Share

Bab 4

Penulis: JQ Hamdani
last update Tanggal publikasi: 2023-06-06 18:01:21

“Bangun!”

Sebuah tendangan teriring bentakan keras memaksa Leon meninggalkan alam mimpi.

Dia terbangun bahkan tanpa sempat mengumpulkan setengah dari kesadarannya. Tubuhnya terjatuh dari atas landasan treadmill yang selama beberapa jam terakhir telah menjadi ranjang tidurnya.

Terhuyung-hutung, Leon berusaha bangkit dan berdiri.

Dia mengejapkan matanya beberapa kali, berusaha beradaptasi dengan cahaya matahari yang ternyata sudah lama meninggalkan peraduan.

Samar-samar, dia akhirnya berhasil mengenali sesosok tubuh yang telah menendang perutnya yang bahkan belum diisi sejak kemarin.

“Ma … maafkan saya, Tuan Muda. Saya kesiangan,” ujar Leon ketakutan.

“Keterlaluan kamu! Bukankah aku sudah mengatakan agar kamu menjauhi barang-barang milikku? Tapi lihat – kamu bukan hanya menyentuh treadmill itu, kamu bahkan justru tidur di situ! Sepertinya, kamu benar-benar menganggap remeh ucapanku! Apa maksudmu sebenarnya, hah?!?” sahut Edward, membentak dengan sengit.

“Maaf, Tuan Muda. Tadi malam saya tidak sengaja tertidur ketika sedang membersihkannya. Saya benar-benar tidak sengaja,” ucap Leon lirih penuh penyesalan.

Namun Edward tak peduli.

Dia terus meradang dan membentak Leon dengan kasar, “Maaf, maaf, hanya maaf saja yang kamu ucapkan dari tadi! Apa kamu pikir semua bisa selesai dengan minta maaf? Asal kamu tahu, gara-gara kamu, treadmill ini sekarang harus dibuang dan tidak mungkin dipakai lagi!” tukas Edward makin sengit.

Leon tercengang.

Treadmill itu tidak bisa dipakai lagi? Apakah alat itu rusak?

Leon memperhatikan treadmill itu dengan seksama.

Alat itu masih terlihat sama seperti tadi malam, tak ada yang berubah sama sekali. Bagaimanapun, dia memang tidak merasa melakukan apapun terhadap benda itu.

Dia hanya tertidur di atas landasannya, tidak lebih!

“Kenapa tidak bisa dipakai lagi, Tuan Muda? Apakah alat ini rusak?” tanya Leon hati-hati, penuh kekhawatiran.

Edward menjawab, “Tidak penting apakah itu rusak atau tidak, tapi pasti ada terlalu banyak bekas keringatmu di situ sekarang. Aku jijik untuk menggunakannya lagi!”

Leon terperangah.

Hanya karena bekas keringat maka alat semewah itu tak dapat digunakan lagi? Benar-benar tak masuk di akal!

Namun, siapa yang dapat mencegah orang kaya untuk bertindak tak masuk akal? Edward adalah cucu orang terkaya Morenmor, tentu tak akan ada masalah apapun jika dia bersikap tidak masuk akal.

Sedangkan Leon?

Dia hanya bocah miskin yang bahkan belum pernah melihat mesin treadmill selama hidupnya.

Jiwa miskinnya tentu akan menjerit tak terima ketika membayangkan sebuah alat olahraga mahal harus disingkirkan hanya karena terkena keringat orang miskin.

“Maaf, Tuan Muda. Alat ini pasti sangat mahal, sayang sekali jika harus dibuang. Saya akan membersihkannya supaya dapat dipakai lagi,” kata Leon mencoba membujuk Edward.

Namun, Edward justru tertawa mendengar ucapan Leon.

Dia manatap Leon dengan pandangan jijik lalu berkata, “Tidak perlu! Tidak perlu dibersihkan, aku sudah terlanjur jijik melihatnya. Akan lebih baik jika kamu yang membersihkan diri. Segera mandi dan minta pakaian baru pada pelayan, aku muak melihat baju murahmu itu!”

Selanjutnya, Edward memanggil kedua pengawal yang selalu mengiringinya ke manapun dia pergi. Dia memerintahkan mereka untuk menyingkirkan mesin treadmill yang sebenarnya masih sangat baru itu!

Leon tak bisa berkata apa-apa lagi.

Dia hanya bisa memandangi mesin treadmill yang sedang digotong keluar itu dengan hati gundah penuh rasa bersalah. Bagaimanapun, dialah yang menyebabkan alat mahal itu pensiun sebelum waktunya.

Leon tak bisa berlama-lama meratapi nasib treadmill itu. Dia harus segera pergi mandi sebelum nasibnya menjadi lebih tragis daripada mesin mahal itu.

Tanpa mengucapkan sepatah katapun, dia melangkahkan kakinya mengikuti kedua pengawal pribadi Edward.

Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti mendadak.

Edward menahannya, “Tunggu! Segera kembali ke sini begitu kamu selesai, lima menit lagi kita akan mulai latihan. Jangan terlambat, aku tidak suka menunggu!”

Leon menyahut, “Baik, Tuan Muda.”

Selanjutnya, bocah bertubuh kurus itu melesat meninggalkan aula olahraga.

Tak sampai lima menit kemudian, dia sudah kembali dengan penampilan yang berbeda.

Wajahnya tampak segar walaupun rambutnya masih basah dan terlihat sedikit acak-acakan. Titik-titik air bahkan masih menetes dari ujung-ujung rambut yang sepertinya belum sempat dikeringkan dengan sempurna itu.

Bukan hanya rambut, sebenarnya bocah kurus itu bahkan tak sempat mengeringkan tubuhnya sama sekali!

Terlepas dari rambutnya yang tampak acak-acakan, keadaan Leon saat ini terlihat jauh berbeda.

Pakaian baru yang dia kenakan sepertinya benar-benar berjasa dalam merubah penampilannya. Bahkan, ada samar-samar aura bangsawan yang kini menguar dari tubuh bocah kurus yang kini menebarkan aroma mewah sabun mahal.

Leon memang hanya mandi dan berganti pakaian. Tapi itu sudah lebih dari cukup untuk merubah penampilannya menjadi jauh lebih baik.

Hanya satu yang kurang.

Semua perubahan itu tak sampai merubah keadaan di dalam perutnya. Lambung bocah kurus itu masih tetap menjerit-jerit histeris. Bagaimanapun, Leon memang belum maka napa-apa sejak kemarin!

Edward terlihat puas dengan penampilan baru Leon. Kini dia tak perlu takut dan jijik lagi untuk bersentuhan dengan anak dari panti asuhan itu.

“Bagus, sekarang kita dapat mulai latihan. Ayo!” kata Edward, tak jelas apakah mengajak atau memerintah. Yang jelas hanyalah sikap dan suaranya yang tetap angkuh seperti biasa.

Sepasang mata Leon langsung berbinar penuh kegembiraan. Bagaimanapun, dia sebenarnya tak menyangka bahwa Edward akhirnya akan benar-benar mengizinkannya berlatih ilmu beladiri bersama.

Leon segera menegakkan punggungnya dengan penuh semangat dan berkata, “Siap, Tuan Muda. Saya berjanji akan berlatih dengan sunguh-sungguh!”

Edward tidak menjawab.

Cucu orang terkaya Morenmor itu hanya memandang sekilas dengan tatapan sinis, lalu beranjak ke tengah aula.

Di sana dia melakukan pemanasan dengan melompat-lompat ringan sambil memutar-mutar kedua tangannya. Beberapa kali, dia terlihat melakukan gerakan meninju dan menendang udara kosong.

Leon mengamati tingkah laku Tuan Muda Keluarga Sanjaya itu sejenak, lalu perlahan-lahan mulai mencoba mengikuti. Terlihat sekali, gerakannya sangat canggung dan kaku.

Edward melirik sekilas, memperhatikan gerakan Leon.

Dia kemudian berkata dengan nada mengejek, “Bukan begitu caranya. Kemarilah!”

Leon tertegun, tak menyangka bahwa Edward memperhatikannya.

Dia segera menghampiri Edward dengan penuh semangat. Dia berpikir bahwa cucu Kakek Sanjaya itu hendak memberi petunjuk dan memperbaiki gerakannya.

Dia tak tahu bahwa Tuan Muda Keluarga Sanjaya itu sebenarnya menyimpan rencana jahat.

“Mendekatlah, aku akan menunjukkan padamu bagaimana cara memukul dengan benar!” kata Edward sambil tersenyum aneh penuh misteri.

Leon menurut tanpa curiga.

Namun, kepatuhannya justru berbuah bencana.

Edward tiba-tiba meninju perut Leon dengan sangat keras, tepat di ulu hatinya.

Leon langsung jatuh terduduk dan napasnya mendadak terasa sangat sesak.

Tampak sekali bahwa dia amat kesulitan untuk menghirup oksigen, sementara isi di dalam perutnya bergolak hebat mencari jalan keluar.

Bocah kurus itu hampir muntah, tapi tak ada apapun yang dapat dimuntahkannya. Bagaimanapun, perutnya memang belum terisi apa-apa sejak kemarin!

Leon memandang Edward dengan tatapan tak percaya, “Kenpa kamu memukulku?”

Edward menjawab, “Aku hanya ingin menunjukkan cara memukul yang benar, tapi kamunya saja yang terlalu lemah!”

Leon tak bisa berkata apa-apa.

Selain karena pergolakan dalam perutnya yang terasa makin hebat sehingga membuatnya sulit bicara, dia juga berpikir bahwa Edward mungkin memang mengatakan yang sebenarnya.

Bagaimanapun, pada kenyataannya dia memang benar-benar tak mampu menahan pukulan bocah kaya raya itu.

Leon kemudian bangkit perlahan-lahan sambil meringis hampir menangis. Sementara di hadapannya, Edward terlihat bersiap-siap untuk mulai memukul lagi.

“Ayo, kita belum selesai latihan. Jangan cengeng!” bentak Edward tanpa belas kasihan.

Leon tak terima dikatakan cengeng.

Harga dirinya sebagai anak laki-laki langsung melonjak dan membuatnya langsung menantang tanpa berpikir panjang, “Ayo, mari kita lanjutkan!”

Dengan tekad dan ketabahan yang jauh di atas rata-rata, dia kemudian berdiri dengan tegap.

Walaupun perutnya masih terus bergolak dan napasnya masih terasa sesak, dia berusaha untuk bertahan sekuat tenaga. Dia bahkan mengunci mulutnya rapat-rapat supaya tidak mengeluh, apalagi sampai menangis.

Selanjutnya, Edward memukul perut Leon lagi.

Leon tersungkur lagi, kemudian bangkit lagi. Dipukul lagi, lalu jatuh lagi. Bangkit lagi, lalu dipukul lagi.

Begitu terus, hingga akhirnya Edward berhenti sendiri karena kelelahan.

“Sudah, cukup! Besok kita latihan lagi,” ujar Edward seraya beranjak pergi, meninggalkan Leon begitu saja tanpa rasa bersalah sedikitpun.

Setelah Edward benar-benar tidak terlihat, Leon pun mengembuskan napas lega.

Dia kemudian menjatuhkan diri, duduk meringkuk sambil memegangi perutnya yang lapar dan terasa amat sakit.

Tanpa terasa, kedua sudut matanya mulai mengalirkan butir-butir bening yang meluncur tak terkendali membasahi pipinya.

Tanpa suara, Leon menangis dalam diam.

Keesokan harinya, hal yang sama terulang lagi.

Kemudian berulang lagi pada hari berikutnya, lalu hari berikutnya dan berikutnya lagi. Berulang terus hampir setiap hari, hingga tanpa terasa sudah berlangsung hampir dua tahun!

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • JEJAK SANG PEWARIS   Bab 259

    Kopral Thomas tersentak kaget mendengar perintah Adrian.Di telinganya, satu kata yang diucapkan sersan galak itu terdengar seperti bentakan laksana gelegar guntur yang meruntuhkan segenap rasa percaya dirinya. Meruntuhkan seluruh keberanian yang beberapa detik lalu telah membuatnya lancang mengusulkan suatu ide gila yang kental dengan aroma pembangkangan. Lebih dari itu, bentakan itu bahkan langsung memicu ketakutan alaminya sebagai seorang prajurit rendahan. Bagaimanapun, memprovokasi seorang sersan lapangan supaya bertindak tanpa izin perwira pemimpin Kompi – adalah bunuh diri!Kopral Thomas terdiam penuh penyesalan, menatap Kopral Oliver dan Kopral Raymond dengan sorot penuh permohonan.Sebaliknya, Adrian justru makin penasaran!“Katakan cepat, Kopral!” perintah sersan palsu itu, kini benar-benar membentak.Antara jujur karena terlanjur atau bungkam demi menghindari masalah yang lebih besar, kesadaran defensif dalam benak Kopral Thomas bergolak makin hebat. Mulutnya berulang kali

  • JEJAK SANG PEWARIS   Bab 258

    Sinar senter Adrian terus bergerak.Cahayanya redup dan sinarnya tampak bergoyang tak beraturan. Kadang menyorot jauh, kadang menyenter tanah lalu bergoyang ke kanan dan ke kiri tanpa pola yang jelas – seperti sedang ingin memberitahu sesuatu kepada orang lain yang berada di kejauhan.Orang lain itu adalah tiga orang prajurit pemuja kenaikan pangkat anak buah Jenderal Christoper. Hampir sama dengan ratusan rekannya yang tersebar di segala penjuru demi memburu 11 orang prajurit nekat sisa-sisa anak buah Mayor Marlon, ketiga serdadu itu sebenarnya mulai tak terlalu berharap lagi pada kenaikan pangkat yang dijanjikan.“Sudah hampir subuh, kita bahkan belum menemukan jejak apa pun!” gerutu serdadu paling depan.“Jangan banyak mengeluh, bukan hanya kita yang tidak menemukan apa-apa. Lihat itu, teman kita bahkan sudah hampir gila karena putus asa!” sahut rekannya seraya menunjuk ke arah sosok seorang pria berseragam sama seperti mereka.Dua pasang mata bergerak, menyusul arah tatapan rekann

  • JEJAK SANG PEWARIS   Bab 257

    Malam masih bertahta, bersemayam angkuh di singgasana kegelapan.Di pojok-pojok pekatnya selimut malam, sebelas prajurit nekat sisa-sisa pasukan cari mati bentukan Mayor Marlon terus bergerak secara berpencar. Mengandalkan keberuntungan dan harapan yang sebenarnya sudah tinggal ampas, mereka mulai membalikkan keadaan dan mengubah para pemburu menjadi target buruan. Berpegang pada prinsip ‘SATU TUKAR DUA’, mereka mulai memburu dan menghabisi serdadu pemuja kenaikan pangkat anak buah Jenderal Christoper. Dari sebelas pria nekat anak buah Mayor Marlon yang tersisa, sepuluh orang telah mencapai target satu tukar dua. Tujuh orang di antaranya, masing-masing berhasil menumbangkan dua prajurit Jenderal Christoper. Sementara tiga yang lainnya, ada yang berhasil menghabisi tiga orang dan ada yang berhasil membantai empat orang.Dari kesebelas prajurit nekat itu, hanya satu yang sama sekali belum membunuh seorang pun.Dia adalah Adrian Mahendra!Berbeda dengan Ethan Wiratama yang bertubuh dan

  • JEJAK SANG PEWARIS   Bab 256

    Luka dan lelah adalah dua kata yang dapat mengubah segalanya di medan perang.Di satu sisi, keduanya dapat langsung berubah menjadi pasrah dan putus asa. Sedangkan di sisi lain, keduanya adalah bahan bakar terbaik untuk menciptakan keberanian dan kekuatan yang melampaui batas nalar dan akal sehat.Keberanian dan kekuatan di luar nalar itu biasa disebut – nekat!Malam itu, 11 orang prajurit nekat diburu secara brutal.Mereka adalah sisa-sisa personel pasukan cari mati bentukan Mayor Marlon dan Letnan Jason. Wajah dan tubuh mereka penuh luka, sementara pakaiannya basah oleh keringat campur darah – entah darahnya sendiri atau darah musuh-musuhnya.Napas sebelas orang prajurit nekat itu pelan dan berat seperti sengaja ditahan. Bukan karena takut atau lelah, melainkan karena tak ingin suaranya terdengar oleh 10 kompi serdadu pemuja kenaikan pangkat yang sedang memburu mereka. Bagaimanapun, mereka tidak rela jika kepalanya hanya dihargai satu tingkat kenaikan pangkat. Setidaknya, harus ada

  • JEJAK SANG PEWARIS   Bab 255

    Dor!Pistol di tangan Mayor Marlon menyalak.Satu sosok tubuh lelaki roboh terjengkang dengan dada bersimbah darah.Sosok lelaki yang tumbang itu adalah Mayor Marlon, bukan Jenderal Christoper!Mayor Marlon tumbang terkena hentakan balik dari letusan pistolnya sendiri. Lebih dari itu, getaran senjata yang merambat dari tangan telah membuat serpihan-serpihan logam yang masih bersarang di dadanya berhasil merobek paru-parunya secara brutal. Sementara, tubuhnya yang memang sudah terluka parah sejak awal ternyata benar-benar telah kehabisan tenaga dan tak sanggup lagi menahan sakit yang mendadak menggila.Dia tumbang tepat pada saat senjata di tangannya meletus, membuat peluru terakhirnya melesat entah ke mana!Di sebelah sosok Mayor Marlon yang tergeletak tak sadarkan diri, Letnan Jason duduk terpekur dengan kedua tangan masih menggenggam roda kemudi. Samar-samar, terdengar desah putus asa yang berembus panjang dari celah bibirnya yang kering dan pecah-pecah. Dorongan adrenalin yang sela

  • JEJAK SANG PEWARIS   Bab 254

    Mayor Marlon dan Letnan Jason bergerak lagi.Kali ini, mereka menuju sebuah tenda besar dengan bendera hitam bergambar satu bintang warna kuning yang berkibar angkuh di depannya. Walaupun belum roboh, tenda besar itu terlihat sudah doyong akibat hantaman gelombang ledakan gudang amunisi beberapa menit yang lalu.Tenda besar yang sudah doyong itu adalah pusat komando tertinggi pasukan Ibu Kota.Dua regu yang masing-masing beranggotakan 12 personel bersenjata lengkap tampak berjaga di sekeliling tenda itu.Di dalam tenda doyong yang dijaga dengan amat ketat itu, Jenderal Christoper Mulyana terlihat berjalan mondar-mandir dengan langkah gusar. Raut wajahnya yang membesi dan sorot matanya yang berapi-api sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan bahwa Jenderal muda itu sedang murka. Sementara di hadapannya, tiga orang komandan batalyon tampak duduk terpekur – menunggu perintah yang tak kunjung terucap.Jenderal Christoper memang kurang pengalaman.Namun, ketiga komandan batalyon bawahannya

  • JEJAK SANG PEWARIS   Bab 248

    Strategi yang dirancang Martin memang layak diacungi jempol.Tindakannya mengeksekusi secara brutal seluruh pelaku kasus pembantaian Keluarga Desplazado dan kelompok bandit Rudolf Subrata tanpa menunggu proses peradilan selesai benar-benar efektif. Selain menunjukkan kekuasaan dan kekuatan absolut

  • JEJAK SANG PEWARIS   Bab 247

    DORRR ….!!!Suara letusan senjata bergema di ruang utama Aula Balai Kota Morenmor, membungkam mulut semua orang di dalamnya. Tak seorang pun berani berbicara, apalagi berteriak seperti beberapa saat sebelumnya. Begitu saja, suasana yang awalnya riuh – mendadak berubah hening dan mencekam.Hening.B

  • JEJAK SANG PEWARIS   Bab 246

    Matahari masih belum sampai di puncak langit.Namun, suasana di Balai Kota Morenmor sudah begitu panas.Ribuan orang berkumpul di pelataran. Mereka adalah penduduk sipil yang sebelumnya bergabung dengan pasukan gabungan sebagai tentara cadangan, lalu mengundurkan diri karena takut dilibatkan dalam

  • JEJAK SANG PEWARIS   Bab 245

    Malam akhirnya berganti pagi.Operasi senyap yang berubah menjadi perang saudara itu pun berakhir dengan ribuan orang menjadi korban, 445 di antaranya adalah tentara anggota pasukan milisi. Tentu saja, tragedi itu langsung mempengaruhi kekuatan dan kesiapan pasukan gabungan Morenmor.Kabar tentang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status