ANMELDENUsai turun dari mobil, Shanum belum juga bisa bernapas lega. Michael berdiri di sampingnya dengan aura otoritas yang begitu pekat. Pria itu bersikap biasa saja, seolah tak ada satu pun kekacauan yang terjadi di kabin tadi.
Saat berjalan bersama, Michael menoleh pada Shanum, bertanya, “Kamu tahu Mr. Cho asli Tiongkok?” Shanum tersentak kecil. Ia pikir, Michael akan diam sepanjang jalan mengingat kejadian memalukan tadi. Namun tidak, pria itu justru menanyainya, mengurai suasana yang agak kaku tadi. Shanum, yang semula fokus pada jalan, kini mendongak demi menatap sang atasan. “Tahu, Pak.” Bahkan tanpa menoleh, Michael melempar instruksi pada Shanum. “Karena kamu bisa berbahasa Mandarin, saya mau kamu jelaskan presentasinya pakai bahasa Mandarin agar dia tidak perlu lagi menunggu penerjemah. Pastikan setiap detail tersampaikan dengan sempurna. Saya tidak mau ada kesalahan.” Meski agak gugup, namun Shanum tampak mengerti, dia tersenyum simpul sebelum akhirnya mengangguk tipis. “Saya mengerti, Pak.” . . Usai Shanum menyelesaikan presentasinya, Mr. Cho mengangguk puas. Pria itu ingin meninjau proyek. Shanum sempat shock dengan permintaan site visit mendadak dari Mr. Cho lantaran kali ini ia mengenakan stiletto dengan hak setinggi 7 cm. Namun, ia mengabaikan itu, segera menerjemahkan maksud tersebut pada Michael. Dari sudut matanya, ia melihat Michael hanya mengangguk singkat. “Tentu, Mr. Cho. Mari kita cek bersama-sama,” jawab Michael tegas. Peninjauan proyek selama 30 menit itu cukup lancar, meski langkah Shanum sedikit tersendat. Stiletto yang ia kenakan terus tersangkut di antara bebatuan dan tanah tidak rata, membuat tumitnya berdenyut nyeri. Bahkan, Shanum harus berjuang keras menjaga keseimbangan agar tidak terjatuh di depan Michael, lalu membuat pria itu murka untuk kedua kalinya. Setelah puas meninjau lokasi proyek yang akan mereka kembangkan bersama, Mr. Cho dan Michael menuju ke tempat parkir. Begitu mobil Mr. Cho menghilang di balik gerbang, Michael langsung berbalik menuju mobil tanpa sepatah kata pun. Shanum pun bergegas menyamai langkah lebar pria itu, meski setiap pijakan di atas kerikil tajam membuat tumitnya menjerit nyeri. Ia pun sempat menggerutu dalam hati saat bersisian dengan Michael, “Bisa gak sih dia jalan pelan sedikit? Gak tahu kakiku sakit apa?” Tepat saat mereka melewati gundukan tanah yang tidak rata, hak stiletto Shanum tergelincir masuk ke celah batu. Tubuhnya oleng seketika. Sebelum Shanum benar-benar jatuh memalukan ke tanah merah, sebuah tangan kokoh menyambar lengannya, sementara tangan lainnya menahan pinggangnya dengan kuat. “Argh!” Shanum tersentak, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari dada Michael. Dalam posisi sedekat itu, aroma parfum maskulin langsung memenuhi indranya. Michael tidak segera melepaskannya, namun ia juga tidak memberikan kehangatan. Ia hanya menatap datar kaki Shanum sebelum kembali menatap mata sekretarisnya itu dengan sorot tajam. “Lain kali, bawa sepatu cadangan supaya tidak menyusahkan!” Shanum mengangguk lemah begitu pelukan Michael mengendur. “Baik, Pak. Maaf atas kecerobohan saya.” “Hm.” Pria itu tak menanggapi lebih jauh. Ia hanya berjalan menuju kendaraan yang terparkir tak jauh dari tempat Shanum jatuh tadi. Begitu dibukakan pintu mobil oleh sopirnya, ia duduk. Tak berselang lama, Shanum pun menyusul masuk ke dalam mobil dengan langkah yang masih sedikit kaku. Setelah kendaraan mereka melaju cukup jauh meninggalkan debu lokasi proyek, Shanum mencoba mencuri pandang ke arah samping, memastikan suasana hati Michael tidak terlalu buruk sebelum ia menyampaikan agenda selanjutnya. “Hari ini, ada agenda meeting dengan Mr. Sawyer, Pak. Tapi, asisten beliau mengabarkan melalui pesan satu jam lalu kalau meeting minta diundur malam hari. Apa tidak masalah, Pak?” “Tidak masalah,” sahut Michael pendek. Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kulit yang empuk dengan pose santai, membiarkan tubuhnya rileks tanpa sedikit pun menoleh ke arah Shanum. “Baik. Kalau begitu, saya akan konfirmasikan kembali pada asisten beliau,” ucap Shanum seraya segera mengetik balasan melalui e-mail. Namun, setelah mendapatkan balasan terbaru, Shanum tertegun sejenak. Ia menatap wajah Michael dengan sorot mata resah. “Pak, maaf ... lokasi meeting yang dikatakan asisten beliau berubah lagi. Beliau meminta meeting-nya dipindah ke Hans Bar.” Michael terkejut, “Hans Bar?”“Sekarang, aku paham mengapa Allah mempertemukan kita, Shine. Itu karena... kita memang sudah ditakdirkan bersama, bahkan sejak kita belum dilahirkan.”Shanum mendongak, menatap lekat manik mata suaminya yang berkilat di bawah cahaya lampu kristal. “Dan apa kau bersyukur karena itu?” tanyanya dengan senyum tipis yang menggoda.“Tentu saja. Aku sangat bersyukur karena sekarang kamu resmi menjadi istriku. Kita akan bersama selamanya,” jawab Michael mantap.Seolah tak lagi memedulikan ribuan pasang mata yang memerhatikan mereka, Michael langsung menangkup wajah Shanum dengan kedua tangannya. Di atas lantai dansa yang megah itu, ia mendaratkan ciuman dalam yang penuh perasaan, menyalurkan seluruh emosi yang sempat tertahan sejak pagi tadi.Disaksikan oleh seluruh tamu undangan di tengah dekorasi biru muda yang magis, Michael tak ragu lagi menghujani istrinya dengan kecupan-kecupan hangat, merayakan kemenangan cinta mereka yang kini telah sah Kilat lampu blitz menyambar bertubi-tubi, men
“Memberi cucu untuk Mama?” Shanum mengulang kalimat itu. Dia lantas tersenyum simpul ke arah Michael yang juga tersenyum malu-malu.Michael maka mendekati mamanya dan membisikkan sesuatu, pelan sekali, “Tentu saja kami akan memberikannya. Bukankah sejak dulu, kami sudah membuatnya? Jadi, potensi Mama memiliki cucu tahun depan akan terlaksana.”Lucy tersenyum bahagia mendengarkan itu. Kini, ia peluk anak dan menantunya itu dengan penuh kasih. “Ya sudah kalau begitu. Berbahagialah kalian berdua.”Usai pelukan itu terlepas, Shanum dan Michael mengambil tempat duduk di samping Damar, ayahnya Shanum.Tak lama berselang, penghulu pun tiba. Setelah mengecek kelengkapan berkas-berkas pernikahan dan memastikan tak ada yang salah, barulah penghulu itu memulai acara dengan cara menjabat tangan Michael dan mengucapkan ikrar ijab kabul.Dan dalam satu tarikan napas, Michael akhirnya mampu melakukannya. Lancar, dan tanpa hambatan. Begitu para saksi berkata ‘Sah’, ia menangis lantaran haru. Usai p
“Mempelai wanita sudah siap, Tuan. Anda harus segera turun.”Suara ketukan di pintu itu memecah keheningan di dalam ruang ganti. Pukul 07.45, Michael sudah berdiri tegak di depan cermin besar. Ia tampil berbeda dengan setelan baju kurung putih lengkap dengan kopyah berwarna senada. Biasanya, ia lebih akrab dengan potongan jas atau tuksedo yang kaku, namun pagi ini, kesederhanaan pakaian tradisional itu justru membuatnya tampak jauh lebih tenang sekaligus berwibawa.Ia tersenyum tipis pada bayangannya sendiri, sembari sesekali membetulkan posisi kopyah yang sebenarnya sudah pas. Jemarinya sedikit bergetar saat ia mencoba mengatur napas yang mulai pendek. Tidak ada persiapan yang berlebihan, fokusnya hanya satu: kalimat ijab kabul nanti harus tuntas dalam satu tarikan napas.“Saya terima nikahnya Shanum ….”Kalimat itu terus ia tancapkan dalam memori, mengulanginya berulang kali di dalam hati. Ada ketakutan konyol yang membayangi. Jika ia sampai salah berucap ijab kabul sebanyak tiga
“Bajingan kamu, Mike! Mikeeee! Lepaskan aku! Lepaskan!”Di dalam jet pribadi, Felice diikat kencang oleh bawahan Michael. Ia meronta berulang kali meminta dilepaskan. Bahkan saat Michael mendekat, ia meludahi pria itu hingga membuatnya marah.Telapak tangan kanannya kemudian bergerak mencapit dagu wanita itu. “Kamu menyebutku bajingan, tetapi kamu sendiri brengsek, Sialan. Kalau kamu tidak membuatku marah—mengadu dombaku dengan Shanum, mungkin aku tidak akan begini.”Sebelum Felice meludahinya lagi, ia menambahkan, “Sekarang, kamu tahu kemarahanku, ‘kan? Aku bukan pria yang bisa kamu singgung, Felice. Sudahi kegilaanmu itu!”Michael segera mengempaskan wajah Felice. Dengan napas terengah, ia bersiap pergi dari kabin itu. Tapi, langkahnya melambat ketika ia mendengar rintihan wanita itu yang menyayat hati.“Bagaimana aku bisa menyudahi kegilaanku, sementara sejak dulu aku sangat-sangat menginginkanmu,” katanya getir. Felice kembali terisak dan dia berteriak-teriak, “Bahkan, kita sejak
“Apa itu tidak akan mengganggu bayi kita?” tanya Michael dengan nada yang benar-benar khawatir. Ia kemudian menyentuh perut Shanum dengan telapak tangannya, lembut sekali. Takut kalau gerakannya akan membuat bayinya terkejut.“Hah?” Shanum sempat melongo selama beberapa detik, namun sedetik kemudian tawanya pecah. Ia tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Michael yang tampak sangat polos dan tulus mengkhawatirkan hal itu. Saking gelinya, ia sampai merebahkan diri di atas ranjang dan menatap langit-langit kamar. Tak lupa, ia juga sambil memegangi perutnya yang kaku karena tertawa.Michael sama sekali tidak ikut tertawa. Ia justru menegakkan punggungnya dan menatap Shanum dengan serius. “Apanya yang lucu? Bukannya itu larangan dokter, ya? Tidak boleh berhubungan saat kandungan masih muda. Jadi untuk beberapa bulan ke depan, aku akan menyimpan hasratku. Dan kumohon, jangan memancingku, Shine.”Mendengar permintaan serius itu, Shanum perla
“Bagaimana? Sanggup atau tidak? Kalau tidak, silakan keluar dan carilah istri baru.”Michael terpaku, lidahnya mendadak kelu. Ia terjebak dalam keheningan yang menyesakkan.Di dalam benaknya, gejolak batin sedang bertarung hebat. Tentu saja, ia sudah bersumpah dalam hati untuk menjaga Shanum seumur hidupnya. Ia tidak akan lagi membiarkan tangannya bertindak kasar atau hatinya berpaling.Namun, syarat yang diajukan Damar terasa seperti jerat yang mustahil. Bagaimana mungkin ia bisa menjamin Shanum tidak akan pernah menangis? Hidup tidak pernah selembut itu. Tangis bisa terjadi karena rindu, karena duka kehilangan, atau bahkan karena perselisihan kecil yang lumrah dalam sebuah pernikahan.Michael tahu, satu tetes air mata Shanum yang jatuh karena kesalahannya dan sekecil apa pun itu bisa berarti maut jika ia mengiyakan sumpah berdarah sang calon mertua.“Tuan Damar ....” Michael memulai dengan suara serak, mencoba mencar







