Home / Horor / JAMU, MAS? / BAB 2 — JAMU MALAM

Share

BAB 2 — JAMU MALAM

Author: UMMA LAILA
last update publish date: 2025-01-17 23:35:56

Fauzan dan Bagas saling pandang sepersekian detik.

Lalu Bagas tertawa duluan.

“Hahaha… modyar tenan kowe, Zan,” katanya sambil menepuk bahu Fauzan. (Gila kamu, Zan.)

Fauzan ikut tertawa. Kering. Terlalu cepat. “Iyo, aku iki kecapekan. Lembur mbengi-mbengi,” katanya sambil mengibaskan tangan. (Iya, aku kecapekan. Lembur malam-malam.)

Bagas mengangguk-angguk, seolah percaya. “Iyo lah. Wong awakmu dewe sing disuruh mandor terus.” (Iya lah. Kamu terus yang disuruh mandor.)

Fauzan menelan ludah. Tangannya masih dingin. Bau jamu itu masih ada di hidungnya, meski dapur terang dan ramai.

“Aku laper, Zan,” lanjut Bagas cepat, nada sengaja dibuat ringan. “Makanya tadi kepikiran jamu. Ayo wae bikin mie rebus.” “Barusan dikasih Bang Boneng mie sekardus di dapur.”

“Ayo,” Fauzan langsung mengangguk. “Aku yo luwe.” (Aku juga lapar.)

Mereka masuk ke dapur mess.

Lampu dapur terang. Kompor dua menyala. Beberapa pekerja sudah duduk melingkar. Ada yang nyeduh kopi, ada yang bongkar mie, ada yang masih pakai sarung, kaus dilipat ke atas perut.

“Lho, iki bocah loro kok pucet ngene?” celetuk Pak Rawi sambil menuang air panas. (Lho, ini dua anak kok pucat gini?)

“Iyo yo,” sahut yang lain. “Fauzan, kowe kok kaya wong ndelok setan?” (Fauzan, kamu kok kayak habis lihat setan?)

Semua tertawa.

Fauzan ikut tertawa, lebih keras dari seharusnya. “Setan opo. Aku mung capek.” (Setan apaan. Aku cuma capek.)

Bagas ikut nimbrung. “Kasihan, Pak. Anak emas mandor. Disuruh lembur terus.” (Tertawa kecil.)

“Anak emas kok mlarat,” balas Pak Rawi. “Makanya nikah, Zan. Biar ada sing mijitin.” (Makanya nikah, Zan. Biar ada yang mijitin.)

“Heh, ojo sembarang ngomong,” sahut Bagas. “Wong iki durung kuat modal.” (Jangan sembarang ngomong. Orang ini belum kuat modal.)

Gelak tawa pecah.

Fauzan membongkar mie, tangannya agak gemetar saat mematahkan mie kering. Ia menahan napas sebentar, lalu mengaduknya dengan paksa agar terlihat normal.

“Bagas yo podo wae,” celetuk Pak Yanto. “Wis tuwo-tuwone, durung duwe bojo.” (Bagas juga sama. Sudah segini umurnya, belum punya istri.)

Bagas mengangkat alis. “Tenang, Pak. Aku nunggu Mbak Minah wae.” (Tenang, Pak. Aku nunggu Mbak Minah saja.)

Beberapa orang tertawa lagi.

Lalu… hening sepersekian detik.

Pak Yanto berhenti meniup kopinya. Pak Rawi melirik sebentar. Ada yang berdehem.

Bagas baru sadar mulutnya kelewatan. “Heh… maksudku jamune,” tambahnya cepat. (Jamunya.)

Tawa muncul lagi, tapi tidak sekeras tadi.

Fauzan menunduk, menyuap mie pertama. Rasanya hambar.

“Ngomong-ngomong jamu,” kata Pak Rawi. “Mbak Minah kuwi ra katon meneh yo?” (Ngomong-ngomong jamu, Mbak Minah itu nggak kelihatan lagi ya?)

“Iyo,” sahut yang lain. “Biasane sore liwat Blok C.”

“Wis meh seminggu yo?” tambah Pak Yanto.

“Iyo,” Bagas mengangguk. “Awakku iki pegel terus, biasane ditambani jamune.”

Fauzan mengunyah pelan. Tenggorokannya terasa kering.

Tanpa sadar, ia nyeletuk, “Lah… tadi aku ketemu loh.”

Sendok berhenti. Air panas berhenti dituang. Beberapa kepala menoleh.

“Ketemu?” Pak Rawi mengerutkan dahi. “Ketemu neng endi?” (Ketemu di mana?)

“Neng pondasi Blok C,” jawab Fauzan cepat. “Tadi pas lembur.”

“Serius?” Bagas refleks menoleh. “Ketemu Mbak Minah?”

Fauzan mengangguk. “Iyo.” (Iya.)

Ruangan sunyi beberapa detik.

“Apa iya?” seseorang berbisik.

“Jam segitu?” Pak Yanto ragu. “Mbengi-mbengi?”

Fauzan baru sadar. Ia berhenti mengunyah. Kata-katanya terlanjur keluar.

“Iyo… tapi…” Fauzan menggaruk tengkuk. “Mungkin aku salah lihat.” “Capek.”

“Paling halu,” celetuk Pak Rawi, mencoba menertawakan. “Lembur iku iso nggawe wong ndelok sing ora ono.” (Lembur bisa bikin orang lihat yang nggak ada.)

Tawa kecil muncul lagi. Dipaksakan.

Fauzan mengangguk cepat. “Iyo. Halu.” “Iki mataku wis ra fokus.” (Iya. Halusinasi. Mataku sudah nggak fokus.)

Bagas menepuk punggungnya. “Makanya mangan sing akeh.”

Fauzan mengangguk, tapi matanya tanpa sengaja melirik sudut dapur.

Bang Boneng duduk di sana.

Sendirian.

Ia tidak ikut makan mie. Tidak pegang kopi. Duduk bersila, punggung menyandar tembok, rokok mati di sela jari.

Tatapannya lurus ke Fauzan.

Tidak berkedip.

Fauzan tercekat.

Tatapan itu bukan heran. Bukan takut. Tapi… tahu.

Fauzan memalingkan wajah, pura-pura meniup mie. Sendoknya bergetar sedikit.

“Bang Boneng kok meneng wae?” celetuk seseorang.

Bang Boneng baru bergerak. Ia menarik napas dalam, lalu berdiri perlahan. Tatapannya lepas dari Fauzan.

“Wis bengi,” katanya pendek. (Sudah malam.)

Ia melangkah keluar dapur tanpa senyum, tanpa tambahan apa pun.

Pintu dapur tertutup.

Suasana kembali ramai, tapi Fauzan sudah kehilangan selera makan.

Beberapa menit kemudian, satu per satu pekerja kembali ke kamar. Lampu dapur dimatikan.

Fauzan dan Bagas kembali ke ruang tengah mess.

“Kowe tenan ora opo-opo, Zan?” tanya Bagas pelan. (Kamu benar-benar nggak apa-apa?)

Fauzan mengangguk cepat. “Ora opo-opo.” “Nek aku wes turu, rampung.” (Nggak apa-apa. Kalau aku sudah tidur, beres.)

Bagas mengangguk, lalu merebahkan diri di kasur lipat.

Lampu ruang tengah dimatikan. Hanya lampu teras yang menyala.

Fauzan memejamkan mata.

Beberapa detik.

Bau pahit menyusup.

Ia membuka mata.

Di meja ruang tengah, botol jamu itu berdiri lagi.

Lebih dekat dari tadi malam.

Fauzan menahan napas.

Dari arah dapur, suara pelan terdengar, nyaris berbisik.

“Mas… jamune dingin.”

Fauzan menutup mata sekuat tenaga. Tapi Suara itu malah berbisik seolah tepat di telinga.

“Jamu, Mas?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • JAMU, MAS?   BAB 112 — RAHASIA MINAH

    BAB 112 — RAHASIA MINAHPagi itu, Pak Joko kembali membuka arsip lama perusahaan.Map merah yang dibawa seseorang pada malam Minah menghilang masih menjadi tanda tanya. Mereka belum tahu siapa pemiliknya, apalagi apa isi dokumen di dalamnya.Namun, Pak Joko memiliki dugaan bahwa map tersebut berkaitan dengan perubahan laporan material Blok C.“Kalau benar ada dokumen yang dibawa malam itu, kemungkinan salinannya pernah dibuat,” katanya.Fauzan duduk di hadapannya.“Berarti kita harus mencari salinan yang disimpan Minah?”“Bisa jadi. Minah mungkin tidak sepenuhnya percaya kepada orang-orang di perusahaan. Kalau dia berniat melapor, tentu dia membutuhkan bukti.”Bagas membuka kembali catatan penyelidikan.“Pak, sebelumnya kita menemukan laporan material yang jumlahnya berbeda. Ada pekerjaan malam yang tidak tercatat, lalu beberapa tanda terima juga hilang.”Pak Joko mengangguk.“Itulah

  • JAMU, MAS?    BAB 111 — MALAM YANG SEBENARNYA

    BAB 111 — MALAM YANG SEBENARNYANama Raka membuat penyelidikan kembali berubah arah.Menurut catatan perusahaan, orang tersebut sudah meninggal beberapa tahun sebelum Minah menghilang. Namun, Boneng mengingat bahwa Minah menyebut nama itu pada malam terakhirnya.Pak Joko belum ingin mengambil kesimpulan.Ia meminta anggotanya memeriksa identitas Raka, termasuk riwayat pekerjaannya di perusahaan dan hubungannya dengan proyek C-12.Sementara itu, Fauzan dan Bagas kembali mengumpulkan keterangan dari beberapa mantan pekerja.Mereka ingin menyusun ulang kejadian malam itu.Bukan hanya berdasarkan dugaan, tetapi dari kesaksian orang-orang yang pernah berada di sekitar lokasi.Pertemuan pertama dilakukan dengan Pak Samin dan Pak Harun.Keduanya datang ke kantor setelah menerima panggilan dari Pak Joko.Pak Joko meletakkan beberapa salinan dokumen di atas meja.“Kami sedang menyusun kembali

  • JAMU, MAS?    BAB 110 — PERTEMUAN TERAKHIR

    BAB 110 — PERTEMUAN TERAKHIRAlamat yang ditemukan di dasar bakul Minah menjadi petunjuk baru bagi penyelidikan.Pak Joko tidak ingin terburu-buru mendatangi tempat tersebut tanpa memeriksa kebenarannya. Ia meminta anggotanya menelusuri alamat dan mencari tahu apakah lokasi itu pernah memiliki hubungan dengan proyek C-12.Dua hari kemudian, hasil pemeriksaan mulai terlihat.Alamat tersebut ternyata merujuk pada sebuah bangunan lama di pinggir kota. Dahulu, tempat itu pernah digunakan sebagai kantor sementara untuk pertemuan pihak pengembang dan beberapa orang yang menangani proyek.“Jadi, tempat itu memang berhubungan dengan perusahaan?” tanya Fauzan.Pak Joko mengangguk.“Menurut catatan lama, bangunan itu pernah disewa selama beberapa tahun. Setelah proyek selesai, tempatnya tidak lagi digunakan.”Bagas memperhatikan foto bangunan yang ditunjukkan Pak Joko.“Apakah Rudi Hartawan pernah datang ke sana

  • JAMU, MAS?    BAB 109 — BAKUL YANG TERTINGGAL

    BAB 109 — BAKUL YANG TERTINGGALPengakuan Suryono membuka satu bagian baru dalam penyelidikan.Minah masih hidup ketika mandor itu meninggalkan Blok C. Namun, ada seseorang yang tetap bersamanya.Sayangnya, Suryono belum berani menyebut nama orang tersebut.Pak Joko meminta keterangan itu diperiksa lebih lanjut. Ia juga memerintahkan anggotanya mencari bukti lain yang bisa memastikan keberadaan Minah pada malam terakhirnya.Fauzan masih memikirkan satu hal.Bakul jamu.Selama ini, mereka mengetahui Minah membawa bakul ketika berjualan. Namun, setelah ia menghilang, tidak ada yang bisa memastikan ke mana barang itu pergi.“Pak, bagaimana dengan bakul Minah?” tanya Fauzan ketika mereka kembali ke kantor penyelidikan.Pak Joko mengangkat wajah.“Ada apa dengan bakul itu?”“Kalau Minah masih membawa bakul malam itu, seharusnya ada yang tahu ke mana barang tersebut dibawa.”Bagas mengangguk.“Benar. Kita sudah memeriksa beberapa lokasi, tetapi belum pernah menelusuri keberadaan bakulnya s

  • JAMU, MAS?    BAB 108 — PENGAKUAN SURYONO

    BAB 108 — PENGAKUAN SURYONOHilangnya Dimas Pratama membuat penyelidikan semakin rumit.Pak Joko telah meminta anggotanya mencari keberadaan mantan staf administrasi itu. Ponsel dan dokumen yang tertinggal di rumahnya juga sedang diperiksa.Namun, ada satu orang yang menurut Pak Joko perlu segera dimintai keterangan.Mandor Suryono.Selama ini, Suryono selalu menghindar setiap kali pembicaraan mengarah pada malam hilangnya Minah. Ia tahu sesuatu, tetapi tidak pernah menceritakannya secara utuh.Pagi itu, Pak Joko akhirnya memanggilnya ke kantor.Fauzan dan Bagas sudah berada di sana ketika Suryono datang.Wajah mandor itu terlihat lelah. Ia duduk di hadapan Pak Joko tanpa banyak bicara.“Sudah berapa lama Bapak menyimpan sesuatu tentang malam itu?” tanya Pak Joko.Suryono menunduk.“Saya tidak tahu harus mulai dari mana.”“Mulailah dari apa yang Bapak lihat dan dengar.”Suryono mengusap wajahnya.“Saya memang datang ke Blok C malam itu.”Fauzan langsung menatapnya.“Bapak datang sete

  • JAMU, MAS?   BAB 107 — Sepatu dari Kantor

    BAB 107 — Sepatu dari KantorKeterangan Pak Harun membuat Pak Joko kembali membuka arsip lama proyek C-12.Selama ini, mereka lebih banyak memeriksa daftar pekerja lapangan. Padahal, orang yang membawa bakul Minah mungkin bukan pekerja biasa.Seragam proyek yang dikenakannya bisa saja hanya penyamaran.“Kalau orang itu bukan pekerja lapangan, kita harus memeriksa siapa saja yang memiliki akses ke lokasi malam itu,” kata Pak Joko.Fauzan memperhatikan beberapa lembar daftar kehadiran yang tergeletak di meja.“Termasuk bagian administrasi?”“Benar. Terutama orang-orang yang tidak memiliki jadwal kerja malam, tetapi tetap datang ke proyek.”Bagas menunjuk salah satu dokumen.“Bagaimana dengan Rudi Hartawan?”“Namanya sudah masuk dalam daftar pemeriksaan. Tapi saya ingin mencari tahu siapa saja yang berhubungan langsung dengannya.”Pak Joko mengambil telepon dan menghubungi bagian personal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status