Share

Bab 62. Sakit

Author: Nanitamam
last update publish date: 2026-10-28 08:27:08

Ke esokan paginya.

“Celina, apa kamu tahu kalau Tuan Samudera tidak masuk kantor hari ini?”

Riana menggeser kursinya merapat ke meja kerja Celina, berbisik dengan nada cemas seraya melirik sekilas ke arah pintu ruang rapat eksekutif yang tampak sepi dan tertutup rapat. Dia sengaja bertanya hal itu untuk memastikan apakah Celina tahu dengan apa yang terjadi kepada Samudera.

"Aku tidak tahu, Riana."

"Aku kira kamu tahu. Kami butuh pengajuan yang ia tanda tangani segera."

Celina tertegun sejenak.
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • TUAN, SUDAH TERLAMBAT UNTUK KEMBALI   Bab 70. Ajakan pergi jauh

    ‘Hmm ... Di mana aku? Ada di mana ini?’ batin Celina dengan kebingungan. Bau steril antiseptik yang bercampur dengan lembutnya aroma lavender menusuk perlahan ke indra penciuman Celina. Kelopak matanya yang terasa amat berat dikedipkan beberapa kali, mencoba mengusir kabut hitam yang mengurung kesadarannya. Pandangannya yang sempat buram perlahan memfokuskan langit-langit serba putih di sebuah kamar perawatan V.I.P. yang mewah dan asing, jauh dari gudang penyekapan yang lembap dan kotor milik keluarga Sanjaya.Celina mencoba menggerakkan tubuhnya, namun rasa nyeri yang tajam langsung menjalar di pergelangan tangannya yang kini terbalut perban rapat. Erangan pelan lolos dari bibirnya yang pecah.“Aku … ada di mana?” bisik Celina parau, tenggorokannya terasa kering dan tersengat panas.Suara gesekan kursi terdengar di sisi ranjang. Sosok Dokter Yudha langsung bangkit dan condong ke depan, menatapnya dengan binar kelegaan yang luar biasa. Tanpa ragu, Yudha menggenggam lembut jemari Cel

  • TUAN, SUDAH TERLAMBAT UNTUK KEMBALI   Bab 69. Putri sah

    “Di mana kamu menyembunyikan Celina? Katakan padaku sekarang juga … atau peluru ini akan menembus kepalamu detik ini juga!”Bentakan keras Samudera menggema tanpa ampun ke seluruh sudut Grand Ballroom yang luas itu. Suasana yang tadinya dipenuhi desas-desus kini berubah menjadi kematian yang sunyi. Para tamu undangan membeku, tidak ada seorang pun yang berani bernapas terlalu keras di hadapan amukan sang penguasa SINS Group.Bisma Sanjaya terhuyung mundur hingga punggungnya menabrak meja hiasan bunga. Wajahnya pucat pasi, pelipisnya dibanjiri keringat dingin. Dia menatap laras senjata hitam legam yang berjarak hanya beberapa sentimeter dari dahinya dengan tubuh gemetar hebat.“A-apa maksudmu, Samudera?!” teriak Bisma panik, berusaha mempertahankan sisa-sisa wibawanya di hadapan para kolega bisnis. “Celina? Wanita rendahan itu? Kenapa kamu mencarinya di hari pertunanganmu dengan Agatha?! Kamu sudah gila, hah?!”“Papa!” jerit Agatha histeris dari arah pintu ruang V.I.P., berlari keluar

  • TUAN, SUDAH TERLAMBAT UNTUK KEMBALI   Bab 68. Pesta yang hancur

    “Hmm, kenapa Mas Samudera belum juga sampai sini, ya? Apa dia mau kasih surprise?” gumam Agatha mencoba tetap tenang dan positif thinking. Namun, sang calon tunangan tak kunjung tiba.Kemegahan Grand Ballroom Hotel yang tadinya dipenuhi oleh atmosfer kemewahan mendadak berubah menjadi ruang tunggu yang penuh dengan desas-desus menyesakkan. Jarum jam di dinding telah melewati batas waktu undangan selama dua jam penuh. Ribuan tangkai mawar putih segar yang menghiasi setiap sudut ruangan kini seolah kehilangan keelokannya, digantikan oleh keheningan tegang yang merayap di antara para tamu undangan dari kalangan elite ibu kota. Kursi-kursi yang semula dipenuhi canda tawa oleh para konglomerat dan pejabat tinggi kini mulai diisi oleh bisik-bisik dan gelombang keresahan yang kian tak terkendali.“Kenapa Tuan Samudera tidak muncul juga?”“Jangan bilang kalau pertunangan ini dibatalkan?”“Astaga memalukan sekali. Mau ditaruh mana muka Tuan Bisma kalau hal itu terjadi?”Di ruang rias V.I.P.

  • TUAN, SUDAH TERLAMBAT UNTUK KEMBALI   Bab 67. Mata penuh amarah

    “Tuan, tolong tenang!” panggil Hadi dengan suara bergetar, berusaha melangkah mendekat meski aura membunuh yang menguar dari tubuh Samudera terasa mencekik leher.“Bagaimana aku bisa tenang, Hadi?!” gertak Samudera dengan suara menggelegar yang sanggup meretakkan ketenangan malam. Pria itu berbalik kasar, menatap asisten kepercayaannya dengan mata merah yang menyala akibat gabungan rasa bersalah dan amarah murni. “Kita datang terlambat! Di sini tidak ada Celina! Hanya ada darahnya yang masih hangat di lantai beton ini!”“Kami akan melacaknya! Tim siber SINS Group sedang meretas seluruh satelit pengawas di sektor ini!” seru Hadi cepat, memotong kepanikan yang nyaris melahap habis rasionalitas atasannya.“Lakukan sekarang juga! Jangan buang waktu satu detik pun!” gertak Samudera, suaranya parau dan bergetar hebat.Samudera berpaling, kembali menatap bercak darah segar di atas beton dingin. Tangannya yang terkepal rapat gemetar tanpa kendali. Dadanya terasa begitu sesak, seolah ada belat

  • TUAN, SUDAH TERLAMBAT UNTUK KEMBALI   Bab 66. Siapa yang berani?

    “Aku pikir... aku akan mati malam ini,” bisik Celina parau. Suaranya hampir tenggelam di antara napasnya yang patah-patah, menyisakan jejak keputusasaan di udara gudang yang berdebu.“Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Tidak malam ini, tidak pula esok hari,” balas Yudha tegas.Tanpa ragu sedikitpun, Yudha menyelipkan lengan kekarnya di bawah lutut dan punggung Celina, menggendongnya ala bridal style dengan kehati-hatian yang luar biasa, seolah gadis di pelukannya adalah kaca berharga yang rentan pecah. Celina yang kehabisan seluruh tenaganya hanya bisa menyandarkan kepala di dada bidang Yudha, mendengarkan detak jantung pria itu yang memburu cepat.Namun, pertahanan Celina runtuh. Kesadarannya terkikis drastis. Kelopak matanya yang seberat timah perlahan terpejam rapat. Jemari lentiknya yang sempat mencengkeram mantel Yudha perlahan lunglai dan luruh terkulai ke udara, melayang pasrah seiring Celina yang jatuh pingsan sepenuhnya.“Celina? Celina!” panggil Yudha panik. Ia memperera

  • TUAN, SUDAH TERLAMBAT UNTUK KEMBALI   Bab 65. Penyelamatan Yudha

    “Tuan Yudha... Anda kembali?” Suara di seberang telepon mendadak terperanjat, diwarnai rasa tak percaya yang amat sangat. Nada bicara pria di seberang garis terenkripsi itu seketika berubah penuh kepatuhan. “Tolong lakukan apa yang aku perintahkan... dan jangan membuatku kecewa,” desis Yudha dingin tanpa memberi celah untuk perdebatan. “Baik, Tuan! Pelacakan satelit dan jaringan pengintai kota langsung dialihkan di bawah kendali Anda. Kami akan menemukan lokasi Nona Celina dalam hitungan menit!” Yudha mematikan sambungan. Sorot matanya yang biasa ramah dan penuh kehangatan saat menangani pasien kini berubah menjadi begitu tajam, memancarkan aura dominan yang selama ini ia pendam. “Celina, tunggu aku!” Sementara itu, di dalam gudang bawah tanah yang lembap dan berdebu, udara terasa semakin menyesakkan. Plak! Tamparan keras mendarat telak di pipi Celina, meninggalkan garis kemerahan dan sudut bibir yang semakin berdarah. Sang pengawal bertubuh kekar mendengus kesal karen

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status