LOGINTaksi bergerak makin jauh, meninggalkan kediaman Morgan yang penuh mimpi buruk. Di kursi belakang, napas Jessica masih memburu. Pengaruh minuman keras yang dipaksakan padanya mulai merayapi kesadarannya, kepalanya terasa berat, pandangannya agak kabur, dan gelombang rasa panas terus menjalar di perutnya.
"Nona, kita mau menuju ke mana?" tanya sopir taksi melirik melalui spion tengah, menyadari raut wajah penumpangnya yang pucat dan panik.
Jessica memegang pelipisnya yang berdenyut hebat. Ke mana dia harus pergi? Kembali ke rumah keluarga Morgan jelas bukan pilihan. Ke tempat temannya? Dia tidak ingin membawa bahaya atau rasa malu malam ini. Dengan pikiran yang makin kacau dan keinginan untuk menenggelamkan rasa sesak di dadanya, sebuah tempat terlintas di kepalanya.
"Bawa aku ke club malam terdekat... tempat yang paling ramai," gumam Jessica dengan suara serak. Dia butuh keramaian, suara musik yang membisingkan, dan tempat di mana tidak ada seorang pun yang mengenalnya sebagai "istri" atau "pelayan" Morgan.
Sopir taksi mengangguk dan menginjak pedal gas lebih dalam. Hanya butuh waktu lima belas menit hingga mobil berhenti di depan sebuah night club bergaya eksklusif dengan deretan lampu neon menyilaukan.
Begitu argometer dimatikan, kesadaran Jessica tersentak. Dia baru teringat satu hal fatal: dia berlari keluar rumah tanpa membawa tas, dompet, maupun ponsel.
"Nona, totalnya seratus lima puluh ribu," ucap sopir taksi.
Jessica meraba kantong pakaiannya yang kosong. Keringat dingin kembali menetes. Dalam remang kabin taksi, jemarinya menyentuh sesuatu di telinganya. Tanpa ragu, Jessica melepas salah satu anting berlian yang melekat di telinga kirinya, perhiasan langka yang nilainya jauh melampaui tarif taksi tersebut.
"Aku tidak membawa uang tunai. Ambil ini sebagai gantinya," ucap Jessica sambil menyodorkan anting yang berkilau di bawah lampu jalan.
Sopir taksi terpana menatap kilauan perhiasan itu. Belum sempat dia memprotes atau bertanya lebih lanjut, Jessica sudah membuka pintu mobil dan melangkah keluar dengan sedikit sempoyongan.
Dentuman bass yang berat langsung menyambut Jessica begitu dia menembus pintu masuk klub malam tersebut. Cahaya flashing lights yang berkerlap-kerlip makin membuat kepalanya pusing, namun di saat yang sama, memberikan rasa aman yang semu. Di sini, di antara ratusan orang yang menari dan menikmati malam, tidak ada Morgan maupun Erika yang bisa menyentuhnya.
Jessica berjalan menuju area bar, menyenderkan tubuhnya yang mulai lemas pada kaunter kayu yang dingin. Efek racun alkohol campuran yang diminumnya tadi mulai bekerja sepenuhnya, membuat pandangannya makin kabur dan kesadarannya berada di ambang batas.
Dengan langkah yang makin limbung, Jessica menggeser tubuhnya dan mendarat di atas kursi bar yang kosong, persis di sebelah seorang pria yang sedang memegang gelas minumannya. Kepala Jessica terasa makin berat, seolah dipukul berkali-kali dari dalam.
"Mas..." panggil Jessica pada bartender di balik meja dengan suara yang sudah sangat lemah dan serak. "Air... berikan aku air putih dingin, tolong..."
Bartender itu menatap Jessica dari atas ke bawah. Penampilan Jessica yang berantakan, napasnya yang memburu, serta aroma alkohol yang samar namun pekat menusuk hidung dengan cepat memperjelas satu hal: wanita di depannya ini sudah setengah mabuk sebelum sempat memesan apa pun.
"Nona, kamu baik-baik saja?" tanya sang bartender ragu, namun tetap berbalik untuk mengambilkan segelas air putih dingin.
Pria yang duduk di sebelah Jessica perlahan menoleh. Dari jarak sedekat ini, dia bisa merasakan hawa panas yang terpancar dari tubuh Jessica. Racun minuman keras yang dipaksakan oleh teman-teman Morgan tadi makin liar menguasai jalan pikirannya. Jessica mencengkeram tepi meja bar dengan erat, berusaha keras menahan kesadarannya yang terus merosot ke titik nol.
Bartender meletakkan segelas air es di depannya. Dengan tangan yang gemetar hebat, Jessica meraih gelas tersebut dan meneguknya dengan serakah, berharap dinginnya air bisa memadamkan rasa terbakar di dalam perut dan tenggorokannya.
Namun, rasa pusing itu makin menjadi-jadi. Pandangan Jessica mulai berbayang, hingga sosok pria di sampingnya terlihat kabur di bawah kilatan lampu klub yang remang.
"Nona... Kau baik-baik saja?" tanya pria di sampingnya. Suaranya berat, penuh nada heran yang tidak bisa disembunyikan.
Pria itu memperhatikan Jessica dari samping dengan dahi berkerut. Dia tahu betul wanita ini baru saja datang dan hanya meminum segelas air putih dingin. Namun, aroma alkohol yang tajam justru sangat pekat menusuk hidungnya, seolah-olah baju dan tubuh Jessica baru saja disiram atau dipaksa menelan minuman keras dalam jumlah banyak. Penampilannya yang agak berantakan dan napasnya yang memburu makin menambah kejanggalan.
Jessica yang mendengarkan pertanyaan itu hanya bisa menyandarkan dahinya di atas meja bar yang dingin, mencoba meredakan pusing yang makin melilit kepalanya.
"Aku... aku tidak apa-apa," gumam Jessica lirih, hampir tak terdengar di tengah dentuman musik klub. Tapi tubuhnya sama sekali tidak bisa diajak kompromi; jemarinya yang mencengkeram gelas air putih gemetar makin hebat.
Pria itu melipat kedua tangannya di atas meja, matanya yang tajam meneliti wajah pucat Jessica yang kini mulai bersemu merah akibat efek alkohol yang dipaksakan padanya.
"Kau tidak kelihatan baik-baik saja," ujar pria itu lagi, nadanya datar namun menyiratkan perhatian yang tak biasa. "Bajumu bau alkohol pekat, tapi kau cuma minta air putih. Ada yang menjebakmu?"
Jessica menyipitkan mata, berusaha memperjelas pandangannya yang makin berbayang untuk melihat siapa pria di sampingnya ini. Di bawah remang lampu klub, dia hanya bisa melihat rahang tegas dan tatapan mata yang begitu pekat menatapnya.
Jessica menyipitkan matanya, berusaha keras mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya yang hampir menguap. Di bawah kilatan lampu remang klub, wajah pria di sampingnya makin kabur dan berbayang. Yang bisa dia tangkap hanyalah perawakan tinggi, postur tubuh yang tegap, dan pakaian rapi yang tampak sangat mahal.
Dalam benaknya yang makin kacau akibat racun alkohol dan rasa frustrasi yang membuncah, Jessica hanya ingin membalas dendam atas hinaan Morgan dan Erika. Jika Morgan menganggapnya tak lebih dari barang yang bisa ditawarkan pada teman-temannya, maka malam ini dia ingin membuktikan bahwa dia memegang kendali atas hidupnya sendiri, walau dengan cara yang nekat.
Dengan tatapan sayu dan suara yang serak bertabur efek mabuk, Jessica mendekatkan tubuhnya sedikit.
"Berapa... berapa tarifmu untuk menemaniku malam ini?" bisik Jessica polos namun menantang, mengira pria di sampingnya adalah salah satu escort atau pria bayaran di klub eksklusif tersebut.
Pria itu tersentak. Alis tebalnya bertaut erat, menatap Jessica dengan raut wajah kaget yang tak tertutup. Rasa herannya berubah menjadi ketidakpercayaan saat mendengar pertanyaan nekat dari wanita yang bahkan sulit berdiri tegak ini.
Dia mengembuskan napas berat, lalu memiringkan tubuhnya dan menatap Jessica dingin dari atas ke bawah.
"Nona, sepertinya otakmu sudah benar-benar terbalik," ucap pria itu dengan nada datar namun penuh penegasan. "Aku bukan pria sewaan, dan aku sama sekali tidak tertarik."
Bukannya tersinggung, Jessica justru terkekeh pelan dengan napas yang makin memburu. Rasa panas di perutnya kini menjalar ke seluruh tubuh, membuat kesadarannya benar-benar berada di ujung tanduk.
****
Setelah perjalanan hampir empat puluh menit, mobil mewah itu berbelok memasuki kawasan perbukitan eksklusif dan berhenti di depan sebuah villa megah bergaya modern kontemporer yang menghadap langsung ke Danau Zurich."Kita sudah sampai," ujar Louis seraya keluar dan kembali membukakan pintu untuk Jessica.Jessica melangkah keluar, terpana menatap bangunan megah berlantai tiga dengan dinding kaca besar yang memantulkan kilauan air danau. Seorang pria paruh baya berpenampilan sangat rapi menyambut mereka di pintu utama dengan bungkukan dalam."Selamat datang kembali di villa, Tuan Louis. Seluruh fasilitas dan kamar utama sudah siap sesuai instruksi Anda," ucap pria itu dalam bahasa yang fasih, membuat Jessica terbelalak kaget.Jessica menoleh cepat ke arah Louis yang berdiri santai di sampingnya, tatapannya menuntut penjelasan penuh. "Tuan Louis? Villa milikmu?"Louis tertawa kecil, melangkah mendekat dan merangkul pinggang Jessica secara alami untuk membawanya masuk ke dalam hall utama
Suara gemuruh halus dari mesin turbin yang mulai menyala memutus tatapan tajam di antara mereka. Pesawat bergerak perlahan menuju landasan pacu, bersiap untuk lepas landas. Jessica menghela napas panjang, membiarkan jemari hangat Louis menggenggam tangannya lebih erat saat gaya gravitasi mulai menarik tubuh mereka ke sandaran kursi.Di luar jendela, gemerlap lampu kota yang selama ini menjaragkan kebebasannya perlahan menyusut menjadi titik-titik cahaya kecil, sebelum akhirnya sepenuhnya lenyap tertutup lautan awan gelap. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Jessica merasa terlepas dari cengkeraman ketakutan yang biasa membayanginya di rumah Bratapura.Louis memperhatikan setiap perubahan ekspresi di wajah Jessica. Garis-garis kecemasan yang tadinya terpatri keras di dahi wanita itu perlahan melunak, digantikan oleh kelelahan yang sangat dalam."Istirahatlah," ujar Louis lembut, suaranya mengalun hangat menembus keheningan kabin. Ia berdiri, mengambil sebuah selimut rajut berbah
Jessica terperanjat saat jemari hangat Louis tiba-tiba meraih dan menggenggam erat pergelangan tangannya. Sebelum otak Jessica sempat mencerna situasi, Louis sudah menariknya berdiri dan membawanya melangkah lebar keluar dari kafe menuju mobil mewah yang terparkir di pelataran."Louis! Apa-apaan ini?!" seru Jessica setengah berbisik, berusaha menyeimbangi langkah kaki Louis yang panjang seraya menahan keterkejutannya. "Kita mau ke mana?!"Louis membukakan pintu penumpang depan untuk Jessica dengan gerakan tangkas dan elegan, lalu menunduk menatap wajah wanita itu yang dipenuhi kepanikan. Senyum tipis nan penuh pesona terpatri jelas di wajahnya."Mau ke mana lagi?" bisik Louis rendah, kilatan matanya begitu tegas dan tak tertahankan. "Ke Swiss. Sekarang juga.""Sekarang?!" Jessica membelalakkan mata, menahan napasnya. "Tapi aku bahkan belum berkemas! Aku tidak membawa paspor, tidak membawa baju ganti, dan ….""Semua urusan dokumen dan kebutuhanmu sudah ada yang mengurus," potong Louis
Balasan pesan dari Louis masuk hanya dalam hitungan detik.‘Aku selalu punya waktu untuk klien istimewaku. Di tempat biasa jam delapan malam?’Melihat balasan singkat namun menenangkan itu, dada Jessica yang sebelumnya terasa sesak mendadak sedikit melonggar. Ia membalasnya dengan satu ketukan tanda setuju, lalu menyandarkan tubuhnya ke pintu kamar yang terkunci.Di luar kamar, terdengar suara langkah kaki Morgan yang menjauh diikuti dentuman pintu utama yang ditutup keras. Pria itu pasti pergi melampiaskan kekesalannya bersama Erika. Jessica memejamkan mata sejenak, mengumpulkan sisa kekuatan yang ia miliki sebelum beranjak untuk bersiap-siap.Malam harinya, tepat pukul delapan, Jessica sudah berada di sudut paling privat sebuah kafe bernuansa remang dan tenang di pinggir kota. Denting piano berirama lembut mengalun pelan, kontras dengan gemuruh yang menggelegak di dalam dadanya.Tak berapa lama, aroma cologne maskulin berkayu yang sangat khas tercium. Louis berjalan mendekati meja,
Jessica memijat pelipisnya yang mulai terasa pening. "Aku benar-benar pusing. Aku tidak tahu apa mau Tuan Matthew Parker sebenarnya. Dan yang lebih mengesalkan lagi..."Jessica menoleh menatap Louis dengan tatapan polos sekaligus prihatin. "...semua masalah ini makin menumpuk, padahal aku masih harus memikirkan tarif bayaranmu yang sangat mahal setiap kali aku membutuhkan bantuanmu."Hearing ucapan jujur dari bibir Jessica, Louis yang sedang mengemudi hampir saja tersedak salivanya sendiri. Senyum tipis yang berusaha dia tahan akhirnya mengembang lebar di sudut bibirnya."Jadi... kamu memikirkanku juga di tengah kekacauan itu?" bisik Louis dengan nada godaan yang halus, membuat pipi Jessica mendadak merona merah.Wajah Jessica seketika memanas. Dia dengan cepat memalingkan wajah ke arah jendela luar, menutupi rona merah yang menjalar hingga ke lehernya."Aku memikirkan isi dompetku, Louis, bukan memikirkanmu!" sanggah Jessica dengan nada ketus yang dibuat-buat, berusaha mempertahankan
Pagi harinya, suasana rumah keluarga Bratapura mendadak gempar. Sebuah truk boks mewah berlogo resmi Parker Group terparkir anggun di halaman depan. Beberapa petugas berjas rapi hilir-mudik membawa puluhan kotak hadiah eksklusif, tas bermerek, hingga perhiasan bernilai fantastis langsung ke dalam rumah.Sebuah surat berstempel emas diserahkan langsung ke tangan Jessica. Surat itu berisi permohonan maaf pribadi dari Tuan Matthew Parker atas insiden tidak menyenangkan yang dialami Jessica di pesta semalam.Jessica berdiri terpaku di ruang tamu. Matanya membelalak menatap tumpukan barang-barang bermerek dan perhiasan berlian yang berkilauan di hadapannya. Jantungnya berdegup kencang oleh rasa terkejut yang luar biasa.Bagaimana mungkin seorang tokoh besar seperti Tuan Matthew Parker mengirimkan semua ini untukku? Aku bahkan sama sekali tidak mengenalnya! batin Jessica kebingungan, mencoba mencerna teka-teki besar yang kini berada di depan matanya.Erika, yang baru saja turun dari lantai







