MasukDemi Ricardo dan putri kami, aku rela mengorbankan segalanya dan menjadi ibu rumah tangga penuh waktu. Namun, sejak kekasih lamanya resmi bercerai, semuanya pun berubah. Suamiku mulai muak padaku. Putriku memperlakukanku bagaikan seorang pembantu. Hatiku hancur tak bersisa. Aku menandatangani surat cerai, melepaskan semua hak dan meninggalkan segalanya untuk pergi sejauh mungkin. Namun, kenapa sekarang mereka malah menyesal?
Lihat lebih banyakUhuk
Uhuk
Seorang gadis yang sedang bersantai sambil minum teh di depan rumahnya seketika tersedak saat mendengar perkataan ibunya.
"Kalo minum pelan-pelan Laura!" peringat ibu Laura.
"Maksud ibu tadi, apa?" tanya Laura menatap ibunya.
Ibu Laura tersenyum pada Laura. "Diana sepupu kamu, kamu harus mau bantuin dia, ini juga demi nama baik keluarga besar kita."
"Tapi kenapa harus, Laura? Itu kan salah dia, jadi dia yang harus menyelesaikan masalahnya sendiri. Ngapain bawa-bawa Laura!" ujar Laura.
"Ayolah nak, kali ini aja kamu bantuin dia. Ibu tau kamu masih sakit hati sama dia, ibu nggak pernah lho ngajarin kamu buat jadi orang pendendam," pinta ibu Laura.
"Tapi masalahnya, ini menyangkut masa depan Laura juga," ujar Laura.
"Ya udah kamu pikirkan dulu aja, ibu harap kamu mau ya. Demi nama baik keluarga besar Varellie. Ibu harap kamu mau," ujar ibu Laura kemudian masuk ke dalam rumah.
"Dia yang bikin masalah, gue yang harus tanggung!" gumam Laura kemudian masuk ke dalam rumah.
Laura menaruh gelas bekas teh tadi ke dapur, setelah menaruh gelas dia pergi ke kamarnya.
Laura duduk di atas tempat tidurnya. "Haruskah Laura menuruti kata ibu? Tapi balikan sama mantan itu nggak keren banget!" Laura mengusap wajahnya kasar.
Terdengar suara bunyi telefon, Laura mencari-cari handphonenya dan akhirnya ketemu.
"Ada, apa?" tanya Laura to the point.
"Aku mau kita ketemuan sekarang, di caffe kayak biasa," ucap si penelepon.
"Oke," jawab Laura kemudian menutup telfonnya.
Tak menunggu lama, Laura langsung mengambil tas selempangnya dan pergi keluar.
Sesampainya di caffe, Laura mencari kekasihnya. Ya, yang tadi telfon itu pacarnya Laura.
"Maaf lama," ucap Laura sambil duduk di kursi yang berhadapan dengan kekasihnya.
"Iyah, nggak pa-pa," ujar kekasihnya sambil tersenyum.
"Udah pesen, minum?" tanya Laura yang di angguki oleh Rendy--kekasih Laura.
"Laura," panggil Rendy
"Iyah, kenapa?" sahut Laura.
"Aku-" ucap Rendy terpotong oleh pelayan caffe yang mengantarkan pesanan mereka.
"Permisi mas, mbak, ini pesanannya," ucap sang pelayan lalu menaruh pesanan tersebut ke meja.
"Iyah, makasih." ucap Laura yang dibalas senyuman ramah oleh mbak pelayan tersebut.
"Tadi kamu mau ngomong, apa?" tanya Laura pada Rendy.
"Nanti aja, kita minum dulu," titah Rendy. Laura pun meminum minuman cokelat panas kesukaannya.
"Ra, kalo misalkan kita nggak berjodoh, gimana?" tanya Rendy.
"Kok, kamu ngomong gitu, sih?" tanya balik Laura.
"Maaf, tapi kayaknya, kita udah nggak bisa bareng lagi," ucap Rendy.
Laura menatap dalam Rendy. "Maksudnya, gimana?!"
"Maaf, tapi kayaknya kita emang nggak berjodoh." Rendy menundukkan kepalanya.
"Kamu kenapa, sih? Kalo ada masalah kita selsaikan baik-baik! Nggak gini caranya!" ujar Laura.
"Maaf, aku pergi ya. Semoga kamu dapat lelaki yang lebih baik dari aku," ucapnya kemudian pergi. Sementara Laura terdiam membisu di tempat.
Tes
Satu bulir air mata jatuh membasahi pipinya. Dia sungguh tidak mengerti, apa yang terjadi, kenapa semuanya jadi begini.
Laura mengusap air matanya kemudian keluar dari caffe tersebut. Sesampainya di rumah dia langsung masuk ke kamarnya dan mengunci pintu kamarnya lalu menangis sejadi-jadinya.
"Kenapa semuanya jadi begini, sih?"
"Apa salah, gue?" tanyanya pada dirinya sendiri.
"Laura kamu nggak pa-pa, nak?" tanya ibu Laura yang khawatir mendengar Laura menangis di dalam kamarnya.
Laura tidak menyahut dan masih terisak dalam tangisnya.
Setelah puas menangis, Laura keluar dari kamarnya karena rasa lapar. Dia makan siang dengan tenang dan sendirian, mungkin ibunya sedang tidur di kamar.
"Kamu tadi kenapa, nangis?" tanya ibu Laura yang baru saja duduk di meja makan.
Laura hanya menggelengkan kepalanya dan terus melanjutkan makannya.
"Nanti malam kita di undang makan malam di luar sama keluarga Rafardhan," ujar ibu Laura. Laura tak hanya diam. Dia malas mendengar nama marga Rafardhan, keluarga yang pernah menghinanya dulu. Seandainya ibunya tau hal itu, pasti ibunya tidak akan memaksanya.
19:40 WIB. Laura sudah siap karena ibunya menyuruhnya untuk cepat-cepat agar tidak terlambat.
Setelah semua siap mereka berangkat menggunakan mobil pribadi milik ayahnya. Laura duduk di belakang dan orang tuanya di depan.
"Ayah, bang Dirga kapan, pulang?" tanya Laura pada Ayahnya yang sedang menyetir.
"Dirga lagi sibuk sama keluarganya, biarin aja dia bahagia sama keluarganya," jawab ayah Laura.
"Kerjaan kamu, gimana?" tanya ayah Laura.
"Ya, gitu," jawab Laura. Laura adalah fashion designer dan pemilik 3 butik yang mempunyai banyak pelanggan setia. Dia juga memiliki 1 restauran mewah yang memiliki banyak pengunjung setiap harinya.
"Kamu beneran mau, menggantikan Diana?" tanya Ayah Laura.
"Laura ikhlas kalo demi menjaga nama baik marga Varellie," jawab Laura.
"Ibu bangga punya anak kayak kamu sayang," ujar ibu Laura sambil tersenyum pada Laura.
Setelah sampai di restauran yang telah diberitahu oleh keluarga Rafardhan.
Saat berjalan masuk ke dalam restauran, mata Laura tak sengaja bertemu dengan sepasang mata seseorang. Orang yang sudah lima tahun tidak bertemu dan berkomunikasi dengannya.
Haii, makasih yang udah mampir dan baca^^ salam kenal yah•^• jangan lupa tinggalkan jejak yah>^<
Sejak hari itu, Ricardo tidak pernah lagi datang mengganggu. Dia memilih untuk diam dan menemani dari kejauhan. Dia tahu, membuat Eva mau menerimanya kembali bukanlah hal yang mudah. Yang bisa dia lakukan hanyalah bersabar dan menunggu perlahan.Eva pun mulai terbiasa dengan kenyataan bahwa Ricardo dan Ivany tinggal tepat di seberang rumahnya. Ivany tetap seperti biasa, sesekali datang bermain ke rumah, bahkan terkadang makan malam bersama mereka.Hubungannya dengan Kengo juga berjalan baik dan tidak pernah ada konflik yang berarti.Bahkan, Ivany kini jauh lebih dewasa dibanding dulu. Dia tahu cara menjaga dan mengalah pada Kengo dan itu sudah merupakan hal yang sangat berharga.Namun, kasih sayang Eva padanya tetap terbatas. Dia tidak lagi rela memberi segalanya tanpa syarat seperti dulu.Bagi Eva yang sekarang, Kengo adalah anak kandungnya, satu-satunya yang benar-benar dia anggap sebagai miliknya. Sedangkan Ivany ... tetaplah anak yang dulu pernah mengutuk dirinya mati dan mengataka
Sekarang, Ricardo menjadi sangat berhati-hati. Dia takut Eva masih enggan menemuinya, bahkan tidak berani menaruh harapan terlalu besar. Karena dia tahu, semakin besar harapan, semakin besar pula kekecewaan.Itu adalah pelajaran yang baru benar-benar dia pahami setelah Eva meninggalkannya. Semua siksaan dan hukuman yang dulu ditimpakannya pada Eva, kini seakan berbalik menyiksa dirinya sendiri.Sejak kepergian Eva, Ricardo semakin menyadari apa yang sebenarnya dia inginkan dan apa yang benar-benar dia cintai.Keputusannya datang ke kota kecil di utara ini dan sengaja tinggal di dekat Eva, sudah cukup membuktikan bahwa dia tidak pernah benar-benar menyerah.Namun dia juga sadar, luka yang dia torehkan di hati Eva terlalu dalam. Mengharapkan maaf darinya itu nyaris mustahil. Dia bahkan sudah berkali-kali berniat meminta maaf. Tak peduli Eva akan menghukumnya dengan cara apa pun, selama dia bisa mendapatkan pengampunan, Ricardo rela melakukan apa saja.Sayangnya, Eva tidak pernah memberin
Sejak Eva berhasil mengadopsi Kengo secara resmi, hidupnya terasa jauh lebih bahagia dan lengkap. Suasana hatinya pun jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya. Namun anehnya, selama beberapa waktu ini, keberadaan Herbert seolah lenyap tanpa jejak.Sudah setengah bulan berlalu, memangnya rapat yang dia ikuti belum selesai juga?Kengo sering menanyakannya, membuat Eva bingung harus memberi jawaban seperti apa.Sore itu, mereka duduk berdampingan di tepi tempat tidur sambil memandangi salju yang turun di luar jendela. Pikiran mereka melayang jauh, sama-sama memikirkan sosok yang sama.Sebenarnya, Eva sempat ingin menghubungi Herbert lebih dulu, entah lewat telepon atau pesan singkat. Namun, dia tidak menemukan alasan yang tepat.Meskipun Herbert adalah bosnya, interaksi langsung mereka di tempat kerja tidak terlalu banyak.Lagi pula, urusan Kengo juga hanya karena Herbert bersedia membantu. Dia sudah banyak berkorban, Eva pun merasa tidak enak hati jika harus merepotkannya lagi untuk hal l
Herbert tiba-tiba mulai sering mengajak Eva makan bersama. Eva cukup terkejut, tetapi dalam hatinya tetap merasa sedikit bahagia.Sejak pertemuan terakhir mereka yang berakhir tanpa kejelasan, mereka memang tidak lagi berkomunikasi. Eva bisa memahaminya, bahkan menganggapnya sebagai hal yang sangat wajar.Tidak semua orang bisa menerima keadaannya. Dia pernah menikah, wajahnya masih memiliki bekas luka, dan dia mengasuh seorang anak yang bukan darah dagingnya sendiri. Kalau ada yang merasa ragu atau menolak, itu hal yang lumrah.Setelah makan malam selesai, Kengo menggandeng tangan Eva dan Herbert dengan kedua tangannya. Anak itu terlihat sangat senang.Eva tersenyum, sudut bibirnya terangkat penuh kelembutan. Dia sendiri tidak tahu, sampai kapan momen seperti ini akan terus ada dalam hidupnya. Namun baginya, walaupun hanya sesaat, itu sudah cukup berharga.Apa pun yang terjadi, dia tidak mungkin meninggalkan Kengo. Anak itu bukan hanya sandarannya, tapi juga satu-satunya alasan mengap
Eva tahu benar, setiap kata yang diucapkan Fiona itu dimaksudkan untuk memancing emosinya. Akan tetapi, wajahnya tetap tenang dan tidak menunjukkan reaksi apa pun."Aku sudah memutuskan untuk melepaskan semuanya. Aku nggak akan rebut apa pun darimu," ucap Eva dengan datar.Fiona tertawa sinis. "Suda
Saat melihat mereka pulang, tidak ada gelombang emosi apa pun di hati Eva.Tak ada lagi rasa benci seperti dulu. Lagi pula, hanya tinggal dua hari tersisa. Setelah itu, kemungkinan besar mereka tidak akan pernah bertemu lagi. Maka, biarlah semuanya berakhir dengan tenang dan damai.Sikap Eva yang se
Setelah acara makan malam berakhir, Ricardo menolak halus ajakan Fiona untuk mampir ke rumahnya dan minum teh. Dalam hati, dia merasa bersalah. Awalnya, dia berniat pulang untuk menghibur Eva agar luluh.Namun tak disangka, Eva sama sekali mengabaikannya. Seketika, kemarahan meledak dalam dirinya."
Ricardo duduk bersama Fiona dan Ivany, dikelilingi beberapa orang lain yang tidak dikenali oleh Eva.Hari ini adalah ulang tahun Fiona. Di kepalanya terpasang topi ulang tahun dan dia duduk manja bersandar di sisi Ricardo.Orang-orang di meja itu bercanda dengan riang. "Pak Ricardo dan Fiona benar-b






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan