LOGINMalam telah lama berakhir.Tak seperti hari-hari sebelumnya, pagi itu matahari tampak enggan mendaki langit.Sebaliknya, 10 pleton pasukan cari mati pimpinan Mayor Marlon Baruna justru terlihat amat bersemangat menjemput kematian. Mereka berbaris rapi di depan sepuluh unit truk militer yang dipenuhi berbagai macam senjata dan perlengkapan perang. Sebuah senapan mesin kaliber .50 terlihat bertengger angker di atas atap kabin setiap truk tersebut.Selain 10 pleton pasukan cari mati pimpinan Mayor Marlon, satu pleton berkekuatan 30 personel tentara penjaga perbatasan pimpinan Letnan Jason juga bergabung di sana.Pasukan dari benteng perbatasan tersebut bertugas mengoperasikan truk-truk senjata. Setiap truk dioperasikan oleh tiga orang tentara. Satu orang bertindak sebagai pengemudi, satu orang berperan sebagai operator senapan otomatis di atas truk, dan satu orang lagi bertugas menjaga muatan di bak belakang truk. Pada pertempuran nanti, setiap satu pleton pasukan cari mati Mayor Marlon
Letnan Jason tertegun cukup lama.Bagaimanapun, dia tahu bahwa para pemimpin dan anggota keluarga dari 17 keluarga besar kelas dua dan kelas tiga Morenmor itu merupakan orang-orang kaya egois yang amat menjunjung tinggi reputasi keluarga besarnya masing-masing. Orang-orang itu sangat kompak di antara sesama kerabat dan anggota keluarga besar sendiri, akan tetapi akan langsung saling bersaing dan saling menjatuhkan jika berhadapan dengan orang-orang dari keluarga besar yang lain. Mereka bahkan sering kali terlibat dalam pertikaian serius dan dendam berkepanjangan hanya demi menentukan keluarga besar siapa yang lebih dominan dan berpengaruh.Namun, pada malam itu mereka justru dikumpulkan dalam keadaan terhina sebagai tawanan militer yang disiapkan untuk menjadi martir perang!Lebih dari itu, para pemimpin dan anggota keluarga besar itu bahkan dipisahkan dari kerabat dan keluarganya, lalu dipaksa bergabung dalam kelompok-kelompok pasukan kecil bersama anggota keluarga besar lain – yang
Mayor Marlon bukan pengecut.Dia berbeda dari pemimpin keluarga besar yang lain.Saat para pemimpin keluarga besar kelas dua dan kelas tiga yang lain riuh berteriak tidak puas atas keputusan Gubernur Hanjaya yang hendak mengirim paksa mereka ke medan perang, dia justru berdiri dan menyatakan kesanggupannya.“Aku bersedia!” teriak Mayor Marlon lantang, bahkan terlalu lantang untuk ukuran orang yang sedang berlutut tanpa harga diri.Teriakan pemimpin Keluarga Baruna itu langsung membungkam mulut seluruh pemimpin keluarga besar yang lain. Lebih dari itu, teriakan itu bahkan berhasil membuat Kakek Sanjaya menoleh dengan raut wajah kaget campur kagum. Bagaimanapun, selama ini belum pernah ada orang yang berani berteriak begitu lantang di hadapannya.“Siapa namamu dan dari keluarga mana?” tanya Kakek Sanjaya.Mayor Marlon menjawab, “Nama saya Marlon Baruna, pemimpin Keluarga Baruna saat ini.”Kakek Sanjaya tersenyum dingin, langsung teringat pada Komandan Senior Marcel Baruna yang siang tad
Mayor Marlon memang menurunkan senjatanya.Namun, dia tidak menurunkan kewaspadaannya sama sekali. Dia bahkan tidak sedikit pun menurunkan wibawanya sebagai seorang perwira militer. Kepalanya masih tetap tegak dan sikapnya terlihat sangat tenang, elegan dan penuh percaya diri.Sepasang matanya tampak mencorong galak saat dia bertanya, “Siapa yang mengirim kalian?”Tak seorang pun menjawab.Mayor Marlon tersenyum dingin lalu kembali mengangkat senjatanya dan langsung membidik kepala salah seorang prajurit yang mengepungnya.“Katakan!” bentak Mayor Marlon dengan nada mengancam.Tetap tidak ada jawaban.Mayor Marlon mengokang senjatanya, berniat untuk benar-benar menembak.Namun, dia langsung membatalkan niatnya ketika sepasang matanya menangkap sosok seorang lelaki yang amat dikenalnya.“Jacob?” panggil Mayor Marlon ragu, hampir tak percaya pada penglihatannya sendiri.“Ya, ini aku. Prajurit yang mengepungmu adalah pasukanku. Kami datang atas perintah Oditur Jenderal tingkat dua Karel H
Strategi yang dirancang Martin memang layak diacungi jempol.Tindakannya mengeksekusi secara brutal seluruh pelaku kasus pembantaian Keluarga Desplazado dan kelompok bandit Rudolf Subrata tanpa menunggu proses peradilan selesai benar-benar efektif. Selain menunjukkan kekuasaan dan kekuatan absolut Keluarga Sanjaya sebagai keluarga teratas, kegilaannya itu ternyata juga berhasil membongkar topeng-topeng kepalsuan yang selama ini menutupi kepentingan dan watak asli para pemimpin keluarga besar Morenmor.“Sepertinya, mereka memang tak dapat dipercaya sama sekali!” ucap Gubernur Morgan Hanjaya, memberitahu Kakek Sanjaya tentang situasi terakhir yang terjadi di ruang sidang tadi siang.“Aku tahu. Sejak awal, aku tahu bahwa keluarga-keluarga rendahan tak tahu diri itu bergabung dengan pasukan milisi hanya untuk melindungi kepentingan dan kekayaan mereka semata. Mereka sama sekali tidak peduli pada Morenmor,” sahut Kakek Sanjaya ringan.Gubernur Morgan Hanjaya menghela napas panjang lalu men
DORRR ….!!!Suara letusan senjata bergema di ruang utama Aula Balai Kota Morenmor, membungkam mulut semua orang di dalamnya. Tak seorang pun berani berbicara, apalagi berteriak seperti beberapa saat sebelumnya. Begitu saja, suasana yang awalnya riuh – mendadak berubah hening dan mencekam.Hening.Bahkan sangat hening, hingga setiap orang seakan dapat mendengar detak jantungnya sendiri.Hening dan tetap hening, hingga beberapa saat berlalu.“Jika ada sesuatu yang ingin disampaikan dalam sidang ini, silakan bicara dengan tertib. Sejak awal saya sudah menyatakan bahwa sidang ini terbuka, siapa pun boleh menyampaikan informasi atau keterangan apa pun yang berguna bagi proses peradilan ini!” suara berat dan tegas Jenderal Karel Hartoyo akhirnya terdengar memecah keheningan.Tak ada yang berani menangapi, apalagi menjawab.Hampir semua orang tampaknya masih belum berhasil mengumpulkan kembali seluruh ketenangan dan keberanian mereka yang beberapa saat lalu hancur porak poranda dihantam gema
Wisma Adulterium memiliki empat kamar istimewa yang amat berbeda daripada kamar-kamar yang lain, dua kamar ada di bangunan sayap barat dan dua lagi terdapat di bangunan sayap timur. Setiap kamar berukuran sangat luas dan perabotan di dalamnya juga amat mewah.Keempat kamar istimewa itu sudah ada se
“Hati-hati …”“Tenanglah, jangan berisik …”Dua orang lelaki berpakaian serba hitam berjalan mengendap-endap mendekati gerbang sebuah bangunan besar berlantai dua di pusat kota Granda Peko, Wisma Adulterium.Tidak terlalu jauh di belakang kedua orang itu, masih ada sepuluh orang lainnya yang juga b
Saling todong antara Grace dan para petugas keamanan rumah sakit Medicamento Hospital masih terus berlangsung. Tak ada pihak yang mau mengalah, tetapi tak ada pula yang berani untuk memulai tembak-menembak.Kedua belah pihak sama-sama menunggu.Sementara itu, Edward telah dibawa ke ruang perawatan.
Keesokan harinya, bukan hanya Keluarga Prasojo yang datang ke istana kediaman Keluarga Sanjaya untuk mendapatkan bantuan persenjataan.Bersama Keluarga Prasojo, datang pula ratusan orang utusan dari belasan keluarga besar kelas dua maupun kelas tiga yang lain. Tanpa banyak pertimbangan, mereka pun







