แชร์

4. Diagnosis Gila!

ผู้เขียน: J.A
last update วันที่เผยแพร่: 2026-01-08 23:51:29

Saat Li Xiaoyan perlahan membuka matanya yang tadinya terpejam rapat, Zhou Bin langsung terpaku bagai disambar petir, wajahnya memucat tak karuan. Dia baru saja melakukan berbagai pemeriksaan teliti dan memastikan bahwa Li Xiaoyan benar-benar tak lagi memiliki tanda vital— sudah meninggal dunia!

Bagaimana mungkin wanita itu kini hidup kembali? Andai bukan karena alat monitor di samping ranjang yang terus berbunyi bip-bip stabil, Zhou Bin pasti mengira Li Xiaoyan telah berubah menjadi zombi dari cerita horor.

"Kau sadar... kau benar-benar sadar!" Lin Quanyou tak percaya dengan apa yang dilihat matanya sendiri. Dia bergegas mendekat, tangannya gemetar saat menyentuh wajah istrinya yang mulai hangat kembali.

"Aku... aku ada di mana?" Li Xiaoyan juga kebingungan, pandangannya masih kabur, suaranya lemah tak begitu jelas.

Lin Xuan segera mendekat dengan langkah cepat, jantungnya berdegup kencang penuh haru. Dengan tangan hati-hati, dia mencabut semua jarum perak dari kepala ibunya satu per satu. "Ibu, Ibu sedang di rumah sakit. Tadi Ibu mengalami pendarahan otak mendadak, tapi sekarang sudah baik-baik saja."

Andai bukan karena ilmu pengobatan kuno yang diwariskannya, dia dan ibunya pasti sudah terpisah oleh maut selamanya. Lin Quanyou kemudian menceritakan semua yang terjadi kepada Li Xiaoyan dengan suara bergetar, membuat mata wanita itu melebar penuh takjub dan rasa tak percaya.

"Ayo kita pulang. Kita keluar dari rumah sakit sekarang juga." Lin Quanyou memeluk erat istrinya, air matanya nyaris tumpah karena rasa haru dan gembira yang menjadi satu. Dia sama sekali tak pernah menyangka putranya mampu menyelamatkan istrinya.

Bahkan di situasi yang sangat tidak mungkin terjadi...

"Aku beri tahu kalian, ibumu ini baru tertolong sementara saja. Akibat lanjutan dari pendarahan otak itu sangat serius. Tanpa uang dalam jumlah besar untuk pengobatan lanjutan, nyawanya tak akan terjamin. Jadi... Jika kalian keluar sekarang, sama saja dengan bunuh diri," sergah Zhou Bin dengan nada dingin, hatinya masih dipenuhi rasa malu dan kesal.

"Aku tak perlu kau khawatirkan. Aku akan cari cara untuk menyembuhkan ibuku sepenuhnya. Kami ingin keluar sekarang," balas Lin Quanyou tegas, meski suaranya masih bergetar.

"Baiklah." Zhou Bin menyeringai sinis, lalu mengeluarkan daftar tagihan pengobatan. "Pertama-tama, pergi ke ruang tagihan dan bayar total delapan belas ribu yuan."

Ilmu kedokterannya gagal menyelamatkan pasien, tapi seorang pemuda muda justru berhasil. Tentu saja hatinya dongkol tak terkira.

"Kau yakin, tagihan sebanyak itu?" Li Xiaoyan hampir pingsan lagi, wajahnya yang baru saja kembali berwarna kini memucat kembali. Dia baru saja dirawat selama satu hari satu malam, tapi tagihan medis sudah mendekati dua puluh ribu yuan?

"Biarkan aku lihat detail pengobatannya," kata Lin Xuan dengan suara tenang namun tegas.

Zhou Bin dengan gerakan tak sabar melemparkan daftar detail pengobatan itu ke arah Lin Xuan. "Kalau bukan karena obat-obatan ini, ibumu tak akan seberuntung itu bisa bertahan hidup."

Lin Xuan memungut daftar itu dari lantai, matanya menyapu baris demi baris. Dia menemukan bahwa sebagian besar biaya medis berasal dari ruang ICU, dan obat-obatan yang digunakan kebanyakan adalah anti-peradangan serta penghilang stasis darah. Meski obat-obatan itu memang efektif dalam kondisi normal, bagi Li Xiaoyan yang tadi sudah di ambang kematian, semuanya itu tak berguna sama sekali. Namun, tagihan pengobatan kini sudah terpampang nyata di depan matanya, membuat hatinya terasa terbebani berat, seperti ditindih batu besar.

Biaya medis hampir dua puluh ribu yuan mungkin tak seberapa bagi keluarga Lin di masa lalu, tapi belakangan ini semua uang mereka sudah terkuras habis untuk urusan pernikahan. Kini, mereka tak mungkin lagi mengeluarkan dua puluh ribu yuan begitu saja.

Keluarga Lin yang tadi masih dipenuhi sukacita kini kembali terjerat dilema yang menyakitkan. Sepertinya mereka harus meminjam uang lagi, meski pun mereka juga tahu hal itu juga tidaklah mudah.

Tepat saat mereka kebingungan tak tahu harus berbuat apa, tiba-tiba terdengar keributan heboh di koridor ruang darurat. Beberapa orang berlari sambil mendorong ranjang pasien, membawa seorang gadis berusia hampir dua puluh tahun dengan tubuh yang menggigil hebat, mulutnya terus menerus menguarkan isi perut tanpa henti.

"Minggir! Awas...Minggir cepat!" teriak mereka panik, suara langkah kaki dan roda ranjang bergema keras di koridor yang sunyi.

"Dokter, cepat periksa putri saya!" Pria paruh baya yang mendorong ranjang pasien itu tampak begitu gelisah, keringat dingin membasahi dahinya, suaranya pun parau terdengar patah-patah.

Perawat ruang darurat di sampingnya segera menjelaskan dengan nada hormat, "Direktur Zhou, ini adalah Tuan Meng Kaoming, presiden Grup Meng Sheng. Pasien adalah putrinya, Meng Ting. Pihak rumah sakit sudah memerintahkan kita untuk mengerahkan segala upaya menyelamatkannya."

"Cepat angkat dia ke ranjang dan mulai resusitasi segera!"

Grup Meng Sheng merupakan salah satu perusahaan papan atas di Kota Haiyang. Selama bertahun-tahun, mereka telah banyak menyumbang peralatan medis canggih ke rumah sakit pusat ini. Bagaimana mungkin Zhou Bin berani lengah? Dia segera bergegas memeriksa hasil pemeriksaan, membaca berkali-kali dengan teliti sebelum akhirnya menghela napas lega yang panjang.

"Tuan Meng, putri Anda baik-baik saja. Hanya masuk angin biasa ditambah kegugupan berlebih, sehingga pingsan dan muntah-muntah kering. Suntikan penenang saja sudah cukup untuk menyembuhkannya."

Zhou Bin masih sangat percaya diri dengan kemampuan medisnya. Dia juga menyadari bahwa gadis kaya dari keluarga Meng ini sebenarnya tak memiliki masalah besar, dan Meng Kaoming hanya bereaksi berlebihan karena terlalu khawatir pada putri kesayangannya.

"Bagus, bagus sekali. Cepat suntik penenangnya." Hati Meng Kaoming akhirnya agak tenang, napasnya yang tadi tersengal mulai teratur kembali.

"Tunggu!! Jangan berikan suntikan penenang itu! Yang dideritanya bukan sekadar masuk angin biasa. Jika dipaksa disuntik penenang, kondisinya bisa semakin memburuk, bahkan sampai membahayakan nyawanya!"

Tepat saat perawat hendak menyuntikkan obat penenang ke tubuh Meng Ting, Lin Xuan melangkah maju dengan tegas, menghalangi Zhou Bin. Sebenarnya, Lin Xuan sudah lama menyadari bahwa kondisi Meng Ting tak sesederhana itu. Jika penenang disuntikkan secara gegabah, efeknya bisa berbalik menjadi bencana, bahkan merenggut nyawa gadis itu.

Sebagai lulusan universitas kedokteran sekaligus pewaris ilmu pengobatan kuno, bagaimana mungkin Lin Xuan tega berdiam diri melihat seseorang meregang nyawa di depan matanya? Kata-katanya seketika menarik perhatian Meng Kaoming dan Zhou Bin yang sedang tegang.

"Kau dokter atau aku yang dokter? Kamu punya hak bicara di sini?" balas Zhou Bin kesal, wajahnya memerah karena malu ditantang oleh orang asing di pintu ruang darurat. "Sejak kapan orang biasa seperti mu punya wewenang atas pasien di rumah sakit ini, hah?!"

Tanpa menghiraukan Zhou Bin sama sekali, Lin Xuan menatap Meng Kaoming dengan tatapan serius. "Jika aku tidak salah, pasien ini memiliki penyakit bawaan. Jika penenang dipaksa digunakan, akibatnya bisa sangat fatal Pak, percayalah!"

Meng Kaoming terperanjat. Dia sama sekali tak menyangka pemuda muda ini mampu melihat sekilas saja sudah menembus kondisi putrinya yang tersembunyi.

"Dokter Zhou, dokter ini siapa?" tanya Meng Kaoming dengan nada penasaran bercampur hormat.

"Kalau dia dokter, berarti aku direktur rumah sakit pusat," cibir Zhou Bin dengan nada sinis yang dan tatapan kesal yang begitu jelas.

Mengabaikan ejekan Zhou Bin itu, Lin Xuan memperkenalkan diri dengan tenang. "Nama saya Lin Xuan. Saya lulusan Universitas Kedokteran Haiyang dan memiliki sedikit pengetahuan medis. Saat ini, saya sedang membantu di Apotek Ping An milik ayah saya."

Zhou Bin terkekeh lagi, "Cih! Kau pikir Pak Meng Kaoming ---

****

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • JARUM PERAK DEWA MEDIS: Kebangkitan Lin Xuan!   Bab 190.

    Lin Xuan sampai di toko buku ketika langit sudah berwarna jingga gelap. Lampu-lampu di Alun-Alun Ping'an mulai menyala satu per satu, menciptakan bayangan panjang yang bergerak-gerak di trotoar basah karena hujan gerimis sore tadi.Ding Yajun berdiri di depan pintu toko. Tangannya memegang payung yang tidak dibuka, rambutnya sedikit basah di bagian pucuk. Matanya langsung menangkap sosok Lin Xuan yang berjalan dari arah timur, dan sebelum sadar, kakinya sudah bergerak menyambut.“Kamu basah,” kata Lin Xuan begitu mereka bertemu.“Kamu janji akan kembali,” jawab Ding Yajun. Suaranya datar, tapi tangannya gemetar saat meraih lengan Lin Xuan.“Aku kembali.”Ding Yajun tidak menjawab. Dia hanya memegang erat lengan itu, merasakan kehangatan yang perlahan kembali merambat dari tubuh Lin Xuan. Mereka berdiri di tengah plaza beberapa saat, sampai Ding Yajun akhirnya menghela napas panjang.“Ayo masuk,” katanya. “Nanti sakit.”D

  • JARUM PERAK DEWA MEDIS: Kebangkitan Lin Xuan!   Bab 189.

    Pertarungan dengan He Yanfeng meninggalkan bekas yang tidak langsung terlihat. Bukan di tubuh Lin Xuan, tapi di sekitar toko buku. Sejak hari itu, beberapa toko di kawasan Alun-Alun Ping'an mulai memperlakukan Lin Xuan dengan cara yang berbeda. Ada yang tiba-tiba menjadi lebih ramah, ada yang justru menjaga jarak, takut terlibat dalam masalah yang lebih besar.Xu Kun datang setiap hari, membawa informasi dari berbagai sumber. Dia sudah membangun jaringan kecil di antara anak-anak muda yang pernah bergaul dengannya, dan sekarang jaringan itu berguna untuk memantau pergerakan Perguruan Haotian.“Bang Lin, He Pengfei sudah kembali ke Haiyang,” lapor Xu Kun sore itu, duduk di kursi depan meja dengan segelas es teh di tangan. “Katanya dia langsung mengumpulkan murid-murid seniornya. He Yanfeng dan He Lei juga ikut. Pertemuan tertutup, gue nggak bisa dapat informasi detail.”Lin Xuan sedang menyusun beberapa buku baru yang datang pagi tadi. Tangannya tidak berhe

  • JARUM PERAK DEWA MEDIS: Kebangkitan Lin Xuan!   Bab 188.

    Keesokan paginya, suasana di sekitar Alun-Alun Ping'an terasa berbeda sejak matahari belum sepenuhnya terbit. Biasanya, kawasan ini mulai ramai sekitar pukul sembilan, ketika para pedagang kaki lima membuka gerobak dan toko-toko perlahan menaikkan tirai besi. Tapi pagi itu, sejak pukul setengah delapan, beberapa pria berbadan besar sudah terlihat berkumpul di area parkir sebelah timur. Mereka tidak berbicara keras, tidak merokok sembarangan, hanya berdiri berkelompok dengan tatapan yang sesekali diarahkan ke satu titik: toko buku Lin Xuan.Xu Kun tiba lebih awal. Dia memarkir mobilnya agak jauh, lalu berjalan kaki mendekati toko buku sambil menyusuri trotoar. Matanya mengamati setiap sudut. Anak buahnya yang tiga orang sudah berjaga sejak satu jam lalu, menyamar di antara pedagang dan pengunjung pagi.“Bang,” satu anak buahnya berbisik saat Xu Kun lewat. “Mereka mulai datang sejak jam tujuh. Sekarang udah sekitar empat puluh orang. Tapi katanya masih banyak yang be

  • JARUM PERAK DEWA MEDIS: Kebangkitan Lin Xuan!   Chapter 187.

    Malam itu, setelah mengantar Ding Yajun pulang, Lin Xuan tidak langsung kembali ke toko buku. Dia memarkir mobil di pinggir jalan dekat Alun-Alun Ping'an, membuka ponsel, dan membaca ulang pesan dari Xu Kun.“Bang Lin, ada kabar dari Haotian. He Yanfeng cari-cari orang tanya alamat toko lo. Hati-hati.”Dia membalas pesan itu. “Dari mana sumbernya?”Beberapa menit kemudian, ponselnya berdering. Xu Kun menelepon langsung.“Bang Lin, ada anak buah gue yang dengar dari temannya yang les di Haotian. He Yanfeng udah kumpulin anak buah. Katanya mau datang besok atau lusa. Mereka nggak terima adiknya dihajar.”“He Lei yang mulai,” kata Lin Xuan datar.“Gue tahu, Bang. Tapi buat mereka, siapa yang mulai nggak penting. Yang penting keluarga Haotian dipermalukan di depan umum. Apalagi He Yanfeng itu tipe orang yang nggak bisa lihat adiknya babak belur. Dulu gue pernah dengar, ada orang yang cuma dorong He Lei pas lagi rame, besoknya langsung dihadang sama He Yanfeng dan anak buahnya. Tulang rusu

  • JARUM PERAK DEWA MEDIS: Kebangkitan Lin Xuan!   Bab 186.

    Manajer toko itu berdiri di samping meja kasir, jemarinya masih sibuk menghitung ulang total belanjaan. Tiga ratus dua puluh ribu. Angka yang tidak kecil untuk toko pakaian sekelas ini, tapi bukan yang terbesar yang pernah mereka tangani. Namun yang membuat manajer itu agak gugup adalah cara pembeli ini membelanjakan uangnya. Tanpa tawar, tanpa banyak bicara, tanpa ekspresi bangga atau pamer. Hanya perintah singkat, lalu kartu diserahkan.“Pak, semua sudah kami bungkus. Delapan item sesuai daftar,” kata manajer itu sambil membungkuk hormat. Dua pramuniaga di belakangnya membawa beberapa kantong belanjaan dengan rapi.Lin Xuan mengangguk. “Antarkan ke mobil.”“Baik, Pak.”Xiao Lu masih berdiri di tempat yang sama sejak tadi. Mulutnya terbuka sedikit, matanya tidak berkedip. Dia melihat manajer itu berjalan melewatinya dengan tangan penuh kantong belanjaan, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa menit terakhir, dia sadar bahwa dia tidak bisa lagi menganggap remeh pemuda di depannya.S

  • JARUM PERAK DEWA MEDIS: Kebangkitan Lin Xuan!   Ba 185.

    Ding Yajun sedang berbelanja di Alun-Alun Ping'an. Lin Xuan baru saja menutup telepon dan langsung mengemudi ke sana. Alun-Alun Ping'an adalah kompleks komersial raksasa yang terbagi menjadi beberapa area, seperti area kuliner, area pakaian, dan area kebutuhan hidup. Ding Yajun sedang berbelanja di area pakaian saat Lin Xuan tiba, dan dia menyambutnya di pintu masuk."Lin Xuan..." Ding Yajun mengaitkan lengannya dengan Lin Xuan."Ada apa?" Lin Xuan agak terkejut melihat dia datang mendekat dan langsung bergandengan seperti ini. Meskipun hubungan mereka sudah diakui di depan umum, perasaan mereka tetap harus dikembangkan perlahan."Tidak ada, kan kamu pacarku?" Ding Yajun tersipu dan menunduk."Itu hanya omongan kita ke Wei Ming," jawab Lin Xuan. Sebelumnya, Ding Yajun memang pernah mengakui Lin Xuan sebagai pacarnya di rumah sakit, tapi itu hanya siasat sementara agar Wei Ming percaya."Itu tidak hanya untuk Wei Ming," kata Ding Yajun, masih menunduk. Dia juga sebenarnya ingin memberi

  • JARUM PERAK DEWA MEDIS: Kebangkitan Lin Xuan!   2. Suara Agung.

    "Lili aku tanya sekali lagi, kau yakin setuju dengan keputusa ibumu?" tanya Lin Xuan pelan."Sudah, batal! Semua batal!!" jawab Xu Mei lantang, suaranya menggema hingga gelas-gelas kristal di meja bergetar pelan. "Hanya tiga ratus ribu yuan saja, kau bahkan tak mampu mengeluarkannya. Aku akan menca

  • JARUM PERAK DEWA MEDIS: Kebangkitan Lin Xuan!   1. Pertunangan Batal!

    Hari ini seharusnya menjadi puncak kebahagiaan, pesta pertunangan antara Lin Xuan dan Zhang Li. Namun kini, segalanya berubah menjadi arena pertempuran yang sengit untuk ke dua keluarga itu.Wanita paruh baya bermake-up tebal, Xu Mei, duduk tegak di kursi utama, lengan disilangkan di depan dada, bi

  • JARUM PERAK DEWA MEDIS: Kebangkitan Lin Xuan!   8. Tersudut.

    Lin Xuan membawa orang tuanya kembali ke Klinik Ping dengan taksi. Bahkan sebelum mereka turun, sudah terlihat kerumunan orang berjejal di depan klinik. Sebuah sedan Volkswagen hitam terparkir di pintu masuk dengan tulisan "inspeksi kesehatan" di sampingnya. Penonton berdesakan, ingin tahu apa yang

  • JARUM PERAK DEWA MEDIS: Kebangkitan Lin Xuan!   7. Temukan Dia!

    Meng Kaiming dan istrinya membawa putri mereka di atas mobil mewah dengan pengasuh. Xu Yan tak henti-hentinya mengutuk lulusan muda itu sepanjang jalan, mulutnya terus bergumam. "Aku tak tahu dari mana anak itu berasal. Tak tahu apa-apa tapi berani memperlakukan putriku begitu! Untungnya Direktur Z

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status