Share

72. Tekad

Author: HaniHadi_LTF
last update publish date: 2026-09-04 23:07:59

“Kayaknya kalian sudah jadian ya?”

Langkah Linggar yang semula hendak memasuki kamar mendadak terhenti. Suara Bu Ratih terdengar jelas dari depan kamar yang pintunya belum tertutup sempurna.

Linggar menahan napas. Ia tidak berniat menguping. Namun saat ia merasa dilibatkan, kakinya seolah tertanam.

“Ngaku saja kalau kamu kalah, jadi.... perkebunan itu nggak jadi milikmu seluruhnya nanti.”

Linggar menundukkan wajah. Ada jeda sebelum suara Ilalang terdengar.

“Nggak seperti yang Nenek pikirkan.”

B
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • JANDA ISTIMEWA TERJEBAK PERNIKAHAN KEDUA   72. Tekad

    “Kayaknya kalian sudah jadian ya?”Langkah Linggar yang semula hendak memasuki kamar mendadak terhenti. Suara Bu Ratih terdengar jelas dari depan kamar yang pintunya belum tertutup sempurna.Linggar menahan napas. Ia tidak berniat menguping. Namun saat ia merasa dilibatkan, kakinya seolah tertanam.“Ngaku saja kalau kamu kalah, jadi.... perkebunan itu nggak jadi milikmu seluruhnya nanti.”Linggar menundukkan wajah. Ada jeda sebelum suara Ilalang terdengar.“Nggak seperti yang Nenek pikirkan.”Bu Ratih tertawa kecil.“Lalu seperti apa?”“Aku sungguh nggak menyentuh dia.”Linggar membeku. Jemarinya mencengkeram ujung tas.“Tapi kamu mencintainya kan?” tanya Bu Ratih lagi.Hening.Linggar menahan napas. Beberapa detik kemudian, suara Ilalang terdengar.“Enggak, Nek.”Dada Linggar terasa sesak.“Aku masih memegang apa yang aku katakan sebelum menerima tantangan Nenek untuk menikah dengannya.”Suara Bu Ratih tak lagi terdengar bercanda."Yakin kamu nggak jatuh cinta padanya?”“Tidak.”Satu

  • JANDA ISTIMEWA TERJEBAK PERNIKAHAN KEDUA   71. Salin menguntungkan

    Lelaki itu terdiam cukup lama.Tatapannya jatuh menuju wajah Linggar. Tidak ada jawaban yang segera keluar.Keheningan justru membuat dada Linggar semakin sesak.Ia menunggu. Namun Ilalang masih diam. Sampai beberapa lama kemudian lelaki itu bicara... “Apa kamu lupa syarat yang kamu ajukan saat kita menikah?”Linggar mengerutkan kening.“Syarat?”“Aku tidak boleh menyentuhmu, kan?”Pertanyaan itu membuat Linggar terdiam.Ingatan tentang awal pernikahan mereka kembali memenuhi kepalanya.Saat itu ia memang meminta batas yang jelas. Ia tidak ingin Ilalang mendekat terlalu jauh. Ia bahkan takut lelaki itu menganggap pernikahan mereka sebagai alasan untuk mendapatkan hak atas dirinya.Linggar menunduk.“Aku ingat.”“Aku juga ingat.”Suara Ilalang terdengar semakin berat.“Aku pikir semua itu karena waktu itu kamu masih baru ditinggal suamimu.”Linggar mengangkat wajah.Ilalang berdiri tegak, tetapi sorot matanya membuat Linggar sulit bernapas.“Ternyata kamu lebih dari itu.”“Apa maksu

  • JANDA ISTIMEWA TERJEBAK PERNIKAHAN KEDUA   69. Batas

    "Jangan tinggalin aku di saat aku menginginkanmu kayak gini." Linggar dengan gamis yang sudah berantakan, sampai memegangi celana Ilalang....satu-satunya pakaian yang masih melekat di tubuh lelaki itu. Jas, dasi, kemeja, sudah berserakan di mana-mana, bercampur dengan hijab Linggar,Ilalang menahan tangan Linggar agar tak ikut masuk. "Kalau kamu sadar, kamu akan nyesel. Selama ini kamu kadang masih takut jika aku melampui batas.""Sekarang aku nggak takut lagi karena kamu membuatku merasa nyaman."Ilalang menelan saliva, terlebih melihat kulit mulus Linggar yang terekspos di baju berantakannya. Ia menghela nafas. "Lepaskan aku, Linggar! Aku mau mandi." Ilalang segera menutup kamar mandi. "Lho, kok mandi? Aku bisa memberikan apa yang kamu mau." Linggar masih menggedor pintu kamar mandi. "Ayo keluar, Mas. ""Diam, linggar! Jangan memancing aku. Aku bisa kelewatan batas lagi. "Linggar hanya berdiri tepat di pintu kamar mandi. Suara air terdengar beberapa saat kemudian.Linggar teta

  • JANDA ISTIMEWA TERJEBAK PERNIKAHAN KEDUA   68. Kesadaran yang menipis

    Samar, Linggar melihat tatapan Ilalang langsung tertuju kepadanya. Di belakangnya Pak Budi juga datang. Pria itu melangkah cepat mendekatinya. "Ada apa?""Sepertinya Linggar pusing, Pak." Dina dengan takut bicara. "Kamu minum?" Linggar tidak menjawab pertanyaan Ilalang. Ia hanya menatap gelas di depannya hingga arah pandang itu diikuti Ilalang. "Pak Budi, Linggar sepertinya mabuk. Tolong antar Dina pulang."Dina menatap Ilalang."Tapi, bagaimana dengan Linggar?""Ikut Pak Budi saja. Aku yang urus."Nada suara Ilalang membuat Dina berhenti.Pak Budi segera berdiri.Dina masih memandang keduanya.Linggar dapat merasakan tubuhnya semakin lemas. Ia bahkan tidak mampu memahami percakapan yang berlangsung."Pak, saya bisa menemani...." Dina masih menawar. "Tidak perlu."Ilalang membungkuk.Sebelum Linggar sempat memahami apa yang dilakukan lelaki itu, kedua lengannya sudah mengangkat tubuhnya."Mas..."Linggar refleks memegang bahu Ilalang.Dina terdiam. Tatapan perempuan itu berpinda

  • JANDA ISTIMEWA TERJEBAK PERNIKAHAN KEDUA   67. Pertayaan Dina

    Semua kepala langsung menoleh.Linggar baru menyadari bahwa kalimat itu keluar begitu saja dari mulutnya setelah melihat kebingungan Ilalang.Ruangan mendadak hening.Ilalang menatapnya dengan tatapan yang sulit Linggar namai. Tak percaya, atau mungkin mengejek seperti yang sering pria itu lakukan.Namun ia tak lagi perduli.Linggar segera berdiri sambil memegang berkas yang tadi ia rapikan. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat karena semua orang kini memperhatikannya."Saya busa menjadi penerjemah bahasa Mandarin," lanjut Linggar.Ilalang masih menatapnya."Linggar, kamu bisa bahasa Mandarin? Yakin?" Senyum sinis seperti biasa sudah diduga Linggar akan terukir di wajah lelaki itu.Linggar mengangguk."Saya bisa kalau Anda memberi saya kesempatan."Seseorang dari tim pemasaran tampak terkejut."Ini nggak main-main Mbak Linggar.""Saya tahu pendidikan saya rendah. Saya bisa bahasa ini bukan dari pendidikan, tapi dari pengalaman hidup saya."Semua tertawa mengejek. Sementara Ilalang

  • JANDA ISTIMEWA TERJEBAK PERNIKAHAN KEDUA   67. Bisa

    Pertanyaan Linggar membuat suasana kamar mendadak hening.Ilalang menatap Lintang, lalu mengalihkan pandangan kepada Bu Ratih yang baru saja muncul dari balik pintu. Perempuan tua itu justru tersenyum lebar melihat Lintang sudah bangun dengan wajah segar.“Alhamdulillah, cucu Buyut sudah sehat.”Bu Ratih segera mendekati Lintang dan mengusap rambut keritingnya.“Karena sudah sehat... kalau gitu, besok tidur sama Buyut, ya.”Lintang mengangguk cepat.“Biar aku dapat adik baru?”Linggar hampir tersedak mendengar pertanyaan itu kembali. Ia tak enak hati pada Bu Ratih.“Lintang!”Ternyata Bu Ratih malah terkekeh.“Iya, benar.”Lintang tersenyum lebar.“Biar Buyut menang, kan?”Bu Ratih mengangguk sambil melirik Ilalang.“Iya.”Linggar mengerutkan kening. Ia memandang Bu Ratih, kemudian beralih kepada Ilalang. Lelaki itu justru membuang muka sambil menggaruk tengkuknya.Linggar menyipitkan mata.“Terus siapa yang kalah kalau nenek yang menang?”Ilalang dan Bu Ratih saling berpandangan. Han

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status