แชร์

7. Temukan Dia!

ผู้เขียน: J.A
last update วันที่เผยแพร่: 2026-01-15 15:47:38

Meng Kaiming dan istrinya membawa putri mereka di atas mobil mewah dengan pengasuh. Xu Yan tak henti-hentinya mengutuk lulusan muda itu sepanjang jalan, mulutnya terus bergumam. "Aku tak tahu dari mana anak itu berasal. Tak tahu apa-apa tapi berani memperlakukan putriku begitu! Untungnya Direktur Zhou bertanggung jawab. Dia beruntung kali ini, atau kuhajar habis dia!"

"Biarkan saja, selama Mening tak apa-apa," kata Meng Kaiming mencoba menenangkan.

"Ya, Bu. Aku baik-baik saja sekarang," bohong Meng Ting dari kursi belakang, mungkin sudah terganggu oleh keluhan ibunya yang tak putus.

Melihat Mening baik-baik saja, Xu Yan akhirnya berhenti mengomel. Tapi sebelum dia sempat lega—

Krak!

Badan Meng Ting tiba-tiba kaku, lalu jatuh terguling ke lantai mobil, gemetar kejang-kejang dan mulutnya kembali berbusa.

"Mening! Mening!!" teriak pengasuhnya.

Meng Kaiming buru-buru memeluk putrinya. "Ada apa ini?!"

Xu Yan membeku, tak paham apa yang terjadi. Tak peduli sekeras apa dia mengguncang-guncang tubuh Meng Ting, gadis itu tak kunjung sadar.

"Sudah kubilang lulusan muda itu tak bisa menyembuhkannya! Lihat? Dia kambuh lagi sebelum sampai rumah!"

"Cepat, bawa ke rumah sakit!!"

Mobil baru saja berhenti. Meng Kaiming segera menggendong Meng Ting, pindah ke mobil lain, dan melaju sendiri ke rumah sakit pusat. Xu Yan telah menelepon Zhang Haozhi di depan, sehingga rumah sakit melewatkan semua prosedur. Mereka langsung membawa putri mereka ke ruang gawat darurat.

"Pasti salah anak itu! Pasti!" teriak Xu Yan.

Zhou Bin juga cepat-cepat dipanggil. Melihat gejala Meng Ting, dia panik dan takut keluarga Meng menyalahkannya, jadi buru-buru melemparkan kesalahan pada Lin Xuan. "Direktur Zhou, ini bukan soal siapa yang salah sekarang!" tegas Zhang Haozhi. "Masalah terbesar adalah bagaimana menyembuhkan pasien!"

Meng Ting kembali masuk rumah sakit pusat—pukulan telak bagi reputasi rumah sakit. Apalagi, dia adalah putri Grup Meng Sheng. Jika ada celaka, direktur rumah sakit pun takkan sanggup menanggung risikonya. Qi Lao belum tiba, Zhang Haozhi jadi panik dan memusatkan harapannya pada Zhou Bin.

"Direktur Zhou, bukannya kau yang menyembuhkan Nona Meng tadi? Tolong obati dia lagi! Asal kau bisa menyembuhkan Nona Meng, rumah sakit akan memberimu kredit besar!"

Penyakit Meng Ting adalah satu-satunya harapan Zhou Bin, dan dia sudah berulang kali menekankan bahwa Meng Ting sudah keluar dari bahaya. Jadi, dia harus tampil percaya diri. “S-saya akan coba...” Tapi keringatnya mengucur deras, suaranya gagap. Dia cuma mencuri kredit kerja Lin Xuan. Bagaimana mungkin dia bisa menyembuhkan penyakit ini?!

"Ada masalah?!" sergah Xu Yan dengan nada dingin.

"Ti-tidak... tidak masalah." Menghadapi sorot mata Meng Kaiming dan istrinya, Zhou Bin terpaksa melanjutkan.

Dia sudah menyaksikan perawatan Lin Xuan. Jika dia meniru caranya, mungkin masih ada kesempatan. Zhou Bin mengambil satu set jarum perak dan dengan gemetar mencabutnya, siap menusukkannya ke tubuh Meng Ting. Tapi tangannya berkeringat dan gemetar hebat.

Persis saat ujung jarum mau ditusukkan, sebuah suara menggelegar dari luar ruang gawat darurat.

"JANGAN DITUSUK!!"

Semua orang menoleh.

Qi Lao, yang baru saja tiba, berdiri di sana.

"Qi Lao." Meski Meng Kaiming pengusaha papan atas, dia tetap menyapa Qi Heng dengan hormat.

Qi Heng adalah spesialis penyakit dalam ternama seantero negeri, pakar kasus-kasus rumit. Dia adalah pemimpin dunia medis Kota Haiyang, dijuluki malaikat penjaga kota. Melihat kedatangannya, Zhang Haozhi lega.

"Wajah pasien pucat, mulut berbusa. Jika ditusuk sembarangan, nyawanya bisa melayang!" kata Qi Lao. Zhou Bin gemetaran hebat, bingung harus berbuat apa. Meng Kaiming dan istrinya sudah bisa melihat bahwa dia tak sanggup.

"Qi Lao, apa yang harus kami lakukan?!" desak Zhang Haozhi dan Meng Kaiming serempak.

Zhou Bin wajahnya pucat pasi, tak berani bergerak, hatinya berdebar kencang. Qi Lao memeriksa catatan medis, lalu meraba tubuh Meng Ting. Dia menemukan beberapa bekas tusukan di area yang mengalami kemacetan energi.

"Pasien sebelumnya ditusuk jarum?" tanyanya.

"Ya! Seorang lulusan muda tak terkenal yang menusuknya. Di situlah masalahnya, Qi Lao!" sahut Zhou Bin cepat-cepat.

"Masalahnya bukan di situ!" seru Qi Lao tegas. "Masalahnya jarumnya dicabut sebelum waktunya!"

"Kondisi pasien masih belum stabil. Jarum perak ini harus tetap tertancap untuk membersihkan meridiannya. Sebelum periode kritis berakhir, jarum itu tak boleh dicabut! Siapa yang begitu bodoh mencabut jarum perak dari tubuh pasien?!" Zhou Bin basah kuyup oleh keringat dingin, seluruh tubuhnya gemetar.

"ZHOU BIN!!" Xu Yan melotot padanya, mata penuh amarah.

"Qi Lao, bisakah jarumnya ditusukkan kembali?" tanya Meng Kaiming.

Qi Lao melirik dingin ke arah Zhou Bin. "Direktur Zhou, sebagai ahli penyakit dalam, apa kau tak tahu betapa rumitnya meridian manusia? Kekuatan, ketepatan, sudut tusukan—semuanya vital! Tanpa keterampilan memadai, jika salah tusuk, akibatnya bisa terbalik, bahkan merenggut nyawa!"

"Zhou Bin, siapa yang memberimu wewenang mencabut jarum itu?! Apa yang coba kau buktikan?!" Zhang Haozhi begitu marah hingga ingin mengutuknya di tempat. Masalah tadinya sudah selesai, tapi malah diperparah orang ini.

"Lalu kita harus bagaimana?! HARUS BAGAIMANA?!" Xu Yan panik, tangannya terus menarik-narik rambutnya sendiri, kondisi mentalnya mulai tak stabil.

"Qi Lao, aku cuma punya satu putri. Kau adalah dewa penjaga Haiyang. Tolong pikirkan cara lain!" Bahkan Meng Kaiming yang sombong merendahkan wajah, memohon pada Qi Lao.

"Ah, aku juga ingin menyelamatkannya, tapi..." Qi Lao memandang bekas tusukan jarum di tubuh Meng Ting, lalu menggeleng. Bekas tusukan itu tepat di titik-titik vital tubuhnya. Melihat kedalaman dan kekuatan tusukannya, hampir sempurna. Itulah sebabnya Meng Ting sempat pulih sepenuhnya. Qi Lao tahu dalam hati, keterampilan akupunturnya sendiri pun tak setinggi pemuda misterius itu.

"Qi Lao, sungguh tak ada harapan?" tanya Meng Kaiming putus asa.

"Siapa yang mengikat, dialah yang harus melepaskan. Satu-satunya jalan sekarang adalah temukan lulusan muda itu. Mungkin dia masih bisa menolong. Masih ada secercah harapan."

"Apa?!" Mendengar kata-kata Qi Lao, Xu Yan dan Meng Kaiming serempak terbelalak.

Temukan lulusan muda itu? Dewa penjaga Kota Haiyang meminta mereka mencari lulusan muda itu?!

Xu Yan tampak bingung. "E... Namanya siapa lagi? Kita bahkan tak tahu di mana tinggalnya!"

Qi Lao menggeleng tanpa daya. "Jika tak ditemukan, nyawa nona muda akan terancam. Dan kondisinya kritis. Dia mungkin tak akan bertahan lama."

"... Aku tahu di mana lulusan muda itu. Aku bisa antar Nona Meng ke sana," tiba-tiba Zhou Bin bersuara. Ini mungkin satu-satunya kesempatannya menebus kesalahan.

"LALU APA YANG KAU TUNGGU?!" Meng Kaiming meledak. Melihat ekspresi Zhou Bin, dia ingin merobeknya.

"Jika ada apa-apa dengan putriku, kau takkan bisa tinggal lagi di Kota Haiyang! Cepat bawa kami untuk MEMOHON PADA NYA!"

Meng Kaiming tak pernah menyangka, lulusan muda yang mereka tinggalkan dengan penghinaan itu, akan menjadi satu-satunya harapan penyelamat putrinya.

"Ya, ya!" Kaki Zhou Bin lemas, tapi dia tak peduli lagi dengan gengsi sebagai kepala dokter. Dia mengangguk-angguk dan membungkuk, buru-buru memimpin jalan...

Tapi bisakah mereka menemukan Lin Xuan sebelum nyawa Meng Ting benar-benar tak bisa di selamatkan? Atau... sudah terlambat?

***

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • JARUM PERAK DEWA MEDIS: Kebangkitan Lin Xuan!   Bab 190.

    Lin Xuan sampai di toko buku ketika langit sudah berwarna jingga gelap. Lampu-lampu di Alun-Alun Ping'an mulai menyala satu per satu, menciptakan bayangan panjang yang bergerak-gerak di trotoar basah karena hujan gerimis sore tadi.Ding Yajun berdiri di depan pintu toko. Tangannya memegang payung yang tidak dibuka, rambutnya sedikit basah di bagian pucuk. Matanya langsung menangkap sosok Lin Xuan yang berjalan dari arah timur, dan sebelum sadar, kakinya sudah bergerak menyambut.“Kamu basah,” kata Lin Xuan begitu mereka bertemu.“Kamu janji akan kembali,” jawab Ding Yajun. Suaranya datar, tapi tangannya gemetar saat meraih lengan Lin Xuan.“Aku kembali.”Ding Yajun tidak menjawab. Dia hanya memegang erat lengan itu, merasakan kehangatan yang perlahan kembali merambat dari tubuh Lin Xuan. Mereka berdiri di tengah plaza beberapa saat, sampai Ding Yajun akhirnya menghela napas panjang.“Ayo masuk,” katanya. “Nanti sakit.”D

  • JARUM PERAK DEWA MEDIS: Kebangkitan Lin Xuan!   Bab 189.

    Pertarungan dengan He Yanfeng meninggalkan bekas yang tidak langsung terlihat. Bukan di tubuh Lin Xuan, tapi di sekitar toko buku. Sejak hari itu, beberapa toko di kawasan Alun-Alun Ping'an mulai memperlakukan Lin Xuan dengan cara yang berbeda. Ada yang tiba-tiba menjadi lebih ramah, ada yang justru menjaga jarak, takut terlibat dalam masalah yang lebih besar.Xu Kun datang setiap hari, membawa informasi dari berbagai sumber. Dia sudah membangun jaringan kecil di antara anak-anak muda yang pernah bergaul dengannya, dan sekarang jaringan itu berguna untuk memantau pergerakan Perguruan Haotian.“Bang Lin, He Pengfei sudah kembali ke Haiyang,” lapor Xu Kun sore itu, duduk di kursi depan meja dengan segelas es teh di tangan. “Katanya dia langsung mengumpulkan murid-murid seniornya. He Yanfeng dan He Lei juga ikut. Pertemuan tertutup, gue nggak bisa dapat informasi detail.”Lin Xuan sedang menyusun beberapa buku baru yang datang pagi tadi. Tangannya tidak berhe

  • JARUM PERAK DEWA MEDIS: Kebangkitan Lin Xuan!   Bab 188.

    Keesokan paginya, suasana di sekitar Alun-Alun Ping'an terasa berbeda sejak matahari belum sepenuhnya terbit. Biasanya, kawasan ini mulai ramai sekitar pukul sembilan, ketika para pedagang kaki lima membuka gerobak dan toko-toko perlahan menaikkan tirai besi. Tapi pagi itu, sejak pukul setengah delapan, beberapa pria berbadan besar sudah terlihat berkumpul di area parkir sebelah timur. Mereka tidak berbicara keras, tidak merokok sembarangan, hanya berdiri berkelompok dengan tatapan yang sesekali diarahkan ke satu titik: toko buku Lin Xuan.Xu Kun tiba lebih awal. Dia memarkir mobilnya agak jauh, lalu berjalan kaki mendekati toko buku sambil menyusuri trotoar. Matanya mengamati setiap sudut. Anak buahnya yang tiga orang sudah berjaga sejak satu jam lalu, menyamar di antara pedagang dan pengunjung pagi.“Bang,” satu anak buahnya berbisik saat Xu Kun lewat. “Mereka mulai datang sejak jam tujuh. Sekarang udah sekitar empat puluh orang. Tapi katanya masih banyak yang be

  • JARUM PERAK DEWA MEDIS: Kebangkitan Lin Xuan!   Chapter 187.

    Malam itu, setelah mengantar Ding Yajun pulang, Lin Xuan tidak langsung kembali ke toko buku. Dia memarkir mobil di pinggir jalan dekat Alun-Alun Ping'an, membuka ponsel, dan membaca ulang pesan dari Xu Kun.“Bang Lin, ada kabar dari Haotian. He Yanfeng cari-cari orang tanya alamat toko lo. Hati-hati.”Dia membalas pesan itu. “Dari mana sumbernya?”Beberapa menit kemudian, ponselnya berdering. Xu Kun menelepon langsung.“Bang Lin, ada anak buah gue yang dengar dari temannya yang les di Haotian. He Yanfeng udah kumpulin anak buah. Katanya mau datang besok atau lusa. Mereka nggak terima adiknya dihajar.”“He Lei yang mulai,” kata Lin Xuan datar.“Gue tahu, Bang. Tapi buat mereka, siapa yang mulai nggak penting. Yang penting keluarga Haotian dipermalukan di depan umum. Apalagi He Yanfeng itu tipe orang yang nggak bisa lihat adiknya babak belur. Dulu gue pernah dengar, ada orang yang cuma dorong He Lei pas lagi rame, besoknya langsung dihadang sama He Yanfeng dan anak buahnya. Tulang rusu

  • JARUM PERAK DEWA MEDIS: Kebangkitan Lin Xuan!   Bab 186.

    Manajer toko itu berdiri di samping meja kasir, jemarinya masih sibuk menghitung ulang total belanjaan. Tiga ratus dua puluh ribu. Angka yang tidak kecil untuk toko pakaian sekelas ini, tapi bukan yang terbesar yang pernah mereka tangani. Namun yang membuat manajer itu agak gugup adalah cara pembeli ini membelanjakan uangnya. Tanpa tawar, tanpa banyak bicara, tanpa ekspresi bangga atau pamer. Hanya perintah singkat, lalu kartu diserahkan.“Pak, semua sudah kami bungkus. Delapan item sesuai daftar,” kata manajer itu sambil membungkuk hormat. Dua pramuniaga di belakangnya membawa beberapa kantong belanjaan dengan rapi.Lin Xuan mengangguk. “Antarkan ke mobil.”“Baik, Pak.”Xiao Lu masih berdiri di tempat yang sama sejak tadi. Mulutnya terbuka sedikit, matanya tidak berkedip. Dia melihat manajer itu berjalan melewatinya dengan tangan penuh kantong belanjaan, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa menit terakhir, dia sadar bahwa dia tidak bisa lagi menganggap remeh pemuda di depannya.S

  • JARUM PERAK DEWA MEDIS: Kebangkitan Lin Xuan!   Ba 185.

    Ding Yajun sedang berbelanja di Alun-Alun Ping'an. Lin Xuan baru saja menutup telepon dan langsung mengemudi ke sana. Alun-Alun Ping'an adalah kompleks komersial raksasa yang terbagi menjadi beberapa area, seperti area kuliner, area pakaian, dan area kebutuhan hidup. Ding Yajun sedang berbelanja di area pakaian saat Lin Xuan tiba, dan dia menyambutnya di pintu masuk."Lin Xuan..." Ding Yajun mengaitkan lengannya dengan Lin Xuan."Ada apa?" Lin Xuan agak terkejut melihat dia datang mendekat dan langsung bergandengan seperti ini. Meskipun hubungan mereka sudah diakui di depan umum, perasaan mereka tetap harus dikembangkan perlahan."Tidak ada, kan kamu pacarku?" Ding Yajun tersipu dan menunduk."Itu hanya omongan kita ke Wei Ming," jawab Lin Xuan. Sebelumnya, Ding Yajun memang pernah mengakui Lin Xuan sebagai pacarnya di rumah sakit, tapi itu hanya siasat sementara agar Wei Ming percaya."Itu tidak hanya untuk Wei Ming," kata Ding Yajun, masih menunduk. Dia juga sebenarnya ingin memberi

  • JARUM PERAK DEWA MEDIS: Kebangkitan Lin Xuan!   3. Bagaimana Mungkin?

    ... Kondisi asli ibunya."Ini..? Aku bisa merasakannya?' Lin Xuan bergumam sendiri. Ia menghembuskan napas lega.Pendarahan otak mendadak memang telah membuat tubuh ibunya lumpuh total, pernapasan terhenti, denyut nadi lenyap. Tapi bagi pewaris Yu Jing Shu, ini hanyalah kematian semu. Banyak catat

  • JARUM PERAK DEWA MEDIS: Kebangkitan Lin Xuan!   2. Suara Agung.

    "Lili aku tanya sekali lagi, kau yakin setuju dengan keputusa ibumu?" tanya Lin Xuan pelan."Sudah, batal! Semua batal!!" jawab Xu Mei lantang, suaranya menggema hingga gelas-gelas kristal di meja bergetar pelan. "Hanya tiga ratus ribu yuan saja, kau bahkan tak mampu mengeluarkannya. Aku akan menca

  • JARUM PERAK DEWA MEDIS: Kebangkitan Lin Xuan!   1. Pertunangan Batal!

    Hari ini seharusnya menjadi puncak kebahagiaan, pesta pertunangan antara Lin Xuan dan Zhang Li. Namun kini, segalanya berubah menjadi arena pertempuran yang sengit untuk ke dua keluarga itu.Wanita paruh baya bermake-up tebal, Xu Mei, duduk tegak di kursi utama, lengan disilangkan di depan dada, bi

  • JARUM PERAK DEWA MEDIS: Kebangkitan Lin Xuan!   8. Tersudut.

    Lin Xuan membawa orang tuanya kembali ke Klinik Ping dengan taksi. Bahkan sebelum mereka turun, sudah terlihat kerumunan orang berjejal di depan klinik. Sebuah sedan Volkswagen hitam terparkir di pintu masuk dengan tulisan "inspeksi kesehatan" di sampingnya. Penonton berdesakan, ingin tahu apa yang

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status