Home / Romansa / JANGAN NAKAL, TUAN CEO! / 9. Gempuran H4sr4t

Share

9. Gempuran H4sr4t

Author: OTHOR CENTIL
last update Huling Na-update: 2026-01-23 15:20:59

“Hmmmmph.” Shanum terdengar merintih.

Kedua tangannya mendekap erat raga gagah Michael yang kini mulai mendobrak pertahanannya, membuatnya blingsatan ke kiri dan ke kanan saat c*mb*an terus-menerus datang tanpa jeda.

Meski setengah sadar karena terpengaruh alkohol dan obat per*ngs*ng, tapi Shanum tetap bisa merasakan ‘benda pusaka’ Michael yang hangat mulai menyeruak masuk pelan ke liangnya.

Perlahan, pinggul Michael bergerak maju, melesakkan se-inchi demi se-inchi ‘barangnya’ ke dalam tubuh Shanum.

“Ssssssh …,” desis Shanum, terasa sakit, namun jelas ia sangat menginginkannya.

Tak hanya melenguh, Shanum juga mencakar otot bisep Michael dengan kuat, dan Michael pun tahu Shanum sedang kesakitan karenanya.

Dibayangi rasa bersalah, Michael pun bertanya, “Perlu kita hentikan?”

Menggeleng lemah, Shanum tersenyum malu-malu, kedua mata terlihat sayu di bawah cahaya temaram yang menyorot tubuh polos keduanya. “No! Teruskan ….”

Mendapat persetujuan, Michael tentu saja Michael akan meneruskannya. Apa pun yang terjadi, ia tidak akan pernah berhenti!

Hasratnya sudah mencapai ubun-ubun. Meski terjadi hujan badai yang meluluhlantakkan bumi ini, Michael tidak akan mundur!

Perlahan tapi pasti, Michael memandu gerakannya dengan tenang. Tak lupa, ia perkuat cengkeramannya pada kedua pinggul Shanum. Ia masukkan, ia keluarkan, memasukkannya lagi, lalu mengeluarkannya lagi, dan mendorongnya sambil menekan pelan.

Tak langsung menerjang secara buas, Michael justru ingin melakukan pemanasan terlebih dulu. Gerakan tadi bertujuan untuk melumuri ‘barangnya’ dengan cairan Shanum yang sudah banjir sejak tadi, memastikan setiap jengkal s*ns*tiv*tas mereka terlumasi dengan sempurna.

Begitu Shanum mulai rileks, pun landasan yang akan ia pacu makin licin, Michael kemudian mengh*nt*k kasar bersamaan dengan l*ng*han Shanum yang makin panjang.

“Auuuuhhhh ….”

Michael menyaksikan Shanum menj*rit kes*kitan saat ia menancapkan miliknya dengan satu hentakan yang keras dan begitu dalam.

Namun, Michael tak membiarkan jeritan itu memecah keheningan malam. Dengan cepat ia memeluk Shanum, membiarkan saja pundak kokohnya digigit keras oleh wanita itu.

Tak lupa, Michael turut meny4mb4r bibir Shanum, mel*m4tnya habis-habisan hingga rintihan sang sekretaris teredam sepenuhnya oleh perpaduan bibir mereka yang menuntut.

Semua terjadi begitu saja, seolah logika telah sepenuhnya kalah oleh insting. Selama tiga puluh menit setelahnya, Michael bergerak tanpa ampun.

Michael membiarkan sisi dominannya mengambil alih kendali sepenuhnya, membolak-balikkan tubuh Shanum sesuka hati. Bahkan saat wanita itu berulang kali meringis pedih, ia tetap tak mau mengakhiri.

Ruang private yang kedap itu menjadi saksi bisu bagaimana sang bos yang biasanya kaku dan dingin—kini menjelma menjadi sosok yang haus, memacu ritme dengan kekuatan yang seakan ingin menandai setiap jengkal tubuh Shanum sebagai miliknya.

Setelah gempuran h*sr*t yang meluluhlantakkan kew*ras4n selama hampir empat puluh menit, keheningan mencekam kini menyergap ruangan itu.

Dengan napas yang masih tersengal, Michael melepaskan tautan tubuhnya pada Shanum. Ia menyandarkan punggungnya sejenak pada tepian sofa, sebelum akhirnya membungkuk dalam dengan kedua siku bertumpu pada kedua paha.

Michael melirik ke samping, menatap raga molek Shanum yang tergolek lemah. Mata Shanum terpejam rapat, nyaris tak bergerak dengan napas yang sama tersengalnya dengannya.

​Mengingat keg*n*sannya tadi, Michael memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan peluh di pelipisnya menetes ke lantai yang dingin. Rasa sesak mulai merambat di dada bidang Michael yang tak ditumbuhi rambut halus.

Bagaimana tidak?

Michael baru saja berhubungan dengan sekretarisnya. Seharusnya, ia membawa Shanum pulang. Tapi, apa yang terjadi? Ia justru terlihat memanfaatkan keadaan Shanum yang lemah. Dan yang lebih parahnya, ia tidak menggunakan … peng*man.

“Fuck! Apa yang kulakukan?” umpatnya penuh sesal lantaran tak dapat mengontrol diri sendiri.

Logika yang tadi terbakar kini menyisakan abu yang perih. Michael menatap tangannya sendiri, lalu beralih pada sosok sekretarisnya yang tergolek tak berdaya.

Michael tak hanya diam. Ia segera membereskan kekacauan ini, mengelapi tubuh mereka yang lengket, lalu mulai memakai pakaiannya kembali, pun memakaikan pakaian ke tubuh Shanum. Lalu, ia membawa wanita itu pulang ke penthouse miliknya.

****

Denyutan pening yang luar biasa merambat di bagian dahi saat Shanum mulai memaksa matanya terbuka. Ia mengerang lirih, mencoba bangkit dan menegakkan punggungnya meski dunia seolah berputar.

Dengan mata memicing menahan nyeri dan silau yang menusuk, Shanum menyadari cahaya matahari telah membanjiri ruangan melalui jendela besar yang megah.

Selama beberapa saat, Shanum terdiam, mencoba menajamkan pandangan yang masih kabur. Namun, begitu kesadarannya terkumpul sepenuhnya, jantungnya seolah berhenti berdetak. Ruangan yang ia tempati sangat luas dan mewah. Ia sadar telah berada di tempat yang sangat asing, jauh berbeda dari bar remang-remang yang ia kunjungi semalam.

Tak berselang lama, Shanum merasakan pergerakan pelan di sampingnya. Selimut sutra itu tersingkap ke sisi kiri, membuat dada bagian depan kini terpapar udara dingin kamar yang merayap masuk.

Kerutan di kening Shanum seketika memudar saat ia menoleh. Napasnya tertahan, ia mematung mendapati Michael tengah tertidur pulas di sampingnya.

Pria itu tampak masih mengenakan pakaian lengkap, sangat kontras dengan kondisinya sendiri yang tidak mengenakan sehelai benang pun di balik selimut.

Bersamaan dengan itu, sebuah rasa nyeri yang tajam dan berdenyut di bagian inti tubuhnya terasa semakin intens setiap kali ia mencoba bergerak. Sensasi panas yang tertinggal dan rasa sakit yang asing itu menghantam kesadarannya.

Dan di detik itulah, kepala Shanum sibuk memutar rekaman kejadian semalam, meraba ingatan detail tentang ekspresi Michael yang pasrah saat ia mulai … menggodanya.

Kini, Shanum bertanya-tanya. Benarkah ia menggoda bos-nya, lalu … berc*nt*? Benarkah mereka … melakukan itu semalam?

Sementara Shanum masih nge-lag, Michael—yang sebenarnya sudah terbangun sejak tadi—mulai membuka mata.

Baru lima detik Michael menatap Shanum dengan intens tanpa mengatakan apa-apa, bibir Shanum terbuka, lalu mengatakan, “Apa yang terjadi?”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • JANGAN NAKAL, TUAN CEO!   150. I Love You For Now, Tomorrow, And Forever (TAMAT)

    “Sekarang, aku paham mengapa Allah mempertemukan kita, Shine. Itu karena... kita memang sudah ditakdirkan bersama, bahkan sejak kita belum dilahirkan.”Shanum mendongak, menatap lekat manik mata suaminya yang berkilat di bawah cahaya lampu kristal. “Dan apa kau bersyukur karena itu?” tanyanya dengan senyum tipis yang menggoda.“Tentu saja. Aku sangat bersyukur karena sekarang kamu resmi menjadi istriku. Kita akan bersama selamanya,” jawab Michael mantap.Seolah tak lagi memedulikan ribuan pasang mata yang memerhatikan mereka, Michael langsung menangkup wajah Shanum dengan kedua tangannya. Di atas lantai dansa yang megah itu, ia mendaratkan ciuman dalam yang penuh perasaan, menyalurkan seluruh emosi yang sempat tertahan sejak pagi tadi.Disaksikan oleh seluruh tamu undangan di tengah dekorasi biru muda yang magis, Michael tak ragu lagi menghujani istrinya dengan kecupan-kecupan hangat, merayakan kemenangan cinta mereka yang kini telah sah Kilat lampu blitz menyambar bertubi-tubi, men

  • JANGAN NAKAL, TUAN CEO!   149. Jodoh Lauhul Mahfudz

    “Memberi cucu untuk Mama?” Shanum mengulang kalimat itu. Dia lantas tersenyum simpul ke arah Michael yang juga tersenyum malu-malu.Michael maka mendekati mamanya dan membisikkan sesuatu, pelan sekali, “Tentu saja kami akan memberikannya. Bukankah sejak dulu, kami sudah membuatnya? Jadi, potensi Mama memiliki cucu tahun depan akan terlaksana.”Lucy tersenyum bahagia mendengarkan itu. Kini, ia peluk anak dan menantunya itu dengan penuh kasih. “Ya sudah kalau begitu. Berbahagialah kalian berdua.”Usai pelukan itu terlepas, Shanum dan Michael mengambil tempat duduk di samping Damar, ayahnya Shanum.Tak lama berselang, penghulu pun tiba. Setelah mengecek kelengkapan berkas-berkas pernikahan dan memastikan tak ada yang salah, barulah penghulu itu memulai acara dengan cara menjabat tangan Michael dan mengucapkan ikrar ijab kabul.Dan dalam satu tarikan napas, Michael akhirnya mampu melakukannya. Lancar, dan tanpa hambatan. Begitu para saksi berkata ‘Sah’, ia menangis lantaran haru. Usai p

  • JANGAN NAKAL, TUAN CEO!   148. Berikan Mama Cucu Segera

    “Mempelai wanita sudah siap, Tuan. Anda harus segera turun.”Suara ketukan di pintu itu memecah keheningan di dalam ruang ganti. Pukul 07.45, Michael sudah berdiri tegak di depan cermin besar. Ia tampil berbeda dengan setelan baju kurung putih lengkap dengan kopyah berwarna senada. Biasanya, ia lebih akrab dengan potongan jas atau tuksedo yang kaku, namun pagi ini, kesederhanaan pakaian tradisional itu justru membuatnya tampak jauh lebih tenang sekaligus berwibawa.Ia tersenyum tipis pada bayangannya sendiri, sembari sesekali membetulkan posisi kopyah yang sebenarnya sudah pas. Jemarinya sedikit bergetar saat ia mencoba mengatur napas yang mulai pendek. Tidak ada persiapan yang berlebihan, fokusnya hanya satu: kalimat ijab kabul nanti harus tuntas dalam satu tarikan napas.“Saya terima nikahnya Shanum ….”Kalimat itu terus ia tancapkan dalam memori, mengulanginya berulang kali di dalam hati. Ada ketakutan konyol yang membayangi. Jika ia sampai salah berucap ijab kabul sebanyak tiga

  • JANGAN NAKAL, TUAN CEO!   147. Butuh Kehangatanmu

    “Bajingan kamu, Mike! Mikeeee! Lepaskan aku! Lepaskan!”Di dalam jet pribadi, Felice diikat kencang oleh bawahan Michael. Ia meronta berulang kali meminta dilepaskan. Bahkan saat Michael mendekat, ia meludahi pria itu hingga membuatnya marah.Telapak tangan kanannya kemudian bergerak mencapit dagu wanita itu. “Kamu menyebutku bajingan, tetapi kamu sendiri brengsek, Sialan. Kalau kamu tidak membuatku marah—mengadu dombaku dengan Shanum, mungkin aku tidak akan begini.”Sebelum Felice meludahinya lagi, ia menambahkan, “Sekarang, kamu tahu kemarahanku, ‘kan? Aku bukan pria yang bisa kamu singgung, Felice. Sudahi kegilaanmu itu!”Michael segera mengempaskan wajah Felice. Dengan napas terengah, ia bersiap pergi dari kabin itu. Tapi, langkahnya melambat ketika ia mendengar rintihan wanita itu yang menyayat hati.“Bagaimana aku bisa menyudahi kegilaanku, sementara sejak dulu aku sangat-sangat menginginkanmu,” katanya getir. Felice kembali terisak dan dia berteriak-teriak, “Bahkan, kita sejak

  • JANGAN NAKAL, TUAN CEO!   146. Mencicil Buat Bayi

    “Apa itu tidak akan mengganggu bayi kita?” tanya Michael dengan nada yang benar-benar khawatir. Ia kemudian menyentuh perut Shanum dengan telapak tangannya, lembut sekali. Takut kalau gerakannya akan membuat bayinya terkejut.“Hah?” Shanum sempat melongo selama beberapa detik, namun sedetik kemudian tawanya pecah. Ia tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Michael yang tampak sangat polos dan tulus mengkhawatirkan hal itu. Saking gelinya, ia sampai merebahkan diri di atas ranjang dan menatap langit-langit kamar. Tak lupa, ia juga sambil memegangi perutnya yang kaku karena tertawa.Michael sama sekali tidak ikut tertawa. Ia justru menegakkan punggungnya dan menatap Shanum dengan serius. “Apanya yang lucu? Bukannya itu larangan dokter, ya? Tidak boleh berhubungan saat kandungan masih muda. Jadi untuk beberapa bulan ke depan, aku akan menyimpan hasratku. Dan kumohon, jangan memancingku, Shine.”Mendengar permintaan serius itu, Shanum perla

  • JANGAN NAKAL, TUAN CEO!   145. Aku Hamil

    “Bagaimana? Sanggup atau tidak? Kalau tidak, silakan keluar dan carilah istri baru.”Michael terpaku, lidahnya mendadak kelu. Ia terjebak dalam keheningan yang menyesakkan.Di dalam benaknya, gejolak batin sedang bertarung hebat. Tentu saja, ia sudah bersumpah dalam hati untuk menjaga Shanum seumur hidupnya. Ia tidak akan lagi membiarkan tangannya bertindak kasar atau hatinya berpaling.Namun, syarat yang diajukan Damar terasa seperti jerat yang mustahil. Bagaimana mungkin ia bisa menjamin Shanum tidak akan pernah menangis? Hidup tidak pernah selembut itu. Tangis bisa terjadi karena rindu, karena duka kehilangan, atau bahkan karena perselisihan kecil yang lumrah dalam sebuah pernikahan.Michael tahu, satu tetes air mata Shanum yang jatuh karena kesalahannya dan sekecil apa pun itu bisa berarti maut jika ia mengiyakan sumpah berdarah sang calon mertua.“Tuan Damar ....” Michael memulai dengan suara serak, mencoba mencar

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status