Home / Romansa / JANGAN NAKAL, TUAN CEO! / 6. Jangan Menyusahkan!

Share

6. Jangan Menyusahkan!

Author: OTHOR CENTIL
last update Last Updated: 2026-01-20 17:06:00

Usai turun dari mobil, Shanum belum juga bisa bernapas lega. Michael berdiri di sampingnya dengan aura otoritas yang begitu pekat. Pria itu bersikap biasa saja, seolah tak ada satu pun kekacauan yang terjadi di kabin tadi.

Saat berjalan bersama, Michael menoleh pada Shanum, bertanya, “Kamu tahu Mr. Cho asli Tiongkok?”

Shanum tersentak kecil. Ia pikir, Michael akan diam sepanjang jalan mengingat kejadian memalukan tadi. Namun tidak, pria itu justru menanyainya, mengurai suasana yang agak kaku tadi.

Shanum, yang semula fokus pada jalan, kini mendongak demi menatap sang atasan. “Tahu, Pak.”

Bahkan tanpa menoleh, Michael melempar instruksi pada Shanum. “Karena kamu bisa berbahasa Mandarin, saya mau kamu jelaskan presentasinya pakai bahasa Mandarin agar dia tidak perlu lagi menunggu penerjemah. Pastikan setiap detail tersampaikan dengan sempurna. Saya tidak mau ada kesalahan.”

Meski agak gugup, namun Shanum tampak mengerti, dia tersenyum simpul sebelum akhirnya mengangguk tipis. “Saya mengerti, Pak.”

.

.

Usai Shanum menyelesaikan presentasinya, Mr. Cho mengangguk puas. Pria itu ingin meninjau proyek.

Shanum sempat shock dengan permintaan site visit mendadak dari Mr. Cho lantaran kali ini ia mengenakan stiletto dengan hak setinggi 7 cm.

Namun, ia mengabaikan itu, segera menerjemahkan maksud tersebut pada Michael. Dari sudut matanya, ia melihat Michael hanya mengangguk singkat.

“Tentu, Mr. Cho. Mari kita cek bersama-sama,” jawab Michael tegas.

Peninjauan proyek selama 30 menit itu cukup lancar, meski langkah Shanum sedikit tersendat.

Stiletto yang ia kenakan terus tersangkut di antara bebatuan dan tanah tidak rata, membuat tumitnya berdenyut nyeri.

Bahkan, Shanum harus berjuang keras menjaga keseimbangan agar tidak terjatuh di depan Michael, lalu membuat pria itu murka untuk kedua kalinya.

Setelah puas meninjau lokasi proyek yang akan mereka kembangkan bersama, Mr. Cho dan Michael menuju ke tempat parkir.

Begitu mobil Mr. Cho menghilang di balik gerbang, Michael langsung berbalik menuju mobil tanpa sepatah kata pun.

Shanum pun bergegas menyamai langkah lebar pria itu, meski setiap pijakan di atas kerikil tajam membuat tumitnya menjerit nyeri. Ia pun sempat menggerutu dalam hati saat bersisian dengan Michael, “Bisa gak sih dia jalan pelan sedikit? Gak tahu kakiku sakit apa?”

Tepat saat mereka melewati gundukan tanah yang tidak rata, hak stiletto Shanum tergelincir masuk ke celah batu. Tubuhnya oleng seketika.

Sebelum Shanum benar-benar jatuh memalukan ke tanah merah, sebuah tangan kokoh menyambar lengannya, sementara tangan lainnya menahan pinggangnya dengan kuat.

“Argh!” Shanum tersentak, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari dada Michael. Dalam posisi sedekat itu, aroma parfum maskulin langsung memenuhi indranya.

Michael tidak segera melepaskannya, namun ia juga tidak memberikan kehangatan. Ia hanya menatap datar kaki Shanum sebelum kembali menatap mata sekretarisnya itu dengan sorot tajam.

“Lain kali, bawa sepatu cadangan supaya tidak menyusahkan!”

Shanum mengangguk lemah begitu pelukan Michael mengendur. “Baik, Pak. Maaf atas kecerobohan saya.”

“Hm.” Pria itu tak menanggapi lebih jauh. Ia hanya berjalan menuju kendaraan yang terparkir tak jauh dari tempat Shanum jatuh tadi. Begitu dibukakan pintu mobil oleh sopirnya, ia duduk.

Tak berselang lama, Shanum pun menyusul masuk ke dalam mobil dengan langkah yang masih sedikit kaku.

Setelah kendaraan mereka melaju cukup jauh meninggalkan debu lokasi proyek, Shanum mencoba mencuri pandang ke arah samping, memastikan suasana hati Michael tidak terlalu buruk sebelum ia menyampaikan agenda selanjutnya.

“Hari ini, ada agenda meeting dengan Mr. Sawyer, Pak. Tapi, asisten beliau mengabarkan melalui pesan satu jam lalu kalau meeting minta diundur malam hari. Apa tidak masalah, Pak?”

“Tidak masalah,” sahut Michael pendek. Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kulit yang empuk dengan pose santai, membiarkan tubuhnya rileks tanpa sedikit pun menoleh ke arah Shanum.

“Baik. Kalau begitu, saya akan konfirmasikan kembali pada asisten beliau,” ucap Shanum seraya segera mengetik balasan melalui e-mail.

Namun, setelah mendapatkan balasan terbaru, Shanum tertegun sejenak. Ia menatap wajah Michael dengan sorot mata resah. “Pak, maaf ... lokasi meeting yang dikatakan asisten beliau berubah lagi. Beliau meminta meeting-nya dipindah ke Hans Bar.”

Michael terkejut, “Hans Bar?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • JANGAN NAKAL, TUAN CEO!   9. Penyatuan Dua Raga

    “Hmmmmph.” Shanum terdengar merintih. Kedua tangannya mendekap erat raga gagah Michael yang kini mulai mendobrak pertahanannya, membuatnya blingsatan ke kiri dan ke kanan saat c*mb*an terus-menerus datang tanpa jeda.Meski setengah sadar karena terpengaruh alkohol dan obat per*ngs*ng, tapi Shanum tetap bisa merasakan ‘benda pusaka’ Michael yang hangat mulai menyeruak masuk pelan ke liangnya.Perlahan, pinggul Michael bergerak maju, melesakkan se-inchi demi se-inchi ‘barangnya’ ke dalam tubuh Shanum. “Ssssssh …,” desis Shanum, terasa sakit, namun jelas ia sangat menginginkannya.Tak hanya melenguh, Shanum juga mencakar otot bisep Michael dengan kuat, dan Michael pun tahu Shanum sedang kesakitan karenanya. Dibayangi rasa bersalah, Michael pun bertanya, “Perlu kita hentikan?”Menggeleng lemah, Shanum tersenyum malu-malu, kedua mata terlihat sayu di bawah cahaya temaram yang menyorot tubuh polos keduanya. “No! Teruskan ….”Mendapat persetujuan, Michael tentu saja Michael akan meneruska

  • JANGAN NAKAL, TUAN CEO!   8. Penyatuan Dua Raga

    “Mungkinkah Mr. Sawyer memberi obat per4ngs4ng ke dalam minumanku? Tapi, itu mustahil. Minuman itu tersegel dan gelasnya pun bersih,” tanya Shanum dalam hati. Kedua matanya menyipit, lalu kecurigaan ia tujukan pada sang bos. Masih tak yakin, Shanum kembali bertanya dalam hati, “Atau justru … Pak Michael-lah yang melakukan ini secara diam-diam tanpa sepengetahuanku— karena dia telah menyadari aku mengambil cel4na d4l4mnya dan … membawa peng4m4n ke kantor?”Saat beranjak, Shanum sedikit oleng, hendak jatuh ke samping, Michael mendekati menarik lengannya. “Apa kamu baik-baik saja?” tanya Michael sambil memegangi lengan kanan Shanum.Shanum bergeming. Telapak tangan halus Michael yang kemudian mengusap lengannya, membuat sesuatu dalam dirinya menekan hebat dan membuatnya cukup gelisah. Ia tertegun susah payah, sebelum menghela napas berat sambil beranjak dari sofa. “Maaf, tapi aku harus pulang, Pak.”Michael menyusul berdiri, masih memegangi lengan Shanum agar gadis ini tidak jatuh. “Y

  • JANGAN NAKAL, TUAN CEO!   7. Meeting Di Bar

    “Hans Bar?” Michael mengulang kata itu dengan sorot mata heran. Permintaan rekan bisnisnya— tidak wajar.Alis tebal Michael terangkat sebelah, sementara keningnya mengkerut dalam. Ia memutar kepalanya, menatap Shanum dengan intens—seolah tengah menuntut penjelasan lebih logis.“Iya, Pak. Saya tidak tahu kenapa beliau meminta meeting di sana.” Shanum menelan ludah dengan gugup. Dia pun menjelaskan, “Atau ... perlu kita batalkan saja meeting malam ini dan jadwalkan ulang besok pagi kalau Bapak tidak berkenan.”Michael tak ingin melepaskan kesempatan kerjasama ini. Maka dari itu, ia menyetujuinya saja—mengingat kalau Mario Sawyer merupakan pria yang agak ‘rewel’. “Tidak, setujui saja. Jam berapa?” tanya Michael kembali datar, seolah keberatan di wajahnya tadi menguap begitu cepat demi urusan bisnis.“Pukul delapan malam nanti, Pak.”..Pukul tujuh malam, Shanum sudah siap. Ia mengenakan blazer yang dipadukan dengan kemeja rapi dan rok pendek yang jatuh sepuluh sentimeter di atas lutut,

  • JANGAN NAKAL, TUAN CEO!   6. Jangan Menyusahkan!

    Usai turun dari mobil, Shanum belum juga bisa bernapas lega. Michael berdiri di sampingnya dengan aura otoritas yang begitu pekat. Pria itu bersikap biasa saja, seolah tak ada satu pun kekacauan yang terjadi di kabin tadi. Saat berjalan bersama, Michael menoleh pada Shanum, bertanya, “Kamu tahu Mr. Cho asli Tiongkok?”Shanum tersentak kecil. Ia pikir, Michael akan diam sepanjang jalan mengingat kejadian memalukan tadi. Namun tidak, pria itu justru menanyainya, mengurai suasana yang agak kaku tadi.Shanum, yang semula fokus pada jalan, kini mendongak demi menatap sang atasan. “Tahu, Pak.” Bahkan tanpa menoleh, Michael melempar instruksi pada Shanum. “Karena kamu bisa berbahasa Mandarin, saya mau kamu jelaskan presentasinya pakai bahasa Mandarin agar dia tidak perlu lagi menunggu penerjemah. Pastikan setiap detail tersampaikan dengan sempurna. Saya tidak mau ada kesalahan.”Meski agak gugup, namun Shanum tampak mengerti, dia tersenyum simpul sebelum akhirnya mengangguk tipis. “Saya me

  • JANGAN NAKAL, TUAN CEO!   5. Reaksi Biologis

    “H–hukuman? Hukuman apa, Pak?” Shanum menggigit bibir bawahnya, agak sanksi kalau Michael membahas ‘hukuman’ yang disebutkan tadi. Sedangkan Michael tidak menjawabnya. Ia menarik diri, membiarkan pertanyaan sekretarisnya itu menggantung di udara. Setelah duduk, ia kembali membuka laptopnya sambil berujar, “Kembalilah ke ruanganmu.” Shanum pun segera tersadar dari lamunannya. Ia berpikir, setelah melakukan kesalahan fatal tadi pagi, ia akan dihukum berat seperti pemotongan gaji, dipindah tugaskan ke cabang lain yang jauh dari rumahnya, di tempat pelosok, atau lainnya yang menurutnya buruk. Tapi, ternyata ketakutannya itu tidak terjadi. Jadi, Shanum bisa bernapas lega. Begitu ia merapikan penampilannya, ia segera berpamitan. “Kalau begitu, saya permisi, Pak.” Tidak ada sahutan, dan Shanum makin kesal karena sikap bosnya yang sangat dingin. Begitu ia keluar ruangan bosnya, ia merutuki, “Dasar kanebo kering!” Shanum berjalan cepat menuju ruangannya, mengabaikan seorang wanita cantik

  • JANGAN NAKAL, TUAN CEO!   4. Hukuman Apa, Pak?

    Di ruang meeting, Shanum benar-benar kehilangan fokus meski raga dan suaranya mencoba bertahan di depan jajaran orang-orang penting.Sebagai sekretaris, ia mengemban tanggung jawab untuk mempresentasikan Laporan Evaluasi Produk yang telah ia kerjakan satu minggu belakangan.Suaranya terdengar stabil saat menjelaskan grafik pertumbuhan pengguna, namun ia tak bisa membohongi Michael yang terlalu teliti mengamati ekspresinya.Di mata Michael, jemari Shanum begitu gemetar saat memegang laser pointer di bawah sorot lampu proyektor. Ia mengamati setiap gerak-gerik Shanum dengan tatapan datar yang sulit diartikan. Melihat sekretarisnya nyaris kehilangan napas karena ketakutan di depannya sudah memberinya kepuasan tersendiri.Dan ketika pandangan mereka bertemu, Shanum sangat gugup. Ia bahkan menghindari tatapan bos-nya yang terkunci padanya. “Dia pasti gak sabar buat pecat aku!” batin Shanum sembari terus memberikan jawaban ketika salah beberapa eksekutif bertanya padanya. Tentu ia tak mau

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status