MasukMalam belum usai.Namun, suasana tak gelap dan tak dingin lagi.Sebuah ritual pembantaian masal yang megah tengah digelar tanpa ampun. Tiada lagi kegelapan dan kesunyian yang mencekam, semuanya sirna ditelan kegilaan seorang Adrian Mahendra.Api unggun raksasa terlihat berkobar sombong menjilat langit, berpadu sempurna dengan gema angkuh suara ledakan beruntun puluhan butir granat dan dua peti amunisi di dalam truk yang terbakar. Perlahan tetapi pasti, aroma hangus daging terbakar pun mulai menyebar diantar embusan angin malam yang kini tak lagi dingin.Malam itu, surat perintah kematian masal lebih dari tiga puluh orang serdadu – diterbitkan!Tiba-tiba saja, api membakar rambut dan baju seragam mereka. Sementara, empasan hawa panas yang melampaui imajinasi langsung membuat kulit mereka melepuh dan bahkan meleleh. Wajah Dewa Kematian benar-benar menjelma nyata ketika puluhan atau bahkan ratusan serpihan tajam pecahan granat menerjang tubuh, lalu tanpa ampun merobek daging dan menghuja
Adrian terus berlari dan berbaur."Ah, salah perhitungan!" runtuk sersan palsu itu, tak pernah menduga bahwa keputusannya untuk menjadi maling di antara gerombolan anjing yang sedang berebut tulang ternyata jauh lebih rumit daripada yang diperhitungkan.Bukan cuma rumit, bahkan – berbahaya!Dia tak pernah menduga bahwa keinginan untuk naik pangkat bisa membuat sekumpulan serdadu bertindak sekacau ini.Adrian memang tidak ikut berebut tiket kenaikan pangkat seperti para tentara kacau itu, tetapi dia terlanjur terjebak di antara mereka. Kerumunan tiga puluh kopral nakal yang saling sikut dan saling dorong di sekelilingnya benar-benar mengunci pergerakan kedua tangan dan kakinya, membuatnya terpaksa melupakan sejenak tujuannya berbaur bersama merekaDia tidak mungkin mencabut pistol dan menembak peti amunisi, tak ada celah untuk lari menyelematkan diri setelah itu. Sosok-sosok berotot di sekelilingnya terlanjur berubah menjadi jeruji daging yang mengurungnya. Dia juga tak mungkin mengamb
Kopral Thomas tersentak kaget mendengar perintah Adrian.Di telinganya, satu kata yang diucapkan sersan galak itu terdengar seperti bentakan laksana gelegar guntur yang meruntuhkan segenap rasa percaya dirinya. Meruntuhkan seluruh keberanian yang beberapa detik lalu telah membuatnya lancang mengusulkan suatu ide gila yang kental dengan aroma pembangkangan. Lebih dari itu, bentakan itu bahkan langsung memicu ketakutan alaminya sebagai seorang prajurit rendahan. Bagaimanapun, memprovokasi seorang sersan lapangan supaya bertindak tanpa izin perwira pemimpin Kompi – adalah bunuh diri!Kopral Thomas terdiam penuh penyesalan, menatap Kopral Oliver dan Kopral Raymond dengan sorot penuh permohonan.Sebaliknya, Adrian justru makin penasaran!“Katakan cepat, Kopral!” perintah sersan palsu itu, kini benar-benar membentak.Antara jujur karena terlanjur atau bungkam demi menghindari masalah yang lebih besar, kesadaran defensif dalam benak Kopral Thomas bergolak makin hebat. Mulutnya berulang kali
Sinar senter Adrian terus bergerak.Cahayanya redup dan sinarnya tampak bergoyang tak beraturan. Kadang menyorot jauh, kadang menyenter tanah lalu bergoyang ke kanan dan ke kiri tanpa pola yang jelas – seperti sedang ingin memberitahu sesuatu kepada orang lain yang berada di kejauhan.Orang lain itu adalah tiga orang prajurit pemuja kenaikan pangkat anak buah Jenderal Christoper. Hampir sama dengan ratusan rekannya yang tersebar di segala penjuru demi memburu 11 orang prajurit nekat sisa-sisa anak buah Mayor Marlon, ketiga serdadu itu sebenarnya mulai tak terlalu berharap lagi pada kenaikan pangkat yang dijanjikan.“Sudah hampir subuh, kita bahkan belum menemukan jejak apa pun!” gerutu serdadu paling depan.“Jangan banyak mengeluh, bukan hanya kita yang tidak menemukan apa-apa. Lihat itu, teman kita bahkan sudah hampir gila karena putus asa!” sahut rekannya seraya menunjuk ke arah sosok seorang pria berseragam sama seperti mereka.Dua pasang mata bergerak, menyusul arah tatapan rekann
Malam masih bertahta, bersemayam angkuh di singgasana kegelapan.Di pojok-pojok pekatnya selimut malam, sebelas prajurit nekat sisa-sisa pasukan cari mati bentukan Mayor Marlon terus bergerak secara berpencar. Mengandalkan keberuntungan dan harapan yang sebenarnya sudah tinggal ampas, mereka mulai membalikkan keadaan dan mengubah para pemburu menjadi target buruan. Berpegang pada prinsip ‘SATU TUKAR DUA’, mereka mulai memburu dan menghabisi serdadu pemuja kenaikan pangkat anak buah Jenderal Christoper. Dari sebelas pria nekat anak buah Mayor Marlon yang tersisa, sepuluh orang telah mencapai target satu tukar dua. Tujuh orang di antaranya, masing-masing berhasil menumbangkan dua prajurit Jenderal Christoper. Sementara tiga yang lainnya, ada yang berhasil menghabisi tiga orang dan ada yang berhasil membantai empat orang.Dari kesebelas prajurit nekat itu, hanya satu yang sama sekali belum membunuh seorang pun.Dia adalah Adrian Mahendra!Berbeda dengan Ethan Wiratama yang bertubuh dan
Luka dan lelah adalah dua kata yang dapat mengubah segalanya di medan perang.Di satu sisi, keduanya dapat langsung berubah menjadi pasrah dan putus asa. Sedangkan di sisi lain, keduanya adalah bahan bakar terbaik untuk menciptakan keberanian dan kekuatan yang melampaui batas nalar dan akal sehat.Keberanian dan kekuatan di luar nalar itu biasa disebut – nekat!Malam itu, 11 orang prajurit nekat diburu secara brutal.Mereka adalah sisa-sisa personel pasukan cari mati bentukan Mayor Marlon dan Letnan Jason. Wajah dan tubuh mereka penuh luka, sementara pakaiannya basah oleh keringat campur darah – entah darahnya sendiri atau darah musuh-musuhnya.Napas sebelas orang prajurit nekat itu pelan dan berat seperti sengaja ditahan. Bukan karena takut atau lelah, melainkan karena tak ingin suaranya terdengar oleh 10 kompi serdadu pemuja kenaikan pangkat yang sedang memburu mereka. Bagaimanapun, mereka tidak rela jika kepalanya hanya dihargai satu tingkat kenaikan pangkat. Setidaknya, harus ada
Bruk …!Brukk …!Brukkk ...!Satu per satu anggota Tim Alfa menjatuhkan diri, berlutut sambil meletakkan senjata lalu melipat tangan dengan jari-jari saling bertautan di belakang kepala yang tertunduk dalam.Tanpa dikomando, sepuluh orang prajurit benteng perbatasan segera bertindak.Tiga orang lan
Ramos bukan ragu karena takut mati.Bandit tua itu hanya merasa tak percaya diri.Dia hanya sendirian dan harus melawan banyak orang yang bahkan belum diketahui jumlah dan posisi pastinya. Lebih dari itu, dia hanya berbekal dua pucuk senjata otomatis yang pelurunya pun sudah banyak terpakai – saat
Hotel Preatorium awalnya adalah salah satu properti milik Rudolf Subrata.Saat Gubernur Morgan Hanjaya mengambil alih hotel tersebut dan menjadikannya sebagai salah satu asrama tentara aliansi, hotel kecil berlantai empat itu ditempati oleh sekitar 200 orang anggota pasukan milisi yang direkrut dar
Wisma Adulterium memiliki empat kamar istimewa yang amat berbeda daripada kamar-kamar yang lain, dua kamar ada di bangunan sayap barat dan dua lagi terdapat di bangunan sayap timur. Setiap kamar berukuran sangat luas dan perabotan di dalamnya juga amat mewah.Keempat kamar istimewa itu sudah ada se







