共有

Bab 45

作者: Tinta Senyap
last update 公開日: 2026-03-29 21:38:52

Pertanyaan Arga itu menggantung berat di udara kamar mandi yang lembap. Siska masih duduk bersandar di dinding porselen yang dingin, napasnya tersengal-sengal di sela isak tangis yang belum mereda. Tawaran itu terdengar sangat ekstrem, sekaligus sangat menggoda. Namun, sebagian kecil logikanya masih berteriak bahwa ia tidak bisa menghilang begitu saja dalam satu malam tanpa menimbulkan skandal besar yang akan menghancurkan nama baiknya.

"Arga, aku... aku belum bisa kalau malam ini. Grace... a
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 45

    Pertanyaan Arga itu masih terngiang-ngiang di telinga Siska saat ia menatap pintu ruang kerja Hendri yang tertutup rapat. Tangannya yang memegang brosur palsu pemberian Arga sedikit gemetar. Di dalam sana, suaminya mungkin sedang sibuk menghitung keuntungan perusahaan atau justru sedang berkirim pesan mesra dengan Veni. Siska menarik napas panjang, mencoba menguatkan hatinya sebelum mengetuk pintu kayu jati yang kokoh itu. "Mas, boleh aku masuk sebentar? Ada yang ingin aku bicarakan," ucap Siska dengan suara yang diusahakan setenang mungkin. "Masuk saja, Siska. Pintunya tidak dikunci," sahut Hendri dari dalam tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptopnya. Siska melangkah masuk, aroma cerutu mahal milik Hendri langsung menyergap indra penciumannya. Ia berdiri di depan meja kerja suaminya, meletakkan brosur berwarna pastel dengan tulisan Meditasi Wanita di atas tumpukan dokumen Hendri. "Ada apa lagi? Kamu butuh uang tambahan untuk belanja?" tanya Hendri, nadanya terdengar jenuh.

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 45

    Pertanyaan Arga itu menggantung berat di udara kamar mandi yang lembap. Siska masih duduk bersandar di dinding porselen yang dingin, napasnya tersengal-sengal di sela isak tangis yang belum mereda. Tawaran itu terdengar sangat ekstrem, sekaligus sangat menggoda. Namun, sebagian kecil logikanya masih berteriak bahwa ia tidak bisa menghilang begitu saja dalam satu malam tanpa menimbulkan skandal besar yang akan menghancurkan nama baiknya. "Arga, aku... aku belum bisa kalau malam ini. Grace... aku tidak bisa meninggalkan Grace tanpa penjelasan," rintih Siska, suaranya parau karena terlalu banyak menangis. "Lalu kamu mau tetap di sana? Membiarkan wanita itu mengirim sampah ke rumahmu dan membiarkan suamimu menertawakanmu sampai pagi?" suara Arga terdengar tajam, seolah sedang menyiramkan cuka ke atas luka Siska. "Aku butuh waktu, Arga. Aku hanya butuh menjauh dari sini sebentar saja. Aku merasa sesak. Aku merasa seperti ada yang mengawasiku dari setiap sudut rumah ini," isak Siska lag

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 43

    Hendri, yang biasanya tidak peduli, mendadak datang menjemput karena ada teman lama mereka yang ingin bertemu. Dalam acara makan malam itu, Hendri terus menatap Siska, wajah siska terlihat pucat dan kelelahan, Hendri dengan wajah masamnya berpamitan dengan teman lama mereka dan ijin pulang duluan. "Kenapa wajahmu pucat sekali, Siska? Kamu ini niatnya sehat atau mau cari penyakit di gym itu?" tanya Hendri sambil memutar kemudi dengan satu tangan, suaranya terdengar jenuh. "Aku hanya terlalu banyak melakukan cardio, Mas. Aku merasa perlu membakar lebih banyak lemak," jawab Siska datar, matanya menatap keluar jendela kaca yang mulai berembun. "Jangan berlebihan. Ingat umur. Kamu bukan lagi anak usia dua puluh tahun yang badannya bisa dipaksa sehebat apa pun," Hendri tertawa kecil, namun tawa itu terdengar seperti ejekan halus di telinga Siska. "Apakah menurutmu aku sudah terlalu tua untuk terlihat menarik, Mas?" Siska menoleh, menatap suaminya dengan pandangan yang sulit diartik

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 42

    Alih-alih pulang seperti yang diperintahkan Arga, Siska justru kembali menekan tombol kecepatan pada mesin treadmill di hadapannya. Angka digital itu menunjukkan kecepatan sepuluh, lalu sebelas, dan sekarang dua belas. Siska berlari layaknya dikejar setan, napasnya memburu tersengal-sengal, sementara peluh membanjiri seluruh tubuhnya hingga pakaian olahraganya yang ketat terasa semakin berat. "Aku tidak tua. Aku tidak kalah dari gadis itu," gumam Siska di sela deru napasnya yang mulai terasa panas di kerongkongan. Matanya melirik ke arah cermin besar di depan. Di sana, ia melihat wajahnya sendiri yang mulai pucat pasi. Ia membandingkan dirinya dengan bayangan Bella yang tadi berdiri begitu kencang dan bersinar. Rasa tidak aman itu merayap seperti racun, memaksa kaki Siska untuk terus bergerak meski otot-ototnya sudah menjerit kesakitan. "Siska! Apa yang kamu lakukan? Hentikan sekarang juga!" Suara Arga menggelegar di area latihan yang mulai sepi itu. Siska tidak menjawab. Ia j

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 41

    "Aku ingin kamu berhenti bersikap seperti istri yang setia di depanku, karena malam ini, aku akan menunjukkan padamu bahwa Hendri sudah benar-benar kehilangan haknya atas tubuh dan jiwamu." Kalimat Arga semalam masih terngiang jelas, menciptakan debaran yang tidak kunjung usai di dada Siska. Pagi ini, Siska melangkah masuk ke area VIP Iron-And-Orchid dengan perasaan yang jauh lebih berani. Ia mengenakan pakaian olahraga baru yang lebih ketat, menunjukkan hasil kerja kerasnya selama ini. Namun, keberanian itu mendadak menguap saat ia melihat pemandangan di sudut ruangan. Arga tidak sendirian. Pria itu sedang berdiri sangat dekat dengan seorang gadis muda yang tampak begitu bersinar. Gadis itu mengenakan setelan crop top dan celana pendek yang memperlihatkan kulitnya yang sangat kencang, mulus, dan tanpa cela. "Coach Arga, gerakanku tadi sudah benar, kan? Kok rasanya otot pahaku masih belum terasa panas ya?" tanya gadis itu dengan suara yang sangat manja dan renyah. Siska terpaku di

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 40

    "Kamu terlambat, Mas. Pria itu sudah memilikiku lebih dari yang pernah kamu bayangkan." Siska membisikkan kalimat itu di balik pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Suara gemericik air shower menjadi satu-satunya penghalang antara dirinya dan teriakan Hendri yang masih menggema di luar kamar. Siska menatap pantulan dirinya di cermin yang berembun. Ia menyentuh bibirnya sendiri. Rasa panas dan tuntutan dari ciuman Arga semalam seolah masih tertinggal di sana, lebih nyata daripada keberadaan suaminya yang sedang mengamuk di balik pintu. Beberapa saat kemudian, suasana di luar mendadak sunyi. Hendri berhenti berteriak. Siska keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit tubuhnya, berharap pria itu sudah pergi. Namun, saat ia membuka pintu kamar mandi, Hendri sudah duduk di tepi ranjang dengan wajah yang lebih tenang, namun matanya memancarkan kebingungan yang sangat dalam. "Siska, kita perlu bicara dengan kepala dingin," ucap Hendri, suaranya kini melunak, mencoba menggunakan te

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status