 믿어.”
“나 보면서 다시 말해.”
잠깐 마주친 그의 눈이 먼저 비껴갔다.
“끝났어, 서하야.”
그 한마디 뒤로 이준은 한 번도 연락하지 않았다.
서하는 휴대폰을 엎어 놓은 채 약통을 열었다. 새벽 여섯 시 알람이 울리기 전이었으나 잠은 이미 달아나 있었다. 물 한 모금을 삼키는 동안 숨이 턱 막혔고, 욕실까지 몇 걸음 걷지 않았는데도 발목 위로 붓기가 팽팽했다.
거울 속 입술에는 핏기가 없었다.
병원에 가야 한다는 생각은 들었지만 오늘 복원실에 들어올 자료가 있었다. 화재에 그을린 조선 후기 문집이라 서하가 아니면 손대기 어려운 상태였다.
어차피 죽을 몸처럼 굴지 말자.
그 말은 오래전부터 자기 자신에게 가장 자주 하는 거짓말이었다.
오전 아홉 시가 조금 넘었을 때 서하는 문헌복원실 작업대 앞에 앉아 있었다. 핀셋 끝으로 눌어붙은 종이 섬유를 떼어내는데 손끝이 미세하게 흔들렸다.
“윤 선생님, 오늘 얼굴 왜 그래요?”
맞은편 서재훈이 장갑을 벗으며 다가왔다.
“잠을 못 자서 그래.”
“입술이 파래.”
“조명 때문이야.”
재훈이 대꾸하려는 순간 서하의 시야가 한쪽부터 어두워졌다. 작업대 가장자리를 짚었으나 힘이 들어가지 않았고, 종이 위로 떨어질 뻔한 몸을 뒤로 빼는 순간 의자가 넘어졌다.
숨을 들이마셨는데 공기가 들어오지 않았다.
재훈이 이름을 불렀다. 두 번째 부름은 멀리서 들렸고, 세 번째는 아예 닿지 않았다.
눈을 떴을 때 천장이 움직이고 있었다.
형광등이 일정한 간격으로 머리 위를 지나갔고, 누군가 산소마스크를 씌우는 동안 서하는 들것 난간을 움켜쥐었다.
“보호자 연락됐습니다. 말하지 마세요.”
간호사의 손이 팔을 고정했다.
서하는 고개만 돌렸다.
“휴대폰….”
“가방에 있어요.”
“전화가 왔는데.”
“지금은 숨부터 쉬세요.”
응급실 문이 열리며 밝은 빛이 쏟아졌다. 가슴 안쪽이 젖은 천으로 묶인 것처럼 무거웠고, 심장이 한 번 뛸 때마다 목구멍까지 맥박이 밀려왔다.
검사와 처치가 이어지는 동안 시간은 잘게 끊겼다.
팔에 꽂힌 주삿바늘, 혈압 커프가 조여 오는 감각, 발치에서 울리는 알림음. 그 사이 어머니 윤미경이 도착했고, 침대 옆에 선 채 서하의 손을 붙잡았다.
“그러니까 내가 어제부터 병원 가자고 했잖아.”
“엄마.”
“말하지 마. 제발.”
미경의 손등이 축축했다.
잠시 뒤 오민재 교수가 커튼을 젖히고 들어왔다. 평소 외래에서 보던 얼굴보다 굳어 있었다.
“윤서하 씨, 심장 기능이 더 떨어졌습니다. 약으로 버티는 단계가 거의 끝났어요.”
서하는 천장을 바라봤다. 놀랍지도 않았다. 이미 몇 년 동안 들어온 말이었으니까.
“얼마나 남았어요?”
미경의 손이 움찔했다.
민재는 바로 답하지 않았다.
“지금은 시간을 계산할 때가 아닙니다. 상태가 급격히 나빠졌어요. 이식 대기 우선순위도 다시 조정해야 합니다.”
서하는 마스크 안에서 숨을 고르며 눈을 감았다.
삼 년 전 이준이 했던 말이 느닷없이 떠올랐다.
네가 나를 미워해도 살아.
그때는 비겁한 변명이라고 생각했다. 지금도 마찬가지였다.
살라는 말을 해놓고 정작 자신은 가장 먼저 떠난 사람.
서하는 침대 옆 가방을 찾았다. 미경이 말렸으나 손으로 더듬어 휴대폰을 꺼냈고, 화면을 켜자 새벽의 부재중 전화가 그대로 남아 있었다.
강이준.
세 통.
미경의 시선이 화면에 닿았다. 손을 잡고 있던 힘이 순간 풀렸지만, 서하가 올려다보자 아무 일도 없었다는 듯 이불 끝만 끌어올렸다.
“받을 걸 그랬나.”
서하가 혼잣말처럼 내뱉자 미경의 손이 멈췄다.
“서하야.”
“왜.”
대답은 없었다.
서하는 통화 버튼 위에 손가락을 올렸다. 누르기만 하면 됐다. 왜 전화했는지, 이제 와서 무슨 말을 하려는지 확인하면 그뿐이었다.
그런데 끝내 누르지 못했다.
화면을 끄려는 순간 커튼 밖에서 빠른 발걸음이 멈췄고, 민재가 다시 들어왔다. 이번에는 손에 서류철을 들고 있었다.
“윤서하 씨.”
그가 침대 곁으로 다가와 서류를 펼쳤다.
“결정할 시간이 많지 않습니다.”
첫 장에는 이식 수술 동의서가 놓여 있었다.
서하는 펜을 받아 들었으나 이름 첫 글자조차 쓰지 못했다. 누군가 죽어야 자신이 산다는 생각이 손목을 붙잡은 듯했다.
“기증자는….”
말끝이 막혔다.
살아 있는 누군가에게 누구냐고 묻는 것도 이상했다.
그때 민재의 호출기가 울렸다.
짧게 내용을 확인한 그의 표정이 달라졌다.
“방금 연락 왔습니다.”
서하의 손끝에서 펜이 미끄러졌다.
민재가 그녀를 똑바로 바라봤다.
“조건이 맞는 심장이 들어왔어요.”
Sejak hari itu, Ricardo tidak pernah lagi datang mengganggu. Dia memilih untuk diam dan menemani dari kejauhan. Dia tahu, membuat Eva mau menerimanya kembali bukanlah hal yang mudah. Yang bisa dia lakukan hanyalah bersabar dan menunggu perlahan.Eva pun mulai terbiasa dengan kenyataan bahwa Ricardo dan Ivany tinggal tepat di seberang rumahnya. Ivany tetap seperti biasa, sesekali datang bermain ke rumah, bahkan terkadang makan malam bersama mereka.Hubungannya dengan Kengo juga berjalan baik dan tidak pernah ada konflik yang berarti.Bahkan, Ivany kini jauh lebih dewasa dibanding dulu. Dia tahu cara menjaga dan mengalah pada Kengo dan itu sudah merupakan hal yang sangat berharga.Namun, kasih sayang Eva padanya tetap terbatas. Dia tidak lagi rela memberi segalanya tanpa syarat seperti dulu.Bagi Eva yang sekarang, Kengo adalah anak kandungnya, satu-satunya yang benar-benar dia anggap sebagai miliknya. Sedangkan Ivany ... tetaplah anak yang dulu pernah mengutuk dirinya mati dan mengataka
Sekarang, Ricardo menjadi sangat berhati-hati. Dia takut Eva masih enggan menemuinya, bahkan tidak berani menaruh harapan terlalu besar. Karena dia tahu, semakin besar harapan, semakin besar pula kekecewaan.Itu adalah pelajaran yang baru benar-benar dia pahami setelah Eva meninggalkannya. Semua siksaan dan hukuman yang dulu ditimpakannya pada Eva, kini seakan berbalik menyiksa dirinya sendiri.Sejak kepergian Eva, Ricardo semakin menyadari apa yang sebenarnya dia inginkan dan apa yang benar-benar dia cintai.Keputusannya datang ke kota kecil di utara ini dan sengaja tinggal di dekat Eva, sudah cukup membuktikan bahwa dia tidak pernah benar-benar menyerah.Namun dia juga sadar, luka yang dia torehkan di hati Eva terlalu dalam. Mengharapkan maaf darinya itu nyaris mustahil. Dia bahkan sudah berkali-kali berniat meminta maaf. Tak peduli Eva akan menghukumnya dengan cara apa pun, selama dia bisa mendapatkan pengampunan, Ricardo rela melakukan apa saja.Sayangnya, Eva tidak pernah memberin
Sejak Eva berhasil mengadopsi Kengo secara resmi, hidupnya terasa jauh lebih bahagia dan lengkap. Suasana hatinya pun jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya. Namun anehnya, selama beberapa waktu ini, keberadaan Herbert seolah lenyap tanpa jejak.Sudah setengah bulan berlalu, memangnya rapat yang dia ikuti belum selesai juga?Kengo sering menanyakannya, membuat Eva bingung harus memberi jawaban seperti apa.Sore itu, mereka duduk berdampingan di tepi tempat tidur sambil memandangi salju yang turun di luar jendela. Pikiran mereka melayang jauh, sama-sama memikirkan sosok yang sama.Sebenarnya, Eva sempat ingin menghubungi Herbert lebih dulu, entah lewat telepon atau pesan singkat. Namun, dia tidak menemukan alasan yang tepat.Meskipun Herbert adalah bosnya, interaksi langsung mereka di tempat kerja tidak terlalu banyak.Lagi pula, urusan Kengo juga hanya karena Herbert bersedia membantu. Dia sudah banyak berkorban, Eva pun merasa tidak enak hati jika harus merepotkannya lagi untuk hal l
Herbert tiba-tiba mulai sering mengajak Eva makan bersama. Eva cukup terkejut, tetapi dalam hatinya tetap merasa sedikit bahagia.Sejak pertemuan terakhir mereka yang berakhir tanpa kejelasan, mereka memang tidak lagi berkomunikasi. Eva bisa memahaminya, bahkan menganggapnya sebagai hal yang sangat wajar.Tidak semua orang bisa menerima keadaannya. Dia pernah menikah, wajahnya masih memiliki bekas luka, dan dia mengasuh seorang anak yang bukan darah dagingnya sendiri. Kalau ada yang merasa ragu atau menolak, itu hal yang lumrah.Setelah makan malam selesai, Kengo menggandeng tangan Eva dan Herbert dengan kedua tangannya. Anak itu terlihat sangat senang.Eva tersenyum, sudut bibirnya terangkat penuh kelembutan. Dia sendiri tidak tahu, sampai kapan momen seperti ini akan terus ada dalam hidupnya. Namun baginya, walaupun hanya sesaat, itu sudah cukup berharga.Apa pun yang terjadi, dia tidak mungkin meninggalkan Kengo. Anak itu bukan hanya sandarannya, tapi juga satu-satunya alasan mengap
Eva tahu benar, setiap kata yang diucapkan Fiona itu dimaksudkan untuk memancing emosinya. Akan tetapi, wajahnya tetap tenang dan tidak menunjukkan reaksi apa pun."Aku sudah memutuskan untuk melepaskan semuanya. Aku nggak akan rebut apa pun darimu," ucap Eva dengan datar.Fiona tertawa sinis. "Suda
Saat melihat mereka pulang, tidak ada gelombang emosi apa pun di hati Eva.Tak ada lagi rasa benci seperti dulu. Lagi pula, hanya tinggal dua hari tersisa. Setelah itu, kemungkinan besar mereka tidak akan pernah bertemu lagi. Maka, biarlah semuanya berakhir dengan tenang dan damai.Sikap Eva yang se
Setelah acara makan malam berakhir, Ricardo menolak halus ajakan Fiona untuk mampir ke rumahnya dan minum teh. Dalam hati, dia merasa bersalah. Awalnya, dia berniat pulang untuk menghibur Eva agar luluh.Namun tak disangka, Eva sama sekali mengabaikannya. Seketika, kemarahan meledak dalam dirinya."
Ricardo duduk bersama Fiona dan Ivany, dikelilingi beberapa orang lain yang tidak dikenali oleh Eva.Hari ini adalah ulang tahun Fiona. Di kepalanya terpasang topi ulang tahun dan dia duduk manja bersandar di sisi Ricardo.Orang-orang di meja itu bercanda dengan riang. "Pak Ricardo dan Fiona benar-b












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu