Share

Bab 9

Author: Tinta Senyap
last update Last Updated: 2026-02-22 15:23:55

"Lari, Siska! Jangan seperti mayat hidup yang hanya membuang buang oksigen di sini!"

Teriakan Arga menggelegar di seluruh penjuru area VIP, memecah kesunyian pagi yang dingin. Siska tersentak, mencoba memacu kakinya lebih cepat di atas karpet treadmill yang terus berputar tanpa ampun. Napas wanita itu mulai terasa panas di kerongkongan, sementara keringat bercucuran membasahi pakaian olahraga ketat yang Arga paksa untuk ia kenakan. Setiap langkah terasa berat, seberat beban pikiran yang mengge
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 27

    "Buka matamu, Siska. Jangan biarkan suamimu menang dalam keheningan ini." Suara bariton Arga merayap pelan di antara kesadaran Siska yang masih berkabut. Perlahan, kelopak mata Siska yang terasa seberat timah terbuka. Cahaya sore yang jingga menyeruak masuk melalui celah gorden kamar utama, menerangi wajah Arga yang berada tepat di hadapannya. Pria itu tidak lagi memakai baju olahraga hitamnya, ia hanya mengenakan kaos polos yang pas di tubuh, memperlihatkan otot dadanya yang tegap saat ia duduk di tepi ranjang milik Hendri. Siska mencoba menggerakkan tubuhnya, namun rasa lemas masih mengunci setiap sendinya. Ia menatap Arga dengan pandangan yang basah. Ada rasa syukur yang membuncah, namun di saat yang sama, rasa takut yang luar biasa menghantam dadanya. Ini adalah kamar tidurnya bersama Hendri. Tempat suci pernikahannya, meskipun tidak ada lagi kesucian di sana. "Kenapa kamu masih di sini, Arga? Tolong pergi sebelum seseorang melihatmu," bisik Siska dengan suara yang serak dan pe

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 26

    "Siska! Jawab aku atau aku akan merobohkan pintu ini sekarang juga!" Suara bariton Arga berdentum keras, memantul di dinding-dinding lobi depan rumah mewah keluarga Wijaya. Di dalam kegelapan kesadarannya, Siska mendengar suara itu seperti guntur di kejauhan. Ia ingin menggerakkan jarinya, ingin mengeluarkan suara untuk memberi tahu bahwa ia sedang sekarat di lantai dapur, namun tubuhnya tetap membeku dalam kedinginan yang amat sangat. Di luar gerbang, Arga menatap layar ponselnya dengan napas memburu. Titik biru yang menunjukkan lokasi Siska sama sekali tidak bergerak sejak tiga jam yang lalu. Pesan-pesannya tidak dibaca, teleponnya tidak diangkat. Arga tahu Siska tidak sedang menghindarinya. Instingnya sebagai seorang predator sekaligus pelatih yang mengenal setiap inci kapasitas fisik Siska mengatakan ada sesuatu yang salah. Sangat salah. "Maaf, Pak, tapi pemilik rumah sedang tidak ada di tempat. Saya tidak bisa membiarkan orang asing masuk tanpa izin Bapak Hendri," ucap petugas

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 25

    "Tentu saja boleh, Nyonya Siska. Tapi besok jangan harap kamu bisa pulang dengan tubuh yang tidak memar-memar karena hukuman atas kebohonganmu selama tiga hari ini." Kalimat ancaman dari Arga itu terus berputar-putar di benak Siska saat ia mencoba membuka matanya di pagi buta. Siska ingin segera bangun, ia ingin memenuhi janjinya untuk datang ke gym jam enam pagi demi meredam amarah Arga. Namun, saat ia mencoba menggerakkan lengannya, tubuhnya terasa seberat timah. Kepalanya berdenyut-denyut sangat hebat, seolah-olah ada ribuan jarum yang ditusukkan ke dalam otaknya secara bersamaan. Siska mengerang pelan, mencoba menyentuh dahinya sendiri. Panas. Kulitnya terasa seperti membara, namun di saat yang sama, ia merasa kedinginan yang amat sangat hingga ke tulang sumsum. Tubuhnya benar-benar sudah mencapai batasnya. Stres batin yang menumpuk, diet ketat yang dipaksakan Arga, serta tekanan dari Hendri akhirnya meledakkan pertahanan kesehatannya. Siska jatuh sakit, dan kali ini bukan bohon

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 24

    "Siska, apakah kamu sudah siap jika suatu saat nanti aku benar-benar mengambilmu dari rumah itu dan membuat Hendri berlutut memohon ampun di depan kaki kita berdua?" Pertanyaan Arga itu terus menggema di dalam kepala Siska layaknya kutukan yang tidak kunjung hilang. Sepanjang perjalanan pulang hingga ia merebahkan tubuh di ranjang, Siska merasa dunianya berputar dengan sangat cepat. Ia ketakutan. Bukan hanya karena keberanian Arga yang ingin menghancurkan Hendri, tetapi karena ia menyadari bahwa sebagian dari dirinya mulai menginginkan hal itu terjadi. Ia takut pada getaran di hatinya setiap kali Arga mengklaimnya sebagai milik pria itu. Siska menatap langit-langit kamarnya yang mewah. Ia sadar bahwa ia telah melampaui batas profesional. Perhatian Arga yang begitu detail, sentuhannya yang protektif, hingga caranya mendengarkan keluh kesah Siska telah menjadi candu yang berbahaya. Siska merasa dirinya seperti tawanan yang mulai mencintai penjaganya. "Aku tidak boleh seperti ini. Aku

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 23

    Pagi ini, Siska tidak hanya membawa beban sakit punggung yang mulai memudar, tetapi juga membawa luka baru yang jauh lebih perih di dalam dadanya. Mata wanita itu tampak sangat sembab, bengkak, dan memerah, menceritakan kehancuran hatinya tanpa perlu satu kata pun terucap. Kehancuran itu bermula beberapa jam yang lalu di meja makan rumahnya yang mewah namun terasa mencekam. Grace, putri tunggalnya yang biasanya penurut, tiba-tiba meledak. Gadis remaja itu berteriak bahwa ia muak melihat Siska yang selalu terlihat menyedihkan dan lemah di depan ayahnya. Grace bahkan menyebut Siska sebagai ibu yang tidak punya harga diri karena terus memaafkan pengkhianatan Hendri yang sudah menjadi rahasia umum di sekolahnya. "Kamu tidak becus mendidik anak, Siska! Lihat bagaimana anakmu sendiri merendahkan ibunya!" bentak Hendri tadi pagi, alih-alih membela istrinya. Hendri justru menggunakan kemarahan Grace untuk kembali menyudutkan Siska, lalu pergi begitu saja meninggalkan Siska yang tersungkur d

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 22

    "Jadi, menurutmu ke mana perginya kalung berlian senilai tiga ratus juta itu jika tidak ada di dalam tas suamimu semalam, Siska?" Pertanyaan Arga itu masih menggema di telinga Siska seperti lonceng kematian. Siska tidak menjawab. Ia hanya bisa menatap lantai matras dengan pandangan kosong sementara napasnya terasa berat. Arga tidak mengejarnya lebih jauh, pria itu membiarkan Siska pulang dengan membawa kepingan fakta yang merobek jantungnya. Pagi ini, dunia Siska terasa semakin sempit. Saat ia mencoba bangun dari tempat tidur, sebuah rasa nyeri yang tajam menusuk dari pinggang hingga ke punggung bagian atas. Siska meringis, memegangi pinggangnya dengan tangan gemetar. Stres yang bertubi-tubi, rahasia kalung berlian yang hilang, dan bayangan Veni seolah bermuara pada otot-otot tubuhnya yang kini mengeras karena tekanan batin. "Mas Hendri," panggil Siska lirih saat melihat suaminya sedang mematut diri di depan cermin, merapikan dasi sutranya yang mahal. Hendri hanya melirik dari pan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status