تسجيل الدخول“Kalian tidak percaya? Gadis bergaun merah simpanan Samudera itu baru saja kulihat menyelinap ke lantai empat bersama seorang pria!”Tawa renyah Agatha berpadu dengan desis berbisa Anjelina di balik kipas sutra mewahnya. Ibu dan anak itu berdiri tepat di tengah kerumunan aula, sengaja mengeraskan suara mereka untuk memicu pusaran skandal baru yang lebih kotor.Mereka berdua sengaja memainkan peran sebagai pihak yang terkejut namun sangat prihatin. Dengan narasi licik yang telah disusun rapi, Anjelina mulai memprovokasi para tamu penting dan sosialita yang mengerumuni mereka.“Saya sudah menduga dari awal. Wanita rendahan yang dibawa Samudera itu jelas tidak tahan godaan,” ujar Anjelina dengan nada dramatis yang meyakinkan. “Begitu sang CEO pergi untuk rapat penting, dia langsung mencari mangsa lain yang bisa membayarnya malam ini. Sungguh memalukan. SINS Group bisa hancur jika Tuan Samudera terus dibutakan oleh wanita pemanjat sosial semacam itu.”Tujuan provokasi itu sangat jelas, y
“Apa maksudmu, Samudera? Jangan mencoba menggertakku dengan angka kosong di atas kertas!”Suara Bisma Sanjaya terdengar bergetar hebat, memecah ketegangan yang merantai ruang rapat VIP tersebut. Topeng diplomatis pria paruh baya itu seketika retak, digantikan oleh pias kepanikan yang tak lagi sanggup disembunyikan. Matanya menatap sang CEO muda dengan kewaspadaan penuh.Samudera terkekeh rendah, sebuah tawa kelam yang menggetarkan udara di sekitarnya. Dia perlahan bangkit dari kursi kebesarannya, menumpukan kedua telapak tangannya di atas meja mahoni, lalu menatap Bisma dengan tatapan predator yang bersiap menerkam mangsa.“Menggertak?” Samudera mengulang kata itu dengan senyum mengejek yang membuat bulu kuduk berdiri. “Asal Anda tahu, Tuan Bisma. Konsorsium bayangan yang selama ini menguasai empat puluh persen saham pelabuhan yang sangat Anda agungkan itu … adalah milikku sepenuhnya. Jadi, silakan tarik dana Anda besok pagi. Karena detik ketika Anda mundur, aku akan menelan sisa saha
“saya lihat Anda ditinggal sendirian setelah kekacauan tadi. Malam yang sangat berat untuk wanita secantik Anda, bukan?”"Terima kasih atas kepedulian Anda."Uap dingin dari irisan lemon di bibir gelas mengaburkan kilat waspada di mata Celina saat seorang pria bersetelan abu-abu rapi tiba-tiba menyapanya. Pria itu, yang kemudian memperkenalkan dirinya sebagai Dion, mendorong gelas berembun itu lebih dekat ke jemari Celina dengan senyum yang tampak begitu tulus. Namun menyembunyikan manipulasi yang pekat.“Saya sangat menyayangkan tindakan Nyonya Anjelina tadi. Sungguh tidak pantas kekasaran seperti itu terjadi di acara berkelas ini,” lanjut Dion dengan suara bariton yang sengaja dilembutkan. Pria itu duduk di sofa seberang Celina, menampilkan raut wajah prihatin bak seorang pahlawan penyelamat. “Minumlah ini, Nona … untuk menenangkan diri.”Celina menatap gelas tersebut dalam diam. Di kejauhan, dari balik pilar besar di luar area lounge VIP yang temaram, sepasang mata mengawasi deng
Suasana di sudut VIP itu seketika membeku. Tatapan ratusan pasang mata tertuju lurus pada Bisma yang mendadak kehilangan kendali atas ekspresinya. Udara terasa tipis dan mencekik, sementara gumaman lirih para petinggi bisnis mulai berdesir tajam di udara bagai belati tak kasat mata.Bisma menelan ludah dengan susah payah. Jakunnya naik-turun kaku. Tenggorokannya terasa kering seolah baru saja menenggak pasir panas. Sebagai rubah tua yang puluhan tahun bermain di ranah bisnis kotor dan intrik elite, pria itu memaksa otot-otot wajahnya kembali mengeras, menolak menyerah pada keterkejutan yang baru saja meremukkan harga dirinya."Cukup omong kosongmu, Nona!” potong Bisma dengan suara bergetar yang dipaksakan terdengar tegas dan menggelegar. Urat pelipisnya menonjol saat dia menegakkan bahu, mencoba memancarkan sisa-sisa wibawa seorang kepala keluarga. “Saya hanya punya satu putri! Dia Agatha! Hanya dia satu-satunya darah daging dan pewaris sah keluarga Sanjaya!”Penegasan itu meluncur ce
“Hah?! Apa-apaan ini?”“Tuan Samudera tidak salah bicara? Malah membawa wanita lain ....”Ucapan Samudera tadi mengklaim Celina secara terang-terangan bagaikan petir di siang bolong yang menyambar tepat di tengah aula mewah itu. Pernyataan mutlak itu menggelegar, meruntuhkan seluruh ekspektasi dan skenario perjodohan yang telah dirancang dengan susah payah oleh dua klan besar.Di sudut VIP, gelas kristal berisi sampanye di tangan Nyonya Shiena nyaris remuk dalam kepalan gemetarnya. Napas wanita paruh baya itu memburu cepat, sementara wajahnya memerah padam menahan murka yang tak lagi sanggup dibendung.Tanpa membuang waktu, Nyonya Shiena dan Galen, salah satu petinggi senior sekaligus paman dari pihak ayah Samudera, langsung melangkah maju membelah kerumunan. “Dasar anak tak tahu diri! Malah berulah disaat penting seperti ini,” gera. Nyonya Shiena. Langkah mereka cepat dan mengentak, memancarkan amarah yang menyala-nyala bak api neraka. Para tamu undangan secara otomatis mundur, mem
“Silakan masuk, Tuan dan Nona ....”Dua pelayan berseragam serentak mendorong daun pintu ganda berlapis emas yang menjulang tinggi, membelah alunan denting lembut piano klasik dan obrolan elegan para elite yang memenuhi balairung utama. Cahaya dari lampu kristal raksasa memancarkan pendar keemasan dan keperakan yang menyilaukan, menciptakan latar belakang yang begitu terang dan megah bak adegan puncak sebuah drama. Namun, semua kemegahan itu seolah meredup ketika sepasang langkah kaki melangkah masuk dengan penuh dominasi. Ruangan jamuan konsorsium mendadak hening seketika. Ratusan tamu undangan mulai dari para menteri, investor asing, hingga konglomerat papan atas seolah lupa cara bernapas. Mereka menghentikan percakapan, gelas-gelas sampanye tertahan di udara, terpaku pada pemandangan tak terduga di ambang pintu.“Siapa itu?”“Itu Tuan Samudera.”“Hah? Siapa wanita itu?”“Bukan Nona Agatha, kan?”“Bukan. Saya juga tak tahu siapa dia.”Samudera berdiri menjulang penuh wibawa dalam







