LOGINAfter seeing the engagement invitation of her beloved man Anya Arora ran away like a coward. So picking up her broken heart and pride, distancing with everyone and binding herself with new shackles of promises, she left but she never knew she will met a devil who will make her life upside down.
View More"Sebaiknya kau pergi dari hadapanku!" bentak seorang pria paruh baya penuh amarah. Dua bola matanya menatap tajam kepada seorang pemuda yang ada di hadapannya.
"Jangan banyak bicara, Panglima! Aku tidak mungkin pergi begitu saja dari hadapanmu, sebelum aku membinasakanmu." Pemuda itu balas membentak sambil berkacak pinggang penuh kesombongan.
Dia adalah Andaresta, dan pria paruh baya yang tengah berhadapan dengannya adalah Panglima Rakuti yang memiliki gelar Senapati Guna Yaksa di kerajaan Genda Yaksa. Entah apa penyebabnya? Tiba-tiba saja mereka terlibat dalam sebuah pertengkaran.
Panglima Rakuti semakin geram saja melihat sikap Andaresta yang berlaku sombong dan tidak sopan terhadap dirinya. Lantas, ia pun kembali membentak pemuda itu, "Aku muak melihatmu, kau sudah mengkhianati kepercayaanku selama ini. Pergilah dari hadapanku! Sebelum aku melakukan tindakan tegas!"
"Hahaha." Andaresta tertawa dingin. Kemudian berkata, "Sia-sia diriku ini, jika aku harus pergi dari hadapanmu." Andaresta bersikap angkuh dan jemawa, seolah dirinya merasa lebih kuat dari Panglima Rakuti.
"Kurang ajar sekali kau ini!" Panglima Rakuti balas membentak dengan suara tak kalah kerasnya dari suara pemuda itu. "Aku tidak peduli dengan perkataanmu! Kau benar-benar telah mengkhianati kepercayaanku," sambungnya menatap tajam wajah Andaresta.
Mendengar apa yang dikatakan oleh sang panglima, Andaresta tertawa lepas, "Hahaha!" Kemudian berkata lagi, "Asal kau tahu, aku datang untuk membunuhmu wahai Panglima!"
Panglima Rakuti semakin dibuat geram oleh sikap pemuda itu. "Bedebah kau Andaresta!" Amarah dalam diri sang panglima memuncak seketika dalam menghadapi sikap anak muda yang selama ini ia percaya sebagai pemuda baik. "Aku menyesal telah mengangkatmu sebagai prajurit senior," sambungnya.
"Itu tandanya kau ini orang bodoh yang gampang aku bohongi. Aku hadir di kerajaan ini, karena ingin menunaikan dendam masa laluku terhadapmu wahai Panglima."
Panglima Rakuti teramat geram mendengar perkataan dari Andaresta. Tampak jelas dari raut wajahnya, tersimpan rasa benci melihat Andaresta yang bersikap jemawa. Padahal, Andaresta memiliki kedudukan di bawah sang panglima.
Lantas, Panglima Rakuti pun kembali berkata, "Mulutmu teramat lancang, Andaresta. Kau telah berlaku sombong di hadapanku yang merupakan panglimamu sendiri!" Sorot matanya tajam terus menatap wajah Andaresta penuh kebencian.
Tanpa banyak basa-basi lagi, Andaresta langsung menyerang sang panglima dengan sangat deras. Tubuhnya melesat dengan begitu cepat, kemudian mengayunkan tangan hendak melakukan pukulan yang mengarah ke bagian kepala Panglima Rakuti.
Namun, sang panglima dapat mementahkan serangan lawannya dengan begitu mudah. Dengan demikian, Panglima Rakuti segera membalas serangan dari anak muda sombong itu. Ia langsung melancarkan sebuah pukulan keras tepat mengenai bagian dada Andaresta, sehingga pemuda itu pun jatuh bergelimpangan ke tanah, dari mulutnya tampak menyemburkan darah segar.
"Pukulanmu sangat luar biasa," kata Andaresta bangkit sambil memegangi dadanya yang terasa sakit dan sesak.
Meskipun demikian, Andaresta tidak merasa jera. Ia kembali mengerahkan tenaganya yang masih ada untuk menyerang Panglima Rakuti.
Melihat pergerakan Andaresta yang hendak menyerang dirinya kembali, Panglima Rakuti langsung bergerak cepat melepaskan pukulan keras menangkis serangan tersebut.
Terdengar bunyi dentuman yang sangat keras seiring dengan bentroknya dua kekuatan tenaga dalam yang mereka kerahkan. Hal tersebut, menyebabkan tubuh kedua kesatria itu terpental beberapa tombak ke belakang, dari mulut dan hidung mereka tampak keluar darah segar yang mengalir deras.
"Tidak kusangka Andaresta ternyata memiliki kemampuan yang cukup mumpuni," desis Panglima Rakuti sambil menyeka darah yang mengalir dari hidung dan mulutnya.
Beberapa saat kemudian, mereka kembali bangkit, dan bersiap untuk melanjutkan pertarungan tersebut. Keduanya tengah melakukan persiapan untuk mengerahkan kekuatan tenaga dalam yang mereka miliki, agar segera mengakhiri pertarungan itu dengan sebuah kemenangan.
"Atas nama ayahku, aku berjanji bahwa hari ini kau akan aku kirim ke neraka!" bentak Andaresta menatap tajam wajah sang panglima. "Harus kau ketahui, aku akan segera menjadi seorang panglima untuk menggantikan posisimu!" sambungnya penuh rasa percaya diri dan bersikap sangat jemawa.
"Kau telah dibutakan oleh dendam masa lalu. Perlu kau ketahui bahwa kematian ayahmu, itu disebabkan oleh perbuatannya sendiri!" Panglima Rakuti menyahut sambil menatap tajam wajah Andaresta.
Andaresta tampak geram mendengar perkataan dari Panglima Rakuti. Dengan penuh kegusaran, ia kembali membentak, "Kau adalah penyebab utama kematian ayahku. Karena kau sudah melaporkan tentang kesalahan ayahku kepada raja, sehingga ayahku mendapatkan hukuman mati!" bentak Andaresta sambil menghentakkan kakinya, dan kembali menerjang sang panglima.
Mereka pun kembali terlibat dalam sebuah pertarungan yang sangat sengit, di antara mereka terus saling serang dan mengerahkan pukulan demi pukulan. Keduanya berusaha untuk saling menjatuhkan satu sama lain.
Tanpa terduga, Andaresta ternyata mulai mengeluarkan jurus andalannya yang ia pelajari dari Resi Naraya, jurus tersebut hanya dimiliki oleh Andaresta dan Pandu sebagai murid Resi Naraya.
Dari telapak tangan pemuda itu, tampak keluar asap putih mengepul hingga membumbung tinggi membentuk sebuah lingkaran, Andaresta langsung menghentakkan kedua tangannya ke arah Panglima Rakuti.
“Kau akan segera binasa, Panglima!” Seiring dengan demikian, asap putih tersebut meluncur deras menyerang tubuh sang panglima.
Dengan serta-merta, Panglima Rakuti segera menangkis serangan tersebut. Asap putih itu benar-benar berisi tenaga dalam yang sangat luar biasa, mengandung hawa panas yang sangat dahsyat. Hingga menyebabkan tubuh sang panglima terpental jauh akibat terdorong oleh sebuah kekuatan yang sangat besar. Ia pun terjatuh dengan mulut menyemburkan darah segar begitu derasnya.
Meskipun demikian, sang panglima masih bisa bangkit. Ia kembali mengerahkan jurus tenaga dalamnya untuk mengobati luka di dalam tubuhnya.
"Hebat sekali kau ini, masih bisa bertahan hidup," kata Andaresta sambil tertawa dingin.
"Majulah! Jika kau menginginkan aku mati, maka bertarunglah denganku hingga tetes darah penghabisan!" tantang sang panglima kembali membentangkan kedua tangannya, kemudian tubuhnya berputar kencang dan melesat cepat ke arah Andaresta.
Andaresta tidak tinggal diam, ia langsung menyambut serangan tersebut dengan sebuah pukulan keras berkekuatan tenaga dalam yang sangat dahsyat. Sehingga tubuh sang panglima kembali terpental jauh, karena kekuatan tenaga dalam yang dikeluarkan oleh Andaresta tidak seimbang dengan kekuatan jurus tenaga dalam yang dikerahkan oleh Panglima Rakuti.
Sang panglima jatuh bergelimpangan, kepalanya membentur bongkahan batu padas yang ada di sekitaran tempat tersebut. Dengan demikian, ia tak dapat bangkit lagi, wajahnya tampak pucat. Dari hidung dan mulutnya terus mengeluarkan darah segar mengalir sangat deras, begitu pula dari kepalanya tampak mengalami luka yang sangat serius.
"Andaresta!" teriak sang panglima yang sudah terluka parah, ia berusaha bangkit. Namun tenaganya sudah terkuras dan tubuhnya pun sudah lemah tak berdaya.
"Kau akan menerima balasan dari perbuatanmu ini!" ucap sang panglima, suaranya terdengar parau terhalang derasnya aliran darah yang memenuhi tenggorokan dan hidungnya.
"Matilah dengan tenang, Panglima. Kau tidak perlu mengancamku!" bentak Andaresta sambil tertawa puas melihat lawannya sudah tidak berdaya lagi.
"Pandu akan membalaskan dendamku ini, Andaresta!" Suara sang panglima terdengar semakin parau. Darah segar terus mengalir dari mulut dan hidungnya.
Kemudian, Andaresta menghunus pedang. "Selamat tinggal, Panglima!" Andaresta langsung menancapkan pedangnya ke bagian lambung Panglima Rakuti.
* * *
As Anya was passing the garden she halted after hearing Sebastian’s hurried voice “Anya, please stop.” Sebastian sighed in relief and continued to say “Whatever happened, let me explain...” But Anya interrupted her coldly “Sebastian, let me ask you one question. Two years ago, was it you who attended that call?” Sebastian was startled with this question and for the first time Sebastian Raichand fumbled “Anya that…” “She was nothing more than a time pass, you said these words, right?” Anya turned while saying these words, her eyes were filled with callous and detachment which rose a feeling of fear in Sebastian’s heart Before he could reply, Anya held his collar furiously “Who gave you that right? Tell me, Mr. Sebastian Raichand, who gave you that damn right to portray her in this way, to humiliate her in this way.” She shook him asking “What she wanted huh, did she want your money? Or did she want your status?
Anya turned her face away as she wasn’t able to see Abhishek’s distraught condition, involuntarily she began to sympathise with this man. Her heart was shouting to her that this man was also suffering but she didn't want to listen to it. She took out another file and gave him saying “Back then, she bought land in the outskirts of the city and now the land belongs to you. The purpose of that land was your ‘dream home’ that you always wanted.” “And regarding her will, I’ll call her lawyer.” Abhishek was astonished as he read the papers, he looked at Anya perplexedly “Why are you giving me all this?” “Because I promised her that the things that belonged to her will be given to you.” She replied impassively Taking a deep breath Anya dialled a number and kept the phone on speaker. Sebastian brought Abhishek to the closest couch to her. After sometime the phone was connected “Hello Raj uncle.” A man's voice was heard from the other side “A
Seeing Nate like this, Anya felt a relief but there was a ting of sadness in her heart thinking “Grandma, you also trusted the wrong person.” She snapped out of her thoughts with Abhishek’s anxious voice “Anya, where is Nandini? Take me to her, I will ask forgiveness from her, I’ll explain everything to her. I’ll accept any punishment that she’ll give me, you just take me to her, please!” He was about to hold her hands but she dodged them “Do you think, any punishment can be comparable to all that time which she spent in agony and pain?” Abhishek’s eyes turned red with helplessness “Anya please, only for once.” Sebastian couldn’t help but make requests while seeing his grandfather so vulnerable “Anya, my grandpa loves her very much.” Reminiscing about the death of her grandma, Anya closed her hand in a fist hardened her heart and ignored his pleading look “I’m sorry I can’t!” Finding Anya’s resolute and hard behaviour, Abh
Nate wanted to flee from here while Abhishek was in a state of disbelief “He… he tried to kill her?” Any didn’t respond to him and continued to speak “He might be succeeded but Mrs. Olivia Raichand felt pity on her and after a lot of convincing, his brother agreed on sending Nandini Sharma to another country so that no one could find her.” She stressed on Mrs. Olivia Raichand in a sarcastic way as she disclosed the hidden conspiracy “Grandma?” Sebastian looked bewildered In reply Anya nodded her head “Yes, your grandma.” “Why did she do that?” Sebastian wasn’t able to understand that why her grandma would do something like this “Because she loved your grandfather very much.” As Anya was saying these words, she looked at Abhishek while he looked down because Anya’s gaze held a shade of accusation Abhishek couldn’t help but ask the question which was in his mind “But why Nandini silently endured all this, she’s no
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews