LOGIN“Ada apa sebenarnya, Kar?” tanya Ayu dalam perjalanan pulang. Napasnya agak ngos-ngosan karena harus mengayuh sepeda sambil membonceng adiknya.
“Bang Tiar datang, Teh.” Ayu mengerem mendadak. Kepala Sekar sampai terantuk punggungnya karena refleks. “Apa? Dia ke rumah? Untuk apa?” tanya Ayu seraya menoleh ke belakang. “Katanya, kalian harus menandatangani surat kesepakatan pernikahan. Dia sudah memenuhi dua syarat yang Teteh ajukan.” Mulut Ayu menganga. “Demi apa?” “Lihat aja sendiri kalau nggak percaya!” Gadis itu mencengkeram setangnya kuat-kuat. Dia kembali melajukan sepeda dengan kayuhan yang lebih cepat. Baru lima hari berlalu dan Bahtiar sudah mendapatkan uang itu? “Tidak. Ini tidak bisa dibiarkan!” ucap Ayu dalam hati. Begitu tiba di halaman rumah, Ayu melihat sebuah mobil hitam terparkir rapi. Nafasnya tercekat. Tidak salah lagi, itu mobil Bahtiar. Sekar meremas ujung bajunya. "Teteh masuk aja, aku tunggu di luar." Ayu menelan ludah dan menguatkan hati. Dengan langkah hati-hati, dia mendorong pintu kayu yang sedikit terbuka. Di dalam, Pak Seno dan Bu Ratna duduk tegang di ruang tamu. Mereka berhadapan dengan sosok yang selama ini menjadi momok dalam pikirannya dan seorang pria berjas yang tidak dia kenal. Bahtiar tersenyum tipis. "Akhirnya pulang juga. Saya sudah menunggumu dari tadi." Ada sebuah map tebal dan sebuah tas kecil yang diletakkan di meja. Ayu menatap benda-benda itu dengan perasaan campur aduk. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya. "Omong kosong macam apa ini?" “Pelankan suaramu, Nak. Sini duduk dulu, kita bicarakan baik-baik,” pinta Bu Ratna. Meski dongkol bukan main, Ayu akhirnya menurut. Dia mengambil posisi di sebelah ibunya, tepat berhadapan dengan Bahtiar. Bahtiar mengambil map lalu mengeluarkan beberapa lembar dokumen. Sambil melakukan itu, dia memperkenalkan seorang pengacara yang datang bersamanya. “Sesuai permintaanmu, mari kita tandatangani surat perjanjian. Pengacara ini yang akan menjadi saksi bahwa saya tidak akan ikut campur maupun mengatur soal aktivitas ibadahmu setelah menikah,” ucap Bahtiar tenang, tapi tegas. “Bagaimana dengan syarat kedua?” Meski sudah berusaha setenang mungkin, suara Ayu tetap terdengar bergetar. Bahtiar meraih tas kecil di meja lalu membukanya. Segepok lembaran merah tertata rapi di dalamnya. "Sepuluh juta, sesuai permintaanmu." “Apa buktinya kalau uang itu berasal dari harta yang halal?” Ayu pantang mundur. Bahtiar terkekeh. Dia sudah menduga, perempuan pintar seperti Ayu pasti akan menanyakan hal itu. Jadi, dia pun sudah menyiapkan amunisi. Bahtiar kembali mengeluarkan satu bundel kertas dari dalam map. Lelaki itu menjejerkannya di atas meja agar keluarga Ayu bisa memeriksa isinya. “Sepertinya kamu terlalu meremehkan saya, Ayu. Ini bukti bahwa uang maharmu berasal dari uang sewa kontrakan yang diwariskan oleh nenek saya. Tidak ada satu rupiah pun yang berasal dari koperasi simpan pinjam atau usaha lain yang kamu anggap haram.” Ruangan terasa semakin sempit bagi Ayu. Tenggorokannya tercekat. Dia pikir Bahtiar akan kesulitan memenuhi syarat itu. Dia pikir pernikahan ini masih bisa ditunda. Namun, sekarang kenyataan menamparnya telak. Pak Seno kemudian angkat bicara. “Nak Bahtiar sudah memenuhi permintaan kamu, Yu. Sekarang tidak ada lagi alasan untuk menolak keinginannya." Ayu menggigit bibir. Dia ingin membantah dan berkata bahwa dia belum siap. Namun, melihat wajah ibunya yang penuh harapan, melihat Sekar mengintip dari balik pintu dengan ekspresi bersalah, kata-kata itu tertahan di tenggorokannya. Bahtiar menatap penuh kemenangan saat akhirnya Ayu membubuhkan tanda tangan di atas materai. Mereka resmi terikat perjanjian. Barangkali, hanya kematian yang dapat membatalkannya. “Persiapkan dirimu, Sayang. Kita akan menikah satu pekan dari sekarang.” Bola mata Ayu hampir-hampir mencelat dari rongganya. Satu pekan untuk persiapan pernikahan? Yang benar saja! Setelah kepergian Bahtiar, Ayu mengurung diri di kamar sampai sore. Hatinya sakit membayangkan harus bermakmum kepada seseorang yang jauh dari agama. Jangankan mencari nafkah dari jalan halal, mendirikan salat pun hanya Bahtiar lakukan setahun dua kali saat hari raya. “Teh Ayu, ada Teh Uri di depan.” Suara Sekar terdengar dari balik pintu diiringi ketukan. “Maaf, Neng, tolong bilang ke Uri kalau Teteh lagi kurang enak badan,” sahut Ayu tanpa seinci pun beranjak dari tempatnya. “Mau kamu yang buka atau aku yang dobrak?” Tiba-tiba saja Uri sudah berdiri di sebelah Sekar. Tidak ada jawaban. Selang satu menit kemudian, Ayu akhirnya muncul dari balik pintu dengan wajah sembab dan mata merah. Uri langsung memeluk sahabatnya tersebut. Dia mengusap punggung Ayu pelan dan berulang kali. Kian lama, usapan itu diiringi oleh suara tangis tertahan dari bibir Ayu. “Kamu ngapain ke sini?” tanya Ayu setelah tangisnya mereda. “Tadinya cuma mau antar sisa teh dan es batu. Eh, malah dapat kabar yang bikin syok. Jadi, ini yang bikin kamu murung seharian?” Ayu mengangguk. Dia lantas mengajak Uri mengobrol di belakang rumah. Gadis itu butuh bertukar pendapat dengan kepala dingin bersama seseorang. * [H-2 pernikahan] Ayu melangkah pelan memasuki halaman pesantren. Suasana sore itu terasa syahdu. Hembusan angin membawa aroma tanah basah sisa hujan tadi siang. Santri-santri berbondong-bondong menuju tempat kajian dengan semangat. Di tengah hiruk-pikuk itu, Ayu merasa hatinya sedikit lebih ringan. Ini adalah tempat yang ia dambakan. Dunia yang ia impikan. Seandainya kehidupannya berjalan berbeda, mungkinkah ia bisa menjadi bagian dari lingkungan seperti ini? Uri menepuk pundaknya pelan. "Sabar ya, Yu. Aku cuma bisa bilang sabar. Kalau mengalami sendiri, belum tentu juga aku bakalan kuat.” Ayu tersenyum tipis. "Iya, Ri. Aku cuma … apa ya? Ingin menikmati momen ini sebentar aja. Belum tentu aku masih bisa ikut kajian setelah menikah dengan Bang Tiar.” “Bukannya kalian menandatangani surat perjanjian? Berdasarkan surat itu, seharusnya kamu masih bisa menghadiri kajian di luar selama bersama mahram.” Ayu mengedikkan bahu karena tak yakin. “Siapa yang bisa jamin? Kamu tahu sendiri, Bang Tiar itu selicik apa.” Uri hanya mengangguk. Tentu saja dia sangat tahu. Keluarganya pun pernah menjadi nasabah koperasi yang dikelola Bahtiar. Kalau bukan karena ibunya yang nekat menjadi TKW untuk melunasi utang, entah bagaimana nasibnya kini. Saat sedang mencari tempat duduk yang masih kosong, pandangan keduanya tidak sengaja tertuju pada sosok Zen yang sedang membagikan selebaran. Ayu spontan menahan napas sebab sosok itu sangat berwibawa dalam balutan koko dan sorban. “Astaghfirullahal'adzim,” gumamnya kemudian. Kepalanya menunduk begitu menyadari bahwa dia melihat Zen dengan tatapan kagum. Mereka berdua duduk di barisan belakang. Ustaz Umar mulai menyampaikan ceramahnya yang–entah mengapa bisa–pas sekali dengan kondisi Ayu saat ini. "Pernikahan adalah ibadah seumur hidup. Tidak selalu berjalan mudah, tapi dengan niat yang benar dan ridha Allah, rumah tangga bisa menjadi ladang pahala yang tak terputus." Ayu menunduk. Tangannya meremas ujung jilbab. Kata-kata itu membekas di relung hatinya. Bagaimana jika seseorang menikah bukan atas dasar cinta dan keridhaan, melainkan keterpaksaan? Masihkah bisa disebut ibadah jika berbakti kepada suami yang bahkan tidak pernah belajar Quran dan sunnah? *** BersambungBelum pernah ada pemandangan sefantastis ini sebelumnya di wilayah sekitar gudang logistik. Sejak fajar menyingsing, aspal mulus jalan raya yang menuju kompleks "Pusat Logistik Terpadu – Global Smart Hub" telah dipadati oleh iring-iringan kendaraan kelas atas yang seolah tak ada putusnya.Langit yang biru bersih tanpa gumpalan mendung sedikit pun seolah menjadi latar belakang yang sempurna. Bangunan itu adalah mahakarya industrial, dengan fasad kaca kristal reflektif dan panel baja futuristik yang memantulkan cahaya matahari pagi dengan cara yang begitu megah.Di sepanjang bahu jalan masuk yang membentang sejauh tiga kilometer, pandangan mata akan dimanjakan oleh lautan karangan bunga ucapan selamat yang berjejer rapat, menciptakan pagar warna-warni yang harum.Nama-nama besar terukir di sana dalam papan bunga yang berderet panjang. Mulai dari gubernur, pimpinan perbankan nasional, pejabat setempat, hingga mitra-mitra bisnis internasional dari Singapura, Dubai, dan Rotterdam yang men
Bahtiar berdiri di pinggir lahan proyek seluas tiga hektar yang kini telah berubah drastis dari sebulan yang lalu. Jika sebelumnya tempat ini hanyalah hamparan tanah kering dan penuh rumput liar, kini struktur baja raksasa telah berdiri dengan kokohnya, seolah menantang langit.Suara bising dari mesin las memercikkan bunga api kebiruan. Dentuman paku bumi menghantam tanah hingga menimbulkan getaran ringan di bawah kakinya. Teriakan para pekerja yang saling berkoordinasi, menciptakan kerjasama yang memacu adrenalin Bahtiar.Bahtiar menyesuaikan letak helm proyek kuningnya yang terasa sedikit panas. Di tangannya, gulungan cetak biru gudang logistik itu sudah nampak agak kusam karena sering dibuka di tengah debu konstruksi.Ia menatap ke arah loading dock yang dirancang khusus untuk mampu menampung dua puluh truk kontainer sekaligus. Ini bukan sekadar bangunan komersial. Selain untuk perluasan ekspedisi pengiriman, Gunadi akan menyewakan sebagiannya kepada perusahaan yang membutuhkan gud
Ayu duduk di tepi tempat tidur, menatap kosong ke arah gorden yang tersibak sedikit. Sinar matahari yang terik mencoba menyelinap masuk. Namun bagi Ayu, cahaya itu nampak terlalu menyilaukan.Ia masih mengenakan piyama. Rambutnya sedikit berantakan dan matanya yang dulu selalu berbinar kini nampak layu dengan lingkaran hitam di bawahnya.Setiap kali ia menutup mata, suara decitan ban SUV putih di atas tanah berbatu itu kembali menggema. Ia bisa merasakan lagi bagaimana tubuhnya terlempar, bau sangit mesin yang terbakar, dan yang paling mengerikan, sensasi dingin jari-jari Aziz di tengkuknya."Sudah bangun, Sayang?"Suara lembut Bahtiar memecah lamunannya. Bahtiar masuk membawa baki berisi sarapan dan segelas susu hangat. Pria itu kini nampak jauh lebih kurus, tapi matanya memancarkan kesabaran yang tak terbatas. Ia meletakkan baki itu di nakas, lalu duduk di samping Ayu, mengelus rambutnya dengan sangat hati-hati.Ayu hanya mengangguk pelan. "Aku baru saja bangun, Bang. Tapi rasa
Vila di perbatasan Karawang dan Subang itu tampak sunyi meskipun ada orang di dalamnya. Gunadi duduk di balik meja kerjanya yang besar, memutar-mutar sebuah pulpen mahal di jemarinya.Di sofa seberangnya, Bahtiar duduk dengan posisi protektif, merangkul bahu Ayu yang tampak sedikit emosional dibandingkan beberapa jam yang lalu."Kamu sudah siap menghadapi ini?" bisik Bahtiar pelan, memastikan istrinya benar-benar stabil.Ayu mengangguk, sorot matanya yang biasanya lembut kini tampak tajam dan fokus."Aku harus mendengar langsung dari mulutnya, Bang. Aku tidak mau hidup dalam bayang-bayang ketakutan lagi."Gunadi melirik arlojinya. "Dia akan sampai sebentar lagi. Aku sudah menyuruh supir untuk menjemputnya dengan alasan ada dokumen mendesak yang harus ditandatangani di sini. Kita akan selesaikan semuanya malam ini.""Mas Gunadi," Bahtiar membuka suara, suaranya berat. "Terima kasih sudah melakukan ini. Aku tahu ini tidak mudah bagi Anda sebagai seorang suami."Gunadi mendengkus p
“Apa maksudmu, Bang?”Bahtiar terlonjak. Ia tak menyadari kapan Ayu datang.“Katakan, kenapa kamu menyebut-nyebut nama Mas Gunadi?!” tuntut Ayu seraya berjalan mendekat.“Itu, ehm ….”“Abang melanjutkan kerjasama dengannya? Di saat melarangku melakukan ini itu, Abang justru kembali kembali berkomunikasi dengan suami dari orang yang mencelakaiku?”Tatapan Ayu nyalang. Suaranya bergetar.“Tidak! Bukan begitu, Sayang.” Bahtiar mendudukkan Ayu di kursi rotan. “Dengarkan dulu penjelasan Abang.”Ayu meronta, tapi tenaganya kalah besar. Bahtiar menguncinya di posisi tersebut hingga ia tak bisa beranjak ke mana-manaLelaki itu lantas bercerita secara runut, mulai dari kendala keuangan perusahaan hingga teror dari pesaing bisnis.“Abang bukan bermaksud meremehkan lukamu, Ayu. Tidak sama sekali. Abang bertemu dengannya besok hanya untuk memastikan apakah kerjasama itu masih perlu dilanjutkan. Hanya itu. Bagaimanapun, Abang punya tanggung jawab moral kepada seluruh karyawan.”Ayu menelan ludah.
Pagi di kediaman Bahtiar biasanya diawali dengan aroma kopi yang kuat, harum roti panggang, dan obrolan ringan tentang apa saja agenda hari itu. Namun, sejak kepulangan Ayu dari rumah sakit, suasana rumah mewah di sudut Karawang itu seolah diselimuti oleh kabut tipis yang dingin dan tak kasat mata.Sinar matahari yang masuk melalui jendela kaca besar di ruang tengah, meski nampak terang benderang, tidak mampu mengusir sisa-sisa trauma yang masih mengendap dengan pekat di setiap sudut ruangan, di balik gorden, dan di dalam relung hati penghuninya.Ayu duduk mematung di tepi tempat tidur yang luas. Matanya yang sayu tertuju pada tas ransel kampusnya yang tergeletak pasrah di pojok kamar. Tas kain berwarna biru dongker itu, yang beberapa minggu lalu ia beli dengan penuh semangat, kini nampak seperti monster kecil yang siap menerkamnya kapan saja.Hanya dengan melihat pin berlogo universitas yang tersemat kecil di sana, dada Ayu mendadak terasa sesak, seolah ada beban berton-ton yang meni







