Share

Bab 2 

Author: JQ Hamdani
last update publish date: 2023-06-06 17:59:36

“Gawat, bayi Nyonya Soraya hilang!”

Medicamento Hospital langsung dilanda kepanikan.

Bukan kepanikan yang gaduh, akan tetapi kepanikan yang senyap. Merambat tanpa kendali menembus benak dan hati hampir setiap dokter dan perawat, terutama mereka yang berada di lantai delapan.

Beberapa orang dokter dan perawat terlihat berjalan cepat setengah berlari di sepanjang koridor, bercampur dengan puluhan petugas keamanan yang melangkah tergesa-gesa dengan raut wajah cemas dan bingung.

Semua bergerak menuju ke ruang perawatan VVIP, tempat seorang wanita cantik berkulit putih yang belum genap berusia 22 tahun sedang menjalani perawatan pasca melahirkan.

Wanita muda itu adalah Soraya Clint, istri kedua Charles Sanjaya.

Beberapa jam yang lalu, dia baru saja melahirkan putra pertamanya. Dia baru melahirkan seorang bayi gemuk dan sehat yang merupakan cucu laki-laki satu-satunya dari Kakak Sanjaya, orang paling kaya dan paling berpengaruh di seantero negeri.

Bayi laki-laki itu adalah calon tunggal penerus dan pewaris tahta keluarga terkuat Morenmor!

Namun bayi itu hilang!

Bayi laki-laki itu diculik bahkan sebelum diberi nama!

Bayi kaya raya itu hilang tanpa sempat menyandang nama besar Keluarga Sanjaya sama sekali. Hanya sebuah tanda lahir berbentuk dua segitiga unik berwarna kecoklatan di bahu kirinya – yang menandakan bahwa dia adalah anggota Keluarga Sanjaya dari garis keturunan asli dan lurus.

“Maafkan saya, Nyonya!”

Seorang lelaki setengah baya bertubuh kekar berlutut memohon belas kasihan.

Dia adalah Roni, seorang pengawal Keluarga Sanjaya yang bertanggung-jawab menjaga keamanan Soraya dan bayinya. Terlihat sekali gurat ketakutan dan kepanikan menghiasi wajahnya yang masih menyisakan garis-garis ketampanan masa muda.

Soraya melirik Roni sekilas lalu bergumam pelan, “Cari sampai dapat! Temukan bayiku dan habisi penculiknya berikut seluruh keluarganya. Aku mau putraku sudah kembali sebelum matahari terbenam, atau – kamu dan seluruh keluargamu akan kehilangan kepala saat matahari terbit besok pagi!”

“Siap, Nyonya!”

Sesaat kemudian, lebih dari 80 orang pria bertubuh tegap yang mengenakan pakaian serba hitam dengan model potongan rambut pendek seperti tentara mulai bekerja.

Para pengawal yang semuanya mengenakan kacamata hitam dan perangkat komunikasi canggih seperti headset yang melingkar di kepala mereka itu terlihat memasuki dan menggeledah setiap ruangan tanpa kecuali.

Mereka memeriksa siapapun yang berada di gedung rumah sakit.

Semua dokter dan perawat dikumpulkan di aula dan ditanyai satu persatu. Beberapa di antaranya bahkan dipaksa meninggalkan pasien yang sedang ditangani.

Seperti kehilangan empati dan prikemanusiaan, para pengawal Keluarga Sanjaya itu bergerak tanpa peduli bahwa tindakan mereka sebenarnya terlalu berlebihan, hingga bahkan membuat pasien yang sebenarnya hampir sembuh – akhirnya kembali mengalami gejala yang justru lebih parah daripada sebelumnya!

Senyap dan rapi, akan tetapi brutal dan tanpa ampun!

Semua cara mereka lakukan untuk menemukan jejak sang pewaris yang hilang.

Namun, bayi Soraya tetap tak dapat diketemukan. Bayi itu hilang begitu saja, seolah memang tak diizinkan untuk mewarisi kekayaan dan kejayaan leluhurnya.

Matahari akhirnya terbenam dan tenggat waktu yang ditetapkan Soraya pun berakhir.

Roni pun pasrah.

Dengan langkah gontai, dia kembali ke ruang perawatan Soraya, lalu berlutut di hadapan nyonya kaya itu. Kepalanya tertunduk dalam, menyembunyikan wajahnya yang kini tak lagi berwarna.

Badannya yang kekar terlihat gemetar dilanda ketakutan dan rasa bersalah tanpa batas. Sementara keringat dingin sebesar-besar jagung tampak berlomba-lomba membasahi kening dan sekujur tubuhnya yang berotot.

“Maafkan saya, Nyonya. Saya telah gagal. Saya mohon ijin, pamit undur diri. Besok pagi sebelum matahari terbit, saya beserta seluruh keluarga saya akan menghadap Tuan Besar untuk menerima hukuman!” ujar Roni lemah.

Soraya mendengus kesal.

Dia sebenarnya sudah memperkirakan bahwa Roni akan gagal.

Bagaimanapun, hanya kekuatan dan kekuasaan tanpa batas sajalah yang bisa melangkahi otoritas keamanan rumah sakit Medicamento Hospital. Apalagi, sampai berhasil menculik cucu orang paling berpengaruh di Morenmor.

Tentu itu akan berada jauh di luar jangkauan Roni yang cuma pengawal pribadi Soraya!

“Bukan salahmu!” desis Soraya datar dan dingin, mulai bisa menduga siapa sesungguhnya dalang penculikan ini.

Sebagai seorang istri kedua yang dinikahi karena istri pertama tidak mampu memberi keturunan laki-laki yang dapat menjadi penerus trah Keluarga Sanjaya, dia tentu menyadari maksud dan tujuan di balik tindakan gila penculik bernyawa seribu ini.

Soraya tahu, satu-satunya alasan peculikan bayinya adalah karena status bayi itu sebagai calon tunggal pewaris tahta Keluarga Sanjaya.

Bagaimanapun juga, pernikahannya dengan Charles baru diakui secara resmi lima bulan yang lalu. Dia baru diakui sebagai Nyonya Muda Keluarga Sanjaya ketika hasil pemeriksaan dokter menunjukkan bahwa dia tengah mengandung seorang bayi laki-laki.

Akan tetapi, sekarang … bayi itu hilang!

Tanpa bayi itu, Soraya hanya akan dianggap sebagai wanita pelakor yang tak tahu malu. Bukan tidak mungkin, dia juga akan segera diceraikan tanpa belas kasihan.

Soraya mengembuskan napas berat beberapa kali.

Sebuah rencana gila tiba-tiba menyeruak masuk ke dalam benaknya.

Dia adalah Nyonya Muda Keluarga Sanjaya, tak mungkin akan membiarkan diri dipecundangi begitu saja tanpa melawan. Jika pihak lain ingin bermain, maka dia pun siap untuk bermain. Untuk kekayaan dan kekuasaan yang meliputi hampir sepertiga dunia, maka tidak akan ada kata menyerah!

“Ini bukan salahmu! Kamu tidak perlu menghadap Tuan Besar. Bahkan sebaliknya, Tuan Besar tidak boleh sampai tahu bahwa cucunya hilang. Peristiwa ini harus dirahasiakan. Perintahkan setiap orang untuk menutup mulut mereka rapat-rapat. Siapapun yang melanggar akan dihukum mati dan seluruh keluarganya juga akan dimusnahkan!” lanjut Soraya, dingin dan bengis tanpa kompromi.

Roni terperangah.

Dia hampir tak percaya pada pendengarannya sendiri. Kepalanya mendongak begitu saja, langsung menampakkan sepasang matanya yang memandang bingung ke arah Soraya.

Sekilas, dia dapat melihat kilatan jahat yang misterius memancar dari wajah nyonya muda Keluarga Sanjaya itu.

“Tapi bagaimana jika Tuan Besar ingin menengok cucunya?” tanya Roni, cemas.

“Kamu pasti tahu apa yang harus dilakukan!” jawab Soraya, ambigu.

“Baik – saya mengerti, Nyonya!” sahut Roni patuh.

Selanjutnya, pengawal pribadi Soraya itu segera beranjak meninggalkan ruangan.

Tak lama berselang, dia sudah kembali sambil menggendong seorang bayi merah berjenis kelamin laki-laki. Sementara di belakangnya, dua orang anak buahnya mengikuti sambil menyeret seorang wanita muda yang terlihat sekarat.

Sekujur tubuh wanita malang itu penuh dengan luka lebam, sementara wajahnya rusak dan tak dapat dikenali lagi karena dipukuli habis-habisan. Wanita itu meninggal dunia beberapa jam kemudian, tanpa pernah tahu kenapa dia harus bernasib semalang itu.

Roni kemudian menyerahkan bayi yang digendongnya kepada Soraya dan berkata, “Bayinya sudah ada, Nyonya!”

Bayi itu kemudian diberi nama Edward Sanjaya!

Tujuh tahun kemudian, Edward tumbuh menjadi seorang anak manja yang sulit di atur.

Semua keinginannya harus dipenuhi. Kalau tidak, dia akan menghancurkan apapun yang berada dalam jangkauannya. Jika sudah begitu, maka hanya Kakek Sanjaya yang dapat membujuknya.

Hari ini, Edward mengamuk lagi dan Kakek Sanjaya pun kembali harus membujuknya.

Kakek Sanjaya mengajak Edward berkeliling kota menggunakan sebuah mobil sedan klasik mewah berukuran besar warna putih yang ada hiasan patung perempuan bersayap di kap depan.

Mereka berkeliling Morenmor, memanjakan mata dengan beragam keindahan dan kemewahan yang ditampilkan di sepanjang jalan.

Orang-orang saling berpapasan tanpa saling menyapa. Sementara mobil-mobil meluncur tertib dalam pengaturan yang aneh. Tidak ada lampu merah atau rambu lalu lintas, namun mobil-mobil yang lebih murah akan selalu memberikan prioritas jalan pada mereka yang lebih mewah dan mahal.

Sepertinya, semua orang memang tahu persis mobil mana yang paling berhak untuk melaju tanpa hambatan!

Di sebuah perempatan, mobil mereka terpaksa berhenti.

Bukan karena ada mobil lain yang lebih mewah. Mereka berhenti karena ada sekelompok barisan tentara yang melintas.

Bagaimanapun, uang dan senjata adalah hukum satu-satunya di Morenmor. Walaupun uang dan senjata bisa membawa kemewahan, namun tak semua kemewahan mewakili uang dan senjata. Sudah sewajarnya jika kemewahan akan selalu tunduk pada senjata!

Edward sungguh terpesona melihat penampilan para tentara itu.

Seluruh tentara itu membawa senjata otomatis, namun tidak seorangpun yang mengenakan baju. Mereka hanya mengenakan celana loreng hitam, seakan ingin memamerkan dada bidang mereka yang berotot kepada seluruh penduduk kota.

Para tentara berlari sambil bernyanyi dalam barisan yang rapi dengan iringan suara derap sepatu boots yang mengalunkan irama penindasan tanpa batas.

“Aku mau jadi tentara!” Edward tiba-tiba berseru dengan antusias.

Kakek Sanjaya tersenyum, “Itu tidak masalah. Kamu bisa bergabung dengan militer kalau sudah besar nanti. Sejak dulu, keluarga kita memang banyak yang menjadi tentara. Bahkan, ayahmu sendiri adalah seorang Jenderal. Tapi untuk bisa menjadi tentara, kamu harus sehat dan kuat. Kamu juga harus rajin berlatih ilmu beladiri. Apa kamu siap?”

“Aku siap, Kek!” kata Edward cepat, bahkan tanpa berpikir.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • JEJAK SANG PEWARIS   Bab 259

    Kopral Thomas tersentak kaget mendengar perintah Adrian.Di telinganya, satu kata yang diucapkan sersan galak itu terdengar seperti bentakan laksana gelegar guntur yang meruntuhkan segenap rasa percaya dirinya. Meruntuhkan seluruh keberanian yang beberapa detik lalu telah membuatnya lancang mengusulkan suatu ide gila yang kental dengan aroma pembangkangan. Lebih dari itu, bentakan itu bahkan langsung memicu ketakutan alaminya sebagai seorang prajurit rendahan. Bagaimanapun, memprovokasi seorang sersan lapangan supaya bertindak tanpa izin perwira pemimpin Kompi – adalah bunuh diri!Kopral Thomas terdiam penuh penyesalan, menatap Kopral Oliver dan Kopral Raymond dengan sorot penuh permohonan.Sebaliknya, Adrian justru makin penasaran!“Katakan cepat, Kopral!” perintah sersan palsu itu, kini benar-benar membentak.Antara jujur karena terlanjur atau bungkam demi menghindari masalah yang lebih besar, kesadaran defensif dalam benak Kopral Thomas bergolak makin hebat. Mulutnya berulang kali

  • JEJAK SANG PEWARIS   Bab 258

    Sinar senter Adrian terus bergerak.Cahayanya redup dan sinarnya tampak bergoyang tak beraturan. Kadang menyorot jauh, kadang menyenter tanah lalu bergoyang ke kanan dan ke kiri tanpa pola yang jelas – seperti sedang ingin memberitahu sesuatu kepada orang lain yang berada di kejauhan.Orang lain itu adalah tiga orang prajurit pemuja kenaikan pangkat anak buah Jenderal Christoper. Hampir sama dengan ratusan rekannya yang tersebar di segala penjuru demi memburu 11 orang prajurit nekat sisa-sisa anak buah Mayor Marlon, ketiga serdadu itu sebenarnya mulai tak terlalu berharap lagi pada kenaikan pangkat yang dijanjikan.“Sudah hampir subuh, kita bahkan belum menemukan jejak apa pun!” gerutu serdadu paling depan.“Jangan banyak mengeluh, bukan hanya kita yang tidak menemukan apa-apa. Lihat itu, teman kita bahkan sudah hampir gila karena putus asa!” sahut rekannya seraya menunjuk ke arah sosok seorang pria berseragam sama seperti mereka.Dua pasang mata bergerak, menyusul arah tatapan rekann

  • JEJAK SANG PEWARIS   Bab 257

    Malam masih bertahta, bersemayam angkuh di singgasana kegelapan.Di pojok-pojok pekatnya selimut malam, sebelas prajurit nekat sisa-sisa pasukan cari mati bentukan Mayor Marlon terus bergerak secara berpencar. Mengandalkan keberuntungan dan harapan yang sebenarnya sudah tinggal ampas, mereka mulai membalikkan keadaan dan mengubah para pemburu menjadi target buruan. Berpegang pada prinsip ‘SATU TUKAR DUA’, mereka mulai memburu dan menghabisi serdadu pemuja kenaikan pangkat anak buah Jenderal Christoper. Dari sebelas pria nekat anak buah Mayor Marlon yang tersisa, sepuluh orang telah mencapai target satu tukar dua. Tujuh orang di antaranya, masing-masing berhasil menumbangkan dua prajurit Jenderal Christoper. Sementara tiga yang lainnya, ada yang berhasil menghabisi tiga orang dan ada yang berhasil membantai empat orang.Dari kesebelas prajurit nekat itu, hanya satu yang sama sekali belum membunuh seorang pun.Dia adalah Adrian Mahendra!Berbeda dengan Ethan Wiratama yang bertubuh dan

  • JEJAK SANG PEWARIS   Bab 256

    Luka dan lelah adalah dua kata yang dapat mengubah segalanya di medan perang.Di satu sisi, keduanya dapat langsung berubah menjadi pasrah dan putus asa. Sedangkan di sisi lain, keduanya adalah bahan bakar terbaik untuk menciptakan keberanian dan kekuatan yang melampaui batas nalar dan akal sehat.Keberanian dan kekuatan di luar nalar itu biasa disebut – nekat!Malam itu, 11 orang prajurit nekat diburu secara brutal.Mereka adalah sisa-sisa personel pasukan cari mati bentukan Mayor Marlon dan Letnan Jason. Wajah dan tubuh mereka penuh luka, sementara pakaiannya basah oleh keringat campur darah – entah darahnya sendiri atau darah musuh-musuhnya.Napas sebelas orang prajurit nekat itu pelan dan berat seperti sengaja ditahan. Bukan karena takut atau lelah, melainkan karena tak ingin suaranya terdengar oleh 10 kompi serdadu pemuja kenaikan pangkat yang sedang memburu mereka. Bagaimanapun, mereka tidak rela jika kepalanya hanya dihargai satu tingkat kenaikan pangkat. Setidaknya, harus ada

  • JEJAK SANG PEWARIS   Bab 255

    Dor!Pistol di tangan Mayor Marlon menyalak.Satu sosok tubuh lelaki roboh terjengkang dengan dada bersimbah darah.Sosok lelaki yang tumbang itu adalah Mayor Marlon, bukan Jenderal Christoper!Mayor Marlon tumbang terkena hentakan balik dari letusan pistolnya sendiri. Lebih dari itu, getaran senjata yang merambat dari tangan telah membuat serpihan-serpihan logam yang masih bersarang di dadanya berhasil merobek paru-parunya secara brutal. Sementara, tubuhnya yang memang sudah terluka parah sejak awal ternyata benar-benar telah kehabisan tenaga dan tak sanggup lagi menahan sakit yang mendadak menggila.Dia tumbang tepat pada saat senjata di tangannya meletus, membuat peluru terakhirnya melesat entah ke mana!Di sebelah sosok Mayor Marlon yang tergeletak tak sadarkan diri, Letnan Jason duduk terpekur dengan kedua tangan masih menggenggam roda kemudi. Samar-samar, terdengar desah putus asa yang berembus panjang dari celah bibirnya yang kering dan pecah-pecah. Dorongan adrenalin yang sela

  • JEJAK SANG PEWARIS   Bab 254

    Mayor Marlon dan Letnan Jason bergerak lagi.Kali ini, mereka menuju sebuah tenda besar dengan bendera hitam bergambar satu bintang warna kuning yang berkibar angkuh di depannya. Walaupun belum roboh, tenda besar itu terlihat sudah doyong akibat hantaman gelombang ledakan gudang amunisi beberapa menit yang lalu.Tenda besar yang sudah doyong itu adalah pusat komando tertinggi pasukan Ibu Kota.Dua regu yang masing-masing beranggotakan 12 personel bersenjata lengkap tampak berjaga di sekeliling tenda itu.Di dalam tenda doyong yang dijaga dengan amat ketat itu, Jenderal Christoper Mulyana terlihat berjalan mondar-mandir dengan langkah gusar. Raut wajahnya yang membesi dan sorot matanya yang berapi-api sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan bahwa Jenderal muda itu sedang murka. Sementara di hadapannya, tiga orang komandan batalyon tampak duduk terpekur – menunggu perintah yang tak kunjung terucap.Jenderal Christoper memang kurang pengalaman.Namun, ketiga komandan batalyon bawahannya

  • JEJAK SANG PEWARIS   Bab 67

    Kegembiraan dan sukacita mewarnai istana keluarga Sanjaya.Hari ini, Kakek Sanjaya sudah diizinkan pulang dari rumah sakit Medicamento Hospital.Para pelayan dan pengawal berbaris rapi di dekat gerbang mansion, sementara anggota keluarga menunggu di aula utama. Beberapa kerabat dekat dari keluarga cab

  • JEJAK SANG PEWARIS   Bab 64

    Kakek Sanjaya memandangi Adelia dengan tatapan aneh.Dia seolah ingin menelanjangi gadis berwajah bidadari itu dengan tatapannya.Entah apa yang dia cari, namun beberapa saat kemudian lelaki tua kaya raya itu tersenyum lebar.“Kamu cantik, sayangnya – kamu bukan cucuku. Seandainya kamu adalah cucuku, m

  • JEJAK SANG PEWARIS   Bab 60

    Wajah Adelia memerah seperti kepiting rebus.Dia kemudian mengambil satu amplop laporan hasil tes DNA yang lain dari dalam tasnya, lalu menyerahkannya kepada Leon seraya berkata, “Ini adalah laporan hasil tes DNA kita. Aku belum berani membukanya.”Leon membuka amplop itu sambil bertanya dengan nada m

  • JEJAK SANG PEWARIS   Bab 50

    “Selamat sore, Tuan Besar.”Semua orang di Medicamento Hospital memberi hormat sambil membungkukkan badan hingga hampir 90 derajat saat Kakek Sanjaya bersama selusin pengawal pribadinya berjalan cepat memasuki gedung rumah sakit itu.Empat orang satpam segera mengosongkan selasar, menyingkirkan apapun

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status