LOGIN“Hans Bar?” Michael mengulang kata itu dengan sorot mata heran. Permintaan rekan bisnisnya— tidak wajar.
Alis tebal Michael terangkat sebelah, sementara keningnya mengkerut dalam. Ia memutar kepalanya, menatap Shanum dengan intens—seolah tengah menuntut penjelasan lebih logis. “Iya, Pak. Saya tidak tahu kenapa beliau meminta meeting di sana.” Shanum menelan ludah dengan gugup. Dia pun menjelaskan, “Atau ... perlu kita batalkan saja meeting malam ini dan jadwalkan ulang besok pagi kalau Bapak tidak berkenan.” Michael tak ingin melepaskan kesempatan kerjasama ini. Maka dari itu, ia menyetujuinya saja—mengingat kalau Mario Sawyer merupakan pria yang agak ‘rewel’. “Tidak, setujui saja. Jam berapa?” tanya Michael kembali datar, seolah keberatan di wajahnya tadi menguap begitu cepat demi urusan bisnis. “Pukul delapan malam nanti, Pak.” . . Pukul tujuh malam, Shanum sudah siap. Ia mengenakan blazer yang dipadukan dengan kemeja rapi dan rok pendek yang jatuh sepuluh sentimeter di atas lutut, memperlihatkan kakinya yang jenjang namun tetap sopan. Belajar dari kesalahan di lokasi proyek, kali ini Shanum memilih flat shoes yang nyaman untuk menopang langkahnya. Shanum berjalan keluar gedung di samping Michael— yang tetap tampak berwibawa meski gurat kelelahan mulai membayangi wajah tegasnya. Sesampainya di Hans Bar, dentuman musik dan aroma alkohol langsung menyambut mereka. Mereka berdua langsung diarahkan menuju private room, dimana Mario Sawyer telah menunggu. Satu jam setelahnya, negosiasi berjalan cukup alot lantaran Mario Sawyer ternyata adalah klien yang sangat teliti dan sulit diyakinkan. Namun, Shanum bukan tipe wanita yang langsung menyerah. Dengan suara yang tenang, Shanum memaparkan poin-poin keuntungan proyek tersebut. Sambil sesekali melemparkan senyum profesional, ia berhasil mencairkan ketegasan Mario. Pria berusia pertengahan empat puluhan itu sejak tadi memang tidak bisa melepaskan pandangannya dari Shanum. Lama kelamaan, pria itu pun setuju dengan rencana kerjasama bisnis ini. Setelah akhirnya membubuhkan tanda tangan persetujuan, Mario menyandarkan punggung, menatap Shanum dengan binar kekaguman di matanya. Shanum terkekeh pelan mendengar pujian Mr. Sawyer yang menyebutnya cerdas dan memesona. Ia pun membalas dengan bahasa Spanyol yang cukup fasih. “Terima kasih banyak atas kerjasama Anda, Mr. Sawyer.” Kegembiraan atas kesepakatan itu segera berlanjut pada selebrasi yang tidak bisa dihindari baik oleh Shanum ataupun Michael. Mario Sawyer meraih botol whisky yang sejak tadi tersaji di atas meja marmer, diapit oleh deretan gelas kristal yang berkilau di bawah cahaya lampu. “Kita harus merayakan awal kerja sama ini,” ajak Mr. Sawyer penuh semangat. Setelah asistennya menuangkan minuman itu ke dalam tiga gelas, Mr. Sawyer meletakkannya di depan Michael, “Untukmu, Michael.” “Thanks, Mr. Sawyer.” Michael meraihnya, lalu tersenyum tipis pada rekan bisnisnya. Sedangkan pandangan Mario Sawyer mengarah pada Shanum. Ia menunjuk, “Untukmu, Señorita.” Shanum tertegun, menatap gelas di hadapannya dengan bimbang. Ia sangat sadar bahwa toleransi tubuhnya terhadap alkohol sangat rendah. Tapi, ia segera meraih gelas kristal bertangkai itu dan berkata, “Terima kasih, Mr. Sawyer. Ini sebuah kehormatan.” Shanum tak langsung menyesap minuman mahal itu. Ia justru menoleh ke arah Michael, berharap bosnya itu akan memberinya celah untuk menolak. Mario mengangkat gelas, mengajak Shanum dan michael untuk bersulang. Namun saat Shanum terdiam, ia menaikkan sebelah alisnya. Shanum kikuk. Ia melirik Michael yang justru bersandar tenang di sofa kulitnya. Michael menatapnya dengan sorot mata dingin sambil mengangkat gelasnya sendiri, memberikan isyarat dagu—memerintahkan Shanum untuk segera melakukan hal yang sama. Seolah Michael tengah berkata, “Jangan mengecewakannya.” Tak punya pilihan, Shanum pun ikut mengangkat gelasnya tinggi-tinggi, mendekatkan ke gelas Michael dan Mr. Sawyer yang sudah beradu, lalu ia berkata, “Cheers.” “Cheers.” Setelah bersulang, Shanum menyesap minuman keras itu sedikit demi sedikit hingga nyaris habis. Rasa panas seketika membakar tenggorokannya, menjalar cepat ke dada, dan hanya dalam hitungan detik, ia bisa merasakan kepalanya mulai berdenyut ringan. Lama kelamaan, efek alkohol membuatnya kehilangan kendali. Shanum menopang dagunya dengan telapak tangan selagi siku tangannya bertopang di sandaran sofa. Ia memandangi Michael dengan seksama—yang masih berlanjut mengobrol dengan Mr. Sawyer seputar pekerjaan—hampir satu jam. Sembari menunggu pembahasan itu selesai, Shanum menyandarkan punggungnya ke sofa. Kepalanya agak pusing. Udara malam yang seharusnya sejuk, terasa ganjil di kulitnya. Terlalu hangat, terlalu melekat, itu membuatnya merasa tidak nyaman. Usai Mr. Sawyer pergi, telapak tangan Shanum bergerak mengusap tengkuknya sendiri perlahan-lahan, seolah sensasi merinding dan keringat dingin yang mulai sana bukan pertanda apa-apa. Kedua mata Shanum pun sedikit menyipit, menyorot Michael yang menyeruput habis sisa whisky dengan ekspresi setenang permukaan danau. Michael mengangkat kedua alisnya begitu sadar Shanum memperhatikan gelas whisky yang baru ia habiskan, lalu menyunggingkan senyum di bibirnya yang tipis dan agak mengkilap di bawah cahaya lampu temaram. “Apa kamu ingin whisky lagi?” tanya Michael sambil menumpukan sikunya ke paha. Tatapan Michael menyipit mengamati wajah Shanum yang memerah. Shanum bergeming, tak memindahkan sedetik pun tatapannya dari sang bos. Gelengan samar ia berikan pada Michael. Ia merasa ada yang tidak beres dalam dirinya. Tenggorokannya pun kering, membuatnya secara konstan menelan ludah berulang kali. Jantungnya pun ikut berdetak kencang dua kali lebih cepat dari biasanya. Dan entah mengapa, tubuhnya terasa panas, saraf intimnya menginginkan sentuhan fisik secara tidak jelas. Memang toleransi Shanum terhadap alkohol sangat rendah. Tapi kemarin, saat ia mabuk—tidak begini. Bagi Shanum, ini tidak normal lagi. Setelah beberapa saat memperhatikan wajah Michael, Shanum memicingkan mata, tersadar akan suatu hal yang ganjil menurutnya. “Mungkinkah Mr. Sawyer memasukkan obat per4ngs4ng ke dalam minumanku?”“Hmmmmph.” Shanum terdengar merintih. Kedua tangannya mendekap erat raga gagah Michael yang kini mulai mendobrak pertahanannya, membuatnya blingsatan ke kiri dan ke kanan saat c*mb*an terus-menerus datang tanpa jeda.Meski setengah sadar karena terpengaruh alkohol dan obat per*ngs*ng, tapi Shanum tetap bisa merasakan ‘benda pusaka’ Michael yang hangat mulai menyeruak masuk pelan ke liangnya.Perlahan, pinggul Michael bergerak maju, melesakkan se-inchi demi se-inchi ‘barangnya’ ke dalam tubuh Shanum. “Ssssssh …,” desis Shanum, terasa sakit, namun jelas ia sangat menginginkannya.Tak hanya melenguh, Shanum juga mencakar otot bisep Michael dengan kuat, dan Michael pun tahu Shanum sedang kesakitan karenanya. Dibayangi rasa bersalah, Michael pun bertanya, “Perlu kita hentikan?”Menggeleng lemah, Shanum tersenyum malu-malu, kedua mata terlihat sayu di bawah cahaya temaram yang menyorot tubuh polos keduanya. “No! Teruskan ….”Mendapat persetujuan, Michael tentu saja Michael akan meneruska
“Mungkinkah Mr. Sawyer memberi obat per4ngs4ng ke dalam minumanku? Tapi, itu mustahil. Minuman itu tersegel dan gelasnya pun bersih,” tanya Shanum dalam hati. Kedua matanya menyipit, lalu kecurigaan ia tujukan pada sang bos. Masih tak yakin, Shanum kembali bertanya dalam hati, “Atau justru … Pak Michael-lah yang melakukan ini secara diam-diam tanpa sepengetahuanku— karena dia telah menyadari aku mengambil cel4na d4l4mnya dan … membawa peng4m4n ke kantor?”Saat beranjak, Shanum sedikit oleng, hendak jatuh ke samping, Michael mendekati menarik lengannya. “Apa kamu baik-baik saja?” tanya Michael sambil memegangi lengan kanan Shanum.Shanum bergeming. Telapak tangan halus Michael yang kemudian mengusap lengannya, membuat sesuatu dalam dirinya menekan hebat dan membuatnya cukup gelisah. Ia tertegun susah payah, sebelum menghela napas berat sambil beranjak dari sofa. “Maaf, tapi aku harus pulang, Pak.”Michael menyusul berdiri, masih memegangi lengan Shanum agar gadis ini tidak jatuh. “Y
“Hans Bar?” Michael mengulang kata itu dengan sorot mata heran. Permintaan rekan bisnisnya— tidak wajar.Alis tebal Michael terangkat sebelah, sementara keningnya mengkerut dalam. Ia memutar kepalanya, menatap Shanum dengan intens—seolah tengah menuntut penjelasan lebih logis.“Iya, Pak. Saya tidak tahu kenapa beliau meminta meeting di sana.” Shanum menelan ludah dengan gugup. Dia pun menjelaskan, “Atau ... perlu kita batalkan saja meeting malam ini dan jadwalkan ulang besok pagi kalau Bapak tidak berkenan.”Michael tak ingin melepaskan kesempatan kerjasama ini. Maka dari itu, ia menyetujuinya saja—mengingat kalau Mario Sawyer merupakan pria yang agak ‘rewel’. “Tidak, setujui saja. Jam berapa?” tanya Michael kembali datar, seolah keberatan di wajahnya tadi menguap begitu cepat demi urusan bisnis.“Pukul delapan malam nanti, Pak.”..Pukul tujuh malam, Shanum sudah siap. Ia mengenakan blazer yang dipadukan dengan kemeja rapi dan rok pendek yang jatuh sepuluh sentimeter di atas lutut,
Usai turun dari mobil, Shanum belum juga bisa bernapas lega. Michael berdiri di sampingnya dengan aura otoritas yang begitu pekat. Pria itu bersikap biasa saja, seolah tak ada satu pun kekacauan yang terjadi di kabin tadi. Saat berjalan bersama, Michael menoleh pada Shanum, bertanya, “Kamu tahu Mr. Cho asli Tiongkok?”Shanum tersentak kecil. Ia pikir, Michael akan diam sepanjang jalan mengingat kejadian memalukan tadi. Namun tidak, pria itu justru menanyainya, mengurai suasana yang agak kaku tadi.Shanum, yang semula fokus pada jalan, kini mendongak demi menatap sang atasan. “Tahu, Pak.” Bahkan tanpa menoleh, Michael melempar instruksi pada Shanum. “Karena kamu bisa berbahasa Mandarin, saya mau kamu jelaskan presentasinya pakai bahasa Mandarin agar dia tidak perlu lagi menunggu penerjemah. Pastikan setiap detail tersampaikan dengan sempurna. Saya tidak mau ada kesalahan.”Meski agak gugup, namun Shanum tampak mengerti, dia tersenyum simpul sebelum akhirnya mengangguk tipis. “Saya me
“H–hukuman? Hukuman apa, Pak?” Shanum menggigit bibir bawahnya, agak sanksi kalau Michael membahas ‘hukuman’ yang disebutkan tadi. Sedangkan Michael tidak menjawabnya. Ia menarik diri, membiarkan pertanyaan sekretarisnya itu menggantung di udara. Setelah duduk, ia kembali membuka laptopnya sambil berujar, “Kembalilah ke ruanganmu.” Shanum pun segera tersadar dari lamunannya. Ia berpikir, setelah melakukan kesalahan fatal tadi pagi, ia akan dihukum berat seperti pemotongan gaji, dipindah tugaskan ke cabang lain yang jauh dari rumahnya, di tempat pelosok, atau lainnya yang menurutnya buruk. Tapi, ternyata ketakutannya itu tidak terjadi. Jadi, Shanum bisa bernapas lega. Begitu ia merapikan penampilannya, ia segera berpamitan. “Kalau begitu, saya permisi, Pak.” Tidak ada sahutan, dan Shanum makin kesal karena sikap bosnya yang sangat dingin. Begitu ia keluar ruangan bosnya, ia merutuki, “Dasar kanebo kering!” Shanum berjalan cepat menuju ruangannya, mengabaikan seorang wanita cantik
Di ruang meeting, Shanum benar-benar kehilangan fokus meski raga dan suaranya mencoba bertahan di depan jajaran orang-orang penting.Sebagai sekretaris, ia mengemban tanggung jawab untuk mempresentasikan Laporan Evaluasi Produk yang telah ia kerjakan satu minggu belakangan.Suaranya terdengar stabil saat menjelaskan grafik pertumbuhan pengguna, namun ia tak bisa membohongi Michael yang terlalu teliti mengamati ekspresinya.Di mata Michael, jemari Shanum begitu gemetar saat memegang laser pointer di bawah sorot lampu proyektor. Ia mengamati setiap gerak-gerik Shanum dengan tatapan datar yang sulit diartikan. Melihat sekretarisnya nyaris kehilangan napas karena ketakutan di depannya sudah memberinya kepuasan tersendiri.Dan ketika pandangan mereka bertemu, Shanum sangat gugup. Ia bahkan menghindari tatapan bos-nya yang terkunci padanya. “Dia pasti gak sabar buat pecat aku!” batin Shanum sembari terus memberikan jawaban ketika salah beberapa eksekutif bertanya padanya. Tentu ia tak mau







