LOGIN“Mungkinkah Mr. Sawyer memberi obat per4ngs4ng ke dalam minumanku? Tapi, itu mustahil. Minuman itu tersegel dan gelasnya pun bersih,” tanya Shanum dalam hati. Kedua matanya menyipit, lalu kecurigaan ia tujukan pada sang bos.
Masih tak yakin, Shanum kembali bertanya dalam hati, “Atau justru … Pak Michael-lah yang melakukan ini secara diam-diam tanpa sepengetahuanku— karena dia telah menyadari aku mengambil cel4na d4l4mnya dan … membawa peng4m4n ke kantor?” Saat beranjak, Shanum sedikit oleng, hendak jatuh ke samping, Michael mendekati menarik lengannya. “Apa kamu baik-baik saja?” tanya Michael sambil memegangi lengan kanan Shanum. Shanum bergeming. Telapak tangan halus Michael yang kemudian mengusap lengannya, membuat sesuatu dalam dirinya menekan hebat dan membuatnya cukup gelisah. Ia tertegun susah payah, sebelum menghela napas berat sambil beranjak dari sofa. “Maaf, tapi aku harus pulang, Pak.” Michael menyusul berdiri, masih memegangi lengan Shanum agar gadis ini tidak jatuh. “Yakin? Kamu mabuk!” “Em,” angguk Shanum lemah. “Saya tidak mabuk, aku hanya sedikit … pusing. Saya ... baik-baik saja.” Shanum berusaha melepaskan cengkeraman tangan Michael dan berniat pergi. Namun, pengaruh alkohol yang dahsyat mendadak membuat tumpuan kakinya goyah hingga tubuhnya oleng ke belakang. Secara refleks, Shanum menyambar lengan Michael untuk mencari pegangan, namun tarikan yang tak terduga itu justru membuat mereka berdua jatuh bersamaan ke atas sofa dengan posisi Michael menindih tubuhnya secara sempurna. Keheningan seketika menyelimuti ruang private itu saat wajah mereka terkunci dalam jarak yang sangat dekat, int1m. Deru napas Michael menerpa kulit wajah Shanum yang memerah. Posisi telapak tangan Michael yang mendarat tepat di dada Shanum, seketika membuat wanita itu gelisah hingga ia membuang muka sambil berdehem singkat. Namun masalahnya, hal tersebut juga mengakibatkan sebuah gejolak yang semakin meronta dari dalam, membuat bagian penting dari tubuh Shanum kian menegang, suhu tubuhnya bak meningkat dengan cepat seperti demam, tetapi hanya demam di bagian bawah saja, lainnya tidak. “Sorry, Shanum, saya … tidak sengaja,” gumam Michael dengan suara parau, mungkin ia merasa canggung karena telapak tangannya baru saja menyentuh dada Shanum secara tidak sengaja. Michael terlihat berusaha menarik diri dan bersiap untuk beranjak dari atas tubuh sekretarisnya demi mengembalikan sisa-sisa kewarasan profesional yang ia miliki. Namun, Shanum tak mengijinkan hal itu terjadi. Gejolak alkohol yang membakar tubuh Shanum justru membuatnya menginginkan Michael lebih, seolah tak ingin jarak itu tercipta. Sempat memikirkan soal cel4na d4lam Michael yang menggembung besar di bagian depan, membuat Shanum terjebak dalam fantasi liar tak sehat tentang … seberapa besar dan kuat bos-nya itu saat ‘bermain’? Dan hal itu pula lah yang membuat Shanum urung pulang ke rumah. Saat Michael sempat menjauh, Shanum secara impulsif menariknya kembali ke bawah, melingkarkan kedua tangannya ke leher pria itu, lalu mengangsurkan bibirnya untuk mencium Michael dengan penuh nafsu yang meledak-ledak. Michael sendiri sempat mengerjap cepat, menatap Shanum dengan mata membulat sekaligus heran. Napasnya terdengar memburu berat—lambat, bola mata birunya yang tajam seperti pisau nyaris tak bisa fokus saat Shanum begitu liar melum4t bibirnya. Akan tetapi, tatapan Michael kemudian terpaku pada tubuh seksi Shanum yang menggeliat di bawahnya. Batas profesionalisme yang selama ini dijaga Michael dengan kokoh, akhirnya runtuh tak bersisa. Cium4n impulsif Shanum menjadi pemicu yang menghancurkan seluruh kendali diri pria itu dalam sekejap. Dan kini, Michael membalas ciuman itu tak kalah g4n4snya. “Eumhhh ….” Shanum merintih. Perlahan, Shanum lepaskan kaitan lengan dari leher Michael. Telapak tangannya kemudian beralih ke punggung pria itu, mer4ba dari atas hingga bawah dengan gerakan pelan namun sensual, dan kini berakhir ke pinggang pria itu, melepaskan ikat pinggang yang melilit perut six pack perlahan-lahan, lalu menurunkan resletingnya ke bawah. Michael sadar bahwa ini salah. Meski situasi ini tak ia inginkan, dan hilangnya kendali Shanum sama sekali tak ia harapkan, namun ia tetap tersentak dalam buaian p4n4snya sentuh dan cum-bu dari sekretarisnya itu. Sambil mengusap wajah Shanum, Michael membatin resah, “Kamu yang memulainya! Jadi, jangan salahkan aku kalau malam ini ….” Tapi, Michael tak melanjutkan ucapannya. Sambil terus berciuman, terdorong oleh hasrat yang sudah mencapai puncaknya, Michael tak lagi mampu membendung naluri liarnya. Ujung jemari pria itu yang terasa hangat mulai merayap pelan, menyisir permukaan kulit paha Shanum yang terekspos karena rok pendeknya sedikit tersingkap. S3ntuh4n yang awalnya terasa ragu dan berhati-hati, justru memberikan sensasi dingin yang menggelitik sekaligus membakar g4irah di sepanjang saraf Shanum. Namun, ketenangan Michael segera hancur saat ia merasakan respons tubuh Shanum yang melunak di bawah kendalinya. Gerakan jemarinya berubah menjadi lebih tergesa dan menuntut, merayap lebih jauh menuju bagian p4h4 dalam yang s3nsitif. Seolah kehilangan seluruh kesadaran profesionalnya, Michael membelah perlahan celah di antara kedua paha Shanum yang kini terjulur lemas, pasrah menerima setiap kehendak yang dipaksakan oleh pria itu. Kedua jari Michael kemudian mendarat tepat di atas permukaan kain tipis yang menjadi benteng terakhir perlindungan Shanum. Sentuhan di sana terasa begitu nyata, menekan dengan ritme yang penuh harap dan provokatif. Tergiring oleh desakan dada dan ‘barang berharganya’ yang sekeras batu di dalam celana, Michael kemudian memperdalam ciumannya, mengecap rasa manis alkohol yang masih tertinggal di bibir Shanum dengan lebih menuntut. Begitu merasakan bahasa tubuh Shanum yang melunak—seolah memberikan izin penuh bagi dirinya untuk berkuasa, Michael perlahan melepas kancing pakaian wanita itu satu per satu. Sembari menarik tubuh Shanum agar berbaring lebih leluasa, ia juga meloloskan bawahan asistennya itu dengan gerakan pasti. Shanum meraih kerah kemeja Michael, menyisirnya perlahan dari pundak hingga ke lengan untuk membantu pria itu meloloskan pakaiannya. Tindakan itu memicu Michael untuk segera menjauh sejenak, menciptakan jarak hanya demi menanggalkan kemejanya dengan gerakan cepat yang tak sabar. Detik berikutnya, kemeja itu terlepas, memamerkan dada bidang dan perut berototnya yang kokoh tepat di hadapan tatapan sayu Shanum. Seiring tubuh terasa panas dan gemetar, tangan Michael bergerak kalang kabut berusaha melepas ikat pinggang di celananya sendiri tanpa sanggup menatap wajah Shanum. Rasa bersalah dan ragu berpacu setara dengan getaran h4sr4t yang membuat Michael semakin sesak. Tangan Michael bergetar singkat kala menyentuh pinggang ramping Shanum, namun tatapan buasnya menyorot ‘lapar’ pada tubuh tel4nj4ng di hadapannya. Meski batin berteriak bahwa ini salah, tetapi tangan kekar Michael tetap bergerak menj4m4h, mengabaikan logika demi pergulatan h4sr4t yang lebih kuat hingga membuat Shanum menggeliat tak terkendali di bawah kuasanya. Shanum berserah pada g4ir4h yang telah meluluhkan seluruh batas profesionalisme di antara mereka. Lalu bibir Shanum yang dipoles lipstick berwarna nude itu berkata, “Lakukan, Pak!” Tanpa menunggu persetujuan, Shanum segera menarik Michael agar lebih dekat dengannya. Kemudian, ia mendekap punggung lebar pria itu dengan erat—agar mereka lekas bersatu, memastikan pria itu menikmati semua ini dan ia bisa membuktikan apa yang selama ini membuatnya selalu … penasaran.“Hmmmmph.” Shanum terdengar merintih. Kedua tangannya mendekap erat raga gagah Michael yang kini mulai mendobrak pertahanannya, membuatnya blingsatan ke kiri dan ke kanan saat c*mb*an terus-menerus datang tanpa jeda.Meski setengah sadar karena terpengaruh alkohol dan obat per*ngs*ng, tapi Shanum tetap bisa merasakan ‘benda pusaka’ Michael yang hangat mulai menyeruak masuk pelan ke liangnya.Perlahan, pinggul Michael bergerak maju, melesakkan se-inchi demi se-inchi ‘barangnya’ ke dalam tubuh Shanum. “Ssssssh …,” desis Shanum, terasa sakit, namun jelas ia sangat menginginkannya.Tak hanya melenguh, Shanum juga mencakar otot bisep Michael dengan kuat, dan Michael pun tahu Shanum sedang kesakitan karenanya. Dibayangi rasa bersalah, Michael pun bertanya, “Perlu kita hentikan?”Menggeleng lemah, Shanum tersenyum malu-malu, kedua mata terlihat sayu di bawah cahaya temaram yang menyorot tubuh polos keduanya. “No! Teruskan ….”Mendapat persetujuan, Michael tentu saja Michael akan meneruska
“Mungkinkah Mr. Sawyer memberi obat per4ngs4ng ke dalam minumanku? Tapi, itu mustahil. Minuman itu tersegel dan gelasnya pun bersih,” tanya Shanum dalam hati. Kedua matanya menyipit, lalu kecurigaan ia tujukan pada sang bos. Masih tak yakin, Shanum kembali bertanya dalam hati, “Atau justru … Pak Michael-lah yang melakukan ini secara diam-diam tanpa sepengetahuanku— karena dia telah menyadari aku mengambil cel4na d4l4mnya dan … membawa peng4m4n ke kantor?”Saat beranjak, Shanum sedikit oleng, hendak jatuh ke samping, Michael mendekati menarik lengannya. “Apa kamu baik-baik saja?” tanya Michael sambil memegangi lengan kanan Shanum.Shanum bergeming. Telapak tangan halus Michael yang kemudian mengusap lengannya, membuat sesuatu dalam dirinya menekan hebat dan membuatnya cukup gelisah. Ia tertegun susah payah, sebelum menghela napas berat sambil beranjak dari sofa. “Maaf, tapi aku harus pulang, Pak.”Michael menyusul berdiri, masih memegangi lengan Shanum agar gadis ini tidak jatuh. “Y
“Hans Bar?” Michael mengulang kata itu dengan sorot mata heran. Permintaan rekan bisnisnya— tidak wajar.Alis tebal Michael terangkat sebelah, sementara keningnya mengkerut dalam. Ia memutar kepalanya, menatap Shanum dengan intens—seolah tengah menuntut penjelasan lebih logis.“Iya, Pak. Saya tidak tahu kenapa beliau meminta meeting di sana.” Shanum menelan ludah dengan gugup. Dia pun menjelaskan, “Atau ... perlu kita batalkan saja meeting malam ini dan jadwalkan ulang besok pagi kalau Bapak tidak berkenan.”Michael tak ingin melepaskan kesempatan kerjasama ini. Maka dari itu, ia menyetujuinya saja—mengingat kalau Mario Sawyer merupakan pria yang agak ‘rewel’. “Tidak, setujui saja. Jam berapa?” tanya Michael kembali datar, seolah keberatan di wajahnya tadi menguap begitu cepat demi urusan bisnis.“Pukul delapan malam nanti, Pak.”..Pukul tujuh malam, Shanum sudah siap. Ia mengenakan blazer yang dipadukan dengan kemeja rapi dan rok pendek yang jatuh sepuluh sentimeter di atas lutut,
Usai turun dari mobil, Shanum belum juga bisa bernapas lega. Michael berdiri di sampingnya dengan aura otoritas yang begitu pekat. Pria itu bersikap biasa saja, seolah tak ada satu pun kekacauan yang terjadi di kabin tadi. Saat berjalan bersama, Michael menoleh pada Shanum, bertanya, “Kamu tahu Mr. Cho asli Tiongkok?”Shanum tersentak kecil. Ia pikir, Michael akan diam sepanjang jalan mengingat kejadian memalukan tadi. Namun tidak, pria itu justru menanyainya, mengurai suasana yang agak kaku tadi.Shanum, yang semula fokus pada jalan, kini mendongak demi menatap sang atasan. “Tahu, Pak.” Bahkan tanpa menoleh, Michael melempar instruksi pada Shanum. “Karena kamu bisa berbahasa Mandarin, saya mau kamu jelaskan presentasinya pakai bahasa Mandarin agar dia tidak perlu lagi menunggu penerjemah. Pastikan setiap detail tersampaikan dengan sempurna. Saya tidak mau ada kesalahan.”Meski agak gugup, namun Shanum tampak mengerti, dia tersenyum simpul sebelum akhirnya mengangguk tipis. “Saya me
“H–hukuman? Hukuman apa, Pak?” Shanum menggigit bibir bawahnya, agak sanksi kalau Michael membahas ‘hukuman’ yang disebutkan tadi. Sedangkan Michael tidak menjawabnya. Ia menarik diri, membiarkan pertanyaan sekretarisnya itu menggantung di udara. Setelah duduk, ia kembali membuka laptopnya sambil berujar, “Kembalilah ke ruanganmu.” Shanum pun segera tersadar dari lamunannya. Ia berpikir, setelah melakukan kesalahan fatal tadi pagi, ia akan dihukum berat seperti pemotongan gaji, dipindah tugaskan ke cabang lain yang jauh dari rumahnya, di tempat pelosok, atau lainnya yang menurutnya buruk. Tapi, ternyata ketakutannya itu tidak terjadi. Jadi, Shanum bisa bernapas lega. Begitu ia merapikan penampilannya, ia segera berpamitan. “Kalau begitu, saya permisi, Pak.” Tidak ada sahutan, dan Shanum makin kesal karena sikap bosnya yang sangat dingin. Begitu ia keluar ruangan bosnya, ia merutuki, “Dasar kanebo kering!” Shanum berjalan cepat menuju ruangannya, mengabaikan seorang wanita cantik
Di ruang meeting, Shanum benar-benar kehilangan fokus meski raga dan suaranya mencoba bertahan di depan jajaran orang-orang penting.Sebagai sekretaris, ia mengemban tanggung jawab untuk mempresentasikan Laporan Evaluasi Produk yang telah ia kerjakan satu minggu belakangan.Suaranya terdengar stabil saat menjelaskan grafik pertumbuhan pengguna, namun ia tak bisa membohongi Michael yang terlalu teliti mengamati ekspresinya.Di mata Michael, jemari Shanum begitu gemetar saat memegang laser pointer di bawah sorot lampu proyektor. Ia mengamati setiap gerak-gerik Shanum dengan tatapan datar yang sulit diartikan. Melihat sekretarisnya nyaris kehilangan napas karena ketakutan di depannya sudah memberinya kepuasan tersendiri.Dan ketika pandangan mereka bertemu, Shanum sangat gugup. Ia bahkan menghindari tatapan bos-nya yang terkunci padanya. “Dia pasti gak sabar buat pecat aku!” batin Shanum sembari terus memberikan jawaban ketika salah beberapa eksekutif bertanya padanya. Tentu ia tak mau







