공유

Bab 71. Bertengkar

작가: Nanitamam
last update 게시일: 2026-11-08 20:13:50

“Jadi dia sudah mengetahuinya,” gumam Yudha, rahangnya mengetat keras hingga garis-garis tajam di wajahnya tercetak jelas. Sorot matanya yang biasa teduh mendadak berkilat dengan amarah murni yang dingin dan berbahaya. “Aku tidak akan kalah darimu, Samudera Alexander. Aku tidak akan pernah menyerahkan Celina padamu!”

“Ada apa, Dokter Yudha?” tanya Dinda yang baru saja menerobos masuk dengan wajah penuh kecemasan.

“Samudera sudah tahu Celina bersamaku,” sahut Yudha parau.

Napas Dinda tercekat.
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • TUAN, SUDAH TERLAMBAT UNTUK KEMBALI   Bab 71. Bertengkar

    “Jadi dia sudah mengetahuinya,” gumam Yudha, rahangnya mengetat keras hingga garis-garis tajam di wajahnya tercetak jelas. Sorot matanya yang biasa teduh mendadak berkilat dengan amarah murni yang dingin dan berbahaya. “Aku tidak akan kalah darimu, Samudera Alexander. Aku tidak akan pernah menyerahkan Celina padamu!”“Ada apa, Dokter Yudha?” tanya Dinda yang baru saja menerobos masuk dengan wajah penuh kecemasan. “Samudera sudah tahu Celina bersamaku,” sahut Yudha parau.Napas Dinda tercekat. “Lalu bagaimana? Apa dia akan datang kemari dan membawa Celina pergi secara paksa?”“Aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi!” tegas Yudha dengan dominasi yang belum pernah Dinda dengar sebelumnya. Pria itu berdiri tegap, memancarkan aura seorang pewaris Altair Holding yang siap mempertaruhkan seluruh kekuasaannya.Dinda mengusap air mata di pipinya, menatap Yudha dengan binar keputusasaan sekaligus harapan terakhir. “Aku percaya Dokter bisa melindungi Celina dan Nenek Hafsah. Sejak menja

  • TUAN, SUDAH TERLAMBAT UNTUK KEMBALI   Bab 70. Ajakan pergi jauh

    ‘Hmm ... Di mana aku? Ada di mana ini?’ batin Celina dengan kebingungan. Bau steril antiseptik yang bercampur dengan lembutnya aroma lavender menusuk perlahan ke indra penciuman Celina. Kelopak matanya yang terasa amat berat dikedipkan beberapa kali, mencoba mengusir kabut hitam yang mengurung kesadarannya. Pandangannya yang sempat buram perlahan memfokuskan langit-langit serba putih di sebuah kamar perawatan V.I.P. yang mewah dan asing, jauh dari gudang penyekapan yang lembap dan kotor milik keluarga Sanjaya.Celina mencoba menggerakkan tubuhnya, namun rasa nyeri yang tajam langsung menjalar di pergelangan tangannya yang kini terbalut perban rapat. Erangan pelan lolos dari bibirnya yang pecah.“Aku … ada di mana?” bisik Celina parau, tenggorokannya terasa kering dan tersengat panas.Suara gesekan kursi terdengar di sisi ranjang. Sosok Dokter Yudha langsung bangkit dan condong ke depan, menatapnya dengan binar kelegaan yang luar biasa. Tanpa ragu, Yudha menggenggam lembut jemari Cel

  • TUAN, SUDAH TERLAMBAT UNTUK KEMBALI   Bab 69. Putri sah

    “Di mana kamu menyembunyikan Celina? Katakan padaku sekarang juga … atau peluru ini akan menembus kepalamu detik ini juga!”Bentakan keras Samudera menggema tanpa ampun ke seluruh sudut Grand Ballroom yang luas itu. Suasana yang tadinya dipenuhi desas-desus kini berubah menjadi kematian yang sunyi. Para tamu undangan membeku, tidak ada seorang pun yang berani bernapas terlalu keras di hadapan amukan sang penguasa SINS Group.Bisma Sanjaya terhuyung mundur hingga punggungnya menabrak meja hiasan bunga. Wajahnya pucat pasi, pelipisnya dibanjiri keringat dingin. Dia menatap laras senjata hitam legam yang berjarak hanya beberapa sentimeter dari dahinya dengan tubuh gemetar hebat.“A-apa maksudmu, Samudera?!” teriak Bisma panik, berusaha mempertahankan sisa-sisa wibawanya di hadapan para kolega bisnis. “Celina? Wanita rendahan itu? Kenapa kamu mencarinya di hari pertunanganmu dengan Agatha?! Kamu sudah gila, hah?!”“Papa!” jerit Agatha histeris dari arah pintu ruang V.I.P., berlari keluar

  • TUAN, SUDAH TERLAMBAT UNTUK KEMBALI   Bab 68. Pesta yang hancur

    “Hmm, kenapa Mas Samudera belum juga sampai sini, ya? Apa dia mau kasih surprise?” gumam Agatha mencoba tetap tenang dan positif thinking. Namun, sang calon tunangan tak kunjung tiba.Kemegahan Grand Ballroom Hotel yang tadinya dipenuhi oleh atmosfer kemewahan mendadak berubah menjadi ruang tunggu yang penuh dengan desas-desus menyesakkan. Jarum jam di dinding telah melewati batas waktu undangan selama dua jam penuh. Ribuan tangkai mawar putih segar yang menghiasi setiap sudut ruangan kini seolah kehilangan keelokannya, digantikan oleh keheningan tegang yang merayap di antara para tamu undangan dari kalangan elite ibu kota. Kursi-kursi yang semula dipenuhi canda tawa oleh para konglomerat dan pejabat tinggi kini mulai diisi oleh bisik-bisik dan gelombang keresahan yang kian tak terkendali.“Kenapa Tuan Samudera tidak muncul juga?”“Jangan bilang kalau pertunangan ini dibatalkan?”“Astaga memalukan sekali. Mau ditaruh mana muka Tuan Bisma kalau hal itu terjadi?”Di ruang rias V.I.P.

  • TUAN, SUDAH TERLAMBAT UNTUK KEMBALI   Bab 67. Mata penuh amarah

    “Tuan, tolong tenang!” panggil Hadi dengan suara bergetar, berusaha melangkah mendekat meski aura membunuh yang menguar dari tubuh Samudera terasa mencekik leher.“Bagaimana aku bisa tenang, Hadi?!” gertak Samudera dengan suara menggelegar yang sanggup meretakkan ketenangan malam. Pria itu berbalik kasar, menatap asisten kepercayaannya dengan mata merah yang menyala akibat gabungan rasa bersalah dan amarah murni. “Kita datang terlambat! Di sini tidak ada Celina! Hanya ada darahnya yang masih hangat di lantai beton ini!”“Kami akan melacaknya! Tim siber SINS Group sedang meretas seluruh satelit pengawas di sektor ini!” seru Hadi cepat, memotong kepanikan yang nyaris melahap habis rasionalitas atasannya.“Lakukan sekarang juga! Jangan buang waktu satu detik pun!” gertak Samudera, suaranya parau dan bergetar hebat.Samudera berpaling, kembali menatap bercak darah segar di atas beton dingin. Tangannya yang terkepal rapat gemetar tanpa kendali. Dadanya terasa begitu sesak, seolah ada belat

  • TUAN, SUDAH TERLAMBAT UNTUK KEMBALI   Bab 66. Siapa yang berani?

    “Aku pikir... aku akan mati malam ini,” bisik Celina parau. Suaranya hampir tenggelam di antara napasnya yang patah-patah, menyisakan jejak keputusasaan di udara gudang yang berdebu.“Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Tidak malam ini, tidak pula esok hari,” balas Yudha tegas.Tanpa ragu sedikitpun, Yudha menyelipkan lengan kekarnya di bawah lutut dan punggung Celina, menggendongnya ala bridal style dengan kehati-hatian yang luar biasa, seolah gadis di pelukannya adalah kaca berharga yang rentan pecah. Celina yang kehabisan seluruh tenaganya hanya bisa menyandarkan kepala di dada bidang Yudha, mendengarkan detak jantung pria itu yang memburu cepat.Namun, pertahanan Celina runtuh. Kesadarannya terkikis drastis. Kelopak matanya yang seberat timah perlahan terpejam rapat. Jemari lentiknya yang sempat mencengkeram mantel Yudha perlahan lunglai dan luruh terkulai ke udara, melayang pasrah seiring Celina yang jatuh pingsan sepenuhnya.“Celina? Celina!” panggil Yudha panik. Ia memperera

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status