ログイン--- Ingin mengenalmu." ucapan Zhou Bin memgundang gelak tawa para perawat.
"Oh, jadi kau baru lulus? Aku kira kau ini dokter ajaib dari mana," ujar Meng Kaoming sambil tersenyum tipis, dan tatapan aneh. Grup Meng Sheng memiliki hubungan erat dengan rumah sakit pusat ini, bahkan direktur rumah sakit pun akan menyambut mereka dengan senyum lebar. Zhou Bin juga tertawa ringan, suaranya penuh percaya diri yang menutupi rasa malu sebelumnya. "Tuan Meng, jangan dengar omong kosong anak ini. Sebenarnya situasi sekarang hanya masalah sederhana yang dibuat rumit saja." "Direktur Zhou, cepat berikan obat itu pada putriku," desak Meng Kaoming dengan tegas. "Baiklah." Zhou Bin segera menyuntikkan obat penenang ke tubuh Meng Ting. Gejalanya memang cepat membaik, muntah berhenti, getaran tubuhnya perlahan mereda. Melihat pemandangan itu, Meng Kaoming langsung yakin bahwa Lin Xuan hanyalah pemuda bodoh yang sok pintar, berani ikut campur urusan medis. Zhou Bin meletakkan jarum suntik dengan gerakan santai, senyum puas yang angkuh muncul di bibirnya, "Aku sudah bilang, ini hanya masuk angin biasa, tak perlu dibesar-besarkan." "Seperti yang diharapkan dari direktur departemen, ilmu kedokteran Dokter Zhou memang luar biasa," puji Meng Kaoming sambil tersenyum lebar, hatinya dipenuhi rasa gembira yang meledak-ledak. Namun tepat pada saat itu, Meng Ting yang terbaring di ranjang rumah sakit tiba-tiba batuk keras dengan hebat. "ARGHH.. OHOKKK! OHOKKHH...!" Tubuh kejang-kejang, busa putih keluar dari mulutnya bagai gelembung sabun yang mengerikan. Alat monitor langsung berbunyi bip-bip dengan cepat, menunjukkan detak jantung yang melonjak tak terkendali. "A-apa... apa yang terjadi ini?" Wajah Zhou Bin langsung memucat bagai mayat, keringat dingin mengucur deras dari dahinya. Dia terus menepuk-nepuk punggung Meng Ting dengan panik, tapi tangannya gemetar, pikirannya kosong, tak tahu harus berbuat apa. Baru saja kondisinya membaik, bagaimana bisa tiba-tiba kambuh begini parah? "Direktur Zhou, kau harus cari cara! Dia satu-satunya putriku!" teriak Meng Kaoming dengan suara menggelegar, matanya merah karena amarah dan ketakutan yang bercampur menjadi satu. "..." Zhou Bin hanya bisa diam, dahi penuh keringat deras yang tak henti mengalir. Dia tak berani berkata sepatah kata pun, kepercayaan dirinya hancur berkeping-keping, bahkan mulai meragukan kemampuan medisnya sendiri. "Tabib gadungan! Obat apa yang kau suntikkan ke putriku? Bagaimana bisa jadi begini?!" bentak Meng Kaoming lagi. "Aku sudah bilang tadi, putri Anda bukan sekadar masuk angin, dia keracunan! Ditambah lagi obat penenang yang bergulung di dalam tubuhnya. Jika tidak segera ditolong, nyawanya benar-benar dalam bahaya!" Begitu Lin Xuan selesai berbicara, Lin Quanyou segera menarik kerah baju putranya dengan keras, memperingatkan agar tak bicara sembarangan. Apa lagi melihat Meng Kaoming yang sudah murka memelototi Zhou Bin dengan tatapan membunuh, tangannya sudah terkepal dengan kuat. "Zhou Bin, aku bunuh kau!" "Tuan Meng, Tuan Meng! Kekerasan tak akan menyelesaikan apa-apa. Yang terpenting sekarang adalah menyelamatkan Nona Meng, bukan?" Zhou Bin berusaha membela diri dengan suara gemetar, ketakutan nyata terpancar di matanya. Dia tahu betul Meng Kaoming punya kekuasaan untuk menghancurkan kariernya dalam sekejap. "Kau lebih baik selamatkan putriku, kalau tidak, aku pastikan kau akan mati dengan mengenaskan!" "Tuan Meng, bagaimana kalau kita biarkan pemuda ini mencoba? Dia tadi sepertinya tahu apa yang dibicarakannya," usul Zhou Bin sambil merapikan jas putihnya, tatapannya ke arah Lin Xuan penuh provokasi dan ejekan tersembunyi. "Hei, kau! Tadi sepertinya kau sangat paham dengan kondisi putriku. Apa kau punya cara untuk menyelamatkannya?" "Aku bisa mencobanya, jika Pak Meng berkenan." jawab Lin cepat. "Lin Xuan!" Begitu Lin Xuan membuka mulut, Li Xiaoyan di belakangnya segera meraih lengannya dengan erat, berbisik dengan nada cemas yang tak bisa disembunyikan, "Kau tidak tahu cara mengobati penyakit. Jangan buat masalah. Pak Meng bukan orang yang bisa kau sentuh." "Ibu, bukankah tadi aku sudah menyembuhkan penyakit Ibu? Tenang saja, aku sudah belajar kedokteran beberapa tahun dan aku yakin bisa." Tak bisa menjelaskan warisan ilmu kuno itu kepada ibunya, Lin Xuan terpaksa mengada-ada alasan sementara. "Iya, anak ini sudah belajar kedokteran beberapa tahun. Mungkin dia lebih percaya diri daripada aku, dokter kepala yang sudah berkecimpung di bidang ini lebih dari tiga puluh tahun?" Zhou Bin memelototinya dengan rahang yang menegang. Dia sangat sadar bahwa kondisi Meng Ting jauh lebih rumit daripada yang dibayangkannya semula. Bahkan jika Qi Lao datang sekalipun, kemungkinan berhasil mungkin tak sampai sepuluh persen. Meng Kaoming yang berdiri di samping dengan gelisah, diam terpaku cukup lama, lalu tiba-tiba menoleh tajam ke arah Lin Xuan, matanya penuh harapan terakhir yang rapuh. "Pemuda, berapa persen keyakinanmu?" "Tujuh puluh persen!" "Tujuh puluh persen?" Zhou Bin langsung tertawa terbahak, suaranya nyaring penuh sindiran. "Kau harus tahu, bahkan Qi Lao yang menghadapi penyakit rumit seperti ini mungkin hanya punya peluang berhasil tiga hingga empat puluh persen saja. Anak muda jaman sekarang benar-benar pintar membual!" Meng Kaoming memejamkan mata rapat, secercah keputusasaan samar terpancar di antara alisnya yang berkerut dalam. Situasi saat ini tak memberinya waktu untuk berpikir panjang. Setelah berjuang batin sejenak, dia tiba-tiba membuka mata lagi, tatapannya tegas meski hati remuk redam. "Baiklah, pemuda. Aku serahkan putriku padamu. Tapi jika terjadi apa-apa padanya, kau dan keluargamu akan menanggung akibatnya." Lin Xuan melihat Meng Kaoming sudah setuju, tak berkata apa-apa lagi. Dengan kantong jarum perak di tangan, dia bersiap masuk ke ruang darurat. Lin Quanyou dan Li Xiaoyan terus menggelengkan kepala di sampingnya, memberi isyarat agar dia tak nekat maju. Meng Kaoming dan keluarganya sudah mereka dengar namanya, dia adalah tokoh besar di Kota Haiyang. Jika gagal menyembuhkan putrinya, Lin Xuan bisa saja terjerat masalah yang tak bisa diperbaiki lagi seumur hidup. "Ayah, Ibu, jangan khawatir. Aku yakin bisa." Lin Xuan menepis tangan ayahnya dengan lembut tapi tegas, lalu berbalik memasuki ruang darurat. Namun di depan pintu, Zhou Bin menghadangnya dengan sikap angkuh. "Walaupun sudah me dapatkan izin untuk mengobati, aku harus ada di sana untuk mengawasimu ," kata Zhou Bin dingin. Dia menutup pintu rapat-rapat dan ikut masuk ke dalam ruang darurat. Kondisi Meng Ting sangat khusus, tak boleh terganggu oleh suara-suara dari luar sama sekali. Tanpa menghiraukan Zhou Bin, Lin Xuan mendekati pasien dengan langkah mantap. Dia merobek pakaian luar Meng Ting dengan hati-hati, memeriksa berbagai bagian lengan dan kepalanya secara teliti. Pasien sudah tak lagi kejang-kejang, tapi ada beberapa titik di tubuhnya di mana darah mulai menggenang dan membeku. Lin Xuan membuka kantong jarumnya yang berisi ratusan jarum perak berbagai ukuran. Dia pertama-tama membersihkan jarum-jarum itu dengan alkohol, lalu mengambil beberapa jarum perak sepanjang tiga inci, dengan lincah menusukkannya ke dahi Meng Ting. Kecepatannya begitu kilat, hingga orang lain bahkan tak sempat melihat dengan jelas sebelum jarum-jarum itu sudah tertancap sempurna. Selanjutnya, dia menusukkan jarum tipis sepanjang dua inci ke beberapa titik tempat darah menggenang. "Hmph, semua ini hanya tipu muslihat belaka," Zhou Bin yang mengawasi dari samping mendengus dingin, nada suaranya penuh penghinaan. Sebagai ahli saraf yang mempelajari kedokteran Barat, dia secara alami tak bisa menerima trik-trik pengobatan tradisional Tiongkok. Dalam pandangannya, Lin Xuan hanya sedang berakting dan memamerkan kemampuan palsu yang ia miliki. Di luar pintu ruang darurat, direktur rumah sakit Zhang Haozhi baru saja tiba dengan napas tersengal. Istri Meng Kaoming, Xu Yan, juga baru saja berlari tergesa-gesa sampai ke depan pintu ruang darurat itu, wajahnya yang biasa cantik cerah, kini pucat bagaikan kapas. "Sayang, bagaimana keadaan putri kita?" ***Lin Xuan sampai di toko buku ketika langit sudah berwarna jingga gelap. Lampu-lampu di Alun-Alun Ping'an mulai menyala satu per satu, menciptakan bayangan panjang yang bergerak-gerak di trotoar basah karena hujan gerimis sore tadi.Ding Yajun berdiri di depan pintu toko. Tangannya memegang payung yang tidak dibuka, rambutnya sedikit basah di bagian pucuk. Matanya langsung menangkap sosok Lin Xuan yang berjalan dari arah timur, dan sebelum sadar, kakinya sudah bergerak menyambut.“Kamu basah,” kata Lin Xuan begitu mereka bertemu.“Kamu janji akan kembali,” jawab Ding Yajun. Suaranya datar, tapi tangannya gemetar saat meraih lengan Lin Xuan.“Aku kembali.”Ding Yajun tidak menjawab. Dia hanya memegang erat lengan itu, merasakan kehangatan yang perlahan kembali merambat dari tubuh Lin Xuan. Mereka berdiri di tengah plaza beberapa saat, sampai Ding Yajun akhirnya menghela napas panjang.“Ayo masuk,” katanya. “Nanti sakit.”D
Pertarungan dengan He Yanfeng meninggalkan bekas yang tidak langsung terlihat. Bukan di tubuh Lin Xuan, tapi di sekitar toko buku. Sejak hari itu, beberapa toko di kawasan Alun-Alun Ping'an mulai memperlakukan Lin Xuan dengan cara yang berbeda. Ada yang tiba-tiba menjadi lebih ramah, ada yang justru menjaga jarak, takut terlibat dalam masalah yang lebih besar.Xu Kun datang setiap hari, membawa informasi dari berbagai sumber. Dia sudah membangun jaringan kecil di antara anak-anak muda yang pernah bergaul dengannya, dan sekarang jaringan itu berguna untuk memantau pergerakan Perguruan Haotian.“Bang Lin, He Pengfei sudah kembali ke Haiyang,” lapor Xu Kun sore itu, duduk di kursi depan meja dengan segelas es teh di tangan. “Katanya dia langsung mengumpulkan murid-murid seniornya. He Yanfeng dan He Lei juga ikut. Pertemuan tertutup, gue nggak bisa dapat informasi detail.”Lin Xuan sedang menyusun beberapa buku baru yang datang pagi tadi. Tangannya tidak berhe
Keesokan paginya, suasana di sekitar Alun-Alun Ping'an terasa berbeda sejak matahari belum sepenuhnya terbit. Biasanya, kawasan ini mulai ramai sekitar pukul sembilan, ketika para pedagang kaki lima membuka gerobak dan toko-toko perlahan menaikkan tirai besi. Tapi pagi itu, sejak pukul setengah delapan, beberapa pria berbadan besar sudah terlihat berkumpul di area parkir sebelah timur. Mereka tidak berbicara keras, tidak merokok sembarangan, hanya berdiri berkelompok dengan tatapan yang sesekali diarahkan ke satu titik: toko buku Lin Xuan.Xu Kun tiba lebih awal. Dia memarkir mobilnya agak jauh, lalu berjalan kaki mendekati toko buku sambil menyusuri trotoar. Matanya mengamati setiap sudut. Anak buahnya yang tiga orang sudah berjaga sejak satu jam lalu, menyamar di antara pedagang dan pengunjung pagi.“Bang,” satu anak buahnya berbisik saat Xu Kun lewat. “Mereka mulai datang sejak jam tujuh. Sekarang udah sekitar empat puluh orang. Tapi katanya masih banyak yang be
Malam itu, setelah mengantar Ding Yajun pulang, Lin Xuan tidak langsung kembali ke toko buku. Dia memarkir mobil di pinggir jalan dekat Alun-Alun Ping'an, membuka ponsel, dan membaca ulang pesan dari Xu Kun.“Bang Lin, ada kabar dari Haotian. He Yanfeng cari-cari orang tanya alamat toko lo. Hati-hati.”Dia membalas pesan itu. “Dari mana sumbernya?”Beberapa menit kemudian, ponselnya berdering. Xu Kun menelepon langsung.“Bang Lin, ada anak buah gue yang dengar dari temannya yang les di Haotian. He Yanfeng udah kumpulin anak buah. Katanya mau datang besok atau lusa. Mereka nggak terima adiknya dihajar.”“He Lei yang mulai,” kata Lin Xuan datar.“Gue tahu, Bang. Tapi buat mereka, siapa yang mulai nggak penting. Yang penting keluarga Haotian dipermalukan di depan umum. Apalagi He Yanfeng itu tipe orang yang nggak bisa lihat adiknya babak belur. Dulu gue pernah dengar, ada orang yang cuma dorong He Lei pas lagi rame, besoknya langsung dihadang sama He Yanfeng dan anak buahnya. Tulang rusu
Manajer toko itu berdiri di samping meja kasir, jemarinya masih sibuk menghitung ulang total belanjaan. Tiga ratus dua puluh ribu. Angka yang tidak kecil untuk toko pakaian sekelas ini, tapi bukan yang terbesar yang pernah mereka tangani. Namun yang membuat manajer itu agak gugup adalah cara pembeli ini membelanjakan uangnya. Tanpa tawar, tanpa banyak bicara, tanpa ekspresi bangga atau pamer. Hanya perintah singkat, lalu kartu diserahkan.“Pak, semua sudah kami bungkus. Delapan item sesuai daftar,” kata manajer itu sambil membungkuk hormat. Dua pramuniaga di belakangnya membawa beberapa kantong belanjaan dengan rapi.Lin Xuan mengangguk. “Antarkan ke mobil.”“Baik, Pak.”Xiao Lu masih berdiri di tempat yang sama sejak tadi. Mulutnya terbuka sedikit, matanya tidak berkedip. Dia melihat manajer itu berjalan melewatinya dengan tangan penuh kantong belanjaan, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa menit terakhir, dia sadar bahwa dia tidak bisa lagi menganggap remeh pemuda di depannya.S
Ding Yajun sedang berbelanja di Alun-Alun Ping'an. Lin Xuan baru saja menutup telepon dan langsung mengemudi ke sana. Alun-Alun Ping'an adalah kompleks komersial raksasa yang terbagi menjadi beberapa area, seperti area kuliner, area pakaian, dan area kebutuhan hidup. Ding Yajun sedang berbelanja di area pakaian saat Lin Xuan tiba, dan dia menyambutnya di pintu masuk."Lin Xuan..." Ding Yajun mengaitkan lengannya dengan Lin Xuan."Ada apa?" Lin Xuan agak terkejut melihat dia datang mendekat dan langsung bergandengan seperti ini. Meskipun hubungan mereka sudah diakui di depan umum, perasaan mereka tetap harus dikembangkan perlahan."Tidak ada, kan kamu pacarku?" Ding Yajun tersipu dan menunduk."Itu hanya omongan kita ke Wei Ming," jawab Lin Xuan. Sebelumnya, Ding Yajun memang pernah mengakui Lin Xuan sebagai pacarnya di rumah sakit, tapi itu hanya siasat sementara agar Wei Ming percaya."Itu tidak hanya untuk Wei Ming," kata Ding Yajun, masih menunduk. Dia juga sebenarnya ingin memberi
Beberapa orang itu akhirnya melangkah masuk ke dalam Supreme Suite. Begitu melewati pintu kayu besar berlapis emas, mereka disambut oleh pemandangan yang benar-benar berbeda dari area klub manapun. Udara di dalamnya terasa sejuk dengan aroma parfum elegan yang samar, seolah memasuki dunia lain ya
“Wah! Bagus sekali!” Deng Ling berseru girang, kedua tangannya spontan bertepuk. Matanya berbinar seperti anak kecil yang baru saja diberi kado melebihi ekspektasi. Rencana awalnya cuma ruang privat mewah biasa, kini tiba-tiba di-upgrade ke suite tertinggi? Bagaimana mungkin dia tidak senang?Namun
"Apa-apaan ini?" Suasana di dalam ruangan seketika membeku. Tiba-tiba saja muncul seseorang yang tidak dikenal, lalu dengan entengnya menawarkan sebuah area pertokoan seluas lebih dari 3.000 meter persegi kepada Lin Xuan secara cuma-cuma? Udang yang baru saja diambil oleh Jiang Shouchang de
"Paman Ketiga seharusnya sudah kembali sekarang," kata Qin Banxue sambil melirik jam di ponselnya. Matanya sesekali menatap Lin Xuan, lalu cepat-cepat berpaling."Lao Hong, tolong antar Tuan Louis keluar."Kakek Qin mengulurkan tangan pada Lao Hong, lalu dengan sopan mengan







