LOGINEdward mulai berlatih ilmu beladiri satu minggu kemudian. Dia berlatih di bawah bimbingan Martin, Kepala Pelayan Keluarga Sanjaya yang juga merupakan orang kepercayaan Kakek Sanjaya.
Kakek Sanjaya datang memantau perkembangan latihan Edward setiap beberapa hari sekali.
“Bagaimana? Apakah kamu menyukai latihanmu?” tanya Kakek Sanjaya suatu hari.
“Saya suka, Kek. Tapi aku bosan jika harus berlatih sendirian terus!” jawab Edward manja.
“Jangan khawatir. Kakek akan menyuruh Martin agar mencarikan teman berlatih untukmu,” janji Kakek Sanjaya.
Edward tersenyum senang.
Dua hari kemudian seorang bocah kurus datang bersama Martin. Dia datang untuk menemani Edward berlatih ilmu beladiri.
Nama bocah itu adalah Leon, tanpa nama keluarga di belakangnya.
Dia adalah seorang anak yatim piatu berusia tujuh tahun yang diambil Martin dari sebuah panti asuhan. Kabarnya, dulu – tujuh tahun yang lalu – Leon ditinggalkan begitu saja di depan panti asuhan saat masih bayi merah. Waktu itu, tali pusarnya bahkan masih ada!
“Tuan Muda, ini Leon. Mulai hari ini dia akan menemani Tuan Muda berolah raga dan berlatih ilmu beladiri,” kata Martin memperkenalkan Leon pada Edward.
Edward memandang Leon dengan tatapan jijik. Dia kemudian mendekati Leon lalu berjalan lambat mengelilingi bocah yatim itu beberapa kali, sementara sepasang matanya memindai sosok kurus itu dengan seksama dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Tingkahnya persis seperti seorang pedagang ternak yang sedang menaksir harga seekor kambing.
“Sepertinya tubuhnya terlalu kurus. Apakah dia cukup kuat untuk berlatih ilmu beladiri?” ujar Edward ragu dengan sikap yang amat jumawa.
Martin tersenyum tipis, “Kalau Tuan Muda tidak cocok, saya akan cari yang lain.”
Edward menggeleng. Dia menyunggingkan senyum tipis laksana seorang professional pencari bakat dan berkata, “Tidak perlu, aku akan melatihnya supaya dia lebih kuat!”
Martin langsung terhenyak.
Dia tak menyangka Edward akan sesombong itu. Cucu Kakek Sanjaya itu baru berlatih beberapa minggu, bahkan belum genap satu bulan, akan tetapi sikapnya sudah seperti pelatih ilmu beladiri professional saja.
Antara gusar dan gundah, Kepala Pelayan Keluarga Sanjaya itu akhirnya hanya dapat mengeluh dalam hati, “Sepertinya, ini tidak akan berjalan sesuai harapan!”
Tak lama berselang, Martin beranjak pergi meninggalkan Edward dan Leon di aula olahraga.
Sepeninggal Martin, Edward segera menghampiri Leon. Sikapnya penuh ancaman dan sepasang matanya memancarkan sorot penindasan tanpa ampun.
“Namamu Leon, ‘kan?”
“Iya, Tuan Muda.”
“Baik. Sebelum mulai latihan, saya akan memberi tahu aturan dan tugas-tugasmu selama latihan. Yang pertama, ucapanku adalah satu-satunya aturan di sini. Yang kedua, tugasmu adalah melakukan apapun yang kuperintahkan. Ketiga, kamu tidak boleh masuk atau keluar aula ini tanpa izinku. Paham?”
“Paham, Tuan Muda.”
“Bagus. Sekarang aku mau istirahat sebentar, kamu tunggu di sini!” perintah Edward seraya beranjak pergi dengan langkah angkuh dan dagu yang terangkat tinggi.
Setelah itu, sunyi.
Leon termenung sendirian. Hatinya tiba-tiba membesar dan semangatnya melambung tinggi saat melihat berbagai peralatan olahraga mahal yang bertabur di tempat itu. Tangannya bahkan terlihat sedikit gemetar ketika dia memberanikan diri menyentuh sebuah dumbel karet berwarna abu-abu.
Kemudian, ia mencoba mengangkat dumbel itu dengan hati-hati. Terasa nyaman dan pas dalam genggaman tangannya, tidak ringan dan tidak juga berat. Sepertinya, ukuran dan bobot benda itu memang disesuaikan untuk anak-anak seusianya.
Selanjutnya, sambil tetap menggenggam dumbel di tangannya, Leon mulai berkeliling mengamati berbagai alat-alat kebugaran canggih dan mewah yang selama ini hanya bisa dia lihat pada tayangan televisi di panti asuhan.
Leon benar-benar tenggelam dalam kekaguman.
Dia seperti terdampar pada dunia khayal yang mewah dan indah. Berulang kali, dia terlihat menyentuh atau mengusap barang-barang mahal itu hanya demi membuktikan bahwa dia tidak sedang bermimpi.
Dia benar-benar larut dalam kekaguman, hingga tak sadar bahwa Edward telah kembali.
“Hei – sedang apa kamu?!?” bentak Edward seraya berlari menghampiri.
Leon terperanjat kaget bukan kepalang hingga bahkan dumbel di tangannya terlepas lalu jatuh dan menggelinding ke dekat Edward.
Edward memandang dumbel berwarna abu-abu itu dengan tatapan jijik lalu bertanya dengan nada gusar, “Siapa yang mengizinkanmu menyentuh barang-barangku?”
Leon tergagap, “Ma … maafkan saya, Tuan Muda.”
Edward tak peduli, “Aku tidak mau tahu! Sekarang juga – bersihkan semua benda yang telah kamu pegang. Aku tidak sudi barang-barangku disentuh oleh tangan kotormu itu!”
Leon mengangkat kedua tangannya lalu memeriksanya dengan teliti, namun semua terlihat biasa saja. Tidak ada noda atau kotoran apapun di sana. Dia kemudian memandang Edward dengan perasaan takut campur bingung seraya berkata, “Maaf, Tuan Muda – tapi tangan saya tidak kotor.”
Edward mendengus kasar, “Huh – kalau aku bilang kotor, ya kotor! Belum apa-apa kamu sudah berani membantah. Apa kamu lupa dari mana kamu berasal? Apa kamu pikir derajat dan kedudukanmu sama denganku? Asal kamu tahu, jangankan tanganmu – seluruh dirimu hanyalah kotoran di depanku!”
Leon tersurut beberapa langkah ke belakang. Ucapan Edward benar-benar menusuk kalbunya. Hatinya mendadak bergolak seiring harga dirinya yang terkoyak.
Dia ingin melawan, tapi dia tak berani.
Bagaimanapun, dia cukup tahu diri bahwa dirinya memang bersalah dan sedikit terlalu lancang. Apapun alasannya, menyentuh barang-barang yang bukan miliknya tetaplah merupakan suatu tindakan yang tak dapat dibenarkan!
Akan tetapi, bukankah tidak ada satupun barang-barang itu yang rusak?
Dia hanya menyentuhnya!
Bagaimana mungkin dia bisa dihina serendah itu hanya karena menyentuh tanpa izin?
Leon akhirnya hanya dapat menatap Edward dengan pandangan rumit yang sulit untuk diterjemahkan. Namun dia tak menduga sama sekali, tatapan itu justru membuatnya terjebak makin jauh dalam masalah!
Edward ternyata tersingung oleh tatapan mata Leon. Dia bahwa merasa bahwa Leon ingin menantangnya. Cucu orang terkaya Morenmor itu kemudian memberondong dengan nada suara tinggi penuh penindasan, “Apa?!? Kamu tidak terima? Kamu ingin melawanku?”
Leon tergagap lagi. Sekarang bukan hanya harga dirinya yang terkoyak, namun seluruh keberaniannya pun hancur berantakan tak bersisa.
Suaranya bahkan terdengar bergetar ketika dia berkata, “Ma … maaf, Tuan Muda. Saya tidak berani!”
Edward tidak puas, “Lalu apa maksudmu mentapku seperti itu?”
Leon kembali tersentak kaget.
Dia segera menundukkan kepalanya, benar-benar tidak berani lagi menatap Edward.
Bocah malang itu kemudian berkata penuh ketakutan dan penyesalan, “Maaf Tuan Muda, saya tidak sengaja. Saya tidak akan mengulangi lagi. Saya juga akan mengerjakan perintah Tuan Muda. Saya akan membersihkan semuanya sekarang juga.”
Edward tersenyum penuh kemenangan lalu berkata, “Bagus, bersihkan semua. Jangan ada yang terlewat, aku tidak mau ada sedikitpun bekas tubuhmu yang melekat di barang-barang milikku. Besok kita akan mulai latihan, aku mau semua sudah selesai pada saat itu. Paham?!”
“Paham, Tuan Muda.” Leon menyahut lirih.
“Bagus!” sahut Edward sambil beranjak meninggalkan aula olahraga. Dua orang pengawal tampak mengikuti saat ia berjalan menuju ke kamarnya.
Kini Leon kembali sendirian di aula olahraga yang total luasnya hampir menyamai setengah lapangan sepak bola. Entah bagaimana caranya dia akan membersihkan aula seluas itu. Dia hanya seorang anak kecil berusia tujuh tahun. Tubuh kurusnya tak mungkin menyimpan cukup tenaga untuk melakukan semua itu dengan hanya seorang diri.
Namun, perintah tetap perintah.
Leon pun mulai bergerak.
Dia memeriksa setiap ruangan yang terdapat di Aula Olahraga, mencari tempat penyimpanan alat-alat kebersihan. Setelah menemukannya, dia mulai memilih beberapa alat yang mungkin dapat digunakannya.
Malang, dia hanya dapat mengambil beberapa lembar kain lap dan sebatang sapu yang sepertinya nyaris tak pernah dipakai. Selain kedua barang itu, semuanya adalah alat-alat canggih yang bahkan belum pernah dia lihat sebelumnya.
Leon tak mengeluh.
Berbekal sapu dan kain lap, dia mulai membersihkan aula olahraga dalam kesunyian. Tangannya terlihat trampil menggunakan kedua barang itu. Bagaimanapun, selama tinggal di panti asuhan – dia memang dikenal sangat rajin membantu Ibu Pengurus Panti.
Akan tetapi, aula olahraga di mansion Keluarga Sanjaya jauh lebih besar dari pada gedung panti asuhan tempat tinggal Leon sebelumnya. Bahkan pada kenyataannya, aula olahraga itu sebenarnya lebih mirip sebuah stadion mini yang mewah. Tak bijak sama sekali jika mencoba membandingkannya dengan Gedung panti asuhan yang sempit dan kumuh.
Selanjutnya, sebuah tontonan yang menghancurkan nurani pun mulai berlangsung.
Sesosok tubuh kurus yang tampak kurang gizi mulai bergerak lambat, menyapu inci demi inci pelataran aula olahraga. Walaupun nyaris tak ada debu atau kotoran yang tersangkut di sapunya, Leon tetap menyapu.
Dia juga membersihkan setiap alat olah raga yang ditemuinya. Menggunakan selembar kain lap, dia mengusap semua peralatan mahal itu dengan teliti dan sangat hati-hati.
Lewat tengah malam, Leon akhirnya menyerah.
Tubuh kurusnya ambruk, tak mampu melawan lelah yang mendera sejak sore. Sementara sepasang matanya tertutup sendiri, tak lagi sanggup membendung kantuk yang terus menyerang. Tanpa dapat ditahan, Leon tertidur begitu saja di atas landasan mesin tredmill yang sedang dibersihkannya.
Leon tertidur di aula olahraga, bahkan sebelum dia mendapatkan jatah makan malamnya!
Mayor Marlon bukan pengecut.Dia berbeda dari pemimpin keluarga besar yang lain.Saat para pemimpin keluarga besar kelas dua dan kelas tiga yang lain riuh berteriak tidak puas atas keputusan Gubernur Hanjaya yang hendak mengirim paksa mereka ke medan perang, dia justru berdiri dan menyatakan kesanggupannya.“Aku bersedia!” teriak Mayor Marlon lantang, bahkan terlalu lantang untuk ukuran orang yang sedang berlutut tanpa harga diri.Teriakan pemimpin Keluarga Baruna itu langsung membungkam mulut seluruh pemimpin keluarga besar yang lain. Lebih dari itu, teriakan itu bahkan berhasil membuat Kakek Sanjaya menoleh dengan raut wajah kaget campur kagum. Bagaimanapun, selama ini belum pernah ada orang yang berani berteriak begitu lantang di hadapannya.“Siapa namamu dan dari keluarga mana?” tanya Kakek Sanjaya.Mayor Marlon menjawab, “Nama saya Marlon Baruna, pemimpin Keluarga Baruna saat ini.”Kakek Sanjaya tersenyum dingin, langsung teringat pada Komandan Senior Marcel Baruna yang siang tad
Mayor Marlon memang menurunkan senjatanya.Namun, dia tidak menurunkan kewaspadaannya sama sekali. Dia bahkan tidak sedikit pun menurunkan wibawanya sebagai seorang perwira militer. Kepalanya masih tetap tegak dan sikapnya terlihat sangat tenang, elegan dan penuh percaya diri.Sepasang matanya tampak mencorong galak saat dia bertanya, “Siapa yang mengirim kalian?”Tak seorang pun menjawab.Mayor Marlon tersenyum dingin lalu kembali mengangkat senjatanya dan langsung membidik kepala salah seorang prajurit yang mengepungnya.“Katakan!” bentak Mayor Marlon dengan nada mengancam.Tetap tidak ada jawaban.Mayor Marlon mengokang senjatanya, berniat untuk benar-benar menembak.Namun, dia langsung membatalkan niatnya ketika sepasang matanya menangkap sosok seorang lelaki yang amat dikenalnya.“Jacob?” panggil Mayor Marlon ragu, hampir tak percaya pada penglihatannya sendiri.“Ya, ini aku. Prajurit yang mengepungmu adalah pasukanku. Kami datang atas perintah Oditur Jenderal tingkat dua Karel H
Strategi yang dirancang Martin memang layak diacungi jempol.Tindakannya mengeksekusi secara brutal seluruh pelaku kasus pembantaian Keluarga Desplazado dan kelompok bandit Rudolf Subrata tanpa menunggu proses peradilan selesai benar-benar efektif. Selain menunjukkan kekuasaan dan kekuatan absolut Keluarga Sanjaya sebagai keluarga teratas, kegilaannya itu ternyata juga berhasil membongkar topeng-topeng kepalsuan yang selama ini menutupi kepentingan dan watak asli para pemimpin keluarga besar Morenmor.“Sepertinya, mereka memang tak dapat dipercaya sama sekali!” ucap Gubernur Morgan Hanjaya, memberitahu Kakek Sanjaya tentang situasi terakhir yang terjadi di ruang sidang tadi siang.“Aku tahu. Sejak awal, aku tahu bahwa keluarga-keluarga rendahan tak tahu diri itu bergabung dengan pasukan milisi hanya untuk melindungi kepentingan dan kekayaan mereka semata. Mereka sama sekali tidak peduli pada Morenmor,” sahut Kakek Sanjaya ringan.Gubernur Morgan Hanjaya menghela napas panjang lalu men
DORRR ….!!!Suara letusan senjata bergema di ruang utama Aula Balai Kota Morenmor, membungkam mulut semua orang di dalamnya. Tak seorang pun berani berbicara, apalagi berteriak seperti beberapa saat sebelumnya. Begitu saja, suasana yang awalnya riuh – mendadak berubah hening dan mencekam.Hening.Bahkan sangat hening, hingga setiap orang seakan dapat mendengar detak jantungnya sendiri.Hening dan tetap hening, hingga beberapa saat berlalu.“Jika ada sesuatu yang ingin disampaikan dalam sidang ini, silakan bicara dengan tertib. Sejak awal saya sudah menyatakan bahwa sidang ini terbuka, siapa pun boleh menyampaikan informasi atau keterangan apa pun yang berguna bagi proses peradilan ini!” suara berat dan tegas Jenderal Karel Hartoyo akhirnya terdengar memecah keheningan.Tak ada yang berani menangapi, apalagi menjawab.Hampir semua orang tampaknya masih belum berhasil mengumpulkan kembali seluruh ketenangan dan keberanian mereka yang beberapa saat lalu hancur porak poranda dihantam gema
Matahari masih belum sampai di puncak langit.Namun, suasana di Balai Kota Morenmor sudah begitu panas.Ribuan orang berkumpul di pelataran. Mereka adalah penduduk sipil yang sebelumnya bergabung dengan pasukan gabungan sebagai tentara cadangan, lalu mengundurkan diri karena takut dilibatkan dalam pertikaian berdarah antara sesama tentara milisi Morenmor tadi malam.Sementara di dalam ruangan aula utama Balai Kota, puluhan pemimpin dan pewaris serta tetua keluarga-keluarga besar Morenmor terlihat berkumpul dengan wajah tegang. Hampir semuanya didampingi oleh sekurang-kurangnya dua orang pengawal bertubuh tinggi besar. Sebagian ada yang duduk dengan gelisah, sedangkan sebagian lainnya berdiri dengan sikap garang. Beberapa di antara mereka tampak sibuk dengan ponselnya, seolah takut ketinggalan informasi atau terlambat berkoordinasi.“Tadi malam ada ribuan orang yang menjadi korban, kita tidak mungkin diam saja!”“Benar, hari ini kita harus mendapat penjelasan yang sejelas-jelasnya!”“S
Malam akhirnya berganti pagi.Operasi senyap yang berubah menjadi perang saudara itu pun berakhir dengan ribuan orang menjadi korban, 445 di antaranya adalah tentara anggota pasukan milisi. Tentu saja, tragedi itu langsung mempengaruhi kekuatan dan kesiapan pasukan gabungan Morenmor.Kabar tentang ratusan tentara milisi yang sedianya akan menyerbu markas tentara Negara Vicinus di pabrik obat Sanus Pharmacy yang justru terlibat dalam perang saudara membuat ribuan penduduk Morenmor yang sebelumnya bergabung sebagai pasukan cadangan mendadak mengundurkan diri. Sementara, para komandan tentara milisi dari keluarga-keluarga teratas yang tidak terlibat dalam tragedi perang saudara malam itu langsung menarik anggotanya dari seluruh kegiatan latihan bersama.Begitu saja, pasukan gabungan Morenmor pun terpecah belah dan jatuh mental.Mereka tenggelam dalam keraguan dan kebingungan tak berujung. Semua meningkatkan kewaspadaan secara berlebihan, bahkan beberapa di antara mereka mulai tampak sali







