Home / Romansa / JANGAN NAKAL, TUAN CEO! / 7. Meeting Di Bar

Share

7. Meeting Di Bar

Author: OTHOR CENTIL
last update Last Updated: 2026-01-20 17:12:21

“Hans Bar?” Michael mengulang kata itu dengan sorot mata heran. Permintaan rekan bisnisnya— tidak wajar.

Alis tebal Michael terangkat sebelah, sementara keningnya mengkerut dalam. Ia memutar kepalanya, menatap Shanum dengan intens—seolah tengah menuntut penjelasan lebih logis.

“Iya, Pak. Saya tidak tahu kenapa beliau meminta meeting di sana.” Shanum menelan ludah dengan gugup. Dia pun menjelaskan, “Atau ... perlu kita batalkan saja meeting malam ini dan jadwalkan ulang besok pagi kalau Bapak tidak berkenan.”

Michael tak ingin melepaskan kesempatan kerjasama ini. Maka dari itu, ia menyetujuinya saja—mengingat kalau Mario Sawyer merupakan pria yang agak ‘rewel’.

“Tidak, setujui saja. Jam berapa?” tanya Michael kembali datar, seolah keberatan di wajahnya tadi menguap begitu cepat demi urusan bisnis.

“Pukul delapan malam nanti, Pak.”

.

.

Pukul tujuh malam, Shanum sudah siap. Ia mengenakan blazer yang dipadukan dengan kemeja rapi dan rok pendek yang jatuh sepuluh sentimeter di atas lutut, memperlihatkan kakinya yang jenjang namun tetap sopan.

Belajar dari kesalahan di lokasi proyek, kali ini Shanum memilih flat shoes yang nyaman untuk menopang langkahnya.

Shanum berjalan keluar gedung di samping Michael— yang tetap tampak berwibawa meski gurat kelelahan mulai membayangi wajah tegasnya.

Sesampainya di Hans Bar, dentuman musik dan aroma alkohol langsung menyambut mereka. Mereka berdua langsung diarahkan menuju private room, dimana Mario Sawyer telah menunggu.

Satu jam setelahnya, negosiasi berjalan cukup alot lantaran Mario Sawyer ternyata adalah klien yang sangat teliti dan sulit diyakinkan. Namun, Shanum bukan tipe wanita yang langsung menyerah.

Dengan suara yang tenang, Shanum memaparkan poin-poin keuntungan proyek tersebut. Sambil sesekali melemparkan senyum profesional, ia berhasil mencairkan ketegasan Mario.

Pria berusia pertengahan empat puluhan itu sejak tadi memang tidak bisa melepaskan pandangannya dari Shanum. Lama kelamaan, pria itu pun setuju dengan rencana kerjasama bisnis ini.

Setelah akhirnya membubuhkan tanda tangan persetujuan, Mario menyandarkan punggung, menatap Shanum dengan binar kekaguman di matanya.

Shanum terkekeh pelan mendengar pujian Mr. Sawyer yang menyebutnya cerdas dan memesona. Ia pun membalas dengan bahasa Spanyol yang cukup fasih. “Terima kasih banyak atas kerjasama Anda, Mr. Sawyer.”

Kegembiraan atas kesepakatan itu segera berlanjut pada selebrasi yang tidak bisa dihindari baik oleh Shanum ataupun Michael.

Mario Sawyer meraih botol whisky yang sejak tadi tersaji di atas meja marmer, diapit oleh deretan gelas kristal yang berkilau di bawah cahaya lampu.

“Kita harus merayakan awal kerja sama ini,” ajak Mr. Sawyer penuh semangat. Setelah asistennya menuangkan minuman itu ke dalam tiga gelas, Mr. Sawyer meletakkannya di depan Michael, “Untukmu, Michael.”

“Thanks, Mr. Sawyer.” Michael meraihnya, lalu tersenyum tipis pada rekan bisnisnya.

Sedangkan pandangan Mario Sawyer mengarah pada Shanum. Ia menunjuk, “Untukmu, Señorita.”

Shanum tertegun, menatap gelas di hadapannya dengan bimbang. Ia sangat sadar bahwa toleransi tubuhnya terhadap alkohol sangat rendah. Tapi, ia segera meraih gelas kristal bertangkai itu dan berkata, “Terima kasih, Mr. Sawyer. Ini sebuah kehormatan.”

Shanum tak langsung menyesap minuman mahal itu. Ia justru menoleh ke arah Michael, berharap bosnya itu akan memberinya celah untuk menolak.

Mario mengangkat gelas, mengajak Shanum dan michael untuk bersulang. Namun saat Shanum terdiam, ia menaikkan sebelah alisnya.

Shanum kikuk. Ia melirik Michael yang justru bersandar tenang di sofa kulitnya. Michael menatapnya dengan sorot mata dingin sambil mengangkat gelasnya sendiri, memberikan isyarat dagu—memerintahkan Shanum untuk segera melakukan hal yang sama.

Seolah Michael tengah berkata,

“Jangan mengecewakannya.”

Tak punya pilihan, Shanum pun ikut mengangkat gelasnya tinggi-tinggi, mendekatkan ke gelas Michael dan Mr. Sawyer yang sudah beradu, lalu ia berkata, “Cheers.”

“Cheers.”

Setelah bersulang, Shanum menyesap minuman keras itu sedikit demi sedikit hingga nyaris habis. Rasa panas seketika membakar tenggorokannya, menjalar cepat ke dada, dan hanya dalam hitungan detik, ia bisa merasakan kepalanya mulai berdenyut ringan. Lama kelamaan, efek alkohol membuatnya kehilangan kendali.

Shanum menopang dagunya dengan telapak tangan selagi siku tangannya bertopang di sandaran sofa. Ia memandangi Michael dengan seksama—yang masih berlanjut mengobrol dengan Mr. Sawyer seputar pekerjaan—hampir satu jam.

Sembari menunggu pembahasan itu selesai, Shanum menyandarkan punggungnya ke sofa. Kepalanya agak pusing. Udara malam yang seharusnya sejuk, terasa ganjil di kulitnya. Terlalu hangat, terlalu melekat, itu membuatnya merasa tidak nyaman.

Usai Mr. Sawyer pergi, telapak tangan Shanum bergerak mengusap tengkuknya sendiri perlahan-lahan, seolah sensasi merinding dan keringat dingin yang mulai sana bukan pertanda apa-apa.

Kedua mata Shanum pun sedikit menyipit, menyorot Michael yang menyeruput habis sisa whisky dengan ekspresi setenang permukaan danau.

Michael mengangkat kedua alisnya begitu sadar Shanum memperhatikan gelas whisky yang baru ia habiskan, lalu menyunggingkan senyum di bibirnya yang tipis dan agak mengkilap di bawah cahaya lampu temaram.

“Apa kamu ingin whisky lagi?” tanya Michael sambil menumpukan sikunya ke paha. Tatapan Michael menyipit mengamati wajah Shanum yang memerah.

Shanum bergeming, tak memindahkan sedetik pun tatapannya dari sang bos. Gelengan samar ia berikan pada Michael. Ia merasa ada yang tidak beres dalam dirinya. Tenggorokannya pun kering, membuatnya secara konstan menelan ludah berulang kali.

Jantungnya pun ikut berdetak kencang dua kali lebih cepat dari biasanya. Dan entah mengapa, tubuhnya terasa panas, saraf intimnya menginginkan sentuhan fisik secara tidak jelas.

Memang toleransi Shanum terhadap alkohol sangat rendah. Tapi kemarin, saat ia mabuk—tidak begini.

Bagi Shanum, ini tidak normal lagi.

Setelah beberapa saat memperhatikan wajah Michael, Shanum memicingkan mata, tersadar akan suatu hal yang ganjil menurutnya. “Mungkinkah Mr. Sawyer memasukkan obat per4ngs4ng ke dalam minumanku?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • JANGAN NAKAL, TUAN CEO!   150. I Love You For Now, Tomorrow, And Forever (TAMAT)

    “Sekarang, aku paham mengapa Allah mempertemukan kita, Shine. Itu karena... kita memang sudah ditakdirkan bersama, bahkan sejak kita belum dilahirkan.”Shanum mendongak, menatap lekat manik mata suaminya yang berkilat di bawah cahaya lampu kristal. “Dan apa kau bersyukur karena itu?” tanyanya dengan senyum tipis yang menggoda.“Tentu saja. Aku sangat bersyukur karena sekarang kamu resmi menjadi istriku. Kita akan bersama selamanya,” jawab Michael mantap.Seolah tak lagi memedulikan ribuan pasang mata yang memerhatikan mereka, Michael langsung menangkup wajah Shanum dengan kedua tangannya. Di atas lantai dansa yang megah itu, ia mendaratkan ciuman dalam yang penuh perasaan, menyalurkan seluruh emosi yang sempat tertahan sejak pagi tadi.Disaksikan oleh seluruh tamu undangan di tengah dekorasi biru muda yang magis, Michael tak ragu lagi menghujani istrinya dengan kecupan-kecupan hangat, merayakan kemenangan cinta mereka yang kini telah sah Kilat lampu blitz menyambar bertubi-tubi, men

  • JANGAN NAKAL, TUAN CEO!   149. Jodoh Lauhul Mahfudz

    “Memberi cucu untuk Mama?” Shanum mengulang kalimat itu. Dia lantas tersenyum simpul ke arah Michael yang juga tersenyum malu-malu.Michael maka mendekati mamanya dan membisikkan sesuatu, pelan sekali, “Tentu saja kami akan memberikannya. Bukankah sejak dulu, kami sudah membuatnya? Jadi, potensi Mama memiliki cucu tahun depan akan terlaksana.”Lucy tersenyum bahagia mendengarkan itu. Kini, ia peluk anak dan menantunya itu dengan penuh kasih. “Ya sudah kalau begitu. Berbahagialah kalian berdua.”Usai pelukan itu terlepas, Shanum dan Michael mengambil tempat duduk di samping Damar, ayahnya Shanum.Tak lama berselang, penghulu pun tiba. Setelah mengecek kelengkapan berkas-berkas pernikahan dan memastikan tak ada yang salah, barulah penghulu itu memulai acara dengan cara menjabat tangan Michael dan mengucapkan ikrar ijab kabul.Dan dalam satu tarikan napas, Michael akhirnya mampu melakukannya. Lancar, dan tanpa hambatan. Begitu para saksi berkata ‘Sah’, ia menangis lantaran haru. Usai p

  • JANGAN NAKAL, TUAN CEO!   148. Berikan Mama Cucu Segera

    “Mempelai wanita sudah siap, Tuan. Anda harus segera turun.”Suara ketukan di pintu itu memecah keheningan di dalam ruang ganti. Pukul 07.45, Michael sudah berdiri tegak di depan cermin besar. Ia tampil berbeda dengan setelan baju kurung putih lengkap dengan kopyah berwarna senada. Biasanya, ia lebih akrab dengan potongan jas atau tuksedo yang kaku, namun pagi ini, kesederhanaan pakaian tradisional itu justru membuatnya tampak jauh lebih tenang sekaligus berwibawa.Ia tersenyum tipis pada bayangannya sendiri, sembari sesekali membetulkan posisi kopyah yang sebenarnya sudah pas. Jemarinya sedikit bergetar saat ia mencoba mengatur napas yang mulai pendek. Tidak ada persiapan yang berlebihan, fokusnya hanya satu: kalimat ijab kabul nanti harus tuntas dalam satu tarikan napas.“Saya terima nikahnya Shanum ….”Kalimat itu terus ia tancapkan dalam memori, mengulanginya berulang kali di dalam hati. Ada ketakutan konyol yang membayangi. Jika ia sampai salah berucap ijab kabul sebanyak tiga

  • JANGAN NAKAL, TUAN CEO!   147. Butuh Kehangatanmu

    “Bajingan kamu, Mike! Mikeeee! Lepaskan aku! Lepaskan!”Di dalam jet pribadi, Felice diikat kencang oleh bawahan Michael. Ia meronta berulang kali meminta dilepaskan. Bahkan saat Michael mendekat, ia meludahi pria itu hingga membuatnya marah.Telapak tangan kanannya kemudian bergerak mencapit dagu wanita itu. “Kamu menyebutku bajingan, tetapi kamu sendiri brengsek, Sialan. Kalau kamu tidak membuatku marah—mengadu dombaku dengan Shanum, mungkin aku tidak akan begini.”Sebelum Felice meludahinya lagi, ia menambahkan, “Sekarang, kamu tahu kemarahanku, ‘kan? Aku bukan pria yang bisa kamu singgung, Felice. Sudahi kegilaanmu itu!”Michael segera mengempaskan wajah Felice. Dengan napas terengah, ia bersiap pergi dari kabin itu. Tapi, langkahnya melambat ketika ia mendengar rintihan wanita itu yang menyayat hati.“Bagaimana aku bisa menyudahi kegilaanku, sementara sejak dulu aku sangat-sangat menginginkanmu,” katanya getir. Felice kembali terisak dan dia berteriak-teriak, “Bahkan, kita sejak

  • JANGAN NAKAL, TUAN CEO!   146. Mencicil Buat Bayi

    “Apa itu tidak akan mengganggu bayi kita?” tanya Michael dengan nada yang benar-benar khawatir. Ia kemudian menyentuh perut Shanum dengan telapak tangannya, lembut sekali. Takut kalau gerakannya akan membuat bayinya terkejut.“Hah?” Shanum sempat melongo selama beberapa detik, namun sedetik kemudian tawanya pecah. Ia tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Michael yang tampak sangat polos dan tulus mengkhawatirkan hal itu. Saking gelinya, ia sampai merebahkan diri di atas ranjang dan menatap langit-langit kamar. Tak lupa, ia juga sambil memegangi perutnya yang kaku karena tertawa.Michael sama sekali tidak ikut tertawa. Ia justru menegakkan punggungnya dan menatap Shanum dengan serius. “Apanya yang lucu? Bukannya itu larangan dokter, ya? Tidak boleh berhubungan saat kandungan masih muda. Jadi untuk beberapa bulan ke depan, aku akan menyimpan hasratku. Dan kumohon, jangan memancingku, Shine.”Mendengar permintaan serius itu, Shanum perla

  • JANGAN NAKAL, TUAN CEO!   145. Aku Hamil

    “Bagaimana? Sanggup atau tidak? Kalau tidak, silakan keluar dan carilah istri baru.”Michael terpaku, lidahnya mendadak kelu. Ia terjebak dalam keheningan yang menyesakkan.Di dalam benaknya, gejolak batin sedang bertarung hebat. Tentu saja, ia sudah bersumpah dalam hati untuk menjaga Shanum seumur hidupnya. Ia tidak akan lagi membiarkan tangannya bertindak kasar atau hatinya berpaling.Namun, syarat yang diajukan Damar terasa seperti jerat yang mustahil. Bagaimana mungkin ia bisa menjamin Shanum tidak akan pernah menangis? Hidup tidak pernah selembut itu. Tangis bisa terjadi karena rindu, karena duka kehilangan, atau bahkan karena perselisihan kecil yang lumrah dalam sebuah pernikahan.Michael tahu, satu tetes air mata Shanum yang jatuh karena kesalahannya dan sekecil apa pun itu bisa berarti maut jika ia mengiyakan sumpah berdarah sang calon mertua.“Tuan Damar ....” Michael memulai dengan suara serak, mencoba mencar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status